Author's note:
Wah, menurut saya chapter yang ini lebih panjang dibandingkan ama yang lain. Yah, semoga aja nggak bosen ya bacanya.
Chapter yang ini juga sempet nge-stuck. Jadi ya… mungkin agak 'memaksa' lagi seperi chapter 2 nya.
Tekken © Namco
Switch! © Livia Hederstein
Warning: AU, OOC, gaje, POV bisa berubah sewaktu-waktu
Don't like, don't read
Chapter 3: THE D-DAY
Lee's POV
Inilah hari pertamaku menginjakkan kaki di sekolah Violet, Tokyo International High School. Jujur, kalau dibandingkan dengan sekolahku, tentu saja lebih elite sekolahku. Oh ya, Violet itu kelas dua belas berapa ya? Kemarin dia sudah bilang, tapi aku lupa.
"Hei. Melamun saja. Ayo masuk kelas!" Sergei menepuk punggungku.
Oh ya! Violet dan Sergei kan sekelas. Tanya dia saja!
"A..ano Sergei, kelas kita dimana ya?" Tanyaku.
Sergei terperanjat mendengar perkataanku. "Hah? Bagaimana kamu bisa lupa dimana kelas kita, Violet? Kelas kita kan kelas 12-3."
"Ah, ya. Itu dia, kelas 12-3!"
"Omong-omong, kamu sakit ya?" Sergei memegang keningku.
"Iya, Sergei. Sepertinya aku agak pusing tapi aku tidak demam kok." Bohongku sambil menepis tangan Sergei.
"Kalau begitu cepat kita ke UKS. Oh ya, jam pertama matematika lho."
Apa? Wah, untung aku berpura-pura sakit sehingga aku tidak bisa mengikuti pelajaran laknat ini.
"Nanti pinjam catatan ya, Sergei." Kataku.
"Orang pintar sepertimu seharusnya tidak perlu catatan." Guraunya.
Yang benar saja! Bagaimana kalau ada ulangan? Otakku kan tidak seperti otak Violet yang seperti Einstein itu!
"Seenaknya saja!" Kataku.
'Huh, pintar apanya? Kalau pintar bohong, memang benar.' Batinku.
"Iya, iya."
-oOo-
"Selamat pagi." Kata Sergei sopan begitu memasuki ruang UKS.
"Selamat pagi, Sergei." Kata seorang dokter UKS, yang bernama dokter Michelle, setelah kubaca papan namanya. "Ada masalah?"
"Begini, dokter, Violet sepertinya tidak enak badan." Sergei menunjukku.
"Uhuk. Uhuk." Aku berpura-pura batuk.
"Oh begitu. Bisakah saya periksa sebentar?" Dokter Michelle menyiapkan stetoskopnya.
"Tidak usah, dokter!" Kataku cepat-cepat. "Sepertinya kepalaku agak pusing, dan sedikit batuk. Uhuk.. uhuk.."
"Baiklah kalau begitu, berbaringlah hingga kau merasa lebih baik." Kata dokter Michelle lembut.
"Terima kasih, dokter."
-oOo-
Suasana di UKS terasa menyenangkan. Aku dan Dokter Michelle mengobrol selama… Sebentar, kucek arlojiku. Selama dua jam. Kami mengobrol tentang kehidupan kami masing-masing (yang sebagian besar kukarang-karang ceritanya), dan tak terasa sekarang adalah jam istirahat. Lalu terdengar pintu diketuk.
"Masuk." Kata dokter Michelle.
Terlihat Sergei muncul di ambang pintu.
"Halo Sergei, ada apa?" Tanya dokter Michelle.
"Aku ingin bicara sebentar dengan Violet."
"Denganku?" Aku tersentak kaget.
"Ya. Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah lebih baik?"
"Err.. sepertinya sama saja seperti tadi pagi." Aku berbohong lagi, untuk tidak mengikuti pelajaran.
"Begitu. Kalau begitu latihan untuk lomba dance diundur saja ya." Sergei menuju ke pintu, hendak keluar.
Apa? Wah, kalau begitu seharusnya aku tidak perlu berbohong!
"Sergei!" Tanpa sadar, aku memanggilya dengan suara cukup keras. Kulihat dokter
Michelle hampir terjatuh dari kursi.
"Ya, Violet?" Sergei menoleh.
"Aku merasa lebih baik sekarang. Aku tidak sakit lagi."
"Kau yakin?" Sergei menatapku dengan curiga.
"Iya. Seratus persen yakin!"
"Baguslah kalau begitu, Violet. Kamu bisa mengikuti pelajaran sekarang. Selamat belajar!" Kata dokter Michelle.
Aku dan Sergei meninggalkan ruang UKS.
-oOo-
Violet's POV
Suasana kelas 12-3 (Inilah suatu kebetulan, ternyata kelas Lee dan kelasku sama!) hiruk pikuk. Semuanya memperdebatkan tentang PR yang diberikan Lei-sensei, guru matematika yang menjadi wali kelas Lee.
"Lee, PR matematika yang diberikan Lei-sensei susah ya?" Kata teman sebangkuku, Miguel (setelah kubaca name tag pada seragamnya) begitu aku menaruh tasku di sebelahnya.
"Err, ya, susah sekali sehingga aku tidak bisa tidur setelah itu." Bohongku. Aku tidak mau membuat Miguel kaget. Karena selama ini yang dia tahu kan Lee tidak bisa matematika.
"Tega sekali Lei-sensei." Kata Miguel.
Aku mengangguk, berpura-pura setuju.
"Kembali ke bangku kalian. Pelajaran dimulai." Sahut sebuah suara dari seorang pria
berambut hitam panjang, yang dikucir ekor kuda yang muncul dari pintu kelas.
"Keluarkan kertas ulangan kalian. Hari ini kita ulangan mendadak." Kata Lei-sensei.
"Oh tidak!" Kata Miguel sambil menepuk jidatnya.
"Sebelum itu, kumpulkan PR kalian." Kata Lei-sensei lagi.
Seisi kelas mengumpulkan buku mereka ke meja. Setelah semua siswa duduk tenang di bangkunya masing-masing, Lei-sensei menuliskan beberapa deret angka di papan tulis.
"Kerjakan. Waktunya satu jam pelajaran." Lei-sensei berkata, setelah itu duduk dan memeriksa pekerjaan rumah kami.
Satu jam pelajaran sama dengan empat puluh menit. Mungkin aku bisa menyelesaikannya, dengan berbekal 'jurus' dari kursusku.
-oOo-
"Waktunya habis. Kumpulkan pekerjaan kalian!" Perintah Lei-sensei setelah empat puluh menit penuh ketegangan ini.
Kelas yang semula sunyi menjadi hiruk pikuk lagi.
"Waaaa… belum selesai, sensei!" celetuk seorang siswa.
"Waduh, tanggung , sensei, kurang satu nomor lagi nih."
"Saya minta tambahan waktu 15 menit, sensei!"
"Jangan! 30 menit saja!"
"Satu jam saja, Lei-sensei!"
"DIAM!" Teriak Lei-sensei."Aku tidak peduli apa alasan kalian. Kumpulkan pekerjaan kalian. SEKARANG!"
Dengan berat hati,para siswa mengumpulkan pekerjaan mereka.
Lei-sensei berdeham, lalu berkata, "Karena hari ini pelajaran matematika berlangsung selama dua jam pelajaran, maka sekarang saya akan memeriksa langsung PR dan pekerjaan kalian tadi. Kalian buka buku paket halaman 135 dan kerjakan."
Seisi kelas mengeluarkan buku paket dan mengerjakan latihan pada halaman yang dimaksud.
Beberapa menit kemudian Lei-sensei memanggil nama kami, untuk membagikan hasil ulangan dan PR.
"Miguel Caballero Rojo." Potong Lei-sensei.
"Aduh, gawat." Kata Miguel pelan.
"Miguel, saya kecewa. PR mu banyak sekali salahnya. Ulangan tadi banyak yang tidak
kauisi. Belajar lebih giat lagi!" Kata Lei-sensei.
Setelah kembali ke tempat duduk, Miguel memasang raut muka kecewa.
"Err.. jangan sedih, Mig. Suatu saat kamu pasti bisa." Kataku, memberi motivasi.
"Semoga saja." Katanya.
"Lee Chaolan." Panggil Lei-sensei.
Aku maju menghampiri meja Lei-sensei.
"Lee, saya ingin bertanya, kamu nyontek siapa?" Lei-sensei bertanya penuh kecurigaan.
"Tentu saja saya mengerjakannya sendiri, sensei."
"Dan PR mu, siapa yang mengerjakannya? Ayahmu?"
"Sa.. saya juga mengerjakannya sendiri, sensei."
Separah inikah Lee, sehingga Lei-sensei mencurigaiku.
"Kalau sensei tidak percaya, coba sensei beri saya satu soal, lalu saya akan mengerjakannya di papan tulis, supaya sensei percaya." Kataku spontan. Kenapa tiba-tiba aku berkata seperti ini?
"Baik, kalau itu yang kamu minta." Lei-sensei bangkit berdiri, mengambil spidol dan menulis beberapa deret angka di papan tulis.
Seusai menulis, Lei-sensei berkata lagi, "Sekarang buktikan bahwa kamu mengerjakan PR dan ulanganmu sendiri, Lee."
Aku mengambil spidol yang diberikan Lei-sensei dan menjawab soal-soal di papan tulis. Setelah mengerjakannya aku menaruhnya di meja Lei-sensei dan duduk kembali ke tempatku.
Lei-sensei memeriksa jawabanku. Lalu berkata, "Lee, jawabanmu benar. Maafkan atas kecurigaan saya."
"Ternyata ayahmu tidak salah mendaftarkanmu ke lomba matematika se-Tokyo." Lei-sensei berkata lagi, dengan pelan.
Seisi kelas bertepuk tangan dan memberiku selamat atas kerja keras dari hasil belajarku.
"Oh ya. Perlu saya informasikan, untuk lomba matematika se-Tokyo dua minggu ke depan, sekolah kita sudah mempunyai satu perwakilan." Kata Lei-sensei. "Dan dia berasal dari kelas kita."
Seisi kelas mulai penasaran dengan anak yang dimaksud tersebut.
"Perwakilan dari sekolah kita adalah… Lee Chaolan. Ayahnya sudah mendaftarkannya." Kata Lei-sensei.
Seisi kelas berdecak kagum. Mereka semua memberiku semangat.
-oOo-
Lee's POV
Tak terasa sekarang sudah satu hari sebelum hari H. Berarti aku dan Violet sudah bertukar tempat selama tiga belas hari, dan kurasa tak ada seorangpun yang mencurigai penyamaran kami.
"Semakin hari gerakanmu semakin bagus, Violet." Puji Sergei.
"Terima kasih." Balasku.
"Sekarang kuingatkan lagi, pada saat masuk lagu hip hop, lepaskan baju luarmu dan topimu. Mengerti?"
"Mengerti." Jawabku mantap.
"Baiklah. Sekarang kita istirahat dulu. Nanti kita akan lanjutkan lagi." Kata Sergei sambil meneguk air minum.
"Oh ya, Violet." Panggil Sergei. "Setahuku dulu kamu pernah mencari informasi tentang lomba matematika se-tokyo ya?"
"Ya. Lalu?" Sebenarnya sih tidak, tapi aku tahu dari ayah, Kazuya dan Lars.
"Kalau tidak salah, lombanya juga besok kan?"
Aku mengangguk.
"Apakah kamu tidak keberatan jika kamu ikut lomba dance?"
"Sama sekali tidak keberatan. Kenapa tiba-tba kamu menanyakan itu, Sergei?"
"Tak apa. Iseng saja. Bagaimana kalau sekarang kita lanjutkan latihannya?"
"Oke!"
-oOo-
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul sepuluh tepat. Kami sudah menggunakan tiga jam untuk berlatih ditambah istirahat. Rasanya hari ini sangat menyenangkan juga agak menegangkan. Dua minggu kurang satu hari tanpa matematika rasanya asyik. Tapi ulangan matematikaku dua hari lalu mendapat nilai merah. Aku sempat dipanggil guru. Tapi untung saja aku sudah sedia alasan 'terlalu fokus pada lomba dance'
"Violet, kita harus tidur sekarang. Besok kita harus bangun pagi, supaya kita bisa tampil maksimal." Kata Sergei begitu dia keluar dari kamar mandi. Lalu dia melompat ke ranjangnya dan mematikan lampu.
Aku memejamkan mata. Tapi aku tidak benar-benar tidur. Aku menunggu hingga Sergei sudah benar-benar tidur. Segera kuambil ponselku dan menghubungi Violet.
"Halo." Sahut suara di seberang, yang mirip dengan suaraku.
"Violet, bagaimana persiapanmu? Besok adalah hari terbesar bagi kita!" Kataku dengan suara agak pelan supaya tidak membangunkan Sergei.
"Aku mengerjakan soal dari kursus, ditambah lagi dari ayahmu. Tapi aku enjoy dalam mengerjakannya."
"Dasar pecinta matematika." Kataku.
Violet tertawa. Lalu berkata, "Bagaimana denganmu, Lee?"
"Aku juga menikmatinya. Nge-dance bersama Sergei itu asyik."
"Oh ya, sekarang Sergei sedang apa?"
"Tidur. Sudah lelap."
"Pantas saja suaramu pelan. Ayahmu juga baru saja menyuruhku tidur. Untung saja kamu punya kamar pribadi, jadi aku bisa kapan saja menghubungimu."
"Tidak, kalau Sergei sedang di sebelahku. Piala lomba akan kumenangkan untukmu."
"Terima kasih, Lee. Aku juga akan memenangkan piala lomba untukmu juga."
"Ya sudah, sebaiknya sekarang kita tidur, supaya besok hasilnya lebih maksimal. Selamat tidur, Violet."
"Selamat tidur, Lee."
-oOo-
"Itulah tadi penampilan dari peserta dengan nomor undian enam dari kelas 11-4. Keren sekali kan? Sekarang mari kita sambut, peserta dengan nomor undian tujuh dari kelas 12-3!" Kata si MC dangan antusias.
Tepuk tangan bergemuruh mengiringi langkahku dan Sergei menuju panggung.
"Baiklah, kalian sudah siap?" Tanya MC, tanpa menggunakan mike.
Kami berdua mengangguk. MC memberi tanda kepada penata audio. Kami sudah berada di posisi masing-masing.
Lagu dari Michael Jackson mulai mengalun. Kami menggerakkan tubuh kami, sesuai dengan hasil latihan kami selama dua minggu. Berbagai macam gerakan seperti moonwalk, dan lain lain kami gerakkan.
Sekitar dua menit kemudian lagu dari MJ telah selesai, digantikan dengan lagu hip hop. Sesuai yang Sergei katakan, pada saat masuk lagu hip hop kami melepaskan baju luar dan topi kami, yang sesudah itu disambut tepuk tangan dari penonton.
Begitu musik sudah benar-benar berhenti. Kami menuju ke tengah panggung dan membungkukkan badan. Penonton secara antusias bertepuk tangan.
"Oke. Itulah dia penampilan peserta dengan nomor undian tujuh dari kelas 12-3. Sungguh perpaduan yang hebat antara MJ style dan hip hop style. Sekarang mari kita lihat penampilan peserta dengan nomor undian delapan dari kelas 12-1!"
-oOo-
Saat pengumuman kejuaraan pun tiba..
"Juara harapan dua, dengan nilai 1287 diraih oleh peserta nomor undian sebelas dari kelas 10-2!" Kata MC.
Setelah itu peserta yang dimaksud naik ke panggung diiringi dengan tepuk tangan yang bergemuruh.
Tak terasa sekarang tibalah saatnya MC membacakan juara pertamanya.
"Juara pertama, dengan nilai 1596 diraih oleh peserta nomor undian berapa ya?" Kata MC, membuat yang lain penasaran.
Semua meneriakkan peserta favorit mereka. Kudengar ada yang meneriakkan nomor tujuh, berarti penampilan kami sudah sukses menjadi favorit warga sekolah.
"Selamat kepada peserta dengan nomor undian tujuh dari kelas 12-3 karena telah menjadi juara satu lomba dance antar kelas!" Teriak MC dengan semangat.
Aku dan Sergei bersorak kegirangan, berpelukan dan berhigh five. Lalu kami ke atas panggung.
Setelah MC menyerahkan piala kepada kami, MC berkata melalui mikenya, "Untuk juara satu lomba dance, diharap mempersiapkan lagi untuk tampil dua bulan ke depan dalam rangka menyambut hari ulang tahun sekolah."
Aku terdiam sejenak mendengar perkataan MC tersebut. Itu artinya… Aku harus bertukar tempat dengan Violet lebih lama lagi, tepatnya dua bulan.
…To be Continued…
Author's note:
Unas sudah selesai! Akhirnya… Saya doain, yang kelas 12, 9 dan 6 semuanya lulus 100%! Amin.
D-Day nya Violet di chapter berikutnya. Soalnya ini udah kepanjangan (10 halaman lho!). Kalo saya tulis lagi di sini, ntar panjangnya melebihi Tembok China (lho?) dan lagi, saya udah memprediksikan bahwa kalo chapter berikutnya nggak ditambahin D-Day nya Violet, bakalan lebih pendek jadinya.
Terima kasih banyak buat mbak (?) J. K. Rowling. Karena adegan Lei pas nyuruh diam sekelas setelah ulangan mendadak itu terinspirasi dari adegannya Professor Severus Snape pas lagi marahin Harry (di novel Harry Potter 2 kalo gak salah)
Buat semua yang udah nyaranin siapa yang jadi gurunya Lee, makasih banyak ya. Kenapa saya milih yang galak tapi perhatian? Temukan jawabannya di chapter berikutnya.
