Terimakasih ya buat reders yang udah nyempetin diri untuk rifyu. Makasih untuk segala masukkannya, berguna banget =')
Warning: AU, OOC. Don't like? Don't read! Chap yang paling buruk, normal POV.
DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO
.
.
.
"Gaara, banguuun, Sayang..."
Entah dalam mimpi atau tidak yang pasti suara seperti itu terdengar. Entah juga dalam bawah sadar atau tidak Gaara sangat jelas mencerna tiap suara itu. Jarang-jarang ia mendengar ini dikala saat tidak mengetahui apa-apa.
Tunggu dulu. Ini jam berapa?
Gaara mengerjabkan matanya pelan—berusaha untuk bangun sepenuhnya dari alam tidurnya. Sebenarnya pria merah ini sudah terjaga beberapa menit yang lalu, hanya saja untuk sekedar membuka mata rasanya berat sekali.
Cekikikkan pelan yang hampir menyerupai bisik-bisik terdengar—mungkin tidak jauh dari dirinya—sangat jelas. Baru membuka mata, Gaara langsung menoleh ke sumber suara. Matanya terbelalak kaget karena mendapati gadis coklat itu—Matsuri sudah berada di sana.
Oh Kami... sejak kapan manusia ini sudah berada di dalam kamarnya? Padahal nyatanya—jelas-jelas kamarnya terkunci rapat dari semalam. Semalam, ia tidak keluar kemana-mana dari kamar ini.
Mata Gaara langsung beralih ke depan—mendapati pintu kamarnya sedang menganga. "Kau!" ia bangun dengan cepat sembari menyibakkan selimut tebal berwarna hijau yang sedari malam dipakainya untuk melindunginya dari hawa dingin yang berlabuh. "Bagaimana kau bisa masuk kemari?"
"Ternyata ibumu punya kunci cadangan, heheheh." Matsuri berdiri dari duduknya, mundur selangkah ia berniat akan kabur dari sini. "Aku kan hanya ingin membangunkanmu."
"Aku bisa bangun sendiri, Bodoh!"
"Kalau begitu kenapa tidak bangun dari tadi! Sudah siaaang...!"
Gaara diam. Kemudian ia menoleh ke arah jam weker yang berada tepat di samping tempat tidurnya. Melihat itu mata jade-nya sontak membulat.
.
.
.
"Apa mereka cocok menurutmu, Temari?" tanya mama tanpa perlu menghadap pada sosok anaknya yang sekarang sedang duduk di kursi makan. Tangannya masih tetap berkutat pada panggangan roti yang berada di depannya itu.
"Gaara dan Matsuri?" Temari bertanya meyakinkan pertanyaan mama sebelumnya.
Mama hanya mengangguk, membenarkan jawaban sebelumnya.
"Kayaknya sih," ujar Temari menggantung sembari menggigit ujung roti bakar yang baru saja dikeluarkan dari panggangan oleh mama. "Habis mereka bertengkar terus," tambahnya setelah ia menelan semua roti yang berada di dalam mulutnya.
"Mama khawatir kalau nanti Gaara tidak suka."
"Memang Gaara tidak suka," jawab Temari terkesan acuh, kemudian ia bangkit dari duduknya setelah ia selesai memakan semua roti yang diambilnya tadi dan selesai meneguk semua isi dalam cangkir susunya, "aku pergi, Ma."
"Hati-hati ya." akhirnya nyonya Sabaku baru menoleh—menatap kepergian Temari dari tempatnya berdiri. Setelah punggung Temari benar-benar menghilang dari balik pintu dapur, baru mama kembali menghadap panggangan roti lagi.
Selang beberapa menit kemudian tampak Matsuri menuruni tangga yang terdapat pada ruang tamu sebelah dapur, "Tante aku pergi dulu, ya!" teriaknya sembari menuruni tangga. Suara ketukkan sepatunya di atas kayu tangga menggema jelas yang terkesan buru-buru itu.
"Yah, hati-hati."
Baru setelah beberapa detik kemudian kini giliran ketukkan sepatu Gaara yang turun—yang terdengar terburu-buru pula. "Aku pergi, Ma."
"Kalian tidak sarapan dulu?" tanya mama agak sedikit berteriak agar suaranya sampai ke ruang tamu.
"Tidak."
Setelah suara itu Gaara menutup pintu rumah depannya. Sedangkan mama hanya bisa mendesah pelan.
.
.
.
"Hinata," baru saja Hinata sampai di depan kelas, seseorang dari belakangnya ada yang menyapa, mau tak mau gadis indigo ini berbalik untuk menanggapinya.
"Iya?" jawabnya seramah mungkin pada orang yang ternyata teman sekelasnya, Kiba.
"Sasuke memanggilmu tuh, dia ada di lapangan bola."
Hinata merasa bingung, jarang-jarang si Uchiha Sasuke memanggilnya, ke lapangan bola lagi. Atau mungkin Sasuke mau menindasnya, tapi dalam hal apa? "Eh, ada apa ya?"
"Entahlah," Kiba terlihat mengangkat bahu sesaat, "sepertinya dia sedang butuh bantuanmu," setelah mengatakan itu Kiba malah masuk kelas mendahului Hinata yang masih berdiri di ambang pintu.
Sesaat Hinata menghela napas, kemudian ia langsung memutuskan untuk ke lapangan bola setelah ia menaruh tas di dalam kelas.
.
Baru saja si mata lavender itu menginjakkan kaki ke pinggiran lapangan bola kaki, suasana dingin langsung menerpa kulitnya. Angin itu membelai kasar seperti sedingin bongkahan batu es yang berada di dalam kulkas. Kalau saja Hinata sedang tidak merasakan perasaan hampa seperti sekarang ini, ia tidak akan kemari dan menemui Sasuke—kecuali kalau Sasuke itu sendiri yang datang padanya dan bicara langsung dengannya
Maklum, Hinata tidak pernah menghampiri laki-laki duluan—tidak pernah memulai topik pembicaraan duluan—pengecualian untuk sesuatu yang benar-benar sangat penting untuk dibahas.
Yang menjadi hati miris, sampai sekarang ia malah memikirkan pria berambut merah itu.
Apa kabarnya dia hari ini? Apa dia bahagia? Apa dia juga merindukanku? Apa dia... akh! Sulit untuk melupakan kejadian kemarin dalam waktu singkat.
Semalam benar-benar malam yang dipenuhi perasaan yang bercampur aduk—yang ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Perasaan itu seolah-olah menginginkan Hinata untuk berbuat sesuatu yang tidak pernah ia perbuat. Kalau saja Hinata mau dan menuruti perasaannya, ia bisa saja minum-minum alkohol di pinggir jalan raya sembari menyanyi bak orang gila. Ia juga bisa saja menari-nari di depan kaca sambil mengacak rambut bak orang stres.
Sayangnya Hinata bukan orang yang seperti itu. Ia tetap memilih akan pilihannya. Ia lebih memilih mendiamkan perasaannya—menahan semua gejolak yang timbul dari otak yang bereaksi ke hatinya dengan cara merebahkan dirinya di sepanjang malam bersama selimut sembari menutup mata—walau tidak tertidur.
Cara itulah yang ampuh untuk gadis yang berusia tujuh belas tahun ini agar tidak merasakan perasaan itu.
Benar-benar kecewa.
Hinata meneruskan langkahnya untuk mendekat kepada Sasuke yang berada di seberang lapangan dari tempatnya berdiri. Pria emo itu kini sedang duduk di salah satu bangku yang terbuat dari semen di pinggiran lapangan.
Tampak baju olahraga jam sekarang jadi seragamnya. Kelihatannya Sasuke sedang istirahat sehabis latihan bola kaki pagi ini.
Entah mengapa, ketika Hinata berjalan di tengah lapangan—untuk menyeberanginya, ia merasa sekarang semua mata sedang tertuju padanya. Mau menoleh melihat ke kanan dan ke kiri rasanya sangat janggal. Ia masih berjalan setengah menunduk untuk menyembunyikan rasa ketidakpercayaan dirinya—saat berjalan sendirian di tengah lapangan luas itu. Ia malah merasakan seperti berjalan di atas catwalk dengan beribu penonton yang sedang mengawasinya. Benar-benar terasa gugup. Ada apa ini?
Belum lagi reaksi Sasuke. Pria itu kelihatannya sudah mengetahui kedatangan Hinata sekarang. Matanya yang menatap Hinata—menunggu gadis itu mendekat ke arahnya membuat kepercayaan diri Hinata benar-benar menipis.
"A-ada apa?" Hinata langsung angkat bicara ketika ia sudah berada tidak terlalu jauh dari Sasuke. Baru setelah ia sudah berada di hadapan pria itu, Sasuke baru berdiri dari tempat duduknya.
Sesaat Sasuke diam sembari memandangi Hinata dengan tatapan datar. Hinata bingung ada apa dengan pria yang berada di depannya itu?
Sasuke tetap tidak menjawab ia malah memutar tutup botol air mineral yang sedari tadi dipegangnya itu, lalu meminum sebagian isinya.
Pria emo itu menyempatkan diri untuk mengelap bibirnya terlebih dahulu seusai ia menelan sebagian air dalam botol tersebut—lalu memutar tutupnya kembali seperti semula. "Ini tentang temanku." Sasuke menolehkan kepalanya ke arah samping—menatap sesuatu—bermaksud agar Hinata juga mengikuti arah pandangannya.
Mau tak mau gadis itu ikut menoleh dan mendapati Naruto yang sedang pundung di pinggiran gawang sepak bola sekarang.
Melihat Naruto yang kelihatannya tidak bersemangat seperti itu, Hinata jadi lebih ingin tahu apa alasannya, "a-ada apa dengan Naruto-kun?" mata lavender-nya masih memandang Naruto yang kini terlihat sedang suram—mungkin sedang putus asa.
"Katanya Sakura lebih suka cowok inggris. Makanya dia seperti itu."
"Hah? Be-benarkah?"
"Entahlah, tapi yang jelas kau pasti bisa menebaknya, kan?" dari kata-kata Sasuke kelihatannya ia sangat malas untuk menjelaskan semuanya pada Hinata. Walau begitu, Hinata sudah cukup nalar dengan atsmosfir yang berada di sekitarnya.
Kemudian Sasuke kembali lagi mendekat ke bangku semen itu untuk mengambil handuk kecil putihnya.
Hinata melangkahkan kakinya lebih mendekat ke arah Sasuke, "lalu, apa yang harus aku lakukan?"
"Terserah, asal Naruto tidak menyebalkan seperti itu." entah mengapa Sasuke lebih suka Naruto yang ceria seperti biasa daripada yang seperti sekarang ini, "kau kan teman Sakura, pasti kau tahulah." tambahnya lagi sembari menyeka keringat yang mengucur pada dahi putihnya.
Hinata bingung, perasaannya saja belum tuntas soal kemarin. Dan sekarang, sudah mau membantu menuntaskan perasaan orang lain. Bagaimana ini? Apa ditolak saja?
Dia kan bukan cupid yang bisa menyatukan pasangan yang sedang berselisih paham. Lagipula, memang apa yang bisa ia lakukan sekarang?
Lama Hinata terdiam sembari sedikit menunduk. Itu membuat Sasuke merasakan; kalau Hinata memang tidak bisa membantu. "Aku akan memberikanmu coklat sebagai imbalannya."
Hinata mengangkat kepalanya cepat atas perkataan Sasuke. Kenapa Sasuke malah berpikiran seperti itu; berpikiran kalau ia tadi diam sedang mengharap imbalan. "Bu-Bukan begitu..."
"Masih kurang? Memang kau mau apa?" wajah Sasuke sekarang sudah tampak bosan.
"A-aku tidak mau apa-apa."
"Ya sudah, terima saja."
"Ta-tapi a—" Hinata tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi karena sekarang ini matanya menangkap sosok Gaara yang berada di seberang lapangan sana. Ia mengernyit bingung sesaat. Degup jantungnya tiba-tiba bertalu dan yang pasti mukanya mulai memerah.
Kelihatannya lagi; Gaara sedang berjalan melangkah menujunya sekarang ini.
Oh, Kami... kenapa disaat seperti ini ada Gaara.
"Kenapa?" sayangnya Sasuke sedang tidak melihat Gaara yang berada di belakangnya. Ia hanya keheranan saja melihat pola tingkah Hinata seperti tersedat makanan.
Saat ini Gaara juga tidak tahu mau apa dia mendekat ke arah Hinata.
Cemburu mungkin, melihat pagi-pagi begini gadis itu sudah berhadapan dengan Sasuke. Apa Hinata sudah berpaling padanya dan tidak percaya padanya lagi?
Gaara semakin mendekat ke arah mereka berdua dengan tas sekolah yang masih dijinjingnya.
Hinata sudah tidak tahan lagi, kakinya lemas, ia pun jadi kehilangan keseimbangan dan secara perlahan tubuhnya mulai ambruk ke depan. Untung saja Sasuke refleks menangkap Hinata ke dalam dekapannya—sehingga tidak membuat Hinata jatuh mencium semen putih lapangan itu.
Sasuke nampak kebingungan, padahal ia harus latihan lagi tapi gadis ini malah pingsan sekarang, "Hinata?" mau tak mau Sasuke mengangkat tubuh Hinata ala bridal style. Ia masih memasang tampang datar sembari mulai melangkah berbalik menuju ruangan yang dapat membuat Hinata agak baikkan.
Tapi, disaat ia sudah sepenuhnya melangkah, ia malah mendapati Gaara yang sudah berada di hadapannya.
"Wah, wah, enak sekali ya di gendong Sasuke."
"Hinata tidak pura-pura pingsan kan?"
"Dia kan memang suka pingsan."
Sasuke masih diam di tempat dengan Hinata di pelukkannya. Ia juga tidak tahu kenapa ia masih berdiri di sini dalam beberapa detik. Belum lagi bisik-bisik yang tidak jelas dari sekitar sini. Gaara pun begitu, pria itu masih tetap berdiam diri memandang datar kepada Sasuke. Entah apa yang berada di pikiran mereka—mereka pun tak tahu.
Akhirnya Sasuke mau melangkah melewati Gaara dalam diam. Sebaiknya memang ia tidak pantas berlama-lama di sini. Dan sebaiknya ia segera membawa Hinata ke UKS.
.
.
"Ini minumlah," masih dengan seragam olahraga Sasuke menyodorkan sebotol air mineral yang baru saja di belinya di kantin sekolah—kepada Hinata yang sedang duduk di atas kasur sembari memegangi kepalanya.
"Masih terasa pusing," gumam Hinata sendiri, ia juga tidak tahu mengapa ia malah sempat pingsan sebentar tadi, untungnya pingsannya tidak berlarut-larut, hanya beberapa menit saja. Kemudian pandangannya mengarah pada Sasuke yang masih menyodorkan botol air mineral itu, "untukku?" tanyanya memastikan.
Sasuke berdecak, "kau terlihat parah."
"Makasih." Hinata mengambil alih botol tersebut dari tangan Sasuke. Ia hanya bisa menunduk sembari menggenggam botol itu—sedikit perasaan tidak enak yang ia rasakan pada Sasuke, karena pria emo itu tidak menelantarkannya di pinggir lapangan.
"Aku masuk kelas dulu." Sasuke akan melangkah berbalik, tapi langkahnya berhenti ketika seseorang memasukki ruangan ini. Gaara.
Pria emo itu tetap pada ekspresi cool-nya. Mau apa Gaara datang kemari di saat jam pelajaran? Apa dia bolos hanya untuk melihat keadaan Hinata?
Sesaat mata jade Gaara melirik ke arah Sasuke, kemudian ia memacu langkahnya kembali—mendekat ke arah tempat tidur Hinata.
Hinata hanya bisa diam. Ia tidak tahu ekspresi apa yang harus ia lontarkan pada Gaara. Ia gugup di tempat, pusing masih merajai dirinya, yang bisa ia lakukan hanya menahan rasa pusing yang sangat berat ini.
Dirasakan Hinata Gaara meraih pergelangan tangan kanannya. Sontak Hinata mengangkat wajah, "ayo, kembali ke kelas," ajak Gaara datar.
Hati Hinata mencelos takut, sungguh pria ini tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang, jelas-jelas ia sangat pusing, kenapa dipaksa masuk kelas? Gaara memang tidak pernah mengerti dirinya!
"A-aku," rasa nyeri di sekitar kepalanya terngiang lebih kuat dari sebelumnya, untuk menahannya saja, rasanya Hinata sudah tidak sanggup.
Diam-diam Sasuke menghela napas sebentar, "dia masih sakit, kau saja masuk ke kelas," kalau boleh memilih, Sasuke lebih suka masuk ke dalam kelas saja sekarang daripada berdiri di sini. Apalagi kalau harus ikut bicara.
"Jam pelajaran sudah dimulai," Gaara masih tetap memaksa Hinata masuk kelas dan mengacuhkan Sasuke. Belum lagi pegangan tangan Gaara pada Hinata semakin kencang.
Sedangkan Sasuke hanya bisa melihat saja—melihat reaksi Hinata.
"A-Aku masih pusing." Hinata berusaha melepaskan cengkraman tangan Gaara yang terbilang kuat itu. Kepalanya ia palingkan dari pria merah itu, "kau saja yang masuk kelas." kalau saja Gaara melihat wajah Hinata, tampak mata lavender-nya mulai berkaca-kaca.
Ternyata benar, Gaara tidak pernah mencintainya sedikitpun. Yang ada hanya kekerasan dan kepentingan dirinya. Ia tidak pernah memikirkan perasaan Hinata. Tidak pernah! Bahkan sedikitpun!
Dan selama ini apa? Hanya kebohongan yang membuat diri Hinata rela menaruh hati pada Gaara. Hatinya menjerit miris.
Gaara menarik tangannya kembali dan beralih pada saku kantong celananya, "jadi begitu ya? Kau lebih suka di sini." mata jade itu melirik Sasuke sebentar. "baiklah aku pergi." dengan melawan perasaan marahnya Gaara berjalan meninggalkan tempat itu. Ia keluar dari sana setelah ia membanting pintu ruangan UKS.
Kepala Hinata kembali berdenyut. Ia langsung memegangi kepalanya berharap semua akan kembali seperti semula.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke memastikan. Dan kenapa pula Sasuke sok perhatian pada gadis pemalu ini?
"Ti-tidak apa-apa," suara Hinata semakin melemah dari yang biasanya.
Sasuke hanya menghela napas pelan. Sudah satu mata pelajaran yang ia lewatkan pagi ini. "Kalau kau mau menangis, silahkan. Aku akan pergi dari sini."
Hinata sontak mengangkat kepalanya cepat, Sasuke ternyata sadar kalau ia ingin sekali menangis. Dan benar saja, air matanya jatuh sendiri tanpa dikendalikannya—di depan pria emo itu.
Yah, ia akui. Ia memang lemah. Gampang sakit hati dan cengeng.
"Menangis itu bukan berarti lemah, dengan menangis semua emosi akan reda."
Setelah mengatakan itu Sasuke berbalik melangkah keluar dari sana—meninggalkan Hinata sendiri di ruang UKS ini.
Hinata tercengang di tempat. Ternyata Sasuke tidak menganggapnya lemah. Untuk hari ini, sekarang Hinata dapat menarik senyumnya.
.
TBC
.
Bah, kenapa sampe sepanjang ini? Hehehe ^^v maaf ya kalau ada kesalahan.
Tadinya mau ditamatin di chap ini. Berhubung datanya kehapus jadi rada lupa deh, lagipula tadinya mau dihapus nih cerita #gak bertanggung jawab banget.
-thanks for reading-
