Arthur sedang berjalan di koridor jurusan sastra saat ada sepasang tangan memeluknya dari belakang. Dia baru saja ingin berontak saat bau yang familiar menyerangnya. Dia tersenyum lembut.
"Bukankah tidak pantas mengumbar kemesraan di depan umum, git?" tanya Arthur pelan pada orang yang memeluknya.
Alfred merengut sambil mengeratkan pelukannya. "Tapi…menyenangkan kan…kalau aku bisa bersama dengan pacarku tercinta…" katanya.
"Jangan terlalu banyak bermimpi…Alfred. F. Jones" kata Arthur sambil berbalik dan menyeringai pada pacarnya itu.
Alfred balas tersenyum. "Oh, tapi aku tidak bermimpi. Kenyataan kan kalau aku ini adalah pacarmu, sir Arthur Kirkland?" tanyanya dengan nada sedikit mengejek.
Arthur tertawa pelan. "Mungkin kau benar" katanya.
"Bukan mungkin, Iggy. Itu pasti benar" kata Alfred sambil membungkuk dan mencium bibir Arthur.
"Apa kalian tidak bisa berhenti bermesraan lima menit saja?" tanya sebuah suara dari belakang Alfred.
Alfred menoleh dan melihat teman sekelasnya di jurusan olahraga, Mathias Kohler berdiri sambil bersandar dan menyeringai. Entah kenapa, hari ini dia terlihat senang.
"Halo, Mathias. Ada angin apa sampai kau datang ke sini?" tanya Alfred riang.
"Hanya ingin memastikan keadaan Arthur" kata Mathias. "Karena setelah meminum darahmu, seharusnya dia sudah baik-baik saja…tapi, tidak ada salahnya waspada, kan?"
Alfred langsung terkesiap. Mathias tahu…kalau Arthur adalah vampire?
"Aku baik-baik saja kok. Dan maklumi aku kalau aku menyerang manusia. Aku tidak seberuntung kau yang sudah mendapatkan Norway sebagai donor darahmu" kata Arthur.
"Tapi kelihatannya kau sudah mendapatkan donor darahmu, kan?" kata Mathias, seringai yang terpasang di bibirnya semakin lebar.
"Tunggu, tunggu!" seru Alfred pada kedua pemuda itu. "Mathias, kau tahu kalau Iggy…adalah seorang vampire?"
"Tentu saja" kata Mathias. "Bagaimanapun yang menemukan dia terlunta-lunta layaknya gelandangan di jalan beberapa tahun lalu dan memberikannya tempat tinggal kan aku"
"Kau tidak terkejut…dengan identitas asli Iggy?" tanya Alfred.
"Kenapa harus terkejut dengan makhluk yang sama denganmu?" tanya Mathias.
"Eh?"
"Aku juga seorang vampire, lho" kata Mathias.
"APA?" seru Alfred.
"Aku juga seorang vampire, seperti Arthur" kata Mathias. "Kira-kira lima puluh tahun lalu, aku menjadi korban pembunuhan dan ada vampire yang menyelamatkanku dengan mengubahku menjadi vampire"
"Tapi…kau tidak pernah terlihat haus darah…seperti Arthur…" kata Alfred.
"Itu karena aku bisa mengendalikan nafsu darahku. Ditambah…" dia memandang gedung jurusan sains di sebelah gedung sastra melalui jendela. "Norge selalu memberikan darahnya secara teratur, memastikan nafsu darahku terkontrol dengan baik"
"Ya…orang yang beruntung, ya…" kata Arthur sambil tersenyum sinis.
Mathias tersenyum sebelum memandang Alfred. "Dan kuberitahu padamu saja…kau punya kebiasaan mengunci jendela kamar adikmu saat dia tertidur, kan?" tanyanya.
Alfred menganggukkan kepalanya."Soalnya tidak aman, bagaimana kalau ada maling masuk dari sana, misalnya?" kata Alfred.
"Jangan pernah lagi lakukan itu" kata Mathias. "Karena jendela itu…satu-satunya cara Gilbert memasuki kamar adikmu untuk menemuinya"
Alfred terkesiap. "Dia menemui Mattie?" katanya.
"Saat dia tertidur" kata Mathias. "Norge memberitahukan itu padaku"
"Norway adalah manusia yang memiliki darah penyihir" kata Arthur. "Dan itu membuatnya memiliki kemampuan memprediksi masa depan. Mathias juga menemukanku karena Norge memberitahu kalau aku akan datang ke kota ini"
Alfred menganggukkan kepalanya. "Apa…apa Mattie dan Gilbert bisa…bersama lagi?" tanyanya.
Mathias menggelengkan kepalanya. "Dia bilang dia tidak bisa melihat sejauh itu. Tapi…" dia menepuk bahu Alfred. "Percayalah, kalau Tuhan memang menakdirkan mereka untuk bersama…sekeras apa pun Gilbert mencoba bersembunyi, Matthew akan menemukannya suatu saat nanti…"
Alfred menganggukkan kepalanya.
Mathias menyeringai. "Oke, aku permisi. Arthur, sekali lagi, jaga kondisi tubuhmu! Vampire yang haus darah akan menyerang orang tanpa pandang bulu! Itu berbahaya!"
Arthur cuma mengangguk.
Mathias pun berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Dunia ini terasa aneh sekarang…" kata Alfred. "Mengetahui semua teman yang dekat denganku adalah vampire…"
Arthur menggelengkan kepalanya. "Dunia ini sudah aneh bagiku sejak vampire itu mengubah hidupku…terutama melihat orang yang kukenal semuanya meninggalkanku…"
Alfred memandang Arthur dalam diam dan tanpa kata-kata memeluk tubuh Arthur, membiarkan pemuda Inggris itu merasakan kehangatan tubuhnya.
"Aku akan tetap ada di sini, Iggy…sampai kapan pun…" katanya.
Arthur mencengkeram jaket Alfred dan membenamkan wajahnya di kemeja pemuda Amerika itu.
Tidak…kau tidak akan selalu ada di sini…suatu saat kau akan menghilang…entah kapan, tapi itu pasti akan terjadi…
Matthew memandangi bukunya sejenak sebelum menghela napas dan mengalihkan pandangannya ke jam di sampingnya.
Tadi Arthur menelepon kalau kakaknya menginap di rumahnya karena ada urusan mendadak. Dia tidak keberatan, tapi dia merasa…ada yang aneh dalam perkataan Arthur. Soalnya belakangan ini, kakaknya itu selalu saja menghilang ke rumah Arthur. Orang bodoh pun akan curiga ada apa-apa di antara mereka.
Tapi dia tidak mau memikirkan itu sekarang…
Matanya terasa semakin berat. Dia pun memutuskan untuk tidur sebentar. Dia menelungkupkan kepalanya di meja belajarnya, menggunakan tangannya sebagai bantal dan tidak lama kemudian dia jatuh tertidur.
Saking pulasnya dia tertidur, dia tidak menyadari kalau ada seseorang memasuki kamarnya dan berdiri di sampingnya. Orang itu mengulurkan tangannya dan mengusap pipi pemuda Amerika bermata violet itu.
Gilbert tersenyum sambil memandangi kekasihnya itu. Dia terlihat begitu rapuh, begitu lemah, membuatnya ingin melindungi Matthew, memastikan tidak ada siapa pun yang akan melukai kekasihnya ini. Dia akan melakukan apa saja asalkan kekasihnya ini selamat, dan yang terpenting, hidup.
Tanpa kata-kata dia menggendong pemuda Amerika itu bridal style dan membawanya ke ranjangnya. Begitu sampai, dia membaringkan pemuda Amerika itu dan menyelimutinya. Kemudian dia membungkuk dan mencium dahi Matthew lembut.
"Gilbert…" gumam Matthew pelan.
Gilbert tersenyum sedih. "Maaf, Mattie…karena sudah meninggalkanmu. Tapi aku…aku tidak punya muka untuk bertemu denganmu. Aku tidak ingin menodaimu dengan monster di dalam diriku ini" dia mencium pipi Matthew.
"Tapi yakinlah, Mattie…aku selalu mencintaimu. Sekarang…nanti…sampai kapan pun"
Gilbert pun mengecup pelan bibir Matthew sebelum berdiri, memandang Matthew untuk terakhir kalinya malam itu.
"Selamat malam, Mattie…" gumamnya sebelum melangkah keluar dari jendela kamar Matthew setelah meletakkan sesuatu di meja di samping ranjang Matthew.
Tidak lama setelah Gilbert pergi, Matthew perlahan-lahan membuka matanya. Dia memandang sekelilingnya bingung sebelum bangkit.
"Kapan aku tidur di ranjang? Perasaan tadi aku tidur di meja…" gumamnya. Kemudian matanya menatap sebuah benda yang tergeletak di meja di samping ranjangnya.
Sekuntum bunga anyelir putih dan merah tergeletak di meja di samping kamarnya. Matthew menggenggam bunga itu. Saat tangannya menyentuh kelopak bunga itu dia teringat sesuatu…
FLASHBACK
Gilbert menyodorkan sebuah bunga anyelir pink dan merah kepada Matthew. Matthew menerimanya sambil tersenyum.
"Terima kasih, Gil. Aku senang" kata Matthew.
Gilbert tersenyum. "Apa kamu tahu arti awesome dari dua bunga itu?" tanya Gilbert.
Matthew menggeleng pelan.
"Bunga anyelir pink berarti 'aku tidak akan melupakanmu' dan bunga anyelir merah berarti 'aku menginginkanmu'" kata Gilbert. Lalu dia berbalik dan memeluk kekasihnya itu.
"Dan itulah perasaan awesome yang kurasakan setiap kali aku bersamamu" kata Gilbert.
Matthew tersenyum sebelum balas memeluk dan mencium bibir kekasihnya itu.
FLASHBACK END
Matthew tersenyum. Dia masih ingat betapa Gilbert selalu memberikan kedua bunga ini padanya. Bunga ini…bunga yang sangat berharga baginya.
Dia menggenggam erat bunga itu dan membawanya ke wajahnya, mencium bau bunga itu dan mendekapnya erat di dadanya.
"Seandainya yang memberikan bunga ini memang kamu, Gil…aku sangat bahagia…" gumam Matthew pelan, tanpa disadari sebutir air mata menetes dan jatuh tepat ke kelopak kedua bunga itu…
Matthew memang merasa bodoh berharap kalau Gilbertlah yang memberikan bunga ini padanya padahal dia tahu kalau Gilbert sudah meninggal, sudah tidak ada, sudah tidak mungkin memberikan bunga ini.
Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ada harapan hangat kalau Gilbert memang masih hidup, entah di mana, dan dalam bentuk apa, dan masih menyayanginya.
Dan Matthew bersumpah, seperti apa pun sosok kekasihnya itu saat dia kembali…menjadi makhluk seperti apa pun kekasihnya itu…
Dia akan selalu menyambut kembalinya kekasihnya itu dengan tangan terbuka dan senyum hangat.
Karena dia mencintai pemuda German itu…dia mencintai Gilbert
Sampai kapan pun, bagaimana pun, apa pun, asalkan kekasihnya itu kembali padanya…kalau kekasihnya itu memang masih hidup…
Dia akan melakukan apa pun untuk mendapatkannya kembali.
Matthew kembali tertidur dengan mendekap kedua bunga anyelir itu. Sebuah senyum manis, senyum yang sesungguhnya tulus dari hatinya untuk yang pertama kalinya sejak Gilbert menghilang tersungging di bibirnya.
Antonio duduk di salah satu batang pohon besar yang tepat berhadapan dengan kamar Lovino.
Lovino…
Dia bohong kalau dia mengatakan kalau dia tidak lagi mencintai pemuda Italia itu. Baginya, Lovino adalah orang yang paling berharga baginya. Orang penting…yang ingin selalu dijaganya.
Dia tahu keadaan Lovino memburuk sejak dia dinyatakan lenyap. Bagaimana dia menjadi semakin galak untuk menjauhkan orang dari kehidupannya. Karena dia tidak ingin lagi terluka lebih dari rasa sakit akibat kehilangan Antonio…
Dia…sejujurnya dia ingin sekali kembali kepada Lovino.
Dia merindukan Lovino. Merindukan senyuman yang jarang sekali tersungging di bibirnya. Merindukan bentakannya, wajah merahnya saat dia memeluknya, ucapan benci yang diucapkan dengan setengah hati, tendangannya, pukulannya…
Betapa Antonio merindukan semua itu. Merindukan semua hal yang ada di diri Lovino.
Tapi seperti halnya Gilbert, dia memutuskan untuk tidak lagi kembali pada Lovino.
Dia tidak bisa…menghadapi kekasihnya itu dalam wujud seorang monster penghisap darah. Dia tidak mau Lovino memandangnya dengan sorot mata penuh ketakutan, takut melihatnya yang sekarang hidup dengan memangsa orang lain layaknya binatang ini…
Dan dia tidak bisa hidup dengan melihat mata Lovino dibayangi dengan sorot mata ketakutan.
Tiba-tiba dia mendengar sebuah suara pintu terbuka. Antonio menengok dan melihat Lovino berjalan ke dalam kamarnya. Dia menghela napas, berjalan ke arah ranjangnya, membaringkan diri, kemudian meraih sesuatu dari meja di samping ranjangnya, memandanginya sebentar, sebelum meletakkanya kembali ke meja di samping ranjangnya. Dia pun menutup matanya, membukanya kembali, sebelum mematikan lampu kecil di samping ranjangnya dan akhirnya benar-benar jatuh tertidur.
Setelah yakin kalau Lovino benar-benar sudah jatuh tertidur, Antonio berdiri dan berjalan ke arah jendela itu, membukanya dengan pelan, dan memanjat masuk.
Dia berdiri di samping ranjang Lovino, mengagumi kekasih Italianya itu. Dia memandang ke meja di samping ranjang Lovino dan melihat kalau benda yang dilihat oleh Lovino tadi adalah fotonya dan dia saat mereka kencan untuk pertama kalinya bersama dengan Gilbert, Matthew, Ludwig, dan Feliciano.
Saat itu mereka terlihat begitu berbahagia, begitu ceria. Tak bisa disangka, hanya dalam waktu sekejap semua itu hancur.
Antonio tersenyum kecil sebelum membungkuk dan mencium pipi Lovino. "Ti amo, Lovino" bisiknya sebelum beranjak pergi, menghilang ke dalam kegelapan malam…
