Before you read this, I just wanna tell you that I canceled my idea about Blaise's revenge to Hermione in this chapter. Aku tadinya punya ide, tapi sepertinya terlalu sadis jika Dramione yang barusaja senang-senang harus dapat Hurt-Comfortnya lagi. So, no Blaise's revenge in this story, but maybe I change it with another one remember that this story still in hurt-comfort genres :)

This is it…

~THE BALL GOWN~

Warning: Very OOC, AU (For the replacement of the epilogafterthe lastchapterHPDH), Semi-Canon

Disclaimer: J.K. Rowling

oOo

CHAPTER 5

JUST WHAT IT IS

Mereka sama-sama menyapu pandangan ke puluhan pasangan yang menari dan berlonjak-lonjak bersama saat musik rock yang dipesan salah satu peserta pesta diputar.

"Hermione…" kata Draco memecah kesunyian.

"Ya?" Hermione menoleh.

"Aku ingin kau tahu sesuatu."

Hermione mendapati wajah patnernya yang masih memandang sekeliling. Draco tersenyum aneh. "Kau tahu tentang Ron dan berita kita?"

"Eh? Apa maksudmu?"

Draco kini menatap mata pasangannya, ia tampak sedikit serius kali ini. "Sepertinya Ron tahu tentang adegan ciumanmu denganku." Wajah Hermione sukses memerah. Tidak, dia sama sekali tidak marah. Tetapi justru malu. Itu artinya seluruh penjuru Hogwarts sudah tahu. Pantas saja fans pemuda ini hampir membunuhnya kemarin. "Kau tidak marah?"

Hermione menggeleng singkat. Ia kemudian mengangkat kedua bahunya,"Yah, sudah terlanjur kan? Tak perlu dibuat pusing."

"Kenapa?"

"Draco," sahut Hermione manis. "Apa kau menyesal telah menciumku?" katanya menggoda.

Draco tersenyum nakal. Tangannya yang melingkar di pinggang gadis itu menarik tubuh Hermione menujunya pelan,"Aku justru minta tambahan." Blush. Hermione berharap tidak akan ada pemilihan laki-laki teromantis di Hogwarts nantinya, karena kasihan peserta yang lainnya tidak akan mendapat giliran piala yang hanya pantas untuk pemuda ini. Oke, itu berlebihan. Tapi ada daya? Tidak salah kalau pikirannya berkata seperti itu, Draco memang romantis.

"Kenapa wajahmu memerah, cantik?" godanya lagi. Hermione langsung mengalihkan pandangannya.

"Hanya perasaanmu," jawab Hermione datar untuk menyembunyikan kegugupannya.

"Tapi perasaanku mengatakan kau sedang blushing, sweetheart," goda Draco lagi kali ini dengan sedikit berbisik.

"Hentikan atau kubunuh kau!" ancam Hermione. "Aku bukan sweetheartmu!"

Draco memasang tampang pura-pura kaget. "Oh, ya?"

Hermione memutar bola hazel di dalam kelopak matanya. "Aku serius!"

Draco menempelkan jari telunjuk di bibir Hermione, mengkodenya supaya diam. Dia mendekat lagi ke arah Hermione. "Pertama kau sudah membunuhku, Mione. Membunuh hatiku," bisiknya. "Dan yang kedua…" Draco beralih memblokir pandangan Hermione, ia berjalan ke depan gadis itu dan kembali memberikannya ruang yang sempit. "Kalau aku memintamu menjadi sweetheartku, apakah kau mau?"

Hermione tercengang. Ia kemudian mendorong pemuda itu agar sedikit menjauh. Ia risih banyak orang yang memandang mereka. Sementara otaknya yang cerdas menterjemahkan kata-kata Draco barusan dengan sangat lamban. "Apa maksudmu?" tanya Hermione memasang ekspresi bingung.

Draco mengambil gelas cocktail Hermione dan meletakkannya ke atas meja yang berada di belakang Hermione bersama dengan gelas miliknya. Ia kemudian menatap gadis itu dalam. Berharap gadis itu mengerti. Tapi nihil. Ia mengambil ke dua tangan Hermione dan menggenggamnya.

"Hermione, aku juga sebenarnya ingin kau tahu mengenai…" Draco berhenti sejenak.

"Mengenai apa?" tanya Hermione tidak sabar.

"Em… P-pe-perasaanku," jawab Draco gugup. Ia kemudian beralih memandang sepatu pesta hitamnya yang mengkilat. Hermione diam. Ia balas menggenggam tangan Draco dengan gestur mengkode Draco agar melanjutkan kata-katanya. Dadanya bergemuruh, bagaikan akan ada badai nantinya di sana.

Rasa ini benar-benar tidak nyaman buatnya. Sama sekali tidak nyaman untuk dirasakan saat ini. Ia ingin sedikit tenang, tetapi pandangan pemuda ini, kata-katanya barusan, sedang berperang mengusik pikirannya. Hermione tidak tahu pasti apakah yang akan dikatakan Draco selajutnya. Tapi otaknya yang cerdas kali ini dapat menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tersenyum lebar. Ia menunggu sang Pangeran melanjutkan kata-katanya.

"Sebenarnya, Mione, aku… aku… aku jatuh cinta padamu."

Hermione membuka sedikit mulutnya tidak percaya. Ia memandang dan menelusuri bola mata Draco, mencari suatu kesalahan di sana. Tapi pandangan Draco kala itu sungguh serius, tak ada ragu, tak ada kebohongan yang senantiasa jadi wataknya selama jadi Slytherin. Dia tulus menerima gadis itu sepertinya. 'Kenapa begitu cepat?' batinnya. Dia merasa dia baru sebentar di sini, berbaikan dengan pemuda ini.

"Hermione kau bodoh!" jerit innernya. "Bodoh, bodoh, bodoh! Dalam tiga bulan terakhir kau bersamanya, tidak menyadari semua hal yang telah terjadi padamu dan Draco?"

Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya. Apakah benar itu? Draco… jatuh cinta padanya? Bagaimana dengan dirinya? Jawabannya iya. Ya, Hermione juga jatuh cinta.

"Draco… a-aku sebenarnya, juga," kata Hermione gugup. Sementara Draco hanya tersenyum.

"Jadi? Kalau aku memintamu jadi sweetheartku?" Hermione menelengkan kepalanya sedikit. "Well, aku mencintaimu Hermione Granger…" Hermione menahan nafasnya. "Aku memintamu untuk jadi kekasihku."

"Benarkah itu?"

"Kau meragukanku?" Hermione terdiam sebentar sambil menunduk. Tapi kemudian ia mengangkat wajahnya dan tersenyum jahil. "Buktikan dulu!"

"Apa?"

"Buktikanlah, kalau kau memang mencintaiku dan ini tidak main-main," jawab sang gadis tegas. Kini Draco yang nyengir. Ide cemerlang muncul di otaknya saat itu. Ia menarik Hermione ke tengah lantai dansa dan menabrak semua orang yang menghalangi mereka. Itulah yang membuat keributan sampai pada akhirnya mereka menjadi pusat perhatian kali ini.

"Kalau aku membuktikkannya, kau menerimaku?" tanya Draco saat mereka sampai di tengah lantai dansa.

"Kita lihat saja nanti," tantang Hermione.

"Oke, kau tunggu di sini!" Draco berjalan dengan gagah beraninya menuju ke tempat di mana band dan pemusik lain mengiringi pasangan yang berdansa, panggung. Mereka berhenti memainkan alat musik ketika melihat Draco dengan wajah berseri-seri karena seribu akal bermunculan di kepalanya –yang tentunya kali ini bukan akal liciknya. Ia naik ke panggung dan menyambar microphone yang ada.

'NGIING'

Bunyi nyaring dari michrophone terdengar sangat memekakan telinga. Semua orang yang merasa terganggu memandangnya bingung kali ini. Draco pun angkat bicara. "Maaf semua, kalau aku mengganggu acara indah kita malam ini. Tapi kali ini ada sesuatu hal yang penting yang harus kulakukan di depan kalian semua."

Kata-kata Draco barusan menarik perhatian siswa-siswi yang sedang asyik berdansa dan menikmati malam itu, termasuk para guru dan anggota kementrian yang kebetulan hadir. "Kalian bisa lihat gadis yang ada di sana itu? Yang memakai gaun biru?" Draco menunjuk Hermione yang menatapnya tidak percaya setengah malu karena hampir semua isi ruangan itu menatapnya. "Cantik bukan?"

"Hermione Granger, eh?" tanya seorang Ranvenclaw yang kebetulan ada di dekat Draco.

"Ya ya ya, Hermione Granger," Hermione diam saja. Dia menggaruk-garuk telapak tangannya untuk menyembunyikan kegugupan. "Ada sesuatu yang harus kukatakan padanya. Kalian tahu kan? Kalau aku dan dia tidak pernah akur semenjak kami pertama kali ada di sini?" semua orang di situ mengangguk dan menjawab 'iya'. "Tapi kalau semua itu berubah apakah masih ada kesempatan untuk kami?"

"Apa maksudmu, Bung?" tanya seorang lagi yang terlihat paling antusias.

"Aku, Draco Malfoy di sini membuktikan kalau aku akan serius dengan kata-kataku, jadi kalianlah saksinya!"

"Baiklah!" teriak beberapa dari mereka.

Draco berdeham. Ia mengatur nafasnya, detak jantungnya, dan memfokuskan apa yang sudah dia rencanakan. "Hermione, meski aku tahu aku sebenarnya tak layak untuk ini, untuk mendapatkanmu, meski aku tahu kesalahanku selama ini tidak dapat kutebus dengan apapun, meski aku tahu kau sangat membenciku dulu, tapi…" semua orang di situ menahan nafas mereka. Beberapa sudah tahu jalan pikiran Draco tersenyum. Sementara senyum licik Draco yang berpindah ke Harry Potter sedang mengembang. Dia tahu apa yang akan Draco katakan dan lakukan, dan dia menang taruhan!

"Aku sama sekali tidak tahu kalau aku jatuh cinta denganmu." beberapa fans Draco menjerit histeris, tapi Draco tidak peduli. "Mungkin aku memang bukan pangeran yang kau cari, but I just wanna say I love you, Hermione!" Draco berteriak tidak kalah histeris dari fansnya. Wajahnya memancarkan kesungguhan yang teramat sangat.

Sekali lagi Draco menegakkan berdirinya, ia melanjutkan,"And I just want you to be my girlfriend, Mione! Kau mau kan?" nadanya kemudian merendah. Draco menjatuhkan tangan yang membawa microphone di satu sisi jubah pestanya. Ia memandang lurus ke arah Hermione yang menatapnya tak percaya, mata hazelnya mulai memproduksi cairan lagi, tapi kali ini karena ia bahagia. Sempat sepi sesaat, Aula Besar menggemakan suara anak-anak Gryffindor yang berteriak.

"Jawab saja IYA, Mione!" teriak Dean Thomas yang langsung disahut teman-teman asramanya. "Yeah!" seru Seamus.

"Terima! Terima! Terima!" teriak anak-anak Gryffindor yang lain. Karena setuju beberapa Hufflepuff ikut-ikutan. Disahut teman-teman Ravenclaw Hermione. Goyle, Crabbe, dan Theo tampak bersemangat kali ini. Draco tersenyum saat seisi Alua Besar dan sebagian besar isinya meneriakkan kata yang sama. Menyetujui pilihannya.

Sementara Hermione, Ia menjinjing gaunnya kemudian berlari ke arah Draco yang turun dari panggung. Saat ia sampai di depan pemuda itu, Hermione menatapnya, memeluknya kemudian. Dia berbisik,"I love you too, Drake. Dan ya, aku menerimamu." Semua orang menyoraki mereka saat mereka tersenyum dan membalas pelukan gadis itu.

Sejurus kemudian Hermione melepaskan pelukannya. Ia kemudian mengambil jarak di depan Draco dan berteriak sekeras yang ia bisa,"I love you too, Draco! And yes, I want to be your girlfriend!" tepuk tangan dan sorak-sorai isi Aula Besar semakin ricuh saat mendengar pernyataan Hermione tadi. Beberapa anak ada yang bersiul-siul.

Para pemain musik kembali membanjiri suasana malam itu dengan musik mereka yang kini lebih sedikit country. Seorang penyanyi perempuan masuk ke atas panggung dengan gitarnya saat musik mengalun. Selagi yang lain kembali ke lantai dansa dan mulai berdansa, Draco menuntun Hermione agak ke tengah. Ia kemudian meraih pinggang dan tangan kanan Hermione, persis seperti posisi saat ia akan berdansa di awal acara tadi. Tapi kali ini yang berbeda adalah jarak mereka yang sangat dekat sehingga memugkinkan Hermione untuk sedikit bersandar di dada bidang Draco. Draco sedikit menyangga dagunya di atas kepala Hermione yang bersandar pada dadanya, mencium semerbak wangi yang tertempel pada rambut bergelombang gadisnya itu. Yah, gadisnya, gadis itu miliknya sekarang.

Hermione menutup matanya ketika suara lembut dari penyanyi perempuan di atas panggung terdengar mengiringi mereka, sebagai soundtrack yang menjadi saksi bisu kisah mereka lewat lirik-liriknya.

I've never gone with the wind, just let it flow
Let it take me where it wants to go

Hermione tidak pernah menyangka, kalau ia dan waktu-waktunya di Hogwarts akan tertiup dan mengalir sampai detik ini, secepat ini. Sampai ke mana dia seharusnya ada dan berada sejak dahulu, yaitu di hati pangeran tampan yang diciptakan Sang Kuasa hanya untuknya saat ini. Dan ia berharap untuk seterusnya.

Till you open the door, there's so much more
I've never seen it before

Hermione melihat sosok pemudanya. Draco Malfoy, tidak disangka ia tak menyadari perasaannya selama ini. Saat dadanya bergemuruh, saat wajahnya memunculkan semburat merah, saat pandangannya hanyut ke dalam mata pemuda ini, ia tidak tahu kalau ia jatuh cinta.

Ketika dia terperosok jatuh ke dalam lubang yang kelam, Draco ada untuknya. Menyirami bunga-bunga hatinya yang sempat layu. Pemuda itu datang menyuarakan gemuruh jiwanya lewat kasih sayang untuk Hermione. Menggenggam tangan gadis itu pelan membuatnya masuk ke dalam dunia yang sama sekali baru untuknya.

Dunia cinta seorang Draco Malfoy.

I was trying to fly, but I couldn't find wings
Then you came along and you changed everything

Ketika dirinya bagai malaikat yang tidak dapat terbang tanpa sayapnya, Draco yang mengubah itu. Draco seharusnya sakit waktu itu, tapi demi gadis ini, demi Hermione, Draco rela untuk tersenyum dan menyembunyikan rasa sakitnya.

You lift my feet off the ground and spin me around
You make me crazier, crazier
Feels like I'm falling and I, I'm lost in your eyes
You make me crazier, crazier, crazier…

Terasa begitu cepat kisah mereka. Tapi beginilah adanya. Tidak ada yang dibuat-buat oleh mereka, hanya apa adanya. Just what it is. Garis takdir telah menyatukan benang cinta itu lebih cepat dari perkiraan mereka.

Draco benar-benar mampu membuat otak gadis ini berhenti berpikir. Ia mampu membunuh perasaan sedih gadis ini. Ia mampu membuat Hermione jatuh dan menghilang di dalam pandangan matanya. Ia mampu membuatnya gila.

Watched from a distance as you made life your own
Every sky was your own kind of blue

And I wanted to know how that would feel
And you made it so real

Ketika Hermione bertanya pada dirinya sendiri apakah Draco juga merasakan sesuatu yang sama? Jawabannya pastilah iya. Karena Draco sendiri yang memutuskan untuk membuktikkannya, membuat itu semua sangat nyata. Senyata perasaan ini.

You showed me something that I couldn't see
Opened my eyes and you made me believe

Draco kini melupakan semua doktrin dan didikannya tentang muggle kali ini. Dan gadis inilah penyebabnya. Dia teringat dulu menganggap najis kepada semua keturunan muggle, lalu gadis inilah yang membuka mata dan hati nuraninya, memperlihatkan bahwa kelahiran-muggle bukanlah sesuatu yang buruk melainkan baik, bahkan indah adalah kata yang tepat untuk menggambarkan gadis itu.

Ya, Hermione membuka mata Draco dan membuatnya percaya.

You lift my feet off the ground and spin me around
You make me crazier, crazier
Feels like I'm falling and I, I'm lost in your eyes
You make me crazier, crazier, crazier… oh…

Baby, you showed me what living is for
I don't want to hide anymore

Hidup Draco kini akan lebih berarti. Ia akan lebih mengerti apa itu cinta dan kehidupan lewat Hermione, terutama matanya. Dan jika kau memberikannya beribu-ribu galleon untuk menghindar sekalipun, Draco tak akan sudi. Karena ia tidak akan kembali bersembunyi di balik doktrin keluarga Malfoy tentang kemurnian darah mereka, karena pada nyatanya, ia mencintai gadis ini. Apa adanya, tidak peduli status darahnya. Just who she is.

"Hermione, I love you," bisik Draco.
You make me crazier, crazier

"I love you too, Drake," sahut Hermione lembut. Ia kemudian mendongakkan kepalanya dan mencium pemuda itu. Draco menunduk dan membalas ciuman gadisnya. Ia menekan punggung sang gadis untuk lebih mendekat.

Hermione menurut, ia melingkarkan lengannya di leher Draco. Membelai rambut belakang Draco pelan dan lembut. Ciuman yang sangat manis yang mengundang tatapan iri dari pasangan lainnya.

You lift my feet off the ground and spin me around
Feels like I'm falling and I, I'm lost in your eyes
You make me crazier, crazier, crazier… Crazier, crazier
Crazier, crazier…

Musik kembali berhenti sementara kedua anak manusia belum melepaskan ciuman mereka. Pada akhirnya Draco menyudahinya. "Thanks, kau menerimaku apa adanya, Drake."

"Thanks, kau juga menerima cintaku, Mione." Mereka kembali dalam ciuman yang lembut, tak ada nafsu di dalamnya, hanya ada kelembutan cinta mereka di sana. Hermione menikmatinya, meski ia tahu, ia kalah taruhan dari Harry dan harus menraktir sahabatnya itu di suatu tempat.

oOo

Professor McGonagall menyudahi pesta itu setengah jam yang lalu. Tapi dentingan piano masih mengalun mengiringi beberapa dari antara mereka yang masih menetap untuk menikmati malam –waktu yang tepat untuk menghabiskan waktu dengan kekasih. Termasuk sepasang lagi yang baru memproklamasikan hubungan mereka.

"Kau tahu?" tanya Hermione yang masih bersandar di dada Draco saat mereka berdansa.

"Hm?"

"Aku kalah taruhan dari, Harry."

Draco tertawa pelan,"Kenapa bisa? Kukira tidak ada yang bisa mengalahkanmu di berbagai hal, nona."

"Kau mengalahkanku dalam bidang harta." Draco mendesah, ia paling tidak senang jika kekayaan keluarganya yang mencapai sepuluh gudang Gringgots Bank itu. Apalagi jika yang menyinggungnya adalah pacarnya sendiri.

"Sudahlah, Mione. Aku tidak suka, cerita saja kenapa kau bisa kalah dari Potter?"

"Harry!"

"Iya, Harry."

"Dia bilang kalau cepat atau lambat aku akan jadian denganmu."

Draco tertawa kecil yang bagi Hermione manis sekali. "Dan dia menang?" Hermione mengangguk. "Besok kita traktir teman-temanmu oke?"

"Oke. Bagaimana dengan teman-temanmu?"

Seakan menjawab pertanyaan Hermione, teman-teman Draco (Theo, Blaise, Goyle, Crabbe) menghampiri mereka. Draco menghentikan acara dansanya sejenak dengan Hermione, sementara Blaise mendekat.

"Drake, aku butuh bicara dengan kekasihmu. Sebentar." Draco menoleh ke arah Hermione yang juga balas menoleh ke arahnya.

"Baiklah."

Blaise kemudian menarik Hermione menjauh sebentar. Mata Draco mengekori mereka, was-was jika terjadi sesuatu dengan Hermione. Ia tahu sahabatnya itu belum sepenuhnya memaafkannya. Blaise bilang bahwa dia begitu bukan semata-mata hanya untuk memprotect Draco, tapi juga untuk Tim Quidditch Slytherin.

Setelah merasa Draco tidak memandangnya lagi Blaise mengahadap ke Hermione. "Dengar," katanya intens. "Aku memang marah padamu karena Draco sakit kemarin, dan aku hanya ingin meminta maaf padamu."

"Aku bahkan sudah memaafkanmu, Blaise. Dan hanya itu saja? Lalu mengapa kau membawaku menjauh dari Draco?" tanya Hermione. Ujung matanya sempat memperhatikan sosok Draco yang sedang berbincang dengan teman-temannya.

"Tidak, aku hanya ingin berpesan," mimik muka Blaise jadi sedikit serius. "Bagaimana pun juga kau dan dia berbeda, Mione. Meski status darah sudah tak ada tapi keluarganya akan tetap mencari darah murni untuk melanjutkan keturunan Malfoy," jelas Blaise sampai akhirnya menepuk pundak Hermione.

"Ya, aku tahu tentang itu," sahut Hermione pasrah. Ia tahu cepat atau lambat ia akan berhadapan dengan orangtua Draco.

"Aku memang masih sedikit kesal denganmu, tapi tenang saja aku mendukungmu," Blaise menyemangati Hermione. Ia menoleh ke arah sahabatnya yang lain dan berkata lagi,"Kami mendukungmu!"

"Thanks, Blaise."

"Kembalilah padanya, jangan ceritakan kalau aku berbicara tentang ini padamu."

"Oke," Hermione mengangguk bersamaan dengan Blaise yang menuju ke gerombolan sahabatnya, lalu mereka semua –kecuali Draco- kembali ke asrama. Draco sempat melambaikan tangan pada mereka semua sebelum kemudian kembali ke Hermione.

Ia berjalan mendekat ke arah gadisnya kemudian tersenyum,"Jadi dia memaafkanmu?"

Hermione menarik ujung bibirnya yang sebelah kanan. "Sepertinya begitu, tapi agaknya dia masih sedikit kesal karena membuatmu sakit, sayang," Hermione menyentuh pipi kanan Draco yang tersenyum. Pemuda itu kemudian menarik Hermione sekali lagi mendekat ke arahnya lalu melingkarkan lengan kokohnya ke pinggan sang gadis.

"Tak masalah kurasa. Persoalan yang lalu biarlah berlalu, lagian lihat aku, sudah sembuh kan?"

"Iya sih, hanya aku tidak enak saja dengan Blaise," Hermione merasa jika Blaise masih belum bisa memaafkannya, cita-cita dan tujuan persatuan antar asramas di Hogwarts tidak akan tercapai. Seperti yang dicita-citakan mendiang Albus Dumbledore.

"Tenang saja, Mione," Draco tersenyum lagi dan lagi untuk gadisnya. Ia kemudian menunduk untuk mengecup pipi Hermione.

"Drake, malau tahu dilihat banyak orang!"

"Kau tidak mau kucium?" Draco memasang tampang pura-pura kecewa.

"Mau sih, tapi malu saja dilihat banyak orang," Hermione memandang sekelilingnya yang dipenuhi dengan siswa-siswi yang sedang meliriknya. Menggosipkan dirinya dan Draco.

"Baiklah, baiklah, kapan-kapan aku carikan tempat yang lebih sepi saja," kata Draco sembari mengedipkan sebelah matanya. Hermione mencubit lengan Draco gemas.

"Terserahlah, aku mau pulang."

"Kenapa, Nona? Aku masih kerasan kok melihatmu pakai gaun ini," seperti yang terjadi sebelumnya Draco melirik punggung Hermione –lagi. Ia kemudian mengelus punggung gadisnya yang terbuka tersebut. Permukaan kulit mulus itu terasa dingin karena memang hawa malam di Aula Besar yang sangat dingin, dikarenakan akan datang musim salju sebentar lagi.

"Baiklah, kalau begitu sekarang apa yang bisa kita lakukan di sini?"

Draco hanya tersenyum. Ia sepertinya tahu harus ke mana. Tanpa kata, ia langsung menarik Hermione keluar dari Aula Besar. Mereka menelusuri lorong Hogwarts yang sepi, berbelok ke kiri menaiki tangga yang melingkar di dinding menuju menara Hogwarts tertinggi kedua –setelah menara untuk asrama ketua murid-.

Hermione, walaupun senang tapi dia sebenarnya enggan mengikuti kekasihnya menuju The Astronomy Tower tempat favorit Draco itu. Bukan apa-apa, tapi dia tidak bisa lebih kuat lagi menahan dinginnya udara di lingkungan Hogwarts.

Mereka akhirnya sampai di menara tersebut. Draco menggandeng Hermione menuju ke balkonnya. Hembusan nafas mereka yang berderu bergesekkan dengan dinginnya udara di situ menimbulkan kepulan asap. Draco melepas gadisnya kemudian menopang diri dengan tangannya di balkon menara tersebut. "Mione…"

"Ada apa?" Hermione beralih ke sebelah Draco, memandang kekasihnya itu heran.

"Apa kau senang jika bersamaku?" Hermione sedikit berjengit kaget, tapi sedetik kemudian tersenyum. "Tentu saja. Kau tidak percaya perasaanku?" Hermione menggesek-gesekkan kedua tangannya yang dingin kemudian menempelkan ke kedua lengannya. Saat menoleh dan kebetulan melihat gelagat Hermione barusan, Draco melepaskan jubahnya dan menggantungkannya di pundak Hermione. Membuat Hermione tersipu dengan perlakuan pacarnya.

"Bukan begitu. Maksudku jika kau senang, pertahankan hubungan kita."

Hermione terkikik. Ia kemudian menatap sepasang silver yang menghiasi bola mata Draco. "Kau sudah punya bayangan sampai kapan?"

Draco berjalan ke belakang Hermione, memeluk gadis itu dari belakang. "Sampai kau memberikanku Malfoy yang baru," Draco tersenyum jahil meski gadis itu tak melihatnya. Ya, Draco ingin 'Malfoy yang baru' itu dari gadisnya ini. Aku tahu, kau pasti mengerti maksud Draco bukan? "Dan sampai selamanya," sahut pemuda itu lagi. Tak sadar keduanya sudah tersenyum. Membayangkan masa depan apa yang akan mereka tempuh bersama, membangun kehidupan yang benar-benar baru untuk keluarga besar Malfoy.

oOo

Hermione tadinya bermaksud untuk melanjutkan patroli pagi sendiri karena kekasihnya belum bangun, dan susah sekali untuk dibangunkan. Tapi akhirnya dia memilih untuk menuju ke Aula Besar dan menyantap sarapannya. Perutnya sama sekali tak kuasa menahan keroncongan.

Di tengah perjalanannya ke Aula Besar, dari belakang tiba-tiba tangannya di gandeng oleh Draco Malfoy yang entah sejak kapan berlari-lari mengejarnya. "Draco! Kau mengagetkanku!" kata Hermione sedikit berteriak sambil memegang dadanya.

"Maaf, Mione. Aku mencarimu tahu!"

"Salah siapa tidak bangun tadi."

"Ya maaf, semalam aku memang tidak bisa tidur, Mione. Gara-gara acara kita di menara astronomi yang menghabiskan waktu tanpa ada yang bicara sama sekali," Draco mendengus, Hermione tersenyum. Semburat merah muda menghiasi wajahnya teringat 'acara' mereka semalam di menara astronomi. Yah, walaupun hanya saling berpelukan, tetapi hal yang membuat Hermione memerah adalah bagaimana pemuda itu memeluknya dari belakang selama bermenit-menit sampai akhirnya memutuskan untuk kembali ke asrama mereka.

Dengan tangan yang masih bertautan kedua anak manusia itu memasuki Aula Besar yang sudah dipenuhi murid-murid yang lahap menyantap sandwich sarapan mereka. Draco berbelok ke meja Slytherin sambil melambaikan tangan ke arah Hermione yang langsung memasang posisi duduk di sebelah Ginny.

"Wah, wah, lihat siapa pasangan yang akan jadi selebritis Hogwarts?" canda Ginny.

"Wah, wah, lihat siapa pasangan yang siap untuk membayar taruhan padaku?" Harry menyahut disambut tawa dari Ron.

"Ya, ya, aku sudah sepakat dengan Draco. Three Broomstick besok Sabtu, jam sepuluh, deal?"

Ron memungut sandwich keduanya dari nampan. Dia kemudian menoleh ke Hermione yang sedang membuat kesepakatan dengan mereka,"Memangnya kau tidak patroli? Anak kelas satu dan dua kan ada kunjungan juga."

Hermione ikut-ikutan memungut sandwich isi daging asap dan ditaruhnya sandwich itu di atas piring. "Kau mendengarkan tidak sih? Kunjungan diadakan di minggu pertama dan ketiga setiap bulan karena sebenarnya murid kelas satu dan dua belum boleh ke sana. Besok Sabtu minggu kedua, tidak ada kunjungan."

"Tapi taruhan itu berlaku untuk Harry saja kan?" Ginny menambahkan maksud Ron yang sebenarnya ingin menanyakan hal itu.

"Yah, kurasa kalian juga pasti tidak akan ketinggalan kan?" Hermione menoleh pada Ron yang sibuk dengan sandwichnya kini. "Ajak Lavender, Ron!"

Ron mengangguk, lalu menelusuri meja panjang Gryffindor mencari sosok kekasihnya yang ternyata sedang bergosip di meja Ravenclaw berasama Parvati dan Padma.

"Bagaimana dengan Quidditch kalian?" tanya Hermione setelah berhasil menelan sandwichnya.

"Kami tidak yakin kami akan menang melawan Slytherin," Harry mendesah.

"Eh? Kenapa?"

"Hermione, kami mendengar rumor bahwa kapten Slytherin ganti, aku yakin kau sudah mendengar tentang itu." Hermione teringat kata-kata Draco tentang kapten baru Slytherin.

"Sepertinya itu fakta, bukan rumor lagi."

"Bagaimana kau tahu?"

Hermione menoleh ke Ginny yang barusaja melempar pertanyaan. "Draco sendiri yang memberitahuku." Ginny dan yang lainnya manggut-manggut, sementara Harry nampak berpikir.

"Harry? Kau kenapa?"

"Justru dari situ," dengan wajah yang masih berpikir, Harry menjetikkan jarinya. "Kalau begitu kita harus segera mengganti formasi kita karena kapten tim mereka baru."

Ron mendesah. Ia tampak resah. Dia merasa kalau Harry tidak bisa mengatasi ini, berarti begitu pun dia. Apalagi soal kapten baru Slytherin yang sok misterius ini. "Masalahnya, kita tidak tahu sejauh mana kemampuan kapten mereka!" teriaknya sedikit frustasi. Ginny dan Harry ikut mendesah seperti Ron tadi.

"Hey," kini Hermione angkat bicara. Bagaimana pun juga, suka atau tidak tentang Quidditch, idenya ini mungkin bisa membantu. "Slytherin sudah mengadakan penyisihan ulang kan?" semuanya mengangguk. "Kalian tinggal data saja siapa siapa anggota Quidditch Slytherin yang sekarang. Dengan begitu kalian tinggal menganalisa satu per satu kemampuan mereka."

Harry dan Ron terbelalak,"Benar kau, Mione!" seru mereka berbarengan.

"Aku tidak menyangka. Kau memang jenius," sahut Ginny sambi memeluk Hermione.

"Oke kalau begitu aku duluan yang mengatasi masalah ini," Harry beranjak dari tempat duduknya meninggalkan teman-temannya yang memandang heran.

"Mau kemana dia?"

"Tentu saja mengambil data tim Quidditch baru Hogwarts, Ron," jawab Hermione.

"Tumben sekali dia pandai," kata Ron setengah mengejek.

Ginny memutar bola matanya,"Setidaknya tidak seburuk kau, Ron!"

"Apa?" Hermione terkiki saat melihat Weasley bersaudara itu mulai adu mulut.

"Setidaknya Harry lebih pintar darimu," ujar Ginny mengulangi.

"Oh ya?"
"Iya!"

"Lalu apa urusanmu ikut-ikutan bocah ingusan?"

"Kalau aku masih ingusan aku tidak akan mencium Harry," Ron mendelik. "Di bibir," Ginny melanjutkan sambil menunjuk bibirnya. Ia tersenyum saat melihat kakaknya diam saja dan mendengus.

"Terserah. Aku akan menyusul pacarmu terkasih itu."

"Kau menyindir? Kalau iya kenapa kau memilih untuk menyusulnya?"

"Terserah aku, akan kubilang ke Mom kalau kau berciuman dengan Harry," kini Ginny yang mendelik. Mom memang belum memperbolehkan putrinya itu untuk mencium seseorang sebelum berumur tujuh belas tahun. Banyak alasan yang dilontarkan untuk itu. Salah satunya karena mereka belum tentu menikah, konyol bukan? "Di bibir!" lanjut Ron. Ginny sudah punya ancang-ancang untuk membalas kakaknya lagi. Tapi Ronald Weasley keburu pergi keluar aula.

"Sudahlah, Gin!" rujuk Hermione. Ginny mendorong piringnya yang memang sudah kosong dari tadi.

"Menyebalkan, bagaimana kalau Mom tahu?"

"Mom tidak akan memarahimu, dia kan tahu kalau Harry ituorang baik-baik." Hermione menepuk pundak Ginny,"Lagian umurmu enam belas, sebentar lagi."

"Aku tahu, bagaimana dengan kalian?" Ginny menatap Hermione kemudian menoleh pada sosok pirang di meja Slytherin. Hermione mengikuti pandangan Ginny.

"Well, baru dua hari ini. Masih senang-senangnya, dan kuharap begitu seterusnya," kata Hermione pelan, mengingat perkataan Blaise semalam.

"Ada masalah memang?"

"Tidak, Gin. Lebih baik aku siap-siap ke kelas. Setelah ini ada pelajaran Transfigurasi."

Ginny memijit keningnya saat melihat jadwal pelajarannya hari itu. "Yeah, aku sepertinya kebagian sejarah sihir. Yang benar saja! Sejarah sihir? Pagi-pagi begini? Ayolah!" rengeknya.

"Salah siapa kau mengambil sejarah sihir?"

"Yah, kan aku tidak tahu kalau pelajaran itu sangat membosankan, sekali, Mione!"

"Sejarah sihir menyenangkan kok!" bujuk Hermione sambil menylempangkan ranselnya, berdiri dan bersiap keluar Aula Besar.

"Bagimu? Iya. Bagiku? Jangan harap!" Ginny kemudian menyusul Hermione.

Sementara Draco yang barusaja melihat kekasihnya keluar dari Aula Besar mempersiapkan ranselnya sambil menunggu sahabat-sahabatnya menghabiskan sarapan mereka. Ia menegak segelas susu coklat yang tinggal separuh isinya sampai habis.

"Sebaiknya kita cepat, aku tidak mau kena hukuman Professor McGonagall," katanya.

Blaise sudah menopang ranselnya sama halnya dengan Goyle dan Theo. Sementara Crabbe masih sibuk dengan sandwich ukuran jumbonya.

"Kau tidak menghabiskan sandwichmu, Drake?" tanya Theo saat melirik sandwich Draco yang masih tinggal seperempat.

"Terlalu besar. Aku diet," jawabnya sambil nyengir. Crabbe tanpa basa-basi langsung mengambil sandwich yang tersisa di piring Draco.

"Sejak kapan?" tanya Blaise dengan sedikit nada mengejek.

"Sejak aku berupaya untuk hidup sehat."

"Dan nge-gym untuk pembentukkan otot, Tuan Muda?" sambung Blaise. Draco hanya tersenyum. "Fansmu akan tambah berjibun, mate."

"Biarkan saja, aku tidak peduli. Lagi pula aku tidak akan memilih salah satu diantara mereka kan?"

Semua mengangguk. "Hermione Granger lebih cantik kukira," sahut Theo yang langsung mendapat deathglare murah meriah dari Draco. "Ma-maksudku, dia cantik, tapi aku tidak akan mengambilnya darimu kok," sahutnya lagi.

"Hei, sepertinya ada yang ingin bertemu denganmu, Drake," sahut seorang dari seberang Draco. Ia kemudian menoleh ke belakang melihat Hermione dan Ginny sedang berjalan ke arahnya.

"Hei sayang!" sambut Draco sambil merenggangkan kedua lengannya. Gadis itu mendekat dan menurunkan kedua lengan Draco.

"Kau tidak ke kelas, Drake?"

"Oh, kau ingin ke kelas bersamaku?"

Hermione mendesah. "Bukan begitu, aku tidak mau kau dihukum karena terlambat, sayang," kata Hermione setengah dipaksakan di kata terakhirnya.

"Wah, perhatiannya," sahut Goyle yang cekikikan di sebelah Draco bersama Theo.

"Jangan dengarkan! Oke, aku pergi denganmu ya?" Draco menoleh ke arah teman-temannya. Theo mengibas-ngibaskan tangannya, menyuruh Draco pergi. Goyle dan Crabbe malah berkata 'Shoo!'. Sementara Blaise mengedipkan sebelah matanya. Menarik kesimpulan, mereka membiarkan sahabat mereka itu pergi bersama Hermione.

"Thanks guys," kata Draco kemudian seraya berdiri. Ia kemudian mengecup pipi Hermione –yang hampir membuat fans Slytherin Draco bunuh diri- dan menggandeng gadis itu keluar Aula Besar.

"By the way, bagaimana kalau kita ke danau setelah pelajaran nanti sore? Pukul tiga?" tanya Draco di tengah perjalanan keluar.

"Baiklah."

Ginny mendengus karena selama perjalanannya ke kelas, sepertinya ia hanya sekelebat bayangan yang tak terlihat oleh sepasang kekasih di sampingnya ini.

oOo

Danau di Hogwarts memang yang terindah bagi Hermione. Apalagi jika pemandangan indah danau itu dinikmati bersama sang pujaan hatinya yang kini tidur di pangkuannya. Yah, meski tidak benar-benar tidur. Sepertinya pemuda itu hanya memejamkan mata, ingin merasakan sensasi semilir angin dan lembutnya belaian tangan sang gadis yang mengelus kepalanya.

Hermione mulai berpikir, mungkin semenjak dengan pemuda ini dirinya bisa saja dikalahkan oleh para Ravenclaw. Karena mungkin dia akan menghabiskan sisa waktunya untuk berdua dengan pemuda ini dan otomatis jam belajarnya juga akan berkurang. Meski harus begitu, Hermione tidak akan keberatan. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan bersama dengan pemuda tampan di hadapannya itu. Ia tidak mau meski sedetik saja. Karena hanya dengan Dracolah, dirinya merasa utuh.

Ia memandang sekelilingnya. Hermione duduk dengan Draco yang tidur di pangkuannya di bawah pohon angsana yang berbatang rendah. Sehingga ranting dan daun-daunnya ada yang hampir menyentuh tanah. Rimbun sekali. Itulah sensasi yang dicari sepasang kekasih ini.

Draco kemudian membuka matanya, menatap mata hazel Hermione. Hermione yang merasa diperhatikan mengalihkan pandangan ke pangkuannya, ke mata kelabu kekasihnya.

"Kukira kau tidur," kata Hermione pelan sambil masih membelai lembut rambut pirang platina Draco.

"Tidak, aku hanya memikirkan sesuatu," katanya sambil tersenyum.

"Apa itu?" tanya Hermione tertarik.

Draco menerawang, menarik lagi memorinya tentang apa yang sedang mengusik pikirannya sejak tadi. "Kalau aku bilang itu tentangmu?"

Hermione memutar bola mata hazelnya. "Memangnya aku kenapa?"

"Bukan apa-apa sih."

"Hey!" Draco menoleh ke Hermione. "Hn?" jawabnya singkat.

"Jangan main rahasia denganku, Draco!"

Draco menghela nafasnya sejenak kemudian menghembukannya panjang. "Tapi janji kau jangan marah atau membuatnya jadi beban pikiranmu?" Ia mengajukan jari kelingkingnya ke Hermione.

Hermione menyambut jari kelingking itu dengan kepunyaannya juga. Dan kini jari kelingking mereka bertaut, sebagai simbol tidak ada yang boleh ingkar janji. "Aku janji."

"Ini soal orang tuaku," kata Draco melepaskan jari kelingkingnya. Ia kemudian meraih tangan kanan Hermione yang berada di atas dadanya, menciumnya sesaat kemudian melanjutkan ceritanya. "Aku tidak tahu mereka masih dengan doktrin itu atau tidak."

Sesaat Hermione tercekat. Ternyata cepat atau lambat yang dikatakan Blaise memang akan terjadi. Hermione memilih diam dan mendengarkan Draco. "Mungkin aku masih tidak masalah dengan ibuku, tapi ayahku?" Draco menghembuskan nafasnya lagi. "Aku tidak mau Ayah menyakitimu, Mione," Draco kini kembali pada mata hazel Hermione.

"Dia tidak akan, Draco," kata Hermione meyakinkan. "Aku yakin, kalau kau mencintaiku, kau pasti bisa meyakinkan mereka. Aku percaya."

Draco kembali menerawang. Ia meremas tangan Hermione lembut. "Kalau aku pulang saat liburan musim dingin nanti, kau tidak apa-apa kan?"

Hermione mengangguk. "Tidak apa-apa."

"Aku hanya ingin membicarakan ini dulu pada orangtuaku. Lalu aku kalau mereka setuju, aku akan membawamu ke Manor," jawabnya. Ia sekali lagi memandang Hermione yang masih setia mendengarkannya. "Bagaimana dengan orangtuamu?"

"Mereka masih di Perancis untuk tugas besar di sana. Ayahku dokter yang kuliah di jurusan penyakit dalam selama kurang dari tujuh tahun atau tiga tahap meski pada umumnya jika mengambil tahap ketiga di bidang kedokteran, mereka bisa sampai sepuluh tahun," Hermione tersenyum memngingat prestasi ayahnya. "Dia sangat ahli dan ada pasien yang butuh dokter sepertinya di Orleans."

Draco tersenyum. Sekarang Ia tahu darimana kepintaran Hermione berasal,"Kedengarannya ayahmu hebat ya?"

"Yah, begitulah."

"Kalau aku jadi kau, aku pasti sudah akan sangat bangga," Draco mengngat betapa ayahnya tidak pernah membuatnya bangga kecuali saat dia masih meluhurkan darah murninya dulu.

"Kau juga seharusnya bangga pada ayahmu, Drake," Hermione mengerti jalan pikiran pemuda itu. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan pemuda itu. Ia tahu perasaan pemuda itu terhadap ayahnya. Ia tahu bahwa setelah Draco merasakan sendiri menjadi Pelahap Maut, itu sama sekali bukan hal yang membanggakan.

"Aha, seharusnya aku bisa bangga. Tapi nyatanya tidak, tidak sebangga yang dulu."

"Setelah?"

"Setelah aku bertemu denganmu, Mione."

"Kenapa bisa?"

"Aku merasa, yang diajarkan ayah padaku selama ini salah. Muggle-born tidak serendah itu, mereka justru hebat. Dan kaulah yang telah mengubah pandanganku itu," Draco bangkit duduk mengambil posisi berhadapan dengan Hermione.

"Menurutku itu berlebihan," Hermione mendengus. "Tapi kau juga yang telah mengubah pandanganku tentang kaum-penyihir-terpandang-berdarah-murni."

"Oh, ya? Aku sangat tersanjung," kata Draco dengan nada dilebih-lebihkan. Keduanya serempak tertawa renyah.

"Aku serius, Draco!"

"Haha, aku tahu cantik," Draco menyingkapkan rambut Hermione ke belakang telinganya. "Terimakasih karena kau sudah menerimaku."

"Seharusnya aku yang berkata begitu," jawab Hermione yang langsung menangkap tangan Draco yang menyingkapkan rambutnya tadi. Ia menempelkan tangan pemuda itu di pipinya.

"Katakan saja kalau Ibumu tahu, apa dia akan marah?"

"Mungkin dia akan kaget. Mengingat aku selalu bercerita tentang Draco Malfoy, musuh bebuyutanku selama ini," katanya sambil terkikik. Masih serasa magic saja tentang yang satu itu. Musuh jadi cinta, how sweet?

"Ah, sesering apa sih kau bercerita tentangku pada ibumu?"

"Sesering kau menjahili aku dan sahabat-sahabatku," kin Hermione maju dan mencium bibir pemuda itu sekilas. "Dulu," lanjutnya.

"Tapi aku justru karena itu, kalau saat ibumu tahu tentang aku dan langsung mengancam aku dengan pisau dapur bagaimana?" tanya Draco, ia memanyunkan bibirnya seperti anak-anak. Hermione mencubit lengan pemuda itu sambil tertawa.

"Aku jamin tidak akan terjadi. Justru yang aku takutkan malah ayahmu yang mengancam aku dengan tongkatnya yang bisa kapan saja meluncurkan kutukan," kata Hermione sambil berpura-pura bergidik ngeri. Kini Draco yang tertawa.

"Princess, keselamatanmu adalah tanggunganku sekarang," Draco tersenyum sambil mengelus pipi gadisnya sekarang. "Itulah alasan kenapa aku harus menjelaskan baik-baik dulu ke orangtuaku, sayang."

"Baiklah, intinya kita harus sama-sama berbicara dulu dengan orangtua kita kan?"

"Kalau dengan orangtuamu aku berani jika harus langsung berhadapan."

"Eh?"

"Laki-laki itu harus berani kan?" Hermione tersenyum sangat manis. Ternyata laki-laki di depannya memang punya sifat yang gentleman. Tinggal bagaimana dia membuktikannya.

"Kalau begitu bukti— mmph," kata-kata Hermione tertahan ketika Draco langsung menyerbunya.

Pemuda pirang itu memajukan posisi duduknya supaya bisa meraih si gadis di jarak yang lebih dekat. Sebelah tangan Hermione memegang dada Draco begitu Draco berada di dekatnya. Lama-kelamaan tangan itu sudah menggantung di leher sang pemuda.

Awalnya sangat lembut dan manis ketika akhirnya ciuman itu berubah menjadi sesuatu yang 'berbeda' dari biasanya. Meskipun tidak ada kata 'nafsu belaka' di dalamnya, tapi bagi kedua insan, kissing scene itu menjadi begitu intens.

Hogwarts memang sepi ketika dua siswa-siswi terbaiknya tidak lagi bermusuhan, tapi Hogwarts malah ribut kembali dengan bersatunya tali kasih di antara keduanya. Aneh menurutmu? Kalau begitu aku tanya, apakah cinta mengenal keanehan? Seperti yang semula musuh menjadi sepasang kekasih? Kurasa kalian tidak akan pernah memberikan jawaban yang tepat akan itu. Karena Pesta Dansa kemarin malam sudah menjadi saksi bisu dari setiap kalimat yang diucapkan Draco Malfoy kepada Hermione Granger. Karena Pesta Dansa itu adalah scene di mana semuanya dimulai. Kehidupan mereka di masa mendatang benar-benar sudah menanti. Pesta dansa itu sudah menjadi saksi mereka menerima satu sama lain, tanpa ada status yang melekat di antara mereka. Ya mereka saling mencintai satu sama lain, just who they are.

Karena Draco menerima Hermione just who she is.

Karena Hermione menerima Draco just who he is.

Karena cinta mereka tidak pernah ada naskahnya, karena cinta mereka hanyalah sebuah improvisasi hati yang mereka curahkan satu sama lain.

Karena cinta mereka begitu sederhana, meski beralur cepat tetapi mengalir dengan tenang dan penuh kasih sayang.

Karena ciuman mereka tidak diarahkan seorang sutradara. Karena kata-kata Draco di Aula Besar saat Pesta Dansa bukanlah paragraf yang sebelumnya pernah ditorehkan di sebuah kertas.

Karena semurni air di danau, itulah cinta mereka. Tulus satu sama lain. Tidak ada embel-embel apapun.

Karena cinta mereka hanya apa adanya, just what it is…

oOo

What about the Quidditch? Who is the misteriously Slytherin's captain? Is he better than Harry?

Dan apakah reaksi kedua orangtua Draco jika mengetahui pewaris tunggal darah murni mereka jatuh cinta pada seorang Muggle-born?

To be continued…

oOo

Whoa! Kayaknya chapter ini malah lebih pendek ya? Hohoho. Maafin Flo -,-a About the ball song, it is Crazier by Taylor Swift.

Chapter depan ada Quidditch dan segala kejutan Slytherin yang lumayan panjang lebar untuk sebuah scene –menurut saya-. So, mungkin saya juga akan skip time ke liburan musim dingin! Kalian tahu apa artinya? Ya, ya,ya, tebak saja sendiri *dilempar sepatu*

Honestly, saya tersanjung dengan review anda sekalian yang bilang Draco manis di sini. *siapa yang disanjung, siapa yang seneng?* Artinya saya sudah berhasil menciptakan Draco dengan karakter lain selain badboy (Itu berkat dukungan anda). Saya setuju sama anda tentang I love the badboy Draco Malfoy, tapi ternyata pikiran saya ternyata ingin mengubah karakter Draco untuk dicerita ini.

Please forgive me about the typo, dan selalu ingatkan saya untuk membenarkan typo yang menurut anda paling menganggu.

Million times to thank of your reviews guys, I'm really appreciate it. And I would thanks to yowkid who has reminded me about the name typos Ginevra Weasley. Yeah, itu cuma kepleset doang, Ginevra jadi Ginerva, heheh *ngeles* tapi sudah saya betulkan, kok :) Makasih yowkid, hehe. Dan untuk Me, tentang mention Ron-Lavender juga sudah dibenarkan. Makasih ya Me :D

So, guys… Please give me more and more review okay?

Regards,

Flo