WARNING ALERT : Di chapter ini ada sedikit adegan RusAme alias Ivan ama Alfred, jadi bagi yang anti ama pairing cold war ini, harap klik tombol back dan tunggu sampai chapter selanjutnya saya publish XD
Alfred perlahan-lahan membuka matanya, sinar matahari pagi menyusup dari gorden kamar yang ditempatinya. Dia perlahan-lahan bangkit dari ranjang tempatnya berbaring, dia mengusap rambut pirangnya yang berantakan. Dia menghela napas dan memakai kacamatanya.
"Walau aku membuka mataku, tetap saja pemandangannya sama…pemandangan kamar jelek yang sama sekali tidak ada bagus-bagusnya" gumam Alfred kesal. Dia bangkit dan berdiri di depan meja kamar itu, membuka laci meja itu untuk memeriksa apa yang ada di dalamnya. Dia tertegun begitu melihat benda di dalam laci meja itu.
"Kenapa…ada benda semacam ini di sini?" gumam Alfred.
Ivan sedang berjalan menyusuri koridor rumahnya menuju ke kamar tempat dia menahan Alfred. Dia ingin mengecek kondisi pemuda Amerika itu, bagaimanapun dia ingin menghabisi Alfred tepat di depan mata Arthur, karena itu dia tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada pemuda Amerika itu sebelum Arthur mencarinya.
Ivan segera membuka pintu kamar Alfred dan dengan segera menutupnya lagi saat dia disambut dengan tembakan peluru. Peluru itu menghantam pintu kayu yang tadi segera ditutupnya, meninggalkan sebuah lubang di pintu kayu itu.
Ivan tersenyum di balik pintu. Jadi Alfred memang tidak ingin menyerah begitu saja rupanya. Yah, dia memang mengira kalau dia akan melakukan ini, tapi dia tidak menyangka kalau dia akan seserius ini, sampai melakukan tindakan seekstrim ini.
Ivan segera menjilat bibirnya. Seringai khas seorang psikopat menghiasi bibirnya. "Memang seharusnya begini, Alfred" katanya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya sambil menghembuskan napas untuk menenangkan diri.
Di dalam kamar itu, Alfred masih berdiri sambil menggenggam erat pistol di tangannya. Pistol itu masih mengeluarkan asap, menandakan pistol itu baru saja menembakkan peluru. Dia mendecak kesal saat peluru yang ditujukannya pada Ivan meleset dan hanya mengenai pintu kayu saja. Dia memang menduga kalau Ivan memiliki refleks cepat, tapi bahkan serangan tiba-tiba semacam itu tidak berhasil, menyebalkan!
Oke, menggunakan pistol kepada seseorang memang agak terkesan ekstrim, tapi Ivan sudah menggunakan senjata tajam saat dia menculik adiknya, itu membuatnya menghapuskan aturan 'penculik juga manusia'. Ivan bukan manusia normal, tidak ada artinya menggunakan cara lemah lembut dan normal untuk melepaskan diri dari Ivan. Menghadapi Ivan, kekerasan mutlak harus dilakukan.
Alfred menghela napas dan menyiapkan pistolnya. Dia harus waspada! Ivan bisa balik menyerangnya setiap saat. Tanpa sadar, dia menahan napasnya saat dia mendengar derit gagang pintu yang dibuka perlahan-lahan. Dia harus fokus! Kalau dia lengah, semuanya akan berakhir!
Tapi sepertinya harapannya sia-sia saja.
Hanya dalam sekejap, Ivan membanting pintu di depannya dan berlari dengan cepat. Sebelum Alfred sempat bereaksi apa pun, Ivan sudah berdiri di belakang Alfred dengan tangannya berada di leher dan pinggang Alfred. Sekilas posisi mereka benar-benar terlihat intim, karena seperti terlihat kalau Ivan memeluk Alfred, hanya saja aura mereka mengatakan lain, aura di sekitar mereka sangat dingin dan tegang.
"Reaksimu lambat sekali, Alfred…" bisik Ivan dengan nada menggoda, sambil menghembuskan napas hangatnya di leher Alfred. Merasakan hangat napas itu di lehernya, Alfred mengigil. Ivan menyeringai melihat reaksi Alfred. Tidak puas hanya sampai di situ, dia mengeluarkan lidahnya dan mulai menjilat leher Alfred pelan, menikmati kulit cokelat yang ada di bawah bibirnya.
Wajah Alfred langsung merah padam, entah karena malu atau marah. Sepertinya option yang kedua yang lebih tepat, karena tepat setelah itu, dia langsung melepaskan diri dari cengkeraman Ivan dan menembakkan pistol yang masih dipegangnya ke arah Ivan yang hanya menghindarinya dengan santai.
"Jangan menyentuhku, brengsek!" seru Alfred sambil berjalan mundur menjauhi Ivan. Satu tangannya memegang pistol dan tangan satunya menyentuh bekas jilatan Ivan di lehernya sambil mendengus jijik.
Ivan hanya tersenyum dan meraih sebuah bantal di atas ranjang dan melemparkannya ke arah Alfred. Alfred mendecak kesal dan menggunakan tangannya untuk menyingkirkan bantal itu karena bantal itu menghalangi pandangannya.
Sebuah keputusan yang salah.
Saat Alfred berhasil menyingkirkan bantal itu dari pandangannya, Ivan sudah berdiri di hadapannya. Saat Alfred bersiap untuk mengarahkan pistolnya, Ivan segera mengangkat tangannya dan menampar Alfred dengan keras, membuat Alfred tersungkur di lantai kamar itu, pistol yang dipegangnya terlepas dari pegangannya dan bergulir sebelum akhirnya tergeletak di dekat dinding kamar, cukup jauh dari jangkauan Alfred.
Ivan tertawa pelan dan merangkak ke atas tubuh Alfred. Dia memandangi mata biru sapphire Alfred yang memandangnya dengan begitu dingin. "Aku bahkan tidak perlu menggunakan senjata untuk mengalahkanmu, Alfred. Darimana kau memiliki pikiran kalau kau bisa begitu mudahnya mengalahkan aku, da? Kau itu terlalu lemah…" kata Ivan.
Mendengar perkataan Ivan, Alfred malah memandangnya semakin dingin. Melihat pandangan itu, Ivan tertawa, kemudian dia membungkuk dan melakukan sesuatu yang bahkan dalam mimpi sekalipun, tidak pernah disangka oleh Alfred.
Ivan mencium Alfred, tepat di bibirnya.
Mata Alfred membelalak lebar. Dia sama sekali tidak pernah bermimpi kalau Ivan akan menciumnya. Dia memberontak, berusaha sekeras mungkin untuk melepaskan diri dari Ivan, tapi Ivan menggenggam erat tangannya dan menahan tubuhnya, membuatnya hanya bisa terbaring kaku di bawah tubuh Ivan.
Ivan mencium lembut bibir Alfred, melumatnya dengan lembut dan sensual. Perlahan-lahan dia mengeluarkan lidahnya dan memaksa Alfred untuk membuka mulutnya. Dia menggigit pelan bibir bawah Alfred, membuat pemuda Amerika itu menarik napas kesakitan, dan memberi Ivan peluang untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut Alfred. Di dalam mulut Alfred, Ivan memainkan lidahnya, menjilat dan menjelajahi seluruh rongga mulut Alfred, membua air ludah mereka berdua bersatu di dalam mulut mereka berdua.
"Hmmppp…Hhmmphhh…Hen…tikan…" kata Alfred sambil tetap berusaha melepaskan diri dari ciuman Ivan, tapi Ivan mengabaikannya dan malah semakin bernafsu mencium Alfred, sampai akhirnya…
"Aduh!"
Ivan melepaskan ciumannya dan mengusap bibirnya. Di tangannya terdapat noda merah yang berasal dari darah yang menetes dari luka di lidahnya. Dia memandang Alfred yang juga mengusap bibirnya yang ikut ternoda darah sambil terengah-engah menarik napas. Alfred, tidak diragukan lagi, telah mengigit lidah Ivan untuk melepaskan diri dari ciumannya.
Ivan tersenyum. "Kau mengigitku? Padahal tadi sepertinya kau menikmatinya, da" katanya.
Wajah Alfred merah padam menahan amarah. "Aku tidak sudi dicium olehmu! Jangan berani-berani melakukan itu padaku untuk kedua kalinya atau akan kubuat kau menyesal!" serunya histeris.
Ivan tersenyum dan mengusap pipi Alfred, membuat pemuda Amerika itu berjengit. "Dan bagaimana caramu membuatku menyesal, Alfred? Kau bahkan tidak bisa mengalahkanku. Aku lebih kuat darimu, da" katanya dengan nada menggoda dengan diselimuti samar-samar dengan nada rayuan sensual, membuat Alfred mendengus dan mengangkat tangannya dengan emosi untuk menampar Ivan, tapi Ivan menangkap tangan Alfred dengan santai dan mencium tangan itu lembut, membuat Alfred semakin mengigil jijik.
"Seandainya kau tidak pernah bersama dengan Arthur, hidupmu pasti akan lebih baik, da" kata Ivan sambil menjilat telapak tangan Alfred yang dipegangnya. "Kita bisa bersama dan aku bisa mencintaimu dengan tulus"
Alfred memandang dingin pada Ivan. "Jangan bercanda! Siapa juga yang mau sama orang brengsek sepertimu!" seru Alfred.
Ivan hanya memandang Alfred dengan tatapan datar. Tiba-tiba saja Alfred merasakan rasa sakit di tangannya. Dia memandang tangannya. Ivan sudah menusukkan sebuah suntikan di tangannya, dan tiba-tiba saja Alfred merasa pandangannya mulai mengabur.
"A…apa…yang…" Alfred mulai merasa pusing. Pandangannya semakin buram dan tidak butuh waktu lama, dia segera pingsan tidak sadarkan diri.
"Tidurlah permaisuriku" bisik Ivan sambil menggendong Alfred bridal style di lengannya. "Sebentar lagi…hanya sebentar lagi, pangeran yang memilikimu akan menghadap ajalnya di tanganmu dan setelah itu kita bisa bersama selamanya"
Dia pun membaringkan Alfred di ranjang kamar itu. Dia mencium bibir Alfred sambil tersenyum lembut. Setelah selesai, dia berjalan keluar dari kamar itu dan membiarkan Alfred tertidur di dalam keremangan siang…
"AHHH! MENYEBALKAAANNNN~" seru Arthur frustasi saat mereka sedang bersiap menyelamatkan Alfred. Dia stress karena dia sama sekali tidak bisa menemukan tempat persembunyian Ivan.
"Sudah, Arthur tenangkan dirimu. Kau seperti orang sarap" kata Mathias sambil menepuk bahu Arthur.
"Tenang? TENANG, HAH!" seru Arthur. "ALFRED ADA DI SUATU TEMPAT ENTAH DI MANA BERSAMA SEORANG PSIKOPAT DAN KAU MENGHARAPKAN AKU TENANG? BAGAIMANA KALAU IVAN MELAKUKAN SESUATU PADANYA!"
"Kurasa itu tidak mungkin" kata Feliciano. "Kupikir mungkin kak Ivan akan sedikit menyiksanya, tapi dia tidak akan menyebabkan cedera serius pada kak Alfred"
"Tuh, denger~Ivan itu masih manusia, kok. Dia tidak akan melukai seorang manusia seperti Alfred sampai kelewatan"
"ITU TAK BERARTI APA PUN, GIT!" seru Arthur frustasi, dia hampir saja membanting laptopnya kalau saja laptop itu tidak segera direbut Antonio dari tangan Arthur. "TETAP SAJA DIA ADA DI TANGAN PSIKOPAT DAN AKU TIDAK BISA MENYELAMATKANNYA, KAN?"
Dia lalu mendatangi Feliciano dan berdiri di hadapan Feliciano dan menatapnya dengan pandangan membunuh sementara Feliciano hanya memandangnya tenang.
"Aku tahu kau pasti tahu dimana Alfred sekarang, Feli. Lebih baik kau beritahu aku, atau…" desis Arthur berbahaya.
"Di rumah tua putih di pinggir kota Moskow, Rusia" kata Feliciano sambil menutup majalah yang sedaritadi dibacanya. "Rumah itu hanya sekitar 1 km dari bandara internasional Moskow"
Arthur terdiam mendengar perkataan Feliciano.
"Sebenarnya aku tidak boleh seenaknya membeberkan informasi seperti ini. Karena bagi setiap vampire yang memiliki kekuatan, ada peraturan untuk tidak menggunakan kekuatannya untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan hunter selama itu tidak dalam konteks membela diri, dan jelas kak Ivan adalah seorang vampire hunter" kata Feliciano sambil mengusap rambutnya. "Tapi karena kak Arthur benar-benar sudah seperti orang gila aku buat perkecualian."
Arthur mengangguk dan berjalan ke arah Gilbert, Antonio, dan Mathias yang berdiri di belakangnya. " Aku perlu kalian bertiga menghadapi seluruh prajurit yang disiapkannya di sana"
"Oke" kata mereka bertiga sambil tersenyum.
Feliciano hanya menunduk memandangi cangkir teh di tangannya. "Perang…lagi. Kenapa kita harus selalu berperang?" gumamnya pelan.
Arthur menatap 'adik' mereka itu dan perlahan-lahan mendatangi Feliciano. Dia membungkuk di depan Feli dan menggenggam tangannya pelan, menampakkan bola mata cokelat muda yang sedikit meneteskan air mata.
"Aku…mengerti kalau kau tak pernah ingin berperang. Maaf ya, karena keegoisanku…" gumam Arthur pelan.
Feliciano menggelengkan kepalanya. "Aku mengerti. Aku yang harus minta maaf karena egois. Tapi, maaf…" dia kembali menunduk. "…aku tidak ingin membunuh…"
Arhur tersenyum dan mencium dahi 'adik'nya itu. "Sesuai keinginanmu. Sebisa mungkin…aku tidak akan membiarkanmu berperang"
Feliciano tersenyum dan menggenggam tangan 'kakak'nya itu. "Terima kasih, kak Arthur. Oke, aku mau telepon Ludwig dulu!" serunya sambil berlari ke lantai atas.
Arthur menghela napas dan memandangi Gilbert dan Antonio. "Hey Gilbert, Antonio, aku bisa memberikan kalian tugas tambahan, kan?" gumamnya.
"Tentu" kata Antonio.
"Tentu saja. Akan kulakukan dengan awesome!" seru Gilbert.
"Jaga Feli" kata Arthur sambil berdiri. "Aku tidak ingin dia terluka. Aku punya perasaan tidak enak…kalau Ivan juga akan mengincarnya"
'Beres" seru Antonio dan Gilbert bersamaan.
Arthur menganggukkan kepalanya. "Kalau semuanya sudah siap…ayo kita berangkat…"
Alfred perlahan-lahan membuka matanya. Dia bangkit sambil menggosok kepalanya. Dia masih sedikit limbung, sepertinya efek obat yang diberikan Ivan padanya masih ada.
Alfred menyentuh bibirnya. Perasaan saat bibir Ivan melumat bibirnya masih tersisa. Ingatan saat bibir Ivan menyentuh bibirnya masih sangat jelas. Dia merasa jijik tapi dia tidak bisa menyangkal kalau ada sedikit, sekitar sepermili bagian dari dirinya yang menginginkan ciuman itu. Ciuman Ivan tadi…benar-benar terasa seperti ciuman Arthur. Bibir tadi…sesaat dia seperti merasa kalau bibir Arthurlah yang tadi melumat bibirnya. Dia merasa…Ivan dan Arthur begitu mirip…hingga rasa ciuman mereka pun sama.
Mungkin saat itu pikirannya memang terganggu, tapi sesaat itu Alfred tidak melihat Ivan berdiri di hadapannya. Dia melihat Arthur, tersenyum padanya sebelum menunduk dan mencium lembut bibirnya. Mungkin itulah alasan dia tidak menolak Ivan saat itu. Dia tidak merasakan ciuman dan bibir itu sebagai milik Ivan.
Dia merasakan semua itu sebagai milik Arthur, seseorang yang dicintainya sampai kapan pun juga.
"Aku seperti seorang gadis kasmaran saja. Benar-benar seperti perempuan…" gumam Alfred pelan sambil membenamkan wajahnya di lututnya.
"Kau memang perempuan, da. Bagi Arthur dan aku kau adalah permaisuri yang rapuh dan perlu dilindungi" kata sebuah suara dari arah pintu.
Alfred segera mengangkat kepalanya. Wajahnya langsung mengeras menahan amarah saat dia melihat Ivan berdiri di pintu kamar yang ditempatinya. Si pemuda Rusia itu masih saja memasang wajah (sok) childishnya, membuat Alfred, entah kenapa, malah tambah merasa marah.
"Mau apa kau di sini?" seru Alfred marah. "Keluar dari kamarku!"
"Secara teknis, ini kamarku, da" kata Ivan. "Karena ini rumahku"
"Oh ya, aku lupa" kata Alfred dengan nada sinis. "Tapi tetap, bisa kan kau pergi? Aku agak…tak suka melihat mukamu"
Ivan hanya tertawa sambil mendatangi ranjang tempat Alfred duduk. Melihat itu, Alfred semakin bergerak menjauh dari pemuda Rusia itu hingga akhirnya dia sampai di tepi tempat tidur.
"Aku hanya ke sini untuk bertanya baik-baik padamu" kata Ivan.
"Tak usah bertanya. Jawabanku sudah pasti 'tidak'" kata Alfred sambil menggeretakkan gigi menahan amarah.
"Maukah kau membunuh Arthur untukku, da?" tanya Ivan mengabaikan pernyataan Alfred tadi.
"Kau itu tuli atau apa sih?" seru Alfred keras. "Aku kan sudah bilang kalau aku akan menjawab TIDAK! Apalagi kalau pertanyaanmu 'Maukah kau membunuh Arthur untukku?'. Kau memaksaku sampai seperti apa pun, jawabanku tetap TIDAK!"
Begitu dia selesai mengucapkan perkataan itu, Alfred langsung menyesali perkataannya begitu dia melihat pandangan Ivan. Pandangan Ivan seperti menyatakan kalau dia mengharapkan Alfred menjawab seperti jawabannya barusan.
"Begitu ya, da" kata Ivan pelan. "Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini, tapi demi kematian Arthur apa pun akan kulakukan, termasuk memaksamu". Dia berdiri dan merogoh saku celananya. Begitu dia menarik keluar tangannya, Alfred melihat kalau dia sekarang menggenggam sebuah botol kaca kecil berisi cairan berwarna hijau yang aneh.
"Ini" Ivan menunjukkan botol yang dipegangnya kepada Alfred. "Adalah sebuah ramuan rahasia para hunter bernama 'puppet master'. Ramuan ini…adalah ramuan terlarang tingkat S, aku harus berusaha keras selama bertahun-tahun untuk mendapatkannya" kata Ivan sambil tersenyum keji.
"Ramuan ini akan mengikat keinginan siapa pun yang meminumnya. Seperti namanya, dia akan menjadi boneka bagi tuannya. Dan kau tahu apa yang paling buruk, Alfred?" Ivan berjalan hingga dia berada di sebelah Alfred dan membungkuk hingga bibirnya tepat berada di sebelah telinga Alfred. "Hal terburuk dari ramuan ini adalah orang yang meminumnya masih bisa mengetahui apa yang dilakukannya. Kau masih bisa melihat dan mengetahui apa yang tubuhmu lakukan tapi kau tidak bisa melakukan apa-apa. Banyak orang yang meminum ramuan ini menjadi gila setelahnya"
"Dan ramuan inilah, Alfred, yang akan kuberikan padamu. Akan kujadikan kau bonekaku yang manis" bisik Ivan sebelum menjilat telinga Alfred. Dia tersenyum saat dia melihat pandangan mata ketakutan di mata Alfred.
Ivan membuka botol di tangannya dan menuang cairan hijau di botol itu ke dalam mulutnya. Begitu semua cairan itu berada di mulutnya, Ivan segera berjalan ke arah Alfred. Alfred segera berjalan turun dari ranjang dan berjalan mundur, sebisa mungkin menghindari Ivan. Tapi semuanya sia-sia, tidak butuh waktu lama, hingga punggungnya menyentuh dinding dan dia tidak punya tempat lain untuk lari.
Ivan segera menjambak rambut Alfred dengan kasar, membuat Alfred menatap Ivan. Ivan pun segera mencium Alfred, dia mengigit bibir bawah Alfred dengan kasar, membuat Alfred menarik napas saat gigi Ivan merobek bibirnya hingga darah menetes dari bibirnya. Itu memberikan Ivan kesempatan untuk menyalurkan cairan di mulutnya ke dalam mulut Alfred. Alfred berusaha keras untuk memuntahkan cairan di dalam mulutnya, tapi Ivan tidak membiarkannya. Ivan memastikan semua cairan itu terminum seluruhnya oleh Alfred.
Alfred memejamkan matanya dengan erat. Dia mulai merasakan efek ramuan itu untuknya. Keinginannya perlahan-lahan mulai dikuasai. Kesadarannya mulai mengabur. Tidak butuh waktu lama baginya untuk tersedot jatuh ke dalam kegelapan. Semua hal yang berhubungan dengan Arthur, menghilang dari ingatannya.
Arthur…
Ivan melepaskan bibirnya dari bibir Alfred. Dia memandangi mata Alfred, dan dia tersenyum saat dia melihat mata milik pemuda Amerika itu. Mata biru sapphire milik pemuda itu sudah berganti menjadi warna biru gelap yang kosong.
Kosong, sama sekali tidak ada emosi di dalam mata itu.
Benar-benar bagaikan boneka.
Ivan tersenyum dan memeluk Alfred. Dia mendudukkan diri ke atas ranjang dan membawa Alfred duduk di pangkuannya. Dia membenamkan wajahnya ke dalam bahu Alfred. "Maukah mendengarkan permintaanku, Alfred?" tanyanya.
"Ya…tuan Ivan…" kata Alfred dengan nada datar tanpa ekspresi.
"Maukah membunuh Arthur untukku?" tanya Ivan sekali lagi.
"Ya…" kata Alfred. "Selama tuan Ivan yang meminta…"
Ivan tersenyum dan memeluk Alfred semakin erat. "Aku mencintaimu, da" bisik Ivan.
"Aku juga mencintaimu, tuan Ivan…" bisik Alfred.
Hadapilah keputusasaanmu, Arthur…kekasihmu yang paling kau sayangi…sudah jatuh ke dalam pelukanku…dan kau tinggal memilih…apakah kau mau menjadi algojo untuk kekasih tercintamu…atau kau akan membiarkannya menjadi algojomu. Apa pun pilihanmu…kau pasti akan menderita…pikir Ivan senang sambil tetap membenamkan Alfred di pelukannya.
