CHAPTER 4

THIS SLOW BUT SURE

Dear Mom,

Dalam sepuluh hari kedepan akan diadakan acara pesta dansa di Hogwarts. Kalau kau sedang tidak sibuk, tolong carikan aku gaun yang kira-kira cocok untuk ke pesta dansa nanti.

Love,

Hermione

Hermione kembali membaca tulisan di secarik kertas yang akan ia tujukan untuk sang Ibu. Ia kemudian menggulung kertas itu lalu mengikatkan di kaki owl-nya yang berbulu coklat muda. Entah kebetulan atau apa, dari warna rambut, mata, bahkan sampai di warna bulu kucing dan burung hantunya, Hermione memiliki warna sendiri. Yaitu cokelat madu.

Ia kemudian mengulurkan lengan tangannya, lalu si owl terbang dan bertengger di situ. Ia berjalan menuju jendela kamarnya, membukanya. Ia juga tak lupa mengelus kepala burung hantunya kemudian menguluran tangan ke luar jendela, dan burung hantu itu pun terbang ke rumah muggle-nya.

Hermione tadi sempat bingung ia akan memakai gaun apa saat melihat beberapa siswa mendapat kiriman baju pesta dari orang tua mereka sewaktu melewati aula besar tadi. Ia juga sempat bertanya pada Draco saat membantunya membuat salad, apakah Draco sudah memilih baju pesta yang akan ia kenakan. Dan ternyata pemuda itu sudah mendapat paket baju pesta beberapa hari lalu dari Narcissa Malfoy.

Ginny juga sempat mengajak Hermione untuk memilih baju pesta, tapi ah, ia lebih suka gaun yang ia beli di toko muggle daripada di dunia sihir. Oleh karena itu ia mempercayakannya semuanya pada sang ibu.

Hermione menutup jendela kemudian berjalan keluar kamar sambil menyambar buku-bukunya. Ia menuju ruang rekreasi yang sepertinya sudah berpenghuni. Ia kemudian duduk di sofa kecil di sebelah sofa panjang –yang diduduki Draco. Satu dari rangkaian sofa yang lain.

Hermione melihat pemuda di depannya sedang berkutat dengan pr-Transfigurasi-satu-meter mereka. Tampaknya semakin mereka bertambah jenjang, semakin panjang perkamen yang harus mereka isi dengan pe-er Transfigurasi dari Professor McGonagall.

Kening Draco tampak berkerut, matanya hampir tidak terlihat berkedip saat menggoreskan tulisan-tulisan di atas perkamen yang dipangkunya bersama buku tebal Transfigurasi. Ia kemudian juga mulai mengerjakan essaynya sendiri.

Kedua murid teladan Hogwarts itu sama-sama terlarut dalam keheningan yang bagi semua orang membosankan untuk mengerjakan tugas essay mereka. Mungkin bagi Harry dan Ron, kedua sahabat Hermione itu akan lebih memilih jatuh dari ketinggian beratus-ratus meter saat Quidditch daripada diam mengerjakan tugas mereka.

Hampir tiga jam kemudian, Draco akhirnya menutup buku-bukunya dan menggulung perkamen yang sudah terisi setengah lebih dari batas yang ditentukan. Sementara Hermione yang sudah lebih dulu selesai karena mengerjakan tugasnya dari kemarin memilih untuk tetap melanjutkan belajar.

"Sudah selesai?" tanyanya tanpa menoleh pada Draco.

"Yup, as you can see," jawab Draco yang masih sibuk dengan barang-barangnya. "Aku harus segera selesai karena…" ia melirik jam yang berada diantara dua jendela besar di belakangnya. "Setengah jam lagi aku harus latihan Quidditch."

"Kau diterima jadi seeker lagi?"

Draco menata semua bukunya di atas meja lalu melipat tangan di depan dadanya. "Apa kau bilang?" ia memberi nada intimidasi di kata-katanya, tersinggung.

"Apa kau diterima jadi seeker Slytherin lagi, Draco?" ulang Hermione setengah memaksakan nada bicaranya.

Draco mendengus sebal. "Sepertinya Slytherin tidak punya kualitas seeker terbaik untuk tahun ini, jadi aku kembali dipanggil. Lagian, tahun lalu aku hanya berhenti sejenak atas kemauanku, bukannya aku yang dikeluarkan." jelas Draco.

Hermione menutup bukunya. Ia memandang lawan bicaranya. "Oh, begitu. Tampaknya mereka ketakutan setelah Piala Quidditch tahun lalu jatuh di tangan Gryffindor, yah, saat kau mengundurkan diri tentunya," kata Hermione setengah meledek. "Aku kira Slytherin tidak akan apa-apa tanpamu."

"Terserah kau saja, mereka membutuhkanku sekarang." Ia kemudian mencondongkan dirinya ke arah Hermione,"Dengar Nona!" Hermione menahan nafas ketika jarak wajah mereka sangat dekat. "Tahun ini aku sudah memperbarui kemampuanku di atas sapu terbang dan tim kami punya kapten baru yang berpengalaman. So, maaf kalau Slytherin mengambil piala itu dari Gryffindor tahun ini. Oke?"

Hermione tidak menjawab, itulah yang membuat Draco tersenyum dengan penuh kemenangan. Hermione memang tidak bisa menjawab apa-apa. Semua orang di Hogwarts juga tidak bisa sembarangan meragukan keahlian Draco dalam urusan Quidditch. Dan apa tadi Draco bilang? Slytherin punya kapten baru? Oh, yang benar saja. Seberapa tangguh kapten baru itu dibanding Harry Potter?

Tetapi yang dilakukan Hermione kini membatu. Darahnya berdesir melihat wajah Draco yang masih berada beberapa senti di depan ujung hidungnya, detak jantungnya tak karuan. Ia sama sekali tidak bisa mengontrol dirinya saat ini. Ada perasaan yang berkecamuk di dadanya. Ada perasaan nyaman ketika ia melihat wajah pemuda itu berbalik tersenyum manis ke arahnya. "Aku pergi dulu," bisik Draco. Ia lalu mencium pipi Hermione sebentar yang membuat gadis itu mengubah raut mukanya menjadi aneh.

Hermione merasakan hangat yang luar biasa. Ia seperti dikelilingi kupu-kupu dan ada sesuatu yang menggelitik perutnya.

Draco menegakkan dirinya lagi lalu berjalan keluar asrama. Terkadang orang itu masih sama menyebalkannya –beberapa saat sebelum pemuda itu mencium Hermione di pipi dengan sangat lembut tadi. Hermione yang penasaran tentang kapten baru Slytherin akhirnya membereskan buku-bukunya dan menyusul pemuda itu.

oOo

Hermione dalam perjalanannya menuju lapangan Quidditch. Ia menoleh ketika Harry memanggilnya. Sepertinya Ron, Ginny, Katie, Demelza, serta Dean juga akan menuju lapangan untuk melakukan observasi terhadap latihan tim Slytherin.

"Tumben kau mau menginjakkan kakimu di lapangan itu, Mione?" singgung Ginny. "Apakah karena pangeranmu, eh?" godanya.

"Dia kan tidak mau jauh-jauh dari Draco. Siapa tahu akan dapat 'bonus' lebih dari yang kemarin," goda Katie.

"Apaan sih? Kemarin yang mana?"

"Yang itu lhoh, masa kau lupa Hermione. Apa perlu kita beberkan di sini?" Hermione salah tingkah saat mengerti apa maksud perkataan Katie Bell tadi. 'Kemarin', saat mereka berciuman.

"Sudahlah! Jangan dibahas!" sanggah Hermione.

"Bagaimana kita tidak bisa membahasnya? Hal itu akan bernilai mahal jika kujual di Hogwarts!" seru Ginny sambil cekikikan bersama Katie.

"Katakan padaku kalau kau hanya bercanda, Ginevra Weasley!" suruh Hermione tajam yang malah membuat kedua temannya tertawa terbahak-bahak.

Ginny mengangkat satu tangannya yang sibuk memegangi perutnya. "Hohoho, tidak, Mione. Kami sudah janji pada kami. Kecuali kalau orang tua Malfoy membayar kami dengan ribuan Galleon," canda Ginny. Katie masih tidak berhenti tertawa.

"Stop, Ginny!" wajah Hermione kian memerah, malu. Entah berapakali wajahnya memerah saat Ia dan Draco semakin akrab belakangan ini. "Itu tidak lucu, Katie!" seru Hermione saat Katie masih memegangi perutnya dan tertawa bersama Ginny.

"Kalian bicara apa sih sebenarnya?" tanya Ron polos.

"Girls talk, Ron," jawab Katie. Ron mendengus.

Demelza berhenti, memutar badannya lalu berkacak pinggang di hadapan Hermione, Ginny, dan Katie. "Kalau begitu, apa aku tampak seperti laki-laki?"

"Kurasa aku akan memberitahumu nanti, Demelza. Tapi kau jangan beritahukan pada siapa-siapa!" bisik Katie. Demelza mengangguk.

"Cepatlah sedikit! Slytherin sudah bersiap!" seru Harry ketika mereka sampai di bangku penonton Quidditch.

Mereka semua kemudian duduk di sebuah bangku yang biasa digunakan untuk anak-anak Gryffindor saat menonton pertandingan. Terlihat oleh Hermione di bawah sana, Draco yang sepertinya sedang berbicara dengan teman-teman Quidditchnya.

Ia kemudian melihat Draco mengambil sapu terbangnya kemudian bersiap ke tengah lapangan bersama yang lain. Ia sempat melihat Draco meliriknya dan tersenyum oada Hermione. Hermione kemudian merasakan perasaan nyaman lagi saat melihat pemuda itu tersenyum ke arahnya. Hermione bagaikan habis minum obat-obatan sehingga kepalanya terasa kosong saat menatap wajah pemuda itu. Apakah ini cinta?

Ia balas tersenyum kemudian. Sementara Ron memekik, Dean bersungut-sungut dan menyumpahi seeker Slytherin itu.

"HARRY! Dia itu berbahaya! Lihat saja sapunya! Bagaimana kau bisa santai saja menyikapinya?"

"Ron, kau sendiri tahu kalau kita tangguh, kan? Percayalah mereka akan kita kalahkan!"

Dean Thomas melotot kemudian angkat bicara,"Yang benar saja? Bahkan sapu itu SUDAH bisa mengimbangi Fireboltmu!"

"Kalian tidak percaya kekuatan tim kita? Ayolah, guys!"

"Aku tidak akan makan-makanan dari Honeydukes kalau kita kalah dari mereka," sahut Dean.

"Aku akan diet jika kita harus melawan mereka," cerocos Ron.

"Hey, hey! Apa-apaan ini? Semangatlah!"

"Yah, kau benar, Harry. Semangatlah untuk menghadapi Shadow eleven dengan Fireboltmu."

Harry tampak putus asa menghadapi sahabat-sahabatnya itu. Ia kemudian memutar posisinya ke arah kiri untuk dapat melihat Dean dan Ron. "Kita bisa, pasti bisa! Pikirkan kalau Shadow bukan apa-apa! Yakinlah!" seru Harry menyemangati mereka setengah putus asa.

"Yeah, pikirkan bahwa Shadow tidak memiliki kecepatan sampai ratusan mil per jam," sahut Ron malas. Ia mendaratkan punggunnya di sandaran bangku kemudian melipat tangannya dan meluruskan kedua kakinya. Putus asa.

Sementara mereka kembali beradu argumentasi, Hermione mengembalikan perhatiannya ke arah Draco yang sudah akan beraksi dengan sapu terbangnya di bawah. Dia kemudian menyenggol lengan Ginny.

"Kau tahu apa yang mereka maksud?" tanya Hermione menunjuk-nunjuk ketiga sahabatnya yang masih sedang adu mulut.

Ginny tertawa kecil,"Kukira kau tahu semuanya?"

"Dan kau pikir aku sudi membaca buku-buku Quidditch itu?"

Ginny menunjuk sapu terbang milik Draco,"Sapu terbangnya adalah Shadow 11, sapu termahal kualitas dunia produksi Inggris yang limited edition. Hanya diproduksi sebelas buah dan semuanya sudah sold-out dan sebagian sudah dikirim ke mereka yang memesan, termasuk Malfoy."

Hermione mulai tertarik tentang sapu Draco itu. "Lalu perbandingannya dengan Firebolt Harry?"

"Seperti yang kau tahu, Firebolt adalah sapu yang paling dicari karena langka dan memiliki kecepatan yang tidak terkira. Tapi Shadow 11 bisa melibihi keunggulan Firebolt di bidang kecepatan bila digunakan oleh seorang profesional atau paling tidak berbakat…"

'WUSH!'

Kata-kata Ginny terhenti ketika Draco Malfoy melesat mengejar golden snitch di depan anak-anak Gryffindor itu.

Semua menahan napas melihat keahlian Draco barusan. Rambut mereka bagai ditiup angin kencang saat Draco melesat tadi. Kecepatannya seakan tidak dapat diperkirakan dengan hitung-menghitung. "Seperti Draco Malfoy," lanjut Ginny pada Hermione. Namun semua yang di situ menoleh ke Ginny dengan muka mereka yang seperti kau-lihat-yang-barusan?

"Shadow rupanya nama yang tepat. Begitu dipegang seorang yang berpengalaman, sapu itu saja seakan sudah tidak terlihat. Hanya seperti sekelebat bayangan yang tiba-tiba lewat," kata Katie tiba-tiba. "Bagaimana yang profesional?"

"Ah, kalau sudah begini Slytherin akan menang," kata Demelza. Ia memijit-mijit kepalanya.

"Mustahil mengalahkan Shadow 11 tanpa ada seorang pengendara Firebolt tampaknya," sahut Dean sambil melirik ke arah Harry yang masih melongo.

Harry mengamati gerak-gerik Draco yang terbang lincah dengan sapunya. Di otaknya sedang merancang berbagai macam cara untuk mengatasi masalah serius bagi tim-nya kali ini. Ia juga berusaha mencari kelemahan Draco tetapi hasilnya nihil. Untuk saat ini Draco terlihat sempurna dengan Shadow 11-nya.

Setelah hampir setengah jam Draco berkeliling mencari snitch, ia akhirnya menemukan snitch itu. Ia langsung melajukan sapunya dengan kecepatan yang lumayan tinggi dan semakin bertambah. Dari ketinggian lima puluh meter Draco mengejar snitch itu yang terbang ke bawah. Semakin rendah ketinggian itu semakin dalam Draco menukik untuk mendapatkan snitch. Ia melepaskan tangan kanan dari sapunya, mengulurkannya kedepan untuk dapat meraih snitch.

"Dia gila!" seru Ron seraya berdiri. Yang lain juga terbawa suasana sampai mereka menonton aksi sang Malfoy yang hanya beberapa meter dari kursi penonton yang mereka duduki sampai berdiri.

"Oh, man! Dia menukik tajam!" seru Dean.

"Tapi sudah mengambil rancangan mendarat yang baik sepertinya," kata Ginny yang melihat wajah serius Draco.

"Dia akan berhasil!" teriak Demelza histeris.

"Kita lihat saja," sahut Harry.

Dua puluh meter dari permukaan tanah dan Draco mulai menukik sedikit lebih tajam. Antara tangannya dan golden snitch hanya berjarak satu senti. Dan pada ketinggian sepuluh meter dirinya berhasil medapatkan snitch bersamaan dengan ia yang tidak sengaja menoleh karena ada seorang yang berteriak sangat keras dan sangat histeris kepadanya.

"Draco hati-hati!" teriak Hermione sekeras mungkin dengan wajah bingung bercampur takut dan khawatir.

"Hermione jangan!" teriak Harry dan Ginny bersamaan, tapi terlambat. Hermione keburu khawatir, dia keburu berteriak dan Draco yang menoleh kehilangan konsentrasinya dan tidak bisa menghentikan sapu itu ketika akan menghantam tanah. Akibatnya dirinya menghantam permukaan tanah itu keras.

Semua orang dari Slytherin, Gryffindor dan beberapa orang yang menonton latihan itu memekik. "Hermione, seharusnya dia bisa mengerem sapunya kalau kau tidak berteriak!" Ginny yang tampak marah pada Hermione langsung menuju ke lapangan disusul Harry.

"Merlin! Hermione, seharusnya kau tidak berteriak!" seru Ron yang menyusul kedua orang yang sudah lebih dulu ke lapangan.

Hermione menutup mulutnya. Tangan Draco masih sakit. Dan dia telah menambah kesakitan Draco hari ini. Ia kemudian menyusul Katie yang juga berlari menuju kapangan.

"Draco!" panggilnya pada pemuda yang sedang jadi pusat perhatian tersebut. Ia kemudian berlutut untuk melihat pemuda yang memegangi tangan kirinya sambil meringis kesakitan.

"Aww!" teriaknya. Harry langsung membuka pelindung tangan Draco dan dengan sigap Hermione menyingkapkan lengan jubah Quidditch Slytherin yang dikenakan Draco. Dia memegangnya pelan sementara Draco mengerang kesakitan.

"Maaf, Drake," kata Hermione lirih.

Draco memaksakan senyumannya. "Ti-tidak apa-apa, Mione. I'm fine. Ouch!"

"Kakimu patah dan kau bilang kau tidak apa-apa?" seru Blaise sambil memeriksa sendi di siku Draco baik-baik saja.

"Tidak apa-apa, Blaise. Nanti akan sembuh," kata Draco sambil menyeka darah yang keluar dari pelipisnya.

"Ayo bawa dia ke Madam Pomfrey!" seru Harry.

"Theo bantu aku!"

Blaise dan Theo langsung mengangkat sahabatnya itu menuju Hospital Wing sesegera mungkin. Hermione mematung di tempatnya. Ia sangat-sangat merasa bersalah telah berteriak seperti itu tadi, ia menyesal. Oh, betapa seharusnya mempercayai Draco dapat melakukannya dengan baik dan tidak perlu khawatir berlebihan.

oOo

Blaise Zabini bersama sahabatnya Theodore Nott tengah menyerang Madam Pomfrey dengan berbagai pertanyaan tentang keadaan sahabatnya yang tengah tergeletak dan menggeliat kesakitan di atas kasur bersprei putih, Hospital Wing sore itu.

Anggota Quidditch Slytherin, Harry, Ron, Hermione ada di situ bersama mereka. Sementara Gryffindor yang lain memilih pulang Trio Emas itu memilih untuk tetap tinggal menunggui Draco.

Terkadang mereka berdua adu mulut karena khawatir tidak ada yang menggantikan Draco sebagai seeker Slytherin untuk pertandingan melawan Gryffindor awal November nanti.

"Bisakah kalian diam!" bentak Madam Pomfrey pada dua pemuda Slytherin yang tidak bisa menutup mulut mereka.

Blaise dan Theo kemudian menjelma menjadi anak kecil yang sedang dimarahi ibunya. "Yes, Ma'am," kata mereka bersamaan.

"Kalau kalian berisik itu hanya mengganggu Mister Malfoy, mengerti?" tanyanya kembali dengan nada tinggi.

Blaise dan Theo mengangguk. Mulut mereka seakan langsung terkunci seperti diberi mantra Silencio. Mereka hanya mengamati Madam Pomfrey yang berkutat dengan ramuan-ramuannya. Draco sempat mengernyit saat Madam Pomfrey meminumkannya salah satu ramuan yang rasanya, euh, sangat pahit sekali. Draco menjauhkan tangan Madam Pomfrey saat kali keduanya ia harus menegak ramuan itu.

"Minumlah Mister Malfoy!" kata Madam Pomfrey sambil sedikit memaksa Draco meminum ramuannya. Draco menggelengkan kepalanya. Perutnya bergejolak tidak enak ketika minuman-rasa-racun itu sampai di lambungnya. "Ini demi kesembuhanmu!"

Draco menutup mulutnya dan sambil sesekali menyingkirkan tangan Madam Pomfrey yang memegang piala berisi ramuan itu. "Aku tidak mau!" bentaknya.

"Merlin, Draco! Minumlah, jangan seperti anak-anak!" teriak Blaise.

"Harus berapa kali aku katakan aku tidak mau?" tanyanya kemudian menutup mulutnya lagi.

"Ayolah, Malfoy! Kau tidak ingin membuat temanmu khawatir, kan?" sahut Ron yang ikut-ikutan geregetan. Draco menggeleng,"Tetap tidak mau."

"Please, Drake. Itu demi kesembuhanmu," kata Hermione mengulang kata-kata Madam Pomfrey dengan khawatir.

Jujur saja, melihat wajah Hermione yang sangat khawatir dan tampak sedih menjadi alasan Draco pada akhirnya meminum isi piala Madam Pomfrey. Ia memegangi perutnya yang mual dengan tangan kanannya yang ikut-ikutan perih.

"Masih ada ini," Madam Pomfrey megulurkan sebuah botol kecil berisi ramuan berwarna hijau muda dan kental.

"Apa ini?"

"Itu akan membantu memulikan lukamu. Ramuan pemulihan."

Draco diam saja sambil masih memandang ramuan di depannya. Kemudian ia menerima botol tersebut lalu menegak isinya. Di wajahnya terlihat kesakitan yang luar biasa. Tetapi sedetik kemudian ia mengambil nafas, kemudian menyembunyikan rasa sakitnya.

Ia memutuskan untuk berbaring. Madam Pomfrey kemudian membantunya berbaring, rasa sakit di punggung yang tak terkira juga menghujamnya.

"Sekarang minum yang ini!" suruh Madam Pomfrey. "Ini ramuan tidur tanpa mimpi, tidak ada rasanya," lanjutnya.

"Lalu yang tadi itu apa?"

"Itu ramuan pertolongan pertama untuk lukamu."

"Memangnya—"

"Jangan banyak tanya! Minum yang ini dan tidurlah!"

"B-baik, Ma'am."

Draco menegak piala yang berisi ramuan yang berbeda. Ia kemudian mengambil posisi nyaman di kasurnya lalu mencoba untuk tidur. Tidak sampai lima menit, pemuda pirang itu tertidur.

"Baiklah, dia sudah tertidur," kata Madam Pomfrey kemudian. Ia mengambil posisi duduk di sisi sebelah kiri Draco kemudian lanjut menjelaskan,"Tangan kiri Draco memang tidak patah, tetapi terkilir dan mengalami luka dalam yang cukup serius."

Blaise memandang Hermione yang tercekat. Entah kenapa, tiba-tiba saja dirinya menjadi Blaise yang tahun-tahun lalu membenci gadis itu. Ia telah membuat sahabatnya menjadi begini. Dan Ia tidak akan memaafkan siapa saja yang membuat Draco menderita, apapun bentuknya.

"Tulang betisnya mengalami retak tetapi aku sudah menanganinya, dan untuk punggungnya, aku rasa tidak ada masalah serius, hanya ada lecet di bagian luar." Madam Pomfrey meraih jari-jari Draco dan mengelus pemuda itu. "Aku yakin ia anak yang kuat, jadi kupikir dia bisa sembuh dalam waktu dekat ini."

"Apa tidak apa-apa memberikannya langsung tiga ramuan sekaligus, Madam?" tanya Harry penasaran.

"Tidak masalah untuk seorang Draco Malfoy kurasa," Madam Pomfrey memandang pasiennya. "Karena pada umumnya, waktu pertama seseorang meneguk ramuan yang kuberikan pada Draco pertama kali tadi akan terlihat pucat seketika, matanya terlihat berkunang-kunang, dan orang tersebut akan otomatis mengeluh atau bahkan menangis karena akan terasa sakit di perutnya."

"Tapi sama sekali tidak terlihat pada Draco tadi," lanjut Harry.

"Sudah kukatakan dia anak yang kuat. Dia kebetulan punya kekebalan tubuh yang baik pula."

"Sampai kapan dia akan seperti ini?" tanya Blaise.

"Tiga sampai lima hari."

"Hah? Merlin!" Theo menepuk dahinya. Ia tidak menyangka 'kecelakaan' tadi berbuah seperti ini.

"Baiklah, aku akan ke kantorku dulu, jangan lama-lama di sini, biarkan dia istirahat!" kata Madam Pomfrey yang langsung meninggalkan ruangan itu menuju kantornya.

"Ini gara-gara kau, Granger!" kata Blaise geram tanpa menoleh sedikitpun ke arah Hermione.

Hermione membelalak tak percaya, Blaise akan secepat itu berubah sikap. "Ini semua gara-gara kau! Draco tergeletak tidak berdaya dan menahan semua sakitnya!" bentaknya kemudian, masih tidak menoleh pada Hermione. Ia lebih memilih menundukkan kepalanya.

"Blaise, aku… aku, maaf," kata Hermione gugup.

"Maaf?" Blaise menyeringai sambil tertawa dingin. Ia kemudian menoleh ke arah Hermione dan maju beberapa langkah ke arah gadis itu. "Hanya maaf sementara Draco kesakitan seperti itu karenamu?" bentaknya.

Hermione kini yang tertunduk. Rasa salah terus dan terus saja menghujamnya. Ia tahu Ia bersalah dan ia akan melakukan apa saja supaya teman-teman Draco tidak membencinya. Tapi Blaise sudah keburu marah.

"Apa sih yang ada di otakmu..." Blaise menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri –mengibaratkan kalau itu otak Hermione,"…sampai kau mengganggu konsentrasinya saat terbang tadi?"

Hermione menjawab pelan,"Aku hanya khawatir, Blaise."

"Khawatir atau kau pura-pura khawatir supaya Draco melihatmu sebagai orang yang paling pengertian padanya, Granger?"

Hermione menggeleng. "Apa kau bersedia menggantikannya di situ? HAH?" Blaise menunjuk kasur yang ditiduri Draco. Hermione kembali menggeleng. "Lantas, kenapa kau… Oh, aku tahu. Mungkin karena kalian memang sengaja merencanakan ini dari awal?" ia memandang Trio emas Gryffindor itu bergantian.

Ron melotot. "Kami tidak selicik itu, Zabini!" jawabnya geram.

"Begitukah?" tantang Blaise. Ia maju ke arah Ron.

"Kalau menurutmu kami sengaja, apa kau punya bukti?" sergah Harry melindungi Ron.

"Tidak. Tapi apakah alasan yang lebih jelas dari sekedar mengkhawatirkan Draco?" Blaise melirik Hermione yang menatapnya juga. Ia kembali menatap sahabat gadis itu di depannya,"Sengaja membuatnya begitu supaya kami kehilangan seeker, Potter? Brilian."

"Kami tidak selicik kau para Slytherin, Zabini! Jangan samakan kami dengan teman-temanmu!" kata Ron dari belakang Harry pedas.

Harry menoleh ke arah sahabatnya itu, "Shut up, Ron!" Ia kembali pada Blaise kemudian "Dengar, Zabini. Bagaimanapun juga Draco sekarang sahabat kami, kami tidak akan melakukan hal tersebut untuk mencelakainya!"

"Terserah. Tapi aku akan tetap membenci apapun yang menyebabkan sahabatku terluka," desisnya.

"Blaise! Memang ini salahku, memang aku tidak seharusnya bersikap bodoh seperti itu. Tapi dengar, aku hanya khawatir dengan Draco. Tidak lebih, oke aku memang tidak yakin kalau dia bisa menghentikan sapunya di waktu yang tepat," jelas Hermione. Cukup sudah ia diam kali ini.

"Aku tahu kau marah, aku pun juga marah pada diriku sendiri. Aku tidak pernah berharap Draco seperti ini, ini juga bukan rencana kita menghancurkan tim-mu, Harry bahkan sudah melarangku untuk berteriak agar tidak mengganggu kosentrasi Draco, tapi aku terlanjur khawatir," jelasnya panjang lebar. "So, tolong, jaga emosimu!"

Blaise hanya memutar matanya kemudian pergi bersama Theo dari Hospital Wings.

Hermione mendengus kemudian langsung menghampiri Draco yang tertidur,"Draco… Maafkan aku," bisiknya. Ia duduk di kursi yang ada di situ.

"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya khawatir kau akan jatuh. Tapi malah membuatmu seperti ini," katanya lirih sambil mengusap rambut Draco. Ia kemudian mengambil tisu untuk mengelap darah dari pelipis Draco yang kembali keluar.

Ia mulai sesenggukan. "Sudahlah, Mione. Ayo kita kembali dulu."

"Tidak Harry, kau kembalilah saja dulu bersama Ron. Aku akan tetap di sini sebentar," jawab Hermione.

"Baiklah, sampai jumpa di makan malam."

Hermione mengangguk. Ujung matanya mengekori kedua temannya yang berjalan pergi dari situ. Ia kemudian kembali sosok yang terlelap dalam mimpinya.

"Draco, maaf. Aku tidak pernah menginginkan ini terjadi…" ia menggengam tangan Draco pelan. "Aku tidak ingin melihatmu sakit, aku tidak ingin melihatmu terluka."

"Aku hanya ingin melihatmu tersenyum, err… dan bersamaku," Hermione menghela nafas.

Ia kemudian menunduk dan berbisik di telinga Draco. "Apakah ini artinya aku jatuh cinta padamu?" Semenjak dirinya sakit hati karena Ron, Draco-lah yang ada di situ menghiburnya. Apakah benar ada cinta untuk pemuda ini?

Jawabannya Hermione tidak tahu. Dia tidak ingin tahu untuk saat ini dan dirinya tidak pernah tahu bahwa cintanya pada Ron pergi dan hadirlah rasa yang melebihi rasa sayang untuk pemuda pirang ini.

oOo

1 hari sebelum pesta dansa…

Hermione kembali dari pelajaran terkahir hari itu ke asramanya, ke kamaranya. Sepi, akhirnya selama berhari-hari dia berharap dapat tinggal sendiri di asramanya itu dia baru merasakannya sekarang. Tanpa sesosok pemuda yang akhir-akhirnya menghias hidupnya.

Hermione mengganti jubah sekolah dengan baju santai. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuk. Mencoba untuk mengistirahatkan badannya yang letih.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, ia merasa sangat capek untuk belajar dan berkutat dengan segala buku-buku tebal yang sudah menjadi patnernya selama ini. Untuk pertama kalinya dia merasa ada sesuatu yang kosong di pikiran dan hatinya. Ada sesuatu yang hilang dari sana lima hari ini. Ia mencoba untuk mencari itu, dan apa yang ia dapatkan adalah bayangan dan ilusi seorang Draco.

"Draco…" ucapnya lirih. Masih memikirkan pemuda yang hilang dari hidupnya untuk saat ini.

"I wish you were here…" katanya pada Draco yang jelas tidak akan mendengarnya. Ya, Hermione berharap Draco ada di sisinya saat itu. Bukan untuk menghiburnya, bukan untuk menghapus kesedihan dan rasa sakitnya, tetapi untuk di situ bersamanya. Apakah Hermione benar-benar jatuh cinta dengan Draco? Entahlah, yang jelas dia merasakannya. Merasakan kehilangan setelah dia tidak bertemu dengan Draco.

Lima hari sudah Hermione 'menguasai' asramanya sendirian. Dan empat hari sudah Blaise memusuhinya. Ia bahkan tidak menjenguk Draco hari-hari ini karena Blaise melarangnya. Sahabat baik Draco itu pun mengkloter teman-temannya untuk bergantian menjaga Draco dari Hermione. Miris memang. Tapi begitulah adanya.

Hanya satu yang ia inginkan, hanya satu, apakah pemuda itu baik-baik saja?

Hermione merindukannya. Ya, senyum pemuda itu, seringainya, ejekan dan godaan yang sering ia tujukan pada gadis itu. Draco yang sekarang, pemuda tampan dengan hati yang mulia. Dia lebih suka itu daripada yang dulu. Sama sekali tidak ada kata bad boy di kamusnya sejak awal. Itulah yang membuatnya menyukai Draco yang sekarang, merindukannya dengan sangat. Meski belum ada hitungan minggu mereka tidak bertemu.

Hermione duduk di ujung ranjangnya, mengamati kotak kiriman yang ada di meja belajarnya yang masih terbungkus rapi. Kiriman dari Ibunya, gaun pesta. Ia sengaja tidak membukanya, entah mengapa ia ingin menunggu Draco sembuh, membuka paket itu dengannya dan bertanya pendapat Draco.

Asrama ini terasa sepi tanpa Draco, sama sekali tidak ada perasaan 'nano-nano' yang menghampirinya karena pemuda itu tidak ada di sini. Dan rasanya Hermione rindu dengan pemuda itu. Wajahnya merona setiap kali memikirkan Draco. Ia bahkan senyum-senyum sendiri kali ini. Sampai ia tak sadar owl-nya yang mengetuk-ngetuk jendela kamar.

Hermione yang kaget segera menghampiri si burung hantu yang membawa secarik surat di kakinya. Ia bahkan tidak mengerti, ia tidak menulis surat apapun ke seseorang tapi kenapa burung hantunya membawa surat?

Ia mengambil surat itu kemudian membacanya.

Dear Ms. Granger,

Aku menemukan burung hantu-mu kabur dari kandang burung hantu Hogwarts. Aku hanya ingin memberitahu Draco sudah membaik dan merengek ingin bertemu denganmu karena dia belum boleh keluar, dia masih harus meminum ramuan terkahir nanti sebelum jam makan. Baru setelahnya diperbolehkan pulang oleh Madam Pomfrey.

Begitu kau menerima suratku, pergilah ke Hospital Wings segera.

Theodore Nott

NB : Blaise sepertinya akan memaafkanmu!

Hermione tersenyum membaca surat itu. Setelah ia meninggalkan daging asap untuk si burung hantu, segera saja ia berlari menuju Hospital Wings.

oOo

"Hahah, kau tahu reaksi Flora saat kuajak?" tanya Goyle.

Draco menggeleng,"Go on! Ceritakan!"

"Dia bahkan tersipu, lho!"

"Flora? Tersipu? Dia pasti bukan Carrow!" canda Draco.

"Ya karena Goyle mengajaknya ke pesta dansa di aula besar saat makan malam kemarin. Jelas dia tersipu malu, yang melihat itu seluruh siswa Hogwarts!" seru Theo.

Draco tertawa renyah. "Mungkin karena itu dia menerima ajakanmu!" serunya.

Goyle menelengkan kepalanya,"Maksudmu?"

"Terpaksa karena dilihat banyak orang," jawab Draco sementara yang lain tertawa. Melihat wajah Goyle yang berubah pucat dia menimpali,"Tidak, aku hanya bercanda, Goyle!"

"Bercandamu keterlaluan!" serunya.

"Baik, baik, maaf…"

"Draco!"

Semua teman-teman Draco yang sedang membesuknya menoleh ke arah suara yang memanggil Draco barusan.

"Sepertinya kami harus pergi, Drake," kata Theo tiba-tiba.

"Iya, kami harus ke Hogsmeade sekarang," Crabbe melanjutkan.

"Daa Draco!" seru Goyle dengan nada menggodanya. "Bersenang-senanglah!" katanya lagi sambil mengedipkan sebelah mata.

Draco dan Hermione kini berpandangan. Draco kemudian tersenyum dan memulai pembicaraan. "Hai," hanya itu saja? Ayolah Malfoy.

"Jadi…" kata mereka berbarengan.

"Kau duluan!" ucap Draco dan Hermione kembali berbarengan . Mereka tertawa bersama. "Kau duuan," ulang Draco.

"Jadi, sudah merasa baik?"

Draco menaikkan kedua pundaknya,"Yah, begitulah. Seperti yang kau lihat."

"Syukurlah." Hermione mengelus dadanya lega. "Dan tanganmu?"

"Terimakasih pada Madam Pomfrey yang memberikan ramuan-rasa-racunnya."

"Sudah bisa digerakkan?" Draco menggerakkan tangan kirinya normal. Sepertinya semua luka Draco sudah pulih. "Jadi tidak sia-sia kan ramuan-rasa-racunnya?"

"Ya, ya, walaupun pertama kali aku meminumnya seakan seperti bunuh diri."

"Aku senang kau sembuh," kata Hermione sambil tersenyum.

Draco menyeringai. "Ada yang rindu denganku rupanya," katanya menggoda.

"Ah, ti-tidak ada!" sergah Hermione. Ia menjadi salah tingkah sekarang.

"Jadi kau tidak mengharapkan aku sembuh?" rengek Draco berpura-pura seperti anak kecil. Hermione dibuat tertawa olehnya. "Tentu aku mengharapkanmu sembuh, Draco," ucapnya lembut.

"Kalau begitu, kemarilah. Ada yang ingin aku katakan." Hermione menurut. Ia duduk di sebelah kanan Draco, memandang pemuda itu dengan tatapan yang lucu seperti saat melihat anak kecil di hadapannya sekarang. "Seandainya, kalau kau merindukan aku…"

Hermione menatap Draco bingung. "Aku hanya ingin bilang, aku juga merindukanmu, Hermione."

Hermione menatap Draco tak percaya. "Benarkah?"

Draco mengangguk. "Kau tidak percaya?"

"Tidak, bu-bukan begitu. Hanya saja aku…" Hermione tersenyum lembut kala itu. "Juga merindukanmu."

Draco tidak kuasa menahan senyumnya. Ia terlihat senang sekali, tapi entah karena apa. Karena Hermione merindukannya? Mungkin. Tapi tunggu, kenapa gadis ini cepat sekali berpaling perasaannya. Draco sejurus kemudian terlihat kebingungan. "Cinta itu selalu datang dan pergi," kata Hermione tiba-tiba. Gadis itu menerawang, tetapi seakan sedang menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang ada di kepala Draco.

"Dan aku tidak pernah tahu secepat apa cinta itu datang dan pergi," katanya lagi. Ia kemudian memandang Draco dengan pandangan yang sangat teduh.

"Aku merasa kehilanganmu saat kau berada di sini, Drake. Dan itu semua salahku, maafkan aku ya?"

Draco hanya tersenyum kecil. Ia meraih tangan Hermione dan meremasnya pelan. "Tidak, kau tidak perlu minta maaf, kau tidak salah."

Hermione tanpa ba-bi-bu lagi langsung memeluk Draco. Ia memperkuat pelukannya ketika sang pemuda membalasnya. "Maaf aku meragukan keahlian terbangmu, Drake. Maaf…"

"Tak apa, aku sudah sembuh sekarang. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan," balas Draco santai. Lama mereka berpelukan sebelum Madam Pomfrey datang dengan ramuan di tangannya.

"Selamat sore, Miss Granger, Mister Malfoy," sapanya ramah. Mereka melepaskan pelukan mereka.

"Sore, Ma'am. Itu ramuan terakhir untukku?"

"Yup, betul sekali. Setelah kau minum yang ini, makanlah di Aula Besar, pulanglah!"

Draco mengangguk. Ia kemudian mengambil ramuan yang disodorkan Madam Pomfrey dan langsung meminumnya.

"By the way, bagaimana dengan pasangan pesta dansamu?"

"Masih bolehkan kalau aku mendaftar padamu?"

Draco tersenyum puas. Dia tidak perlu bingung sekarang. Meski kata-katanya saat malam di mana Hermione menangis itu semata-mata untuk menghibur Hermione, nampaknya gadis ini tidak keberatan kalau Draco menjadi pasangan pesta dansanya.

"Satu lagi, karena aku masih rindu denganmu, Mione…" kata Draco sangat manis -tapi masih tidak meninggalkan wibawanya sebagai Malfoy- bersamaan dengan Hermione yang blushing berat. "Kau mau kan kalau patroli bersama denganku sore ini?"

Draco memang tidak menunjukkan air muka seperti anak kucing yang minta diberi makan kepada majikannya, tapi kata-katanya tadi? Dan, ya Tuhan, tatapan matanya? Bagaimana Hermione tidak meleleh dibuatnya? Hermione akhirnya menjawab iya walaupun semua akan jadi lebih berat karena 'iya' tersebut. Meskipun ia tahu bahwa akan ada bencana dari siswi Hogwarts yang ditujukan khusus untuknya.

oOo

Ginny melambaikan tangannya ke udara saat melihat Hermione memasuki aula besar bersama Draco. Yah, semenjak Draco keluar dari Hospital Wings tadi sore, entah mengapa Hermione selalu ada di samping pemuda itu.

Hermione sebenarnya risih dengan pandangan siswi Hogwarts yang melirik mereka seperti 'mereka-sudah-pacaran!'. Itu gara-gara Draco.

Coba kalau yang meminta orang lain, pastilah ia akan menolakknya mentah-mentah. Ah! Dirinya menjerit. Menjerit saat ia tahu, ia dilelelehkan oleh pemuda pirang ini. Ia dibuatnya mabuk kepayang. Terasa cepat bukan? Mengingat beberapa hari lalu ia menjerit di tengah Aula Besar karena seorang Ronald Weasley?

Dan apalagi saat pemuda itu berkata,"Bisakah kalian tidak memandang Hermione seperti itu?" pada setiap orang yang melirik Hermione dengan pandangan aneh. Status darah memang sudah terhapuskan, terimakasih untuk Pangeran botak sekali lagi. Tetapi status Draco Malfoy sebagai The Slytherin Prince, Hogwarts' Prince, Pangeran Pencabut Nyawa Wanita, Womanizer, atau apalah mereka menyebutnya- sama sekali tidak bisa dihapuskan dari otak para gadis Hogwarts yang terobsesi dengan Draco. Dan meski bagi Hermione –pada awalnya- Harry Potter, sang sahabat jauh lebih keren dari mantan musuhnya itu, tentu saja sebutan tadi tetap akan melekat dengan sosok pemuda pirang tersebut.

Jadi sebenarnya tidak salah kalau Hermione dilirik tidak enak –seperti merendahkan (itulah yang membuat Draco marah)- oleh semua siswi yang ada ketika mereka sedang patroli (baca: jalan bersama).

Dan Aula Besar adalah bencana bagi mereka ketika harus menghadapi serangan pertanyaan dari masing-masing teman. Tapi tentu saja pie apel menjadi pengalih perhatian Hermione Granger.

"Jadi? Kalian pacaran?"

"Tidak," kata Hermione singkat tanpa melirik ke arah teman-temannya.

"Tapi kalian mesra lho!"

"Biasa saja."

"Draco itu ternyata cocok untukmu ya, Mione?"

"Terserah."

"Hei, Mione, bagaimana kalau kau menraktir kami di Tree Broomstick?"

"Untuk apa?"

"Meranyakan hari jadimu dengan Draco!"

"Whatever."

"Bagaimana cara Draco menembakmu?"

"Dia tidak pernah."

"Apakah dia romantis?"

"Tidak," oke Hermione bohong. Bukan soal menembak itu, tapi romantisnya.

"Apakah dia jauh lebih romantis dari aku, Mione?"

"Hentikan Cormac!"

"Wah, bagaimana perasaanmu saat kau tahu kalian berpacaran?"

Hermione mendengus lalu memandang tajam teman-temannya. "Aku tidak pacaran dengannya!" teriaknya sebal. Dia memandang Seamus yang sepertinya masih mangap karena akan mengajukan pertanyaan. "Apa?" tanyanya galak.

"Baik, aku diam," kata Seamus kembali ke makan malamnya.

Sementara kejadian yang berbeda di Slytherin. Draco hanya dapat melihat tatapan teman-temannya yang sangat ingin tahu apa yang terjadi –terutama murid perempuan.

"Bisa kalian hentikan itu?" tanya Draco datar. Tapi tidak ada yang berubah dari tatapan teman-temannya.

"Aku tidak pacaran dengannya!"

"Lalu kenapa kau mau berciuman dengannya?" tanya Theo menggoda.

Ah, Draco dan Hermione tidak tahu rupanya kalau berita itu sudah menyebar. Ron memang piawai dalam urusan menguping pembiacaraan Hermione dan Parvati beberapa hari lalu. Dan bukan salahnya kalau ia keceplosan memberitahu Seamus dan akhirnya berita itu tersebar luas.

oOo

1 jam sebelum pesta dansa…

"Hermione!" Draco mengetuk pintu Hermione yang tak kunjung terbuka sejak tiga jam yang lalu.

"Sebentar!"

"Kau lama sekali sih? Aku duluan saja, oke? Professor McGonagall menugguku."

"Baiklah!" teriak Hermione sekali lagi dari dalam.

Draco akhirnya menuruni tangga menuju ruang rekreasi. Ia menyambar jubah (baca: jas di dunia muggle) nya yang berbentuk jubah di lengan sofa dan melesat menuju lukisan dan keluar.

Ternyata teman-temannya sudah menunggunya juga di luar. Ia memakai jubahnya. "Lama menungguku?"

"Iya, Pangeran. Jadi siapa putri yang beruntung malam ini?" goda Blaise.

"Shut up, Blaise! Lihatlah saja nanti."

Blaise hanya mengangkat kedua pundaknya. Draco kemudian mulai berjalan lalu diikuti keempat temannya yang lain. Ia kemudian melirik ke arah Blaise. "Kau sudah memaafkan Hermione?"

"Kurasa belum."

"Meskipun aku yang meminta?"

"Aku masih tidak terima, Draco! Jangan paksa aku!"

Draco mengangkat kedua tangannya menyerah. "Oke, oke!"

Mereka pun berjalan menyusuri lorong-lorong yang penuh dengan arus manusia yang juga menuju Aula Besar. Sesekali Theo dan Blaise mensiuli siswi-siswi yang pakaiannya malam itu terbilang seksi. Tidak peduli mereka lain asrama pula. Sementara Draco yang justru 'disiuli' oleh berpasang-pasang mata nakal setiap kali ia melewati siswi yang kebetulan juga menuju Aula Besar.

Saat mereka sampai,"Kalian masuklah dulu, cari pasangan kalian. Aku ikut parade jadi harus menemui Professor McGonagall dulu."

Teman-temanya kemudian mulai mencari pasangan mereka dan masuk sendiri-sendiri ke Aula Besar.

"Mister Malfoy!" Draco menoleh ketika Professor McGonagall memanggilnya.

"Iya, Prof?"

"Kau siap untuk parade?"

"T-tentu saja, Prof."

"Baiklah. Urutannya nanti ketua murid dulu, kemudian aku dan Professor Slughorn, kemudian perwakilan dari Ministry of Magic yang jadi tamu kita hari ini. Mengerti?"

"Iya, Professor."

Professor McGonagall kemudian melihat sekeliling seperti mencari seseorang. Ia kemudian berhenti pada Draco dan memandangnya. "Jadi mana pasanganmu dan mana Miss Granger, Draco?"

"Maaf, Prof, sepertinya Hermione masih berdandan dan sebenarnya Hermione—" kata-katanya terpotong saat Professor McGonagall memandang kagum ke arah belakang Draco. Begitu juga dengan beberapa orang yang ada di situ. Dracopun menoleh, mengekor ke mana pandangan Professor McGonagall.

Hermione Granger, dengan balutan gaun biru kehijauan tanpa lengan dan 'V'-dress-at-back berjalan menuruni tangga dengan anggunnya. Draco seakan membeku di tempatnya. Mata kelabunya terkunci pada sosok malikat di depannya. Nafasnya hampir berhenti sesaat melihat keindahan yang terpancar dari Hermione Granger hari ini. Apalagi dengan tatanan rambutnya yang menawan. Digelung ke belakang kepalanya menyisakan anak rambut yang dibiarkan tergerai membingkai wajahnya.

Draco langsung maju menyambut gadis itu saat ia selesai di tangga paling bawah. Hermione tersenyum padanya. Draco dengan tangan kiri di belakang punggungnya dan tangan kanan terulur pada gadis itu. Hermione menyambut uluran tangan Draco dan Draco pun mencium tangan lembut sang gadis. "Kau… cantik sekali, Mione."

"Thanks," jawab Hermione sambil tersenyum. Andaikan Draco tahu kalau dia sedang meleleh melihat sosok tampan di hadapannya. Hermione tak kuasa menyembunyikan kegembiraannya saat mengetahui Pangeran itu adalah pasangan dansanya malam ini.

Draco menuntun Hermione ke depan Professor McGonagall yang masih menatap Hermione dengan kagum. "Sebenarnya, Miss Granger adalah pasanganku malam ini, Prof," terang Draco.

"Oh, begitu rupanya. Kau sungguh, Miss Granger, kau sangat menawan," puji Professor McGonagall.

"Terimakasih, Prof!"

"Lihat! Pasangan paling serasi yang kulihat malam ini!" jerit Professor Slughorn yang baru saja bergabung dalam percakapan.

Draco dan Hermione ling lung, tidak tahu harus memberikan ekspresi yang bagaimana.

"Err, terimakasih, Professor Slughorn," jawab Hermione ragu.

"Bersiaplah! Semua sudah siap, setelah ini kita parade!" kedua anak itu pun mengangguk.

Draco kembali menuntun Hermione di depan pintu Aula Besar yang sepertinya disihir untuk menjadi dua kali lipat dari ukuran sebenarnya. Ia kemudian merentangkan lengannya yang langsung disambut oleh Hermione.

"Aku suka gaunmu," bisik Draco di telinga Hermione. Draco melirik bagian punggung Hermione yang terbuka. "Seksi," katanya lagi. Hermione langsung mencubit pinggang Draco yang langsung memegangi pinggangnya.

"Mulutmu harimaumu, Tuan Muda Malfoy," katanya kembali memandang pintu Aula Besar dari kejauhan yang mulai ditutup untuk nantinya menyambut parade.

"Hei, aku berkata jujur!"

"Sudahlah, jangan merayuku!"

"Baiklah. Aku diam," kata Draco lalu mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum nakal. "Aku beruntung ya?"

"Terserah."

"Kau juga seharusnya beruntung lho!"

"Hah, percaya diri sekali kau!"

"Hei, kalian! Bersiaplah!" panggil Professor Slughorn kemudian.

Draco dan Hermione berasama menuju ke depan Professor Slughorn dan Professor McGonagall. Draco menarik nafasnya. Kemudian terdengar musik dari dalam dan pintu Aula Besar terbuka. Draco dan Hermione berjalan masuk ke dalamnya sambil memajang senyum yang senantiasa mengembang, tidak peduli pandangan cemburu dari pihak fans Draco maupun fans Hermione yang melirik mereka aneh.

"Lihat, kan? Kau yang paling beruntung malam ini," bisik Draco lagi.

"Kau menang kali ini," kata Hermione sambil melirik ke arah sahabat-sahabatnya yang memandang tidak percaya.

Sementara Ginny berbisik pada Harry. "Dia cantik sekali ya?"

"Iya. Tapi kau tahu apa, Ginny?"

"Hm?" tanya Ginny menoleh pada kekasihnya itu.

"Kau tetap yang tercantik malam ini, bagiku."

"Oh ya? Bisa dibuktikan?"

"Aku tidak tahu caranya. Tapi mungkin dengan ini…" Harry mencium bibir Ginny lembut. Meskipun sebentar Ginny tahu, Harry berkata serius.

Parade pun sampai di tengah lantai dansa, musik pun sempat berehenti sesaat. Draco melepas gandengannya dengan Hermione, kini ia berdiri berhadapan dengan gadis itu. Ia kemudian meraih tangan kanan sang gadis dan memegang pinggangnya. Hermione pun menggantungkan tangannya di pundak Draco.

Musik klasik kembali mengalun saat semua yang ikut parade dalam posisi siap. Dan saat musik mengalun dengan lembutnya, Draco menggiring pasangannya mengikuti irama musik yang ada. Ia sesekali memutar tubuh Hermione lalu mengankatnya ke udara persis seperti apa yang di lakukan peserta parade lainnya. Dapat ia lihat beberapa pasangan yang kemudian masuk ke arena dansa. Ada Harry dan Ginny, Blaise dan Hestia, Ron dan Lavender, Cormac dan Luna, dan banyak lagi.

Berlangsunglah acara pertama pesta itu dalam sepuluh menit. Draco kemudian menarik Hermione dari arena. "Biar ku ambilkan minum, oke?" Hermione mengangguk.

"Aku tunggu di sini." Draco melesat menuju ke tempat cocktail yang ada. Hermione kemudian melihat Harry dan Ginny berlari kecil keluar dari arena dansa. Mereka kemudian menuju ke Hermione. Mereka saling menyapa sampai akhirnya masuk ke dalam percakapan.
"Kau tampak cantik malam ini, Mione!" seru Ginny.

"Thanks, kau juga, Gin!"

"Tapi yang berbeda kau malah serasi dengan Draco," goda Harry.

"Harry!"

"Oke, oke. Kalian mungkin memang belum pacaran, tapi kurasa sebentar lagi iya."

"Taruhan?" tantang Hermione.

Harry mengembangkan senyuman di wajahnya. "Tentu, kenapa tidak?" katanya yakin.

"Mione, ini," Draco menyodorkan salah satu cocktail yang ada di genggamannya.

"Baiklah, kurasa aku dan Harry harus menemui Ron. Kutinggal ya? Bye." Ginny melambaikan tangannya ke arah Hermione sementara Harry mengedipkan sebelah matanya.

"Bye…"

Hermione kembali beralih pada Draco. "Jadi?"

"Harus berapa kali aku bilang padamu kalau kau benar-benar cantik malam ini?" Draco maju, ia melingkarkan tangannya di pinggang Hermione.

Hermione mendelik, ia memutar matanya. "Terimakasih. Tapi kau tidak perlu mengulangnya lagi!"

"Kalau aku ingin?"

"Kalau aku meminta untuk tidak melakukannya?"

Draco memasang muka pura-pura sedih karena kalah,"Kau menang."

Hermione sempat tersenyum sebelum akhirnya mereka hanya diam tanpa kata satu sama lain. Mereka sama-sama menyapu pandang ke puluhan pasangan yang menari dan berlonjak-lonjak bersama saat musik rock yang dipesan salah satu peserta pesta diputar.

"Hermione…" kata Draco memecah kesunyian.

"Ya?" Hermione menoleh.

"Aku ingin kau tahu sesuatu."

oOo

Apa yang sebenarnya Draco sembunyikan dari Hermione? Dan apakah itu kabar baik atau buruk?

Entahlah.

To be continued…

oOo

Aduuuuh, maaf readers dan para author semuanya kalau chapter ini skip timenya banyak sekali. Habis susah sih kalau harus dibikin satu-satu *ditimpuk batu* hehehe. Semoga berkenan ya :D

Saya udah nambahin accident awal antara Hermione dan Blaise yang akan tetap ada sampai di titik hurt-comfort ny, alias chapter nggak maafin Hermione karena dia masih menganggap kejadian itu dibuat-buat, alasan lainnya akan saya ceritakan flashbacknya di chapter depan. Dan *SPOILER* nantinya Blaise akan balas dendam.

Chapter ini adalah chapter terpanjang dari sebelum-sebelumnya. Sengaja karena menceritakan awal dari pair itu sendiri. Kurang jelas maksudnya? Tunggulah chapter depan. Makasih untuk semua reviewnya ya,

I hope this chapter not dissapointing you all. Thanks and more many thanks for the review and your constructive criticsm :)

And if you don't mind, give me more review, hohoho!

Regards,

Flo

NB: Chapter ini selalu saya lihat reviewnya. So, dari reviewers saya sudah membetulkan sedikit kesalahan-kesalah, typo. Jadi kalau tidak keberatan beritahu saya mana typo yang paling mengganggu di sini, oke? Thanks before :)