Alfred tersenyum saat dia memandangi para pasangan yang sedang bermesraan di depannya dari tempat duduknya di bawah pohon di taman belakang mansion Arthur.

Dia bahagia melihat para pasangan itu. Melihat Gilbert mentackle Matthew sambil tertawa-tawa saat mereka berdua jatuh ke tanah dan adiknya itu menjerit kaget, melihat Feliciano yang tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ludwig saat mereka duduk bersandar di bawah pohon, mengobrol dengan riang, melihat Lovino berlari mencoba menghindari Antonio yang mengejarnya dengan antusias, Antonio tertawa-tawa saat Lovino membentaknya dengan wajah merah padam, dan melihat Mathias dan Norway berbicara sambil berjalan-jalan di hutan kecil di mansion belakang itu, saling berpegangan tangan.

Tidak lama setelah itu, Alfred merasakan ada sesuatu yang duduk di pangkuannya. Alfred membuka matanya yang dia tutup sejenak dan melihat Arthur menyeringai sambil duduk di pangkuan Alfred. Wajahnya dan wajah Alfred begitu dekat. Wajah Alfred langsung merah padam.

"A…Arthur…Iggy…" kata Alfred terbata-bata.

"Ya?" kata Arthur dengan seringai berbahaya seorang bajak laut. Dia semakin mencondongkan tubuhnya membuat bibirnya dan bibir Alfred hampir bersentuhan.

"Ada yang mau kau katakan padaku?" kata Arthur sambil menyeringai.

Alfred tidak bisa berkata apa-apa, dia terlalu shock dengan sisi lain dari kekasihnya itu. Kesempatan itu tidak dibuang sia-sia oleh Arthur. Dia langsung menyegel mulut Alfred dengan mulutnya, mencium Alfred dengan ciuman lembut penuh nafsu.

Mata Alfred melebar saat merasakan ciuman penuh nafsu itu, tapi perlahan-lahan matanya menutup dan dia luluh dalam ciuman penuh nafsu yang diberikan Arthur. Tubuhnya semakin terjatuh hingga akhirnya mereka terbaring di tanah, masih dalam keadaan berciuman panas. Arthur memasukkan lidahnya ke dalam mulut Alfred, mengajak lidah Alfred bermain-main dengan lidahnya dan membuat Alfred mengerang pelan.

JEPRET

Sinar blitz kamera membuat mereka terbelalak kaget dan melepaskan ciuman mereka, mereka menoleh dan melihat Mathias berdiri di samping mereka dengan kamera digital tergenggam di tangannya. Dia menyeringai lebar. Wajah Alfred dan Arthur langsung merah padam, apalagi saat mereka menyadari kalau sekarang semua orang di taman itu memandang mereka berdua, meski dengan ekspresi yang berbeda-beda.

Norway memandang mereka dengan tatapan datar sambil menghela napas tidak peduli sama sekali. Feliciano tersenyum manis melihat mereka, tatapan matanya terlihat menggoda mereka berdua, Ludwig, Matthew, dan Lovino memandangi mereka dengan wajah bersemu merah, jelas agak malu melihat kemesraan yang ditunjukkan dengan terang-terangan itu. Antonio dan Gilbert tertawa terbahak-bahak, jelas mereka menikmati sekali display kemesraan mereka.

"Yosh! Gambarnya bagus, nih. Dijual ke Kiku atau Elizaveta laku kali ya…" kata Mathias sambil memandangi hasil gambar di kamera digitalnya.

"Jangan coba-coba…" geram Arthur.

"Harus coba-coba dong…penghasilan tambahan nih…" kata Mathias sambil berlari pergi. "Ciao, aku mau ke rumah Kiku atau Elizaveta…"

"MATHIAS! Kembali! Serahkan fotonya…" seru Arthur sambil berlari mengejar Mathias yang sudah menghilang.

Alfred menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat mereka berdua.

Dia bahagia…ini adalah hari-hari terbaiknya…

Tanpa dia sadari sebentar lagi hari-hari terbaik itu akan berakhir…


Alfred sedang berjalan di koridor gedung jurusan sastra sambil bersenandung riang. Hari ini benar-benar hari yang cerah, membuat perasaannya juga senang.

Saat dia berbelok di tikungan, dia melihat Arthur yang sedang bersandar di dinding. Dia tersenyum lebar dan mendatangi kekasihnya itu. "Iggy!" serunya.

Tapi Arthur tetap diam dan tidak menjawabnya.

Melihat keadaan Arthur yang seperti itu, wajah Alfred langsung berubah menjadi ekspresi cemas. Dia menghampiri Arthur dan memegang pundaknya. "Iggy?" tanyanya pelan.

Arthur berbalik dan memandang Alfred dengan tatapan mata nanar, matanya terlihat berkabut dan tidak fokus, tubuhnya juga berkeringat.

"Iggy…Arthur, kamu sakit ya?" kata Alfred cemas sambil meraba dahi Arthur, memang tubuhnya terasa sedikit panas.

"Vampire tidak mungkin sakit…" gumam Arthur sambil berjalan lunglai meninggalkan Alfred.

"Ah! Iggy, tubuhmu panas, lho! Kau demam!" seru Alfred sambil berjalan cepat untuk mengejar Arthur yang berjalan lunglai di depannya.

"Cuma perasaanmu…" kata Arthur, tapi pandangannya mulai buram dan tidak lama kemudian, dia langsung ambruk ke lantai.

"ARTHUR!" seru Alfred panik sambil berlari menghampiri kekasihnya itu. Dia segera meraup Arthur ke pelukannya dan berlari ke ruang kesehatan.


"Sakit karena kekurangan darah" kata Mathias tanpa basa-basi setelah memeriksa keadaan Arthur yang terbaring di ranjang rumah sakit.

Setelah Alfred membaringkan Arthur di ranjang ruang kesehatan, dia memanggil Mathias dan yang lainnya, tahu kalau sakit Arthur pasti berhubungan dengan masalah vampire dan itu tidak bisa didiskusikan dengan manusia seperti sakit pada umumnya..

"Konyol gak sih…orang yang menyuruh kita menjaga diri sendirinya tumbang karena sakit…" gumam Feliciano sambil menghela napas

"Vampire bisa…sakit juga? Kupikir mereka kebal dengan yang namanya penyakit…" kata Ludwig yang berdiri di belakang Feliciano sambil memeluk kekasihnya itu.

"Cuma kekurangan darah saja…kalau manusia, kasusnya sama dengan anemia.…" kata Mathias sambil menunjuk Arthur. "Ini karena dia tidak minum darah lagi…kalau diteruskan…"

"Nafsu darahnya akan memburuk dan menyerang orang tanpa pandang bulu lagi?" tanya Antonio pelan sambil duduk di ambang jendela ruang UKS dengan Lovino berdiri di sebelahnya.

"Iya…" kata Mathias pelan.

"Sangat gak awesome deh…" kata Gilbert sambil menggenggam tangan Matthew yang memandang Arthur dengan pandangan cemas.

"Tapi dia akan baik-baik saja kan…" kata Alfred cemas.

"Iya…" kata Mathias sambil tersenyum. "Istirahat sebentar dan minum sedikit darah, dia akan sembuh kok"

"Menyuruhnya minum darah itu yang sulit…" gumam Feliciano.

"Apa mau dikata" kata Mathias sambil bangkit dari kursi yang didudukinya. "Dia bebal sih" dia pun berjalan bersama Norway. "Alfred, kami pergi ya…jaga dia baik-baik…"

Mereka semua pun berjalan meninggalkan Arthur dan Alfred sambil menyatakan ucapan kesembuhan untuk Arthur, meninggalkan Arthur dan Alfred sendirian di ruang kesehatan itu.

Alfred menghela napas sambil memandangi Arthur yang masih tertidur. Dia mengangkat tangannya untuk mengusap rambut Arthur yang basah oleh keringat. "Bodoh…" gumam Alfred. Dia pun membungkuk untuk mencium dahi Arthur. "Kau tidak perlu memaksakan diri seperti itu, Arthur. Kau kan bisa saja meminta darahku…" gumam Alfred tepat di telinga Arthur, walaupun dia tahu Arthur tidak akan bisa mendengarnya.

"Istirahatlah…" kata Alfred sambil bangkit dari kursi yang didudukinya dan berjalan ke arah jendela. Dia memandangi pemandangan di luar jendela itu dengan tatapan nanar.


Di mana ini…

Arthur berjalan pelan, memandang sekelilingnya dengan tatapan bingung. Gelap…semuanya gelap. Dia tidak bisa melihat apa pun selain dirinya sendiri. Tidak ada siapa pun, tidak ada tanda-tanda apa pun.

"Ah…my amour Angleterre, jadi kau ada di sini ya…" kata sebuah suara sayup-sayup muncul dari kegelapan itu.

Mata Arthur melebar, suara itu…tidak mungkin, dia sudah membunuh pemilik suara ini…tidak mungkin dia ada di sini. Ini mimpi! Ini tidak mungkin nyata!

Sebuah sosok muncul dari kegelapan itu. Sosok seorang pemuda berambut pirang sebahu bermata biru. Dia menggenggam sebatang mawar di tangannya. Dia menyeringai keji pada Arthur.

"Halo…Angleterre…Arthur…" kata pemuda itu.

Arthur terpaku menatap sosok itu, tubuhnya gemetar ketakutan. "Fr…Francis…" gumanya ketakutan.

"Jadi kau masih ingat padaku, aku senang Angleterre" kata Francis. "Tapi mana mungkin kau melupakanmu…master yang memberikan kehidupan ini padamu…"

Arthur menggeram. "Kenapa kau ada di sini?" geramnya.

"Aku hanya gemas dengan tingkahmu Angleterre, kau selalu menolak meminum darah. apa kau begitu membenci kehidupan abadi yang kuberikan padamu?" tanya Francis.

"Bukan urusanmu!" seru Arthur. "Apa yang kulakukan bukanlah urusanmu! Ini adalah hidupku! Hakku untuk melakukan apa pun yang kuinginkan! Kau…pulanglah kembali ke neraka!"

Francis tersenyum, sosoknya perlahan-lahan menghilang. "Kau akan menyesal, Angleterre…saat kau melukai orang yang kau sayangi akibat egomu itu"

Sosok Francis berubah menjadi sosok Alfred. Alfred memandang Arthur dengan pandangan sedih, lehernya berlumuran darah, air mata menetes dari matanya.

"Kenapa…? Arthur…" gumam Alfred saat dia tumbang ke pelukan Arthur. Arthur memandang ketakutan pada sosok kekasihnya yang pingsan berlumur darah di pelukannya itu.

Kau terpaku…dengan bau darah manisnya…

"ALFRED!" jerit Arthur sambil bangkit dari ranjang tempatnya berbaring.

Arthur memandangi tangannya, seluruh tubuhnya gemetar. Dia perlahan-lahan membawa tangannya ke mulutnya dan menutup mulutnya menggunakan tangannya. Dia memejamkan matanya, mencoba untuk menenangkan diri.

"Kau memanggilku?" gumam sebuah suara.

Arthur tersentak dan langsung mengangkat wajahnya dan melihat pemilik suara itu. Dia melihat Alfred berdiri di samping ranjang dengan raut wajah cemas.

Arthur terus memandangi Alfred, seolah-olah ingin memastikan kalau kekasihnya itu memang benar-benar ada di sampingnya.

"Ada apa, Arthur? Kau aneh…kau masih sakit?" tanya Alfred cemas. "Mau kuambilkan air?"

Tiba-tiba tanpa peringatan apa pun, Arthur menarik Alfred ke atas ranjang, ke dalam pelukannya.

Alfred hanya bisa terkejut saat tiba-tiba saja Arthur membenamkan dirinya ke dalam pelukannya. "Ig…gy…" gumamnya pelan.

"Kamu…masih hidup…" gumam Arthur sambil mempererat pelukannya pada tubuh Alfred. "Kamu masih hidup…"

"Iggy…?" gumam Alfred pelan dengan bingung.

"Kupikir aku sudah membunuhmu…" gumam Arthur lagi.

Arthur memeluk Alfred dengan erat. Bayang-bayang Alfred pingsan berlumuran darah di hadapannya, dengan air mata mengalir dari matanya, masih menghantui Arthur. Dia tidak mau…dia tidak sanggup itu menjadi kenyataan.

"Arthur…ARTHUR!" seru Alfred sambil memegang pipi Arthur, membuat mata Arthur yang tadinya kosong kembali seperti semula.

"Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja, kan?" kata Alfred.

"Y…ya…" gumam Arthur sambil melepaskan pelukannya pada tubuh Alfred.

"Syukurlah" kata Alfred sambil bangkit dari ranjang tempat tidur, "Aku akan ambilkan air untukmu" Dia pun berjalan untuk mengambil air, saat dia kembali entah disengaja atau tidak, dia menjatuhkan gelas berisi air itu sehingga pecah berserakan di lantai.

"Aduh…maaf, aku ceroboh…" kata Alfred sambil membungkuk untuk membereskan pecahan gelas itu. Dan karena terburu-buru, jarinya tergores pecahan kaca. "Aduh…" kata Alfred sambil memandangi jarinya yang berlumuran darah.

"Jangan sentuh lagi…biar suster yang membereskannya…" kata Arthur. "Sekarang kau obati saja…"

Alfred menyodorkan jarinya yang berlumuran darah itu ke muka Arthur. Arthur memandang Alfred dengan pandangan bingung, tapi sekilas Alfred melihat sorot penuh nafsu dari mata Arthur.

"Jilat" kata Alfred pada Arthur.

Arthur, seolah-olah berada dalam keadaan trance, perlahan-lahan membawa tangan Alfred ke mulutnya. Dia memasukkan jari Alfred ke mulutnya dan menjilat darah yang ada di jari Alfred.

Tiba-tiba Arthur tersentak dan dia langsung menjauhkan tangan Alfred sambil menggosok bibirnya.

"Jangan…jangan ditolak, dong Arthur!" kata Alfred sambil duduk di pangkuan Arthur. "Mathias bilang asalkan kamu minum darah kamu pasti sembuh. Jadi jangan menolak!"

Arthur kembali menggenggam pergelangan tangan Alfred. Dia perlahan-lahan menjilat pergelangan tangan Alfred. Lalu dia memandang Alfred, seolah-olah meminta persetujuannya. Alfred tersenyum dan mengangguk.

Setelah mendapat persetujuan Alfred itu, mata Arthur langsung berubah menjadi warna merah darah, dan dia segera menghujamkan taringnya di pergelangan tangan Alfred, membuat Alfred sedikit berjengit kesakitan. Darah segera mengalir ke pergelangan tangan Alfred sementara Arthur meminum darahnya.


Feliciano mendongak dari sketsa lukisan yang dibuatnya, pandangannya terarah ke gedung jurusan sastra. Dia terlihat bingung sebelum perlahan-lahan sebuah senyum muncul di bibirnya.

"Kak Alfred…memberikan darahnya untukmu, ya kak Arthur…" gumam Feliciano. "Kalau sejak dulu begini, kalian kan tidak usah menderita, kalian berdua...sama-sama terlalu bodoh…juga terlalu baik…"

Feliciano kembali memandang sketsa lukisan di buku sketchnya. "Nikmati saja kebahagiaan ini saat masih bisa, kak Arthur, kak Alfred…sebentar lagi semua tawa itu akan berganti air mata…" gumam Feliciano sambil meneruskan lukisannya.


Arthur mencabut taringnya dari pergelangan tangan Alfred. Lalu dia menjilat semua darah yang mengalir ke pergelangan tangan Alfred. Alfred terlihat sedikit pucat, entah karena ketakutan atau karena darahnya sudah dihisap oleh Arthur.

Arthur pun melepaskan tangan Alfred dan menunduk, menghindari pandangan Alfred. Alfred pun mengangkat tangannya untuk mengusap pipi Arthur, membuat Arthur memandangnya. Alfred tersenyum dalam hati saat melihat mata hijau emerald Arthur memandangnya tajam, tapi dia masih sedikit merasa cemas. "Kau baik-baik saja, kan?"

"Ya…" kata Arthur.

Alfred kelihatan cemas sebelum sebuah senyum senang tersungging di wajahnya. "Syukurlah"

Aahh…begitu ya…aku mengerti…

Arthur mengangkat tangannya dan menggenggam tangan Alfred yang ada di pipinya.

Tangan yang lembut ini…senyumnya…pandangan hangatnya…

Dia pun mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya dan wajah Alfred menjadi sangat berdekatan.

Hangat tubuhnya…tawanya…perhatiannya…cintanya…

Perlahan-lahan dia menutup jarak di antara mereka berdua dan mencium bibir Alfred pelan dan lembut, menikmati perasaan bibir lembut itu di bibirnya.

Aku menginginkannya…menginginkan semua itu…hanya untuk diriku sendiri…

Dia mendorong tubuh Alfred hingga mereka berdua terbaring di ranjang. Sepanjang jalan, masih berciuman lembut. Setelah beberapa saat, Arthur melepaskan ciuman mereka dan memandang wajah kekasihnya itu. Melihat wajah Alfred yang bersemu merah, mata birunya bersinar bahagia, dan tersenyum manis membuat Arthur ikut tersenyum.

Meski aku tahu…aku tidak berhak meminta semua itu…

"Aku mencintaimu…sangat mencintaimu…Alfred…" gumam Arthur sambil membenamkan wajahnya di dada pemuda Amerika kekasihnya itu.

"Aku juga mencintaimu, Arthur…" kata Alfred sambil tersenyum manis. Dia membawa tangannya untuk memeluk pemuda Inggris yang berbaring di atasnya itu.

Apa pun akan kulakukan…asalkan itu demi kau, Arthur…apa pun…


Alfred berjalan memasuki kelasnya untuk mengambil tasnya, sementara Arthur menunggu di gerbang depan supaya mereka bisa pulang bersama. Alfred bergumam pelan saat dia berjalan mendekati mejanya dan mengambil tas ranselnya.

Saat dia berbalik, Alfred langsung membeku dengan apa yang dilihatnya di depannya.

Ivan berdiri sambil tersenyum polos di hadapannya.

"Hai, Alfred, da…" kata Ivan.

Mata Alfred menyipit dengan penuh kebencian. Dia membenci Ivan, sangat membenci pemuda Rusia itu sejak Ivan berani melukai Matthew, adiknya tersayang. Sejak itu dia selalu berusaha menghindari Ivan, karena dia selalu merasakan keinginan kuat untuk mencekik atau menghajar Ivan dengan tangannya sampai pemuda Rusia itu merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Matthew.

"Mau apa?" tanya Alfred dingin.

"Ah…kau dingin sekali, da…" kata Ivan dengan nada kecewa yang dibuat-buat.

Alfred mendengus. "Aku muak melihat mukamu. Cepat katakan apa keperluanmu dan biarkan aku pergi" kata Alfred.

"Aku ingin bicara soal Arthur, da…" kata Ivan, senyum polosnya berubah menjadi seringai keji.

Tubuh Alfred langsung menegang, wajahnya menjadi pucat. "Apa…yang kau lakukan pada Arthur?" tanya Alfred.

Seringai Ivan semakin lebar. "Untuk saat ini dia baik-baik saja, da…" kata Ivan. "Tapi sebentar lagi…akan kubuat dia menderita…"

Alfred memandang Ivan dengan sorot mata ketakutan. "Jangan!" serunya. "Jangan lukai, Arthur…kumohon, aku akan lakukan apa saja…asal jangan…jangan lukai Arthur…"

Untuk sesaat terlihat sorot mata kegembiraan di mata Ivan, tapi pandangan itu segera menghilang, sehingga Alfred berpikir kalau itu hanya perasaannya. "Benarkah, da? Kau akan melakukan apa pun…" kata Ivan.

Alfred menganggukkan kepalanya. "Aku akan melakukan apa pun, asalkan kau tidak melukai Arthur…"

Ivan tersenyum. "Kalau begitu…aku punya pilihan untukmu…"


"Alfred? Kau lama sekali, ada apa?" tanya Arthur saat dia melihat kekasihnya itu berjalan ke arahnya.

Alfred memandang Arthur dengan tatapan kosong, dia terlihat sama sekali tidak mendengarkan perkataan Arthur. Dia hanya berjalan lunglai, layaknya raga tak berjiwa.

"Alfred?" tanya Arthur, bingung melihat keadaannya.

Alfred masih bungkam, tidak menjawab Arthur.

Arthur segera berjalan ke arah Alfred, meletakkan tangannya ke pipi Alfred dan menepuk pipi Alfred pelan. "ALFRED!" seru Arthur.

Alfred tersentak, dia memandang Arthur, seolah-olah dia baru saja menyadari keberadaan pemuda Inggris di hadapannya itu.

"Ada apa?" tanya Arthur cemas pada kekasihnya itu. "Keadaanmu…aneh, Alfred…"

Perlahan-lahan Alfred mengangkat tangannya untuk mengusap tangan Arthur yang berada di pipinya, perkataan Ivan kembali terngiang-ngiang di pikirannya.

"Aku punya pilihan untukmu…" kata Ivan sambil tersenyum manis.

Alfred memandang Ivan dengan cemas, berharap-harap cemas apa yang akan diminta pemuda Rusia itu.

"Serahkan dirimu padaku…atau bunuh Arthur dengan tanganmu sendiri dan bawa mayatnya ke hadapanku" kata Ivan dengan tenang.

Mata Alfred melebar ngeri saat mendengar itu, dia tersentak. "A…apa?" tanya Alfred, berharap kalau dia salah dengar.

Ivan menyeringai dan berjalan menghampiri Alfred dan memegang dagu pemuda Amerika itu, membuat pemuda itu memandangnya. "Serahkan dirimu padaku, Alfred…" bisik Ivan. "Atau bunuh Arthur"

"Ke…kenapa?" tanya Alfred dengan nada tercekat.

"Kenapa? Kau masih bertanya kenapa?" Ivan melepaskan pegangannya di dagu Alfred dan tertawa. "Sudah jelas kan, Arthur selalu waspada, Alfred. Hanya denganmu dia melonggarkan pertahanannya. Dia sebenarnya bersikap lembut pada tiga orang, Matthew, Feliciano, dan kau…Alfred. Tapi dia paling menyayangimu. Jelas…dia tidak akan menyangkanya kalau kau membunuhnya. Itu akan menjadi momen yang indah, melihat keterkejutannya saat kau membunuhnya, dia pasti merasa terkhianati"

Alfred terdiam mendengar perkataan Ivan.

"Hanya itu yang ingin kukatakan" kata Ivan. "Kutunggu jawabanmu dan kuharap itu jawaban yang bagus, Alfred…"

Ivan pun berjalan meninggalkan Alfred yang masih berdiri terpaku di tempat, terlalu shock untuk melakukan atau mengatakan apa pun.

"Alfred?" suara Arthur menyadarkan Alfred dari lamunannya.

"Arthur…" gumam Alfred pelan sambil memandang mata hijau emerald kekasihnya itu. "Apa arti diriku…untukmu?"

Arthur terkejut saat dia mendengar pertanyaan Alfred. "A…apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" kata Arthur.

"Jawab saja pertanyaanku…Arthur…" kata Alfred sambil memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di atas kepala pemuda Inggris itu.

Arthur terdiam sesaat sebelum dia membuka mulutnya. "Kau…orang…paling berharga untukku, Alfred. Kau adalah kebahagiaanku…hidupku…" Arthur mengalungkan lengannya di pinggang Alfred. "Orang terpenting untukku…"

Alfred tersenyum di rambut Arthur sebelum berdiri tegak dan memandang kekasihnya itu. "Baiklah…ayo pulang…" katanya sambil berjalan melewati Arthur. Lalu tiba-tiba dia berbalik dan memandang Arthur dengan pandangan sedih. "Maaf ya…Arthur…" katanya.

"Hah? Apa?" tanya Arthur bingung, tapi Alfred kembali berjalan meninggalkan Arthur, membuat pemuda Inggris itu segera berlari menyusulnya.

Aku memang bodoh… padahal sejak awal aku sudah tahu jawaban apa yang akan kuberikan pada Ivan…Alfred memandang Arthur yang sudah berhasil menyusulnya dan sekarang berjalan di sampingnya. Alfred menggenggam tangan Arthur lembut, membuat pemuda Inggris itu langsung bersemu merah, tapi dia tidak menolak dan malah tersenyum malu-malu pada Alfred.

Ya…jawabannya sudah jelas…aku sudah tahu…apa yang harus kulakukan…


Author note:

Sebagian adegan di sini kuambil dari manga vampire knight karya Matsuri Hino. KYAAA…sumpah, manga ini keren banget! Saya cinta mati sama manga ini, dan manga ini memang cocok banget buat fanfic saya yang sepertinya semakin lama malah semakin angst. Maklum, perasaan dan mood saya akhir-akhir ini lagi angst-angstnya. Dan…fell USUKnya jadi dapet banget soalnya nasib mereka mirip nian sama tokoh utama Vampire Knight itu.

Jadi? Apakah fanfic saya ini bagus atau gimana? Berikan pendapat kalian, dong…dengan review, seperti biasa.

Oke, sekian saja, ya…

Salam sayang dari saya para readers…XD