Sudah tiga bulan berlalu sejak kejadian yang menimpa Matthew. Matthew kini sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Dan yang paling membuat Alfred bahagia, Gilbert kembali pada Matthew sehingga Matthew juga kembali ke sosoknya yang dulu. Semuanya kembali. Kembali kepada keadaan yang seharusnya…
Matthew sibuk menulis sebuah not musik untuk konser musik yang akan diikutinya ketika tiba-tiba saja Gilbert mentacklenya. Matthew menjerit kaget saat menemukan dirinya terbaring di tanah dengan Gilbert menyeringai tepat di atasnya.
"Mattie…saat ada aku yang awesome ini di sekitarmu kau nggak boleh memikirkan hal gak awesome lain…" rengek Gilbert layaknya anak-anak pada kekasihnya itu.
Setelah semua permasalahan selesai, Gilbert dan Antonio memutuskan kembali sekolah. Mereka berdua memasuki SMU Hetalia, seperti halnya yang lain. Gilbert, dengan rekomendasi Matthew yang tahu seberapa malasnya kekasihnya itu, memutuskan masuk jurusan olahraga, dan Antonio, jelas, memasuki jurusan pertanian, mengekor kekasihnya yang adalah murid di jurusan itu.
Kembali ke masa sekarang…
Wajah Matthew sontak merah padam mendengar perkataan Gilbert. Sejak pertama Gilbert memang seperti mengibarkan bendera perang dengan para cowok-cowok penggemar Matthew dengan menyatakan dengan lantang di hadapan seluruh murid sekolah kalau Matthew adalah pacarnya. Wah…tak terhitung berapa jumlah pandangan dingin yang diarahkan pada pemuda German itu saat dia kembali duduk di kursinya.
"Mattie…" rengek Gilbert sambil mendekatkan wajah mereka.
Matthew tidak bisa berkata apa-apa. Dia terlalu shock, apalagi saat dia merasakan bibir Gilbert menyentuh bibirnya dalam sebuah ciuman lembut. Matthew spontan langsung merespon dan mencium balik. Dia merindukan perasaan ini…dia terlalu lama berpisah dengan Gilbert. Dan sekarang saat mereka bisa kembali bersama…dia tidak ingin melepaskannya.
"Kalian berdua hentikan…" kata sebuah suara di atas mereka. Mereka berdua mendongak dan melihat Mathias berdiri di depan mereka. Matthew langsung merah padam dan Gilbert menggerutu pelan sambil melepaskan Matthew.
"Mau apa?" tanya Gilbert.
"Aku perlu bicara denganmu. Secara pribadi…" kata Mathias sambil tersenyum manis pada Gilbert. Gilbert memandangi Mathias dengan pandangan datar sebelum menghela napas dan berpaling pada kekasihnya itu.
"Oke, Mattie. Aku pergi dulu. Jangan terlalu merindukan aku yang awesome ini, ya?" kata Gilbert sebelum pergi bersama Mathias, meninggalkan Matthew.
Matthew memandangi Gilbert dengan wajah merah padam. Dia membenamkan wajahnya di lututnya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang panas dan merah padam.
"Dasar bodoh…" gumam Matthew lembut dengan sebuah senyum lembut tersungging di wajahnya.
Ivan memandangi Gilbert yang sedang mentackle kekasihnya itu dari jendela gedung sains di kejauhan. Dia terlihat sedang berpikir dengan serius.
"Tuan Ivan…kenapa…kau memutuskan untuk tidak membunuh Matthew? Dengan kemampuanmu sebagai vampire hunter terkemuka seharusnya mudah saja bagimu untuk membunuh mereka berdua, lalu kenapa kau melepaskannya?" tanya seseorang.
Ivan berbalik dan melihat seorang pemuda Lithuania berambut cokelat sebahu menatapnya. Dia menoleh pada Gilbert dan Matthew sekali lagi sebelum tersenyum.
"Apa yang akan membuatmu hancur luluh lantak hingga kau merasa sangat putus asa dan tidak ingin bangkit lagi, Toris?" tanya Ivan tiba-tiba.
"Eh?" kata Toris pelan.
"Tentu yang membuatmu akan sangat putus asa adalah saat kau hanya bisa melihat kekasihmu, si pemuda Polandia itu siapa namanya…Feliks…meregang nyawa di hadapanmu dan kau tidak bisa melakukan apa pun kan?"
Toris hanya terdiam.
"Aku menyadari itu saat aku melihat mereka berdua" kata Ivan sambil melihat Gilbert dan Matthew. "Untuk membuat Arthur menderita aku harus merebut orang yang paling disayanginya dulu, kekasihnya. Jika dia sudah sangat sedih dan merasa sangat putus asa….kematian lain yang menyusul akan membuatnya lebih hancur lagi…" kata Ivan sambil menyeringai keji.
Dia memandangi Toris sebelum memukulkan tangannya ke kaca jendela di depannya, membuat kaca itu pecah berkeping-keping.
"Kita harus membunuh Alfred lebih dulu, da. Dan akan kupastikan dia menderita dengan sangat hingga dia merasa lebih baik dia tidak pernah hidup di dunia ini" kata Ivan sambil menjilat darah yang ada di tangannya yang tergores pecahan kaca.
"Tunggu saja Alfred…sebentar lagi…sebentar lagi akan kuakhiri hidupmu, da…" kata Ivan sambil menyeringai keji.
Saat Mathias dan Gilbert tiba di tempat yang mereka tuju, mereka melihat Arthur yang bersandar di sebuah batang pohon, dan Antonio, yang duduk di bawah sebuah pohon.
"Artie? Antonio? Ngapain kalian ada di sini?" tanya Gilbert bingung.
Antonio hanya mengarahkan kepalanya ke arah Mathias dan Arthur perlahan-lahan membuka matanya yang daritadi tertutup.
"Aku mau…"
"Bicara soal Ivan, kan?" potong Mathias tanpa basa-basi.
Arthur melotot pada Mathias tapi tidak mengatakan apa pun. "Ya…" katanya setelah lama terdiam.
"Keadaan Matthew…dia memang baik-baik saja, tapi…tidak ada yang bisa menjamin keselamatannya kan?" kata Arthur. "Aku…tidak ingin dia terluka lagi…"
"Kau tidak usah khawatir" kata suara seseorang dari atas mereka. "Aku menjamin untuk saat ini Matthew akan selamat"
Mereka semua mendongak dan melihat Feliciano duduk di atas sebuah dahan pohon. Dia tersenyum manis sambil memandang Arthur.
"Fe…Feli?" tanya Antonio dan Gilbert bersamaan.
"Kau yakin?" kata Mathias pada Feliciano. "Bukannya aku meragukan perkataanmu, tapi…"
Feli berdiri dan langsung meloncat dari dahan pohon itu, dan, yang membuat Gilbert dan Antonio shock, mendarat dengan mulus di atas tanah, padahal pohon itu lumayan tinggi.
"Aku menjaminnya" kata Feliciano. "Untuk saat ini, kak Arthur, yang harus kau khawatirkan, adalah kak Alfred"
Tubuh Arthur langsung menegang.
"Feli…"
"Sebentar, sebentar, sebentar!" seru Antonio dan Gilbert. "Kenapa kalian bisa berbicara dengan santainya pada Feliciano? Bukannya kalian sendiri yang bilang tidak akan melibatkan orang lain?"
"Hoo…jadi aku orang lain?" kata Feliciano.
"Tentu saja orang lain!" seru Antonio. "Kau bukan vampire!"
Feliciano tiba-tiba memandang Antonio dengan sorot mata yang teramat dingin, membuat Antonio dan Gilbert merinding.
"Kalian tidak pantas bicara dengan nada seperti itu" kata Feliciano dengan nada suara dingin. "Secara umur vampire, aku lebih tua dari kalian. Aku…" dia menunjuk Antonio dan Gilbert. "Punya hak untuk menghajar kalian…"
Antonio dan Gilbert terpaku.
Feliciano menunduk sebelum sebuah senyum hangat kembali di mulutnya. Sorot matanya pun kembali melembut. "Baiklah, biarkan aku memperkenalkan diri. Nama, Feliciano Vargas, murid jurusan seni. Dan…" Dia menyeringai keji. "Aku adalah seorang vampire, sama seperti semua orang yang ada di sini"
Mendengar perkataan Feliciano, Antonio dan Gilbert terlihat seperti habis ditampar keras oleh seseorang. Feli? Feliciano, adik yang sangat mereka sayangi ini seorang vampire? Berapa lama? Berapa lama adik mereka itu sudah hidup sebagai makhluk malam penghisap darah?
"Be…berapa lama…" kata Antonio, tidak bisa berkata apa-apa.
"Secara umur, aku lebih muda dari kak Mathias dan kak Arthur, kok" kata Feliciano sambil tetap tersenyum manis. "Tapi aku lebih tua dari kalian berdua…umurku sebagai vampire baru lima tahun, kok…"
Antonio dan Gilbert kembali terlihat seperti habis ditampar. Lima tahun? Adik mereka hidup sebagai makhluk penghisap darah selama lima tahun dan tidak sekalipun mereka menyadarinya? Kenapa?
"Hentikan pembicaraan itu, Feli" kata Arthur sambil membetulkan letak kacamatanya. "Kau membuat Antonio dan Gilbert terdengar bodoh tidak pernah menyadari identitasmu sebagai vampire selama lima tahun padahal mereka terus bersamamu selama ini setidaknya selama dua tahun…"
Feliciano tersenyum sambil memandangi Arthur. "Itu bukan salah mereka kalau tak tahu, kok. Aktingku kan bukan tingkat murahan. Gampang sekali berpura-pura…terutama di hadapan orang lain…"
"Sudahlah" kata Mathias sambil mengangkat tangannya. "Bodoh atau tidak, aku ingin memastikan prediksimu. Kau sudah tahu kalau Matthew akan diserang Ivan, kan?"
Feliciano terdiam lama sebelum menjawab dengan senyum yang dipaksakan. "Ya" katanya.
Gilbert terkesiap. "Kalau kau tahu kenapa tidak memberitahu? Bukankah dengan begitu aku bisa melindungi Mattie! Kejadian rumah sakit itu tidak akan terjadi!"
"Dan kalian akan tetap bersembunyi kan?" kata Feliciano sambil memandang Antonio dan Gilbert.
Gilbert dan Antonio terdiam.
"Ada dua alasan aku tidak memberitahukan masalah penyerangan Matthew" kata Feliciano. "Pertama saat kak Ivan tahu, dia akan merubah target penyerangan dari Matthew menjadi kak Alfred. Dan itu jauh lebih berbahaya…"
Dia menghela napas sebelum kembali memandang Antonio dan Gilbert. "Kedua, kalau Matthew terluka, kupikir setidaknya kak Gilbert akan kembali pada Matthew. Lagipula semua prediksiku mengatakan Matthew tidak mati. Karena itu aku tidak pernah mengatakannya"
"Lalu masalah Alfred?" tanya Arthur.
"Semua prediksi yang kulihat belakangan ini semuanya mengatakan kalau kak Ivan akan menculik kak Alfred. Aku tidak tahu tepatnya kapan, tapi aku yakin itu akan terjadi. Dan semuanya…berakhir dengan tidak bagus…"
"Apa…yang tidak bagus…" kata Arthur dengan perasaan cemas.
"Tidak bagus dalam artian semua prediksi yang kulihat berakhir dengan kau menangisi kak Alfred" kata Feliciano. "Aku tidak tahu kenapa, tapi jelas kau menangisi kak Alfred, dan kenyataan kau menangis itu…bukti bahwa sesuatu yang mengerikan jelas terjadi pada kak Alfred"
Arthur membeku mendengar perkataan Feliciano. Dia terdiam cukup lama sebelum menghela napas. "Baiklah, aku mengerti. Aku akan menjaga Alfred. Feli, kau juga, jaga diri. Meski kau vampire, bukan berarti kau tidak bisa terluka"
"Tenang saja…" kata Feliciano. "Dibunuh pun aku tidak akan mati…"
"Mulai lagi…" desah Mathias. "Sudah kubilang, hentikan sifat main-main dengan nyawamu itu"
"Kenapa juga harus mengkhawatirkan aku sampai sebegitunya?" gumam Feliciano.
"Tentu saja aku mengkhawatirkanmu" kata Mathias sambil menepuk kepala Feliciano. "Kalau kau tidak ada, siapa adik yang aku dan Arthur bisa manjakan, Feli?"
Feli kelihatan tertegun saat mendengar perkataan Mathias sebelum menghela napas dan tersenyum lembut. "Jangan memperlakukanku seperti anak kecil. Aku sudah terlalu banyak punya kakak yang memanjakanku" katanya.
Mathias tertawa. "Tapi aku dan Arthur memang menyayangi kau seperti adik kami…dan itu tidak akan berubah, sampai kapan pun"
"Terserahlah…" gumam Feli pelan.
"Baiklah kami pergi, silakan bicara" kata Mathias sambil berjalan pergi bersama Arthur, meninggalkan Feliciano, Antonio, dan Gilbert di tengah rerimbunan pohon taman sekolah itu.
"Oke" kata Feliciano sambil berbalik untuk menghadapi dua kakaknya itu. "Ada yang ingin ditanyakan padaku?"
"Apa saat kau tahu kalau kami adalah vampire kau menggunakan bakat khususmu?" tanya Gilbert.
"Ya" kata Feliciano. "Karena kemampuanku adalah melihat masa depan. Aku melihat kalau kak Arthur mengubah kalian menjadi vampire…jadi aku tahu kalian masih hidup…"
"Satu lagi" kata Antonio. "Apa Lovi dan Ludwig tahu soal dirimu sebagai vampire?"
"Kak Lovi sama sekali tidak tahu…ve~" kata Feliciano riang. "Tapi Ludwig…kurasa dia tahu…hari ini"
"Hah?" kata Gilbert bingung.
"Tidak apa-apa" kata Feliciano sambil tertawa riang. "Kalau tidak ada keperluan, aku permisi ya…sampai nanti ve~"
Dia berjalan melewati Antonio dan Gilbert dan berhenti begitu sampai di sebuah pohon. Dia segera menoleh dan tersenyum melihat Ludwig yang bersandar di pohon itu dengan ekspresi yang tidak bisa terbaca.
"Kau tahu tidak baik menguping pembicaraan orang, ve~" kata Feliciano.
Ludwig memandang tajam pada Feliciano. "Kau…aku tidak bermaksud menguping. Aku melihatmu bicara dengan Arthur, Mathias, Antonio, dan Bruder, jadi aku tidak ingin mengganggumu, tapi…semua perkataanmu…"
"Aku tidak berbohong…" kata Feliciano. "Semua perkataanku di sana tadi bukanlah bohong…"
"Termasuk perkataanmu yang mengatakan kalau kau adalah vampire?" gumam Ludwig.
Feliciano mengangguk. "Itu adalah yang paling benar" kata Feliciano.
"Kau tidak pernah mengatakan apapun padaku!" seru Ludwig.
"Seharusnya kau menyadarinya" kata Feliciano. "Mengingat semua murid yang terkena anemia di sekolah ini semuanya adalah para lelaki yang pernah menyatakan cinta padaku. Seharusnya kau bisa menduga kalau kejadian itu berhubungan denganku"
Ludwig terdiam, dia memandangi kekasihnya yang masih tersenyum santai itu dengan pandangan terpukul.
"Bagaimana…?" tanya Ludwig.
"Aku menjadi vampire?" kata Feliciano. "Lima tahun lalu, aku sedang berjalan-jalan di hutan bersama ayah. Saat sedang beristirahat, aku menemukan sebuah danau dan aku berendam sebentar di sana. Tak pernah kusangka kejadian semanis itu…adalah awal neraka"
"Saat aku kembali, aku melihat pemandangan neraka" kata Feliciano. "Aku melihat ayah…dengan tubuh tercabik dan darah berceceran. Tubuhnya tercerai berai. Melihat itu, aku terpaku. Tidak menyadari ada vampire yang menyelinap di belakangku, sampai vampire itu menggigitku. Aku menjerit kesakitan, memintanya berhenti, tapi dia tetap meminum darahku. Dia sama sekali tidak mendengarkan perkataanku. Aku sampai berpikir aku akan mati di sana…dalam usia yang sungguh, masih begitu muda…"
Ludwig masih terdiam, Feliciano memandang mata biru kekasihnya itu dan tersenyum manis, meski senyum itu mulai dibayang-bayangi dengan kesedihan.
"Dan sialnya vampire jahanam itu menyukaiku. Dia mengubahku menjadi vampire dan membawaku pergi mengikutinya. Itu…adalah neraka dunia…neraka duniaku…"
Ludwig memandang bingung.
"Vampire itu menyiksaku setiap hari. Dia memperlakukanku seperti budak. Layaknya seekor binatang" kata Feliciano sambil tersenyum. "Setiap hari dia menghajarku, kalau aku manusia pasti aku sudah mati berkali-kali"
Ludwig menarik napas tajam dan menatap kekasihnya, tapi Feliciano menunduk. Dia tidak ingin melihat mata kekasihnya saat dia menceritakan masa kegelapan hidupnya. Dia tidak mampu melihat pandangan jijik kekasihnya saat dia menceritakan bahwa dirinya tidaklah sesuci yang terlihat. Bahwa dirinya kotor dan berlumur darah.
"Aku tidak pernah merasakan kenyamanan hidup. Aku selalu tidur di sel bawah tanah dengan tangan dan kaki terantai. Makanan dan minuman pun dia berikan seadanya. Lalu…pernah sekali dia menyiramkan cairan asam ke tubuhku, kau tidak bisa bayangkan sakitnya"
"Tiga tahun aku mengalami penyiksaan seperti itu. Tidak sekali dua kali aku mencoba bunuh diri, tapi tidak pernah berhasil. Entah karena aku memang vampire yang dikutuk hidup abadi atau memang vampire jahanam itu tidak pernah membiarkanku mati. Tapi satu hal yang pasti begitu aku sembuh…penyiksaan yang lebih keji dari sebelumnya menungguku, beralasan itu adalah hukuman karena sudah berani mencoba meninggalkannya"
Ludwig terus memandangi Feliciano, tapi pandangannya berubah menjadi pandangan dengan penuh belas kasihan. "Feli…"
"Jangan" kata Feli sambil tersenyum saat dia mengangkat wajahnya untuk menatap kekasihnya itu. "Aku tidak perlu belas kasihan. Itu hanya membuatku merasa semakin jelek dan lemah"
Ludwig terdiam.
"Tiga tahun lalu…kak Arthur dan kak Mathias menyelamatkanku dari neraka itu" kata Feliciano. "Mereka membunuh 'master' vampireku dan membawaku bersama mereka. Saat itu…adalah pertama kalinya aku merasa nyaman setelah mengalami neraka selama tiga tahun"
"Mereka mencari keberadaan keluargaku yang masih ada sampai mereka menemukan keberadaan kak Lovi. Mereka pun mengirimku untuk tinggal bersama kak Lovi dan mama. Mereka juga menjagaku, melindungiku, memastikan tidak ada hal-hal tidak baik padaku…bisa dibilang mereka sedikit overprotektif padaku sih…tapi jelas mereka selalu memanjakanku. Mereka selalu memastikan aku selalu tersenyum dan bahagia"
"Aku…sangat menyayangi kak Arthur dan kak Mathias" kata Feliciano. "Mereka tempat pertama aku bisa bermanja-manja. Tempat dimana aku bisa merasa aman. Mereka memberikanku cinta…sesuatu yang tidak pernah kurasakan selama tiga tahun…"
"Lalu aku bertemu denganmu…" kata Feliciano sambil memandang Ludwig. "Aku sadar…tidak seharusnya aku mencintaimu. Bagaimanapun…kita terlalu jauh berbeda. Bahkan dunia tempat kita hidup pun berbeda. Tapi…"
Dia merasakan air mata menetes dari matanya tapi dia tetap memandang Ludwig sambil tersenyum. "Aku tidak bisa…menjauh darimu. Kau begitu hangat. Selalu menjagaku dan mentolerir semua perbuatanku…Kau memperlakukanku seperti barang berharga. Perasaan itu…menyenangkan dan membahagiakan…membuatku tidak ingin kehilangan semua itu. Karena itulah aku tidak pernah memberitahukan mengenai identitas asliku sebagai vampire"
"Lalu…kenapa sekarang kau memberitahuku…kau sengaja membiarkanku mendengar pembicaraan kalian, kan? Kenapa?" gumam Ludwig pelan.
"Aku…tak ingin berbohong lagi" kata Feliciano. "Setiap kali kau bersikap baik padaku, aku tidak bisa menghilangkan perasaan kalau aku mempermainkanmu. Dan lagipula…sebentar lagi…akan ada pertarungan yang mengancam nyawa, kalau kau terus bersamaku tidak akan ada jaminan kau akan selamat"
"Aku...tidak bisa memberikan hidup aman damai sentosa untukmu, Ludwig…duniaku adalah dunia kegelapan…penuh teror dan penderitaan. Dunia di mana kita diharuskan untuk bertarung untuk mempertahankan hidup…itu bukanlah dunia yang indah dan bahagia…semua kebahagiaan itu adalah palsu.…"
Feliciano tersenyum dan berbalik untuk pergi.
"Baiklah, hanya itu yang bisa kukatakan" kata Feliciano. "Selamat tinggal"
Dia pun mulai berjalan pergi, tapi tiba-tiba Ludwig memegang tangan Feliciano, membuat pemuda Italia itu terkejut dan berbalik untuk menghadapi kekasihnya itu.
"Jangan pernah ucapkan selamat tinggal padaku…" gumam Ludwig. "Karena aku tidak bisa hidup jika kau meninggalkanku…apa pun alasannya"
Feliciano memandang Ludwig dengan pandangan terkejut sesaat sebelum pandangannya berubah datar. "Kau…mendengar semua perkataanku tadi, kan? Kau tahu aku ini makhluk apa kan?"
"Ya…aku mendengar semua perkataanmu" kata Ludwig sebelum memutar tubuh kekasihnya itu sehingga menghadap dirinya. "Dan aku bertanya, apa cintamu yang kau selalu tunjukkan padaku adalah palsu?"
Feliciano terdiam.
"Kau orang pertama…yang bersikap baik padaku, Feli…" kata Ludwig sambil merengkuh kekasihnya itu. "Semua orang lambat laun menjauhiku karena lelah mencoba berteman denganku. Aku selalu sendirian, dan aku tidak pernah berpikir membutuhkan orang lain juga. Bruder sampai pernah menegurku kalau hidupku pasti akan selalu sendirian"
Feli tetap terdiam sambil menikmati pelukan kekasihnya itu.
"Tapi kau…kau selalu bersamaku. Selalu tertawa di sampingku, berbicara padaku, tersenyum padaku, memelukku, menghiburku saat aku sedih…semuanya. Kau tak pernah lelah bersamaku. Lambat laun aku membutuhkan itu, Feli…aku tidak bisa…kehilangan semua itu. Aku tidak bisa kehilangan dirimu…"
Dia melepaskan pelukannya dan memandang wajah kekasihnya itu sambil menggenggam erat tangannya. "Tidak peduli segelap apa pun dunia yang kau tinggali, sekejam apa pun kehidupanmu, seberapa pun menderitanya, apa pun wujudmu, apa pun dirimu…aku bahagia bisa bertemu denganmu dan mendapatkan cintamu. Itu kebahagianku. Alasanku untuk hidup, Feli. Jangan renggut itu dariku. Aku tidak akan melepaskan itu"
Feliciano memandangi kekasihnya itu. "Kau…bisa mati jika berada di sampingku, Ludwig…aku tidak bisa menjamin keselamatanmu…"
"Aku tak akan mati" kata Ludwig sambil mencium dahi kekasihnya itu. "Tapi mati pun kalau itu untukmu, aku tak akan menyesal"
Ludwig tersenyum. "Karena aku mencintaimu, Feli…aku tidak akan membuatmu menangis…" gumamnya pelan.
Feliciano menunduk. "Kak Mathias dan kak Arthur…mereka pernah bilang…kalau kebahagiaan itu pasti ada. Aku tak pernah percaya itu. Tubuhku tidak percaya itu. Terlalu banyak siksaan yang kuterima untuk percaya sesuatu bernama kebahagiaan"
Lalu dia menatap Ludwig dan tersenyum. "Tapi kau…adalah orang pertama yang bilang bahagia bisa bertemu denganku. Mungkin…bisa berada di sisimu sebagai orang yang kau cintai…itu adalah kebahagianku..."
"Aku jamin itu, Feli…" kata Ludwig. "Aku akan memastikan kau selalu bahagia saat bersama denganku…"
"Jadi aku boleh berada di sini? Di sisimu?" bisik Feli pada Ludwig.
Ludwig tersenyum. "Kau tidak boleh berada di sisiku…" kata Ludwig. "Aku perlu kau ada di sisiku…"
Feliciano tersenyum.
"Aku mencintaimu, Ludwig…" bisik Feliciano pada kekasihnya itu.
Ludwig tersenyum dan mencium bibir Feliciano lembut. "Aku juga mencintaimu, Feli…selamanya, tidak peduli apa pun wujudmu…"
Feliciano tersenyum bahagia. Selama lima tahun hidupnya sebagai vampire, mendengar perkataan itu dari mulut kekasih yang sangat disayanginya…mendengar kalau dia dicintai, dibutuhkan, bahkan dengan wujud vampirenya yang gelap dan sadis ini. Dengan kenyataan kalau dia adalah makhluk yang telah terkotori dengan darah orang-orang tak bersalah layaknya pembunuh keji ini…dia masih diinginkan oleh Ludwig, orang yang sangat dicintainya…kenyataan itu…terasa sangat membahagiakan.
Air mata mengalir dari mata Feliciano saat dia menghambur ke dalam pelukannya kekasihnya itu sambil tersenyum. Ludwig menyambut kekasihnya itu di pelukannya dan memeluknya erat.
Dia bahagia…sekarang dia bisa mengerti apa arti kebahagiaan itu.
Dan kebahagiaan ini adalah sebuah perasaan yang tidak akan pernah dia lepaskan…sampai kapan pun juga.
Author note:
OK, sepertinya otak saya yang mulai kacau membuat cerita ini agak kacau juga. maaf ya kalau cerita ini terasa agak aneh. tapi sejauh ini cerita saya masih bagus kan? -sok PD-
Review seperti biasanya
sekian.
