Matthew memandang kosong ke luar dari jendela di samping kursinya. Dia memandangi sekelompok anak-anak yang sedang bermain basket di lapangan basket di samping gedung jurusan musik. Dalam bayangannya, dia membayangkan sesosok pemuda German berambut putih dan bermata merah sedang bermain di sana, tertawa dan menyeringai sombong, seakan penuh rasa percaya diri kalau dia bisa menang.

Gilbert…

Bahkan sampai sekarang, dia masih merasa sakit saat mengucapkan nama pemuda itu. Dia masih tidak bisa percaya sudah enam bulan sejak dia tidak melihat lagi kekasihnya itu.

Dia bertemu dengan Gilbert di sebuah taman di musim semi. Saat itu, Matthew sedang asyik menulis sebuah not musik di notesnya saat ada seseorang berkata kalau musiknya itu awesome sekali. Dia mendongak dan hal pertama yang dilihatnya adalah bola mata merah darah yang memandangnya hangat.

Itulah saat perkenalannya dengan Gilbert…awal kisahnya.

Sejak saat itu, mereka berdua sering bertemu di taman itu, membicarakan berbagai hal. Gilbert juga memperkenalkan Matthew dengan teman-temannya dan juga adiknya. Matthew merasa istimewa, tidak ada orang yang pernah memperlakukannya seperti itu selain Alfred…membuatnya merasa hangat dan nyaman.

Membuatnya menjadi egois dan tidak ingin kehilangan kehangatan dan kenyamanan yang diberikan Gilbert padanya.

Dia bahkan masih ingat saat Gilbert memintanya menjadi pacarnya. Dia mengingatnya dengan jelas seakan-akan itu baru terjadi kemarin.

FLASHBACK

Seperti biasa, Gilbert dan Mattie bertemu di taman itu untuk kesekian kalinya. Mereka berdua berjalan di jalan batu taman itu sambil mengobrol dan tertawa-tawa, benar-benar saat yang menyenangkan.

Saking menyenangkannya, mereka sama sekali tidak menyadari waktu yang berjalan, hingga akhirnya matahari pun terbenam.

"Ah, sudah senja ya…waktu cepat sekali berjalan. Dasar gak awesome" kata Gilbert.

Matthew tersenyum. "Yah…itu kan sudah ketentuan Tuhan. Matahari terbenam adalah suatu keharusan. Tidak bisa diubah lagi" katanya.

Dia lalu berbalik dan menatap Gilbert yang berdiri di belakangnya. "Terus? Kamu tadi mau ngomong sesuatu kan? Mau ngomong apa?" tanyanya.

Entah itu akibat pengaruh matahari yang terbenam, atau karena dia memang malu. Matthew merasa kalau wajah Gilbert saat itu sedikit merona merah. Dia menghela napas dan mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Matthew lembut dan memutar tubuhnya sehingga pemuda Amerika bermata violet itu menghadapnya.

"A…apa?" tanya Matthew terkejut.

"Mattie…" kata Gilbert pelan, sangat pelan, sehingga Matthew harus menajamkan telingan untuk mendengarnya. "Apa…apa kau mau jadi pacarku?"

Perlu waktu beberapa saat bagi Matthew untuk mencerna perkataan Gilbert dan perlu waktu beberapa saat juga baginya untuk mengerti maksud perkataan pemuda German itu.

"Ha…hah!" serunya saat dia sadar apa yang dikatakan Gilbert tadi.

"Apa kau mau jadi pacarku, Mattie?" tanya Gilbert. "Aku menyukaimu. Menyukaimu sejak lama. Aku…aku sangat menyayangimu. Membayangkanmu bersama dengan orang lain membuatku resah dan…dan perasaan itu gak awesome, Mattie. Aku…aku…kalau sudah menyangkut masalah dirimu, aku bisa jadi egois, Mattie. Aku…aku tidak ingin orang lain memilikimu. Membayangkan kau menjadi milik orang lain…"

"Aku mau" gumam Matthew pelan.

Sekarang giliran Gilbert yang terdiam saat mendengar jawaban Matthew.

"Apa?" tanya Gilbert.

Matthew tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Gilbert. "Aku mau…jadi pacarmu. Aku juga…menyukaimu"

Wajah Gilbert yang semula menunjukkan keterkejutan perlahan-lahan berubah menjadi wajah bahagia. Dia menggenggam tangan Matthew yang ada di pipinya lembut dan membungkuk hingga bibir mereka hanya berjarak sekitar satu cm satu sama lain.

"Terima kasih, Mattie…aku senang" kata Gilbert sambil menutup jarak di bibir mereka dan mencium bibir Matthew lembut.

Itulah awal dari kebahagiaan mereka…

FLASHBACK END

Ya…mereka memang berbahagia. Setidaknya sampai kejadian enam bulan lalu terjadi.

Dia masih tidak lupa betapa hancurnya dia saat petugas polisi yang ditugaskan mencari Gilbert dan Antonio menyatakan kalau mereka berdua sudah meninggal dan mayatnya tidak ditemukan. Untuk sesaat, Matthew merasa kalau dia tidak lagi berpijak di bumi.

Sejak saat itu, dia tidak lagi sama. Dia tidak bisa lagi membuka hatinya pada siapa pun. Seperti Gilbert membawa hatinya bersama dengan kepergiannya dan hati itu ikut menghilang bersama dengan lenyapnya kekasihnya itu. Dia tahu dia bodoh, tapi dia merasa…dia tidak lagi hidup saat Gilbert tidak lagi ada. Gilbert adalah hidupnya, dunianya, saat dia tidak ada, maka dia hanya…sebuah raga kosong tanpa jiwa.

Matthew menggelengkan kepalanya dan kembali menatap ke arah jendela dengan pandangan kosong.


Alfred memandangi Arthur yang sedang sibuk membaca buku teksnya. Dia merasa ada yang berbeda dari Arthur hari ini…tapi apa? Alfred sibuk memikirkannya sambil mengamati Arthur. Saat dia memandangi mata Arthur, dia langsung terkesiap.

Bola mata hijau emerald itu sudah berubah warna menjadi merah darah!

Alfred menggosok matanya dan kembali memandang mata Arthur. Dia melihat mata pemuda itu sudah berubah kembali menjadi warna hijau emerald. Alfred menghela napas, melepas kacamatanya, dan menutup matanya. Dia jadi berpikir apa otaknya sudah mulai terganggu? Sampai-sampai berilusi begini? Tadi dia berilusi mencium bau darah dari tubuh Arthur, sekarang berilusi melihat matanya berubah jadi merah darah? Sebentar lagi dia akan berilusi Arthur memiliki taring di mulutnya seperti vampire.

Arthur memandangi pemuda Amerika bermata biru di sampingnya dengan pandangan heran. "Tumben, kamu diam. Ada apa?" tanya Arthur bingung.

Alfred tersentak saat Arthur berbicara padanya. Arthur? Bicara padanya? Oh, apa ini mimpi? Alfred tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Wow, Iggy, tumben kau bicara padaku" katanya sambil tersenyum manis.

Arthur memandang kosong dari balik kacamata yang dipakainya. "Orang bertanya apa, kau menjawab apa" gumamnya.

Alfred tersenyum. "Gak apa-apa, kok. Kupikir aku hanya berhalusinasi" katanya.

"Hah?" tanya Arthur.

"Sesaat tadi kulihat matamu berwarna merah darah, kalau aku percaya hantu, pasti kupikir kau ini vampire" kata Alfred sambil tertawa.

Suasana di antara mereka langsung sunyi senyap. Alfred memandang Arthur dan melihat pemuda Inggris itu membeku dengan wajah pucat. Alfred memandang Arthur dengan bingung. "Iggy?" tanyanya pelan.

Tanpa peringatan apa pun, Arthur segera berdiri, hampir saja menjatuhkan kursinya dan berlari ke luar kelas dengan cepat. Alfred yang melihat kejadian itu hanya memandang Arthur dengan pandangan bingung dan heran.

Ada apa dengan Arthur? Sampai berlari seperti itu?


Matthew menutup pintu mobilnya sambil membawa buket mawar putih yang sudah disiapkannya. Dia melangkahkan kakinya ke dalam kompleks pemakaman itu.

Saat dia sedang berjalan.

"Ve~Matthew…"

Matthew langsung menoleh dan melihat Lovino, Feliciano, dan Ludwig, berjalan dari arah yang ditujunya, jelas baru saja mengunjungi seseorang…atau lebih tepatnya, dua orang.

"Kalian mengunjungi makam Gilbert dan Antonio?" tanya Matthew pada ketiga orang itu.

Ludwig mengangguk, sementara Lovino sedikit menegang, tapi tidak mengatakan apa-apa dan Feliciano mempererat pegangannya di lengan Ludwig. "Ya…" kata Ludwig. "Kau juga kan?" lanjutnya sambil melihat buket bunga di tangan Matthew.

Matthew tersenyum sedih. "Kupikir…aku ingin berbicara dengannya…di hari yang spesial ini…" katanya.

Ludwig mengangguk. "Kalau begitu kami duluan. Sampai jumpa…" katanya sambil menganggukkan kepalanya sebelum membimbing Feliciano berjalan, diikuti oleh Lovino, meninggalkan kompleks pemakaman itu.

Matthew meneruskan perjalanannya hingga dia sampai di depan dua buah nisan putih yang terlihat terawat rapi. Nama Gilbert Beilschmidt dan Antonio Fernandez Carriedo terukir di batu nisan itu. Di makam Antonio terdapat sebuket bunga lily putih dan sekeranjang tomat segar sedangkan di makam Gilbert terdapat bunga krisan dan bunga daffodil. Jelas itu adalah pemberian dari Lovino, Feliciano, dan Ludwig.

Matthew meletakkan buket bunga mawar putih yang dipegangnya di makam Gilbert sebelum berdoa sebentar. Setelah selesai, dia berjongkok di depan makam Gilbert dan mengusap nama di nisan itu pelan.

"Hei, Gilbert…tidak terasa sudah enam bulan sejak kamu menghilang…waktu memang cepat berlalu, ya…" gumam Matthew. "Hari ini juga…hari setahun jadian kita. Seandainya kamu tidak meninggal, kita pasti melewati hari ini dengan bahagia. Jalan-jalan, makan, nonton, selayaknya sepasang kekasih. Aku bisa melihat kehangatan matamu, senyummu, semuanya…pasti…aku akan sangat berbahagia…"

Matthew menundukkan kepalanya, bahunya bergetar saat air mata mulai mengalir dari bola mata violetnya. Dia terisak pelan.

"Aku merindukanmu, Gilbert. Sangat merindukanmu. Aku…saat kau tidak ada di sini…aku serasa hampa, tidak memiliki jiwa. Aku…aku membutuhkanmu, Gilbert. Kenapa? Kenapa kau harus pergi?"

Matthew memukul batu nisan itu pelan saat isakannya semakin keras. Serasa tidak lagi punya tenaga untuk menopang tubuhnya, dia jatuh terduduk di depan nisan itu. Dia merasa sakit…sejak kepergian Gilbert.

"Aku mencintaimu, Gilbert…" gumam Matthew pelan.

Saat itu ada angin bertiup, menerbangkan kelopak bunga mawar putih di buket yang dibawa Matthew ke langit, Matthew menatap kelopak bunga yang beterbangan itu dengan pandangan kosong…

Aku juga mencintaimu, Mattie…

Matthew tersentak, dia seperti mendengar suara Gilbert! Dia segera memandang ke sekelilingnya, mencari asal suara itu, tapi tidak menemukan siapa pun di sana. Tapi dia merasa kalau Gilbert ada di sana, Gilbert melihatnya…tapi…itu tidak mungkin, kan? Dia sudah tidak ada.

Matthew menggelengkan kepalanya dan bangkit dari depan makam Gilbert. "Aku…dulu, sekarang, nanti, sampai kapan pun juga…aku selalu mencintaimu" katanya pelan. Lalu perlahan-lahan dia beranjak dari makam itu. Dia menoleh untuk terakhir kalinya ke makam itu. "Sampai nanti"

Matthew pun berjalan meninggalkan makam itu.

Yang sama sekali tidak disadari Matthew adalah kalau ada sepasang bola mata yang memandanginya dari kejauhan…dengan pandangan yang tidak berbeda jauh dengan pandangan Matthew sekarang…pandangan kehilangan sesuatu yang berharga dan juga pandangan penuh cinta dan rasa sayang…


Maaf ya kalau di chapter ini jadi malah banyak adegan-adegan PruCan sementara USUK nya malah sedikit banget. Habis…saya pikir saya juga perlu menceritakan masalah karakter lain, karena kalau nggak, cerita saya bisa jadi aneh (padahal mah memang udah aneh dari sananya kan nih fanfic…) dan juga maaf karena fanfic ini sangat maksa...

Yah…apa ada yang punya usulan-usulan tentang apa yang harus saya tambahkan di fanfic saya ini? Akan saya dengarkan dengan senang hati…selama itu membantu perkembangan fic saya.

Sekian.

READ AND REVIEW AS USUAL