Author's note: Yosh! Kita kembali lagi dengan saya, Livia, si author gaje dengan fic nya yang gaje juga. Saya ucapin terima kasih buat yang udah R&R fic gaje ini.

Mungkin yang ini alurnya agak 'memaksa' dan semakin nggak excellent, soalnya chapter yang ini sempet ngestuck.

Langsung dimulai aja ya.. Soalnya saya kehabisan kata-kata buat ngisi author's note nya.. *plak*


Tekken © Namco

SWITCH! © Livia Hederstein

Warning: AU, OOC, gaje, POV bisa berubah sewaktu-waktu

Don't like, don't read


CHAPTER 2: SWITCH!


Violet's POV

"Karena the show must go on!" Kami menyahut bersamaan sambil berhighfive, tidak mempedulikan orang-orang yang cengo melihat kami.

"Aku sudah tak sabar lagi untuk nge-dance sepuasnya!" Kata Lee dengan berbinar-binar.

"Dan aku juga bisa mengerjakan matematika dengan bebas!" Sambungku.

Lalu kami teringat sesuatu.

"Lee, kamu mau beli mie juga kan?" Tanyaku.

"Oh, iya. Aku lupa." Lee menepuk jidatnya. "Saking asyiknya ngobrol sampai lupa."

Aku tertawa kecil.

"Aku makan di kostmu saja." Katanya. "Sekarang, kutunjukkan caranya untuk menutupi perbedaan kita."

-oOo-

Setelah keluar dari kedai mie Marshall Law, Lee dan aku pergi ke beberapa tempat untuk membeli hairspray dan lensa kontak sesuai warna rambut dan mata kita masing-masing. (Lensa kontak untukku pastinya untuk orang yang rabun jauh, yang ukurannya sesuai dengan kekuatan lensa pada kacamataku). Tak lupa, Lee juga membeli kacamata berbingkai violet yang tidak ada ukurannya.

"Di mana kita pakai semua ini?" Tanyaku.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada SMS.

From: Sergei

Violet, lama sekali kau! Aku sudah kelaparan menunggu mie ayamnya.. :(

Oh ya. Aku pergi dulu sebentar. Mau fotokopi.

Kunci kamar kita di tempat biasa.

"Lee, Aku punya ide!" Kataku sambil menjentikkan jari.

"Ya?"

"Kita pakai semua ini di kamar kostku saja! Teman sekamarku sedang pergi!"

"Excellent!" katanya, sambil mengacungkan jempol.

-oOo-

Kami sudah sampai di kost tempat aku tinggal, lalu melangkahkan kaki menuju kamarku. Pintunya masih dikunci, berarti Sergei belum pulang. Aku sudah tahu 'tempat biasa' yang dimaksud Sergei, yaitu di bawah keset. Aku mengambil kunci dan membuka pintu.

"Kamarmu bagus juga." Kata Lee kagum.

"Biasa saja kok." Balasku.

Lee melihat-lihat meja belajar Sergei, dan dia mengambil dan melihat-lihat setumpuk benda berbentuk persegi yang paling tidak kusukai.

"CD lagu dancenya banyak juga. Oh! Ternyata yang Michael Jackson juga ada!" Katanya.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala. "Lee, lihat-lihatnya nanti saja. Sekarang cepat kita pakai hairspray dan lensa kontaknya, setelah itu kita bertukar pakaian, dan bertukar informasi."

"Iya, iya deh. Maaf, Purple."

"Namaku Violet!" Ralatku.

"Ah iya, maksudku Violet."

-oOo-

Beberapa menit kemudian…

Aku sudah berpenampilan seperti Lee, dan begitu pula sebaliknya. Kami tidak mempercayai penampilan kita yang begitu mirip satu sama lain.

"Kamu begitu mirip denganku, maksudku dengan penampilan asliku." Kata Lee.

"Dan kau juga. Tidak ada yang mengira kalau kamu adalah Lee Chaolan." Balasku.

"Jadi, sampai kapan kita bertukar tempat?" Tanyanya.

"Sampai misi kita selesai."

"Baik, mulai hari ini, aku, Lee Chaolan, akan menggantikan posisi Violet sampai misi kita selesai."

"Dan mulai hari ini, aku, Violet, akan menggantikan posisi Lee Chaolan sampai misi kita selesai."

"SWITCH!" Kami menyahut bersamaan, disusul dengan kepalan tangan kami yang beradu.

Selanjutnya, kami mulai bertukar informasi. Mulai dari sekolah, hingga panggilan terhadap orang-orang di sekitar kami.

"Kamu sekolah di Mishima High School? Keren! Itu sekolah paling elite di Tokyo kan?" Aku berdecak kagum.

"Hmm.. bisa dibilang begitu. Kebanyakan muridnya orang kaya."

"Kamu anak kepala sekolahnya kan? Berarti kamu juga kaya!"

"Ah, tidak, biasa saja. Sebenarnya, aku ini anak angkat. Aku diadopsi oleh keluarga Mishima saat aku berumur sekitar tiga tahun."

"Oh. Begitu. Ngomong-ngomong pekerjaan ibumu apa?"

"Aku tidak tahu. Karena beliau sudah meninggal beberapa hari setelah aku diadopsi." Ekspresi wajah Lee berubah.

"Oh, maaf."

"Tidak, tidak apa."

"Oh ya, bukankah tadi kamu bilang kalau kamu memanggil kakakmu dengan langsung menyebut nama?"

"Iya, lalu?"

"Tidak dengan sebutan 'nii-san' atau apa?"

"Aku dan Kazuya hanya beda setahun. Dia baru kuliah semester satu."

Aku hanya ber-oh ria.

Kemudian, Lee menggambar denah rumahnya dan jalan dari rumah ke sekolahnya. Begitu juga aku, menggambar jalan dari kost ke sekolah. Untung saja aku tahu jalan ke rumah Lee dari sini, jadi nanti aku yakin aku tidak tersesat. Berikutnya, kami menukar ponsel dan dompet kami.

Lee's POV

"Barusan aku kabur dari rumah, jadi nanti setelah sampai, kamu harus memanjat pagar. Di balkon mungkin masih ada selimut yang menggantung. Kamu naik ke kamarku menggunakan itu." Jelasku.

"Apa? Aku harus memanjat?" Katanya kaget.

"Kamu pasti bisa, kok." Aku menepuk bahunya.

"Baiklah." Jawabnya mantap.

"Oh ya. Tolong bawakan ranselku juga. Kembalikan semua pakaiannya di lemari. Oh, tunggu."

Aku membuka ransel dan mengambil topi fedoraku.

"Semoga berhasil, Violet! " Kataku, memberi semangat untuknya.

"Dan kamu juga, Lee!"

Blam! Pintu sudah ditutup. Sekarang aku melompat ke ranjang Violet dan mulai tidur-tiduran di sana. Ternyata ranjangnya empuk juga!

Hei, bagaimana sih aku ini. Sekarang bukan saatnya untuk tidur-tiduran. Tapi mengamankan hairspray dan tempat lensa kontakku dulu. Bagaimana kalau sampai Sergei, teman sekamar Violet menemukan benda-benda itu? Bisa-bisa identitas asliku ketahuan.

Aku tahu tempat yang aman. Yaitu di laci tempat Violet menyimpan lembar-lembar soal matematika dari kursusnya. Pasti ada di suatu tempat. Dan aku juga yakin, Sergei tidak pernah dan tidak akan membukanya. Tapi di mana ya? Kubuka satu per satu laci di meja Violet dan akhirnya kutemukan di laci paling bawah.

"Hmm.. 100, 100, 100, 100, 100. Yang ini juga 100. Pintar sekali, tidak seperti aku." Gumamku sambil melihat PR matematika Violet yang sudah dinilai. Setelah itu aku memasukkan hairspray dan tempat lensa kontakku.

Oke, kedua benda itu sudah diamankan. Sekarang saatnya nge-dance! Kusetel CD Michael Jackson milik Sergei. Dan gerakan-gerakan khas MJ yang sudah kupelajari di Youtube sudah kulakukan. Tak lupa, topiku juga kupakai, dong. Biar lebih terasa seperti MJ.

-oOo-

Ckrek! Pintu kamar dibuka. Aku yang sedang asyik nge-dance, kaget. Teringat olehku saat ayah masuk tiba-tiba dan menyuruhku mengerjakan PR tadi siang. Tapi, yang jelas ini bukan ayah, tentu saja. Sosok ini tinggi tegap, berambut panjang sebahu dan dikuncir sedikit ke belakang. Kulitnya agak pucat dan di bibirnya terdapat goresan luka. Ia tercengang melihatku.

"Violet? Aku tidak salah lihat?" Kata orang itu.

"Sergei Dragunov?" Ups, aku keceplosan. Gaya bicaraku yang tadi seperti orang yang baru mengenal satu sama lain. Memang sih, aku baru kenal. Tapi Violet kan sudah lama mengenal Sergei.

"Kamu hari ini berbeda. Kamu nge-dance!" Sergei terlihat kagum padaku. "Dan baru saja kamu menyebut namaku seperti orang yang baru kenal saja." Nada bicara Sergei berubah.

Aku tertawa kecil.

"Dari mana kaudapatkan topi itu?" Tanya Sergei.

"Tadi setelah aku baru pulang dari kursus, aku membeli mie , lalu aku membeli topi ini." Bohongku.

Sergei mengangguk. "Oh, jadi kamu menyukai Michael Jackson? Bukankah setahuku kamu lebih suka matematika?"

"Matematika itu ternyata membosankan, Sergei. Dan aku suka sekali Michael Jackson." Akhirnya, aku bisa berkata jujur. Semoga Sergei tidak curiga.

"Kalau begitu, kamu mau kan jadi anggota timku untuk lomba dance antar kelas?"

"Tentu saja!"

"Kamu bisa hip hop?"

"Bisa, bisa." Kataku sambil mengangguk-angguk. "Tapi aku lebih suka MJ style!"

"Kalau begitu, kita padukan hip hop dengan MJ style, bagaimana, Violet?"

"Excellent!" kataku sambil mengacungkan jempol.

Sergei mengernyit heran. "Violet, tumben sekali kamu mengatakan itu? Aku tidak pernah dengar kau berkata itu sebelumnya."

Ups, aku keceplosan lagi, untuk kedua kalinya. Kata 'excellent' sudah menjadi ciri khasku dan aku sudah kebiasaan mengatakannya.

'Ingat Lee, kamu adalah Violet, kamu adalah Violet, kamu bukan Lee Chaolan.' batinku

"Errr.. mungkin karena hari ini aku terlalu bersemangat, yah." Jawabku asal.

"Ingat, besok kita mantapkan gerakan yang tadi siang. Jangan kaku lagi. Bagaimana?"

Hah? Gerakan tadi siang? Memangnya gerakannya seperti apa?

"Sergei, mengenai gerakan tadi siang, aku lupa gerakannya." Kataku tiba-tiba.

"Lupa? Oh aku tahu, pasti kamu lupa gara-gara mempelajari ilmu dance ya? Jangan khawatir, besok akan kuulang lagi."

Aku mengangguk. Baguslah kalau begitu.

"Oh ya, mienya dimakan yuk. Aku sudah lapar." Kata Sergei.

"Aku juga sudah lapar. Ayo kita makan." Kataku sambil mematikan compo milik Sergei dan membuka bungkusan mie yang baru saja dibeli.

"Itadakimasu!" Kata kami bersamaan.

"Hari ini kamu memang benar-benar bersemangat, Violet." Sergei tersenyum.

Jadi seperti ini wajah Sergei kalau tersenyum? Tadi Violet bilang kalau Sergei itu orangnya jarang tersenyum, apalagi tertawa. Dan lagi, Sergei terlihat lebih ganteng kalau tersenyum.

Hmm… kira-kira bagaimana keadaan Violet ya? Apakah dia berhasil dengan penyamarannya sebagai aku?

-oOo-

Violet's POV

Akhirnya, usahaku selama beberapa menit yang penuh perjuangan sampai keringatku terkuras untuk memasuki rumah elite Lee (jelas saja, dia kan anak kepala sekolah internasional) secara diam-diam tidak sia-sia. Aku sudah sampai di kamar Lee yang cukup besar, yang dipenuhi dengan poster Michael Jackson di tiap sudutnya. Tak lupa aku mengambil kembali selimut yang masih tergantung di balkon dan melipatnya kembali dengan rapi di atas ranjang. Lalu aku meletakkan semua baju Lee yang ada di dalam ransel ke dalam lemarinya. Hairspray dan kacamataku kutinggal di dalam ransel, toh keluarga Lee tidak membukanya.

Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah lembaran soal matematika yang ada di atas meja belajar Lee. Masih kosong, belum ada jawabannya. Inilah kesempatanku untuk mengisinya. Sebenarnya aku juga bingung, soal-soal ini sebenarnya cukup mudah, tetapi mengapa Lee tidak bisa mengerjakannya?

-oOo-

Beberapa menit kemudian..

Seseorang dengan rambutnya yang unik memasuki kamar. Ia adalah Lars, adik Lee yang dua tahun lebih muda darinya, juga dariku.

"Lee nii-san, waktunya makan malam." Katanya.

"Iya." Sahutku singkat.

"Lee nii-san sedang apa?" Lars berjalan mendekatiku, melihat apa yang kukerjakan.

"Lee nii-san sudah mengerti semua?" Lars bertanya lagi.

"Sudah. Setelah kupelajari ternyata ini mudah, ya."

"Apa? Jarang sekali Lee nii-san bilang begitu! Ayo kita perlihatkan hasil kerjamu pada ayah dan Kazuya nii-san!

Aku hanya tersenyum.

-oOo-

"Kalau Lee yang mengerjakannya sepertinya mencurigakan." Kata Heihachi.

"Biar kuperiksa pakai kalkulator saja." Usul Kazuya.

.

"Lee, ini betul semua! Kenapa kamu tak mau menunjukkan pada kami dari dulu?" Tanya Kazuya.

"Apa? Betul semua? Apakah kamu yakin, Kazuya?" Tanya Heihachi tak percaya.

" Iya, ayah. Sudah kuperiksa menggunakan kalkulator sampai lima kali."

"Err.. sebenarnya aku juga mengikuti kursus." Kataku jujur.

"Kursus? Bagus itu! Ayah yakin kalau kamu mengikuti kursus, peluang kamu dalam menang lomba matematika se-Tokyo semakin besar!"

Aku tersenyum.

"Bagaimana kalau ditambah latihan dari ayah?" Tawar Heihachi.

"Aku mau itu!" Jawabku berapi-api.

"Ngomong-ngomong, Lee, bagaimana dengan kegiatan nge-dancemu?" Tanya Kazuya.

"Hmm.. itu aku tunda dulu saja. Kalau dipikir-pikir matematika lebih menyenangkan."

"Jadi kamu masih mengidolakan Mike Tyson atau tidak?" Tanya Heihachi.

"Err.. mungkin maksud ayah Michael Jackson?" Ralatku.

"Wah, biasanya kalau ayah salah menyebutkan nama Michael Jackson, biasanya Lee nii-san suka protes begini: 'Michael Jackson, ayah! Nama orang jangan diganti-ganti!' Lars menirukan suara Lee.

Aku tertawa kecil, lalu menjawab pertanyaan Heihachi, "Tidak seberapa."

"Begitu ya. Kalau begitu ayo kita makan. Nanti masakannya keburu dingin." Kata Heihachi.

-oOo-

Seusai makan malam, aku masuk kamar. Ponselku berbunyi. Ada SMS.

From: Lee

Hei, Violet! Bagaimana? Penyamaranmu berhasil? :D

.

To: Lee

Sepertinya begitu, Lee. Soal matematika yang belum kau sentuh di meja belajarmu sudah kukerjakan. Seisi rumah kaget melihat jawabanku benar semua.

Kau tahu, Kazuya sudah memeriksa hasil pekerjaanku dengan kalkulator sampai lima kali. :P

Bagaimana dengan penyamaranmu?

.

From: Lee

Kau mengerjakannya? Wah, terima kasih lho. Itu sebenarnya PR matematikaku yang diberikan guruku dua hari yang lalu dan dikumpulkan besok.

Wajar saja kalau Kazuya memeriksanya sampai segitu. Karena posisimu adalah sebagai aku. Tidak biasanya aku yang payah dalam matematika bisa mengerjakannya sampai seratus persen benar.

Soal penyamaranku sebagai kamu, sepertinya semuanya lancar mengalir seperti air. Dan Sergei juga kaget melihatku nge-dance.

Ok, good luck & good night, my twin! Ingat, jangan tidur terlalu malam, karena besok harus sekolah :P


To be Continued…


Author's note: Ada yang tahu style nge-dancenya MJ nggak? Karena saya nggak tau namanya, jadi saya tulis aja 'MJ style' :P

Soal SMSnya Lee & Violet di bagian akhir, jangan tanya saya itu pake ponsel jenis apa, yang bisa ngetik SMS dengan huruf sebanyak itu. Karena saya sendiri juga nggak tahu. *gimanasih*

Saya nggak tau Lee itu diadopsinya umur berapa. Saya cuma ngarang

Dan lagi, rasanya nih fic makin lama makin gaje aja nih.. Buat yang mau R&R saya ucapkan terima kasih.

Sampai jumpa di chapter 3!