CHAPTER 2

HERMIONE'S CONFESSION

"…dan seperti yang kalian tahu, bahwa Mesir kuno bahkan sangat menghormati muggle…" suara Professor Binns bagaikan radio kemresek yang tidak enak didengar. Satu jam pelajaran dan seisi kelas 'diwarnai' dengar dengkuran-dengkuran para murid. Hampir tiga per empat isi ruangan itu tertidur.

Walaupun ada beberapa Ravenclaw yang masih setia mencatat sambil menopang kepala mereka yang terasa sangat berat. Padma dan Parvati yang sibuk bergosip. Seorang Gryffindor lagi masih dalam keadaan fit tanpa terlihat kantuk sama sekali di wajahnya. Itulah pemandangan yang dapat dilihat Draco setiap kali ada di pelajaran ini.

Ia tidak paham mengapa Professor Binns tak pernah mengganti pola mengajarnya yang monoton ini. Dan mengapa Ia tak keberatan murid-muridnya tidur di kelas. Sebenarnya Draco ingin sekali tidur, atau paling tidak mengistirahatkan kepalanya yang terasa berat itu. Tetapi alasan mengapa dia tetap terjaga adalah Ia sungguh-sungguh berusaha untuk menulis! Professor Binns terbiasa untuk menilai catatan para muridnya akhir-akhir ini. Ia hanya tidak ingin repot-repot ke perpustakaan untuk menyelesaikan catatannya.

Alisnya bertaut menandakan Ia sedang berusaha keras. Tangan kanannya memang sudah tidak patah. Tetapi rasa nyeri itu dua kali lipat lebih menyengsarakan. Ia tidak bisa menulis dengan tangan kiri. Draco sudah memohon Pansy untuk menolongnya tapi gadis itu menolak. Yah, Pansy sudah tidak seperti yang dulu –bergelanyut manja di lengan Draco dan mengikuti kemana pun Draco pergi- setelah gadis centil itu akrab dengan salah seorang Ravenclaw.

Draco menatap buku catatannya yang setengah terisi. Walaupun isinya hanya catatan singkat –ia menulis yang penting-penting saja- tetapi paling tidak Ia bisa melengkapinya setelah tangannya sembuh.

Hermione yang duduk di barisan di seberang Draco menatap pemuda pirang itu dengan pandangan aneh. Ia seperti merasa… kasihan. Tapi buru-buru mengalihkan pandangan ke depan ketika orang yang ditatapnya sejak semenit lalu menatap Hermione balik.

Hermione berpikir, banyak hal berubah setelah Pangeran Kegelapan hanya tinggal kenangan suram. Termasuk pemuda itu. Tersenyum lembut padanya, mengajaknya kembali berteman, dan bahkan mengirim beberapa (baca: segudang) camilan untuk kedua sahabatnya sebagai tanda permintaan maaf. Walaupun Ron masih setengah hati menerima Draco.

Draco Malfoy, orang yang dulu bahkan selalu punya waktu untuk menyiksanya, mengejeknya, mengerjainya, sekarang? Ia bahkan rela Hermione memakai kamar mandi yang seharusnya Draco pakai duluan tadi pagi karena Hermione harus segera bertemu Professor McGonagall. Kalau Draco yang dulu? Tentu saja ia memilih untuk membiarkan Hermione mendapat potongan poin dan detensi keterlambatan dari Professor McGonagall.

oOo

"Mate? Kau kenapa?" tanya Blaise yang berjalan keluar kelas Sejarah Sihir bersama Draco.

"Aku tak apa," jawab Draco lemah.

"Tapi kau tampak… kesakitan," sahut Blaise yang kali ini menunjukkan ekspresi khawatir. Ia menyentuh pundak Draco, mengkodenya supaya berhenti. "Kau mencoba untuk menulis tadi?" tanya Blaise ketika teringat tadi di kelas Draco merapikan buku catatan, tinta, dan pena bulunya.

Draco mengangguk. "Kupikir itu akan melatih tanganku agar tidak kaku, Blaise. Tapi malah sebaliknya, tambah sakit."

"Jangan dipaksakan, Drake. Aku tak mau kau mati hanya karena menahan perih tanganmu yang terluka itu!" Blaise menepuk pundak Draco. Belakangan –semenjak perang besar berakhir, Blaise lebih menunjukkan sikap carenya pada Draco. Ia tahu, Draco sudah cukup menjadi orang yang batinnya paling menderita pra dan pasca perang. Mendapat tekanan dan ancaman, menjadi pelahap maut yang bukan merupakan cita-citanya, dan sekarang mendapat 'oleh-oleh' perang.

"Tenang saja, mate! Aku tidak akan mati dengan cara konyol seperti itu," timpal Draco sambil menampilkan senyuman khasnya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka. "Dan terimakasih…"

Blaise menengok ke arah kanannya. Ia mentap Draco bingung. "Terimakasih untuk apa? Dan tumben sekali kau mengucapkan kata itu… untukku?"

Draco tersenyum membalas tatapan bingung Blaise. "Untuk semuanya." Ia kemudian merangkul sahabatnya itu. Dan Blaise, ia megap-megap tak percaya meski sedetik berikutnya ia tersenyum. Draco… sudah berubah.

Ya. Sahabatnya itu sudah berubah. Dan entah mengapa Blaise Zabini sangat bangga mengetahui Draco Malfoy yang dulu sombong dan tidak berperikemanusiaan –yang tentu saja membuatnya malah ingin berteman dengan Draco- kini berubah menjadi lebih, err- manusia.

oOo

Sore yang indah. Danau di Hogwarts sama sekali tidak berubah. Masih sama walaupun perang sudah mengubah separuh bagian dari kastil tua ini. Masih menjadi tempat favorit sebagian siswa untuk mencari ketenangan.

Hawanya pun masih sama. Angin sepoi-sepoi, udara bersih dari okesigen yang dihasilkan pohon-pohon besar di dekat pantai. Dan masih menjadi tempat favorit para siswa putri asrama Gryffindor ini.

"Tidak berubah…" bisik Ginny.

"Sama sekali…" lanjut Parvati kemudian.

"Ngomong-ngomong, Parvati," Hermione mulai mengubah topik.

"Hm?"

"Aku sudah jarang melihatmu bersam Padma, ada masalah?"

Parvati menggeleng. Ia kemudian tersenyum lucu,"Kau terlalu banyak menghabiskan waktumu untuk belajar ya, Mione?" Hermione memandangnya tidak mngerti. Ia memiringkan kepalanya.

"Entahlah, emang ada berita apa?"

"Demi celana Merlin! Padma sudah punya pasangan, Mione!"

"Hah? Wow! Tak kusangka. Jadi, siapa dia?"

"Caesar Flitney, anak Ravenclaw juga." Parvati menoleh ke arah Hermione,"Dia lumayan ya? Sayangnya bukan aku yang dapat!"

Hermione terkikik geli. Ia mengangguk setuju. "Iya dia memang lumayan, tampan bahkan!"

"Tampan mana sama yang itu, Mione?" Ginny berseru sambil menunjuk seorang pemuda pirang yang sedang lari kecil di pinggir danau. Pemuda itu ternyata berjalan ke arah Hermione. Ia tidak mengenakan jubahnya sementara lengan kemeja putihnya dilipat sampai sebatas siku. Rambutnya yang tertiup angin saat berlari tadi sedikit berantakan.

"I've never saw him like that before! Hot!" seru Parvati yang mulutnya menganga karena 'terpesona' dengan penampilan Draco yang berbeda kali ini. Berantakan.

"Hermione!" panggil pemuda itu.

Hermione kaget saat namanya dipanggil. Ia kemudian berdiri kemudian berjalan menghampiri Draco.

"Hey! Ada apa?" Hermione mendekatkan wajahnya ke wajah Draco. Ia tampak mengamatinya. "Kau kenapa? Sakit?"

"Iya, tanganku. Karena itu aku butuh bantuanmu untuk mengerjakan tugas yang diberikan Professor Slughorn. Kau mau?"

Hermione tampak berppikir sejenak. Ia menengok Ginny dan Parvati. Parvati kemudian mengibas-ngibaskan tangannya untuk menyuruh Hermione pergi –mengijinkannya pergi. Ia kembali menatap Draco. "Baiklah!"

"Oke kalau begitu, ayo!" Draco menarik pergelangan Hermione dengan tangan kirinya.

"Eh, kenapa buru-buru sih? Tugas itu kan bisa dikumpulkan dua hari lagi!"

"Yang benar besok, Mione! Atau jangan-jangan kau belum membuat ya?"

Hermione menggeleng. "Sudah kubuat, tapi aku tak tahu kalau harus dikumpulkan besok."

"Kalau kita berlama-lama, tugasku tidak akan selesai!"

Mereka kemudian sedikit buru-buru menuju ruang rekreasi asrama ketua murid. Sementara yang ditinggalkan Hermione…

"Kalau itu Draco yang dulu, mungkin sekarang sudah ada gencatan senjata di sini!" Ginny tertawa.

Parvati kemudian ikut-ikutan tertawa. "Kau benar, Gin! Sayangnya Hermione terlalu buta untuk tetap memilih kakakmu."

"Hey, tapi mereka belum pacaran kan?" Parvati menggeleng. "Belum, dan semoga saja tidak." Ginny tersenyum.

oOo

"Mione?" Draco memanggil Hermione yang masih berkutat dengan perkamennya. Mereka di ruang rekreasi asrama ketua murid sekarang. Tadinya mereka lebih memilih perpustakaan yang dekat dengan sumber tugas essay ini, tapi karena banyak pasang mata yang memandang mereka bagai singa yang sedang mengincar mangsanya, mereka memilih untuk ke asrama saja.

"Hm?" tanya Hermione tanpa menoleh ke arah Draco.

"Maaf telah membuatmu dua kali mengerjakan tugas professor Slughorn," jawabnya lemah.

Hermione berhenti sejenak untuk menatap Draco. Ia menceburkan ujung penanya ke dalam botol tinta. "Tak apa, Drake. Tapi kalau Professor Slughorn marah karena ini bukan tulisanmu?"

Draco menepuk jidatnya dan sejurus kemudian mengeluarkan secarik kertas dari tas ranselnya. "Ini," Ia memberikan kertas itu pada Hermione.

Hermione membuka kertas itu untuk membca isinya,"Saya yang bertanda tangan di bawah ini mengijinkan Miss Hermione Granger untuk membantu Mister Draco Malfoy menuliskan tugas essay ramuan, dengan catatan, semua yang ditulis berdasarkan pemikiran Draco Malfoy sendiri dan tentunya buku perpustakaan yang membantu. Salam, Horace E. F. Slughorn…" kata Hermione membaca isi surat itu.

"Itu alasanku melarangmu untuk memberitahuku mana yang benar dan salah saat membuat essay ini," Hermione manggut-manggut. "Dan lihat note di bawahnya."

Hermione menelusuri bagian bawah kertas itu. Ia kembali membacanya,"NB, aku akan menggunakan veritaserum untuk mengetahui bahwa Hermione membantu tidak lebih dari menuliskan apa yang dikatakan Draco untuk essay ini."

Ia menggelengkan kepalanya. "Konyol!" Hermione kembali pada perkamen dihadapannya. Ia mencatat semua kalimat terakhir pada buku tebal yang menjadi acuan pembuatan essay Draco.

"Yang ini tidak perlu," kata Draco menunjukkan sebuah kalimat di bukunya. "Biarkan kalimat yang kau tulis jadi kalimat terakhir."

"Kau yakin?" Draco mengangguk.

"Ini sudah cukup banyak, Hermione. Lagipula Professor Slughorn tidak memberikan batas maksimalnya," Draco menjelaskan.

"Baiklah." Hermione meneruskan kalimat terkahirnya. "Selesai!" serunya kemudian.

Draco menoleh,"Trims ya, Hermione!"

"Tak masalah. Jadi Drake…," Hermione membereskan perkamen, pena, tinta serta buku-buku di hadapannya. "Kau akan pergi ke pesta dansa?"

Draco menutup bukunya. "Iya, kau sendiri?"

Hermione mengangkat bahunya,"Entahlah, aku berencana mengajak, Ron… tapi aku tidak tahu dia mau atau tidak pergi denganku."

Draco menepuk pundak Hermione pelan. "Percayalah, dia pasti mau!" katanya meyankinkan.

oOo

Jarum panjang jam dinding di ruang rekreasi asrama ketua murid sudah berada di antara jam enam dan tujuh. Itu berarti setengah jam lagi Aula Besar akan dipenuhi dengan siswa-siswi dan jamuan makan malam mereka.

Tiga jam yang lalu Draco dan Hermione barusaja selesai dari kelas Transfigurasi mereka. Dan kini keduanya tengah bersantai di ruang rekreasi. Draco tak tanggung-tanggung menghabiskan persediaan camilannya sementara Hermione berkutat dengan buku-bukunya.

"Kau tidak mandi?" Draco bertanya pada Hermione yang duduk di meja kayu yang berjarak beberapa meter dari sofa yang di dudukinya. "Tidak, kau duluan saja!"

"Um.. kulihat kau masih sibut, jadi ya… Baiklah," kata Draco bangkit dari sofa kemudian menuju kamar mandi.

Sebenarnya Hermione sudah selesai dengan acara baca-membacanya. Tapi berhubung ada pikiran yang terus mengusiknya, dia mencari 'bahan bacaan' lain dari buku tebal itu. Dia terus mebolak-balikkan buku itu, berusaha untuk mencari sesuatu yang dapat mengalihkan perhatiannya.

Oke, Ronald Weasley, keluarlah dari pikiran gadis itu!

Hermione tidak tahu harus bersikap seperti apa saat bertemu Ron nantinya. Dia terus memikirkan kalimat yang pas untuk mengajak pemuda-rambut-merah tersebut ke pesta dansa yang kurang, oh keriput Merlin! Tinggal dua minggu lagi?

Memang masih lama, tapi baginya itu waktu yang terlalu singkat untuk mencari pasangan. Dia tidak mungkin masuk ke aula besar tanpa seseorang yang menemaninya bukan?

Dia tidak mau terlihat seperti ayam kehilangan induknya di aula besar yang –pastinya- akan dipenuhi berpuluh-puluh pasangan.

Baru sebulan dia di kastil itu, di sekolahnya, tapi ternyata pesta dansa itu sudah di ambang hari. Baiklah…

Hermione kembali berpikir bagaimana cara untuk dapat mengajak Ron. Itu mudah! Oh, tidak lagi, tidak semudah yang dulu. Tidak semudah dengan Ron yang sekarang diikuti oleh banyak penggemarnya, walaupun tidaklah sefanatik Draco Mania pastinya.

Hermione mengusap-usap wajahnya frustasi. Dia berpikir lagi.

"Ron, kau sudah dapat pasangan untuk pesta dansa?" Ia menggerak-gerakkan tangannya seolah sedang berpidato. Kemudian dilanjutkan dengan gelengan frustasi. "Tidak, tidak, itu takkan berhasil," katanya pada diri sendiri.

Ia lanjut berpikir. Memutar kata-kata tepat di otaknya untuk disampaikan kepada Ron nanti.

"Hey, Ron! Bagaimana kalau kau pergi bersamaku…" Ia menggeleng lagi. "Tidak, Mione! Seakan kau mengharapkannya." Ia berteriak pada dirinya sendiri, lagi.

Hermione bangkit dari kursi kayunya. Ia berjalan mondar-mandir. Ia kembali berpikir sebelum matanya kembali berbinar ketika mendapat ide.

"Ron, kalau kau belum dapat pasangan kau boleh bersamaku…?" Ia menepuk jidatnya sendiri. "Itu terdengar aneh, Mione!"

Hermione kembali dalam balutan menit untuk berpikir dan berpikir. Ia mengelus-elus dagunya, memperlihatkan bahwa dirinya sedang berpikir keras.

Ia bergumam,"Oh, bagaimana dengan… Ron, kalau kau tidak keberatan, kau boleh pergi bersamaku saat pesta dansa…" Hermione memukul-mukul kepalanya. "Konyol! Iya kalau dia berharap, kalau tidak?"

Dan… "Ron apakah—"

"Sudahlah, Mione! Kau tampak seperti orang gila tahu!"

Hermione menoleh saat sadar indera penciumannya sudah tercemari dengan aroma mint yang menyeruak dari kamar mandi yang -entah sejak kapan- terbuka.

"Dra-dra-co M-m-mal-f-foy?" Draco Malfoy, Hermione, bukan Dra-dra-co M-m-mal-f-foy.

Draco mengerutkan keningnya. "Ada apa?"

"Kau—" wajah Hermione memandang pemuda di hadapanya head-to-toe.

Draco yang baru saja akan ke kamar menundanya ketika melihat Hermione mondar-mandir gelisah. Ia berniat membantunya, bukan membuatnya mematung seperti ini.

"Jangan lihat aku seperti itu, Mione!"

Jelas saja. Draco Malfoy, yang barusaja keluar dari kamar mandi, dengan aroma mint di tubuhnya plus, ah, saudara-saudara! Tanpa baju atasan. Topless. Dan sukses membuat Hermione hampir mimisan karenanya.

Rambut pirangnya acak-acakan, dan butiran air jatuh dari situ yang kemudian membingkai wajahnya. Tampak, em… uhm, seksi.

Aku tak pernah tahu badannya se-kekar ini, inner Hermione berkata jujur. Ia menghitung otot-otot yang terbentuk di perut Draco. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Astaga!

Draco yang entah sengaja atau tidak memperlihatkan dadanya yang bidangnya ke Hermione hanya nyengir kuda. Ia kemudian berjalan ke arah Hermione. Membungkuk sedikit lalu berbisik,"Seorang laki-laki selalu mempunyai rahasia, Miss Granger."

Wajah Hermione seketika merah padam. Hembusan nafas Draco terasa panas menerpa kulit telinga Hermione. Dan Hermione telah berhasil menahan nafasnya selama beberapa detik, merasakan hembusan angin dari mulut dan hidung sang Malfoy yang membelai lembut telinga kirinya.

"Draco…" desahnya.

"Ya?" Draco menarik dirinya untuk melihat Hermione, yang ternyata masih melongo. Ia menarik ujung bibirnya membentuk sebuah cengiran. Sudah lama ia tak melakukannya.

"Sebaiknya aku pakai pakaian dulu." Gumamnya sambil menampilkan senyum nakalnya.

Ia kemudian berlalu. Meninggalkan Hermione dan lutunya yang sudah lemas. Hermione kemudian jatuh berlutut di lantai kayu tersebut.

oOo

"Gila kau, Malfoy!" sahut Blaise saat Draco bercerita tentang insiden di asrama ketua muridnya. "Jadilah Hermione Granger adalah gadis pertama yang melihat tubuh atletis sang Pangeran Slytherin kami, Draco Lucius Malfoy!" kata Blaise berlebihan, tapi dengan volume yang tidak keras.

Kalau tidak, bisa-bisa seluruh gadis yang maniak dengan sahabatnya ini antre untuk bunuh diri di Danau Hitam.

Draco tertawa,"Aku bahkan tidak sadar aku se-seksi itu sampai membuatnya mati-nyala." Ia membuka dan menutup kelima jarinya saat mengatakan 'mati-nyala'.

Blaise semakin memperlebar cengirannya. Ia membayangkan kalau saja Rita Skeeter tahu, Hermione pasti akan jadi bulanan-bulanan lagi di sekolah. Dan tentunya si pangeran di sampingnya ini.

"Ngomong-ngomong, aku pergi dengan Hestia Carrow dan Theo berhasil mengajak Daphne untuk pesta dansa, bagaimana denganmu?"

Draco mendesah. Ia bahkan belum berpikir untuk mengajak siapa nantinya. "Entahlah. Flora mungkin? Carrow satunya."

"Kurasa itu sudah jadi incaran si Goyle, mate. Kenapa tidak Granger saja?" tanya Blaise.

"Kurasa Ron akan menerima ajakannya, Blaise. Tadi sore kulihat dia sedang berlatih untuk mengajak Ron," ucap Draco tampak putus asa.

"Ron? Ron Weasley?"

"Ada berapa Ron yang kau kenal, Blaise?"

"Satu," jawab Blaise singkat tanpa dosa.

"Lalu? Kenapa masih tanya Ron yang mana?"

"Setahuku Ron 'yang itu' sudah mengajak Brown, Draco," jelasnya.

"Brown? Brown Lavender? Lavender Brown?" tanya Draco mengulang nama gadis tersebut dua kali.

"Memangnya ada berapa Brown yang kau kenal, Draco?" tanya Blaise meniru gaya bertanya Draco tadi.

"Hanya satu dan setahuku dia sudah tidak ada hubungan dengan Ronald Weasley, Blaise."

"Mereka pacaran lagi, Drake, jadi—" ucapan Blaise terpotong ketika melihat Draco membelalak sambil bergumam 'gawat!'.

"Ada apa?" Draco diam saja tetapi dia langsung mengambil langkah seribu dari tempatnya berdiri sekarang, menuju Aula Besar.

oOo

Hermione sudah berhadapan dengan ketiga sehabatnya. Kecuali Ginny, dua yang lain hanya memandang Hermione heran. Sebelumnya Hermione sudah bercerita pada Ginny tentang Ron. Dan walaupun Ginny sebenarnya tidak setuju tetapi karena Ia tahu Hermione mencintai kakaknya, jadi ia tetap mendukungnya.

"Ada apa sih, Mione?" tanya Ron.

"Kau menyeret kami ke sini tidak untuk menganak tirikan kami kan?" oke Harry, kau bukan anak tiri Hermione Granger.

Hermione menggeleng. "Um… sebenarnya…" Ron mengisi piringnya dengan santapan makan malam. "Kau sudah ada pasangan pesta, Ron?" Ron menoleh ke arah Hermione. Ia menelan makanan yang sedang dikunyahnya dengan susah payah.

"Ke mana arah pembicaraan ini eh, Mione?" tanyanya setelah berhasil menelan makanan itu.

"Eh, err… begini, kalau kau belum dapat pasangan…" Hermione menelan ludah. "Mau kau ke pesta dansa denganku?"

Sumpah. Biasanya memang laki-laki duluan yang mengajak seorang gadis untuk pergi ke pesta dansa. Tapi tidak jarang juga yang mengajak adalah seorang perempuan. Untuk kali ini Hermione-lah contohnya.

Ron membalalakkan matanya kaget. Dua tahun yang lalu bahkan dirinya ditolak mentah-mentah oleh gadis ini di pelajaran ramuan, di kelas Snape! Tapi kali ini? Seakan dunia sudah benar-benar terbalik baginya.

"Eh? Hm… maaf Hermione, kau tidak mengajakku dari awal," kata Ron sama seperti apa yang diakatakan Hermione tiga tahun lalu.

"Maksudmu?"

"Aku sudah dengan Lavender," jawab Ron sambil nyengir. Ia meletakkan sendok garpunya kemudian menatap Hermione yang langsung tertunduk. "Tentu saja aku dengan Lavender, Mione," jawab Ron halus.

"Apa maksudmu tentu saja?" Hermione mendongakkan wajahnya.

"Mereka 'kan pacaran, Mione. Kenapa bisa kau tidak tahu?" Harry menyambung. Ginny melotot, harapannya supaya Harry tidak membertiahu Hermione duluan pupus sudah. Kini Hermione mengerutkan dahinya.

"P-pacaran?" Ginny mengangguk ragu. "Iya Hermione."

"Kenapa?" tanya Hermione lagi. Ron semakin tidak mengerti dengan tingkah Hermione kala itu.

"Maksudmu, Mione?" Ron memajukan kepalanya. Melihat wajah kebingungan Hermione yang sudah berubah sendu. Harry hanya diam. Ia memilih untuk memotong pai-nya daripada berurusan dengan ini.

Sejak awal, Harry pun tahu tentang perasaan Hermione dan sudah tahu, cepat atau lambat hal yang di depannya ini akan terjadi. Tapi mungkin tak seharusnya ia langsung berkata seperti tadi.

"Kenapa tidak ada, tidak seorang pun yang memberi tahu aku?"

"Maaf, Mione. Tadi aku sudah berusaha memberitahumu," terang Ginny.

"Berusaha? Bahkan kau tidak berbicara sedikit pun tadi, Gin!" Iya benar. Hermione memang bercerita tentang rencananya ini, tetapi yang diajak bicara hany manggut-manggut saja.

"Aku mencoba, Mi—"

"Hah? Mencoba? Dengan manggut-manggut saja saat aku meminta pendapatmu?"

Ginny menunduk merasa bersalah.

"Kenapa kau marah pada Ginny?" tanya Ron tanpa dosa.

"Kenapa? KENAPA KAU BILANG, RON?" tanya Hermione yang suaranya sudah naik satu oktaf. Ron hanya semakin bingung dengan keadaan ini.

"Karena aku bersusah payah untuk mendapatkanmu! Bersusah payah untuk mencari kata yang tepat untuk mengajakmu! Dan pada akhirnya kau menolak dengan alasan yang sama sekali tidak aku tahu?" teriak Hermione yang mengundang tatapan dari beberapa murid dari asrama lain. Dan tentu saja tatapan dari beberapa guru yang baru saja masuk ke aula besar.

"Aku tidak mengerti…" Ron menggelengkan kepalanya.

"Apa? Di mana otakmu, Ron? Kata-kataku seharusnya bisa kau mengerti dengan jelas!"

"Tapi nyatanya aku memang tidak mengerti, Mione."

Hermione semakin membelalakan matanya. "Jadi selama ini?" suaranya melemah.

Ron menggeleng, menjawab tatapan Hermione. "Kau tidak juga menyarinya, Ron?"

Sekali lagi, Ron menggeleng. Ia sama sekali bingung dengan tingkah sahabatnya yang satu ini.

Mata coklat madu Hermione mulai memproduksi titik-titik air yang menggenang di pelupuknya. Air mukanya berubah sendu sebelum ia berteriak frustasi. "AKU MENCINTAIMU, RONALD WEASLEY!" teriaknya mengesampingkan suasana Aula Besar yang sudah menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.

"Pakailah otakmu! Aku mencintaimu selama ini, dan…" Hermione menunjuk Lavender Brown yang berada agak ujung dari meja Gryffindor. "Kau lebih memilih wanita itu? Apa yang kurang dari aku, Ron? Kenapa kau tak juga mengerti? Kenapa kau juga tidak sadar? Apakah karena Lavender lebih bisa untuk memujamu daripada aku?"

"Mione, tenanglah!" bujuk Harry akhirnya. Air mata Hermione menetes. Dia tidak peduli dengan bujukan Harry.

"Kenapa, Ron? Kenapa? Kenapa kau tak juga mengerti?" Hermione menggoyang-goyangkan pundak Ron yang hanya menatapnya.

"Karena… Kau yang bilang sendiri kalau kita sahabat, Mione! Sa-ha-bat, tidak lebih!" suara berat Ron dengan volume yang menyaingi suara Hermione akhirnya terdengar.

"Itu karena aku tidak tahu, mengapa kau tidak juga menyadari perasaanku, Ron!" bentak Hermione. "Aku menunggumu! Memikirkanmu, Weasley!"

"Kau bahkan tak ada saat aku masuk St. Mungo seusai perang!" sahut Ron yang juga mulai frustasi. "Tapi Lavender, dia ada di sana, Mione! Lagipula kau sendiri yang tak mau hubungan kita lebih dari teman, jadi wajar kalau aku lebih memilih Lavender!" air mata Hermione bertambah deras.

Professor McGonagall berdiri, bersiap untuk menghentikannya. Tapi tangannya ditarik oleh Professor Flitwick. "Biarkan mereka, Professor. Aku yakin mereka bisa mengatasinya," kata Professor Flitwick tenang. Professor McGonagall –dengan wajah kasihan pada Hermione- kembali duduk.

Lagi, Hermione merasa lututnya lemas dan kakinya seakan lumpuh. Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya absurd.

Tiba-tiba pintu aula besar terbuka. Dua orang berlari masuk dan langsung disuguhkan dengan pertunjukan dari meja Gryffindor tersebut. Tapi Hermione tidak peduli. Dia memilih beralih pandang ke Ginny yang bergidik ngeri ke arahnya.

"Dan kenapa kau tidak memberitahuku?" Ia juga memandang Harry. "Kalian berdua…" Ia menunjuk sepasang kekasih itu bergantian.

"Maaf, Mione. Aku sudah meminta waktumu, tapi kau malah sibuk belajar," sahut Harry lemah.

"Dan apa gunanya aku kembali ke sini untuk sarapan, makan siang, dan makan malam, Harry? Aku bisa saja menikmati asramaku yang bahkan tidak akan pernah kehabisan camilan!" tantang Hermione dengan wajah yang kini sudah benar-benar basah oleh air mata. "Aku kembali karena aku masih peduli dengan semua berita di Gryffindor! Karena aku masih peduli dengan kalian!"

Hermione mulai sesenggukan. Ia tak tahu mengapa sahabat-sahabatnya melakukan itu. "Dan kau, Ginny. Kau bahkan sudah tahu kan perasaanku terhadap Ron?"

"Aku tak ingin melukaimu, Mione. Hanya itu, kukira kabar Ron berbalikan dengan Lavender akan membuatmu tambah sedih," jawab Ginny menatap simpati pada sahabatnya. Inilah mengapa ia tidak bercerita saat sang sahabat bercerita tentang rencana untuk mengajak kakaknya ke pesta dansa.

Hermione tertawa hambar. "Oh, jadi begitu? Akankah dengan kau tidak memberitahuku semua masalah selesai, HAH?" teriak Hermione parau.

"Aku mengerti perasaanmu, Mione. Tapi—"

"Tapi apa, Gin? Kau lebih suka kalau aku LEBIH sakit seperti ini?" Hermione dalam pengaruh emosi sekarang. Dia tidak peduli dengan tatapan kasihan sahabatnya sekarang. Ia hanya butuh penjelasan dengan akal, bukan penjelasan konyol seperti ini.

Ginny seharusnya memeberitahunya sejak awal. Kalau ia tidak ingin Hermione sakit hati, Ginny lebih baik melakukan itu daripada merahasiakannya. Toh, kalau benar Ginny melakukan hal tersebut ia tak akan marah. Tidak semarah sekarang.

"JAWAB AKU, GIN! JAWAB!" teriak Hermione.

Sedetik kemudian Draco menuju meja Gryffindor sambil berteriak,"Hermione sudah!" Ia mencoba menahan pundak Hermione, menenangkannya. Tapi percuma.

"Tidak, Drake!"

"Tapi kau tidak bisa memaksakan kehendakmu. Ron jelas punya hak untuk memilih!" Draco menatap Ginny yang tertunduk, menangis. Ia kemudian kembali menatap sepasang coklat madu di hadapannya,"Ginny sudah berusaha. Tapi kau sendiri yang tak mau mendengarkannya, Mione!"

Hermione menatap Draco dengan matanya yang dibanjiri air mata. "Tidak, salah! Dia tidak memberitahuku, Draco!"

"Dengar Hermione…" Draco menyentuh wajah Hermione yang basah dengan kedua tangannya. "Kau tak boleh menyalahkan siapa saja atas karena apa yang kau inginkan tidak tercapai!"

Hermione menggeleng. Kemudian menepis tangan Draco kasar. Ia mengambil posisi keluar, dan berlari meninggalkan ratusan pasang mata yang melihatnya. Ia tidak peduli dengan panggilan Harry dan Draco, ia tidak peduli bahwa ia barusaja menabrak Blaise.

Harry bersiap pergi saat Draco menyuruhnya untuk tetap ditempat. "Tunggu! Biar aku saja, Harry."

"Baiklah, aku percaya padamu."

Sebelum pergi menyusul Hermione, Draco kemudian berjongkok, Ia memandang kekasih pahlawan dunia sihir itu. "Dengar, Gin…" Ginny mengangkat wajahnya untuk melihat Draco. Ia baru pertama kali mendengar seorang Malfoy berkata sedemikian lembutnya.

"Maafkan Hermione. Dia sedang emosi, dan kuharap kau mengerti. Kau tidak salah aku yakin. Aku mengerti posisimu.."

Ginny mengangguk,"Thanks, Malfoy."

"Panggil aku Draco saja, oke?"

"Oke Draco," jawabnya sambil memeluk Draco sekilas.

Dengan cepat Draco pergi meninggalkan Aula Besar dan bisikan-bisikan dari siswa yang menyaksikan kejadian Hermione dan Ron tadi.

oOo

Apa yang akan Draco lakukan saat bertemu Hermione? Lalu apakah Hermione memilih ikut atau tidak mengikuti pesta dansa yang jelas akan ada Ron dan kekasihnya di sana?

To be continued…

oOo

I'm very thank for my first reviewer Nyoepoe. And absolutely kurok1n and puputkawaii.

Ini sudah saya upayakan untuk update kilat lho, heheh. Hope you will like it.

Dan khusus untuk kurok1n, nyalakan lampu merah anda saat merasa fic saya sudah menjadi 'alay'. Oke? Hohoho.

Saya juga mewakili Draco Malfoy *slapped* berterimakasih pada puputkawaii yang bilang Draco manis bangettttttt di sini.

For uchihyuu nagisa, makasih udah di fav ya ^^ and lonely clover makasih udah diingetin, udah aku betulin kok. Terakhir untuk Lily love snowdrop juga Craziest Laziest Angel OnEarth, trims udah review.

So guys, mind to review?

Love,

Flo.