CHAPTER 3

IT TASTE GOOD

Lorong itu sungguh sepi. Jelas saja, semua murid lebih memilih menghabiskan waktu mereka menyantap hidangan lezat di meja Aula Besar.

Tapi semenjak kejadian beberapa menit lalu, apakah Draco akan diam saja? Tidak. Tentu tidak. Aneh rasanya ketika melihat seorang gadis yang bukan siapa-siapamu menangis seperti itu. Mengingat bertahun-tahun 'Darah-lumpur' adalah sebutan terbaik untuk gadis itu.

Apa yang dilakukan Draco selama bertahun-tahun pada orang-orang –terutama muggle-born memanglah salah. Dia menyadarinya. Pengalaman mengajarinya.

Ia mearasa ia tidak perlu untuk mengikuti jejak ayahnya dan bertekad mengubah doktrin keluarga Malfoy selama berabad-abad ini. Ia ingin berusaha untuk menghargai semua orang, menyamakan semua orang, menyamakan kelahiran-muggle dengan darah murni, karena bukan salah mereka bisa berada di dunianya –dunia sihir.

Itu semua karena takdir. Sama seperti kakinya yang membawa Draco menyusuri lorong itu. Mencari sesuatu yang terus dan terus saja mengusik batin dan nuraninya.

Ia berbelok ke sebuah tikungan. Ia menuruni tangga dan kemudian indra pendengarannya menangkap sesuatu. Tidak jelas, tapi cukup untuk membuktikkan di bawah ada seorang lagi selain dirinya.

Draco sampai pada anak tangga paling bawah dan suara itu –yang ia ketahui akhirnya adalah suara isakan- semakin terdengar.

Ia menengok ke kanan dan ke kiri lalu menemukan seorang yang ia cari. Hermione Granger.

Hermione duduk meringkuk di ujung lorong dengan kedua tangannya yang menutupi wajah. Tangan itu sama sekali tidak menghalangi aliran air mata yang terus keluar dari kelenjarnya.

Draco, pelan tapi pasti mendekat. "Hermione…" panggilnya saat sudah cukup dekat dengan gadis itu.

"Kau tidak mengerti, Draco," Hermione menyahut. Ia kemudian menyingkirkan kedua tangannya dari wajahnya. Mengelap telapak yang basah itu dengan jubahnya.

"Aku mengerti…" Draco masih berdiri dan tidak bergerak sama sekali dari tempatnya yang berjarak kira-kira setengah meter dari Hermione. "Aku tahu perasaanmu, Mione." Hermione menggeleng.

"Aku punya hati, jadi aku jelas merasakannya," jelas Draco.

Hermione kini berdiri. Ia mengepalkan tangannya dan sejurus kemudian memberanikan diri untuk menatap lawan bicaranya. "Kau tidak mengerti, Malfoy! Tidak akan!" teriaknya.

Draco menautkan alisnya. Ia kaget dengan panggilan Hermione tadi. Tampaknya sang gadis sudah terlalu emosi untuk sekedar mengingat janji mereka untuk saling memanggil nama depan saja.

"Kau kira aku tidak punya hati?" tanya Draco tersinggung.

"Iya. Kurasa kau memang tidak punya hati, Malfoy," jawab Hermione dingin.

"Tapi yang jelas aku di sini berniat membantumu, Mione."

"Aku tidak butuh bantuanmu. Aku tidak perlu dibantu!" jawab Hermione semakin keras kepala.

Draco kehilangan kesabarannya. "Oh, mungkin otak cemerlangmu itu bisa membantu menyelesaikan masalahmu, dan… medapatkan Ron kembali," sindirnya.

"Tentu saja! Aku tidak butuh bantuan orang yang hati dan otaknya sama-sama kecil! Itu percuma!" balas Hermione tak mau kalah.

Draco emosi tapi kemudian membentuk seringaian jahatnya yang sudah lama ia simpan. "Yah benar sekali, sampai-sampai otak kecilku ini membuatku mendapat sepuluh Oustanding OWL, dan mengalahkan murid-terpandai-sepanjang-sejarah-sihir," sindirnya lagi.

Hermione terbelalak sejenak. Ia menyingkirkan pandangannya ke arah lain. Ia lupa hal itu, tentu saja orang yang mendapat sepuluh nilai sempurna bukan orang yang berotak pas-pasan bukan? Apalagi kecil.

"Oke Nona-Sok-Tahu! Kalau kau memang tak butuh bantuanku, aku pergi," ancamnya.

Hermione mencibir,"Pergi saja sana. Aku tak akan peduli."

"Fine!" bentak Draco.

"Fine." Balas Hemione dingin. Tapi ketika Draco berbalik, ia malah mendengar isakan Hermione semakin menjadi-jadi.

Ia mengurungkan niatnya meninggalkan gadis itu. Ia berbalik dan menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba lebih bersabar. Ia kemudian melangkah maju, mendekat ke Hermione.

"Mione…" panggil Draco lirih. Ia menarik pergelangan Hermione ke bawah. Membawa gadis itu duduk bersamanya. "Dengar. Aku tahu kau marah…" Draco akhirnya menampakkan senyumnya. Walaupun tidak lebar.

"Tapi…" Ia menyingkirkan rambut Hermione yang jatuh menutupi wajahnya ke belakang telinga Hermione. "Kau sama sekali tidak seperti Hermione yang kutahu saat kau menangis. Hermione yang kukenal itu gadis yang tangguh dan kuat, kan?"

Hermione tidak menjawab. Ia memilih untuk mengalihkan pandangannya. Sesenggukannya belum hilang sama sekali walaupun Draco sudah menghiburnya.

"Dan kau juga tidak…" Draco diam, tidak melanjutkan kalimatnya. Lama anak laki-laki ini diam dalam detik, Hermione memandangnya bingung.

Sambil masih sesenggukan dia berkata pelan,"Tidak apa?"

"Kau tidak cantik saat menangis," jawab Draco salah tingkah. "Jujur, aku lebih suka melihatmu tersenyum, Mione."

Hermione, dalam menit terakhir ini akhirnya bisa tersenyum. Senyum yang manis walaupun air mukanya masih terlihat sedih. Meskipun begitu, ia masih diam.

"Merasa lebih baik?" tanya Draco kemudian. Hermione mengangguk. Ia mendongakkan wajahnya melihat langit hitam diatas Hogwarts yang dihiasi cahaya keperakan sang bulan.

Wajahnya yang basah memantulkan sinar bulan itu. Sesenggukannya tiba-tiba hilang tapi perasaannya masih bercampur aduk. Dan ia masih meneteskan air matanya.

"Jadi bagaimana kalau kau pergi denganku?"

Hermione menoleh dengan tatapan bingung,"Kemana?"

"Ke pesta dansa."

Diam. Sunyi. Senyap menyelimuti mereka. Hermione tak menjawab. Itu membuat Draco kembali angkat bicara untuk mencairkan suasana. "Well, aku tahu, aku tahu kau tidak akan mau…"

"Bagaimana bisa?" tanya Hermione.

Draco tertawa kecil,"Because I'm foul, loathsome, and evil little cockroach, maybe?" candanya mengenang apa yang dikatakan sang Nona-tahu-segala di tahun ketiganya. Saat di mana seorang gadis pertama kali berani untuk menonjok wajah tampannya.

Hermione tertawa pelan. Ia menatap wajah Draco yang menerawang, mengingat masa lalunya itu. "Draco… Terimakasih."

Draco menoleh. Menatap mata Hermione dalam. Ia kemudian menarik sebuah senyuman dan membalas Hermione,"Sama-sama."

"Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan tadi. Aku, sakit, di sini…" Hermione menunjuk dadanya. Ia kembali sesenggukan.

Draco memandangnya dalam diam, membiarkan gadis itu menumpahkan isi hati padanya. "Aku benci! Aku benci semua harus seperti ini. Aku benci sakit hati, Draco!"

Draco kemudian menarik gadis itu untuk bersandar di pundaknya. Hermione tidak menolak, ia memang butuh sandaran kala itu. Dan Draco bersedia. Draco mengelus rambut gadis itu untuk menenangkannya saat tangisnya menjadi-jadi.

"Aku tidak tahu kenapa dunia ini tidak adil. Kenapa takdir yang diberikan Tuhan padaku…" Hermione berhenti. Ia menangis semakin keras.

Tidak tega, Draco meraih tangan Hermione dengan tangan kirinya yang bebas. Ia mengelus telapak dan jari-jari lembut itu. Kemudian menarik Hermione untuk lebih dalam ke pelukannya.

Jubah Draco bagian pundak kanan sudah basah kini. Tapi ia tidak peduli. "Sssh, tenanglah, Hermione. Jangan terburu-buru untuk menyimpulkan, Dia sudah punya rencana untukmu," hiburnya.

Tangis Hermione berubah kembali menjadi sesenggukan. Ia melepaskan tangannya yang digenggam oleh pria itu kemudian memeluk Draco. Menenggelamkan wajah ayu-nya di dada bidang Draco. Nyaman…

Draco balas memeluknya. Mengelus kembali rambut coklat madu Hermione dan sesekali menghirup aromanya yang harum. "Sudah, sudah…" bujuknya.

Hermione mengangkat wajahnya, menatap sepasang mata abu-abu yang menenangkan. Ia tersenyum saat Draco menghapus bekas air mata yang masih berada di pipinya dengan ibu jari.

Ia memejamkan matanya. Menikmati sentuhan lembut di wajahnya itu. Dan beberapa saat kemudian merasakan hembusan nafas sang Malfoy junior menerpa wajahnya.

Hermione tetap terpejam dan diam. Meskipun jarak wajahnya dengan Draco kian dihapus oleh laki-laki itu. Pelan, pasti, lembut Draco maju, menciumnya.

Mencium gadis yang selama enam tahun menjadi musuhnya ini. Mencium gadis yang namanya selalu ada di bisikan-bisikan batinnya akhir-akhir ini. Mencium Hermione. Merasakan nikmat yang bergejolak di dadanya.

Dan Hermione pun membalas ciuman itu dengan penuh kasih. Membiarkan bibir mereka kini bertaut. Membiarkan Draco merasakan lembut sentuhan bibirnya.

Draco memiringkan kepalanya ke arah lain. Menyapa bibir Hermione dari arah berbeda. Dan pangeran Slytherin ini sungguh kaget ketika sang gadis membuka sedikit mulut mungilnya. Tapi ia kembali menutup matanya, memulai menjelajah mulut Hermione yang sudah memberikan komando kepada dirinya untuk mengetahui lebih dalam. Mengapsen deretan gigi putihnya, menyapu lidah Hermione yang menari di rongga mulutnya.

Hermione melepaskan tangannya yang melingkari lingkaran dada Draco. Memindahnya untuk bertengger di leher Draco.

Sementara itu kedua tangan Draco yang memeluk pinggang Hermione beralih ke punggung gadis itu. Menekannya supaya ia dapat menjelajah lebih dalam.

Nafas mereka memburu dan berapi-api selama beberapa menit. Sesekali mereka menarik asupan oksigen kemudian melanjutkan lagi.

Sekian menit telah berjalan. Dan pada akhirnya Draco melepaskan diri. Ia menatap wajah Hermione yang tampaknya kecewa karena sedang 'menikmati'.

"Mau sampai kapan, eh?" tanyanya menggoda Hermione. Wajah gadis itu memunculkan semburat merah. Draco menyingkapkan rambut Hermione yang menutupi wajahnya ke belakang telinga Hermione lagi. Ia berbisik di telinga itu,"Simpan untuk lain kali, Mione."

Suara Draco yang menggodanya membuat wajah Hermione semakin mengalahkan warna rambut Giny Weasley. Apalagi setelah Draco menurunkan kedua tangannya yang masih berada di leher Draco sambil nyengir menggodanya.

"Jadi? Sudah merasa baik, 'kan?" tanya Draco yang masih nyengir.

Hermione salah tingkah. Tapi pada akhirnya dia mengangguk. "Sudah…"

"Kalau begitu ayo kita kembali ke asrama," ajak Draco seraya berdiri. Mereka pun berjalan menyusuri lorong tersebut –menuju asrama ketua murid dengan perasaan yang menggebu-gebu.

"Draco…"

"Hm?"

"Yang tadi itu…" Hermione tertunduk malu. "My first kiss."

Draco tersenyum penuh arti. Ia mengangkat dagu Hermione supaya dapat melihat matanya. "Kalau begitu, sama denganku." Wajah Hermione memunculkan semburat merah di kedua pipinya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka dalam diam. Tapo masih sibuk dengan detak jantung mereka yang tak karuan. Sampai keduanya tak sadar, Parvati Patil sedari tadi sudah senyum-senyum sendiri melihat adegan dua anak manusia yang sebelumnya adalah musuh bebuyutan.

OOo

Draco menerawang. Pemandangan yang baginya menarik kali ini adalah langit-langit kamarnya di asrama ketua murid. Ia sama sekali belum memjamkan matanya. Padahal jam digitalnya sudah menunjukan pukul dua belas malam.

Sempat ia membaca satu artikel tentang penyakit ini. Insomnia. Penyakit muggle, manusia tepatnya. Entah itu penyihir atau muggle sebenarnya dapat terkena penyakit ini selama gen mereka adalah gen manusia. Penyebab penyakit ini salah satunya adalah karena rasa senang yang berlebihan.

Yah, begitulah. Rasa senang. Semenjak kejadian dengan Hermione tadi sudah benar-benar mengubah segala persepsinya tentang muggle-born. Benar-benar mengubah 360 derajatersepsinya tentang makhluk yang selama ini dianggap keluarganya rendah.

Gadis itu –menurutnya- berbeda. Dia manis saat tersenyum , dia cantik saat tertawa, tampak anggun saat berjalan, dia egois diluarnya –tetapi setelah apa yang dilihat dan didengar Draco, gadis ini sebenarnya rapuh, tangannya lembut, dan begitu juga… bibirnya.

Draco senyum-senyum sendiri salah tingkah. Tidak disangka hatinya bergejolak saat mencium gadis itu tadi. Perasaan apa ini? Tidak karuan. Setiap kali membayangkan gadis itu jantungnya berdegup dengancepat.

Entah kenapa saat tadi melihat Hermione menangis dan berteriak di Aula Besar, ia benar-benar tidak tega. Ingin rasanya menonjok wajah Ron Weasley yang menyakiti Hermione. Tetapi begitu ia duduk bersama gadis itu, menenangkan hati itu, lalu memeluknya, dia sama sekali tidak menolak. Dan itu membuatnya sangat sangat nyaman. Draco nyengir saat mengingat Hermione sangat bergairah sewaktu mereka berciuman tadi.

Ia menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala. Masih menerawang. Masih menyunggingkan senyum tak henti-hentinya.

Dia mencoba untuk memejamkan matanya hingga akhirnya ia terlelap dalam mimpi.

oOo

Terdengar ketukan dari pintu kamar Draco. Tadinya hanya samar-samar hingga akhirnya terdengar jelas saat ia berhasil memaksakan diri untuk membuka matanya. Tapi kantuknya menang untuk menyuruhnya kembali ke alam mimpi meskipun suara Hermione terdengar jelas memanggil-manggilnya, mencoba untuk membangunkan pria pirang itu. Lagipula ini hari Sabtu kan? Tidak ada pelajaran di hari Sabtu. Jadi itu menjadi haknya untuk bangun lebih siang. Draco melirik jamnya. Hell! Ini masih jam enam pagi.

Semenit sudah Hermione menyumbangkan suaranya untuk membangunkan pria itu. Apa Draco tidak ingat? Mereka harus menajaga adik tingkat mereka yang pergi ke Hogsmeade. Pria di salam kamar itu sama sekali tidak meresponnya.

Karena kesal ia terpaksa untuk membuka paksa pintu itu. "Alohomora!" gumamnya.

Hermione membuka pintu oak kamar Draco. Ia melihat sekeliling ruangan itu. Rapi dengan wallpaper garis vertikal berwarna hijau-perak. Dan kemudian tertuju pada sosok yang membenamkan tubuhnya di bawah selimut. Meskipun begitu rambut pirangnya masih dapat dilihat Hermione.

"Draco?" tidak ada respon. Hermione menggonyangkan tongkatnya untuk membuka semua gorden yang ada.

Ia berjalan mendekat sampai di ujung kasur Draco. "Draco!" teriaknya jengkel. Masih tidak ada respon.

Ia kemudian berjalan menuju samping kanan kasur tersebut. Ia mnyingkapkan selimut putih yang menutupi tubuh Draco. "Draco! Kita harus ke Hogsmeade dua jam lagi!"

Draco menerjap-nerjapkan matanya. Ia mengerang ketika Hermione meneriakinya tadi. "Engh, ini masih jam enam, Mione," erangnya. Draco menggeliat di kasurnya. Rambutnya benar-benar tidak karuan dan ada semburat merah muda di wajahnya.

"Tapi paling tidak kau harus siap-siap, Drake," jelas Hermione sambil menahan tawa melihat wajah Draco ketika bangun, lucu.

Draco mengucek matanya. "Aku masih ngantuk," jawabnya singkat sambil memejamkan matanya kembali.

"Oh, ayolah, Drake. Aku bukan Ibumu yang harus membangunkanmu dengan penuh kasih sayang kan?" kata Hermione menekankan kata 'kasih-sayang'. Ia kemudian duduk di sisi ranjang Draco. Mengamati pemuda itu sambil tersenyum.

Draco mengerang lagi. "Draco ayolah… please, please, please. Setengah jam sebelumnya kita harus sudah siap untuk bertemu dengan professor Flitwick dulu," rengek Hermione.

"Untuk apa?"

"Professor Flitwick yang menjadi koordinator kunjungan ke Hogsmeade hari ini," jelas Hermione dengan nada merengek. "Bangun, Drake! Please!" Hermione menggoyang-goyangkan tubuh Draco.

Draco membuka matanya sedikit. Kini dirinyalah yang menahan tawa melihat wajah Hermione yang seperti anak kecil, ia berhasil menyembunyikan tawanya di balik senyum kecilnya.

"Baiklah, aku bangun." Hermione terlihat seperti anak yang barusaja mendapat permen saat melihat Draco angkit duduk.

"Mandilah dulu, aku akan ke asrama Gryffindor, kita bertemu di ruang professor Flitwick, oke?" pamit Hermione.

Draco memiringkan kepalanya. Kalau tidak salah dia tadi mendengar… "Gryffidor, eh?" Hermione mengangguk. "Aku ingin meminta maaf pada " Draco langsung menempelkan jari telunjukknya di bibir Hermione saat gadis itu belum menyelesaikan kalimatnya. Hermione terbelalak.

"Baiklah, good luck, Mione!" lanjutnya dengan tersenyum manis. Ia kemudian menarik jarinya dari bibir gadis itu.

Mau tak mau, Hermione ikut tersenyum lebar saat melihat patnernya tersenyum. "Thanks, Draco!" ucapnya pelan.

"Bergegaslah! Jangan berlama-lama!"

Dan kemudian gadis itu melenggang pergi dari asrama ketua murid menuju asrama yang pernah di tempatinya. Gryffindor.

oOo

Ginny sama sekali tidak suka rencananya bangun siang digangu siapapun. Tapi karena suara seseorang yang mengetok pintu kamar cukup mengganggu, dia segera turun dari ranjangnya. Ia sempat melihat Parvati dan Lavender yang sempat terbangun mendengar suara pintu itu diketok. Ia terhuyung-huyung saat berjalan ke arah pintu dan membuka kuncinya.

"Hai, Gin. Maaf menganggu." Ginny terbelalak mendapati seseorang yang semalam membencinya berdiri dengan senyuman serba salah di depannya.

"H-hermione? Oh, tidak apa-apa. Ayo, masuk!" ajaknya.

"Parvati, Lavender, Katie! Ada Hermione!" sontak ketiga teman sekamar Ginny yang lain terbangun ketika mendengar nama Hermione disebut.

Hermione mengayunkan tongkatnya, membuka semua gorden yang ada di kamar itu. Kemudian dia duduk di ranjangnya –dulu. "He-her-hermione, em, k-kau tidak ma-rah… padaku, kan?" Tanya Lavender tergagap. Ia menghampiri Hermione dengan ragu.

Hermione menggeleng,"Tidak, Lavender. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu."

Dia menoleh pada Ginny, Katie, dan Parvati yang memandangnya segan. "Aku ingin minta maaf pada kalian karena telah membuat keributan dan mengganggu waktu makan malam kalian kemarin."

Hermione kemudian memandang Ginny dengan segala perasaan bersalah. "Dan Ginny, aku minta maaf padamu. Tidak seharusnya aku memarahimu. Draco benar, seharusnya aku yang memahami perasaanmu waktu itu. Maafkan aku Ginny," jelas Hermione dengan suara yang sedikit bergetar.

"Hermione…" Ginny berjalan mendekat. Ia kemudian langsung memeluk sahabatnya itu. Ginny kemudian melepas Hermione, memandang sahabatnya itu sambil berkata,"Sudahlah, Hermione. Aku sudah memaafkanmu, kok."

"Kau benar-benar sahabat terbaik, Gin. Terimakasih."

"Kami juga memaafkanmu, Mione," sahut Katie yang disambut anggukan Parvati dan Lavender.

"Thanks, guys. Kalian adalah sahabat terbaik," ucap Hermione seraya memeluk teman-temannya.

Parvati tiba-tiba nyeletuk ketika mereka melepaskan pelukan,"Kau tidak ke Hogsmeade bersama dengan Pangeranmu, Mione?"

Hermione melotot ke arah Parvati. Tapi si Gryffindor Patil itu membalas,"Astaga, Mione! Memangnya aku tidak lihat apa yang kau lakukan dengannya semalam?" Parvati mengedipkan sebelah matanya.

"A-apa?" desis Hermione.

Parvati memutar bola matanya. "Ya, ya, romantis sekali berciuman di bawah cahaya perak sang bulan," katanya sakarstik.

Dan sukses sekali membuat yang lain melotot tak percaya pada Parvati. Ginny cekikikan sesaat setelah memastikan telinganya tidak salah dengar. Lavender menahan tawanya. Sementara Katie masih sibuk untuk melototi Parvati.

Dan Hermione. Ya, gadis itu bengong. Wajahnya sudah semerah kepiting sekarang. "Parvati. Jangan. Kau. Sebarkan. Hal itu!" katanya hati-hati.

Parvati menggeleng,"Tidak, Mione. Tidak kepada kakakku juga. Aku janji." Parvati membentuk jari telunjuk dan tengahnya menjadi huruf V.

"Tapii…"
Hermione menatap Parvati tidak mengerti. "Kalau kau tidak bisa pacaran dengannya, aku akan menyebarkannya," goda Parvati.

"Patil!" wajah Hermione semakin merah saja. Semua orang di kamar itu selain dirinya sudah tertawa terbahak-bahak sambil sesekali menggoda gadis ikal tersebut.

"Ada apa ini?" Ron tiba-tiba muncul di ambang pintu. Hermione berjengkit kaget.

"R-ron?"

"Hermione, eh, hai? Tumben kau ke sini?" jawab Ron canggung.

"Em…" Hermione memainkan ujung jaketnya. "Aku…" Ia pelan-pelan berjalan ke arah Ron. "Aku hanya ingin minta maaf padamu, Ron," kata Hermione pada akhirnya. Ia berhenti tepat di depan Ron dan menatap pemuda itu.

"Kalau begitu, well, aku juga minta maaf padamu, Mione."

Hermione tersenyum,"Oke aku maafkan jika kau memaafkanku."

"Baiklah."

Hermione menghambur untuk memeluk Ron sejenak. "Jadi, Ron, girls, aku ada urusan. Aku permisi ya, sampaikan salam dan permintaan maafku pada Harry juga."

"Oke, Mione!" seru Ginny.

Hermione kemudian keluar dari asrama itu menuju ke ruangan Professor Flitwick.

oOo

Hogsmeade. Desa yang tenang dan tenteram. Apalagi menjelang musim dingin seperti ini. Udara di desa ini sudah hampir ketitik bekunya ketika Hermione dan Draco harus menemani adik kelas mereka ke Hogsmeade.

Berkali-kali Hermione mengusap-usapkan tangannya yang sudah terasa membeku. Ia tidak memakai kaos tangan seperti halnya Draco, sehingga udara dingin menusuk itu bisa saja membekukan tangannya.

Saat dia menggesek-gesekkan kedua tangannya di kedua sisi jaketnya, tiba-tiba Draco menyentuh tangan kirinya. Hermione menoleh ke pemuda itu yang sibuk menyapu pandangan ke sekeliling mereka. Draco melepas kaos tangannya yang sebelah kiri.

"Draco?"

"Tanganmu dingin juga, Nona. Ayo ikut aku, Mione!"

Ia menarik tangan Hermione sampai ke sebuah bangunan toko tua reot yang terletak di ujung deretan pertokoan dan rumah-rumah Hogsmeade. Draco melepas tangan Hermione lalu memasang lagi kaos tangannya. Ia kemudian mengetuk kepingan tembaga usang yang tertempel di pintu rumah itu tigas kali sampai pintu itu dengan sendirinya terbuka.

Draco menyeret Hermione masuk. Ternyata toko tua itu hanya luarnya saja. Begitu mereka menginjakkan kaki di dalam, barulah mereka melihat yang sebenarnya. Bangunan megah dengan desain Eropa asli. Tampaknya itu adalah restoran mewah yang sengaja disembunyikan dari umum.

"Wow…" gumam Hermione.

"Kepingan tembaga yang kuketuk tadi adalah sebagai sensor apakah penyihir yang akan masukk mempunyai sejumlah uang untuk membayar ini semua," jelas Draco. Hermione manggut-manggut sambil masih terpana dengan pemandangan di sekitarnya.

Mereka kemudian bergegas mengambil tempat duduk di dekat jendela. Hanya ada dua kursi di situ. Draco menarik sebuah kursi dan mempesilakan Hermione duduk. Ia kemudian mendorong kursi itu lagi saat Hermione sudah mengambil posisi untuk duduk.

Ia menyebrang meja bundar itu, menuju ke kursi di hadapan Hermione. Ia kemudian duduk lalu memanggil seorang pelayan. Pelayan itu mencatat pesanan Hermione dan Draco. Dua mead panas dan sebuah cheesecake sebagai camilan Hermione.

"Kau suka?" tanya Draco. Hermione hanya mengangguk.

"Kenapa kau mengajakku kemari?"

Draco mengangkat kedua bahunya,"Entahlah, aku hanya ingin mencarikan tempat hangat saja untukkmu." Hermione manggut-manggut. "Jadi, ada rencana selagi kita di sini?"

"Aku berencana membelikan beberapa camilan untuk teman-teman Gryffindorku, dan beberapa bahan-bahan untuk membuat salad. Kau mau menemaniku?"

"Belanja maksudmu?" tanya Draco sambil mengucapkan terimakasih pada pelayan yang barusaja mengantar pesanan ke meja mereka.

"Iya, mau?"

"Baiklah," jawabnya sambil menyesap mead-nya. "Bagaimana tadi? Berhasil meminta maaf?"

Hermione memotong ujung cakenya. "Ya, aku tidak menyangka mereka terlihat sama seklai tidak marah denganku."

Draco mengangkat kedua alisnya. "Oh, ya? Baik sekali mereka."

Hermione mendengus. "Merlin! Enam tahun sudah kau di Hogwarts baru menyadarinya sekarang? Dasar Malfoy!" ejek Hermione.

Draco terkikik. "Yah, keadaan saat itu berbeda dengan sekarang, Mione. Sangaaat berbeda," katanya seraya melemparkan tatapan yang menggoda. Sampai-sampai beberapa gadis yang kebetulan ada di situ sempat-sempatnya mencuri pandang ke arah pemuda di hadapan Hermione ini.

"Begitulah. Aku sama sekali tak menyangka perang mengubah peradaban dunia sihir ini."

"Kecuali tempat ini, tempat terakhir kali aku dan keluargaku bersenda gurau," ucap Draco lirih. "Tiga tahun yang lalu…"

Hermione dapat melihat wajah Draco berubah sedih. Ia tahu, semenjak tiga tahun yang lalu, semenjak kemunculan Lord Voldemort ke dunia ini, keluarga Malfoy sudah tidak sering berkumpul di luar Manor mereka.

Hermione memberanikan diri menyentuh tangan Draco yang memegang cangkir meadnya. "Jangan sedih, Drake, aku ada di sini untuk membantumu," bujuk Hermione. Draco menatapnya lembut.

"Trims, Mione."

Mereka kemudian terlarut dalam pembicaraan. Tentang orangtua mereka, liburan masa kecil mereka, kesukaan mereka selama berada di rumah, Hermione yang ingin sekali mempunyai perpustakaan di rumahnya, dan sampai Draco dan ayahnya yang sedang mempebesar perpustakaan di Manor mereka.

Tidak terasa sampai cangkir mead mereka sudah kosong sedari tadi. Mereka kemudian keluar dari restoran mewah tersebut dan membeli belanjaan mereka, sesuai yang dijanjikan Hermione.

Setelah membeli beberapa camilan dan manis-manisan dari Honeydukes, Hermione segera memburu sebuah toko yang menjual berbagai macam sayur dan buah. Draco menunggu gadis itu di luar toko sambil membaca sebuah koran di stand koran yang berada di luar toko tersebut.

Beberapa menit kemudian Hermione keluar dengan bermacam-macam kantong. Gadis itu kesusahan saat keluar dari toko itu.

"Biar kubawakan, Mione," Draco mengambil dua kantong dan menyisakan sebuah kantong kertas di pelukan Hermione.

"Terimakasih, Draco."

"Tak masalah," jawab Draco. Mereka berjalan beriringan melewati lautan siswa Hogwarts yang berlalu-lalang di sekitar situ. "Kita langsung kembali?" tanya Draco.

"Sepertinya iya. Aku tidak sabar membuat salad."

"Hermione, bukannya kau bisa meminta bahan-bahan ini pada peri rumah ya?"

Hermione menggeleng. "Aku tidak enak dengan mereka. Bahan-bahan itu kan untuk bersama, meskipun kita diberi kebebasan untuk meminta apa saja, tapi aku rasa beli sendiri itu pilihan yang tepat," Hermione tersenyum.

"Ah, kutebak kau memang suka belanja. Iya kan?"

"Yah, begitulah."

Draco memutar bola matanya. "Sebenarnya apa sih enaknya berbelanja?"

"Apa Ibumu tidak pernah?"

"Justru itu aku ingin tahu. Ibuku, nenek, Pansy, kau. Semua suka belanja."

Hermione tertawa. "Terutama jika ada yang mau membayari belanjaan mereka," candanya.

Draco menggeleng-gelengkan kepalanya,"Ckckck, dasar wanita!"

"Hey, tanpa wanita kau tidak akan ada di sini!" sahut Hermione tersinggung.

"Hey, tanpa laki-laki kau juga tidak akan ada di sini, Nona," balas Draco.

"Terserah kau saja deh," kata Hermione pasrah.

"Kau kalah, Mione. Satu kosong!" sahut Draco sambil berlari meninggalkan Hermione dibelakangnya sambil menjulurkan lidah.

"Draco! Tunggu aku! Hati-hati membawa belanjaanku! Nanti kalau jatuh, awas kau ya!" Hermione mengejar Draco yang sudah duluan berlari.

oOo

Bagaimana persiapan mereka untuk ke pesta dansa? Dan apakah persiapan itu akan berjalan sesuai apa yang diharapkan dan berjalan lancar?

To be continued…

oOo

Hello guys. Thanks for the review :D I'm so glad and appreciate.

Maaf bagi yang kurang berkenan, missalpotter karena ga ada RonMione-nya heheh.

Yang kissing scene-nya kacau gak sih?

Mungkin kalau di chapter ini sweet-Draconya kurang banyak, chapter depan saya banyakin lagi. Sekedar Spoiler, chap depan waktunya mereka ke pesta dansa tapi saya akan kasih sedikit 'accident' supaya ada sedikit taburan hurt-comfortnya :) Dan chap selanjutnya juga aku usahain selesai secepatnya.

Oke, sekian. Sekali lagi terimakasih untuk segala bentuk review anda, saya sangat mengahargai. Semoga chap ini nggak membosankan yah.

If you mind to review, I would very-very thanks.

Love,

Flo