"Gi…Gilbert? Antonio?" tanya Alfred pelan.
Dia tidak bisa mengerti. Otaknya tidak lagi bisa mengerti. Kenapa Gilbert dan Antonio berdiri di depan pintu kamar ini? Sehat walafiat? Padahal mereka sudah dinyatakan menghilang enam bulan lalu. Lalu, kalau memang mereka masih hidup, kenapa mereka tidak pernah kembali? Kenapa? Apa mereka tidak mengerti berapa banyak orang yang hancur karena kepergian mereka? Betapa hancurnya orang-orang, terutama Lovino dan Matthew dengan kepergian mereka? Kenapa? Kenapa malah menyembunyikan diri begini?
Antonio dan Gilbert berjalan dengan tenang ke dalam kamar.
"Jadi Alfred…bagaimana keadaanmu?" tanya Antonio riang.
Mereka…tidak terlihat beda dari Antonio dan Gilbert yang dikenalnya. Jelas…mereka bukan orang lain. Dan kenyataan Antonio mengenali Alfred…berarti mereka tidak hilang ingatan. Lalu kenapa?
"Woi, jawab dong! Gak awesome tahu ditanya gak dijawab" kata Gilbert yang daritadi diam.
"Ah…eh…ya…mungkin…aku baik-baik saja" kata Alfred sambil menggosok lehernya sekali lagi.
Antonio dan Gilbert memandangi Alfred. "Arthur menggitmu kan?" kata Antonio tenang.
Alfred tersentak mendengar perkataan Antonio.
"Kau pingsan berlumur darah ke sini. Gak awesome banget keadaanmu tadi. Kami mesti melakukan tranfusi darah untuk menyelamatkanmu. Kalau nggak, mungkin kamu sudah menyeberangi sungai kematian yang awesome di alam sana" kata Gilbert.
"Ke…kenapa…kalian tahu soal itu?" tanya Alfred.
"Baumu jelas mengatakan itu" kata Antonio.
"Oh…" kata Alfred, lalu dia tersadar.
"Bukan itu masalahnya!" serunya. "Kenapa kalian ada di sini? Polisi sudah menyatakan kalau kalian tewas! Kenapa? Kenapa ada di sini!"
Mereka berdua saling berpandangan.
"Kami…memang sudah tewas, Alfred" kata Antonio. "Setidaknya…kehidupan kami sebagai manusia memang sudah berakhir"
"Apa maksudnya itu?" seru Alfred.
"Aku mengubah mereka" kata sebuah suara lain dari arah pintu.
Mereka bertiga berbalik dan melihat Arthur berdiri di depan pintu kamar. Wajahnya terlihat serius, angkuh, benar-benar seperti Arthur yang biasanya. Tapi Alfred melihat kalau ada ketakutan dan rasa cemas di mata Arthur.
"Apa?"
"Aku mengubah mereka" kata Arthur. "Menjadi vampire, sama sepertiku"
Alfred kembali memandangi Antonio dan Gilbert yang diam. Antonio tersenyum sedih pada Alfred, sedangkan Gilbert memandang lantai, tidak bisa memandang mata Alfred.
"Gilbert, Antonio, tolong tinggalkan kami sebentar" kata Arthur sambil berjalan memasuki kamar. "Ada yang ingin kubicarakan dengan Alfred"
Gilbert dan Antonio mengangguk dan berjalan keluar. Setelah yakin, mereka sudah cukup jauh, Arthur berjalan ke arah jendela dan menatap keluar.
"Maaf" kata Arthur setelah mereka berdua bisu cukup lama.
Alfred segera mengangkat kepalanya. "Hah?" tanyanya.
"Maaf" kata Arthur sambil berbalik untuk memandang Alfred. "Aku tidak pernah bermaksud menggigitmu"
Alfred tersenyum. "Tidak apa-apa, kok" katanya. Dia tidak bisa membenci Arthur. Pandangan sedih dan takut di mata pemuda Inggris itu cukup untuk melelehkan hati Alfred. "Aku…cuma terkejut kalau kau ternyata adalah vampire"
Arthur tersenyum sedih. "Aku…dulu aku adalah manusia sama sepertimu" kata Arthur sambil berjalan ke ranjang, duduk di atas ranjang, dan duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu Alfred. "Sampai suatu hari, ada vampire yang menyerang desaku…membunuh semua orang di sana…kecuali aku…karena dia mengubahku menjadi vampire…seperti sekarang ini…"
"Kenapa dia hanya mengubahmu?" tanya Alfred penasaran sambil mengusap kepala Arthur.
Arthur menutup matanya dan membukanya kembali sesaat kemudian. "Aku juga tak tahu" kata Arthur.
"Kenapa…kau menggigitku?" tanya Alfred pelan.
Tubuh Arthur sedikit menegang. Dia tahu Alfred pasti akan menanyakan itu. Tapi dia…dia tidak siap. Dia tidak siap menjawabnya dan mendapati pemuda Amerika itu menatapnya jijik atau penuh kebencian. Dia tidak mau itu terjadi.
"Iggy?" tanya Alfred pelan.
"Maaf…" kata Arthur pelan. Bahunya bergetar, dan tidak lama kemudian air mata mengalir dari pipinya. "Aku…aku tidak bermaksud menggigitmu. Tapi aku…aku haus darah…aku tidak bisa mengontrol pikiranku, dan begitu…begitu sadar…maaf…aku tidak bermaksud begitu…kumohon maafkan aku…jangan membenciku…"
Memandang Arthur yang seperti itu, Alfred merasa tertohok juga. Dia tidak mau melihat Arthur seperti ini. Dia tidak mau melihat air mata menetes dari mata Arthur. Dia ingin Arthur selalu tersenyum, selalu bahagia. Tidak menderita seperti ini…
Dia pun meraup Arthur ke dalam pelukannya. Arthur menggenggam kemeja Alfred erat, seolah dia takut kalau Alfred akan menghilang kalau dia melepaskannya. Tangisnya menjadi semakin keras.
"Aku tidak membencimu, Iggy" gumam Alfred. "Aku tidak pernah membencimu"
Lalu dia membungkuk dan mencium bibir Arthur lembut. Mata Arthur melebar sesaat sebelum dia menutup matanya dan membalas ciuman Alfred. Ciuman mereka begitu hangat, begitu lembut, jelas menunjukkan seberapa besar rasa cinta yang mereka sampaikan satu sama lain.
Setelah beberapa menit, Alfred melepaskan ciumannya, dia memandang wajah Arthur yang agak bersemu merah dengan pandangan lembut sambil tersenyum.
"Iggy…" katanya pelan.
"Ya?" tanya Arthur.
"Aku mencintaimu" kata Alfred.
Arthur tersenyum. "Memang sudah waktunya kau mengatakan itu, git"
Alfred tersenyum dan memeluk Arthur dan mendorongnya hingga mereka terbaring di atas ranjang. "Apa…kau juga mencintaiku?"
Arthur menutup matanya dan mengecup bibir Alfred pelan. "Apa itu menjawab pertanyaanmu?"
Alfred tertawa. "Ya" dia balas mencium bibir Arthur. "Ya"
Selama beberapa saat kedua pasangan baru itu saling bertukar ciuman dan pelukan. Tak lama kemudian, Alfred duduk di ranjang, menatap Arthur yang masih terbaring di sebelahnya.
"Arthur, bisa aku menanyakan sesuatu padamu?" tanya Alfred.
"Ya" kata Arthur.
"Apa…aku juga sudah menjadi vampire?" tanya Alfred.
Arthur menggelengkan kepalanya. "Tidak. Untuk menjadikanmu vampire, aku harus memberikan darahku padamu. Kau masih manusia…" gumamnya.
"Satu lagi. Kenapa…" Alfred mengalihkan pandangannya. "Kenapa kau mengubah Gilbert dan Antonio menjadi vampire?"
Arthur memandang Alfred sejenak sebelum kembali memandang ke arah jendela. "Mereka sama denganmu…aku menyerang mereka saat aku dalam keadaan haus darah. bedanya, saat itu mereka sudah tidak bisa diselamatkan"
Alfred memandang Arthur.
"Tadinya aku ingin meninggalkan mereka begitu saja. Tapi…mengingat semuanya…betapa bahagianya mereka sebelum aku menghisap darah mereka…aku tidak bisa meninggalkan mereka, tidak bisa membiarkan mereka mati…jadi…aku mengubah mereka. Memberikan mereka hidup baru untuk hidup yang sudah kuambil dari mereka" kata Arthur. Lalu dia memandang Alfred. "Apa…kau marah padaku?"
Alfred terkesiap dan memandang Arthur. "Apa?" katanya.
"Aku tahu…kalau Gilbert adalah kekasih adik yang sangat kau sayangi. Dan aku tahu seberapa hancurnya adikmu saat dia mengira Gilbert telah tewas. Apa kau marah padaku…karena membuat adikmu seperti itu? Karena sudah begitu kejam merenggut kebahagiaan adikmu? Membuatnya terluka?"
Alfred terlihat berpikir sejenak sebelum menggelengkan kepalanya. "Aku memang marah…tapi…" dia memandang ke arah pintu kamar. "Gilbert…dia masih ada di sini. Dia masih hidup meskipun bukan sebagai manusia. Aku…tidak tahu harus berterima kasih seperti apa padamu karena tidak membiarkan Gilbert mati…karena…dengan begini, masih ada kemungkinan kalau…kalau Mattie masih bisa kembali seperti semula…kalau dia bisa kembali ke dirinya yang dulu. Dirinya yang sangat kusayangi…dan kurindukan…"
Arthur memandang Alfred sebelum menghela napas dan bangkit dari ranjang. "Baiklah, aku akan pergi sebentar. Aku perlu bicara pada seseorang"
Alfred mengangguk. Arthur pun berjalan keluar. Tidak lama kemudian, pintu kamar menjeblak terbuka dan Antonio dan Gilbert kembali berjalan masuk.
"Jadi…bagaimana?" tanya Antonio riang.
"Bagaimana apanya?" tanya Alfred bingung.
"Bagaimana? Apa kalian sudah jadian?" tanya Antonio antusias.
Wajah Alfred langsung bersemu merah mengingat ciuman yang dia lakukan dengan Arthur tadi. Itu hanya membuat senyum Antonio semakin lebar. "Ciee…"
"Antonio…" kata Gilbert tiba-tiba.
Antonio dan Alfred menoleh memandang Gilbert. "Bisa tinggalkan kami sebentar?" katanya.
Antonio terlihat cemas sesaat sebelum menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar, meninggalkan Gilbert dan Alfred di kamar itu.
"Ada apa?" tanya Alfred.
Gilbert memandang Alfred. "Tolong…jangan beritahu Mattie…kalau aku…kalau aku masih hidup"
Alfred terkesiap mendengar perkataan Gilbert. "Ke…kenapa?" tanyanya.
"Lebih baik dia tetap menganggapku sudah mati" kata Gilbert.
Pandangan Alfred berubah menjadi pandangan penuh kemarahan. "Apa maksudnya itu?" serunya marah. "Apa kau tahu seberapa hancurnya dia saat dia kira kau sudah mati? Betapa dia selalu menangis histeris di bulan-bulan pertama kau menghilang? Betapa dia…"
"Aku tahu" potong Gilbert. "Dan karena itu lebih baik dia tidak tahu aku masih hidup. Karena…toh aku tidak ingin menemuinya"
Alfred langsung bangkit dan menampar Gilbert dengan keras. "Apa-apaan itu? Hanya enam bulan, dan kau langsung melupakan dia? Kau langsung lupa kalau kau pernah mencintainya? Jadi selama ini kau hanya mempermainkannya? Hah!" seru Alfred marah.
"Aku mencintainya, Alfred!" seru Gilbert keras, membuat Alfred langsung terdiam.
Suasana di antara mereka langsung sunyi senyap…
"Aku mencintainya…sangat mencintainya. Perasaan itu tidak pernah berubah sampai sekarang…bahkan semakin kuat" kata Gilbert. "Tidak ada orang awesome lain yang bisa menggantikan posisi Mattie. Dia…harta awesomeku yang paling berharga. Yang paling bersinar. Dia…satu-satunya orang awesome yang kuinginkan di dunia ini...Dia satu-satunya orang yang kubutuhkan di dunia ini"
"Lalu kenapa?" kata Alfred. "Kenapa harus menghindarinya? Kalau kau masih mencintainya dan dia juga masih mencintaimu…"
"Alfred, aku…aku yang awesome ini bukan lagi manusia…" kata Gilbert. "Sekarang aku adalah monster…yang hidup dengan menghisap darah orang lain. Aku…makhluk kegelapan yang ditakdirkan hidup dengan menyerang orang lain, membawa ketakutan sepanjang kemunculannya…"
Alfred terdiam sambil memandangi Gilbert.
"Aku…tidak pantas untuk hidup dengan Mattie. Dia begitu bersinar…dia malaikat yang diturunkan Tuhan dari bumi, Alfred. Dan aku…aku tidak pantas mengotori dia dengan kegelapan apapun. Aku…tidak ingin dia mengetahui sisi diriku yang menyedihkan dan menakutkan ini, Alfred. Dia…dia tidak boleh melihat kalau aku yang sekarang…adalah makhluk yang suatu saat bisa saja mengakhiri nyawanya…"
"Aku meragukan itu" kata Alfred.
Gilbert memandang Alfred dengan tatapan terkejut.
"Aku ragu kau bisa mengakhiri nyawa Mattie" kata Alfred. "Karena kalau kau benar-benar mencintainya, kau akan menjaganya alih-alih menyeretnya dalam bahaya"
Gilbert terdiam.
"Dan masalah apa Mattie mau menerima dirimu yang sekarang ini atau tidak…" dia berjalan ke arah Gilbert dan menepuk dada Gilbert tepat di bagian hatinya. "Itu adalah keputusannya. Kau tidak bisa terus bersembunyi di sini, kalian sama-sama hanya menyakiti diri sendiri"
Gilbert memandangi Alfred dengan pandangan sangsi.
"Dia bukan anak lemah, Gilbert" kata Alfred. "Saat dia memutuskan dia akan melakukan sesuatu. Dia akan berusaha keras untuk melakukannya. Jadi saat dia memutuskan untuk mencintaimu, yakinlah padaku, dia akan selalu mencintaimu. Tidak peduli seperti apa pun dirimu…" dia menepuk bahu Gilbert. "Dan bagaimanapun hidupmu…"
Alfred berjalan ke arah pintu kamar. Sesaat sebelum membuka pintu kamar, dia berbalik untuk menghadap punggung Gilbert. "Temui dia Gilbert, dia membutuhkanmu. Dan kau juga membutuhkannya. Kau dan Antonio tidak bisa bersembunyi di sini sambil melihat Mattie dan Lovino menderita di sana. Kalian saling membutuhkan. Tidak peduli makhluk apa pun kalian. Aku yakin…Mattie dan Lovino akan menerima kalian. Karena yang mereka butuhkan bukan penampilan kalian. Mereka membutuhkan cinta, kasih sayang, dan perhatian kalian"
Dia pun membuka pintu kamar itu dan berjalan keluar. Meninggalkan Gilbert yang masih terdiam mencerna perkataannya tadi.
