Alfred membuka matanya saat dia merasakan sinar matahari pagi menyusup masuk dari sela-sela korden kamarnya. dia bangkit dan meraba-raba meja di sebelah ranjangnya, mengambil kacamatanya, dan memandang jam kecil di mejanya.

"Jam 08.00 pagi…"

"ANJRIT! UDAH JAM SEGINI!" serunya. Dia langsung kalang-kabut bangkit dari ranjangnya dan langsung memjeblak pintu kamarnya hingga terbuka. Adiknya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan sampai terlonjak kaget.

"A…ada apa, kak Alfred?" tanya Matthew, adik Alfred melihat keadaan kakaknya yang rusuh pagi-pagi begitu.

"Ada apa? ADA APA?" kata Alfred histeris. "Ini sudah jam 08.00, kenapa gak bangunin aku? Aku bisa telat nih, mana hari pertama semester baru lagi…"

"Kak Alfred…"

"Ah…image hero yang susah payah kubangun hancur cuma gara-gara telat…mana ada hero yang telat…" kata Alfred.

"KAK ALFRED!" seru Matthew.

Alfred langsung terdiam.

"Ngigau ya? Ini baru jam 06.30 tahu!" seru Matthew sambil menunjuk jam dinding dan memang, jarumnya baru menunjukkan angka 06.30.

"Eh, tapi…" Alfred kembali berlari ke kamarnya dan menyambar jamnya, menyadari kalau posisi jarumnya tidak berubah sedikitpun dalam beberapa menit tadi…alias, jamnya mati.

Dia kembali keluar dari kamarnya sambil senyum-senyum gaje. "Hehe, maaf…jamku mati…" katanya.

Matthew cuma menggelengkan kepalanya. "Ya sudahlah, cuci muka dulu sana, baru habis itu sarapan" katanya.

Alfred pun cuma mengangguk dan berjalan ke arah kamar mandi. Di sana dia mencuci muka dan menggosok giginya. Setelah selesai, dia kembali ke kamarnya untuk memakai seragam sekolahnya.

Dia adalah murid kelas dua di SMU Hetalia, SMU yang mulai hari ini, juga dimasuki oleh adiknya, Matthew Williams.

Ngomong-ngomong soal adiknya itu…

Dia berjalan keluar dari kamar tidurnya dan melihat adiknya sedang memegang sebuket bunga mawar putih…bunga yang indah…tapi ekspresi sedih yang ada di wajah adiknya jelas menandakan bunga itu bukan untuk sebuah acara bahagia…

"Buat apa bunga itu?" tanya Alfred sambil duduk di meja makan dan mulai memakan cheese burgernya.

Matthew tersenyum. "Aku mau taruh bunga ini di makam Gilbert…soalnya…hari ini kan…setahun sejak kami…jadian…" katanya.

Alfred mengamati adiknya. Senyum sedih yang terpasang di wajah adiknya membuat hatinya sakit. Dulu, dia…Matthew adalah anak yang manis, walaupun pemalu, tapi dia selalu bersikap hangat dan baik. Teman-temannya juga menyayanginya, bahkan Lovino, yang terkenal jutek dan galak, sedikit melunak kalau berhadapan dengan Matthew.

Dan sifat itu juga yang mempertemukan adiknya itu dengan pemuda German yang kelak menjadi kekasihnya, Gilbert Beilschmidt.

Mereka sangat berbahagia. Gilbert, walaupun dia bukanlah tipe anak yang secara gamblang mengatakan rasa cintanya pada Matthew, tindakan pemuda German itu cukup untuk menunjukkan kalau Gilbert mencintai Matthew, membuat Alfred percaya kalau Gilbert adalah orang yang tepat untuk mendampingi adiknya itu.

Sampai kejadian enam bulan yang lalu terjadi…

Enam bulan yang lalu, Gilbert bersama Antonio, pemuda Spanyol sahabatnya, dinyatakan menghilang. Polisi sudah melakukan pencarian untuk mereka, tapi mereka tidak pernah ditemukan, hingga akhirnya polisi menyatakan kalau keduanya sudah meninggal.

Peristiwa itu menghancurkan segalanya…semuanya berubah sejak hari itu…

Lovino, dia menjadi semakin abusif sejak Antonio menghilang. Dia sangat terpukul dengan kepergian Antonio, yang notabene adalah kekasihnya itu. Perlu waktu lama bagi semua orang untuk bisa mengatakan nama Antonio tanpa pemuda Italia itu mengamuk histeris dan menghancurkan segalanya.

Feliciano, adik Lovino, walaupun tidak separah kakaknya, juga terpukul. Dia kehilangan dua sosok kakak yang sangat disayanginya. Di bulan-bulan pertama, dia sering sekali melamun, dan kadang-kadang seolah-olah lupa kalau Gilbert dan Antonio sudah tidak ada. Beruntung, keberadaan Ludwig, kekasihnya, lumayan bisa meringankan perasaan pemuda Italia ini.

Ludwig, yang notabene adalah adik Gilbert, meskipun dia tidak pernah menunjukkan perasaannya, jelas juga terpukul dengan lenyapnya kakaknya. Dia selalu berusaha sekeras mungkin untuk menggantikan kakaknya dan juga berusaha meringankan beban Feliciano yang juga merasa kehilangan. Bagi Alfred…terkadang Ludwig terasa seperti memaksakan diri untuk melupakan keberadaan kakaknya.

Dan Matthew…

Alfred tidak bisa menjelaskan seberapa hancurnya adiknya itu saat menerima kabar kalau Gilbert menghilang dan dinyatakan telah tewas. Di bulan-bulan pertama, dia selalu menangis histeris, dia juga selalu memandang kosong pada gelang perak yang melingkar di tangan kanannya, hadiah dari Gilbert seminggu sebelum Gilbert menghilang. Dan sekarang, walaupun Matthew terlihat sudah kembali, sudah berhasil menata kembali hatinya, dia berubah.

Dia…terlihat seperti menutup diri. Dia tidak membiarkan siapa pun mendekatinya. Senyum adiknya itu juga…tidak lagi semanis dulu. Senyumnya sekarang hanyalah sebuah senyum kosong yang tidak mencapai matanya. Hati adiknya itu sudah benar-benar tertutup, tidak pernah terbuka lagi, karena ketakutan kalau dia membuka hatinya, dia akan kembali terluka.

Betapa Alfred ingin meminta kepada siapa pun yang ada di atas sana untuk mengembalikan Antonio dan Gilbert.

Dia ingin kembali…kembali ke masa-masa dimana Antonio masih memeluk pinggang Lovino dengan riang dan pemuda Italia itu membentaknya, walaupun dengan wajah memerah. Saat dimana Ludwig akan merengut dengan perkataan kakaknya. Saat dimana, Feliciano masih bisa tertawa lepas sambil menggandeng Antonio dan Gilbert seperti layaknya seorang adik bermanja-manja pada kakaknya. Dan saat dimana adiknya masih tersenyum manis, menggenggam tangan Gilbert yang membuat pemuda German bermata merah itu tersenyum hangat

Betapa dia merindukan saat-saat itu. Betapa dia mengharapkan saat-saat itu kembali…

"Kak? Kak Alfred?" samar-samar dia mendengar suara Matthew. Dia tersentak dan melihat adiknya itu memandangnya dengan pandangan cemas.

"Eh? Eh, ya?" tanya Alfred sambil tertawa gugup.

"Kau kenapa sih? Kok malah melamun? Nanti telat, lho" kata Matthew sambil memegang sebuah vas kaca, mengisinya dengan air, dan merendam buket bunga mawar putih yang dipegangnya tadi di vas kaca itu.

"Iya" kata Alfred sambil mengunyah cheese burgernya dengan ganas. Setelah itu, dia langsung tersedak, membuat adiknya panik membawakan segelas air putih yang langsung ditenggak dengan ganas.

"Hah…hah…kupikir aku akan mati" kata Alfred sambil terengah-engah.

Matthew tertawa. "Haha…kau memang tak pernah berubah, kak Alfred" katanya.

Alfred memandangi adiknya dengan pandangan kosong.

Tidak…aku tidak berubah, tapi kau…jelas kau berubah…dan menjadi lebih jelek juga. Tidak bisakah kau kembali? Kembali seperti dirimu di masa-masa saat kau masih berbahagia dengan Gilbert? Aku merindukanmu…merindukan dirimu yang dulu…

Alfred segera menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran itu. Dia pun segera menyelesaikan sarapannya, menyambar tasnya, dan menggenggam tangan adiknya dan menyeretnya keluar.

"Ayo" katanya pada adiknya itu sambil berjalan keluar apartemen yang mereka huni berdua dan berjalan ke arah SMU Hetalia.


SMU Hetalia adalah sekolah mewah. Sekolah ini memiliki fasilitas lengkap. Dari fasilitas olahraga kelas satu, fasilitas transportasi lengkap, kelas-kelas yang dilengkapi fasilitas mewah, dan banyaknya kesempatan kerja yang ditawarkan bagi lulusan sekolah ini, membuat murid SMA ini adalah murid-murid pintar dan kaya yang berasal dari keluarga terpandang.

SMA ini terdiri dari berbagai jurusan, setiap jurusan mengkhususkan diri untuk mengelola murid-murid di jurusan itu sebaik-baiknya. Semua murid SMU Hetalia bisa memilih jurusan yang mereka sukai sesuai dengan bakat mereka. Alfred sendiri, dengan kemalasannya belajar yang sudah menjurus akut (-digilas Alfred-) akhirnya memutuskan masuk jurusan olahraga untuk jurusan majornya dan jurusan sastra untuk jurusan minornya, dengan alasan dua jurusan itu tidak memerlukan daya pikir terlalu banyak. Adiknya sendiri, yang memang kalem, masuk jurusan musik untuk jurusan majornya dan jurusan PKK sebagai jurusan minornya (Aww…calon ibu rumah tangga! –dilempar pancake-)

"Baiklah, kalau begitu aku duluan. Jangan lupa waktu pulang nanti, kalau tidak mau menungguku, langsung pulang, jangan kelayapan ke mana-mana, oke?" kata Alfred pada adiknya, yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Matthew.

Alfred hanya menghela napas melihat keadaan adiknya sebelum berjalan ke arah gedung jurusan sastra yang merupakan tempat pembelajaran pertamanya. Dia memang tidak pernah memilih jam pelajaran sastra siang, karena kekhawatiran akan jatuh tertidur mendengar penjelasan yang sama sekali tidak menarik.

Saat dia berjalan di koridor jurusan sastra, dia berpapasan dengan seorang pemuda Inggris berambut pirang dan bermata hijau yang dibingkai dengan kacamata. Wajahnya terlihat serius, tidak ada senyum sedikit pun di wajahnya.

"Hei, Iggy!" seru Alfred riang pada pemuda Inggris itu. Pemuda Inggris itu adalah Arthur, tapi entah kenapa Alfred punya kebiasaan memanggilnya Iggy daripada Arthur.

Arthur hanya mendengus dan diam, tidak berbicara apa pun pada pemuda Amerika bermata biru itu, seperti biasa. Dia selalu menghindari Alfred kapan pun dia bisa. Dia juga jarang berbicara dengan Alfred selain kalau itu benar-benar diperlukan. Selain itu, dia seperti menganggap Alfred tidak pernah ada.

Kadang tindakan Arthur membuat Alfred heran juga. Kenapa pemuda Inggris itu selalu menghindarinya, bahkan sering menganggapnya tidak ada? Apa salahnya pada Arthur? Tapi itu tidak pernah jelas karena toh pertanyaan itu juga selalu dijawab dengan diam oleh Arthur.

Sebenarnya ini tidak penting tapi tindakan Arthur yang mendiamkannya sampai seperti ini jujur membuat hati Alfred sakit karena dia menyukai pemuda Inggris itu, mungkin bahkan mencintainya. Seperti perasaan Matthew pada Gilbert, perasaan yang sama juga dirasakan oleh Alfred pada Arthur. Karena itu kenyataan kalau pemuda Inggris itu membencinya hingga tahap menolak keberadaan Alfred, sungguh membuat Alfred terpukul dan hancur.

Tapi itu bukan masalah sekarang.

Arthur terus berjalan hingga akhirnya dia berpapasan dengan Alfred. Saat mereka berpapasan di koridor itulah…sesuatu terjadi.

Saat Alfred berpapasan dengan Arthur, dia mencium sesuatu dari tubuh pemuda Inggris itu. Bau yang walaupun samar, tetap tercium jelas oleh Alfred. Bau yang rasanya agak aneh dan tidak wajar berada di tubuh pemuda Inggris itu.

Bau samar darah…

Alfred langsung berhenti dan memandangi punggung Arthur yang berjalan meninggalkannya ke arah yang berlawanan darinya. Kenapa…dari tubuh Arthur tercium bau darah? Apa dia terluka? Tapi dia terlihat sehat, juga jutek seperti biasanya, sepertinya dia baik-baik saja. Jadi…kenapa ada bau darah di tubuh Arthur?

Alfred hanya mengangkat bahu dan kembali berjalan menuju kelasnya dan duduk di sana hingga pelajaran dimulai dan Arthur duduk di sebelahnya. Saat dia mencium aroma tubuh pemuda Inggris itu, bau darah itu sudah tidak tercium, membuat Alfred bingung, apa bau darah yang diciumnya tadi hanyalah ilusinya?

Tanpa disadari Alfred, hari itu…adalah titik balik dari hidupnya. Hari dimana dia mulai mengetahui rahasia gelap yang disembunyikan Arthur…


Author note:

Okeh, sepertinya chapter ini agak maksa ya XP. Maaf deh, rasanya nulis cerita supernatural agak susah, ditambah tugas-tugas kuliah…kayaknya otak saya agak kacau juga. Makanya rasanya chapter ini jadinya gak terlalu memuaskan…

Bagi yang sudah membacanya, terima kasih ya…saya senang sekali anda memutuskan membaca fanfic yang saya buat dalam keadaan labil ini XD.

Seperti biasanya, dimohon reviewnya, oke?

READ AND REVIEW!

Sekian.