Author's Note:
Nggak terasa udah chapter 4 cuy! Wuih! Baru pertama kali nih seorang Livia Hederstein bisa nulis fic dengan chapter sampai segini. Biasanya nulis fic multichap aja paling banyak dua chapter *author payah, jangan ditiru*. Ehh… enaknya ngomong apaan lagi ya.. duh, saya udah kehabisan kata-kata. Langsung molai aja ya!
Tekken © Namco
SWITCH! © Livia Hederstein
Warning: AU, OOC, gaje, POV bisa berubah sewaktu-waktu
Don't like, don't read
CHAPTER 4: The D-Day (part 2)
Sebelum baca ficnya, baca dulu ini:
Pekerjaan Lei hanya seorang guru. Bukan guru dan polisi.
Violet's POV
Yeah, inilah saatnya. Lima menit lagi lomba akan dimulai. Kini aku telah sampai di lokasi lomba, didampingi Lei-sensei. Kulihat semua siswa juga didampingi guru matematikanya. Sebenarnya hari ini seisi rumah mau mengantarku, tapi, yah.. kau tahu sendirilah. Heihachi harus kerja, Kazuya harus kuliah dan Lars harus sekolah. Tapi karena ada lebih dari satu guru matematika di Mishima High School, jadi Lei-sensei bisa meluangkan waktunya untuk mendampingiku.
"Perhatian untuk semua peserta lomba matematika, sekarang juga diharapkan masuk ke ruangan." Kata sebuah suara dari speaker.
"Baiklah, Lee. Sekarang tiba saatnya bagimu untuk masuk. Kerjakan dengan teliti dan hati-hati." Kata Lei-sensei.
"Oke, Sensei." Jawabku, setelah itu memasuki ruangan yang telah ditentukan.
-oOo-
"Saya rasa semua peserta dari SMA di Tokyo sudah berkumpul semuanya. Jadi saya mulai dengan peraturannya." Jelas pengawas lomba dari atas podium. "Di hadapan kalian sudah ada lima puluh butir soal. Jawablah semuanya di lembar jawaban yang tersedia dengan menggunakan cara. Kerjakan dengan teliti dan jangan tergesa-gesa. Karena waktunya dua jam, dimulai dari sekarang."
Semua peserta mulai dengan serius mengerjakan soal.
.
Dua jam kemudian…
"Oke. Waktunya sudah habis, berhenti menulis." Kata pengawas lomba. "Kumpulkan pekerjaan kalian dan kuminta kalian berada di ruangan ini lagi karena akan diumumkannya kejuaraan lomba ini, sesudah kami memeriksa pekerjaan kalian."
Begitu aku keluar dari ruangan, aku langsung disambut dengan Lei-sensei, yang menepuk bahuku.
"Bagaimana, OK?" Tanyanya.
"Oke, sensei."
"Hm. Begitu. Kita ngobrol di sana saja. Di sini terlalu banyak orang." Lei-sensei mengajakku duduk di bangku dekat pintu depan.
"Bagaimanapun hasilnya, akan tetap saya hargai, Lee." Kata Lei-sensei sambil merapikan kuncirannya. "Tapi saya akan lebih bangga jika kamu adalah salah satu nama yang diumumkan saat pengumuman kejuaraan nanti."
"Semoga deh, Sensei."
"Pokoknya kamu harus tetap optimis."
Aku mengangguk.
Tak terasa aku sudah mengobrol dengan Lei-sensei selama lima belas menit.
"Semua peserta diharapkan masuk ke ruangan yang telah ditentuka." Suara dari speaker memotong obrolan kami.
"Lee, tibalah saatnya. Saya harap kamu keluar sebagai juaranya!" Kata Lei-sensei.
"Semoga saja." Kataku.
Setelah memasuki ruangan, MC mulai membacakan pengumuman juaranya. Suasana ruangan ini kembali menjadi tegang, sama seperti pada saat lomba tadi. Juara harapan dua hingga juara dua sudah dibacakan, dan namaku sama sekali tidak disebut. Lalu siapa kira-kira juara satunya ya?
"Baiklah, juara pertama lomba matematika se-Tokyo dengan nilai sempurna, jatuh kepada..." Kata MC.
Apa? Berarti nilai tertinggi nilai 100 dong. Wah, hebat juga orang ini.
"…Li Syaoran dari Mishima High School. Selamat untuk Li Syaoran."
Hah? Li Syaoran dari Mishima High School? Aku tidak mengenalnya. Lagipula, seharusnya satu sekolah kan mengirimkan satu perwakilan? Dan satu hal penting lagi, bukankah seharusnya Li Syaoran itu berada di fandom Cardcaptor Sakura? Bagaimana dia bisa nyasar di fandom Tekken?
(Author's note: hehe… yang tadi itu cuman buat selingan. Oke, sekarang balik lagi ke cerita)
"Kenapa tidak ada yang maju? Siapa yang bernama Li Syaoran?" Kata MC lagi, lalu meneliti kertasnya lagi. "Maaf semuanya, ternyata saya salah baca. Juara pertamanya adalah Lee Chaolan dari Mishima High School. Selamat untuk Lee Chaolan!"
Oh, ternyata juara pertamanya Lee Chaolan. Bukan aku.
Hah? Lee Chaolan? Itu kan aku! Ya Tuhan, aku lupa kalau sekarang ini aku sedang menggantikan perannya.
Aku langsung maju dan mengambil piala dan piagam itu. Aku sudah tak sabar memberitahukan ini ke Lee dan keluarganya.
"Untuk juara pertama, kedua, dan ketiga, dimohon untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti olimpiade matematika se-Jepang yang diadakan dua bulan kedepan." Jelas MC.
Olimpiade matematika se-Jepang? Dua bulan lagi? Aku harus segera memberitahu Lee untuk bertukar tempat lebih lama lagi. Sampai misi kami benar-benar selesai!
-oOo-
"Hebat sekali kamu, Lee. Kamulah juara pertamanya. Tadi saya dengar pengumumannya." Kata Lei-sensei.
"Terima kasih, sensei. Ternyata jurus 'asal jawab' saya di kedua soal yang saya maksud tadi benar." Kataku.
Lei-sensei hanya tersenyum. Lalu ponselku berbunyi. Dari Heihachi.
"Halo" Kataku.
"Lee, lombanya sudah selesai?" Tanyanya.
"Sudah. Aku juara pertama, ayah." Kataku.
"Wah kamu hebat. Itu baru anakku." Puji Heihachi. "Nanti malam bagaimana kalau kita makan di restoran bintang lima?"
Aku langsung sweatdrop. "Untuk apa?"
"Ya untuk merayakan kejuaraanmu tentu saja, kan ini jarang terjadi."
"Ya sudahlah, terserah ayah."
"Hari ini ayah tidak bisa menjemputmu. Tapi ayah sudah minta Lei-sensei untuk mengantarmu pulang. Jadi kamu pulang dengan Lei-sensei ya."
"Oke."
"Baiklah, sampai jumpa di rumah." Heihachi menutup teleponnya.
Setelah itu ada SMS masuk.
From: Lee
Violet! Ada hal penting yang harus kuberitahukan padamu!
Bagaimana kalau kita bertemu di kedai mie Marshall Law? Sekalian makan, karena aku lapar.
"Lei-sensei." Panggilku.
"Ada apa?"
"Sensei tahu kedai mie Marshall Law?"
"Jelas tahu dong. Aku sering makan di sana."
"Baguslah kalau begitu. Sensei bisa mengantarkan saya ke sana? Tiba-tiba saya ingin makan mie." Kataku, setengah berbohong.
"Baiklah."
Aku langsung membalas SMS itu.
To: Lee
Oke! Aku akan ke sana ;)
-oOo-
"Nah, kita sudah sampai. Mau saya traktir?" Tawar Lei-sensei.
"Tidak usah, sensei. Saya bawa uang sendiri."
"Perlu saya tunggu?"
"Tidak usah. Nanti saya minta kakak saya, Kazuya yang jemput. Sebentar lagi Kazuya pulang kuliah." Bohongku.
"Ya sudahlah kalau begitu. Saya pergi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."
"Baiklah. Hati-hati, sensei." Kataku setelah turun dari mobil.
Begitu aku masuk ke kedai mie Marshall Law, bau mie yang enak langsung menyambutku, dan ini membuatku lapar.
"Ha!" Seseorang menepuk punggungku dari belakang.
Aku menoleh dan melihat sesosok cowok seumuranku yang memakai busana khas Michael Jackson (Memakai topi fedora, kaos putih polos yang dilapisi baju lengan panjang hitam yang resletingnya terbuka, sehingga kaos putihnya terlihat dan celana panjang hitam). Aku langsung mengenalinya.
"Lee Chaolan!" Kataku.
Lee menggoyangkan jari telunjuk kanannya. "No, no, no. Bukan Lee Chaolan. Tapi Lee Jackson!"
Aku tersenyum simpul, "Dasar penggemar Michael Jackson!"
"Dasar penggemar matematika! Ya sudah, kita pesan makanan dan duduk saja."
.
Setelah makanan kami habis…
"Jadi, Lee. Kamu mau cerita apa?" Tanyaku seusai mengelap mulut.
"Begini. Aku dan Sergei menjadi juara satu lomba dance.."
"Itu bagus! Aku tahu kau memenangkannya untukku!" Potongku.
"Sebentar, Violet aku belum selesai bicara." Katanya. "Dua bulan lagi kan ulang tahun sekolahmu. Nah, aku dan Sergei diminta untuk mengisi acara."
"Sebenarnya aku juga menjadi juara satu lomba matematika. Nah, untuk juara satu, dua, dan tiga diminta untuk mengikuti olimpiade matematika se-Jepang." Jelasku.
"Jadi.. kita harus bertukar lebih lama lagi."
"Benar. Aku tidak kuat harus berbohong terus tentang kehidupanmu."
"Sebenarnya aku juga. Tapi ya mau bagaimana lagi, Violet? Ini demi misi kita kan?"
"Benar juga sih." Kataku. "Ngomong-ngomong, kostumnya oke juga."
"Terima kasih. Sebenarnya aku dan Sergei mau pakai yang ini." Lee menunjukkan foto Michael Jackson di ponselnya, yang memakai baju lengan panjang hitam dengan semacam hiasan berwarna perak di tengahnya, dipadukan dengan celana panjang hitam.
"Kenapa tidak pakai yang itu?" Tanyaku.
"Karena yang ini bajunya langka, tidak dijual dimana-mana."
Aku mengangguk mengerti.
-oOo-
Normal POV
Tak terasa sekarang sudah satu setengah bulan Lee dan Violet bertukar tempat. Dan sekarang, jam menunjukkan pukul sepuluh pagi dan kalender menunjukkan bahwa hari ini adalah hari Minggu.
"Hei, Violet, bangun!" Kata Sergei.
"Ada apa, Sergei?" Jawab Lee dengan nada yang menunjukkan bahwa ia tidak ingin bangun.
"Begini. Aku mau ke toko CD. Mau beli CD lagu dance. Mau ikut?"
"Oh, ya, baiklah." Lee mengambil kacamata tanpa ukuran di meja dekat ranjangnya, dan memakainya. Ia langsung ke kamar mandi.
.
Karena hari ini dia keramas, jadi hairspray warna violet yang melekat di rambutnya luntur. Maka, ketika ia hendak memberi hairspray lagi pada rambutnya…
"psssccchh" Lee menyemprotkan hairspray pada rambutnya. Dan ternyata, kaleng hairspraynya kosong.
"Ya ampun, kenapa benda ini harus habis tidak pada waktunya sih? Sekarang kan aku harus pergi dengan Sergei." Gumam Lee. Mendadak di kepalanya terdapat ide.
"Sergei, bisa kauambilkan topiku?" Teriak Lee dari dalam kamar mandi.
"Untuk apa?"
"Karena hari ini panas."
"Dibawa ke kamar mandi? Kenapa tidak dipakai di luar saja?" Tanya Sergei heran.
"Ah sudahlah. Mana topinya?"
Lee membuka sedikit pintu kamar mandi untuk menerima topinya.
"Violet, kita harus cepat. Nanti CDnya dibeli orang lain. CDnya itu best seller."
Lee membuka pintu kamar mandi dan langsung disambut dengan Sergei yang menyeretnya. Untung saja, Lee sudah memakai kacamata, tapi ia belum sempat memakai lensa kontak violetnya.
'Ah, mungkin saja Sergei tidak melihatnya karena mataku kan tertutup oleh bagian atas topi ini.' Batin Lee.
-oOo-
Sergei's POV
Kami berjalan kaki menuju toko CD karena jaraknya cukup dekat dengan tempat kos kami. Sekarang kami sudah sampai di seberang toko CD. Benar juga kata Violet, hari ini panasnya bukan main.
"Oh ya, di sini ada toko minuman. Bagaimana kalau kita beli minuman dingin?" Tawarku.
"Boleh juga." Jawab Violet.
"Aku beli minuman, dan kamu ke toko CD itu dulu."
"Baik." Kata Violet, lalu ia menyeberang jalan.
Setelah aku membayar minuman dingin yang dibelinya, tiba-tiba..
"BRAAAK!"
Suara itu berasal dari jalan raya di belakangku, ketika aku menoleh, terdapat beberapa orang berkerumun. Kedua kaleng minuman yang kupegang langsung terjatuh.
'Apakah itu kecelakaan? Tapi siapa yang kecelakaan? Jangan-jangan…' batinku.
Langsung saja aku berlari menuju tempat kejadian, yang tak jauh dari tempatku sekarang dan menembus kerumunan.
"Violet, kau baik-baik saja?" Teriakku setelah sampai di tengah kerumunan tanpa melihat korbannya.
Kulihat sosok berambut silver yang terkapar dan mengeluarkan banyak darah, apalagi di bagian kaki kanannya. Aku tidak tahu kalau Violet punya hairspray silver.
"Lee Chaolan!" Seorang berambut panjang yang dikuncir ekor kuda berteriak dan berjalan mendekati korban kecelakaan itu.
Hah? Kenapa orang itu memanggilnya Lee Chaolan?
"Permisi, dia bukan Lee Chaolan, dia temanku, Violet." Kataku, meyakinkan orang itu.
"Violet? Bukan, dia Lee Chaolan. Dia murid saya." Kata orang itu.
Aku masih tidak percaya dengan perkataannya, kulihat kacamatanya yang retak dan... astaga! Kacamatanya tidak ada ukurannya. Violet tidak mungkin memakai benda macam ini kan? Bukankah seharusnya Violet memakai kacamata yang ada ukurannya?
Jadi… yang selama ini sekamar denganku dan yang selama ini nge-dance bersamaku bukan Violet. Pantas saja dia meninggalkan matematika dan langsung pintar nge-dance.
"Saya akan menghubungi ayahnya. Beliau berhak tahu mengenai hal ini." Orang itu mengeluarkan ponselnya.
"Anda mengenal ayahnya?" Tanyaku.
"Tentu saja. Karena ayahnya adalah atasanku." Jelas orang itu. "Sekarang, cepat kamu hubungi ambulance dari Tokyo General Hospital! Itu rumah sakit terbagus di Tokyo."
Kemudian orang itu mencatat sederet nomor di ponselku. Kemudian aku menghubunginya.
To be Continued
Author's note:
Udah nemu kan sifat perhatian dari seorang Lei Wulong? :D
Btw, situasi lombanya sama selingannya (yang ada Li Syaorannya itu lho) itu Hatake ChiLd yang nyaranin. Hehe.. makasih ya.. (Makasih juga buat CLAMP soalnya udah bikin karakter yang namanya mirip sama kakak gue itu, jadi bisa diplesetin *plak*)
Last but not least *sok inggris* RnR please…
