"ALFRED!" jerit Arthur keras saat tangan Alfred yang berada di pipinya terkulai lemas. Dia mengguncang-guncang tubuh Alfred, berharap, sangat berharap, kalau Alfred akan membuka matanya. Berharap kalau semua ini hanya mimpi. Berharap kalau Alfred memang hanya pergi tertidur menuju alam mimpi.
Tapi semua itu tidak terjadi.
Tubuh yang perlahan-lahan menjadi dingin, wajah pucat seakan-akan tak ada darah mengalir, denyut nadi yang sama sekali tak terasa, dan juga…detak jantung yang tak lagi terdengar…
Semua itu cukup untuk membuat Arthur tersadar dari ilusi yang setengah mati dia percayai. Cukup untuk membuktikan kalau harapannya tak terkabul.
Cukup untuk membuktikan kalau Alfred sekarang benar-benar terbaring di pelukannya, pergi meninggalkannya menuju tidur abadinya. Dia tidak akan lagi membuka matanya, tidak lagi bernapas, dan tidak lagi hidup…
Dia telah tewas…pergi meninggalkannya…
Air mata mengalir semakin deras dari kelopak mata Arthur. Dia terisak-isak sambil memukul-mukul dada Alfred dengan keras.
"Alfred, bangun! Kamu janji kalau kamu akan selalu bersamaku, kau mau membohongiku? Alfred, aku paling benci pembohong! Jangan bohongi aku! Cepat buka matamu!" seru Arthur. "Kumohon…buka matamu Alfred, aku…aku tidak bisa hidup tanpa kamu…"
Yang dikatakan Arthur adalah kebenaran. Dia tak bisa hidup tanpa Alfred. Alfred adalah hidupnya, atau lebih tepatnya, Alfredlah satu-satunya yang membuatnya ingin hidup. Baginya Alfred adalah segalanya, dan sekarang…
"ALFRED! Bangun! Jangan…jangan mati di hadapanku…tolong, jangan meninggalkanku…" gumam Arthur dengan suara pelan. Suara bernada putus asa, yang akan menyayat siapa pun yang mendengarnya.
Hanya saja tidak ada siapa pun yang mendengarnya di sana…
Arthur terus menangis sambil memukul dada Alfred, pukulannya melemah hingga akhirnya tangannya hanya bisa mencengkeram kemeja yang dipakai Alfred, tangannya menggenggam erat kemeja itu, kemeja yang kini basah oleh air mata yang mengalir dari mata hijau emeraldnya.
Saat Arthur berada dalam jurang keputusasaan itulah dia mendengarnya…
Sangat pelan…tapi suara itu ada…
Suara detak jantung Alfred…
Arthur mengangkat wajahnya yang daritadi terbenam di dada Alfred dan memandangi wajah kekasihnya itu. Wajahnya masih terlihat pucat, tapi terasa…kalau dadanya mulai naik turun dengan pelan. Detak jantungnya juga...semakin kuat…
Arthur tersenyum. Meskipun dia tak pernah percaya tuhan ataupun dewa, dia sungguh berterima kasih pada siapa pun di atas sana. Dia berterima kasih…karena mereka mengembalikan Alfred padanya, tidak mengambil Alfred dari sisinya.
Arthur memeluk Alfred erat dan menunduk untuk mencium bibir Alfred. "Terima kasih…karena sudah kembali padaku, Alfred…" bisik Arthur lembut, sebelum kembali melumat bibir Alfred untuk melakukan CPR padanya.
Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki dari belakangnya. Arthur menoleh dan melihat Mathias berlari memasuki ruangan tempatnya berada.
"Arthur?" tanya Mathias saat dia melihat pemuda Inggris yang berlutut di lantai keramik itu. Pandangan bola mata birunya segera beralih ke tubuh Alfred yang ada di pelukan Arthur, dia menghela napas tajam. "A…ada apa dengan Alfred?" serunya.
Arthur segera berdiri dan menggendong Alfred di lengannya. Dia segera berjalan ke arah Mathias dan menyerahkan Alfred padanya. "Bawa Alfred ke rumah sakit…dia masih bernapas, tapi sangat lemah, keadaanya kritis…jadi cepat ya…" katanya pada Mathias.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Mathias sambil mengambil Alfred dari lengan Arthur. Dia memandang Arthur dengan pandangan cemas. "Kau akan…membunuh Ivan?"
Arthur menggelengkan kepalanya. "Aku tak tahu…" gumam Arthur. "Aku mengerti betapa menderitanya Ivan saat Alfred hampir tewas di hadapanku…aku merasa tak pantas…terus menambah penderitaannya…"
"Aku tak akan memaafkanmu kalau kau memutuskan mati di tangan Ivan…" kata Mathias sambil membawa pergi Alfred dari ruangan tempat mereka berada. "Karena masih ada orang yang menunggumu dan tidak rela kehilanganmu di dunia ini…"
Arthur memejamkan matanya sejenak, sebuah senyum sedih tersungging di wajahnya saat dia kembali membuka matanya. "…Aku tahu, kok…" katanya pelan sebelum kembali melangkah, menaiki tangga di hadapannya, menuju lantai atas.
Menuju tempat Ivan menantinya…untuk menyelesaikan pertarungan mereka…
Pertarungan yang mungkin menjadi pertarungan terakhir mereka berdua…
Kelopak mata yang daritadi tertutup itu perlahan-lahan terbuka, memperlihatkan bola mata hazel yang selalu dipenuhi kelembutan dan kehangatan, meski kini bayang-bayang kebingungan menaungi mata itu. Pemilik mata itu, seorang pemuda Italia berambut cokelat kemerahan mengusap rambutnya pelan sambil perlahan-lahan bangkit dari tempatnya tadi terbaring.
"Ugh…kepalaku sakit…ini dimana ya?" gumam Feliciano pelan.
Dia segera memandangi ruangan tempatnya berada., sebuah jendela besar yang berada di sekitarnya, menunjukkan kalau sekarang sudah tengah malam. Sinar lembut rembulan samar-samar memasuki ruangan itu, memberikan cahaya perak lembut di tengah kegelapan kamar itu. Dari cahaya yang menyinari kamar itu, dia tahu kalau dia berada di sebuah kamar tidur
Feliciano menunduk dan melihat kalau sekarang dia berada di sebuah ranjang berukuran king size. Sebuah rantai terpasang di ujung ranjang. Feli mengikuti arah rantai itu dan menemukan kalau rantai itu terpasang ke sebuah belenggu besi yang kini terpasang erat di kakinya. Feliciano menyentuh rantai itu dan hampir dengan segera dia menarik kembali tangannya sambil menjerit pelan setelah telapak tangannya terasa panas terbakar. Dia mengamati tangannya, melihat kalau telapak tangannya kini telah terhias luka bakar.
Feliciano menghela napas. "Rantai khusus vampire…" gumamnya pelan.
"Benar sekali" kata sebuah suara dari arah pintu kamar itu, bersamaan dengan menyalanya lampu di ruangan itu, menerangi kamar itu dengan cahayanya. Feliciano menengok ke arah pintu kamar itu, dan melihat Ivan berdiri dengan tenang di ambang pintu itu. "Karena itu kusarankan kau tidak menyentuh rantai itu, atau kau akan terbakar…"
Feliciano memandang Ivan dengan pandangan datar, tak ada satu pun ketakutan, kebencian, mau pun keterkejutan di bola mata hazel itu. Pandangan datar, seolah-olah dia tak peduli apa yang akan terjadi padanya. "Kau ingin…membunuhku…?" gumam Feliciano pelan.
Ivan tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Tadinya begitu…" kata Ivan. "Tapi, entah kenapa, aku tak bisa membawamu menuju penciptamu. Mungkin karena kau mirip…dengan Natalia, da…"
Feliciano hanya terdiam.
"Natalia juga sepertimu. Di saat aku merasa letih, dia selalu membuatku berdiri. Dia mau tersenyum untukku, menenangkan aku, memelukku, dan dia mau…bermanja-manja padaku, membuatku merasa dibutuhkan…kau juga selalu melakukan hal yang sama pada Arthur, kan da? Melihatmu tertidur seperti tadi…aku merasa melihat Natalialah yang sedang tertidur di ranjang ini…di kamar miliknya ini…" kata Ivan pelan.
Feliciano memandangi kamar itu sekali lagi sebelum kembali memandangi Ivan yang kini berdiri di sebelah ranjang yang ditempatinya. "Aku bukan Natalia, dan tak akan pernah menjadi Natalia…" kata Feliciano.
Ivan tersenyum. "Aku tahu, hanya saja, sikapmu, auramu, pandangan matamu, semuanya…begitu mirip Natalia, da" kata Ivan. "Membuatku tak bisa membunuhmu. Setiap kali aku melihat dirimu, yang kulihat selalu dan selalu saja Natalia. Mungkin aku memang sudah jadi gila, da…"
Feliciano memandangi Ivan yang kini menundukkan kepalanya, rambut peraknya menyembunyikan matanya. Perlahan-lahan Feliciano mengangkat tangannya dan meletakkannya di wajah Ivan, membuat pemuda Rusia itu menatapnya.
"Apa…tidak lebih kak Ivan hentikan semua ini? Lupakan masalah kak Yao dan Natalia, lupakan dendam kakak dengan kak Arthur. Tidakkah kakak merasa lelah? Lelah terus-menerus menyimpan dendam, lelah terus melukai orang-orang tak bersalah, lelah terus menerus…menerima kebencian dari orang lain? Kumohon, hentikan ini…kak Ivan. Lupakan semua ini dan jalanilah hidup kakak sebagai orang biasa…Tidak bisakah kita hidup damai bersama-sama?" kata Feliciano dengan nada sedih.
Ivan menggenggam erat tangan Feliciano dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Aku tidak bisa…melupakan dendamku pada Arthur…sama saja melupakan tujuanku untuk hidup. Aku semata-mata hanya hidup untuk membunuh Arthur…aku tak tahu apa yang harus kulakukan…kalau aku menghilangkan dendam ini. Kau menyuruhku berhenti lalu apa? Apa yang harus kulakukan?" katanya. "Memang aku lelah, aku lelah dengan semua ini. Aku sangat ingin semuanya berakhir, hanya saja…aku tak tahu cara mengakhirinya" kata Ivan sambil melepaskan tangan Feliciano, membiarkan tangan putih mungil itu terkulai lemas di samping pemiliknya. "Bagiku hanya ada dua cara menghentikan semua ini… Arthur atau aku, salah satu di antara kami, harus mati…"
Ivan berjalan ke sisi lain ranjang yang ditempati Feli dan membuka laci meja di sebelah ranjang itu, menarik keluar sebuah pistol cekoslovakia cz75 dari dalamnya. Dia mengantongi pistol itu dan kembali berjalan pergi.
"Kak Ivan!" seru Feliciano begitu melihat Ivan berjalan pergi.
Ivan berhenti sejenak dan meletakkan tangannya di kepala Feliciano, dia mengusap rambut cokelat kemerahan pemuda Italia itu sambil menggumamkan sesuatu dengan pelan. Dia memandangi pemuda Italia itu, melihat matanya yang perlahan-lahan tertutup dan dia jatuh tertidur di tangan Ivan yang dengan sigap menangkapnya.
Ivan membaringkan Feliciano yang tertidur itu kembali ke ranjang dan menyelimutinya. Dia menggenggam tangan pemuda Italia itu dengan erat sejenak sebelum memasukkannya ke balik selimut. "Tidurlah" kata Ivan. "Bermimpi indahlah dan lupakan segala masalah di dunia ini"
"…Karena saat kau terbangun, kau akan dihadapkan dengan kenyataan pahit. Kau akan melihat siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang. Arthur…atau aku…"
Ivan pun berjalan meninggalkan Feliciano yang tertidur dengan tenang itu. Dia menatap langit malam gelap yang dihiasi rembulan sejenak sebelum menghela napas dan berjalan pergi, menuju tempat pertarungan terakhirnya.
Pertarungan terakhir yang akan menentukan kehidupan mereka semua yang terlibat di dalamnya selanjutnya.
Arthur mengusap rambutnya dengan frustasi sambil berjalan. Tangannya menggenggam erat pedang di tangannya. Di belakangnya, banyak orang-orang, kemungkinan besar pengawal rumah Ivan, terbaring pingsan dengan luka tebas (yang walaupun tidak fatal cukup untuk merubuhkan mereka) di tubuh mereka semua.
Dia mengusap pipinya dan menatap darah yang ada di telapak tangannya, darah orang-orang yang dia tebas yang terciprat di wajahnya dan menghela napas. Sudah tak terhitung berapa banyak orang yang dia hadapkan dengan pedangnya, tapi tetap, si Ivan itu masih belum menampakkan dirinya. Dari penciumannya yang sama sekali tidak mencium bau darah Feliciano, Antonio, atau Gilbert, sepertinya Ivan tidak menghadang mereka, apalagi membunuh mereka. Kalau begitu di mana dia?
"Arthur!" seru sebuah suara dari belakangnya. Arthur menoleh dan melihat Antonio dan Gilbert, yang membawa senjata mereka masing-masing, berjalan ke arahnya. Arthur memandangi mereka berdua dan melihat kalau mereka berdua agak terlihat lelah. Yah, sebagai vampire baru, ini memang pertarungan pertama mereka, tentu saja energi mereka lebih cepat habis terkuras dari dia ataupun Mathias.
"Kalian berdua menemukan Feli?" tanya Arthur dengan nada datar, yang terdengar dipaksakan.
Antonio dan Gilbert menggelengkan kepalanya. "Aku sudah menanyakan semua orang yang menghadang kami, tapi mereka semua bungkam, menyebalkan sekali" kata Antonio.
"Mereka semua gak awesome! Payah!" seru Gilbert ikut-ikutan.
"Tentu saja mereka bungkam, da, karena kenyataannya mereka tidak tahu" kata sebuah suara di atas mereka. Arthur, Antonio, dan Gilbert segera siap siaga dalam posisi tempur, sambil menggenggam erat senjata mereka masing-masing. Mereka segera mendongak dan melihat Ivan berdiri di lantai atas mereka sambil tersenyum. "Hanya aku yang tahu dimana keberadaan Feliciano sekarang…"
"Ivan…" geram Arthur.
Ivan tersenyum sambil meloncat turun dari lantai tempatnya berdiri ke lantai tempat Arthur, Antonio dan Gilbert berdiri. Senyumnya terlihat santai saat dia menarik keluar sebuah pistol dari dalam saku mantelnya. "Bagaimana…kalau kita akhiri semua ini, Arthur? Mari kita tentukan…siapa yang harus mati sekarang…" kata Ivan.
"Dengan senang hati…" kata Arthur sambil mengacungkan pedangnya kepada Ivan. "Mari kita bersenang-senang, Ivan…". Dia segera berjalan ke arah Ivan sebelum memandangi Antonio dan Gilbert, "Kalian berdua, diam di sini" katanya sambil melambaikan tangannya pelan ke arah mereka berdua.
"Arthur!" seru Antonio sambil berjalan maju, tapi saat itu juga dia merasakan tabir pelindung menghalangi dirinya dan Gilbert dari Arthur dan Ivan. "ARTHUR!" jeritnya.
"Artie, kau gak awesome banget! Lenyapkan tabir gak awesome ini!" seru Gilbert kesal pada Arthur, yang tentu saja hanya diabaikan oleh pemuda Inggris itu. Pemuda itu hanya terdiam di depan Ivan sambil mengacungkan pedangnya, menanti saat yang tepat untuk menyerang pemuda Rusia di sebelahnya.
"Kau sudah siap mati, da? Sudah menulis surat wasiat?" tanya Ivan sambil tersenyum saat dia dengan santai mengokang pistolnya.
Arthur tertawa sinis. "Kurasa perkataan itu harusnya kau katakan pada dirimu sendiri" kata Arthur. "Karena aku sudah berjanji kalau aku tak akan mati"
"Kau berjanji pada siapa? Pada Alfred, da?" tanya Ivan. "Kenapa harus repot-repot berjanji begitu padanya? Toh, kau dan juga dia…" Ivan menjilat bibirnya. "…akan bertemu di surga atau neraka…kan dia sudah sekarat…"
"Diam, bedebah!" seru Arthur sambil berlari ke arah Ivan. Dalam satu gerakan cepat, dia segera mengayunkan pedangnya menuju tubuh Ivan, yang berhasil ditangkis Ivan dengan pistolnya. "Jangan sekalipun berani menyebut namanya dengan mulut kotormu itu!"
Ivan tertawa pelan sambil mempertahankan pistolnya yang berhasil menahan serangan pedang Arthur. "Hati-hati Arthur, kehilangan kesabaran…berarti mati…" kata Ivan sambil merogoh sakunya.
Arthur melihat gerakan tangan Ivan. Dia tersentak dan melompat mundur, bertepatan dengan saat Ivan menarik keluar sebuah pistol lagi dan menembakkannya ke arah Arthur. Arthur dengan sigap segera menghindari peluru itu. Merasakan desing peluru menggaung di telinganya dan dingin timah itu hampir menyerempet telinganya cukup membuat Arthur sedikit merinding. Dia tahu kalau senjata yang digunakan Ivan adalah senjata khusus hunter, yang jika terkena, jelas tak akan bisa sembuh dengan mudah. Kalau terkena, nyawa pun bisa jadi taruhannya.
"Meleset ya, da?" kata Ivan sambil tetap mengacungkan pistolnya yang masih mengeluarkan asap. Dia segera mengantongi pistolnya dan berlari pergi menjauhi Arthur.
"Tunggu, Ivan!" seru Arthur sambil ikut mengejar Ivan yang sudah melarikan diri, mengabaikan teriakan Antonio dan Gilbert di belakangnya. Saat ini pikirannya hanya dipenuhi dengan Ivan dan Ivan. Tujuannya hanya satu, membunuh atau setidaknya, melukai Ivan dengan parah, hingga dia tidak bisa lagi mengincar orang-orang yang disayanginya.
Arthur terus berlari sambil mengejar Ivan, tapi Ivan berlari cukup cepat, membuat Arthur kehilangan jejaknya. Arthur terus berlari, hingga akhirnya dia sampai di sebuah koridor yang kosong, atau menurut perasaan Arthur, terlihat kosong.
Di balik dinding, Ivan bersandar sambil mengatur napasnya. Tangannya menggenggam erat pistolnya sementara dia menajamkan telinga untuk mendengarkan derap langkah Arthur yang berjalan mendekati tempat persembunyiannya.
Sudah kuduga…Arthur memang tak bisa diremehkan, pikir Ivan. Refleksnya cepat, kemampuan bertarungnya pun lumayan…sulit sekali menumbangkannya. Ivan memejamkan matanya sejenak, dan begitu membuka matanya, bola mata violet itu dipenuhi dengan nafsu membunuh. Dia merogoh mantelnya dan mengeluarkan pisau-pisau yang disimpannya.
Kita selesai bermain-main, Arthur Kirkland. Sekarang waktunya pertarungan yang sesungguhnya…
Arthur berjalan di koridor itu dengan perasaan tidak enak, di samping lorong itu, terdapat banyak sekali ruangan-ruangan dengan pintu terbuka. Lorong itu luas, tapi pertarungan jarak dekat jelas akan merugikan kalau dilakukan di tempat seperti tempatnya berada sekarang ini, karena lorong ini memiliki banyak tempat untuk bersembunyi. Pertarungan jarak dekat tidak akan berguna karena Ivan…bisa menyergapnya dari mana saja. Entah di mana dia bersembunyi untuk menunggunya.
Arthur menghela napas. Jadi…dia menyuruhku untuk bertarung jarak jauh? Baik, kalau itu permintaanmu, Ivan…Arthur segera melenyapkan pedangnya dan mengsummon pistolnya. Dia mengokang pistolnya dan segera mengacungkan pistol itu ke hadapannya, bersiap untuk menembak jika diperlukan. "Mau sampai kapan kau bersembunyi, Ivan?" kata Arthur.
Dia mendengar suara tawa Ivan. "Kau bereaksi sesuai dengan harapanku, da…" kata Ivan, dan dalam sekejap Ivan langsung melesat keluar dari dinding di hadapan Arthur dengan pisau teracung dan dia langsung melemparkan pisau itu ke arah Arthur sambil menembakkan pistolnya kepada Arthur.
Arthur tersentak saat Ivan tiba-tiba saja muncul di hadapannya, apalagi pemuda Rusia itu tanpa basa-basi langsung melemparkan pisau dan menembakkan peluru padanya. Arthur menggigit bibirnya, sadar kalau dia harus menerima salah satu serangan Ivan, jika dia menghindari serangan pisau Ivan, peluru pistolnyalah yang akan disambut tubuhnya, dan begitu juga sebaliknya. Arthur pun membiarkan pisau yang dilemparkan Ivan menusuk lengannya sementara dia menghindari peluru yang ditembakkan Ivan dengan gesit.
Arthur menarik napas tajam saat dia mendengar suara peluru menghantam tembok. Dia mencabut pisau di lengannya dan merasakan darah mengalir di lengannya dan mewarnai kemejanya dengan warna merah. Dia menggenggam pisau itu dengan erat sementara dia mengacungkan pistolnya pada Ivan dan menembakkan pelurunya ke arah pemuda Rusia itu.
Ivan dengan segera menghindari peluru yang ditembakkan Arthur sambil kembali melemparkan dua buah pisau kepada Arthur, membuat pisau itu kembali menusuk lengan dan paha Arthur karena Arthur yang belum siap untuk menghadapi serangan Ivan.
Arthur tidak mempedulikan rasa sakit saat pisau itu menembus lengan dan pahanya, dia tetap menembakkan pistolnya kepada Ivan, yang tetap menghindari peluru-peluru itu dengan mudah dan balas menembak Arthur.
Arthur berlari memasuki sebuah ruangan di sebelahnya untuk menghindari terjangan peluru yang ditembakkan Ivan padanya. Begitu dia sudah memasuki ruangan itu, Arthur langsung menghela napas dan duduk di lantai keramik yang dingin. Dia terengah-engah mengatur napasnya, sementara tangannya tetap menggenggam erat pistolnya.
Ivan…kalau serius, dia memang hebat, sulit menang darinya. Dia bisa menghadapi tembakanku…Apa…yang harus kulakukan? Pikir Arthur.
"Hei, Arthur…" kata Ivan yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri. "Saat Matthew terbaring di rumah sakit, saat Feliciano kuambil di hadapanmu, saat Alfred hampir tewas di pelukanmu, apa…kau merasakan perasaan sakit, da? Apa…kau merasakan sakit….seperti yang kurasakan? Kau merasa kan, kalau kau itu sendirian?"
DEG!
Sendirian…
"Selama ini kau sendirian…dan akan selalu sendirian, Arthur…"
"Keluarga? Jangan membuatku tertawa, Arthur! Kau tidak pernah menganggapku kakakmu, kau lebih suka sendirian, kan?"
"Kadang-kadang kurasa kamu itu lebih suka sendirian, Arthur. Kau seperti…menolak kami, kakakmu sendiri…"
"Apa artinya 'sahabat' untukmu, kau itu akhirnya akan sendiri juga, Arthur Kirkland…"
"Lebih baik buang hal omong kosong bernama emosi dari dirimu, Angleterre. Kau hanya akan terluka saat kau sadar kau sendirian…"
"Arthur…apa kau tidak takut sendirian?"
"Kak Arthur, kenapa kau begitu tenang, bukankan sendirian itu…menakutkan, ve~"
"Aku butuh Norge di sampingku…karena aku takut sendirian. Bukankah…kau juga begitu Arthur?"
Wajah Arthur langsung pucat mendengar perkataan itu. Arthur membenamkan kepalanya di lututnya, mencoba menulikan telinganya dari suara-suara yang tidak ingin dia dengar, ataupun memori yang tidak ingin dia ingat. Ingatan-ingatan dan suara-suara dari masa lalu…
Dia takut…dia takut untuk mendengar dan mengingatnya.
Ya, dia tahu apa itu 'sendirian', tak perlu kakak-kakaknya, Francis, Feliciano, Norway dan Mathias untuk memberitahunya bagaimana menakutkannya sebuah 'kesendirian' itu. Dia tahu betapa sepinya, betapa sedih dan sakitnya sebuah 'kesendirian' itu. Dia tahu rasa dingin menusuk tulang yang sanggup membekukan darah bernama 'kesendirian' itu.
Karena dia tahu rasanyalah, dia tak mau lagi mengalaminya.
"Sendirian itu sakit, kan?" kata Ivan. "Membekukan tulang, menusuk hatimu. Kesepian yang dalam…akan memakan hatimu perlahan-lahan, hingga hatimu rusak tak berbentuk. Sakit itu tidak bisa diobati…dan yang paling menyakitkan…tak bisa dilupakan…"
Ya…karena tidak bisa dilupakan…dia tidak ingin merasakannya lagi setelah dia lepas dari 'kesendirian' itu. Dia tidak ingin…kehilangan sikap manja Feliciano dan Matthew, dia tidak mau kehilangan ejekan dan perbuatan jahil Mathias, Antonio dan Gilbert, dia tidak mau kehilangan perkataan tajam sinis dari Norway, dia tak mau kehilangan rasa cinta dari Alfred, dia tak mau kehilangan semua itu! Tidak mau!
Dia takut…dengan kegelapan hitam pekat yang dibawa oleh sesuatu bernama sepi itu…
"Semakin kau berusaha keluar dari kesepian…kau semakin menyadari kau sendirian. Lambat laun hanya ada keputusasaan, kesedihan, dan akhirnya…hanya ada kegilaan dan kegelapan…" kata Ivan. "Bahkan kematian pun tidak bisa menjamin kau akan selamat dari kesendirian, semakin hari sakitnya akan bertambah, dan…"
"HENTIKAN!" jerit Arthur sambil berlari keluar dari ruangan tempatnya bersembunyi. Tanpa pikir panjang, dia langsung berlari ke arah Ivan dan mengacungkan pistolnya tepat di depan Ivan, yang tentu saja bisa ditahan dengan mudah oleh Ivan. Ivan mencekal pergelangan tangan Arthur yang memegang pistol itu, membuat pemuda Inggris itu sama sekali tidak bisa bergerak.
"Itulah yang kurasakan saat kau membunuh Natalia dan Yao. Kau tahu betapa hancurnya hidupku saat melihat mayat mereka, da?" kata Ivan. "Kau tahu aku merasa aku sudah gila karena aku selalu mendengar suara mereka padahal aku tahu mereka sudah mati. Aku melihat sosok mereka…setiap hari. Apa kau tahu sakitnya saat kau sadar itu hanya ilusi? Sakit Arthur, sangat sakit rasanya, da" Ivan mengambil sebuah pistol dari sakunya dan mengarahkannya ke arah Arthur. "Untuk rasa sakit itu, kau harus membayarnya, da…"
DOR! DOR! DOR! DOR!
Empat tembakan itu menembus kaki Arthur. Mata hijau emerald pemuda Inggris itu membelalak saat merasakan panasnya timah itu menembus kakinya, darah segera mengalir dengan deras, mewarnai lantai yang dipijak Arthur dengan warna merah…
Timah panas itu menghilangkan kemampuannya untuk berdiri. Rasa sakit di kakinya terlalu parah, membuat kakinya lemas dan ambruk ke lantai, ditambah lagi dengan kemampuan peluru itu untuk memblokir kemampuan vampirenya, membuat dia tidak bisa menyembuhkan luka di kakinya itu. Arthur memandangi Ivan yang berdiri di hadapannya dengan pandangan bengis, pemuda Rusia itu menyimpan pistol yang tadi digunakannya untuk menembak kaki Arthur dan mengeluarkan sebuah pistol lain, mata Arthur langsung melebar begitu dia melihat pistol yang terarah padanya.
Pistol Bloody Rose, pistol khusus para hunter untuk memburu vampire level A atau S, peluru pistol itu 100 % menjanjikan kematian, peluru yang dimuntahkan pistol itu akan membuat tubuh vampire manapun menjadi abu.
Arthur menggigit bibirnya melihat pistol yang diarahkan ke kepalanya itu. Pistol yang tidak diragukan lagi, menyimpan peluru kematian…peluru yang tidak diragukan lagi akan mengakhiri hidupnya…
"Kita akhiri saja semua ini, Arthur…" kata Ivan. "Ucapkanlah selamat tinggal pada dunia ini, da…"
DOR!
Suara tembakan itu pun bergaung di tengah kegelapan malam…
Author note:
HOOORRREEE! Satu chapter lagi selesai~ -banggamode:ON-
Masalah Alfred, saya gak yakin sih apa ini mungkin (maklum, bukan anak kedokteran) tapi di manga-manga yang pernah saya baca, sepertinya orang yang jantungnya udah gak berdetak kalau dadanya dipukul dengan keras akan memberikan ransangan pada jantung dan membuat jantung kembali berdetak, tapi sekali lagi saya gak yakin ini benar atau nggak! Kalau ini salah, anggap aja rasa cinta Alfred pada Arthur begitu besar sehingga masih gak rela ninggalin Arthur untuk pergi ke dunia sana, makanya dia kembali hidup–PLAAKKK-
Dan, dan ampun~kalau Ivan dan Arthurnya OOC. Kesannya Arthurnya rapuh banget ya disini, tapi…kurasa Arthur itu memang rapuh, kok. Buktinya waktu ditinggal Alfred merdeka dia nangis-nangis gaje, jadi saya rasa sebenarnya Arthur memang takut sendirian dan ditinggalkan…meski mungkin soal Amerika itu, Arthur trauma soalnya itu anak sudah ditinggal merdeka sama Ireland sebelumnya…Ivan pun sama, kurasa Ivan juga tak suka sendirian dan ditinggalkan, maklum kan sejak uni soviet runtuh, kan semua negara di bawahnya memerdekakan diri, mereka jadi meninggalkan Ivan semuanya -soktaubanget-
Terus, pistol Bloody Rose yang dipakai Ivan itu adalah nama pistol Zero vampire knightnya Matsuri Hino. Aku suka banget, kesannya pistolnya jadi keren banget karena bernama begitu, hunter banget gitu…makanya kuambil…
Dan, so sorry banget kalau actionnya garing~ mengingat anak satu ini tak punya referensi fanfic indo action sehingga jadi gak bisa bikin action dan gak ngerti adegan action yang bagus itu gimana. Jadi actionnya asal bikin dan terkesan maksa dan abal ya~ HUAAA Maafff~
Ah, sudahlah segini aja curcol gaje saya! Adakah yang sudi untuk mereview hasil kerja abal author ini? Kalau ada harap tekan tombol review, dan berikan kesan kalian!
Sekian, jumpa lagi di chapter selanjutnya!
