Jaejoong menggelengkan kepala nya. Dengan refleks dia meraih ponsel yang ada di atas kasur nya dan kembali duduk. Sejenak dia berpikir, siapa yang akan ia hubungi? Jari nya terus memutar-mutar badan ponsel tersebut ditangan nya. Mungkin Yoochun? Ia harus memastikan agar lelaki itu mau menemani adik nya menonton konser.

Ia menempelkan bebda berwarna merah keunguan tersebut di telinga nya. Menunggu nada sambung yang sedang berdering. Akhir nya orang yang ia maksud untuk ditelpon pun mengangkat nya.

"Ne, Yoboseyo?"

"Yoboseyo. Yoochun-i?" sapa balik Jaejoong.

"Oh, Hyung... Joesonghamnida. Tadi aku tak melihat nama mu di layar ponsel…"

"Sudahlah… Yoochun-i, apa Junsu ssi sudah memberitahumu tentang tiket itu?"

Yoochun menghela napas nya lagi dengan enggan sebelum ia menjawab nya, "Ne. Kenapa, Hyung?"

"Aku sangat menyesal tidak dapat menemani nya. Kau mau kan menggantikan ku untuk menemani Junsu?" Jaejoong terlihat sangat perhatian dan peduli terhadap adik nya.

Memang, Jaejoong dan Junsu sangat dekat, meskipun jadwal pekerjaan Jaejoong sungguh luar biasa banyak. Salah satu diantara mereka pasti akan menghubungi satu sama lain.

Ayah ibu nya yang bercerai dan telah lama pergi meninggalkan mereka sendiri di dalam rumah. Seminggu setelah kejadian tersebut, ibu mereka ditemukan meninggal di gang kecil daerah Cheongju karena bunuh diri. Dia mengiris pergelangan tangan nya hingga urat nadi nya putus. Sedangkan ayah mereka dikabarkan menjadi pemabuk berat. Hal itu disebabkan oleh masalah hutang piutang dan krisis ekonomi di keluarga mereka. Jaejoong yang terpaksa menerima tawaran menjadi seorang model dari paman sahabat nya di SMA, meskipun itu bukanlah tujuan nya untuk hidup.

Kesukaan mereka juga hampir sama, yaitu band Revolt. Band beragensi di Jepang yang sangat terkenal di Korea. Mereka mengusung tema pop-rock dan elektronik. Maka dari itu, Jaejoong sangat kecewa saat ia tak bisa menemani adik nya untuk menonton konser.

"Hm… Ya." Yoochun menjawab dengan nada yang datar.

Sorakan-sorakan para penonton memenuhi ruangan indoor di Seoul. Semua menantikan idola mereka yang akan tampil sebentar lagi. Begitu pula dengan lelaki yang menggandeng erat tangan kekasih nya yang tampak mengernyit. Junsu memasuki ruangan VVIP dari tiket yang ia dapat. Sungguh, dia begitu dekat dengan panggung. Sehingga tangan nya saja seperti bisa menyentuh kaki sang penyanyi. Dia sangat beruntung bisa mendapat kan tiket tersebut dari teman nya.

"Yoochun-i. Aku sangat senang…" ucap Junsu begitu semangat. Yoochun hanya mendengus pekan dan menanggapi nya, "Ya. Aku bisa lihat itu…"

Gelegar sorak sorai menyeruak hingga ke sudut ruangan indoor yang luas itu ketika lampu panggung sudah mulai meredup. Suara gebukan drum memulai penampilan pertama Revolt yang disertai dengan riuhan penggemar Revolt, Revolution. Tak ingin kalah dari yang lain, Junsu juga ikut berlompat-lompatan. Yoochun yang merasa tak nyaman dengan band tersebut terus saja membuang muka ke sudut lain di indoor itu.

As long as I know… You are so wonderful in my life…

Changmin bernyanyi dengan suara lengkingan tinggi dan aksi panggung yang begitu atraktis. Membuat semua wanita yang melihat nya terbius oleh pesona seorang SHIMpony of Revolution—begitu sebutan untuk Shim Changmin.

"Kyaaaa~ Changmin-ah!" seru Junsu yang membuat Yoochun muak terdesak-desak oleh penonton lain.

Sebuah keajaiban datang pada Junsu. Vokalis tersebut bernyanyi sambil mengerlingkan mata nya kepada Junsu. Tak hanya itu, setelah lagu pertama sukses dibawakan, Changmin sedikit berbincang-bincang dengan para penonton. "Malam Revolution!" teriak nya disambut riuhan orang-orang yang sangat bersemangat.

"Malam ini aku tak akan bernyanyi sendirian, karena aku akan mengundang satu penonton untuk menemani ku bernyanyi…" kata nya sambil menunjuk Junsu yang terkejut.

"Kau. Maju lah…"

Mimpi indah yang tak pernah dibayangkan oleh seorang fans untuk bisa bernyanyi dengan idola nya, bukan? Ini yang kini dirasakan Junsu. Namun disamping nya, wajah Yoochun begitu kecut. Bahkan terasa berat untuk menelan ludah nya sendiri. Cemburu. Junsu memandang Yoochun sekilas dengan berbinar-binar dan menuju ke atas panggung. Senyuman kering Yoochun lontarkan untuk kekasih nya yang sedang bahagia itu.

Sorakan kembali memenuhi isi indoor Seoul itu. Semua menyerukan kata "Revolt" ketika Changmin sudah menggandeng tangan Junsu erat. Hantaman keras serasa memukul kepala Yoochun melihat pandangan Junsu begitu mengarah pada Changmin.

"Kita akan bernyanyi One More Time. Kau bisa?" tanya Changmin menatap Junsu yang menggangguk antusias. "Baiklah…" kata sang vokalis yang memulai lagu nya. Semua penonton kembali ikut menyanyi dan menaikkan tangan mereka sesuai dengan irama lagu. Tentu saja, kecuali Park Yoochun yang berdiri kaku di posisi nya sembari terus mengumpat di dalam hati nya.

Setelah lagu berhenti, sebuah bisikan kecil hinggap di telinga Junsu. "Ada pertemuan eksklusif sesudah konser. Temui aku di ruang ganti ku…" bisik Changmin yang kembali membuat Junsu seperti kejatuhan seribu bintang.

"Changmin-ah… Suatu keajaiban bisa bertemu dengan mu." kata Junsu yang tak bisa melepaskan tatapan nya. Yoochun menunggu dengan begitu bosan di ujung koridor. Dia melipat kedua tangan nya di dada dan terus mengawasi mereka berdua dari kejauhan.

"Hahahaaa… Aku juga sebenar nya menyukai mata mu ketika aku pertama melihat mu."

Junsu mengerutkan kening nya lagi, bibir nya menganga lagi. Berharap dia tak akan bangun jika ini benar-benar sebuah mimpi. Lagi-lagi Changmin, sang vokalis sekaligus gitaris itu mengeluarkan senyuman maut nya yang membuat Junsu terpesona. "Jujur saja, aku menyukai mu…" ucap superstar itu lirih.

"C-Changmin-ah…" jawab Junsu yang terus terhipnotis oleh sesosok Changmin.

Yoochun berjalan dengan begitu cepat menuju ke mobil. Junsu tak bisa menyamakan irama langkah kekasih nya. Berkali-kali Junsu mendecak kesal terhadap kelakuan aneh Yoochun. "Yoochun-i… Park Yoochun, Hei!" panggil Junsu yang tak digubris Yoochun.

Dia hanya Membuka pintu nya untuk dia sendiri dan duduk di depan setir mobil. Ia menggeram dan menggenggam erat gagang setir. ""Yoochun-i. Lihat aku!" Junsu duduk di samping Yoochun dengan perasaan bingung.

"Apa maksudmu melakukan ini?" bentak Yoochun tak tahan.

"Melakukan apa?"

"Kau bawa aku kesini? Kau tahu aku tak suka dengan Revolt! Dan lagi, kau minta aku untuk menunggu mu berduaan dengan Shim Changmin!" bentak Yoochun lagi.

"Lalu kenapa? Kau seperti tak tahu saja reaksi seorang fans kepada idola nya!"

"Memang! Karena aku tak punya idola!"

Jawaban aneh dari Yoochun membuat lelaki di samping nya hanya menyeringai. Ia tak dapat menjawab semua kata-kata Yoochun. Hanya sebuah gelengan kepala dan sebuah tatapan kosong yang memandang ke jendela samping. Melototi dedaunan yang masih bertengger di tangkai nya.

Masih di ruang tengah, Jaejoong menghadap televisi yang semua acara nya memuakkan. Ia terus menekan-nekan tombol remote untuk memindahkan dari channel satu ke channel lain nya. Tapi tetap saja tak ada acara yang membuat nya berhenti untuk menekan tombol di remote. Secara tak sengaja mata nya menoleh ke arah Yunho yang sedang menyiap-nyiap kan makanan untuk nya. Entah kenapa begitu melihat lelaki itu, jantung nya berdegup cepat. Urat di ujung kaki nya menjadi tegang dan tubuh nya terasa panas dingin.

"Mau sarapan?" tawar Yunho yang menyadari bahwa sedari tadi ada yang mengamati nya. Ia pun tersenyum.

Jaejoong gelagapan. Secepat mungkin ia memindah bola mata nya kembali ke televisi. Yunho tersenyum lagi. Ia menaruh piring nasi goreng dan kimchi di atas meja makan.

"Mau sarapan atau tidak?" tanya Yunho lagi. Dia masih tersenyum geli melihat tatapan Jaejoong yang begitu aneh. Si model itu mendecak sebelum akhirnya ia berkata 'iya'. Tubuh jangkung nya berdiri menuju ke kursi makan bersama Yunho. Mereka tinggal di kamar apartemen yang berbeda, namun Yunho sering sekali mendatangi kamar Jaejoong, mungkin waktu nya lebih sering ia gunakan untuk mengunjungi kamar Jaejoong daripada di kamar nya sendiri.

Tangan Jaejoong ingin mengambil sendok sop ayam ginseng di depan nya, bersamaan dengan Yunho yang akan mencicipi sop buatan nya itu. Tanpa sengaja tangan mereka bertumpangan pada satu obyek. Aliran darah di denyut jantung Jaejoong serasa mengalir dengan cepat menuju ujung ubun-ubun nya. Tak satu pun gerakan yang ia buat. Begitu pun dengan Yunho yang tak berani memandang mata Jaejoong. Kini mereka merasa hanyut dalam diri mereka satu sama lain.

"Ma… Maaf, Jaejoong ssi." ungkap Yunho sembari menarik tangan nya dari atas tangan Jaejoong. "Ne, g-gwaenchana…" balas Jaejoong yang muka na berubah menjadi merah.

Mereka menelan makanan mereka dengan kaku. Suasana terasa tak nyaman. Yunho tak suka dengan keadaan seperti ini. Dia mencoba memberikan lelucon yang ia harap akan merubah atmosfer yang ada di tempat itu.

"Jaejoong ssi… Aku ingin memberimu tebak-tebakkan. Hewan, hewan apa yang paling sadis?" Yunho menatap mata Jaejoong yang kini melirik nya. Lelaki cantik itu berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban nya. Tak selang beberapa lama, akhir nya ia menyerah juga. "Haah… aku tak tahu."

"Ayam bakar Seoul…"

Jaejoong menaikkan alisnya dan bertanya lagi. "Hah?"

"Gile aje… Emang ayam siape bisa bakar Seoul?" jelas Yunho dengan logat asli nya (maklum, ceritanya dia udah lama tinggal di Jakarta, red)

Jaejoong tertawa terbahak-bahak mendengar logat Yunho yang super aneh. Yunho senang bisa membuat Jaejoong akhir nya senang dengan lelucon nya. Tapi tak lama kemudian, mata Jaejoong berhenti pada pandangan Yunho. Mereka kembali tersenyum.

"Akhir nya kau bisa tertawa dengan ku, Jaejoong ssi…" ucap lelaki yang ada di depan Jaejoong.

"Hmm, kau pikir aku tidak bisa tertawa, heh?"

Yunho tertawa lagi melihat wajah model lelaki cantik tersebut. Kini rasa nya ia sudah sangat dekat dengan tuan yang selalu membuat nya sedikit kesal. Dia senang bisa melihat wajah Jaejoong dari sisi yang jarang ia lihat. Ah, tapi lagi-lagi sesuatu mengganggu kebersamaan mereka. Ponsel Jaejoong berdering lagi. Lelaki tersebut berlari meraih ponsel nya.

"Yoboseyo, Junsu-ah?"

"Hyung! Hyung!" teriak Junsu dari balik telepon nya.

"Astaga, Junsu-ah… Kau kenapa?" Jaejoong ikut panik mendengar adik nya berteriak begitu histeris.

"D-dia… Dia!" teriak Junsu semakin menjadi-jadi.

Secepat mungkin Jaejoong melesat menuju kamar nya dan mengambil jaket bulu beruang putih nya yang menggantung di balik pintu. Dengan langkah yang cepat, ia pergi ke depan pintu apartemen. Yunho mengamati tingkah tuan nya dengan bingung. Tubuh nya dengan refleks ikut berdiri menghampiri Jejoong di ambang pintu yang sudah terbuka. Tapi sebelum Jaejoong melangkah keluar apartemen nya, Junsu kembali menjawab telepon nya, "Changmin-ahhh! Dia sangat tampan!" ucap bocah itu tanpa merasa bersalah karena sudah membuat kakak nya kepanikan.

Jaejoong mendengus keras. Bibir nya mengernyit seperti baru saja menelan obat pahit tanpa air. Mereka berdua masih dalam posisi mereka masing-masing. Karena lorong apartemen cukup sepi, suara Junsu saat berteriak dari balik telepon cukup terdengar oleh telinga Yunho. Lelaki jangkung di samping 'Sang Super Model' itu hanya menahan tawa nya.

"Halo, Hyung?" sapa Junsu lagi untuk memastikan apakah kakak nya tersebut masih menempelkan ponsel nya di telinga.

"I-Iya Junsu ssi… Dia memang tampan." ucap Jaejoong menutupi kekesalan nya sembari masuk lagi ke apartemen nya, disusul Yunho yang menyilangkan tangan nya di dada.

"Hyung sih tidak ikut kemarin…" kata Junsu lagi.

"Aku kan sudah bilang aku ada pemotretan. Kau ada dimana? Tidak takut Yoochun mendengar ucapan mu?"

"Hyung… Aku ada di kantin sekolah. Tenang saja, dia ada di lapangan basket… Sudah ya, nanti sore aku ke sana." tutup Junsu kekanakan dan memasukkan kembali ponsel ke saku celana nya.

Jaejoong tersenyum dan membalikkan badan nya. Mata nya menangkap Yunho yang sedang meregangkan otot-otot lengan nya dalam posisi memunggungi Jaejoong. Lagi lagi, jantung Jaejoong terasa tak nyaman. Semua pembuluh darah nya seperti membeku begitu melihat yunho yang begitu gagah nya. Apalagi saat Yunho membalikkan badan nya menatap Jaejoong yang sedari tadi bersikap aneh. Dia mendekati Jaejoong yang mematung menatap nya. Ia menaikkan alis nya dan mencoba untuk mendekati kepala nya pada Jaejoong perlahan-lahan. Tak disangka Yunho, ternyata lelaki dingin itu juga menutup mata nya. Yunho mengecup bibir Jaejoong dengan lembut dan mendaratkan tangan nya di pundak Jaejoong. Begitu lama mereka berdua menikmati hal itu. Kecupan yang lembut membuat Jaejoong kehilangan kesadaran nya.

"A-apa yang kau lakukan, Yunho-ah!" kata Jaejoong akhir nya dan tiba-tiba mendorong keras tubuh Yunho sehingga ia mundur beberapa langkah dari Jaejoong.

"Sudah lebih baik?"

"Le-lebih baik apa? Ke-kenapa kau—" Jaejoong terbata-bata dan tak sanggup menatap Yunho.

"Kau menyukai nya kan? Ehm, biar ku perjelas. Sebenar nya kau menyukai aku melakukan nya kan?" Yunho tampak sungguh percaya diri. Bola mata Jaejoong berputar ke segala arah untuk mencari jawaban yang tepat.

"Sudah lah, kau suka kan?" Yunho berkata dengan memaksa.

"Yu-Yunho… Sudahlah! Aku mau istirahat." Jaejoong menjawab dengan gugup dan berlalu dari Yunho, yang seperti nya sudah mengerti jawaban yang sebenarnya dari Jaejoong.