Just FYI, bakal diapdet tiga hari sekali. Means: next update itu di hari rabu.
Thanks for all the review ;)
Saya tidak melakukan diskriminasi negara di chapter lalu. Saya bilang, orang gay + bisa breakdance + bisa nyanyi lagu korea + punya bulu dada itu seksi. Bukan orang gay itu bisa nyanyi lagu korea.
Got it? Thanks for the review anyway ;D
Disclaimer: Naruto is Masashi Kishimoto's
Warning: OOC, AU, SasuSaku, conflictless, drabbles, geje, gareeng. Don't like don't read.
.
Saat Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura yang kini remaja sedang dimabuk cinta.
.
Coup
Oleh LuthRhythm
"Sasuke-kuun!" rengek Haruno Sakura sembari mengguncangkan Uchiha Sasuke yang kini terlelap. Lima menit sudah ia berusaha membangunkan kekasihnya, namun nihil, sang pemuda tetap tidur dengan nyenyaknya.
"Sasuke-kuun! Hari ini kan car-free day! Kau bilang mau menemaniku bersepeda!" Sakura masih belum menyerah untuk membangunkan si pemuda yang tengah terlelap.
Uchiha Sasuke akhirnya merespon. Ia bergerak, menarik selimut yang tadinya berada di pinggang, hingga kini menutupi seluruh badannya, bahkan pucuk kepala sekalipun. "Besok," gumamnya parau.
"Besok bukan car-free day, Sasuke-kun! Jangan mencoba membodohiku, aku sedang tidak lapar," keluhnya.
Sakura pun menghela napas, lalu melepaskan sepatu kets yang sedang ia pakai. Setelah melepaskan sepatu, Sakura pun turut masuk ke dalam selimut dan memeluk sang kekasih.
"Sakura..." ujar Sasuke parau. Ia memaksa matanya terbuka untuk menatap sang kekasih berambut merah jambu yang kini berbaring dengan tangan melingkari pinggangnya.
"Jadi, apa kita berangkat sekarang?" tanyanya tanpa menghiraukan panggilan sang kekasih, dengan senyum termanisnya.
"Hh..." Sasuke menghela napas sejenak. Ia lalu bangkit dari tidurnya untuk duduk, lalu mengacak rambut sang gadis.
Sasuke pun berdiri dari tempat tidur, mengambil bantal, lalu melangkah keluar kamar.
"Besok."
Puk!
Sebuah bantal sukses mendarat di kepalanya telak. Tapi, toh, timpukan itu tidak mengurungkan niatnya untuk melanjutkan tidur di sofa ruang tengah.
"Sial," rutuk Sakura kesal.
.
.:*:.
.
Grauk!
Sasuke terlonjak dari tidurnya, duduk seketika karena rasa sakit yang ia rasakan di pundak kanannya.
"Sakura..." ujarnya dengan nada yang berbahaya.
Tangan kirinya kini tengah sibuk mengelus pundak kanannya yang sukses digigit oleh kekasihnya yang kadang sangat menyebalkan menurutnya.
"Ba-ngun!" ujar Sakura tak mau kalah. "Kau tidak boleh bangun terlalu siang, Sasuke-kun." Sakura kini berdiri dengan menolakkan kedua tangan di pinggang.
"Memangnya kenapa kalau aku bangun siang?"
"Nanti kau penyakitan, tauk!"
"Memangnya kenapa kalau aku penyakitan?"
"Kalau kau penyakitan aku yang susah, Sasuke-kun. Aku kan tidak ingin punya suami penyakitan."
Sasuke menyeringai.
"Siapa yang bilang aku mau jadi suamimu?" ledeknya seraya menatap Sakura yang menatapnya tidak percaya sejenak, lalu memerah pipinya karena menahan malu.
"Percaya diri sekali kau," lanjut Sasuke dengan seringai semakin lebar. Melihat Sakura yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah menahan malu mau tidak mau sedikit membuatnya merasa geli. Ia tarik tangan Sakura untuk duduk di pangkuannya. "Lagipula aku begadang untuk mengerjakan tugas kuliah."
Tangan kanan Sasuke kini melingkar di pinggang sang gadis, sedangkan tangan kirinya mengacak rambut merah jambunya.
"Kenapa kau mengerjakan tugas terus?" tanya Sakura masih dengan pipi merona.
"Karena memang sedang ada tugas, Sakura," ujar Sasuke seraya mengecup pundak Sakura. "Menurutmu kalau aku tidak mengerjakan tugas, apa yang akan terjadi?"
"Ng... dikeluarkan?"
"Kalau dikeluarkan bagaimana?" Kini Sasuke sibuk mengecup bahu sang gadis.
"Kau susah dapat kerja, lalu kau tidak bekerja, akhirnya kau berakhir miskin," jelas Sakura mengira-ngira.
"Pintar. Memangnya kau mau punya suami miskin?" tanya Sasuke di sela kesibukannya mengecup leher Sakura.
Sakura menyeringai.
"Siapa yang bilang aku mau kau jadi suamiku, Sasuke-kun?"
Sasuke menghentikan kegiatannya seketika. Kini ia menatap Sakura yang tengah menyeringai dalam-dalam.
Ah, asyiknya balas dendam.
"Oh iya," Sakura berdiri, menatap kekasih yang bungkam, "kau belum mandi, bau."
Dan Sakura pun tertawa akan kemenangan mutlaknya.
Pesan moral: jangan mencari masalah dengan Haruno Sakura yang sedang tidak lapar.
.
.:*:.
.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat sebelum garis batas lampu merah. Sakura, yang kini duduk di sebelah bangku kemudi, sibuk bernyanyi lagu yang tengah diputar.
"Baby, you have become my addiction, I'm so strung out on you, I can barely move but I like it," nyanyinya hapal di luar kepala.
"Astaga, Sasuke-kun! Suaranya Ne-yo keren banget!" pekik Sakura penuh kagum. "Kapan ya Ne-yo konser lagi di sini?" Sakura tampaknya tidak dapat menahan godaan untuk tidak memuja suara sang penyanyi.
"Biasa," komentar Sasuke tanpa ekspresi berarti. Tangan kirinya pun segera tergapai untuk mematikan lagu yang berulangkali diputarkan sang kekasih.
Grauk!
"Aw!" Sasuke terlonjak kaget karena rasa perih di pundak kirinya. "Sakura!" bentak Sasuke yang kesal karena kena gigitan Sakura untuk kedua kalinya hari ini.
"Suara Ne-yo jauh lebih bagus daripada suara melengkingmu yang seperti gay itu, Sasuke-kun!" ketus Sakura tanpa nada ragu.
Sasuke memutar bola mata, kesal karena kembali membahas masalah gay-tidak gay. Ia memutar otak untuk menghentikan kekonyolan ini.
"Baiklah kalau kau mau aku jadi gay," tantang Sasuke.
Tanpa ragu ia membuka dua kancing teratas kemejanya, membuka jendela mobilnya, lalu menatap om-om yang tengah berdiri di pinggir jalan tanpa mengindahkan lampu lalu lintas yang kini hijau.
Tentu saja sang om-om itu menyadari keberadaan Sasuke. Jangan permasalahkan jenis kelamin ataupun orientasi seksual saat pemandangan seorang Uchiha Sasuke disuguhkan dengan cuma-cuma.
Melihat sang om-om yang ditatap Sasuke merona wajahnya, Sakura pun keki. Ia segera menutup jendela mobil lalu memaksa Sasuke untuk menjalankan mobil.
"Apa-apaan itu tadi, Sasuke-kun!" pekik Sakura yang membuat Sasuke memutar bola mata begitu mobil kembali dijalankan.
"Kau yang bilang kalau aku ini gay, kan?" Sasuke kini mulai berkonsentrasi mengemudi. Sakura pun sibuk kembali mengancingi kemeja Sasuke yang menit tadi dibuka.
"Itu bukan alasan!"
"Kalau begitu jangan panggil aku gay lagi, Sakura."
Sakura tak kunjung menjawab, ia hanya diam menatap jalanan melalui kaca di sebelahnya. Karena itu Sasuke putuskan untuk menepi sejenak.
"Berhenti memanggilku gay, Sakura. Itu tidak lucu," ujar Sasuke ketika mobil yang ia kendarai sudah dipinggirkan.
"Tapi kata Ino kau gay, kau jarang sekali mencium bibirku." Sakura mengembungkan pipinya.
Sasuke menghela napas, menarik dagu Sakura ke arahnya, menciumnya tepat di bibir mengeluarkan setiap teknik yang ia ketahui. Uchiha Sasuke jenius dalam segala hal, bukan begitu?
Tentu saja termasuk seni mencium seorang gadis. Setelah memastikan Sakura kehabisan napas, Sasuke pun memundurkan kepalanya.
Sasuke menatap Sakura lekat-lekat, "Jadi, apa aku gay?"
Sakura, dengan rona kemerahan di pipinya dan napas yang terengah, menggeleng dengan cepat.
"Bagus," ucap Sasuke menyeringai, lalu melanjutkan perjalanan.
Beberapa detik berlalu.
"...kau bukan gay, kau maniak, Sasuke-kun," bisik Sakura pelan, membuat sang pemuda tidak dapat mendengar ucapannya.
Uchiha Sasuke merasa menang karena tidak lagi dipanggil gay. Sayang sekali ia tidak sadar kalau kini nama panggilannya akan berubah menjadi maniak.
.
.:*:.
.
Sakura melangkah perlahan dengan piring kecil berisi irisan tomat di tangannya. Tak lama setelah itu, ia meletakkan piring tersebut di hadapan Sasuke yang langsung mengambil irisan tomat yang disajikan.
"Paman dan Bibi ternyata belum pulang," ujar Sakura lemas setelah mendudukan dirinya di kursi yang bersebrangan dengan Sasuke.
"Hn." Sasuke masih sibuk dengan tomatnya.
"Padahal aku pikir mereka sudah pulang, jadi aku dapat oleh-olehnya sore ini." Sakura menatap Sasuke lekat dengan dagu bertumpu pada kedua tangannya.
"Hn." Sasuke masih sibuk dengan tomatnya.
"Sasuke-kun?"
"Hn."
"Apakah tomatnya enak?"
"Hn."
"Apakah kau bisa mengatakan hal lain selain 'hn'?"
Sasuke masih sibuk dengan irisan tomatnya yang lezat.
"Hn."
"Apakah kau tahu kau itu emo sangat?"
"Hn."
"Apakah kau pernah merasa cantik?"
Sasuke masih sibuk memakan tomatnya yang menggiurkan.
"Hn."
"Apakah aku boleh meminta toma—"
"—tidak."
Sakura menghela napas; Sasuke masih sibuk dengan irisan tomatnya.
"Sasuke-kun."
"Hn."
"Apakah ada hal lain yang menarik untukmu selain tomat di piringmu?"
"Ada."
Okay, Sakura kini merasa senang bukan main.
"Apa?" tanya Sakura dengan mata berkilat oleh antusiasme.
Sasuke mendongak, menatap Sakura tepat di mata sebelum menjawab, "Tomat yang lainnya."
Duak!
Kepala Sakura terbentur keras pada meja makan yang terbuat dari kayu jati.
And that's what they called 'Headbang'.
.
.:*:.
.
"Bagaimana jika kuberi keperawananku?"
Kalimat Sakura yang memecah keheningan yang terjadi selama lima menit lalu sukses membuat Sasuke sontak menatapnya.
"Apa masih lebih menarik tomat itu daripada keperawananku, Sasuke-kun?" pancingnya lagi.
Sakura sadar betul, hargadirinya dipertaruhkan di sini.
"Nanti," respon Sasuke singkat.
"Maksudmu?"
"Nanti, setelah irisan tomatnya habis."
Tuing!
Silangan urat muncul di kening Sakura.
Cukup sudah, sudah cukup. Bagaimana bisa keperawanannya dihargai irisan tomat?
Setelah menghabiskan tomatnya yang tersedia, Sasuke berdiri, menarik tangan Sakura ke arah kamar sang gadis. Dalam hati, Sasuke bersyukur selalu membawa alat kontrasepsi di dompetnya untuk keadaan 'darurat'.
"Mau ke mana?" tanya Sakura, tidak menuruti tarikan Sasuke untuk berdiri.
"Tentu saja ke kamar, kau mau di sini?" jawab Sasuke setengah meledek.
"Nanti," respon Sakura singkat.
"Maksudmu?"
"Nanti, setelah kita menikah, Sasuke-kun." jawabnya dengan senyuman termanis. Ah, tentu saja senyuman manis kemenangan karena berhasil membalas perkataan sang kekasih. Sakura lalu berdiri melewati Sasuke untuk menonton televisi di ruang tamu seraya mencium leher dan meniup telinga Sasuke sejenak dalam prosesnya.
Haruno Sakura pun berlalu, meninggalkan Uchiha Sasuke dengan... err... pokoknya dengan 'itu' lah.
Pesan moral: balas dendam memang benar-benar menyenangkan.
.
.:*:.
.
Another geje drabbles hihi
Honestly, ini sangat menyenangkan untuk ditulis. Karena bebas dari plot.
Sorry for the gareeeng-ness yang abis abisan anyway. Lagian chapter ini gak lucu, i know it. Tapi yaa, niatku nulis kan gamau punya beban, so, DLDR is in the warning just FYI ;)
One chapter to go!
Review?
