Author's Note:
Pertama-tama.. selamat buat semua yang lulus UN! Semoga kalian semua sukses di jenjang berikutnya!
Oke, ini chapter terakhir.
Udahlah itu aja. Langsung dimulai ya.
Tekken © Namco
SWITCH! © Livia Hederstein
Warning: AU, OOC, gaje, POV bisa berubah sewaktu-waktu
Don't like, don't read
CHAPTER 5: The Truth
Normal POV
"Kriiiinnngg…" Telepon keluarga Mishima berbunyi dari ruang tengah.
"Lars, kau yang angkat." Kata Kazuya sambil meneguk kopinya.
"Seenaknya menyuruh orang. Kazuya nii-san sendiri saja yang angkat." Protes Lars sambil melahap roti bakarnya.
"Huh, kalau begitu Lee saja deh." Kazuya menjawab dengan malas.
"Lee nii-san kan sedang mandi."
"Oh iya. Aku lupa."
"Dasar kalian anak-anak malas semuanya. Biar ayah saja yang angkat." Heihachi menaruh korannya dan mengangkat telepon.
"Halo, di sini kediaman Mishima. Dengan siapa saya bicara?" Kata Heihachi.
"Heihachi-sama, Lei Wulong di sini." Kata Lei.
"Ya, ada apa Lei?" Tanya Heihachi.
"Begini. S..s..saat ini..L...Lee.." Lei tergagap.
"Ada apa dengan Lee?"
"Lee kecelakaan, Heihachi-sama!" Mendadak suara Lei menjadi lantang
"Apa? Lee kecelakaan?" Kata Heihachi, tidak kalah lantangnya.
Mendengar hal itu, Kazuya langsung menyemburkan kopinya dan Lars tersedak.
"Benar, Heihachi-sama. Dia akan dibawa ke Tokyo General Hospital."
"Anda jangan berbohong, ya. Sekarang Lee sedang mandi." Jawab Heihachi dengan nada agak marah.
"Tapi, saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri!" Lei mencoba meyakinkan.
"Hm. Baiklah nanti saya akan ke sana."
Setelah Heihachi menutup telepon, Kazuya dan Lars menghampirinya.
"Ayah, bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Kazuya.
"Ini tidak mungkin kan?" Tanya Lars.
"Begini, anak-anak, bagaimana kalau kita selidiki kamarnya. Kita harus pastikan bahwa Lee ada di sini."
Kazuya dan Lars menjawabnya dengan anggukan.
.
"Lee belum selesai mandi. Kita tunggu saja dulu." Kata Heihachi setelah mendapati kamar anak angkatnya yang kosong.
"Ayah, Kazuya nii-san, lihat ini!" Kata Lars.
Lars menunjukkan sekaleng hairspray berwarna silver yang tergeletak di samping ransel Lee.
"Hairspray? Warna silver? Bukankah rambut Lee sudah silver?" Tanya Kazuya heran.
"Dan coba lihat ini." Heihachi sepertinya menemukan sesuatu di meja belajar Lee.
"Lensa kontak?" Kata Kazuya.
"Warna coklat?" Sambung Lars. "Warna mata Lee nii-san kan sudah coklat?"
"Jangan-jangan, ada orang asing yang menyamar sebagai Lee di rumah kita." Kazuya mengambil kesimpulan. "Dia mungkin ingin berbuat jahat di rumah kita."
"Dan barangkali dia yang menyuruh kaki tangannya untuk membuat Lee nii-san kecelakaan tadi." Kata Lars.
"Bisa jadi. Mari kita temukan kebenarannya nanti." Kata Kazuya.
-oOo-
Violet's POV
Sesudah keramas, aku memakai kacamata minusku. Karena aku bermaksud memakai hairspray dan lensa kontak di kamar saja. Toh semua keluarga Lee jarang masuk ke kamarku.
Ketika aku membuka pintu kamar, aku dikejutkan oleh tiga sosok yang sudah berada di kamarku. Dua diantara mereka memegang benda-benda rahasiaku. Sedangkan aku, kini berpenampilan sebagai diriku sendiri, bukan sebagai Lee.
"Baiklah orang asing yang mirip Lee, siapa kau dan sejak kapan kau menyelinap di rumah kami?" Kata Heihachi.
"Eh.. anu… itu.. aku.." Aku tergagap.
"Dan bisakah kau jelaskan ini, orang asing?" Kata Heihachi lagi dengan menunjukkan lensa kontakku.
"Bisakah kau jelaskan ini juga, kakakku yang palsu?" Lars menyodorkan kaleng hairspray di depan hidungku.
"Apakah kau menyamar menjadi Lee untuk merencanakan kejahatan di sini? Apakah kau memanggil kaki tanganmu untuk membuat Lee kecelakaan, begitu?" Bentak Kazuya.
"Lee.. kecelakaan?" Tanyaku tak percaya.
"Iya!" Jawab ketiganya bersamaan.
" Sudah dibawa ke rumah sakit?" Tanyaku lagi.
"Kamu jangan sok perhatian ya! Padahal kamu kan yang menyebabkan dia kecelakaan?" Lars setengah membentak.
"Kalian bicara apa? Aku sama sekali tidak merencanakan kejahatan di sini. Aku juga tidak menyuruh kaki tanganku untuk mencelakai Lee. Aku bahkan tidak punya kaki tangan."
Lalu aku menjelaskan dari A sampai Z siapa aku sebenarnya dan mengapa aku bertukar tempat dengan Lee.
"Jadi begitu." Kata Heihachi. "Aku nanti harus minta maaf dengan Lee karena memaksakan kehendaknya."
"Pantas saja Lee nii-san tiba-tiba suka matematika." Kata Lars.
"Ayah, kita harus ke rumah sakit sekarang. Kita harus menjenguk Lee." Kata Kazuya.
-oOo-
Kami sudah sampai di depan kamar Lee. Di sana sudah ada Sergei.
"Violet! Kamu Violet yang sesungguhnya kan?" Kata Sergei begitu aku membuka pintu.
"Iya, tentu saja ini aku." Kataku.
"Sedang apa kau di sini? Mereka ini siapa?"
"Kami akan menjenguk Lee. Mereka ini keluarganya."
"Lee? Oh orang yang menyamar sebagai kamu, yang kecelakaan itu. Bagaimana kau bisa bersama mereka?"
Aku menjelaskan padanya tentang pertukaranku dan Lee.
"Jadi begitu." Katanya.
"Kenapa kau di luar?" Tanya Kazuya.
"Dokter masih memeriksanya. Kita diminta untuk menunggu di sini." Jawab Sergei.
Kami semua mengangguk.
"Dan lagi, pria yang rambutnya dikuncir tadi katanya ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Jadi, beliau tidak bisa ikut ke sini." Jelas Sergei.
Krek. Pintu dibuka. Setelah itu keluar seorang dokter yang memeriksa Lee.
"Bagaimana keadaan anak saya, dokter?" Tanya Heihachi.
"Anak anda mengeluarkan banyak darah." Jelas dokter itu. "Tapi jangan khawatir, karena kami sudah memberinya transfusi darah."
"Lalu?" Tanya Heihachi lagi.
"Kepalanya luka ringan, kedua tangannya tergores dan kedua kakinya luka parah, apalagi kaki kanannya. Dengan berat hati, saya mengatakan bahwa.. bahwa…" Dokter itu tidak meneruskan kata-katanya.
"Bahwa apa, dokter?"
"Anak anda sekarang sedang mengalami masa kritis."
Semuanya, termasuk aku berjengit.
"Masa… kritis?" Tanya Heihachi.
Dokter itu mengangguk. "Bantulah dia dengan doa. Besok sore, saya akan memeriksanya kembali."
Heihachi mengangguk.
-oOo-
Normal POV
Lee terbaring lemah di ranjangnya, dengan kepala, kedua lengan bagian atas dan kedua kaki diperban. Sekarang ia diberi infus dan transfusi darah.
"Violet," Panggil Sergei.
"Ada apa?" Jawab Violet.
"Aku mau minta maaf. Seharusnya aku tidak memaksamu ikut lomba dance."
"Tidak apa. Yang penting kamu sudah menang." Kata Violet.
"Tapi yang nge-dance bersamaku bukan kamu, melainkan Lee."
"Tak ada yang mengira itu bukan aku kan?"
"Iya sih." Kata Sergei lemas.
Tiba-tiba ponsel Violet berbunyi. Ia dengan hati-hati mengambilnya dari kantong celana Lee. (Violet dan Lee bertukar ponsel dan dompet, supaya tidak ketahuan) lalu aku mengembalikan dompet dan ponselnya.
Di layar ponselnya tertulis: MOM.
"Halo. Apa? Besok? Tidak bisa ditunda, Mom? Baik."
"Maaf semuanya," kata Violet. "Tapi aku harus pulang sekarang."
"Kenapa?" Tanya Lars.
"Besok ada urusan yang harus kuselesaikan… di London."
"Apa? Kapan kamu kembali ke Tokyo?" Tanya Sergei.
"Aku tidak tahu. Tapi kemungkinan besar aku tidak akan kembali."
"Waduh, lalu di kost aku nanti sendirian, dong." Sergei kecewa.
"Mau bagaimana lagi, Sergei." Kata Violet. "Sudahlah, aku harus pesan tiket pesawat ke London untuk besok secepatnya, lalu mengepak barang-barangku."
-oOo-
Keesokan harinya…
Lee's POV
Kubuka mataku perlahan-lahan, pertama-tama terasa buram, tapi lama-kelamaan menjadi semakin jelas. Yang pertama kulihat adalah ayah yang kini duduk di sisi ranjang.
"Ayah, di mana aku?" Tanyaku.
"Lee, kau sudah sadar ternyata." Kata ayah lembut."Kamu di rumah sakit. Kemarin kamu kecelakaan."
"Ah, benar. Yang terakhir kuingat adalah saat aku dan Sergei akan membeli CD. Lalu aku… aku tidak ingat lagi."
"CD? Untuk apa kamu membeli celana dalam?"
"Ya ampun, ayah. Bukan CD yang itu. Tapi CD lagu." Kataku.
"Oh, CD lagu toh." Kata ayah. " Oh ya Lee, ayah minta maaf. Tidak seharusnya ayah memaksakan kehendakmu. Gara-gara ayah, semuanya jadi begini."
"Tidak apa, ayah. Semuanya sudah lewat kok."
Ayah tersenyum, "Omong-omong Lee, selamat ulang tahun." Ayah menjabat tanganku.
Oh ya, aku lupa kalau hari ini aku ulang tahun. Lalu pintu terbuka dan muncul Kazuya, Jun (pacar Kazuya) dan Lars yang membawa kue tart coklat dengan lilin berbentuk angka 18.
"Selamat ulang tahun!" Sahut ketiganya bersamaan.
Aku tersenyum.
"Lee, kue ini kami membuatnya bertiga lho." Kata Kazuya.
"Apanya yang dibuat bertiga? Aku yang paling banyak mengerjakannya." Kata Jun. "Lars hanya memasukkannya ke dalam oven. Sedangkan Kazuya hanya menancapkan lilinnya saja."
Lalu kami tertawa bersama.
"Saatnya tiup lilin, Lee." Kazuya menyalakan lilinnya.
Sebelum itu, aku membuat permohonan dalam hati, 'Semoga aku dan Sergei bisa menjadi dancer terkenal, Semoga Violet bisa menjadi ahli matematika yang terkenal juga, dan semoga semua bisa meraih cita-citanya.' Kataku dalam hati, lalu aku meniup lilin, setelah itu seisi ruangan bertepuk tangan.
Setelah itu aku sadar, ada satu orang yang belum datang di hari istimewaku sekarang. Orang itu adalah…
Terdengar pintu diketuk. Lars, yang berdiri paling dekat dengan pintu, membukanya.
"Violet!" kataku buru-buru.
"Selamat sore, Lee. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Kata seseorang yang masuk dengan nada ramah.
Ternyata bukan Violet, melainkan seorang dokter yang memeriksaku. Aku langsung kecewa.
"Err.. lebih baik, dokter." Jawabku.
"Oh, hari ini kamu berulang tahun ya?" Kata dokter setelah melihat kue yang dipegang Jun. "Kalau begitu, selamat ya." Dokter itu menjabat tanganku.
"Terima kasih, dokter." Jawabku.
"Lee, ayah lupa memberitahumu. Hari ini, Violet sudah berangkat ke London." Jelas ayah.
"Apa? Kenapa?" Tanyaku, terkejut.
"Ada urusan yang harus diselesaikannya di sana. Kemungkinan besar dia tidak kembali ke Tokyo."
Aku menghela nafas. Lalu aku menoleh melihat meja di sebelah ranjangku. Dompet dan ponselku sudah kembali.
"Maaf, semuanya, kalian diharap untuk meninggalkan ruangan." Kata dokter. "Lee akan saya periksa kembali lebih lanjut."
.
Beberapa menit kemudian…
"Dengan berat hati saya mengatakan, bahwa menurut hasil penelitian saya…" Kata dokter.
"Bagaimana hasilnya, dokter?" Potongku buru-buru.
"Rupanya kamu termasuk tipe orang yang terburu-buru, yah?" Dokter itu tersenyum. "Saya lanjutkan, menurut hasil penelitian saya, kaki kananmu harus diamputasi."
Mendengar hal itu, rasanya aku bagaikan disambar petir.
"Apa? Di... diamputasi, dokter?" Tanyaku.
Dokter itu mengangguk. "Kalau tidak, akan berakibat lebih buruk."
"Apa tidak ada cara lain?" Tanyaku lagi.
"Sayangnya tidak."
"Kalau begitu… berarti aku sudah tidak bisa nge-dance lagi, dong?"
"Maaf sekali. Itulah cara yang terbaik supaya lukamu tidak bertambah parah."
"Oh tidak." Kataku sambil menepuk jidatku. Tak terasa air mataku menetes. Sejak kapan aku yang excellent berubah menjadi cengeng begini?
"Setelah diamputasi, kaki kananmu akan digantikan dengan kaki palsu." Jelas dokter.
"Yang benar, dokter?" Kataku tak percaya.
"Benar, Lee. Setelah kamu memakai kaki palsumu, kamu bisa nge-dance lagi. Asal, kamu mau melatih dirimu menggunakan kaki palsu tersebut."
"Saya janji, dokter. Saya akan berlatih menggunakannya sampai saya bisa nge-dance seperti dulu lagi!" Kataku, dengan nada bersemangat.
"Bagus sekali. Bagaimana kalau proses amputasinya dilakukan nanti malam, tepatnya pukul delapan tepat?" Tanya dokter.
Aku menyetujuinya.
-oOo-
Keesokan harinya…
Kemarin, proses amputasi dan pemasangan kaki palsunya berjalan dengan lancar. Sekarang aku sedang makan siang di kantin rumah sakit. Tadi aku berjalan dari kamar menuju kantin dengan sedikit susah payah. Menggunakan kaki palsu tidak semudah yang dibayangkan. Untung saja ditemani Sergei, yang berjaga-jaga kalau aku jatuh.
"Sergei, terima kasih atas tawaranmu kemarin malam untuk menemaniku. Kau pasti capek, sepulang sekolah langsung membantuku berjalan dengan kaki palsu ini." Kataku. "Omong-omong, kamu tahu nomor ponselku dari mana?"
"Tidak apa-apa. Justru aku malah senang, bisa membantumu." Kata Sergei sambil memasukkan sesendok nasi dan secuil ayam ke mulutnya. "Dan aku sempat menanyakannya kepada Lars dua hari yang lalu. Supaya aku bisa menghubungimu sewaktu-waktu."
Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu, "Oh ya, ponselku tertinggal di kamar."
"Biar kuambilkan saja, tolong titip barang-barangku, yah."
.
Beberapa saat kemudian,Sergei menyerahkan ponselku kepadaku. Setelah aku mendongak, ternyata Sergei juga membawa kotak berwarna violet dengan pita silver.
"Apa itu, Sergei?" Tanyaku.
"Aku juga tidak tahu. Rasanya sebelum kita ke kantin kita tidak melihat benda ini kan?" Jelas Sergei. "Hei, ini untukmu, Lee."
Aku cengo. Siapa yang mengirimkan paket untukku? Dengan hati-hati, kubuka kotak itu dan ternyata isinya…
"Ya ampun, Sergei. Lihat ini!" Kataku dengan suara cukup keras, sehingga orang-orang di sekitar kami menoleh ke arah kami.
"Itu kan…" Kata Sergei.
"Kostum Michael Jackson yang langka itu, yang rencananya akan kita pakai waktu lomba." Sambungku. "Hei, kenapa ada dua? Dan ada suratnya juga."
Lalu aku membaca surat itu.
Dear Lee Chaolan,
.
Selamat ulang tahun, ya! Maaf kalau hadiahnya terlambat. Maaf juga kalau aku tidak pamit kepadamu sebelum aku berangkat ke London.
Kamu ingat waktu kita di kedai mie Marshall Law dulu? Kamu pernah bilang kalau kostum MJ yang ini tergolong langka. Kebetulan aku melihatnya di toko dekat bandara London, jadi kuhadiahkan untukmu. Siapa tahu kalau ada acara nge-dance lagi kamu bisa memakai kostumnya. Oh ya, dan satunya itu untuk Sergei.
Ngomong-ngomong soal Sergei, aku titip salam untuknya ya. Salam untuk semua keluargamu juga.
Yang terakhir, semoga cepat sembuh, ya!
.
Regards,
Violet
-oOo-
Dua hari setelah itu, aku sudah diperbolehkan pulang. Dan aku sudah agak terbiasa menggunakan kaki palsuku. Acara dance untuk perayaan ulang tahun sekolah Sergei dibatalkan, diganti acara lain. Sedangkan peserta olimpiade matematika sudah dicarikan pengganti, yaitu yang menduduki juara harapan pertama dengan juara dua dan tiga. Sekarang, ayah sudah tidak marah-marah lagi ketika aku nge-dance di kamarku (akhirnya aku bisa menggunakan kaki palsuku untuk nge-dance). Begitu juga dengan Kazuya dan Lars. Mereka bilang, biarlah aku menjalankan apa yang kuinginkan tanpa ada pemaksaan kehendak.
THE END
EPILOGUE:
Lee's POV
7 tahun kemudian…
Kini aku (dengan kaki palsuku, tentunya), bersama Sergei berada di tengah panggung, mengenakan kostum MJ yang diberikan Violet tujuh tahun lalu. Kami sudah menjadi dancer yang terkenal dan go international. Jadwal kami untuk hari ini adalah untuk tampil di London.
Sekitar lima menit telah berlalu dan alunan musik berhenti. Kami membungkuk pada penonton dan penonton memberikan kami tepuk tangan dan sorakan yang cukup meriah. Tak lupa, aku mengambil mikrofon yang berada paling dekat dengan posisiku dan berkata, "Thank you. Thank you all. Thank you for your applause." Lalu disambut oleh sorakan penonton yang sangat antusias.
.
Setelah acara selesai, Aku dan Sergei keluar dari pintu belakang. Di luar dugaan, kami disambut oleh para fans yang antusias, yang berkerumun di depan pintu dan menghalangi jalan kami menuju tempat kami memarkir mobil. Ada yang meminta tanda tangan, foto bersama, dan lain-lain. Kami meladeni mereka dengan sabar.
Setelah memakan waktu cukup lama, akhirnya kami bisa menuju mobil.
"Tadi itu cukup melelahkan ya, Sergei?" Tanyaku.
"Ambil positifnya, Lee. Itu artinya mereka menyukai penampilan kami." Kata Sergei.
Pada saat aku membuka pintu mobil, ada seseorang (yang sepertinya fans kami) berkata dengan bahasa Inggris di belakangku, "Permisi, bolehkah saya meminta tanda tangan?"
"Bagaimana ini, Sergei? Kita harus cepat menuju hotel kan?" Tanyaku pelan.
Sergei memberikan isyarat bahwa aku harus memberinya tanda tangan.
"Oke." Aku menandatatangani bukunya, lalu aku berkata dalam bahasa Inggris, "Siapa namamu?"
"Violet." Jawabnya.
"Hmm.. Violet ya? Omong-omong, namamu sama seperti nama seorang teman yang kukenal tujuh tahun lalu."
"Dan teman yang kaumaksud adalah aku, Lee Chaolan." Katanya, dalam bahasa Jepang.
Aku mendongak. Di depanku kulihat sosok yang dulu pernah bertukar tempat denganku.
"Violet, sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabar?" Aku memeluknya.
"Aku baik. Sekarang aku menjadi guru matematika SMA. Dan akhirnya kamu memakai baju yang kuberikan ." Katanya, lalu melepaskan pelukan. "Aku ke sini untuk memberi kejutan pada kalian. Di sana terlalu ramai, jadi kutunggu di sini saja."
"Ada yang dicuekin, nih." Kata Sergei tiba-tiba.
"Ah, maaf, Sergei." Kataku.
Aku dan Violet tertawa, Sergei hanya tersenyum simpul.
"Aku harus pulang sekarang. Besok aku harus mengajar ." Kata Violet.
"Baiklah, kalau begitu kami kembali ke hotel dulu, ya." Kataku.
"Selamat tinggal, Lee dan Sergei!" Violet melambaikan tangan.
Lalu aku dan Sergei langsung tancap gas ke hotel dan mempersiapkan diri untuk show selanjutnya.
Author's Note:
Yosh! Akhirnya selesaiiii~ *loncatloncatkasur*
Gimana? Gaje kan? :)
Dari salah satu dialognya Lee di sini, ada dialog yang saya ngambil dari ending nya di Tekken 4.
("Thank you. Thank you all. Thank you for your applause.")
Oke, itu aja. Review sangat diperlukan…
