#Flashback Begins:

"Aku mau kau menepati janji yang akan kuberikan…" ucap namja berkerudung jaket hitam dan melayangkan senyum nya pada Changmin. Ia menenteng tas serta koper seraya berdiri di samping pintu keberangkatan pesawat.

"Apa pun akan kulakukan…" sebuah kata-kata yang membuat laki-laki di hadapan Changmin itu tesenyum berseri-seri. Mata bening polos nya melihat dalam-dalam wajah Changmin. "Jagalah kesehatan mu. Jangan minum minuman yang membuat mu sakit. Banyaklah minum susu dan air putih, juga makan lah makanan yang berserat…" ucap nya panjang lebar.

"Baiklah, Dokter Kibum… Aku akan menuruti nasehat mu."

Mereka berdua tertawa sejenak sebelum akhir nya Kibum meninggalkan Changmin menuju pesawat yang akan menerbangkan nya ke Amerika.

#Flashback Ended

"Entah dosa apa yang pernah ia lakukan… Saat aku mendengar berita di televisi, pesawat nya tergelincir oleh salju tebal dan terbakar saat tiba di bandara Los Angeles." ungkap Changmin menjilat bibir nya yang kering dan menengok kembali pada batu nisan mantan kekasih nya.

Junsu merasakan ada sesuatu hal yang sakit dalam diri nya, meskipun hal itu belum pernah ia rasakan sebelum nya. Mulut nya mulai angkat bicara lagi, "jadi… apakah dia adalah siswa jurusan kedokteran?"

Changmin kembali tersenyum kaku dan mengangguk kecil. "Dia juga setahun lebih tua dari ku…"

"Aku turut bersedih, Changmin-ah…"

Mata Changmin kembali pada wajah Junsu yang terus hanyut dalam suasana sendu itu. Mungkin beberapa detik lelaki itu tidak menyadari diri nya terus dipandandi oleh sesosok laki-laki jangkung di depannya. "Tapi itu mungkin sudah lama berlalu. Dua tahun sangat cepat terlewati, kan?" senyum Changmin kembali menghiasi wajah tampan nya.

"Ya…" jawaban singkat muncul dari Junsu yang menundukkan kepala.

"Tapi mungkin aku bisa menemukan pengganti nya. Dia memiliki mata yang sama jernih nya dengan Kibum, senyuman yang bisa membuat ku juga ingin tersenyum…" Changmin tak melepaskan pandangan nya pada Junsu. Akhir nya lelaki di depan nya menyadari kalau ia terus mendapat kan hal yang tidak semua Revolution dapatkan, tatapan dalam seorang Shim Changmin, sang leader.

"Kau, Junsu Hyung…"

Yunho tersenyum melihat mata indah Jaejoong ketika ia beradu pandang dengan nya. Tak seperti sifat Jaejoong seperti biasa—yang selalu tak peduli padanya—namja itu juga tersenyum dan menaikkan alis nya. "Yunho? Ada apa?"

"Hm… Tidak apa-apa." kata Yunho sambil berlalu dan menaiki motor thrill nya dan menjauh dari hadapan Jaejoong.

Mustahil, kaki Jaejoong tak dapat ia gerakkan sama sekali untuk mengejar lelaki itu. Mulut nya bahkan terasa kaku untuk mengatakan 'tolong jangan pergi dari ku!'

Semua hilang. Dia menghilang dari mata sang model. Kenapa dada nya terasa sesak? Kenapa juga ia menangisi orang yang selalu dibuat nya kesal berbagai cara ia gunakan, ia mencoba untuk melebarkan rahang nya untuk berteriak sekencang-kencang nya.

"Yunho-ah! Jangan pergi! AKU MENCINTAI MU!" lengking Jaejoong terbangun dari tidur nya dengan posisi terduduk, disertai peluh yang mengucur deras membasahi bantal nya.

KREEEEEK…

Terdengar suara pintu yang terbuka lebar.

"Tolong katakan itu sekali lagi…" ucap Yunho dengan mimik wajah serius nya.

Tubuh Jaejoong yang penuh keringat berlari dengan sedikit terhuyung menuju seorang yang ia lihat dalam mimpi nya. Ia melingkarkan kedua lengan nya di punggung Yunho dan menempelkan bibir nya pada bibir Yunho yang terkejut. Akhir nya Yunho menutup mata nya dan menyeka peluh Jaejoong yang ada di leher lelaki itu tanpa melepas ciuman mereka. Jaejoong terus meng eksplorasi kan lidah nya pada Yunho yang juga menggerakkan milik nya. Desahan Jaejoong terus keluar dari dalam diri nya.

"Jaejoong ssi? Kau—"

"Aku mencintai mu, Yunho-a! Apa kurang jelas?" bentak Jaejoong seperti biasa tanpa merubah warna wajah nya menjadi berseri-seri dan tersenyum malu—karena tentu saja Jaejoong bukan orang seperti itu. Yunho justru yang mengawali senyuman untuk tuan nya.

"Yunho-ah… Aku seperti nya harus menarik perkataan ku. Aku merasa akhir-akhir ini tak nyaman dengan panggilan ssi. Kembalilah dengan memanggilku Jaejoong-I." gumam Jaejoong tanpa ragu-ragu.

Yunho mengelus dahi namja nya dengan lembut, dan memandang mata Jaejoong yang begitu menunjukkan bahwa ia-tidak-pernah-bercanda. Jaejoong sangat yakin, lelaki di depan nya pasti juga mencintai nya. Dia tidak peduli pada publik jika nanti mereka sudah tahu soal ini. Rasa nya ia sangat nyaman berada dalam pelukan Yunho. Pelukan yang begitu mendekap, seolah membentengi nya dari semua bahaya.

Yoochun melewati koridor bawah gedung apartemen nya sambil membawa sekantung palstik yang berisi keripik kentang dan coklat kesukaan Junsu. Ia yakin bahwa Junsu akan pulang sebentar lagi dari apartemen Jaejoong yang tak jauh dari apartemen nya dan Junsu.

Begitu panas tubuh nya ketika mata nya menangkap dua orang berjalan dengan begitu mesra. Salah satu nya Junsu yang selalu tersenyum saat memandang lelaki berpenampilan tertutup di sampingnya. Yoochun sudah mengenal lelaki itu, pasti Changmin. Ya, lantas siapa lagi kalau bukan lelaki brengsek yang selalu mendekati kekasih nya? Ia menggeram dan menyusul mereka berdua.

Tangan nya menarik baju bagian belakang Changmin, dan mendaratkan sebuah pukulan keras oleh kepalan tangan nya pada wajah Changmin. Lelaki itu terjauh ke lantai koridor. Kacamata hitam dan topi nya tentu terlepas dari tubuh nya. Emosi nya meningkat ketika Junsu mencoba untuk bertanya 'kau tak apa-apa?' pada Changmin dan menyangga pundak Changmin.

"Berani nya kau mencoba berhubungan lagi dengan Junsu! Mau mu apa, eh?" teriak Yoochun yang menggelengar ke semua penjuru ruangan. Aksi nya membuat banyak perhatian disekitar nya.

"Siapa kau… Apa masalah mu?" Changmin kembali berdiri dan menyeringai tepat di depan wajah Yoochun.

Junsu begitu panik dan berusaha melerai mereka berdua. Usaha nya hanya berbuah 'sia-sia' saja. Kata-kata nya tak mereka dengar kan. Junsu mendekatkan tubuh nya pada mereka dan memandang Yoochun yang tak melihat nya. "Aku kekasih nya! Dan kau… Jangan coba-coba mendekati nya lagi!" Yoochun dengan bangga menunjukkan katakata itu pada Changmin yang mendengus.

"Hah? Kekasih? Junsu…" Changmin mengerutkan kening nya dan mengalihkan pandangan nya pada Junsu yang memijati kening nya. "Dia…"

"Changmin-ah… Aku belum bilang kalau aku sudah punya kekasih."

"Jadi… kau menolakku karena…"

Sang vokalis merasa dirinya adalah lelaki pecundang yang paling bodoh. Apa yang akan dia lakukan? Membalas pukulan dari kekasih Junsu? Membawa pergi Junsu untuk pindah ke apartemen nya? Menampar Junsu? Itu semua terlalu tidak mungkin untuk ia lakukan. Hal yang pasti akan membuat Junsu sungguh akan membenci nya dan keluar dari daftar Revolution karena nya. Hanya pergi dari tempat itu yang ia lakukan. Melangkah menuju ruang lobi dan kembali ke mobil. Suatu hal yang cukup bisa dianggap pencundang bukan? Ya! Gumam nya dalam hati.

Mungkin aku memang salah… Tidak seharus nya aku meninggalkan Kimbum-i. Maafkan aku Snow White… Maafkan aku. Kalau perlu, hukum aku! Batin nya lagi.

Pikiran nya begitu rumit dan mata nya pun sama sekali tak tertuju pada jalanan. Ia melajukan mobil dengan kecepatan yang amat tinggi. Melewati semua mobil-mobil yang berlalu lalang di sekitar nya. Ia tak mengacuhkan suara-suara klakson yang menyuruhnya untuk mengemudi dengan kecepatan normal. Seperti orang mabuk, ia menuju jembatan tol yang jauh dari apartemen Junsu dan membelokkan stir nya dengan tajam. Entah apa yang sedang ia pikirkan, mobil nya ia sengaja tabrakkan pada pinggir jembatan, hingga menimbulkan sebuah dentuman keras yang mengakibatkan bagian depan mobilnya rusak berat.

Orang-orang di sekitar nya berlarian untuk menolong Changmin yang sudah dalam kondisi terbentur stir dengan sangat keras. Tapi mereka dengan cepat melangkah mundur begitu melihat tangki bensin di mobil Changmin bocor cukup besar. Tak hanya itu, percikan api yang keluar dari bamper depan mobil Changmin. Mereka seolah diperingatkan bahwa sebentar lagi mobil seorang superstar itu akan meledak.

Darah mengucur deras di pelipis nya. Namun ia masih sempat bernapas. Pikiran-pikiran nya masih membayang-bayang dalam otak nya.

Kibum-i… Aku sebentar lagi akan menjemputmu… Pikirnya sembari berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum. Darah segar sudah membasahi hampir seluruh wajah nya.

Tepat setelah ia mengembangkan senyuman nya, percikan-percikan api tersebut mengenai genangan bensin disekitar mobil nya. Dengan sangat cepat, api merambat menuju tangki yang masih mengeluarkan sisa-sisa bensin. Tak selang beberapa lama, sebuah ledakan besar dari mobil Changmin menyeruak dengan hebatnya. Membuat mobil nya terbakar dan menerbangkan bagian-bagian kecil dari mobil nya itu. Tubuh Changmin pun ikut terbakar dan ia tewas mengenaskan.

"Junsu… Kenapa kau tak bilang kalau—" tanya Yoochun yang tak digubris oleh Junsu. Lelaki itu hanya melenggang kesal di hadapan Yoochun menuju kamar apartemen. "Junsu ssi…" Yoochun mengejar Junsu dan berhasil menggenggam tangan lelaki itu sekuat-kuat nya. Bujukkan Yoochun tak bisa mengubah mood Junsu saat itu. Tangan kiri nya justru menepis genggaman Yoochun hingga terlepas.

Memasuki ruang tengah apartemen mereka, Yoochun kembali menarik pergelangan tangan kekasih nya. Sekuat tenaga Junsu kembali menghardik dan menggoncang-goncangkan tangan nya.

"Lepaskan, Bodoh!" bentak Junsu.

Lima menit berlalu begitu kaku. Yoochun hanya diam terpaku menatap acara televisi. Tapi saat ia mendengar suatu berita aktual, pandangan nya seakan tak bisa bergerak kemana pun. Sesaat itu juga Junsu keluar dari kamar, tepat di ambang pintu, ia juga terdiam mematung.

'Terdapat sebuah mobil Mercedes berwarna hitam meledak dikawasan jembatan tol di Seoul. Menurut saksi mata, korban mengemudikan mobil nya dengan kecepatan yang amat tinggi. Ia menabrak trotoar tol dan mengakibatkan tangki bensin nya bocor. Diduga korban adalah seorang vokalis dari band Revolt, Shim Changmin.'

"I-itu tak mungkin… tidak, tidak… itu salah!" jerit Junsu membuat Yoochun mengalihkan pandangan nya menatap lelaki itu. Pandangan yang sangat penuh dengan rasa bersalah. Junsu meneteskan airmata nya, begitu perih rasa nya. Lelaki itu jelas bukan Changmin, pikirnya terus menerus.

Yoochun bangkit dari sofa nya dan menghampiri Junsu yang memijati keningnya. Ia membelai pundak Junsu lembut. Namun kekasih nya lagi-lagi menepis tangan Yoochun dan kembali memasuki kamar nya. "Junsu ssi…"

"Ini tak akan terjadi jika kau tak membuat nya pergi!" kata Junsu menutup koper nya dan menenteng nya keluar kamar dengan langkah yang begitu cepat. Yoochun lagi-lagi harus mengejar laki-laki tersebut dengan kebingungan. "Junsu ssi… Junsu ssi kau mau kemana?"

"Aku? Hah… Aku akan pindah ke apartemen Jaejoong!" ucap Junsu menyeringai sadis dengan mata yang memerah. Yoochun berhasil kembali menggenggam tangan Junsu untuk mencegah nya pergi. Kali ini ia sangat kuat hingga Junsu merasa kesakitan.

Ia menarik Junsu yang hampir meraih gagang pintu menuju pelukan nya. Sekuat tenaga pula ia melingkarkan kedua tangan nya pada punggung Junsu yang meneteskan air mata nya lagi untuk kesekian kali nya. "Maafkan aku, Junsu ssi. Aku lah yang salah… Secara tak sengaja aku telah membunuh nya. Aku sangat menyesal telah membuat nya… Junsu ssi, aku benar-benar minta maaf."

Junsu menegakkan kepala nya yang ia sandar kan pada dada Yoochun. Melihat mata Yoochun yang bersungguh-sungguh. Namun mulutnya tak bisa berkata apa-apa lagi. "Junsu ssi… Aku minta maaf juga karena aku sudah sangat kasar padamu. Hal itu aku lakukan karena aku mencintaimu. Aku tak ingin kehilangan mu…"

"Tapi kenapa kau harus membenci Changmin?" teriak Junsu yang mengerang penuh emosi.

"Karena aku tak suka dengan cara nya bicara dengan mu. Dia sangat tidak sopan… Junsu ssi, dengar aku. Aku pernah bilang kan kalau aku tidak memiliki seorang idola?" kata Yoochun lagi.

Junsu menatap mata lelaki nya sekali lagi. Ia ingin bertanya 'kenapa' sebelum Yoochun menjawab, "itu karena aku sudah memiliki mu, My Little Princess Boy… Kim Junsu." Yoochun menambah kan dengan kecupan penuh kasih sayang pada bibir Junsu yang basah terkena airmata. Meminta Junsu untuk membuka gigi nya agar lidah nya bisa mengajak lidah milik Junsu untuk menari dengan nya, seolah menghiburnya saat itu. Junsu mengerti, seharus nya ia justru yang harus meminta maaf atas keegoisan nya. Ia tak memikirkan Yoochun sama sekali saat ia sudah bertemu dengan Shim Changmin.

THE END