Gilbert berlari menyusuri jalanan kota London. Wajahnya pucat saat dia berkeliling, mencari tanda-tanda keberadaan kekasihnya yang entah ada di mana.

"Mattie…" gumamnya.

Dia…saat dia mendengar perkataan Mathias kalau Ivan menculik Matthew, dia merasa darahnya membeku. Seandainya dia masih punya detak jantung, dipastikan jantung itu akan berhenti seketika.

Jika tidak ada yang menolongnya malam ini, kupastikan Matthew akan meninggal besok!

Gilbert menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak mau memikirkan itu. Dia tidak mau perkataan Norway menjadi kenyataan. Dia tidak sanggup…memikirkan saat perkataan Norway itu menjadi kenyataan.

Gilbert berhenti di sebuah lorong gelap. Tangannya mencengkeram tembok batu di sebelahnya saat dia merasakan air mata mulai menetes dari matanya. Tidak lama kemudian, air mata itu mengalir deras membasahi pipinya. Tubuhnya bergetar saat dia menangis terisak di kegelapan lorong itu.

Dia tidak bisa membayangkan perkataan Norway itu. Dia tidak mau…dia tidak mau Matthew pergi dari dunia ini.

Sampai sekarang, dia masih sangat mencintai Matthew. Dia ingin menjaga pemuda Amerika itu. Memastikan keselamatannya. Dan sekarang…kekasihnya itu berada dalam bahaya dan dia tidak bisa melakukan apa pun. Dia merasa sangat tidak berdaya. Apa artinya janji yang dia buat pada Matthew untuk selalu melindunginya kalau di saat kekasihnya itu sangat membutuhkannya dia justru tidak bisa berbuat apa-apa?

"Mattie…kamu dimana…?" bisik Gilbert pelan. "Kumohon Mattie…jangan mati. Jangan…tinggalkan aku…aku…aku tidak bisa hidup tanpa kamu…"

Tiba-tiba Gilbert teringat sesuatu. Arthur pernah memberitahu alamat rumah Ivan pada mereka semua, mengingatkan mereka semua untuk sebisa mungkin menjauhi rumah milik pemuda Rusia itu. Meski dia merasa kemungkinannya sangat kecil Ivan membawa Matthew ke rumahnya, tidak ada salahnya dia mencobanya.

Gilbert pun berlari ke arah rumah Ivan. Sepanjang jalan dia berdoa agar kekasihnya berada di sana. Selamat…dan yang terpenting, hidup.


Matthew perlahan-lahan membuka matanya. Pandangan matanya buram sebelum akhirnya matanya tersentak terbuka. Dia segera bangkit dan melihat sekelilingnya. Dia semakin merasa ketakutan saat dia melihat kalau dia sekarang berada di sebuah ruangan yang tidak dikenalnya.

"Di…di mana ini?" tanyanya ketakutan.

Tiba-tiba dia mendengar suara pintu terbuka, dia menoleh dan melihat Ivan berjalan memasuki kamar itu.

"Ah, Matthew, akhirnya kau bangun juga, da…" kata Ivan dengan senyuman tanpa dosa. Dia terlihat tidak mempedulikan kenyataan kalau dia baru saja melakukan sebuah kejahatan, menculik seseorang.

"Ka…kak Ivan…" kata Matthew dengan suara gemetar karena ketakutan. Dia takut…dengan Ivan yang sekarang dilihatnya. Ivan yang sekarang berdiri di hadapannya menjanjikan ketakutan dan…kematian.

"Maafkan aku atas undangan yang tidak menyenangkan ini, da" kata Ivan. "Hanya saja sulit sekali mengundangmu, jadi kupikir aku harus…memaksamu"

"Ke…kenapa?" tanya Matthew. Dia berjalan menjauh dari Ivan. Berusaha sebisa mungkin menjauh dari pemuda Rusia itu.

"Kau hanya tidak beruntung, Matthew…" Ivan berjalan mendekati Matthew yang semakin menjauhinya hingga akhirnya Matthew menabrak tembok. Dia berbalik dan menatap ketakutan pada tembok di belakangnya. Ivan menyeringai. "Tidak beruntung karena disayangi oleh Arthur…"

"A…apa…" kata Matthew.

"Adikku…tewas karena dibunuh Arthur beberapa tahun lalu, da…" kata Ivan.

Napas Matthew tercekat saat dia mendengarnya. Arthur? Arthur membunuh seseorang? Tidak, tidak mungkin. Selama ini Arthur selalu baik padanya, selalu menyayanginya, selalu menjaganya. Dia memperlakukan Matthew seperti seorang adik, membuat Matthew nyaman dan merasa aman berada di sisi Arthur. Membayangkan Arthur membunuh seseorang…tidak, dia tidak bisa membayangkannya.

"Dan sekarang…" Ivan menarik sebuah pedang dari punggungnya dan mengarahkannya ke arah Matthew, membuat napas Matthew semakin tercekat. "Aku ingin membalas dendam atas kematian adikku pada Arthur. Akan kubuat Arthur merasakan hal yang sama dengan yang kurasakan. Dan itu bisa kulakukan…dengan membunuhmu"

Mata Matthew membelalak ketakutan mendengar perkataan Ivan. Tubuhnya gemetar ketakutan. Dia menatap ujung pedang yang berkilat itu dengan pandangan ketakutan, sadar kalau pedang itu siap mengakhiri nyawanya kapan saja.

"Ka…kak Ivan…" gumam Matthew pelan.

"Selamat tinggal, Matthew Williams. Kalau mau mendendam, dendamlah pada Arthur yang telah memilihmu sebagai adik yang sangat disayanginya" kata Ivan dengan keji.

Dengan itu, dia menghunuskan pedang itu ke arah Matthew. Matthew segera menghindarinya. Pedang itu sempat menggores lengannya, meninggalkan luka gores besar yang membuat darah merah mengalir. Tapi Matthew tidak mempedulikan itu. Dia segera berlari melewati Ivan, ke luar dari kamar itu.

"Sia-sia saja kau melarikan diri, Matthew…terima saja kematianmu dengan tenang…" kata Ivan sambil berjalan mengejar Matthew. Wajah Matthew pucat karena ketakutan saat dia berusaha keras mencari jalan keluar. Tapi sia-sia, dia sama sekali tidak mengenal rumah itu, membuatnya seperti tikus dalam perangkap.

Dia berbelok di ujung lorong, terus berlari hingga dia menemukan jalan buntu. Matthew semakin ketakutan saat dia mendengar langkah kaki di belakangnya. Dia berbalik dan langsung merapat ngeri ke dinding saat dia melihat Ivan berdiri di hadapannya.

"Apa kau sudah selesai melarikan diri, da?" tanya Ivan sambil menebaskan pedang itu ke tubuh Matthew, membuat luke gores besar dari dada ke perutnya.

Matthew langsung ambruk ke lantai. Lantai batu itu langsung dialiri warna merah darah. Dia tersengal-sengal sambil memeluk bahunya. Tangannya gemetar, pandangannya mulai buram, dia merasa tidak punya tenaga lagi untuk membuka matanya.

Ivan menusukkan pedang itu ke bahu kiri Matthew, membuat pemuda Amerika itu menjerit kesakitan pelan. Darah merah mewarnai baju seragamnya.

"Kau terlihat indah sekali, Matthew…berlumuran darah seperti ini. Bagaikan lukisan…" kata Ivan sambil menggores pipi Matthew dengan ujung pedangnya dan kemudian menjilat darah di pipi Matthew pelan, membuat Matthew sedikit menggigil.

Ivan memandangi mata violet Matthew yang memandangnya kosong. Mata itu sudah mulai gelap. Ivan tersenyum dan mengusap pipi Matthew. "Kau tidak pantas menderita berlama-lama, Matthew…" katanya. "Akan kuakhiri penderitaanmu sekarang juga. Selamat tinggal Matthew…"

Dia pun bersiap untuk menusuk jantung Matthew dengan pedangnya ketika terdengar suara kaca jendela yang pecah dan Matthew merasa ada seseorang yang berdiri di hadapannya. Dia mengangkat wajahnya dan melihat bola mata merah darah dan rambut putih, serta wajah yang sangat dikenalnya dan sangat dirindukannya.

Wajah Gilbert…

Dia tersenyum. Setidaknya Tuhan cukup menyayanginya untuk menghadirkan wajah kekasihnya itu di penghujung hidupnya. Dia bahagia…bisa melihat wajah kekasihnya itu untuk terakhir kalinya. Walaupun ini hanya halusinasi, khayalan, atau mimpi…dia sangat bahagia.

Setelah itu semuanya langsung menjadi gelap gulita…


"MATTIE!" seru Gilbert ketakutan saat kekasihnya itu jatuh pingsan di pelukannya.

Dia mencium bau darah Matthew saat dia tiba di rumah Ivan. Mencium bau darah itu, dia langsung berkeliling rumah itu. Dari kaca jendela di belakang, dia melihat pemandangan yang akan menghantuinya seumur hidupnya.

Matthew terduduk lemas di lantai, berlumuran darah. di depannya, Ivan, menggenggam sebuah pedang yang juga berlumuran darah, tersenyum keji. Gilbert terpana beberapa saat sebelum mata menyiratkan kebencian mendalam. Dia langsung memecahkan jendela di hadapannya. Memasuki rumah itu dan mendatangi kekasihnya itu.

Dan sekarang, melihat kekasihnya itu…berlumuran darah, dan tak sadarkan diri di pelukannya, membuat Gilbert sangat ketakutan. Dia takut…dia takut kalau Matthew…

"Wah, wah, aku tidak menyangka kau akan datang sejauh ini dari mansion Arthur hanya untuk menyelamatkan kekasihmu, Gilbert Beilschmidt…" kata Ivan sambil menyeringai.

Gilbert memandang pemuda Rusia itu dengan pandangan dingin penuh kebencian. "Kenapa?" gumamnya. "Mattie tidak pernah melakukan apa pun padamu. Kenapa kau tega melukainya?"

"Oh, tapi dia sangat disayangi oleh Arthur, da…" kata Ivan sambil tersenyum tanpa dosa, senyum yang membuat Gilbert semakin marah dan membencinya. "Dengan membunuhnya, aku yakin Arthur akan jatuh ke dalam jurang keputusasaan"

"Meskipun kau mengorbankan seseorang yang sama sekali tidak ada hubungannya?" seru Gilbert sambil mempererat pelukannya di tubuh kekasihnya itu.

"Aku tak peduli" kata Ivan sambil tersenyum. Sesaat kemudian senyum dan pandangannya berubah menjadi pandangan keji. "Selama Arthur menderita aku tak peduli siapa pun yang akan kubunuh"

Detik berikutnya, Gilbert langsung bangkit dan menendang Ivan dengan keras, membuat pemuda Rusia itu terpelanting sejauh beberapa meter.

"Jangan pernah…" Gilbert menggeram pelan. "Libatkan Mattie dalam rencana sakit jiwamu!"

Ivan bangkit dan menghapus darah yang menetes dari bibirnya. "Wow, aku tidak menyangka kau bisa semarah itu" katanya. "Padahal kau meninggalkan dia saat Arthur mengubahmu menjadi vampire…"

Tubuh Gilbert langsung menegang. Memberikan Ivan kesempatan untuk balas menendang Gilbert, hingga pemuda German itu terhempas ke tembok. Dia tersungkur sesaat sebelum bangkit dan kembali menatap Ivan.

"Meninggalkannya…bukan berarti aku tidak lagi mencintainya…" gumam Gilbert sambil memandangi Matthew yang terbaring lemas di lantai. "Dan aku akan melakukan apa pun…untuk memastikan keselamatan Mattie…"

Ivan tersenyum. "Manis sekali…Gilbert…" kata Ivan. "Tapi itu tidak bisa kukabulkan. Aku harus mengakhiri nyawa Matthew…"

"Apa itu pilihanmu sebagai manusia? Manusia yang setidaknya pernah kehilangan orang yang disayanginya?" desis Gilbert pelan.

"Betul" kata Ivan sambil tersenyum. "Ini pilihanku sebagai kakak yang sudah kehilangan adik yang selalu kumanjakan…" dia mengangkat pedangnya dan mengarahkannya ke dada Matthew. "Akan kubuat Arthur juga kehilangan sosok adik yang selalu dia manjakan…" dia pun menusukkan pedang itu ke jantung Matthew.

TRANG!

Ujung pedang yang patah terpental di lantai batu yang keras. Ivan memandang dengan sorot mata terkejut pada pedang yang memblokir dan mematahkan pedangnya. Gilbert memegang ujung pedang itu.

"Kalau begitu…" Gilbert memandangi Ivan sambil merengkuh Matthew kembali ke dalam pelukannya. "Ini adalah pilihanku sebagai orang yang mencintai Mattie. Aku akan menjaganya. Tidak akan pernah kubiarkan kau melukainya"

Ivan tertegun sebelum menutup matanya dan tersenyum sedih. "Baiklah, da~aku mengerti…" dia menjatuhkan pedangnya dan mengangkat tangannya seolah-olah menyerah. "Hari ini aku akan menyerah. Tapi…" senyumnya kembali menjadi senyum keji. "Suatu saat nanti aku akan kembali. Aku akan tetap mencoba mengambil nyawa Matthew…"

Dia pun berjalan meninggalkan tempat itu. "Baiklah, sampai bertemu di lain kesempatan, da~" kata Ivan. Tidak lama kemudian, dia menghilang dalam kegelapan lorong remang-remang itu.

Gilbert tertegun sesaat sebelum melenyapkan pedang yang dipegangnya dan kembali memandangi kekasihnya. Dia membungkuk dan mencium dahi Matthew lembut sebelum mengangkatnya dan membawanya bridal style di lengannya. Dia berjalan keluar dari mansion itu menuju rumah sakit.

"Maaf, Mattie…" gumam Gilbert. "Ini terakhir kalinya. Ini terakhir kalinya aku meninggalkanmu. Aku janji, mulai saat ini, aku akan selalu ada di sampingmu…" dia mencium bibir Matthew pelan. "Selama kau menginginkan aku berada di sampingmu, aku akan selalu ada di sampingmu. Aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi"

Dia terus berjalan sambil membawa Matthew menembus kegelapan malam…


Antonio menggigit bibirnya saat dia bersandar di depan pintu sebuah kamar rumah sakit. Dia mengintip ke dalam dan melihat Gilbert duduk di samping ranjang yang ditempati Matthew dengan raut wajah penuh ketakutan dan kecemasan. Tangannya menggenggam erat tangan Matthew dan membawa tangan pemuda Amerika itu ke bibirnya dan mencium tangan itu pelan.

Ketika mereka menerima kabar dari Gilbert kalau Matthew dan dia ada di rumah sakit, Alfred seolah-olah terbang berlari ke sana. Wajahnya ketakutan dan dia sangat histeris saat melihat keadaan adiknya tersayang itu. Arthur sampai harus menyeretnya keluar untuk menenangkannya agar tidak membuat keributan di rumah sakit.

Beberapa saat yang lalu, Alfred tertidur karena kelelahan menjaga adiknya itu sehingga Arthur memutuskan untuk membawa kekasihnya itu pulang. Dia meminta Antonio dan Gilbert untuk menjaga Matthew, yang hanya dijawab anggukan dengan tatapan kosong dari Gilbert.

Tiba-tiba hidung Antonio mencium aroma yang sangat dikenalnya…

Bau tubuh Feliciano, Ludwig dan…

Lovino.

Reaksi pertama Antonio adalah menyeret Gilbert pergi sebelum mereka sampai di kamar Matthew. Tapi…dia menutup matanya sejenak dan kembali bersandar di depan pintu kamar rumah sakit.

Biarlah…Lovino menemukannya. Dia…sudah lelah bersembunyi dari kekasihnya itu. Kalau Lovino takut padanya, biarkanlah dia takut. Dia…sudah tidak peduli lagi. Lagipula…

Mata Antonio kembali memandang ke dalam kamar rumah sakit. Dia pikir Gilbert juga tidak akan mau meninggalkan Matthew dalam keadaan begini. Sejak Matthew dibawa ke rumah sakit ini, tidak sekali pun Gilbert melepaskan genggamannya pada tangan Matthew. Dan Antonio yakin, Gilbert tidak akan melepaskan tangan Matthew sampai Matthew terbangun.

Mungkin lebih baik begini…daripada bersembunyi…lebih baik begini. Lebih baik jika mereka berhenti bersembunyi di balik alasan-alasan pengecut dan menghadapi kekasih mereka.

Tidak peduli bagaimana pun reaksi mereka setelah menemukan mereka…di hadapan mereka. Menemukan orang yang seharusnya mati berdiri di depan mereka.

Tiba-tiba dia mendengar suara-suara langkah-langkah kaki. Antonio mengenali aroma tubuh itu sebagai bau Feliciano. Dia berdiri bersandar, menanti sosok adik kesayangannya itu untuk melihatnya.

Feliciano berdiri di samping Antonio, memandang Antonio dengan pandangan yang tidak bisa dibaca sebelum sebuah senyum manis muncul di bibirnya.

"Selamat pulang, kak Antonio" katanya. "Lama tidak bertemu, ve~"

Antonio memandang 'adik'nya itu dengan pandangan terkejut. Sikap Feliciano sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan melihatnya. Dia terlihat tenang…dan begitu dewasa. Apa orang yang berdiri di hadapannya memang benar-benar Feli?

"Kalau kakak ada di sini berarti kak Gilbert ada di dalam, kan,ve~?" kata Feliciano. "Paling tidak sekarang dia dan Matthew bisa berbahagia"

"Feli…"

"Ya?" tanya Feliciano sambil memandangi Antonio.

"Kau…kau tidak terkejut melihatku? Bukannya…bukannya aku dikabarkan sudah tewas?" tanya Antonio.

Feliciano menggeleng. "Kakak…kan memang tidak mati…" kata Feliciano. "Kak Gilbert dan kak Antonio hanya berubah jadi vampire, kan?"

Mendengar itu, Antonio serasa mau pingsan. Kenapa? Kenapa Feli bisa tahu kalau dirinya adalah seorang vampire? Apa dunia sudah mulai terbalik?

"Kenapa kau bisa mengetahui itu?" seru Antonio.

Feliciano memandang kosong ke arah pintu sebelum tersenyum, tapi entah kenapa Antonio merasa senyum adiknya itu terlihat terpaksa. "Itu rahasia. Kau tidak boleh tahu…"

"Apa maksudnya itu, Feli?" seru Antonio bingung. Setahunya Feliciano bukanlah orang yang suka bermain rahasia.

"Sebentar lagi kau juga tahu…" kata Feliciano dengan seringai mencurigakan terpasang di wajahnya.

Sebelum Antonio sempat berkata apa pun, terdengar suara langkah-langkah kaki mendekat disertai suara.

"Adik bodoh! Berani benar kau meninggalkanku!" terdengar suara Lovino, tapi saat dia melihat orang yang berdiri di hadapan Feliciano, dia langsung membeku.

"A…Antonio…?" katanya.

Antonio tersenyum. "Lama tidak bertemu, Lovi…" katanya pelan.

Lovino tertegun sesaat sebelum pandangan terkejutnya berubah menjadi pandangan penuh kemarahan. Dia langsung mendatangi Antonio dan menamparnya keras, membuat Feli berjengit mendengar suara yang bergaung di koridor rumah sakit itu. Bahkan Ludwig, yang berdiri di belakang Feli, memandang Lovi dengan sorot mata tidak percaya.

"Apa-apaan kau, tomato-bastard?" seru Lovino pada Antonio yang sama sekali tidak bergeming. "Kalau kau memang masih hidup, kenapa tidak pernah pulang?"

Dia mencengkeram kemeja yang dipakai Antonio dan menggucangnya keras. "Jawab? Kenapa kau tidak pernah pulang? Jangan diam saja!"

"Lovino…" kata Ludwig melihat keadaan itu.

"Karena kak Antonio dan kak Gilbert bukan lagi manusia, ve~" kata Feliciano tiba-tiba.

Suasana di koridor itu langsung sunyi senyap. Antonio memandang datar pada Feliciano yang sedang tersenyum, sementara Ludwig dan Lovino memandang Feliciano dengan terkejut.

"A…apa maksudnya itu, adik sialan?" seru Lovino.

Antonio menghela napas sebelum kembali memandang Feliciano.

"Aku tidak akan bertanya kenapa kau bisa mengetahui itu…aku ingin tahu sejauh mana yang kau ketahui…" kata Antonio pada Feliciano.

Feliciano menunduk sebelum perlahan-lahan sebuah seringai berbahaya muncul di wajah Feliciano. Melihat seringai itu, Antonio sedikit merinding, seringai itu…tidak pantas ada di wajah Feli.

"Aku tahu kalau kau tinggal bersama dengan kak Mathias dan kak Arthur sejak enam bulan lalu…" kata Feliciano. "Dan secara teknis, kak Arthur adalah 'master' kalian, karena dialah yang mengubah kak Antonio dan kak Gilbert menjadi vampire…"

Suasana semakin sunyi.

"Va…vampire?" tanya Ludwig pelan pada kekasihnya itu.

"Ka…kau adalah vampire?" tanya Lovino pada Antonio yang hanya dijawab dengan anggukan pada kekasihnya itu.

"Dari tingkah dan umurmu yang tidak terbilang lama, bisa diduga kalau kakak adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian aneh di kota…iya kan?" kata Feliciano.

Antonio hanya mengangguk. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia merasa Feliciano sudah mengetahui segalanya.

Setelah suasana sunyi yang cukup lama…

"Aku tidak suka dengan kelakuanmu" kata Feliciano setelah terdiam cukup lama, membuat Antonio memandang heran pada Feli. "Kau menyembunyikan diri dari kami, kau seolah-olah menganggap vampire itu makhluk rendahan…"

"Tapi…Gilbert…" protes Antonio.

"Paling tidak, dia menemui Matthew" kata Feliciano. "Dia selalu menemui Matthew, meski dia hanya menemui Matthew saat dia sudah tertidur. Tapi kau…kau selalu bersembunyi…tidak pernah menemui siapa pun…"

Antonio menunduk, tidak bisa mengatakan apa pun, dia tahu apa yang dikatakan adiknya itu benar.

"Vampire itu memang monster…aku mengakui itu…" kata Feliciano. "Tapi itu bukan alasan untuk mengisolasi diri. Apa yang membuatmu berbeda selain pola makan dan kemampuan istimewamu? Bukankah kau tetap kak Antonio?"

Antonio masih bungkam.

"Aku tidak akan berkomentar" Feliciano meraih tangan Ludwig, membuat pemuda German itu terkejut. "Silakan luruskan permasalah kalian. Aku akan pergi…"

Dia pun menyeret Ludwig pergi, meninggalkan Lovino dan Antonio di koridor rumah sakit itu. Saat dia berpapasan dengan Antonio…

"Aku ingin kita bisa kembali berbahagia bersama, kak Antonio…" bisiknya pelan sehingga hanya Antonio yang bisa mendengarnya.

Lovino dan Antonio terdiam selama beberapa saat sebelum Lovino bergumam pelan. "Adik sialan itu benar, tomato-bastard"

"Hah?" tanya Antonio.

"Dia benar…kau tidak perlu bersembunyi dariku atau dari siapa pun. Apa aku akan membencimu hanya karena kau seorang vampire. Bukankah kau tetap saja seorang tomato-bastard? Apa yang salah dengan itu?"

Antonio tertegun sebelum tersenyum lebar dan memeluk Lovino erat.

"Waa~ lepasin Tomato-bastard?" seru Lovino.

"Jadi…aku boleh kembali?" gumam Antonio di bahu Lovino.

Lovino hanya menggumam dengan wajah merah padam.

Antonio tersenyum. "Kalau begitu…aku pulang…Lovi…" katanya pelan. Untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir, dia merasa bahagia.


Gelap…di mana ini?

Matthew memandang bingung ke sekelilingnya. Tapi sepanjang yang bisa dilihatnya, dia hanya melihat kegelapan. Kegelapan yang pekat.

Terakhir kali…aku ingat kalau aku ada di rumah kak Ivan…dia menusukku berulang-ulang dengan pedang.

Apa aku sudah mati? Apa aku sekarang sudah berakhir?

Matthew berbaring di tengah kegelapan itu. Memejamkan matanya perlahan.

Kalau aku memang sudah mati…kumohon, terakhir kali saja…pertemukan aku dengan Gilbert…dalam mimpi pun tak apa-apa, aku ingin bermimpi…berada di tempat di mana aku bisa bermanja-manja dengan Gilbert…

Tiba-tiba dia merasakan sentuhan tangan lembut di dahinya. Matthew membuka matanya, dan melihat Gilbert tersenyum hangat padanya.

Gilbert? Benar-benar Gilbert? Aku…benar-benar memimpikan Gilbert…

Matthew kembali memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan kekasihnya di dahi dan rambutnya.

"Aku benar-benar merindukanmu, Gilbert…" bisik Matthew saat dia membuka kembali matanya dan menatap kekasihnya itu. "Bisa melihatmu seperti ini…benar-benar mimpi yang indah…"

Gilbert tersenyum dan membungkuk untuk mencium dahi Matthew lembut.

"Ini bukan mimpi, Mattie…" bisiknya.

Mata Matthew langsung tersentak. Dia melihat ke sekelilingnya dan menyadari kalau dia berada di sebuah kamar rumah sakit. Dia kembali menengok ke sisinya dan langsung berhadapan dengan sepasang bola mata berwarna merah darah.

Matthew merasa napasnya berhenti seketika.

"Gil…bert…" bisik Matthew pelan dengan nada tidak percaya.

Gilbert kembali tersenyum dan mengusap pipi kekasihnya itu. "Hey…Mattie…" bisiknya.

Air mata menetes dari mata Matthew. Gilbert benar-benar ada di sini? Di hadapannya? Ini kenyataan? Bukan halusinasi, mimpi, atau khayalan?

Matthew menggenggam tangan Gilbert yang mengusap pipinya, memastikan kalau tangan itu sungguhan. "Ka…kau benar-benar ada di sini?" tanyanya.

Gilbert mengangguk. "Aku ada di sini Matthew...aku bukan sebuah mimpi atau halusinasi…"

Matthew langsung menghambur ke dalam pelukan kekasihnya itu. Dia membenamkan wajahnya di kaos yang dipakai Gilbert. Dia merasakan tangan Gilbert membelai dan mengelus rambutnya lembut.

"Kau…kau tidak akan pergi ke mana-mana, kan?" tanya Matthew sambil mengangkat wajahnya untuk menatap kekasihnya itu. "Kau tidak akan meninggalkanku lagi kan?"

Gilbert menghela napas sambil membenamkan wajahnya dalam rambut pirang kekasih Amerikanya itu. "Aku tidak akan ke mana-mana selama kau menginginkanku berada di sisimu" dia memandang wajah Matthew. "Pertanyaannya, apa kau ingin aku berada di sisimu?"

Matthew memandang Gilbert dengan pandangan terkejut. "Te…tentu saja aku ingin…"

"Apa pun aku?" tanya Gilbert.

"A…apa?" tanya Matthew bingung.

Gilbert menghela napas dan mempererat pelukannya di tubuh Matthew. "Mattie…aku bukan lagi manusia…sekarang…aku…aku adalah seorang vampire…"

Tubuh Matthew sedikit menegang, tapi tidak sekalipun Gilbert melemahkan pelukannya. "Arthur merubahku dan Antonio menjadi vampire enam bulan lalu setelah dia tidak sengaja menghisap darah kami…sejak saat itulah kami bukan lagi manusia…"

Gilbert melepaskan pelukannya dari tubuh Matthew dan memandang lurus ke arah mata pemuda Amerika itu. "Apa kau masih mau menerimaku?" tanyanya.

Matthew tersenyum. "Aku tidak peduli makhluk apa pun dirimu" kata Matthew. "Bagiku kau adalah Gilbert…dan sampai sekarang bagiku kau tetaplah Gilbert. Manusia atau vampire itu tidak ada hubungannya…" dia mendongak dan mengecup pipi Gilbert pelan. "Kau masih tetap Gilbert yang kucintai dan kusayangi…karena itu, pulanglah…padaku"

Gilbert tersenyum dan kembali memeluk tubuh Matthew dengan erat. Air mata jatuh menetes dari matanya. "Aku pulang…Mattie…" gumamnya.

"Selamat datang kembali, Gilbert…" bisik Matthew tepat di telinga Gilbert.

Untuk pertama kalinya dalam enam bulan ini, Gilbert merasa tenang. Tidak ada lagi kebohongan, tidak ada lagi bersembunyi. Yang ada hanya cinta dan kepercayaan dari kekasihnya…yang tidak akan lagi dia lepaskan untuk kedua kalinya.


Author note:

sepertinya chapter ini memang agak maksa ya...maaf ya...

soalnya pas bikin nih chapter kita lagi angst-angstnya jadi...hehe...ceritanya kebawa angst

seperti biasa review ya...

sekian