"Oppa… Hahaha, kau lucu sekali…" tawa seorang perempuan yang berada dalam rangkulan hangat Yoochun yang juga tertawa. "Yuri-ah… Kau sangat cantik hari ini." ucap Yoochun lagi yang membuat sebuah rona merah mewarnai pipi putih Kwon Yuri. Tangan nya memukul pelan dada Yoochun.
Suasana kelas sewaktu istirahat seperti biasa, ramai dan berantakan. Tentu saja karena ulah para anak buah geng yang dipimpin oleh Park Yoochun. Mereka melepar kertas, menaruh stiker di atas kursi agar menempel pada bokong Park Jungsoo ssi, guru matematika yang sangat mengantukkan. Namun Yoochun dan Yuri hanya duduk tertawa bersama di pojok kelas.
Sebelum bel berdering, Junsu yang berjalan bersama kedua sahabat nya, Lee Sungmin dan Lee Hyukjae, menuju ke kelas mereka. Betapa perih nya saat mata bening Junsu melihat Yoochun yang sedang bermesraan dengan kekasih kedua Yoochun. Tapi dia harus mengakui nya, tak mungkin ia berada dalam pelukan Yoochun menggantikan Yuri. Itu sangat konyol. Wajah innocent nya menutupi perasaan nya saat Yoochun tak menggubris kedatangan nya. Dan selama ini, ia hanya mengaku sebagai teman masa kecil dan teman se apartemen Yoochun saja.
"Astaga, kenapa mereka ini? Hei!" bentak Sungmin ketika Kim Jonghyun baru saja melesat di depan nya. Hyukjae hanya menghela napas nya dan menoleh ke arah Junsu yang sedari tadi seperti menyembunyikan sesuatu dan terus memandang kearah Yoochun dan Yuri. "Hei, Junsu ssi… Kau ini kenapa? Kau menyukai Yuri ya?" goda Hyukjae sambil menyodok rusuk Junsu yang kemudian berpaling melihat nya.
Dengan gelagapan Junsu menggeleng dan membalas sodokan Hyukjae yang berhasil menghindar.
"Tidak. Dasar…"
Yoochun-i… Bagaimanapun aku tetap mencintai mu. Batin Junsu tersenyum kelut dalam tundukkan nya.
Sekali tegukan. Tidak. Berkali-kali tegukan air putih masuk ke dalam tenggorokkan sang superstar. Peluh menetes membasahi lengan baju nya. Mata nya tampak menyipit menyapu keadaan di sekeliling nya. Seseorang menghampiri nya dan berkata, "kenapa kau meminum air putih terus? Ini… Minumlah soda ku…" tawar nya menyodorkan sekaleng soda di atas meja.
"Sudah, Kyuhyun-i… Terimakasih. Cukup air putih saja." tolak Changmin dengan lembut pada sang pianis Revolt.
"Ya, Hyung! kau ini hidup sangat sehat. Cobalah teguk sedikit soda dingin itu. Tak berpengaruh besar kan pada kesehatan mu?" ucap sang gitaris yang sedang membenahi rambut pendek nya. Changmin hanya tersenyum kering.
"Tidak usah, Minho-na. Sebenar nya ada alasan lain aku melakukan ini."
Changmin kembali memandang sebotol air putih di atas tangan nya. Tiba-tiba ia tersenyum mengingat sesuatu hal yang pernah ia alami. Sesuatu yang indah. Mungkin ini yang membuat nya selalu tersenyum disaat ia berada dalam kesendirian.
Sebuah tepukan keras menimpa pundak nya, membuat pikiran nya buyar. Secara refleks ia menengok ke belakang tubuh nya untuk melihat siapa yang mengagetkan nya. Senyuman nakal datang dari pria berotot besar dan berambut pirang.
"Youngwoon Hyung! Kau mengangetkan ku saja! Haah…" Changmin menghela napas panjang dari mulutnya untuk mengatur detak jantung yang mulai tak beraturan.
"Kau selalu saja melamun sambil tersenyum sendiri… Itu sangat mengerikan." ucap Kim Youngwoon, sang drummer hebat yang di miliki Revolt. Tanpa meminta maaf ia langsung melangkah ke cermin dan melihat raut wajah nya. Mungkin ia berpendapat bahwa dirinya lah yang paling tua, dan ia bebas menjahili dongsaeng nya tanpa harus meminta maaf.
"Lalu siapa lelaki yang menemui mu kemarin?" tanya seorang laki-laki lagi yang baru saja masuk di ruang ganti itu menyusul Youngwoon. Tubuh nya tegap dan mata nya sungguh mempesona. Ia langsung menggeser posisi duduk Minho di sofa hitam.
"Sia—? Ah, dia… Dia fans ku. Kenapa Donghae Hyung?" tanya Changmin menyenderkan punggung nya di kursi yang begitu nyaman. Mata nya terpejam sesaat setelah ia menatap Donghae cukup lama. Sebuah senyuman kecil keluar di bibir Donghae. "Tidak. Hanya saja dia sangat beruntung bisa menemui kau. Bukankah itu suatu keajaiban? Changmin-ah, kau ini vokalis hebat… mana mungkin ia sengaja menerobos penjagaan ketat dari security…"
"Ya. Dan lagi, ia adalah seorang fans laki-laki! Apa itu tidak aneh?" sambung Youngwoon tiba-tiba, sembari duduk di meja rias.
Changmin sebenar nya berada dalam posisi terpojok. Namun tetap saja ia bersikap tenang dan santai menjawab semua pertanyaan yang menjerumus ke arah 'apakah kau seorang gay?' Justru ia menyilangkan kedua tangan nya di depan dada tanpa merubah posisi duduk nya.
"Dia sangat menarik. Seperti nya dia teriak paling histeris dari yang lain. Lagipula dia juga sudah aku anggap adik sendiri…" jawaban Changmin yang cukup mengambang untuk dipikir secara logis lagi bagi para personel yang lain.
Untunglah pertanyaan-pertanyaan lain segera terhenti ketika sang manager membuka pintu ruang ganti, untuk menyuruh mereka kembali menghibur penonton di acara Mnet M! Countdown.
"Wah… kau beruntung sekali! Lalu… kau bilang tidak kalau aku kakak mu?" ucap Jaejoong penuh harap. Adik kandung nya hanya tersenyum dan menggeleng. Ia mengerutkan kening nya dan menjawab.
"Untuk apa? Agar dia bisa bilang 'oh… Kim Jaejoong model itu ya? Kau adik nya? Wah hebat sekali bisa memiliki kakak supermodel seperti dia!'"
"Kalau sudah seperti itu kau bisa bangga kan?" Jaejoong menggoda adik nya lagi.
Junsu tertawa mendengar jawaban kakak nya. Tapi tawa nya tak berlangsung lama. Dia masih teringat tentang masalah kemarin malam dan tadi pagi yang membuat dada nya sesak. Jaejoong menaikkan alisnya melihat Junsu yang tampak memikirkan sesuatu. "Kau kenapa?"
"Hm… Aniyo~"
"Oh, ayolah. Apa aku tidak cukup meyakinkan untuk menjaga rahasia mu?" pinta Jaejoong memegang tangan adiknya.
"Kau pasti tahu sendiri. Soal Yoochun-i…"
Hembusan napas panjang keluar dari hidung Jaejoong. Dia menatap ke bawah dan mengangguk perlahan. Dia sering menjadi tempat curhat adik nya itu. Sekilas senyuman ia berikan pada Junsu sebelum berkata, "pasti dia cemburu pada Changmin kan?"
"Tidak hanya itu…" kata Junsu lagi, menahan air mata nya untuk tidak meleleh ke pipi nya.
"Aku tahu. Pasti Yoochun dan Im Yoona membuat mu panas, kan?"
"Bukan. Dengan Yuri. Kwon Yuri." sanggah Junsu memalingkan wajah nya.
"Yuri? Bukankah ia dengan Yoona?" Jaejoong tampak kebingungan.
"Mereka sudah putus tiga hari yang lalu."
Jaejoong menganga tak percaya mendengar jawaban adik nya yang tak berhasil membendung air mata nya. Sebah isakan menggema ke seluruh ruangan apartemen. Model tersebut mengeluarkan saputangan dan menghapus air mata Junsu. "Sudahlah. Biarlah Park Yoochun puas dengan keinginan nya sendiri. Dia juga masih mencintai mu…"
"Tidak! Akhir-akhir ini dia sering membentakku dan terus mengawasi ku jika aku sedang memegang ponsel ku. Dia pikir aku sedang berhubungan dengan Changmin. Itu yang nama nya cinta?"
"Ya!" sergah Jaejoong akhir nya sedikit membentak adik nya. Mata nya memandang Junsu yang terkejut mendengar bentakkan itu. "Dia mencintai mu… Percayalah." kata Jaejoong melirih.
"Ma-maaf sudah menunggu, Changmin-ah…" ucap Junsu tersenyum kaku melihat Changmin yang sedang duduk di bawah tenda kedai kopi Jjangnam. Mata nya seolah tersenyum menyambut Junsu yang masih malu-malu duduk di samping nya. Junsu bisa melihat mata Changmin tersebut meskipun lelaki tersebut menggunakan kacamata hitam dan topi NIKE putih nya untuk menghindari perhatian orang di sekitar nya.
"Apa yang akan kau katakan?" tanya Junsu lagi.
"Tidak ada, Junsu ssi. Aku hanya akn mengajak mu ke suatu tempat."
Tanpa menunggu jawaban dari Junsu, vokalis Revolt itu langsung menggenggam tangan Junsu dan menarik nya menuju mobil hitam metalik milik nya yang terparkir tak jauh dari sana. Otak Junsu mulai berputar, dia tak mengerti maksud Changmin. Akan dibawa kemana dia? Junsu tahu benar Changmin adalah orang yang baik dan berpendidikan. Tidak. Changmin tidak akan melakukan apapun pada nya.
Changmin menginjak gas mobil nya dan memindahkan gigi pertama nya. Namja di sebelah nya berkali-kali menelan ludah nya dan mengatur pernapasan nya yang berat. Mata nya melirik Changmin yang tidak melepas kacamata hitam nya. "Kau tidak perlu kuatir… Aku tidak akan membawa mu ke tempat yang gelap. Aku akan membawa mu ke tempat yang sepi."
Bukan tempat yang gelap, tapi tempat yang sepi? Oh, tidak. Aku mengidolakan orang yang salah. Pikiran Junsu semakin kalut. Dentuman jantung nya mulai mencepat, begitu pun dengan keringat dingin yang mengucur deras di pelipis nya.
"A-a… Ap—"
"Kau pantas menjadi orang pertama yang datang kesana bersama ku." potong Changmin yang melirik Junsu sekilas dan tersenyum manis.
"…" tak ada jawaban yang keluar dari bibir Junsu. Mata nya terus bergetar melihat jalanan yang terasa sangat kosong dan lengang.
Belokan terakhir. Jalanan sudah mulai mengecil. Pepohonan mulai menyambut kedatangan mereka. Changmin memberhentikan mobil nya tepat di bawah salah satu pohon maple yang masih rimbun. Junsu menghembuskan napas nya dan menatap wajah Changmin yang tampak tersenyum kecil memandang jauh ke depan.
"Changmin-ah… Kau mau bawa aku kemana?" teriak nya menggenggam erat celana jeans coklat nya. Lagi-lagi jawaban yang jelas tidak lelaki itu berikan pada Junsu yang mulai menggemas. Ia justru melepas kacamata nya dan turun dari mobil.
Langkah tegap nya menyusuri dedaunan yang mulai rontok di tanah. Tangan kekar nya lagi-lagi menarik Junsu yang tak tahu apa-apa. Berkali-kali Junsu memanggil nama idola nya itu, namun orang yang disebut itu selalu tak mengacuhkan nya.
Sebuah tiang besar serta patung malaikat yang sudah usang dan tak terurus menyambut langkah mereka. Changmin terus berjalan dengan cepat sampai akhir nya mereka menemukan sebuah tanah hijau yang sangat luas. Disana tertanam beberapa onggok batu yang terukir dengan halus. Desahan angin sore yang begitu sunyi bernyanyi mengiringi kedatangan kedua namja itu.
"Ma-makam?" tanya Junsu masih tak percaya.
Changmin membalikkan tubuh nya dan memandang Junsu yang mengerutkan kening.
"Ya. Makam."
Kaki Changmin kembali melangkah menuju salah satu dari banyak nisan yang ada di situ. Kini tanpa harus ia tarik, Junsu sudah mengikuti nya dari belakang.
"Maaf. Apa ada keluarga mu yang meninggal?" tanya nya masih keheranan.
"Bukan…"
Changmin berhenti di salah satu nisan yang masih cantik dan terhias dengan buket bunga mawar putih. Nisan yang berwarna abu-abu keperakan membuat mata nya sayu dan berlinang, namun air mata nya tak terjatuh. Tertulis: Disini terbaring dengan damai. Kim Kibum.
"Kim Kibum?"
"Ya…" ucap Changmin tersenyum dan meletakkan lutut nya ke tanah dan membelai nisan indah itu. "Dia Kibum. Dulu sebelum ia meninggal, lelaki ini kekasih ku…"
"Lelaki?" pekik Junsu tak percaya. Sang superstar itu menoleh dan berdiri di hadapan nya dan menentuh kedua pundak nya.
"Aku percaya kau bisa menjaga rahasia ini…"
"Ja-jadi kau selama ini menyembunyikan ini semua? Lalu a-apa ada hubungan nya dengan kau tak mau meminum minuman lain selain susu dan air putih dengan hal ini?" tanya Junsu berhati-hati agar ucapan nya tidak membuat Changmin marah.
Lelaki di hadapan Junsu tersebut kembali menghembuskan napas panjang utuk merasakan kehadiran Kibum di pikiran nya. Mata nya menghadap ke langit yang mulai memudarkan warna biru nya. Serta burung-burung gagak yang kembali bertengger pada cagak di sekitar pintu masuk kuburan.
"Dia menginginkan ku untuk melakukan suatu hal sebelum ia pergi untuk melanjutkan studi nya di Amerika…"
