Ivan sedang duduk bersandar di atas sofa di rumahnya sambil meminum vodka saat dia mendengar suara ketukan di pintu ruang tamu itu, dia menoleh dan melihat seorang pemuda berambut pirang membuka pintu itu dengan pandangan ketakutan.
"Ada apa, Raivis?" tanya Ivan datar sambil mengguncang botol vodkanya.
"A…ada orang yang ingin bertemu denganmu…tuan Ivan…" kata Raivis ketakutan.
Ivan mendelik "Persilakan saja dia masuk" kata Ivan dengan nada acuh tak acuh.
Tidak lama kemudian, ada seseorang yang memasuki ruang tamu itu. Ivan melirik orang yang memasuki ruang tamu itu, mengenali sosok itu sebagai Alfred. Dia langsung tersenyum.
"Halo, Alfred…" kata Ivan.
Alfred cuma berdiri diam di hadapan Ivan. Dia hanya menatap Ivan dengan pandangan yang penuh tekad.
"Jadi? Apa jawabanmu, da…" kata Ivan.
Alfred menghela napas dan menundukkan kepalanya. "Kalau kau memang tidak akan membunuh Arthur…" gumam Alfred pelan, lalu dia kembali memandang Ivan dengan tatapan tajam. "Aku ingin kau berjanji untuk tidak melukai Arthur! Akan kuserahkan diriku sebagai gantinya"
Ivan menyeringai pelan. Perlahan-lahan dia bangkit dari sofa yang didudukinya. "Aku janji, da…aku tidak akan membunuh Arthur dengan tanganku…"
Tiba-tiba Alfred mencium sebuah bau manis di dalam ruangan itu. Sebelum otaknya bisa memahami bau apa itu, tubuhnya terasa lemas, dia menjadi limbung, pandangan matanya mulai mengabur, dan tidak lama kemudian dia pingsan ke pelukan Ivan yang sudah menantinya.
"Ya…aku tidak akan membunuh Arthur…" kata Ivan sambil memandangi Alfred yang tidak sadarkan diri. "…Kau yang akan membunuhnya…"
Dia pun berjalan keluar dari ruang tamunya, membawa Alfred bersamanya, ke dalam kegelapan rumahnya.
Feliciano tersentak dari lamunannya. Daritadi dia asyik melamun sambil berbaring di pangkuan Ludwig yang daritadi sibuk menyelesaikan tugas rumahnya. Feli perlahan-lahan bangkit dari pangkuan kekasihnya itu dengan tubuh gemetar ketakutan, membuat bingung Ludwig.
"Ada apa, Feli? Kau terlihat pucat" kata Ludwig cemas sambil menyibakkan beberapa helai rambut cokelat kemerahan di dahi Feliciano.
Feliciano menggelengkan kepalanya. "Padahal aku sudah memberitahunya…aku sudah memperingatkannya, kak Arthur bodoh…" gumam Feliciano. Dia langsung berdiri, tersenyum manis pada Ludwig. "Ada yang harus kubicarakan dengan kak Arthur, ve~ tunggu di sini sebentar ya…" dan langsung berlari keluar dari kamarnya di mansion Arthur itu ke kamar Arthur. Dia harus segera memperingatkan Arthur…atau Alfred akan terlambat diselamatkan.
Saat itu Arthur sedang duduk di meja belajar di kamarnya, tangannya menggenggam sebatang mawar merah kering. Dia memutar-mutar bunga di tangannya itu dengan pandangan nanar.
Maaf ya…Arthur…
Perkataan Alfred itu terus terngiang-ngiang di otaknya. Dia tidak bisa mengerti alasan kenapa Alfred meminta maaf padanya. Rasanya pemuda Amerika itu tidak melakukan apa pun. Lalu kenapa…?
Lalu ekspresinya, ekspresi Alfred saat dia meminta maaf pada Arthur saat itu. Dia terlihat sedih, dan entah kenapa…Arthur merasa saat itu Alfred seperti melihatnya untuk terakhir kalinya…kenapa…? Apa yang ingin diperbuat kekasihnya itu hingga menunjukkan ekspresi seperti itu?
Apa dia ingin pergi? Meninggalkannya?
Kalau pun dia memang pergi, kemana dia pergi?
Dan kenapa…Arthur merasa kalau dia tidak akan kembali?
Lamunannya langsung buyar saat tiba-tiba saja pintu kamarnya terbanting dengan keras, membuatnya melonjak kaget. Dia langsung berbalik dan melihat Feliciano berdiri di ambang pintu kamarnya, terengah-engah dan pucat. Melihat ekspresi Feliciano yang seperti itu, Arthur hanya bisa memasang wajah bingung, meski dalam hati dia merasa takut, karena dia tahu kalau Feli sudah berekspresi seperti itu, apa pun yang akan dikatakan oleh Feliciano jelas bukanlah sebuah berita bahagia.
"Ada apa, Feli?" tanya Arthur pelan.
Dan kemudian Feliciano mengucapkannya. Tujuh kata, hanya tujuh buah kata sederhana.
Tapi sanggup menghancurkan seluruh dunia Arthur hingga pecah berserakan.
"Kak Alfred…dibawa pergi oleh kak Ivan…"
Alfred perlahan-lahan membuka matanya, pertama-tama pandangan dan pikirannya masih terasa buram, dia sama sekali tidak mengingat apa pun dan juga hanya samar-samar melihat pemandangan kamar itu. Lalu, semua memori membanjir memasuki otaknya, membuatnya tersentak dan segera menyadari di mana dia berada.
Dia menyadari kalau dia sekarang terbaring di sebuah tempat tidur king size di sebuah kamar yang besar. Di sebelahnya ada sebuah meja kecil. Di atas meja itu terdapat dua buah figura. Satu berisi foto Ivan dengan seorang pemuda China berambut hitam panjang yang diikat, dan satunya lagi berisi fotonya bersama dengan seorang gadis berambut abu-abu panjang yang diikat pita, wajah mereka berdua sangat mirip.
Alfred mengulurkan tangannya untuk mengambil foto Ivan bersama dengan seorang gadis itu, yang Alfred pikir, pastilah adik Ivan, Natalia. Melihat senyum kedua orang itu, Alfred teringat dengan dirinya sendiri dan Matthew. Dia juga…selalu memasang senyum yang sama setiap kali dia bersama dengan adiknya itu. Sebuah senyum yang dipenuhi dengan rasa sayang. Hanya dengan melihat foto itu Alfred tahu…Ivan sangat menyayangi Natalia, sangat menyayangi adiknya itu.
Lalu dia melihat foto Ivan bersama dengan orang yang Alfred pikir adalah Wang Yao, kekasihnya. Mereka berdua juga…terlihat sangat bahagia. Dia sangat hafal dengan pandangan penuh cinta yang ditunjukkan Ivan. Dia selalu melihatnya…di mata semuanya, Feli, Ludwig, Matthew, Gilbert, Mathias, Norway, Antonio, Lovino, dan…Arthur. Dia selalu bisa mendapati pandangan yang menyatakan rasa cinta yang tidak terbatas itu dari mata mereka. Pandangan mata yang menyatakan betapa mereka sangat mencintai kekasih mereka.
Dia paham…dia paham betapa menderitanya Ivan. Dia tahu…dia sebenarnya tidak berhak…untuk meminta Ivan menghentikan balas dendamnya pada Arthur. Dia tidak bisa…menghentikan keinginan Ivan untuk membunuh Arthur, tapi tetap…tetap saja…
Suara pintu yang terbuka menyadarkan Alfred dari lamunannya. Dia mendongak dan melihat Ivan berjalan memasuki kamar itu dengan santai. Dia melihat Alfred yang terbangun dan tersenyum manis.
"Ah, kau sudah bangun, da. Bagaimana keadaanmu?" tanya Ivan.
Alfred tertawa hambar. "Kalau kukatakan aku tidak baik apa kau akan melepaskanku?" tanya Alfred.
Ivan tertawa. "Kau yang menyerahkan diri padaku, da. Jangan lupakan itu" katanya.
"Kau benar-benar tidak akan melukai Arthur sedikit pun kan?" tanya Alfred.
"Tidak akan" kata Ivan sambil berjalan ke arah tempat tidur tempat Alfred berada. Dia mengulurkan tangannya dan meletakkannya di pipi Alfred, membuat Alfred sedikit berjengit. "Kau yang akan melakukannya untukku"
Mata Alfred langsung terbelalak. "A…apa?" seru Alfred. "Kalau mengigau jangan berbicara ya, mana mungkin aku melukai Arthur? Lagipula kenapa kau begitu percaya Arthur akan sedih kalau aku yang menjadi korbannya?"
"Seperti yang kukatakan, kau disayangi Arthur, Alfred" kata Ivan sambil tersenyum. "…Sejak sepuluh tahun yang lalu…"
"APAA?"
Teriakan itu menggema dengan keras di ruang tamu rumah besar itu. Semua orang di ruang tamu itu memandangi Arthur dan Feli dengan tatapan terkejut.
Setelah Feliciano menyampaikan masalah Alfred pada Arthur, Arthur langsung histeris dan menyuruh (lebih tepatnya memaksa) Gilbert dan Antonio untuk pulang dari kencan mereka masing-masing sementara Feli memanggil Mathias yang asyik berduaan dengan Norway di kamarnya dan mengantarkan Ludwig pulang sambil tersenyum manis. Setelah mereka semua tiba di ruang tamu, Arthur langsung memberitahu mereka mengenai masalah Alfred dengan nada tenang yang dipaksakan.
"Ko…kok bisa?" tanya Mathias. "Norge tidak mengatakan apa pun soal Ivan menculik Alfred"
"Karena kak Ivan memang tidak menculiknya" kata Feliciano yang berdiri sambil memandang ke luar jendela, melihat bulir-bulir salju yang perlahan berjatuhan dari langit sebelum berbalik untuk memandang keempat kakaknya. "Kak Alfred sendiri yang menyerahkan diri pada kak Ivan"
"Ah, dasar Alfred gak awesome! Apa-apaan menyerahkan diri segala?" seru Gilbert.
"Dia pasti sangat mencintai Arthur ya…" gumam Antonio sambil memutar-mutar cangkir tehnya. "…Sampai rela berbuat seperti itu demi Arthur…"
"Siapa yang menginginkannya menyerahkan diri pada Ivan? Dasar hero jejadian sialan!" seru Arthur marah. "Dia menyusahkan saja!"
"Menyusahkan juga kamu cinta kan sama dia?" tanya Mathias yang langsung disambut cekikan maut dari Arthur.
"Sudah, hentikan!" seru Feliciano. "Daripada kalian bertengkar gak jelas, pikirkan cara menyelamatkan kak Alfred!"
"Kenapa Ivan harus mengincar Alfred?" tanya Gilbert. "Okelah, dia pacar Artie, tapi menurutku kalau cuma jadian kurang dari setahun begini, apa tidak aneh kalau dia diincar?Apalagi tingkah kalian…tidak bisa dibilang seperti orang pacaran kalau di tengah umum. Tidak wajar Alfred sampai diincar. Kalau Mattie itu lain cerita, jelas banget kau sayang padanya, tapi Alfred…kalau tidak tahu dia pacarmu aku yang awesome ini saja akan berpikir kau benci sekali pada Alfred"
"Kak Arthur dan kak Alfred memang jadian kurang dari dua bulan…" kata Feliciano. "…tapi kak Arthur sudah menyayangi kak Alfred sejak sepuluh tahun lalu, kan?"
"Apa?"
Alfred terdiam memandang Ivan dengan mata terbelalak. Sama sekali tidak mempercayai apa yang dikatakan Ivan.
"Kau disayangi Arthur sejak lama" kata Ivan sambil duduk di depan Alfred dan memegang dagu Alfred dan membuat Alfred memandangnya. "Sejak sepuluh tahun yang lalu"
"Ja…jangan bercanda ya!" seru Alfred sambil menepis tangan Ivan. "Aku tidak kenal dengan Arthur sebelum aku bertemu dengannya di SMU Hetalia!"
"Wajar saja kau tidak mengingatnya. Arthur menghapus ingatanmu tentang kejadian itu tepat setelah dia membunuh Natalia dan Yao" kata Ivan. "Dia tidak ingin kau terlibat dalam kejadian berbahaya. Sungguh ironis, sekarang kau sendiri yang melemparkan diri ke kejadian berbahaya demi dirinya" Ivan mengusap pipi Alfred dengan lembut. "Memuakkan" katanya sambil menampar pipi Alfred dengan keras.
Alfred mengangkat tangannya untuk mengusap pipinya yang merah akibat tamparan Ivan sambil memandangnya. Tatapannya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Pandangan mata yang lurus dan penuh keberanian.
"Kau memandangku tanpa takut sedikit pun, padahal aku bisa saja mengambil nyawamu" kata Ivan sambil menyeringai keji. "Kau terlalu sombong". Dia kembali menampar Alfred hingga Alfred terjerembab di lantai batu yang dingin.
Alfred hanya diam sambil menghapus darah yang menetes dari bibirnya. Dia kembali memandang Ivan dengan tatapan datar. "Tidak ada…" dia mengernyit kesakitan sambil memegang pinggangnya. Dia merasa pinggangnya pasti tergores atau minimal memar karena bergesekan dengan lantai batu. "…Yang harus kutakutkan darimu"
Ivan memandang Alfred dengan tatapan datar sebelum mendatangi Alfred dan mencekik leher Alfred. Alfred segera mencengkeram tangan Ivan sambil mengeluarkan suara seperti orang tercekik, berusaha keras untuk bernapas.
"Sebaiknya kau jaga cara bicara dan tingkahmu. Semakin kau bertindak baik, aku akan semakin baik memilih cara matimu. Tapi jika kau bertingkah tidak tahu diri di rumahku, akan kupastikan kau menderita selama mungkin sebelum kematianmu!" desis Ivan di telinga Alfred sebelum melepaskan Alfred dan melempar Alfred dengan kasar kembali ke arah ranjang. Alfred terbatuk-batuk sambil mencengkeram lehernya yang mulai dihiasi biru memar akibat cekikan Ivan.
"Aku akan pergi" kata Ivan. "Kau pikirkan cara bagaimana kau menghabiskan hari-hari terakhirmu!". Dia pun segera meninggalkan Alfred sendirian dalam kegelapan kamar itu.
"APA?" seru semuanya sambil memandangi Feliciano.
Feliciano hanya memandang Arthur yang balas memandangnya tajam sebelum menghela napas. "Kadang-kadang aku benci kemampuanmu yang bisa tahu masa depan dan masa lalu seseorang itu…tidak ada yang bisa disembunyikan darimu…" gumam Arthur.
"Jadi niat kak Arthur sebenarnya ingin menyembunyikan kenyataan itu, ve?" tanya Feliciano, sama sekali tidak terlihat bersalah sudah mengungkapkan rahasia Arthur seenaknya.
"Kau sudah kenal Alfred selama itu?" seru Mathias. "Kau mencintai Alfred sejak dia masih kecil?" Mathias langsung menatap Arthur curiga. "Kamu…bukan shotacon atau pedophile kan? Sampai jatuh cinta sama anak kecil?"
Pertanyaannya sukses membuatnya digampar dengan begitu dinginnya oleh Arthur.
"Tapi…" Antonio terlihat berpikir keras. "…Dia tidak pernah menyatakan kalau dia kenal denganmu sebelumnya. Padahal kalau dia kenal selama itu denganmu, dia pasti menggembar-gemborkannya ke mana-mana" kata Antonio.
Arthur menutup matanya dengan tangannya dan menghela napas, tiba-tiba terlihat seperti sangat kelelahan. "Dia tidak mengingatku karena…" dia membuka matanya, memperlihatkan bola mata hijau emerald yang terlihat sedih. "…Aku menghapus ingatannya. Kupikir lebih baik kalau dia tidak mengingatku" kata Arthur.
'Kenapa kamu harus menyiksa diri sampai segitu gak awesomenya sih?" tanya Gilbert dengan pandangan simpati. Dia mengerti penderitaan Arthur, dia yang harus terus menyembunyikan diri dari Matthew selama enam bulan saja sudah merasa sangat menderita, apalagi Arthur yang menyembunyikan keberadaan dirinya dari Alfred selama sepuluh tahun, dia tidak bisa bayangkan bagaimana sakitnya.
Arthur mengalihkan pandangannya dari semua orang di ruangan itu. "Karena aku menyayanginya…sebagai adikku di masa lalu dan sebagai orang yang kucintai di masa sekarang. Aku tidak ingin dia terluka…hanya itu saja alasannya" kata Arthur.
"Alasan yang berarti segalanya tapi sekarang tidak berguna…" kata Feliciano.
Arthur tersenyum sedih. "Ya…" katanya sambil membenamkan wajahnya di dalam tangannya. "…Kau benar"
"Hey…Arthur…" kata Antonio sambil mengalihkan pandangannya dari cangkir teh yang sedari tadi terus dipandanginya. "…Bagaimana sebenarnya masa lalu yang kau habiskan bersama Alfred?"
Arthur memandang Antonio dengan tatapan datar.
"Kau lebih baik menceritakannya pada kami semua, Arthur…" kata Antonio. "Dengan begitu kau akan lebih lega, setidaknya sedikit…"
Arthur menghela napas. "Tapi ingat jangan ceritakan ini pada orang lain!" seru Arthur.
"Cih…padahal aku sudah bersiap merekamnya" kata Mathias yang kembali membuatnya digampar oleh Arthur.
"Aku…bertemu Alfred di sebuah hutan di musim panas sepuluh tahun yang lalu…" kata Arthur.
"Awesomely romantis…" gumam Gilbert. Arthur memutuskan untuk mengabaikannya.
"Hari itu aku sedang berjalan-jalan menikmati sinar matahari di hutan itu sambil menikmati pemandangan. Dan saat aku sedang asyik-asyiknya melamun, aku mendengar isak tangis dari dalam hutan jadi aku mengikuti suara itu untuk mencari siapa yang ada di hutan itu…dan aku bertemu dengannya…untuk pertama kalinya" kata Arthur pelan.
FLASHBACK
Arthur sedang asyik menikmati semilir angin di dalam hutan ini. Sudah seminggu sejak Mathias menemukannya dan dia bisa menjalani kehidupan normal seperti ini. Dia…setidaknya dia bisa menghela napas lega…karena dia akhirnya bisa duduk-duduk di tengah hutan seperti ini tanpa ada yang harus ditakutinya.
Tiba-tiba telinga vampirenya yang super tajam menangkap suara isakan seorang anak kecil. Dia mengerutkan kening, anak gila macam apa yang sampai bisa ada di hutan pag-pagi begini? Dan lagipula apa sih yang dilakukan seorang anak kecil di tengah hutan?
Merasa penasaran dan juga sedikit kasihan pada siapa pun anak malang pemilik isak tangis itu, Arthur memutuskan untuk memeriksanya. Dia berjalan semakin dalam ke dalam hutan, menyibakkan semak-semak dan dedaunan pohon sembari berjalan, berjalan mendekat ke arah isak tangis yang semakin lama terdengar semakin keras.
Dia akhirnya tiba di sebuah padang rumput di tengah hutan. Di sana dia melihat seorang anak kecil berambut pirang, kira-kira berumur sekitar lima tahun, sedang menangis sambil memeluk seekor kelinci putih yang kelihatannya berusaha keras untuk menenangkan anak itu. Arthur menghela napas…anak ini pasti mengejar kelinci sampai tersesat dan tidak tahu jalan keluar dan akhirnya menangis.
Dia pun mendatangi anak itu. "Hey…apa kau tersesat?" tanyanya pelan pada anak kecil itu.
Anak itu membuka matanya yang tertutup dan untuk pertama kalinya Arthur bisa melihat bola mata biru emerald dari balik kelopak mata anak itu. Arthur tertegun…bola mata itu…bola mata itu begitu bersih, polos, dan suci…benar-benar bola mata seorang anak-anak.
Anak itu memiringkan kepalanya seolah-olah bingung melihat Arthur. "Kakak…manusia bukan?" tanyanya pelan.
Mendengar itu, Arthur langsung panas dingin. Masa sih…anak ini tahu kalau dia adalah vampire? Tidak mungkin kan tidak ada apa pun yang memberitahukan kalau dirinya adalah vampire. "Ke…kenapa?" gumam Arthur.
"Kok alis kakak tebel banget?" tanya anak kecil itu polos.
GUBRAK! Arthur hanya bisa berface palm ria mendengar pernyataan blak-blakan dari mulut anak kecil itu.
"Ini…turunan sejak lahir" gumam Arthur pelan. "Ngomong-ngomong kenapa kau ada di sini?"
Mendengar pertanyaan Arthur, mata anak kecil itu kembali berkaca-kaca, dia memeluk kelinci putihnya semakin erat. "A…aku mengejar Iggy ke sini karena Iggy kabur dari kandangnya…begitu aku menemukan Iggy…aku…aku sudah tidak tahu jalan pulang…" ratap anak kecil itu.
"Iggy?" tanya Arthur.
"Nama kelinciku ini" kata anak kecil itu riang sambil menunjukkan kelinci putih yang daritadi berada di pangkuannya. "Namanya imut kan? Cocok buat makhluk seimut ini"
Arthur hanya memandang anak kecil itu dengan tatapan kosong. "Aku tak peduli dengan nama kelinci konyolmu…" katanya pelan sambil berdiri dan mengulurkan tangannya pada anak kecil itu. "Ayo, kuantar kau keluar hutan"
Anak kecil itu tersenyum lebar dan segera meraih tangan Arthur dengan antusias. Arthur segera berjalan sambil menggandeng tangan anak kecil itu keluar hutan. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di tepi hutan.
"Nah, dari sini kau bisa pergi sendiri, kan?" kata Arthur sambil melepaskan tangan anak kecil itu. "Ayo cepat pulang sana"
Anak kecil itu menatap Arthur dengan tatapan sedih. "Apa…aku bisa bertemu kakak lagi kalau aku ke sini?" tanyanya.
"Mungkin…" kata Arthur.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan ke sini setiap hari!" seru anak kecil itu sambil memeluk Arthur, membuat Arthur agak limbung. "Aku sayang sama kakak!"
Wajah Arthur langsung merah padam, dibilang sayang meski hanya oleh seorang anak kecil membuatnya malu. "Te…terima kasih, sekarang cepat lepaskan aku" katanya.
"Namaku Alfred F. Jones!" seru anak itu sambil tetap memeluk Arthur tapi memandang Arthur dengan wajah bersinar-sinar. "Siapa nama kakak?"
Arthur memandang anak itu sesaat sebelum dia membuka mulutnya dan berkata "Arthur…Arthur Kirkland…"
Sejak saat itu hampir setiap hari Arthur dan Alfred bertemu di tepi hutan itu. Alfred selalu berlari ke hutan itu setelah dia pulang dari sekolahnya dan dia akan selalu menemukan Arthur, duduk di bawah pohon cemara besar di tepi hutan itu sambil membaca buku menunggunya. Alfred akan tersenyum dan melemparkan diri ke pangkuan Arthur, yang akan berteriak terkejut dengan wajah agak bersemu merah dan memeluk Arthur erat. Bagi Alfred, Arthur adalah sosok kakak yang sangat disayanginya.
Bagi Arthur sendiri, keberadaan Alfred adalah salah satu kebahagiaannya. Dia tidak tahu sejak kapan, dia menjadi semakin dan semakin menyayangi Alfred. Tanpa disadarinya, dia selalu menunggu kedatangan Alfred, dia selalu tersenyum saat dia bersama dengan Alfred, dan dia selalu memanjakan Alfred, memenuhi semua keinginan anak itu.
Entah sejak kapan Alfred memberikan cahaya bagi dunia Arthur yang gelap gulita. Alfred memberikan kehangatan di dunia yang dingin membeku, dan Alfred memberikan tawa dan kebahagiaan baginya yang sekarang hanya mengetahui kesedihan dan keputusasaan, dan yang paling penting, Alfred mencairkan hatinya yang membeku dan mengeras layaknya batu.
Arthur mengeratkan pelukannya di bahu Alfred yang tertidur di pangkuannya. Dia menunduk untuk memandangi wajah imut anak Amerika itu dan tersenyum hangat. Perlahan-lahan dia membungkuk dan mencium dahi Alfred dengan pelan.
"…Terima kasih karena sudah datang di hidupku, Alfred…" bisiknya pelan di telinga anak kecil yang tertidur itu.
Dua tahun kemudian…
Alfred, yang kini berusia tujuh tahun, berdiri bersandar di bawah pohon cemara tempat dia dan Arthur biasa bertemu. Wajahnya cemas, sesekali dia menengok ke arah jalan setapak menuju hutan ini, seolah-olah mengharapkan ada seseorang yang berjalan di sana.
Sudah seminggu sejak terakhir kali dia bertemu dengan Arthur, dan sudah seminggu pula sejak Arthur tidak lagi menemuinya. Alfred cemas, khawatir kalau-kalau ada sesuatu terjadi pada Arthur. Dia tidak bisa menghubungi Arthur karena pemuda Inggris itu sama sekali tidak memberikan nomor yang bisa dihubunginya, dan dia tidak tahu dimana Arthur tinggal, jadi satu-satunya hal yang bisa dilakukannya hanyalah diam di sini menunggu Arthur, hingga matahari terbenam dan dia harus kembali pulang ke rumahnya.
Suara langkah kaki yang berjalan menuju tempatnya berdiri menyadarkan Alfred dari lamunannya. Dia segera mendongak dan melihat Arthur berjalan ke arahnya. Alfred tersenyum dan segera berlari menuju Arthur.
"Kak Arthur!" serunya riang sambil memeluk Arthur. Arthur balas memeluknya sambil tersenyum sedih.
"…Hei, Alfred…" gumamnya pelan.
Mendengar itu, Alfred mengerutkan kening dan memandang Arthur bingung. "…Ada apa, kak Arthur? Kau tampak sedih…" gumamnya.
Arthur tersenyum sambil berjongkok di hadapan Alfred. Tangannya terulur pelan untuk mengusap rambut pirang anak kecil itu pelan. "Ini…hari terakhir kita bisa bertemu, Alfred…" katanya.
"Kenapa?" tanya Alfred. "Kak Arthur mau pergi ke suatu tempat yang jauh?"
"…Bisa dibilang begitu…" kata Arthur sambil tetap mengusap rambut Alfred. "…Lupakan aku, Alfred…" gumamnya pelan.
"Apa?" tanya Alfred terkejut, tapi entah kenapa, tiba-tiba dia merasa suara Arthur seperti menghinoptisnya, meninabobokannya menuju tidur yang nyenyak.
"Lupakan segala hal tentang aku…kau tidak pernah bertemu denganku" bisik Arthur pelan. "Segala hal yang terjadi selama ini tidak pernah ada. Bagimu…aku tidak pernah ada…"
Setelah dia selesai mengucapkan kata-kata itu, mata Alfred langsung tertutup dan dia tertidur lelap di pelukan Arthur. Arthur terus mengusap rambut anak kecil itu dengan pelan dan mencium dahinya lembut.
"…Ini yang terbaik…" gumam Arthur. "Dengan begini…kau tidak akan terluka, Alfred…"
Dia pun segera menggendong anak kecil itu dan membawanya kembali ke rumahnya. Setelah sampai dia segera meloncat ke jendela, membaringkan anak kecil itu di ranjangnya, dan menyelimutinya dengan selimut. Setelah semuanya selesai, Arthur mencium dahi dan pipi Alfred lembut sebelum menghilang bersama dengan hembusan angin lembut dari jendela yang terbuka…
END FLASHBACK
Semuanya terdiam memandangi Arthur yang menunduk memandangi cangkir teh yang sedari tadi terus dipegangnya.
"Aku tidak pernah lagi menemuinya sejak hari itu, sampai aku bertemu lagi dengannya di SMU ini…" gumam Arthur pelan. "…Tapi perasaan sayangku padanya tidak berubah sedikit pun karena itu aku terus berusaha menjauhinya, tapi…" suaranya menjadi sedikit gemetar. "…tapi perasaan ini terus tumbuh dan tumbuh…sampai aku sadar kalau aku mencintainya...tapi sekarang…"
Antonio meletakkan tangannya di bahu Arthur, membuat Arthur memandangnya. Dia tersenyum lembut sambil mengusap air mata yang menetes di pipi Arthur. "…Kita akan selamatkan dia, Arthur. Kau tidak akan kehilangannya…" katanya.
Arthur kelihatan terpana sebelum memejamkan matanya. Saat dia kembali membuka matanya, pandangannya berubah menjadi pandangan penuh tekad. "…Ya…" gumamnya.
Aku takkan membiarkannya pergi lagi dari hidupku. Aku takkan pernah membiarkan dia lepas dari tanganku…lagi…
