"Jadi…Iggy, apa yang kau mau ceritakan padaku mengenai Ivan?" tanya Alfred saat mereka sudah berada di kamar Arthur, sendirian.
Arthur menunduk, di wajahnya jelas tersirat rasa malu dan bersalah mengenai masalah yang akan diceritakannya.
"A…aku…aku…" katanya terbata-bata karena takut.
Alfred mengangkat alis, wajahnya dipenuhi ekspresi curiga. "Kau…memiliki andil dalam kematian Natalia dan Yao? Seperti halnya yang kau lakukan pada Gilbert dan Antonio?" tanya Alfred.
Arthur mengangguk pelan. "A…aku sendiri tidak menyangka aku bisa melakukan itu…" katanya pelan. "Beberapa tahun lalu, aku…aku membenci diriku yang menjadi seorang vampire ini. Karena itu, aku menolak meminum darah. aku terus-terusan mengurung diri di mansion, berusaha sekeras mungkin untuk mengabaikan aroma darah di luar mansion ini. Itu adalah penyiksaan terhebat yang pernah kurasakan, aku bisa mencium seluruh bau darah para manusia di luar, berusaha keras untuk tidak memanjat keluar dan membenamkan taringku ke leher mereka. Aku pernah nyaris menyerang Norway karena haus darah, membuat Mathias terpaksa mengunciku di basement bawah tanah. Tapi dalam kegilaanku karena darah, aku mengamuk. Aku mencakar dinding, menghempaskan barang-barang di basement. Saat itu sangat menakutkan…"
:Dan kau membunuh keduanya?" tanya Alfred.
"Ya" kata Arthur. "Pada malam kematian mereka, Natalia kebetulan sedang melewati mansion dan berjalan searah dengan letak basement tempatku disekap. Bau darahnya membuatku gila, tanpa pikir panjang, aku mendobrak jendela dan menyelinap keluar. Mathias mencoba menghentikanku tapi…dia tidak cukup cepat…juga tidak cukup kuat. Aku bisa dengan mudah membantingnya ke pohon dan mematahkan lengannya, seakan-akan dia hanyalah sebuah boneka kertas, memberikanku cukup waktu untuk berlari ke arah Natalia, siap untuk menyergapnya"
"Dia terkejut ketika aku menyergapnya. Aku merasakan ketakutannya, keputusasaannya saat aku menindih tubuhnya dan membenamkan taringku ke lehernya. Tidak butuh waktu lama untuk membuatnya pingsan karena kehilangan darah. Aku terus meminum darahnya. Tidak puas dengan lubang kecil bekas gigitan taringku, aku mengiris lehernya, membuat darahnya semakin banyak mengalir, membuatku semakin gila dengan nafsu. Aku tidak mempedulikan apa pun lagi, hanya memikirkan bagaimana enaknya darah perempuan itu"
Alfred tertegun. "Lalu Yao?" tanya Alfred dengan nada, yang anehnya, luar biasa tenang.
"Dia…dia mendatangi Natalia" kata Arthur. "Saat dia melihat kondisi Natalia, dia hanya sempat membuka mulut untuk menjerit sebelum aku juga menyergap dan meminum darahnya. Seperti halnya Natalia, aku merasa darahnya begitu enak, sehingga aku menyayat lehernya, meminum habis darahnya, lalu…"
Arthur menutup matanya, tubuhnya gemetar. Alfred segera mengulurkan tangannya dan memeluk Arthur, dia mengecup dahi pemuda Inggris itu lembut.
"Lalu?" tanya Alfred.
"A…aku…mengambil pisau yang selalu kubawa…" kata Arthur. "Aku membelah tubuhnya…" Arthur merasa Alfred sedikit menegang saat dia mengatakan itu. "Aku mengambil hatinya…dan…dan aku…aku…aku memakannya mentah-mentah layaknya seorang kanibal" suara Arthur juga mulai gemetar. "Aku tidak tahu apa yang aku lakukan, saat aku sadar, aku melihat keadaan tubuh mereka berdua. Aku mengamati diriku dan melihat semua darah yang mengotori tubuhku…Aku…saat itulah aku merasa kalau aku ini adalah seorang monster keji…"
"Jangan katakan itu, Iggy…" kata Alfred pelan sambil mempererat pelukannya di tubuh pemuda Inggris itu.
Arthur hanya diam, sehingga Alfred mengusap rambut Arthur pelan dan menengadahkan kepala pemuda Inggris itu sehingga pemuda Inggris itu akhirnya menatap matanya. "Kau bukan monster Iggy, percayalah padaku"
"Ta…tapi aku…"
"Iggy, kau merasa bersalah setelah kau melakukan semua itu" kata Alfred. "Seorang monster tidak akan merasa bersalah, mereka akan tenang-tenang saja, tidak peduli apa pun. Kenyataan kau merasa bersalah atas apa yang kau lakukan pada Natalia dan Yao…itu cukup untuk membuatku yakin kau bukan monster"
Arthur memandang Alfred dengan tatapan terkejut sebelum air mata akhirnya mengalir menuruni pipinya dari matanya dan dia segera menghambur ke dalam pelukan Alfred. Alfred memeluk pemuda Inggris itu erat sementara pemuda Inggris itu menangis terisak-isak di pelukannya.
Setelah beberapa menit, Arthur sudah mulai agak tenang, dia membenamkan diri di dalam pelukan kekasihnya itu. Menghirup aroma tubuh Alfred, aroma musk dan vanilla yang walaupun aneh selalu bisa menenangkan pemuda Inggris itu.
"Hati-hatilah…" gumam Arthur pelan.
"Hah? Apa?" tanya Alfred.
"Hati-hatilah dengan Ivan. Dia…begitu dendam pada siapa pun atau apa pun yang membunuh adik dan kekasihnya. Begitu dia tahu kalau aku yang membunuh Natalia dan Yao, kupastikan dia akan melakukan apa pun untuk membalas dendam. Bahkan mungkin dengan melukaimu…kalau dia mengetahui mengenai kita…"
"Jangan khawatir, Iggy" kata Alfred sambil tersenyum. "Aku ini bisa menjaga diri, kok. Aku ini juga kuat. Aku tidak akan membiarkan dia melukaimu…"
Dia pun menunduk dan mencium pipi dan dahi Arthur sebelum mencium bibir Arthur.
Aku lebih takut dia melukaimu dan mengambilmu dariku…Alfred…pikir Arthur sambil mempererat genggamannya pada kemeja Alfred.
Tapi dia tidak mengatakan apa pun, membiarkan saja Alfred menciumnya, menikmati saat-saat damai yang terjadi saat ini.
Tanpa mereka sadari bahwa ketenangan ini hanyalah sebuah ketenangan sebelum badai…
Ivan berjalan ke sekeliling mansion besar itu. Matanya segera tertumbuk ke sebuah kamar. Pandangannya berubah menjadi pandangan dingin dan keji.
"Kau sepertinya meremehkanku, Arthur Kirkland. Apa kau pikir aku tidak pernah tahu kalau kau adalah vampire yang kucari, da? Vampire yang membunuh Natalia dan Yao dengan kejam, da?" gumam Ivan.
"Aku akan memastikan kau menderita atas perbuatanmu, da" lanjutnya sambil menyeringai keji. "Dan sepertinya itu bisa terlaksana. Dengan adanya Alfred dan Matthew…aku bisa melakukan balas dendamku padamu…tunggu saja tanggal mainnya, da. Saat kau kehilangan semua hal yang berharga…untukmu"
Ivan pun berjalan meninggalkan mansion itu dengan tenang. Tapi sorot mata dan seringan keji yang dipasangnya menjanjikan ancaman…ancaman besar.
Malam itu, Arthur sedang duduk di ruang tamu rumah Alfred. Dia berjanji untuk pergi dengan pemuda Amerika itu. Dan mengetahui rekor terlambat yang selalu dimiliki pemuda Amerika itu, dia memutuskan sebaiknya dia yang datang ke rumah Alfred daripada si pemuda Amerika itu yang datang ke mansionnya.
Saat dia sedang asyik-asyiknya membaca buku sastra yang tergeletak di meja ruang tamu. Matthew meletakkan secangkir teh earl grey di hadapan Arthur.
Arthur langsung mendongak menatap adik kekasihnya yang sedang tersenyum menatapnya itu.
"Kau kan mau pergi bersama kak Alfred untuk kencan, kak Arthur. Jangan belajar terlalu keras, nanti mood kakak jadi buruk, lho" kata Matthew.
Arthur hanya tersenyum kecil. Tangannya meraih cangkir teh di hadapannya dan segera menyesap isinya. "Wah, enak sekali. Kupikir karena si hero itu cuma minum kopi, di rumah ini adat minum kopi jadi mendunia" katanya.
Matthew tertawa kecil sebelum mengambil buku-buku kakaknya yang berserakan di ruang tamu dan meletakkannya dalam satu tumpukan di meja. "Aku juga…tidak terlalu suka minum kopi. Makanya, aku selalu menyediakan persediaan teh di rumah" katanya.
Beberapa saat kemudian, suasana di antara mereka langsung sunyi senyap sampai…
"Kak Arthur, apa…kau percaya kalau orang mati akan mendatangi kita? Atau mungkin kau pikir aku sudah gila?" tanya Matthew.
Arthur langsung tertegun. "Ma…maksudmu apa, Matthew?" tanyanya.
Matthew memandangi gelang perak yang melingkar di lengannya. "Belakangan ini aku terus merasa kalau Gilbert ada di sampingku…memperhatikanku. Sekali dua kali aku serasa melihatnya. Aku tahu dia sudah tidak ada, tapi…aku tetap merasakan perasaan itu. Perasaan yang jelas-jelas mengatakan kalau itu Gilbert…" kata Matthew.
Arthur tidak mengatakan apa pun. Dia adalah yang paling tahu kalau perasaan Matthew itu bukanlah perasaan. Gilbert memang selalu memperhatikan Matthew, menjaganya, melindunginya, menyayanginya, mencintainya…meskipun semua itu dilakukan Gilbert dari kejauhan.
"Apa kau tidak bisa berpikir…kalau Gilbert mungkin masih hidup? Di suatu tempat entah di mana?" tanya Arthur.
"Aku berulang-ulang mempercayai itu" kata Matthew. "Tapi kalau dia memang masih hidup…kenapa dia tidak pernah kembali?"
"Mungkin dia tidak bisa kembali, Matthew…" kata Arthur. Dia ingat perkataan Gilbert yang mengatakan dia takut menghadapi Matthew saat kekasihnya itu tahu identitas barunya sebagai vampire.
"Maksudnya?" gumam Matthew pelan.
"Mungkin sesuatu terjadi padanya. Membuatnya tidak bisa kembali menemuimu sampai dia sendiri siap untuk menemuimu" kata Arthur.
"Dan aku berharap kau tidak akan membenciku saat kau mengetahui kebenarannya" gumamnya pelan.
"Eh, apa?" tanya Matthew.
"MAAF, AKU TELAT!" seru Alfred sambil berlari dari kamarnya menuju ke arah ruang tamu. Arthur menggelengkan kepalanya dan berdiri untuk menyambut kekasihnya itu.
"Baiklah, Matthew. Kami pergi, ya…" kata Alfred sambil melambai pada adiknya itu dan menyeret Arthur keluar.
Matthew hanya menatap bingung sebelum mengangkat bahu dan meneruskan pekerjaannya membereskan rumah.
Setelah itu, Arthur menemukan dirinya berada dalam keadaan bahagia. Alfred selalu ada di sisinya. Dia juga semakin menyayangi Matthew, yang sekarang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri. Memang, Arthur masih tidak bisa memaafkan dirinya yang sudah memisahkan Matthew dan Gilbert, tapi dia menemukan dirinya tidak bisa meninggalkan Matthew. Dia tidak bisa bersikap dingin padanya seperti yang selalu dilakukannya pada orang lain sebelumnya. Dia tidak bisa membencinya. Karena sekarang, dia sangat menyayangi Matthew, melebihi apa pun dan siapa pun di dunia ini.
Karena seperti yang Alfred katakan, adiknya itu hangat. Terasa nyaman sekali berada di sampingnya. Meskipun kehangatan itu terselubung kedinginan yang ada di luar, kehangatan itu masih ada. Ada jauh di lubuk hati Matthew.
Dan Arthur bersumpah, dia akan lakukan apa saja untuk membuat sifat hangat itu kembali. Dan karena dia tahu, hanya Gilbert yang bisa membuat kehangatan itu kembali, dia berbicara pada Gilbert, meyakinkan pemuda itu untuk kembali ke sisi Matthew. Gilbert terdiam cukup lama sebelum akhirnya berjanji, suatu saat, entah kapan, saat dia bisa menghadapi Matthew dengan dirinya yang sekarang ini, dia akan kembali. Kembali ke sisi kekasihnya itu.
Alfred yang mendengarnya, langsung bersorak gembira. Dibandingkan siapa pun, dia yang paling bahagia dengan janji Gilbert itu. Dia sangat menginginkan adiknya itu kembali. Dan janji Gilbert itu memastikan kalau suatu saat adiknya itu pasti kembali.
Dan melihat kebehagiaan di wajah Alfred, itu adalah hal yang paling membuat Arthur bahagia.
Saat ini dia merasa hidupnya begitu indah. Dia punya teman-teman yang mendukungnya. Adik yang selalu memperhatikan dan sangat disayanginya. Dan yang terpenting…dia memiliki seseorang yang mencintainya.
Dia merasa menjadi orang yang paling beruntung. Dia memiliki segalanya.
Dan kehidupan ini tidak akan dia tukarkan dengan apa pun…
Tapi yang tidak disadari Arthur adalah kehidupan tidak selamanya bahagia...
Matthew sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya di perpustakaan sekolah. Dia terlalu serius mengerjakan tugasnya sehingga tidak menyadari kalau hari sudah beranjak malam.
Matthew menoleh dari halaman buku yang sedang dibacanya ke arah jendela. Matanya membelalak lebar dan dia segera mengecek jam tangannya.
"Gawat! Sudah jam segini!" serunya sambil membereskan buku-bukunya ke dalam tas. Walaupun hari ini kakaknya tidak pulang karena menginap di rumah Arthur, tetap saja kakaknya akan memarahinya kalau dia sampai pulang terlambat.
Dia segera berlari keluar dari perpustakaan. Setelah berlari cukup jauh, dia memperlambat langkahnya sehingga dia berjalan di koridor sekolah. Dia tidak boleh membuat keributan di koridor sekolah, tidak peduli ada yang mendengarnya atau tidak.
Saat Matthew sedang berjalan sambil menikmati kesunyian sekolah di malam hari, tiba-tiba dia mendengar suara langkah-langkah kaki. Dia berbalik. Tapi dia tidak melihat siapa pun. Dia mengangkat bahu dan meneruskan berjalan. Suara langkah kaki itu kembali terdengar.
Matthew kembali berbalik. Suara langkah kaki itu kembali berhenti. Begitu terus, hingga Matthew merasa takut dan berlari di koridor itu. Saat dia hampir mencapai pintu depan gedung jurusan musik, sepasang tangan mencengkeram tubuhnya. Saat dia ingin memberontak, menjerit, apa pun untuk melepaskan diri. Tangan itu membekapnya dengan sehelai saputangan. Bau manis chloroform menguar dari saputangan itu. Mata Matthew melebar ketakutan sebelum matanya perlahan-lahan menutup dan tidak lama kemudian, dia jatuh tertidur, lemas di pelukan orang yang menangkapnya.
"Selamat tidur, domba kecilku. Adik kesayangan Arthur…" kata orang yang menangkapnya, yang ternyata Ivan. Dia melempar Matthew yang pingsan itu ke bahunya dan membawanya pergi.
Mata Norway tersentak terbuka. Wajahnya bersimbah peluh dingin. Dia terlihat ketakutan. Mathias yang saat itu berbaring di sebelahnya menatapnya bingung. "Ada apa, Norge?" tanyanya bingung.
"Be…beritahu Arthur, Alfred, Gilbert siapa pun…" kata Norway.
"Iya, beritahu apa? Apa yang terjadi?" tanya Mathias dengan raut wajah cemas.
"Beritahu mereka kalau Matthew diculik Ivan!" seru Norway.
Wajah Mathias sesaat terlihat bingung. Tapi sesaat kemudian, pengertian tertulis di wajahnya. Dia segera berlari keluar dari kamarnya menuju kamar Arthur.
Norway, masih terduduk lemas di atas ranjang. Tubuhnya gemetar, perlahan-lahan dia memeluk tubuhnya dan membenamkan wajahnya di lututnya. "Kumohon, Matthew…jangan mati…kalau kau mati, Arthur, bisa dipastikan Arthur, Alfred…bahkan Gilbert akan hancur…" gumamnya pelan.
Saat itu, semuanya sedang berkumpul di kamar Arthur. Alfred sedang Arthur, yang berusaha keras melepaskan diri. Sementara Gilbert dan Antonio duduk di atas ranjang itu, menatap dua pasangan itu sambil tertawa-tawa.
"Mereka…terlihat berbahagia, ya…" kata Antonio pelan sambil bersandar di kepala ranjang sambil memandangi Alfred dan Arthur yang tengah bermesraan.
"Kau iri?" tanya Gilbert.
"Kalau kubilang tidak, aku berbohong…" gumam Antonio.
"Ya…kau benar…" gumam Gilbert sambil mempererat pelukannya pada bantal Gilbird yang dipegangnya.
Sesaat kemudian, pintu kamar itu terhempas terbuka, mengagetkan semua orang di kamar itu. Mereka menoleh dan melihat Mathias berdiri di depan kamar itu dengan napas terengah-engah.
"Ada apa, Mathias? Kau kelihatan pucat?" tanya Antonio bingung melihat keadaan 'kakak' mereka itu (A/N: Secara harafiah, Mathias adalah vampire tertua di mansion itu, makanya semua vampire di sana menganggapnya 'kakak')
Mathias mengatur napasnya sejenak sebelum berkata. "Sepertinya…Ivan…memang tahu soal kau, Arthur…" gumamnya.
Arthur memandangnya bingung walaupun di matanya juga ada sorot mata kecemasan dan ketakutan. "Kenapa…kau bisa begitu yakin?"
"Dia…" Mathias mengalihkan pandangannya ke arah Alfred dan Gilbert sejenak sebelum berkata. "Dia, Ivan…dia menculik Matthew…"
Suasana di kamar itu langsung sunyi senyap. Wajah Alfred dan Gilbert langsung pucat pasi mendengarnya. "APA?" seru mereka berdua.
"Norge memberitahuku…kalau Ivan menculik Matthew"
Gilbert langsung bangkit dari ranjang dan mencengkeram bahu Mathias. "Kenapa? Kenapa dia harus melibatkan Mattie? Sampai menculiknya, apa hubungan Mattie dengan kejadian antara Ivan dan Artie?" nadanya jelas menyiratkan ketakutan atas kondisi kekasihnya itu.
"Sebenarnya tidak ada…" kata Mathias. "Tapi Arthur…menyayangi Matthew seperti adiknya sendiri. Itu membuat Ivan mengincar Matthew…"
"Ke…kenapa?" tanya Alfred pelan. Suaranya tercekik karena menahan tangis.
"Karena dengan membunuh Matthew…"
"Akan membuatku merasakan kehilangan yang sama dengan saat dia kehilangan Natalia…" potong Arthur pelan.
Mathias hanya mengangguk pelan.
Gilbert melepaskan bahu Mathias dengan lemas. Wajahnya sudah benar-benar pucat. "Di…dia akan hidup, kan? Dia tidak akan mati, kan?" katanya memohon pada Mathias. Nadanya terdengar sangat sedih. "Aku…aku tidak mau kalau Mattie sampai meninggal…kumohon, katakan padaku kalau Mattie akan hidup…"
Mathias menggelengkan kepalanya. "A…aku juga tidak tahu…" gumamnya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju kamar itu. Mereka menoleh dan melihat Norway berlari ke kamar mereka dengan wajah pucat.
"Norge…"
"Siapa pun, tolong Matthew sekarang juga!" serunya dengan sorot mata ketakutan. "Kalau tidak ada yang menyelamatkannya malam ini, kupastikan dia akan meninggal besok!"
Gilbert menutup mulutnya dengan tangannya. Sorot matanya menyiratkan ketakutan yang amat sangat sebelum dia berlari keluar dari kamar itu dan berlari keluar dari mansion, Tidak diragukan lagi, untuk mencari Matthew. Tidak perlu dikatakan pun jelas, mendengar perkataan Norway tadi, yang paling ketakutan dengan kondisi Matthew, adalah Gilbert.
Antonio, dia duduk terpaku di atas ranjang sebelum memanjat jendela dalam keadaan lemas dan pergi untuk mencari Matthew. Pikirannya melayang-layang. Dia juga tidak mau Matthew meninggal, karena seperti halnya Arthur, Antonio menyayangi Matthew seperti adiknya sendiri. Membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Matthew, benar-benar membuat hatinya sakit.
Alfred, begitu mendengar perkataan Norway, langsung menangis. Arthur memeluk Alfred pelan sambil meletakkan kepala pemuda Amerika itu di dadanya, membiarkan pemuda Amerika itu menangis atas kejadian yang menimpa adiknya. Dia merasa bersalah…karena Arthur sadar, bagaimanapun juga alasan Ivan menculik Matthew adalah dia…
"Maaf…" gumam Arthur. "Maafkan aku…"
Tapi Alfred terlalu sibuk menangis dan mengkhawatirkan adiknya untuk mendengarkan perkataan Arthur.
Ivan melepaskan jubah dan syalnya sambil menghela napas. Kemudian dia berjalan ke arah ranjang, dimana Matthew yang masih tidak sadarkan diri, terbaring lemas.
Ivan tersenyum sambil mengusap pipi pemuda Amerika itu pelan. "Kau begitu manis, Matthew Williams. Sayang sekali nasibmu tidak semanis wajahmu…nasibmu malang menjadi adik kesayangan Arthur…"
Dia menyibakkan poni yang jatuh di dahi pemuda Amerika itu. "Sebentar lagi…nikmatilah saat-saat tidurmu yang damai ini…karena…" Ivan segera membungkuk dan mengecup dahi Matthew pelan. "Saat kau bangun nanti kau akan merasakan rasa takut seperti yang dirasakan Natalia saat Arthur membunuhnya…"
Dia pun bangkit dan berjalan keluar dari kamar itu, meninggalkan Matthew yang masih tidak sadarkan diri di dalam kegelapan…
