"Pe…pesta dansa?" tanya Arthur heran dengan ajakan Alfred.
"Iya, dalam rangka perayaan selesainya tes semester, sekolah mengadakan berbagai acara, salah satunya pesta dansa ini" kata Alfred sambil tersenyum riang. "Aku mau kau pergi sebagai pasanganku!"
Arthur menghela napas dan menutup buku yang dibacanya, dan memandang Alfred dengan tatapan tajam dari balik kacamatanya. "Kenapa aku harus pergi denganmu?" tanyanya.
"Kau kan pacarku, Iggy~" kata Alfred.
"Lalu?" tanya Arthur sambil menyeruput tehnya.
"Adalah kewajiban bagi seorang pasangan untuk pergi bersama ke sebuah pesta dansa setidaknya sekali seumur hidup" kata Alfred.
"Nggak pernah dengar" kata Arthur datar.
"Ayolah, Iggy~" Alfred memegang pipi pemuda Inggris itu, membuat pemuda Inggris itu menatapnya. "Aku…ingin sekali saja berdansa bersamamu…"
Sontak wajah Arthur menjadi merah padam karena itu.
"Terima sajalah Artie, toh dansa itu hanya gerakan gak awesome berputar ke sana kemari" kata sebuah suara di belakang mereka.
Mereka menoleh dan melihat Gilbert dan Antonio berjalan memasuki dapur tempat Arthur dan Alfred berada. Gilbert berjalan ke arah kulkas dan mengeluarkan sekaleng jus dan langsung menenggaknya sementara Antonio mengambil setangkup sandwich di piring di depan Arthur dan menggigitnya.
"Pesta dansa hanya dilakukan setahun sekali, Arthur. Kau harus menikmatinya" kata Antonio setelah menelan gigitan sandwich pertamanya.
"Tapi…"
"Menyenangkan kan, kalau bisa berdansa…menikmati saat-saat berharga saat kalian begitu dekat…bersama dengan orang yang kamu sukai?" tanya Antonio.
Sesaat Alfred merasa wajah Antonio menjadi sedih. Membuatnya berpikir apa dia membayangkan betapa bahagianya dia kalau bisa berdansa dengan Lovino.
"Ayolah, Iggy~aku sudah janji pada Mattie untuk membawamu dan mengenalkanmu padanya" kata Alfred.
"Waktu untuk mengenalkanku padanya banyak, tidak harus di pesta dansa" kata Arthur.
"Tapi dia hadir di sana" kata Alfred sambil menyeringai nakal. "Mattie itu populer lho, Iggy. Kau tak tahu betapa banyak orang yang berharap bisa jadi pacarnya. Makanya dia selalu memilih menghindari kejaran fansnya. Sulit sekali mempertemukan dia dengan orang lain"
Dari sudut matanya, Alfred melihat raut wajah Gilbert berubah menjadi raut wajah cemburu, tangannya tidak sengaja meremas kaleng minuman yang dipegangnya terlalu keras sehingga kaleng itu remuk. Alfred menyeringai. Bingo.
Arthur menghela napas. "Kau tidak akan menyerah sampai aku bilang iya, ya?" tanyanya.
"Benar sekali" kata Alfred sambil tersenyum lebar.
Arthur menutup matanya sejenak sebelum membukanya kembali. "Baiklah"
"YAAAYYY!" seru Alfred sambil melemparkan diri ke pangkuan Arthur, membuat pemuda Inggris itu hampir terjungkal dari kursi. "Terima kasih, Iggy"
"BLOODY HELL, LEPASIN!" seru Arthur.
Alfred melepaskan pelukannya di leher Arthur dan turun dari pangkuan Arthur. "Terima kasih, Arthur" katanya sambil mencium pipi Arthur. "Oke, aku permisi, sampai nanti malam!"
Dia segera berlari keluar dari mansion itu dan memasuki mobilnya dan segera berkendara pulang.
Arthur menggosok pipinya. "Orang bodoh…" gumam Arthur. Tapi sebuah senyum lembut yang tersungging di bibirnya jelas menyatakan perasaannya yang sebenarnya.
Malamnya...
Arthur berdiri di depan mansionnya, memakai kemeja putih dan celana, jas, dan dasi hitam. Matanya memandang kosong ke arah langit malam.
Dia masih tidak mengerti bagaimana dia bisa begitu beruntung mendapatkan Alfred, orang yang selama ini dicintainya. Bagaimana Alfred tidak pernah memandangnya dengan pandangan jijik, melainkan dengan pandangan penuh cinta…Arthur menyukai hal itu.
Dan dia tidak ingin kehilangan itu…dia tidak ingin kehilangan pemuda Amerika itu.
Karena baginya Alfred adalah orang yang memberikannya alasan untuk terus hidup. Jika tidak ada Alfred, hidupnya yang abadi ini…terkesan sia-sia. Dia tidak ingin hidup jika tidak ada Alfred di sisinya.
Meskipun dia tahu suatu saat kebahagiaan ini harus berakhir…
Tiba-tiba deru mesin mobil yang mendekati mansionnya membuyarkan lamunan Arthur. Dia memandang ke arah datangnya suara itu dan melihat sebuah mobil Jaguar hitam parkir di depannya.
Tidak lama kemudian, Alfred keluar dari mobil itu sambil tersenyum lebar. "Halo, Iggy!" serunya.
Arthur tidak menjawab panggilan Alfred. Bukan, bukan karena dia ngambek atau marah sama Alfred karena dipaksa pergi ke pesta dansa tapi karena…ehem, ehem, dia sibuk ngeliat tubuh Alfred dan terpana ngeliat penampilannya yang dirasa Arthur…seksi banget!
Alfred, seperti halnya Arthur, memakai kemeja putih. Bedanya, dia memakai jas, celana, dan dasi cokelat muda. Pakaiannya membungkus tubuhnya begitu sempurna, menunjukkan bentuk tubuh Alfred yang…ehem, lumayan berisi juga. Dia tersenyum lebar pada Arthur sementara matanya berkilat-kilat karena senang, layaknya seorang anak kecil.
"Iggy?"
Arthur tersentak dan wajahnya langsung merah padam saat dia menyadari kalau Alfred sudah berdiri tepat di depannya dan membungkuk sedikit sehingga sekarang hidung mereka hampir bersentuhan, bahkan napas Alfred yang hangat dapat dirasakan oleh Arthur, membuatnya merinding.
"YOU GIT! JANGAN DEKAT-DEKAT!" seru Arthur sambil mendorong Alfred pelan sehingga dia agak sedikit menjauh.
Alfred merengut. "Ih, Iggy, padahal ini salahmu karena bengong" katanya.
"Diam deh!" kata Arthur, masih dengan muka merah padam.
Alfred tersenyum dan meraih tangan Arthur. "Ya sudahlah, ayo kita pergi…Iggy" katanya.
Arthur cuma mengangguk dengan wajah merah padam, membiarkan Alfred menyeretnya ke dalam mobilnya.
Tidak lama kemudian, mobil Alfred pun pergi meninggalkan mansion yang ditinggali Arthur…
Matthew tengah menyisip jus yang dipegangnya saat dia mendengar suara…
"Mattie~"
Matthew menoleh dan melihat kakaknya melambai sambil berjalan ke arahnya. Dia menggandeng tangan Arthur, yang wajahnya merah padam, dan terlihat sangat ingin berada dimana saja asalkan tidak di sana.
Matthew memandang bingung kepada kakaknya saat akhirnya kakaknya sampai di dekatnya.
"Mau apa?" tanya Matthew.
"Aku mau memperkenalkan Iggy padamu" kata Alfred.
"Aku sudah kenal dengan kak Arthur" kata Matthew.
"Tapi bukan sebagai pacarku, kan?" kata Alfred tanpa basa-basi.
Jus yang ada di mulut Matthew sedikit tersembur saat dia mendengar perkataan kakaknya itu.
"A…APA?" seru Matthew sambil mengusap bibirnya.
"Kenalkan" kata Alfred sambil merangkul Arthur. "Dia adalah pacarku, Arthur Kirkland"
Matthew memandang bingung sebelum pandangannya berubah menjadi pandangan datar dan kembali menghirup jusnya. "Oh…" katanya tanpa emosi sama sekali.
"Mattie, apa-apaan itu!" seru Alfred. "Apa kau tidak bisa terkejut sedikit?"
"Soalnya itu menjelaskan kenapa kau sering sekali menghilang ke rumah kak Arthur" kata Matthew. "Aku sudah menduganya, kenapa harus terkejut?"
Alfred mendengus. "Dasar, kenapa sih kau harus selalu tahu segalanya soal aku?" tanya Alfred.
"Siapa suruh kau begitu mudah ditebak" kata Matthew.
Alfred baru mau menjawab pernyataan Matthew ketika…
"Ve~Matthew, kak Alfred, kak Arthur!"
Mereka bertiga menoleh ke arah asal suara dan melihat Feliciano, yang menggenggam lengan Ludwig, dan tangannya yang lain menyeret Lovino, mendatangi mereka.
"Ah, Hei, Feli" kata Alfred sambil tersenyum lebar.
Feliciano saat dia sudah cukup dekat, memperhatikan Alfred dan Arthur dengan tatapan bingung. Kemudian dia menyeringai nakal. "Kak Alfred…sudah jadian dengan kak Arthur ya? Sampai pegangan tangan segala"
Arthur tersentak dan menunduk untuk memandang tangannya, yang memang, digenggam erat oleh Alfred. Wajah Arthur langsung merah padam sementara Alfred sih…tenang-tenang saja.
"Ya…kami sudah jadian" kata Alfred riang, yang langsung disambut dengan teriakan riang dari Feliciano.
"ALFRED!" seru Arthur. Mengatakan pernyataan semacam itu kepada Feliciano, sang pangeran kesayangan jurusan seni, yakinlah dalam sehari itu tidak akan lagi menjadi sebuah rahasia. Mengingat pengagum Feliciano itu berasal dari seluruh jurusan. Berita yang disebarkan Feliciano, jelas akan menyebar ke seluruh sekolah.
"Apa? Bagus kan?" kata Alfred. Lalu dia menarik Arthur sehingga wajahnya berada tepat di samping Arthur. "Dengan mengatakan ini pada Feliciano, sama saja dengan memproklamirkan cinta kita ke seluruh sekolah. Dengan begitu, kau sudah dinyatakan sebagai milikku. Bukan milik orang lain"
Arthur hanya bisa berdiri terpaku, tidak bereaksi apa pun.
"Selamat kak Alfred. Aku tahu kalian pasti akan berbahagia" kata Feliciano. "Jadi, jadi, bagaimana kalian jadian? Apa dengan sesuatu yang romantis? Atau cuma biasa-biasa saja? Atau…"
"Feli…" Ludwig memegang bahu kekasihnya itu, membuat pemuda Italia itu menoleh ke arahnya. "Tidak sopan menanyakan urusan pribadi orang lain" katanya.
Feliciano terlihat terpana sebentar sebelum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Kau benar. Maaf kak Alfred" katanya.
Alfred tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, kok"
"Jadi…Ludwig…" Feliciano mempererat pegangannya di lengan kekasihnya itu. "Ayo, berdansa!". Dia segera menarik pemuda German itu ke lantai dansa.
Alfred pun berbalik dan mengulurkan tangannya ke arah Arthur. "Jadi tuan, maukah berdansa denganku?" tanyanya sambil membungkukkan badannya sedikit, layaknya seorang lelaki mengajak seorang wanita berdansa.
Arthur tersenyum dan menyambut tangan yang diulurkan Alfred. "Ya". Dia pun berjalan, membiarkan Alfred membawanya ke lantai dansa.
Ketika mereka berada di lantai dansa, Alfred segera mengalungkan lengannya di pinggang Arthur, sementara Arthur mengalungkan lengannya di leher Alfred. Mereka berdansa sesuai dengan irama musik. Walaupun suasana di antara mereka ramai, entah kenapa Arthur merasa kalau hanya ada mereka berdua di sana. Tidak ada orang lain. Hanya ada dia dan Alfred.
Alfred menunduk memandang Arthur dan tersenyum. Arthur menunduk, merasa malu untuk memandang wajah Alfred. Alfred segera mengelus pipi Arthur, membuat pemuda itu memandanginya, walaupun dengan wajah bersemu merah.
"Jangan menyembunyikan wajahmu dariku, Iggy" kata Alfred. "Aku ingin selalu melihatmu"
Arthur tersenyum sebelum merasa sepasang bibir menyentuh bibirnya saat Alfred menciumnya. Arthur memejamkan matanya dan membiarkan dirinya lebur dalam hangat dan lembutnya ciuman Alfred.
Matthew memandangi Alfred dan Arthur yang sedang berdansa itu dengan pandangan kosong.
"Kau iri pada mereka?" tanya seseorang.
Matthew menoleh dan melihat Lovino berdiri di sebelahnya sambil bersandar di tembok di belakangnya. Dia memandangi Ludwig yang sedang tersenyum tipis sambil berdansa dengan Feliciano yang tertawa riang.
"Apa maksudmu?" tanya Matthew.
"Iri karena mereka…" Lovino menunduk memandangi gelas yang dipegangnya. "Bisa bersama dengan orang yang mereka cintai?"
Matthew kembali memandang kakaknya dan Arthur. Dia melihat kakaknya mencium bibir Arthur dan Arthur membalas ciuman Alfred. Sekejap dia teringat saat-saat dia selalu melakukan hal yang sama dengan Gilbert.
"Jadi?" tanya Lovino.
Matthew menggelengkan kepalanya. "Aku bahagia untuk mereka. Tak ada alasan untuk iri pada mereka. Lagipula…" dia menundukkan kepalanya. "Secemburu apa pun aku pada mereka, Gilbert tidak akan kembali"
Lovino memandang Matthew sesaat sebelum kembali memandangi Ludwig dan Feliciano sambil tersenyum sedih. "Ya, kau benar…" katanya pelan.
Mereka berdua pun kembali memandangi kakak dan adik mereka yang berbahagia dengan pandangan nanar
Gilbert dan Antonio duduk dan bersandar di batang pohon di depan gedung dansa. Mereka bisa melihat ke dalam gedung dansa dengan leluasa, tapi mereka yang ada di dalam tidak bisa melihat mereka, karena terhalang daun-daunan yang menutupi mereka.
Saat mereka melihat Lovino dan Matthew, jujur, satu-satunya hal yang mereka inginkan hanyalah menghambur ke dalam gedung, dan menarik mereka ke dalam pelukan mereka. Mereka ingin meminta maaf untuk semua luka dan rasa sakit yang sudah mereka berikan kepada mereka berdua.
Tapi mereka tidak melakukan itu, lebih tepatnya…mereka tidak bisa melakukannya.
"Kalian hobi sekali menyiksa diri, ya?" tanya seseorang di bawah mereka. Mereka menunduk dan melihat Mathias mendongak sambil tersenyum lebar.
"Kenapa? Apa susah sekali untuk melangkahkan kaki dan menemui kekasih kalian itu?" tanya Mathias.
"Memang sulit…" kata Antonio.
"Tapi kalian merasa sakit, kan?" tanya Mathias. "Melihat aku dan Norge berbahagia…melihat Alfred dan Arthur berbahagia. Kalian menginginkan hal yang sama, kan?"
"Ada jaminan Mattie tidak akan terluka kalau aku bersamanya?" tanya Gilbert.
"Setuju" kata Antonio.
Mathias menghela napas. "Kalian…bodoh" katanya sambil berjalan meninggalkan mereka menuju gedung tempat pesta dansa.
"Mungkin…kami memang bodoh…" gumam Antonio pelan sambil tertawa getir, tanpa disadarinya, setetes air mata jatuh dari bola mata hijaunya. "Tapi aku…sungguh…tidak ingin melukai Lovi…"
Gilbert pun hanya terdiam, matanya terus menatap sosok Matthew. Sosok kekasih yang sangat disayanginya itu.
Tanpa mereka sadari, baik mereka maupun Lovino dan Matthew, mereka berempat sama-sama memiliki pandangan yang sama di malam itu…
Pandangan seseorang yang memaksakan diri untuk terlihat baik di saat dia sebenarnya merasa hancur
Alfred duduk di atas kursi di ruang dansa itu sementara Arthur mencari minuman untuk mereka berdua. Berdansa memang kegiatan yang membuat lelah, tapi Alfred merasa bahagia bisa melewatkan saat-saat itu bersama dengan Arthur.
Karena dia mencintai Arthur. Sangat mencintainya sehingga ingin menghabiskan waktu selama mungkin bersama dengan pemuda Inggris itu.
"Hei, Alfred, da" kata seseorang.
Alfred menoleh dan melihat Ivan Braginski, seorang pemuda Rusia, murid jurusan sosial, berjalan mendatanginya. Dia sedikit tersenyum, tapi entah kenapa senyum itu malah membuat Alfred merinding. Mungkin itu karena aura Ivan yang selalu terasa mengintimidasi orang lain.
"H…hei, Ivan…" kata Alfred sambil memaksakan senyum.
Senyum Ivan semakin lebar. Dia mengambil tempat duduk di sebelah Alfred. "Apa kau sudah tahu banyak kematian misterius akhir-akhir ini, da?" tanya Ivan.
"Eh?" tanya Alfred.
"Banyak orang ditemukan tewas dengan bekas gigitan di leher mereka. Aku menduga kalau ada vampire di kota ini, dan mereka menyusup ke sekolah ini…" kata Ivan.
Perut Alfred serasa menegang karena takut. Apa? Apa Ivan menyadari kalau Arthur adalah vampire? Tidak, tidak mungkin. Kalau Ivan tahu Arthur adalah vampire, dia tidak akan berasumsi…tapi bagaimanapun juga…
Alfred memaksakan tawa. "I…Ivan, jangan nakut-nakutin, ah" katanya.
"Aku tidak menakutimu, da" kata Ivan. "Aku hanya tidak mau kau menjadi korban selanjutnya…"
"Ta…tapi…masa ada vampire di sekolah ini. Serem banget, deh Ivan. Jangan bercanda, ah" kata Alfred.
"Banyak siswa yang pingsan karena anemia di sekolah ini, da" kata Ivan. "Itu mencurigakan. Hal yang tidak biasa"
Alfred cuma bungkam.
Ivan bangkit dari tempat duduknya. "Aku hanya ingin mengatakan itu, da" kata Ivan. "Berhati-hatilah, Alfred. Dunia ini tidak sedamai kelihatannya". Dengan itu dia melangkah meninggalkan Alfred.
Alfred hanya terpaku di kursinya. Lalu perlahan-lahan dia mencengkeram pinggangnya. Dia merasa dingin. Ivan…memberinya ketakutan, kecemasan…entah kenapa, melihat dan mendengar Ivan…dia merasa takut. Seperti anak kecil yang takut dengan hantu yang ada di lemarinya saat malam hari.
"Alfred?"
Alfred mengangkat kepalanya. Dia melihat Arthur berdiri di depannya sambil memegang satu gelas jus dan satu cangkir teh. Tangannya meletakkan cangkir itu di meja, membungkuk dan memegang pipi Alfred, mengusapnya lembut.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Arthur cemas.
Alfred menggelengkan kepalanya. "Aku bertemu Ivan…dan…" dia mengalungkan lengannya di bahu Arthur, menarik pemuda Inggris itu mendekat. "Aku merasa takut. Aura Ivan memang selalu menakutkan. Tapi ini pertama kalinya aku merasa ketakutan…padanya…" gumam Alfred pelan.
Arthur menghela napas. "Ivan Braginski…dia memang menjadi sedikit… 'gila' sejak adik dan kekasihnya, Natalia Arlovskaya dan Wang Yao terbunuh. Dia jadi suka mengintimidasi orang seperti itu…" kata Arthur.
Alfred melihat kalau Arthur sama sekali tidak memandang ke arahnya saat dia membicarakan masalah Ivan, membuat Alfred bingung.
"Iggy, kenapa kau tidak memandang mataku saat kau membicarakan Ivan?" tanya Alfred. "Apa kau memiliki hubungan dengan kematian Natalia dan Yao?"
Arthur membisu dalam waktu yang lama sebelum menggelengkan kepalanya. "Aku akan memberitahumu nanti" katanya sambil mencium dahi Alfred pelan. "Saat kita sendirian"
