"Jadi ini rumah Ivan? Ampun, rumah ini besar sekali" seru Mathias kagum sambil memandangi rumah besar di hadapannya.

"Tapi…aneh, rumah ini tidak dijaga sama sekali. Apa ini berarti dia terlalu percaya diri kalau kita tidak akan bisa masuk ke dalamnya?" tanya Antonio sambil tersenyum. Anak ini memang selalu tersenyum di mana pun dan kapan pun, meski di tengah pertarungan sekalipun. Yang berbeda, senyumnya kali ini mulai dibayang-bayangi dengan seringai haus darah.

"Atau sebaliknya" kata Gilbert yang menyeringai dengan senyuman antisipasi untuk pembantaian besar. "Dia mengundang kita yang awesome ini masuk"

Feliciano dan Arthur hanya diam. Meskipun sama-sama diam, diam mereka berbeda. Diam Feliciano berarti dia mencemaskan keadaan mereka semua, sebagai anak yang hatinya hangat dan baik, dia memang tidak suka berkelahi apalagi berperang. Wajar kalau dia tidak menginginkan darah siapa pun tertumpah saat mereka menyelamatkan Ivan kali ini.

Sedangkan Arthur, tentu saja diamnya berarti dia sedang berusaha keras menahan amarahnya pada Ivan dan rasa cemasnya kepada Alfred. Dia tahu Ivan pasti sudah melakukan sesuatu, entah apa, pada Alfred. Dan itu membuatnya cemas. Kenyataan kalau Ivan terus berusaha melukai orang-orang yang disayanginya…

Karena dia…

Sementara itu, Ivan memandangi mereka berempat dari balik jendelanya sambil tersenyum. Di belakangnya, Alfred duduk di ranjang dan menatap Ivan dengan pandangan kosong.

"Kamu dengan bodohnya datang ke sini, Arthur. Pakai membawa Feliciano ke sini. Sadarkah kalau aku bisa mengambilnya dari tanganmu dan menyiksanya menggantikan Matthew?" kata Ivan sambil menyeringai. Dia pun memegang sebuah tombol di tangannya dan menekannya.

Datanglah padaku…Feliciano Vargas.

Feli tersentak dan memandang ke arah rumah itu. Pandangannya terlihat cemas.

"Ada apa, Feli?" tanya Mathias bingung pada 'adik' mereka itu.

"Tidak ada apa-apa. Mungkin ini hanya perasaanku…" gumam Feli. Tepat saat itu, tanah yang dipijak Feli runtuh dan menciptakan lubang di bawah kakinya, membuat Feli terjatuh bahkan sebelum dia bisa mengerti situasi yang terjadi.

"Eh? KYAAAA!" jerit Feli saat dia terjatuh ke dalam lubang yang menganga di bawahnya.

"FELI!" seru keempat 'kakak'nya bersamaan.

Arthur, Mathias, Gilbert, dan Antonio segera mendatangi lubang itu.

"Lubangnya…dalam sekali…" gumam Antonio sambil memandangi lubang itu dengan tatapan cemas.

"Bagaimana ini?" gumam Gilbert. Dia mencemaskan keadaan Feli, tapi dia juga mencemaskan keadaannya sendiri karena kalau ada apa-apa terjadi pada Feliciano, dia akan dibantai Ludwig.

"Kurasa dia tidak akan apa-apa. Meski lubangnya dalam, seharusnya dia tidak akan terluka. Kalau pun luka, tidak akan separah itu…" kata Mathias.

Sepanjang itu, Arthur hanya terdiam menatap lubang itu. Pandangannya menunjukkan keterkejutan sebelum matanya perlahan-lahan kembali berubah menjadi sorot mata penuh kebencian. Lagi-lagi, lagi-lagi si brengsek Ivan itu mengambil orang yang disayanginya. Pertama Matthew, kemudian Alfred, dan terakhir Feli.

Sampai kapan Ivan baru puas mengambil orang yang paling disayanginya dari sisinya?

"Ayo pergi…" gumam Arthur sambil berjalan ke arah pintu depan.

"Eh, tapi…" kata Mathias.

"Feli pasti ada di tangan Ivan" kata Arthur tegas. "Ivan pasti…" dia menggeretakkan giginya menahan amarah. "…tidak akan membuang kesempatan untuk menyiksa Feli"

Antonio memandang rumah itu. "Kenapa harus sampai seperti ini?" gumam Antonio. "Secara harafiah, Arthur itu bukan 'kakak' Feli, kan? Kenapa…"

Mathias menghela napas. "Mau bagaimana? Ivan sangat mendendam pada Arthur. Siapa pun yang dia rasa memiliki keakraban dengan Arthur, akan dia buru untuk dia bunuh dengan cara mengenaskan"

"Gak awesome" gumam Gilbert.

"Sudah cukup!" seru Arthur. "Pokoknya pastikan kalau kita keluar dari rumah ini bersama Alfred dan Feli, mengerti?"

"Y…ya…" gumam Mathias, Antonio, dan Gilbert bersamaan. Mereka agak ketakutan karena saat itu Arthur terlihat sangat menyeramkan.

Mereka berempat segera mendatangi pintu depan rumah Ivan. Arthur langsung menendang pintu depan itu hingga hancur, membuat Mathias, Antonio, dan Gilbert semakin menggigil ketakutan.

Di dalam mereka disambut dengan tiga lorong dengan arah yang berbeda. Satu lorong menuju ke arah kiri, satu lurus, dan satu ke kanan.

"Dia menyuruh kita berpencar?" gumam Antonio.

"Antonio, kau pergilah dengan Gilbert" gumam Arthur sambil berjalan lurus menuju lorong di tengah.

"Eh?" kata Antonio.

"Kalian kan vampire baru, belum punya pengalaman bertarung" kata Mathias sambil tersenyum di belakang Arthur. "Berdua lebih baik daripada sendirian". Dia segera berjalan ke arah lorong di kanan.

Antonio dan Gilbert menghela napas. "Maaf Arthur…" gumam Antonio, membuat Arthur dan Mathias berhenti dan memandang keduanya. "Tapi kami berdua tidak bisa mencari Alfred…tidak saat Feli juga berada di tangan Ivan"

"Karena bagi kami berdua, Feli adalah prioritas utama kami yang paling awesome" kata Gilbert sambil tersenyum.

Arthur hanya tersenyum. "Terserahlah" katanya.

"Kamu tak keberatan?" tanya Antonio. Dia agak terkejut juga mendengar jawaban Arthur. Dia pikir Arthur pasti akan mengamuk dan membentak mereka karena lebih mementingkan Feli daripada Alfred.

"Aku memang menugaskan kalian untuk menjaga Feli, kan? Memang tugas kalian untuk memastikan keselamatan Feli. Jadi wajar kalau kalian seharusnya mementingkan Feli di atas segalanya" kata Arthur sambil berjalan memasuki lorong tengah.

"Terima kasih, Arthur" kata Antonio sambil tersenyum.

"Oke, titip Feli kalau begitu" kata Mathias sambil berlari memasuki lorong kanan.

"Ayo, Antonio. Kita pergi juga" kata Gilbert.

Antonio menganggukkan kepalanya dan berjalan memasuki lorong sebelah kiri bersama dengan Gilbert.


Di lorong yang gelap, Arthur berjalan dan terus berjalan. Sepanjang jalan, pikirannya hanya diisi dengan Alfred. Otaknya terus memutar memori-memori bahagianya bersama Alfred, saat Alfred memeluknya, tertawa bersamanya, menciumnya, semuanya…

"Alfred…" gumam Arthur pelan. Tanpa disadarinya, setetes air mata meluncur turun ke pipinya. Dia membutuhkan Alfred…dia tak bisa…kehilangan pemuda itu, walau hanya sedetik sekalipun. Dia tak akan membiarkannya.

Tiba-tiba dia melihat cahaya di ujung terowongan yang dilaluinya. Arthur semakin cepat berjalan, tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di ujung lorong yang dilewatinya.

Matanya langsung terbelalak melihat pemandangan yang menyambut matanya.

Seorang pemuda berambut pirang memandang kosong. Dia duduk di atas selusur tangga dengan entengnya, seolah tidak takut sama sekali untuk jatuh dan menjemput ajal di lantai keramik dingin di bawahnya. Dia tidak takut untuk mengotori lantai keramik putih yang dipijak Arthur dengan warna merah darah. Sebuah pedang tergenggam erat di tangannya saat dia duduk sambil menggoyang-goyangkan kakinya di atas sana. Dia bagaikan pengawal yang sedang menunggu lawannya untuk datang ke tempatnya.

Hanya saja dia bukanlah musuh Arthur…sama sekali bukan…

Dia adalah Alfred.

"ALFRED!" seru Arthur pada Alfred yang masih saja seperti tidak menyadari keberadaan Arthur. Dia masih memasang wajah dingin tanpa ekspresi dengan sorot mata dingin, mata biru sapphire itu kini begitu kosong. Pemandangan itu membuat takut Arthur, dia takut…apa orang di depannya ini kekasihnya yang sebenarnya? Atau…apakah dia hanya ilusi yang diciptakan Ivan? Ilusi yang siap mengiris lehernya di saat dia lengah?

"Alfred…" panggil Arthur sekali lagi.

"Percuma saja Arthur. Dia tidak akan mendengarmu, da" kata sebuah suara dari balik kegelapan lorong-lorong lantai di atas Arthur, yang hanya dipisahkan sebuah tangga kayu melingkar.

Mata Arthur langsung memandang penuh kebencian pada pemilik suara itu. Pemilik suara itu, yang kini berdiri di belakang Alfred yang masih saja seperti berada di dunianya sendiri. Pemuda itu dengan santainya melingkarkan lengannya di pinggang Alfred, menarik pemuda Amerika itu hingga kepala pemuda Amerika itu terbaring di dada orang yang memeluknya.

"Ivan…" geram Arthur pelan.

"Hei, Arthur. Aku sama sekali tidak menyangka kau pintar sekali memilih kekasih, da" kata Ivan santai sambil tetap memeluk Alfred. Dia menjilat bibirnya sambil menyeringai. "Rasa bibirnya enak sekali, Arthur…"

Tangan Arthur langsung terkepal erat di sampingnya. Begitu erat, hingga tetes darah merah menetes dari tangannya yang tergores kukunya sendiri. Tetes-tetes darah itu membentuk kolam kecil di lantai. Warna yang indah…sekaligus warna yang penuh dendam…

"AKU SEDANG TIDAK INGIN BERMAIN-MAIN IVAN, KEMBALIKAN…"

Belum sempat Arthur menyelesaikan kalimatnya. Sebuah pedang menempel di tenggorokannya. Ujung metal yang dingin menempel begitu dekat di tenggorokan Arthur, membuat Arthur merasakan dinginnya pedang yang siap mengiris lehernya itu.

"Tolong jangan membentak tuan Ivan. Jaga sikap anda di rumah ini…" bisik seseorang yang menempelkan pedang itu di tenggorokan Arthur.

Mata hijau emerald Arthur menengok ke belakangnya. Dia melihat Alfred berdiri di belakangnya dengan ujung pedang tergenggam erat di tangannya. Mata hijau emerald itu…sedikitpun tak bisa lagi melihat apa pun yang membuktikan kalau pemuda ini adalah Alfred, kekasihnya yang sangat dicintainya.

Kini…dia seperti orang asing bagi Arthur.

"Gerakannya tidak kalah dari hunter, kan da?" kata Ivan dari atas tangga. "Dia punya potensi…sayang, kau sudah lebih dulu merebutnya, da…"

"Apa…yang kau lakukan padanya?" geram Arthur pelan kepada Ivan.

Ivan hanya tertawa mendengar pertanyaan Arthur. "Apa belum jelas, da?" tanyanya dengan nada (sok) childish yang membuat darah Arthur mendidih. Sebuah senyum sadis tersungging di bibir Ivan. "Aku menjadikannya bonekaku"

Perkataan Ivan membuat Arthur kehilangan kesabarannya. Emosinya meledak, bagaikan bom waktu. "KURANG AJAR!" seru Arthur, tapi dengan segera pedang di tenggorokannya semakin mendekati lehernya.

"Saya sudah memperingatkan anda untuk tidak membentak tuan Ivan…" kata Alfred pelan.

"Kau memberinya 'puppet master'?" tanya Arthur pada Ivan.

"Ah, jadi kau tahu? Ya, aku memberikan ramuan itu padanya, da" kata Ivan sambil tersenyum. "Dia boneka yang paling cocok untuk digunakan dalam acara balas dendamku"

Arthur hanya terdiam sambil memandang Alfred yang masih memandangnya kosong tanpa ekspresi di belakangnya. Mata biru sapphire yang dulu begitu disukainya…karena menyimpan begitu banyak kehangatan dan rasa sayang…kini menghilang begitu saja. Arthur merasa dadanya semakin menggelegak. Ivan brengsek, dia takkan pernah mengampuni Ivan.

"Sudahlah, aku malas berbicara panjang lebar denganmu" kata Ivan. "Bagaimana kalau kita langsung maju ke acara inti, da?" Dia memandang Alfred yang berdiri di belakang Arthur dengan tenang. "Bunuh dia, Alfred"

"Dengan senang hati, tuan Ivan" kata Alfred. Secepat kilat, dia segera mengayunkan pedangnya menuju Arthur. Tapi Arthur segera menunduk dan menghindari kibasan pedang itu sebelum pedang itu sempat menyentuh lehernya, membuat pedang itu hanya memotong beberapa helai rambutnya saat bersentuhan dengan kepalanya.

Arthur segera berbalik sambil mundur dari Alfred. Tangannya bergerak untuk mensummon pedangnya sendiri, lebih karena refleks dan shock karena Alfred tega berniat membunuhnya daripada karena ingin menyerang Alfred. Tangannya bergerak membawa pedangnya ke depan tubuhnya saat Alfred kembali menyerangnya. Pedang mereka saling beradu di udara kosong, menciptakan suara adu metal yang nyaring dan angker, suara angker dan dingin…bagaikan serenade yang mengantar mereka ke akhir hidup.

"Alfred, hentikan!" seru Arthur dengan nada putus asa pada kekasihnya itu. "Aku tidak mau melawanmu!"

Alfred sama sekali tidak mendengarkan perkataan Arthur. Dia tetap menyerang Arthur dengan membabi buta, sama sekali tidak mempedulikan keadaan tubuhnya, yang jelas, kalah dibandingkan dengan Arthur. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mulai kelelahan, napasnya terengah-engah, gerakannya juga mulai limbung.

"Alfred…" gumam Arthur.

Saat itulah Arthur menjadi lengah, dan kesempatan itu tak dibuang sia-sia oleh Alfred. Dia segera menyerang tangan Arthur, membuat pedang yang dipegang Arthur terpental jatuh. Dalam sekejap, Arthur merasakan punggungnya dihantamkan ke dinding, pedang Alfred menancap di bahunya.

Sakit. Sakit sekali rasanya saat metal yang dingin itu menusuk tubuhnya, mewarnai kemejanya dengan warna merah. Tapi rasa sakit itu sama sekali tak dirasakan oleh Arthur. Yang membuatnya sakit bukanlah warna darah yang mewarnai kemejanya, juga bukan pedang yang menusuk tubuhnya.

Yang paling membuatnya sakit melebihi apa pun adalah melihat mata Alfred, melihat air mata mengalir dari mata biru sapphire itu. Melihat itu, dia yakin…Alfred yang masih disayanginya masih ada, di suatu sudut di otak dan hatinya, terperangkap entah di mana.

Jadi Arthur melakukan satu-satunya hal yang terpikir olehnya saat itu…

Dia mengalungkan tangan kirinya di leher Alfred dan menarik Alfred sehingga pemuda itu membungkuk ke arahnya. Secepat kilat dia mempertemukan bibir mereka berdua, membawa bibir merah yang kini dingin itu kepada ciuman hangat yang lembut dan manis…

Mata Alfred melebar saat dia merasakan bibir Arthur mencumbu bibirnya. Perlahan-lahan kegelapan di matanya menghilang, kehangatan di mata biru sapphire itu kembali. Perlahan-lahan dia menerima ciuman Arthur, membiarkan bibir pemuda Inggris itu menyatu dengan bibirnya.

Setelah beberapa menit, mereka segera melepaskan ciuman mereka. Arthur memandang Alfred dan tersenyum melihat kalau kekasihnya itu sudah kembali ke dirinya yang sebenarnya. "Alfred…" katanya.

"Ig…gy…" kata Alfred sambil tersenyum. "Aku tahu…kau pasti akan menyelamatkanku…"

"Tentu saja…neraka sekalipun akan kulewati selama ini menyangkut dirimu…" kata Arthur.

Alfred tersenyum. "…Terima kasih…" katanya.

Saat itu mereka benar-benar bahagia. Mereka kembali…ke sisi satu sama lain. Mereka kembali bersama…tak ada lagi yang bisa memisahkan mereka.

Sebelum kebahagiaan itu kembali hancur dengan begitu indah dan tragis…

Tiba-tiba Alfred tumbang ke arah Arthur. Arthur langsung menangkap tubuh Alfred dengan limbung. Wajahnya langsung berubah cemas saat dia menyadari wajah Alfred yang pucat. "Alfred…" katanya.

"Maaf…" kata Alfred sambil menggenggam lengan Arthur. "…Aku…lelah…tolong…biarkan aku tidur…"

"Tidur?" gumam Arthur. "Jangan! Jangan tidur, Alfred!" jeritnya segera.

"Tapi…aku lelah, Iggy…" kata Alfred.

"Kau bisa tidur nanti, Alfred. Kumohon, jangan tidur sekarang! Kau tak boleh tidur!" seru Arthur.

"Aku…hanya ingin tidur, Iggy. Aku bukan mau pergi mati…kok" kata Alfred pelan. Kelopak matanya terasa semakin berat dan berat setiap detiknya.

"Tapi, tapi…aku…merasakannya. Kau…kau akan…" perkataan Arthur langsung terpotong saat Alfred kembali mencium lembut bibirnya.

"Maafkan aku…Arthur…Aku…aku melukaimu dengan sangat kejam. Dan juga…membuatmu cemas…Aku…aku sangat ingin melindungimu…memastikan kau akan selamat…apa pun akan kulakukan…untuk keselamatanmu. Maaf…akhirnya…aku…jadi meninggalkanmu…" kata Alfred sambil tersenyum.

"Jangan bicara begitu!" seru Arthur. "Kau tak boleh meninggalkanku! Kumohon…jangan meninggalkanku…". Air mata mulai menetes, mengalir di pipi Arthur.

"Maaf…seandainya aku lebih kuat…mungkin aku…aku bisa…menjagamu…" kata Alfred saat pandangan matanya mulai mengabur. Dia mengangkat tangannya dan mengusap air mata di pipi Arthur dengan lembut. "Jangan menangis Iggy…aku tak suka melihatmu…menangis…"

Tangan itu meluncur jatuh dari pipi Arthur dan terkulai lemas saat Alfred menutup matanya di pangkuan Arthur. Dia semakin dan semakin meninggalkan dunia nyata. Dia hanya bisa merasakan samar-samar saat Arthur memeluknya erat dan menangis di bahunya.

"Maaf…Arthur…selamat tinggal…" bisik Alfred untuk yang terakhir kalinya di telinga Arthur.

Setelah itu…yang ada hanyalah kegelapan…


Author note:

Maaf, chapter ini...jelek kan? Saya lagi menggalau dengan pentas kampus. Apa coba kelas saya sama sekali gak punya ketetapan buat drama? Mulai dari HP ama Mr. Bean, terus ke little red riding hood dan sekarang malah robin hood, gimana mau pentas kalau begini ceritanya? dan sebenarnya saya gak pantas protes juga, toh udah gak ikut rapat, gak ikut main pula, cuma numpang nama aja ada di kelas... -curcol mendadak-

ah, ude dah. biasa, mohon review ya...dan maaf atas ke OOC an para karakter. mereka sama galaunya dengan saya -PLAK-

oke, sekian