Arthur memasuki rumahnya dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi wajahnya membuat beberapa helai rambutnya menempel di dahinya. Tangannya mencengkeram daun pintu saat dia bersandar di depan pintu.
"Sudah kubilang kan? Kau bandel, sih" kata sebuah suara dari arah tangga. Suara itu terdengar seperti suara lelaki tapi nada suaranya yang terdengar seperti anak-anak yang mengejek temannya itu terdengar menyeramkan juga berada di dalam sebuah mansion gelap.
Arthur menatap tajam ke atas tangga, dia melihat seorang pemuda yang lumayan tinggi menyeringai nakal sambil bersandar di ambang tangga. Rambutnya berantakannya mencuat ke segala arah, mata birunya bersinar-sinar memancarkan keriangan seorang anak kecil. Dia terlihat seperti seorang anak kecil terperangkap dalam tubuh orang dewasa.
"Bukan urusanmu, Mathias!" seru Arthur tajam. (Siapa yang pertama kali ngeberi nama Mathias Kohler sama Denmark ya? Saya pinjam namanya ya, habis Denmark kesannya bukan nama manusia banget sih XD)
Mathias menggelengkan kepalanya sambil melompat dari selusur tangga. Seandainya dia manusia, dia pasti sudah patah beberapa tulang, tapi dia hanya mendarat mulus dengan santai, seolah-olah dia melakukan hal ini setiap harinya.
"Itu memang bukan urusanku" kata Mathias sambil tertawa sinis. "Tapi…" dia berjalan mendekati Arthur, begitu dia berdiri di hadapan Arthur, dia memegang dagunya, membuat pemuda Inggris itu memandang mata pemuda Denmark itu. "Tidak bagus kan, kalau kau menyerang pemuda Amerika itu karena kasus haus darah yang tidak terkendali? Meskipun aku tidak peduli"
Arthur memandangi tajam mata biru Mathias. "Aku tidak akan menyerangnya!" serunya.
"Atas dasar apa kau bisa seyakin itu?" desis Mathias. "Terakhir kali kau dalam keadaan begini, kau ingat apa yang kau lakukan, kan?"
Mata hijau Arthur melebar, teringat sebuah ingatan yang berusaha keras dilupakannya. Dia limbung, tangannya menutupi sebelah matanya, seolah ingin mencegah ingatan itu kembali.
"Tepat" kata Mathias. "Aku yakin kau masih belum lupa. Dan aku juga yakin…kau tidak mau…pemuda Amerika itu, siapa namanya? Alfred? Menjadi korbanmu selanjutnya"
"Atas dasar apa bisa seyakin itu?" tanya Arthur.
Mata biru Mathias berubah menjadi pandangan penuh simpati sebelum dia membungkuk dan berbisik di telinga Arthur. "Kau menyayangi pemuda bernama Alfred itu kan? Pandanganmu saat kau menceritakannya pada kami…mirip dengan pandangan yang kumiliki…saat aku membayangkan Norge…Kau mencintai Alfred"
Lalu dia berjalan meninggalkan Arthur yang masih berdiri terpaku di depan pintu, mencerna perkataan Mathias tadi.
"Kenapa tiba-tiba dia jadi begitu sentimental, biasanya dia begitu berisik dan tak tahu diri…" gumam Arthur sambil berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Alfred duduk di sofa ruang tamu apartemennya. Tangannya memegang sebuah buku sastra, pandangannya kosong menatap jendela apartemennya, menatap hujan yang daritadi turun dengan deras membasahi bumi.
Pikirannya terus terbayang-bayang kepada Arthur, sejak dia berlari keluar kelas waktu itu, dia tidak pernah lagi kembali. Itu membuatnya cemas. Ada apa sebenarnya dengan Arthur? Kenapa…dia merasa ada sesuatu yang aneh? Sesuatu yang disembunyikan pemuda Inggris itu? Sesuatu yang pemuda Inggris itu tidak ingin orang lain, terutama Alfred, mengetahuinya?
Apa…Arthur memang benar-benar membencinya sehingga dia tidak ingin memiliki urusan apa pun dengan Alfred?
Pikirannya tertarik keluar saat adiknya mendatanginya dan meletakkan secangkir kopi di meja di depan Alfred.
"Terima kasih, Mattie" kata Alfred sambil mengambil cangkir kopi di hadapannya dan menghirup isinya. Hangat kopi itu menghangatkan tubuhnya, membuat perasaannya kembali nyaman.
Matthew memandangi kakaknya itu dengan pandangan cemas. "Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" tanyanya cemas.
Alfred tersentak mendengar pertanyaan adiknya itu. "Ke…kenapa tiba-tiba bertanya begitu?" serunya.
Matthew menatap mata biru kakaknya itu. "Kau…tingkahmu sejak tadi aneh. Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanyanya.
Alfred baru ingin membuka mulutnya untuk mengatakan perasaannya tentang Arthur saat dia menyadari sesuatu. Adiknya itu…punya luka hati sendiri yang masih belum sembuh. Dia tidak pantas menambah luka hati adiknya melebihi ini. Jika luka dan beban hati adiknya itu ditambah dia takut…dia takut adiknya itu tidak sanggup menampungnya dan dia akan hancur. Dan itu adalah sesuatu yang tidak akan biarkan Alfred terjadi.
Karena Matthew adalah malaikatnya, seseorang yang disayanginya, seseorang yang penting baginya. Matthew adalah orang kedua yang Alfred akan lakukan apa saja baginya asalkan bisa melihat kebahagiannya (tahulah orang pertamanya siapa…XD)
Maka Alfred hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, kok. Aku hanya lelah" katanya. "Jadi tidak usah khawatir"
Matthew memandangi kakaknya itu sesaat sebelum tersenyum dan menganggukkan kepalanya, tanda dia mengerti perkataan kakaknya.
Keesokan harinya…
Alfred sedang sibuk-sibuknya melamun dalam pelajaran sastra Jepang yang menurutnya…luar biasa membosankan. Dia menguap berkali-kali sambil menutupi mulutnya. Dia hanya ingin pelajaran ini selesai, dan dia bisa berlari ke lapangan basket untuk menyalurkan tenaganya yang terbuang sia-sia di pelajaran membosankan ini.
Alfred melirik ke arah Arthur untuk melihat pemuda Inggris yang duduk di sebelahnya itu, membayangkan pemuda Inggris itu pasti sedang serius membenamkan diri di balik buku teks tebal jurusan sastra yang super membosankan itu.
Apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang tidak pernah disangkanya.
Dia melihat Arthur sudah merosot dari bangku, wajahnya sekarang tersembunyi di lengannya yang menutupi matanya. Keringat membasahi wajah dan lehernya. Dan tanpa melihat pun Alfred tahu kalau nafasnya terdengar tidak beraturan.
Alfred pun mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu Arthur dan mengguncangnya pelan. "Iggy…Arthur, kamu tidak apa-apa?" tanyanya.
Arthur memandang tajam pada Alfred, tapi mata hijaunya terlihat suram, sehingga daripada pelototan pandangan matanya lebih terlihat seperti pandangan memelas. "Bu…bukan urusanmu!" balas Arthur pelan.
Mendengar perkataan Arthur, Alfred merasa panas juga. Bahkan dalam keadaan begini, pemuda Inggris itu masih saja tidak mau menerima bantuannya dan malah menghinanya. Apa-apaan itu? Sifat pemuda Inggris ini sudah keterlaluan. Dia kan sedang sakit, apa salahnya minta bantuan, meski pada orang yang dibencinya sekalipun?
Alfred mengangkat tangannya, mencoba menarik perhatian gurunya.
"Ya, Jones?" tanya gurunya.
"Sepertinya Arthur sakit, boleh saya membawanya ke UKS?" tanya Alfred.
Tanpa disadari Alfred, mata Arthur melebar ketakutan mendengar perkataan Alfred.
Guru itu melirik untuk melihat keadaan Arthur, "Baiklah, bawa Kirkland ke UKS, dan sebaiknya kamu temani dia di sana" katanya.
"Terima kasih, bu guru" kata Alfred ceria sebelum mengalungkan lengan Arthur ke bahunya dan meletakkan tangannya di pinggang Arthur dan menyeret pemuda Inggris itu keluar.
Arthur, jelas tidak pergi dengan sukarela, dia berontak di pegangan Alfred. Tapi dalam keadaan sakit seperti itu, dia tidak bisa berbuat banyak.
Begitu mereka sampai di UKS, mereka tidak menemukan siapa pun di sana. Surat dari sang pengurus mengatakan kalau ada keperluan mendadak. Alfred hanya menghela napas, memasuki UKS, dan membaringkan Arthur di salah satu ranjang UKS.
"Sudahlah, sekarang kamu tidur saja dulu" kata Alfred sambil mengusap rambut Arthur yang sedikit basah karena keringat. "Aku akan carikan obat untukmu. Harusnya ada di lemari…"
Tiba-tiba saja Alfred merasa ada yang menarik tangannya sehingga dia terjatuh ke depan. Dalam sekejap, dia menemukan dirinya terbaring di ranjang UKS dengan Arthur menindih tubuhnya, pemuda Inggris itu menahan tangan pemuda Amerika itu di sebelah kepalanya, membuat Alfred terperangkap dan tidak bisa bergerak ke mana-mana. Wajah mereka berjarak sangat dekat, Alfred sampai bisa merasakan hangat napas Arthur yang tidak beraturan di wajahnya.
Wajah Alfred sontak memerah karena ini.
"I…Iggy…"
Tapi Arthur seolah-olah tidak mendengarkan perkataan Alfred. Dia menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan leher Alfred, tangannya membuka kancing kemeja Alfred. Lalu dia membenamkan wajahnya di leher Alfred, mencium aroma tubuh pemuda Amerika itu.
"A…Arthur…"
Sekarang Alfred mulai merasa ketakutan dengan tingkah pemuda Inggris ini. Ada apa dengan Arthur?
Tiba-tiba Arthur mengeluarkan lidahnya dan menjilat leher Alfred. Alfred tersentak dengan perbuatan Arthur ini, tapi hanya sebentar. Dia mengerang pelan saat Arthur semakin gencar menjilat lehernya, menyerang lehernya tanpa ampun. Alfred memejamkan matanya, menikmati sensasi saat Arthur menyerang lehernya.
Kemudian tanpa peringatan apa pun, Arthur membuka mulutnya dan membenamkan taringnya di leher Alfred.
Mata Alfred sontak terbuka saat dia merasakan sepasang taring itu menembus kulitnya, mengalirkan darah merah yang segera diminum dengan rakus oleh Arthur.
"Iggy! Arthur! Hentikan!" seru Alfred sambil berusaha melepaskan diri dari Arthur, tapi sia-sia. Arthur jauh lebih kuat darinya. Dia menahan tubuh Alfred dengan kuat, membuat pemuda Amerika itu bahkan tidak bisa bergerak sama sekali. Alfred hanya bisa membiarkan pemuda Inggris itu meminum darahnya.
Iggy…kumohon…jangan…
Pandangan Alfred mulai buram saat semakin banyak darah yang dihisap oleh Arthur. Dia mulai merasa lemah, tidak lagi menyadari sekelilingnya.
Apa aku…akan mati di sini?
Arthur sama sekali tidak mengurangi penyerangannya. Dia malah semakin memperdalam taringnya di leher Alfred, mencoba mendapatkan lebih banyak darah.
Aku akan mati di sini…di tangan Arthur…
Alfred sudah berada di batas kesadaran, dia sudah hampir tidak bisa membuka matanya.
Ironis…aku akan mati di tangan Arthur…orang yang selama ini kucintai…
Hal terakhir yang Alfred rasakan dan lihat sebelum semuanya menjadi gelap adalah Arthur melepaskan gigitannya dan Arthur, dengan mata merah darah dan bibir berlumuran darah, menatap cemas dan ketakutan pada Alfred.
Seorang pemuda Norwegia berambut cokelat pucat yang dihiasi sebuah jepit rambut bentuk salib dan bermata violet (warna mata Norway tuh apa sih? Perasaan saya violet tapi…entahlah, maklumi aja kalau salah XD) mendongak dari buku yang dibacanya dan memandang keluar jendela.
"Ada apa, Norge?" tanya seseorang di sebelahnya. Pemuda di sebelahnya itu daritadi asyik ngalor-ngidul dengan laptopnya yang disembunyikan di bawah meja (contoh perbuatan tidak baik, jangan ditiru ya…XP).
"Sepertinya yang kau perkirakan terjadi, anko uzai" gumam Norway.
"Hmm?" pemuda Denmark itu menoleh dari laptopnya untuk memandang kekasihnya itu.
"Arthur menyerang Alfred" kata Norway.
Mathias menghela napas dan menutup laptopnya dan bersandar di kursinya. "Terjadi ya? Dasar" perlahan-lahan senyum sedih dan simpati tersungging di bibirnya. "Padahal sudah kuperingatkan"
Norway tidak mengatakan apa-apa dan kembali menatap jendela dengan pandangan datar.
"ALFRED!"
Arthur menjerit panik saat dia melihat keadaan pemuda Amerika itu. Bola matanya yang biasanya bersinar dengan penuh kebahagiaan dan keceriaan itu sekarang gelap dan terbaring lemas, lehernya berlumuran warna merah darah.
Dia tidak bermaksud menyerang Alfred. Dia tidak pernah bermaksud melukai Alfred. Oh Tuhan, dia tidak ingin pemuda Amerika ini terluka.
Dia tahu harusnya dia mendengarkan perkataan Mathias. Dia sudah tidak minum darah selama berbulan-bulan, tubuhnya sudah menjerit meminta darah. tapi dia tidak mendengarkannya, berusaha sekeras mungkin untuk tidak meminum darah.
Dan sekarang inilah harga yang harus dia bayar atas perbuatannya itu. Orang yang paling disayanginya terbaring di bawahnya, lehernya berlumuran darah, dan berada di antara hidup dan mati.
Arthur segera merobek kemejanya dan membalut leher Alfred. Tidak, tidak akan dia biarkan pemuda Amerika ini mati. Dia akan lakukan apa pun asalkan Alfred hidup. Dia tidak akan memaafkan dirinya kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Alfred karena dirinya.
Karena seperti yang Mathias katakan, dia menyayangi Alfred.
Arthur mencintai Alfred. Sangat mencintainya.
Tanpa banyak bicara, dia segera membawa Alfred bridal-style di lengannya, memanjat jendela, dan melompat turun. Dia segera berlari ke mansionnya. Pasti, pasti ada yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan Alfred.
Apa pun…apa pun akan Arthur lakukan…selama itu demi Alfred.
Alfred perlahan-lahan membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah sebuah lampu hias di atas kepalanya. Dia perlahan-lahan menoleh ke sekitarnya dan melihat kalau dia berada di sebuah kamar yang sangat luas. Dari sinar bulan yang menerobos dari kaca jendela besar di sebelah kirinya, dia menebak kalau sekarang sudah malam.
Dia perlahan-lahan bangkit hingga dia terduduk lemas di atas ranjang. Mulanya dia bingung, kenapa dia bisa berbaring di kamar yang tidak dia kenal? Rasanya dia tidak pernah seenaknya masuk ke kamar orang lain?
Lalu semua ingatannya kembali, kejadian yang terjadi di UKS, saat Arthur membenamkan taringnya di lehernya, meminum darahnya. Arthur memandangnya dengan pandangan keji dengan bola mata merah darah, mulutnya berlumuran darah merah segar.
Alfred menarik napas tajam. Tangannya terbang ke lehernya, dan dia semakin ngeri saat menyadari kalau ada dua lubang kecil di lehernya, bukti yang menyatakan kalau semua yang terjadi tadi bukanlah sebuah mimpi.
Itu kenyataan.
Kenyataan yang menakutkan.
"Oh, sudah bangun, ya?" tanya seseorang dari arah pintu kamar.
Alfred menoleh ke arah asal suara itu. Saat dia melihat orang yang bicara padanya, matanya langsung melebar. Mulutnya terbuka lebar. Dia tidak bisa mempercayai penglihatannya akan siapa yang berdiri di depan pintu kamar itu dan bicara padanya.
"G…Gilbert? Antonio?" katanya dengan pelan.
Author note:
Gimana?Gimana? bagus gak cerita saya? Atau malah sangat gaje?
Review dong, beritahu saya pemikiran kalian soal cerita ini, oke?
Saya tunggu review kalian semua...
SEKIAN
