Arthur menggigit bibirnya melihat pistol yang diarahkan ke kepalanya itu. Pistol yang tidak diragukan lagi, menyimpan peluru kematian…peluru yang tidak diragukan lagi akan mengakhiri hidupnya…

"Kita akhiri saja semua ini, Arthur…" kata Ivan. "Ucapkanlah selamat tinggal pada dunia ini, da…"

DOR!

Suara tembakan itu pun bergaung di tengah kegelapan malam…


Suara tembakan itu bergaung di tengah kegelapan malam, bagaikan jeritan malam, yang sangat memilukan hati siapa pun yang mendengarnya.

Clak…

Clak…

Tetes-tetes darah tertumpah di lantai marmer yang dingin. Tetes yang indah…tapi juga mengerikan. Tetes yang keji…karena menumpahkannya…berarti menghilangkan eksistensi seorang manusia…Tetes yang memberikan kehidupan, karena tanpanya tidak akan ada yang namanya hidup…

Siapa pun, makhluk apa pun…tak akan bisa hidup tanpa ada substansi merah itu mengalir di tubuh mereka…

Ivan dan Arthur terpaku di posisi mereka masing-masing. Tidak bergerak, seolah takut bahkan untuk sekedar melangkahkan kaki. Suasana di antara mereka begitu sunyi, hanya dipecahkan oleh sebuah suara benda yang jatuh terbanting di lantai marmer dan suara tetesan cairan merah pekat yang menetes pelan dari tangan Ivan.

Tetesan darah merah…yang menetes ke arah sebuah pistol hitam yang hancur berserakan, yang kini tergeletak di lantai marmer putih bening…bagaikan kaca. Perpaduan warna yang indah…sekaligus kejam…

Arthur dan Ivan segera berbalik ke arah suara tembakan itu terdengar. Mereka melihat sebuah pistol yang masih berasap, yang dipegang oleh tangan putih mungil yang terlihat bergetar. Tangan itu tersambung…ke tubuh seorang pemuda Italia berambut cokelat kemerahan yang bersandar di tembok di sampingnya dengan wajah pucat dan tatapan mata cemas pada kedua pemuda di hadapannya.

Feliciano…

"Fe…Feli?" gumam Ivan dan Arthur bersamaan dengan suara terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka kedatangan pemuda Italia itu. Apalagi Ivan, dia sama sekali tidak menyangka…kalau Feliciano bisa melepaskan rantai yang mengunci kakinya dan berlari hingga ke tempat mereka. Padahal kamar tempatnya menyekap Feliciano dan tempat mereka berada sekarang letaknya ujung ke ujung.

"Ba…bagaimana?" gumam Ivan. "Rantai yang mengunci kakimu adalah rantai khusus vampire! Kalau kau merusaknya secara paksa, itu akan berpengaruh ke tubuhmu, da!"

"Memang itu kenyataannya, ve~" gumam Feli sambil menjatuhkan pistol yang dipegangnya. Tangannya tergantung lemas, dan untuk pertama kalinya, Arthur dan Ivan bisa melihat keadaan pemuda Italia itu.

Terutama warna merah darah yang menghiasi celana jeans yang dipakainya.

"Merusak rantai itu benar-benar pekerjaan berat, ve~" gumam Feliciano sambil berjalan terseok-seok ke arah Arthur. "Akibat rantai itu, kakiku terluka cukup dalam, mungkin sampai melukai pembuluh darah vital…dan tidak bisa disembuhkan karena rantai itu menyegel kekuatan vampireku…"

Dia pun segera berdiri di antara Arthur dan Ivan yang masih terpaku memandangnya. Sebuah senyum manis masih tersungging di bibirnya, yang kini putih pucat bagaikan kertas.

"Kenapa…harus bersusah payah begitu, da?" tanya Ivan pada Feliciano. "Kenapa kau mau mengorbankan diri sebegitunya? Apa yang bisa kau dapatkan? Apa untungnya bagimu menyiksa diri seperti ini, da?"

Feliciano memejamkan matanya sejenak sebelum kembali memandang Ivan dan tersenyum sedih. "Dengan kedatanganku ke sini…kakak dan kak Arthur akan berhenti saling membunuh kan, ve~" katanya dengan pelan tapi terdengar sangat tegas.

"Atas dasar apa kau bisa mengatakan itu, Feli?" tanya Ivan dengan sorot mata beku yang dipenuhi kebengisan dan kekejaman. Dia segera merogoh kantong mantelnya dan menarik sebuah pistol lagi dari kantongnya. "Aku masih punya banyak senjata, yang bisa kugunakan untuk membunuh kalian berdua, da."

Arthur memandang pistol di tangan Ivan. Matanya langsung terbelalak lebar saat dia menyadari kalau pistol itu adalah pistol Bloody Rose yang lain.

"Feli, cepat lari dari sini!" seru Arthur. "Itu pistol Bloody rose! Dia tidak main-main untuk membunuh kita!"

"Ini peringatan terakhirku, da" kata Ivan sambil mengacungkan pistol itu ke arah Feliciano dan Arthur. "Minggir dari sana, Feli. Kalau tidak, aku tidak akan ragu untuk menembakmu juga, da."

Feliciano hanya terdiam, tidak membalas perkataan Ivan. Dia hanya memandangi Ivan dengan pandangan datar, meski ada kesedihan…tersamarkan di bola mata hazel itu.

"Feli!" seru Arthur sambil mencengkeram kemejanya. Dia tidak bisa membiarkan adik kesayangannya itu tewas begitu saja di hadapannya, apalagi karena melindunginya. Tapi luka di kakinya benar-benar membuatnya lumpuh, membuatnya tidak bisa berbuat apa pun selain memandangi punggung 'adik' di hadapannya itu.

Sebuah senyum manis tersungging di bibir Feliciano. "Tembak saja," katanya dengan mantap dan tegas pada Ivan.

Arthur dan Ivan langsung membeku mendengar jawaban yang begitu berani dari bibir pemuda Italia itu. Dalam mimpi sekalipun, mereka tidak menyangka kalau jawaban itu yang akan dilontarkan oleh Feliciano.

"Aku tidak akan menginjinkanmu membunuh kak Arthur, kak Ivan," kata Feliciano dengan tenang, meski tubuhnya gemetar, entah karena sedih atau takut. "Tidak akan kubiarkan. Kalau kehilangan nyawa adalah harga yang harus diberikan untuk itu, akan kuberikan nyawaku ini dengan senang hati."

Ivan hanya berdiri terpaku di tempat. Tangannya yang masih mengacungkan pistol ke arah Feliciano hanya terpaku.

"Ada banyak cara lain yang bisa kalian lakukan tanpa harus membunuh, ve~," kata Feliciano. "Membunuh malah tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan membebanimu…dan menyeretmu ke dalam kegelapan, kak Ivan!"

"Lalu kenapa?" kata Ivan. "Aku sudah berada di kegelapan sejak Natalia dan Yao tewas, da."

"Aku tahu itu!" seru Feliciano. "Karena itu aku tak mau kak Ivan dan kak Arthur menambah kegelapan itu! Tak ada hal yang lebih menakutkan…selain tenggelam dalam kegelapan tanpa ada cahaya yang membimbingmu untuk keluar!"

Ivan dan Arthur hanya terdiam.

"Nyawa yang sudah hilang…tak bisa kembali. Tapi…kita bisa merasakannya, kak Ivan, kak Arthur," kata Feliciano pelan. "Mereka bisa menghantui kita, membuat kita menderita setiap harinya. Karena itu membunuh tidak akan menyelesaikan apa pun! Tidak ada gunanya! Hanya akan menyakiti diri sendiri! Kakak sudah terus-menerus dihantui oleh kak Natalia, kak Yao, dan semua korban kakak sebagai hunter! Jangan tambah sosok-sosok yang menghantui kakak kalau itu bisa dicegah!"

"Aku…aku tidak peduli, da!" seru Ivan histeris. "Sejak kehilangan Yao dan Natalia, aku kehilangan alasan untuk hidup! Aku ingin mereka kembali! Aku ingin bersama mereka! Aku ingin dendam mereka terbalaskan, da!" Dia kembali mengacungkan pistolnya ke arah Feliciano. "Karena itu minggir! Biarkan aku menyelesaikan semuanya, da!"

"Aku tak akan membiarkannya," kata Feli dengan tegas. "Langkahi dulu mayatku kalau kakak mau membunuh kak Arthur! Aku tidak akan membiarkan kak Ivan menjadi pembunuh, terutama kak Arthur!"

"Akan kulakukan dengan senang hati, da" kata Ivan sambil mengokang pistolnya dan bersiap menarik pelatuk.

"Feli!" seru Arthur panik mendengar suara kokangan pistol itu.

Saat itu Feliciano memandang Ivan dengan tatapan berbeda. Tatapan yang langsung membuat Ivan membeku.

Tatapan bola mata hazel itu dingin, tapi kehangatan dan kebaikan…terlihat di sana. Kepedulian yang besar dan kebengisan yang dingin…hanya itu yang terlihat jelas di mata itu.

Pandangan yang mirip…dengan Natalia dan Yao. Pandangan yang sangat disukainya…dari dua orang kesayangannya itu.

Ivan menggigit bibirnya. Tidak, dia tidak bisa….Pemuda Italia di hadapannya ini adalah satu-satunya vampire yang tak bisa dia bunuh. Meski sebentar, hanya dalam pertemuan sesaat, beberapa menit yang terlihat tak berarti di kamar itu, mengubah segalanya…. Kehangatan pemuda itu…tanpa sadar menumbuhkan rasa sayang pada Feliciano. Karena hanya Feliciano yang mau percaya padanya, mempedulikannya, dan tidak menyalahkannya.

Saat vampire dan orang lain menganggapnya orang jahat dan kejam, orang yang haus darah dan hidup hanya untuk balas dendam, Feliciano tetap percaya kalau ada kebaikan di hati pemuda Rusia itu. Dia tidak menutup mata atas perasaan sakit yang dirasakan Ivan, dan tidak menyalahkannya dengan buta atas semua hal yang telah dilakukannya. Dia mencoba mengerti alasan yang mendasari tindakan pemuda Rusia itu, dan tidak menghakiminya seenaknya. Bagaikan api unggun kecil di gunung es…perlahan tapi pasti, kehangatan pemuda itu mencairkan hatinya yang beku. Rasa sayang pada pemuda Italia itu mencegahnya…untuk menumpahkan darah pemuda Italia itu walau hanya sedikit. Hatinya…tidak mengijinkannya untuk membunuh Feliciano

Karena rasa sayang itu tidak bisa dia abaikan. Mengabaikan rasa sayang itu…sama saja kehilangan hatinya. Dan saat kau kehilangan hati…maka kau tidak ada bedanya dengan iblis…yang hidup hanya demi nafsu dan harga diri.

Dan dia tidak mau hidup seperti itu. Dia ingin hidup sebagai manusia, dan kalaupun dia mati…dia ingin mati sebagai manusia. Seseorang yang memiliki hati…dan emosi…yang membuatmu tergerak untuk melakukan sesuatu…

Ivan segera menembakkan pistolnya ke arah tembok di sampingnya, melubangi tembok beton di sampingnya dengan sukses. Dia memandang Feliciano dan Arthur dengan tatapan kosong dan segera menyimpan pistolnya.

"Hari ini kalian beruntung, akan kulepaskan kalian, da" kata Ivan sambil berbalik. "Tapi lain kali, akan kubunuh kalian." Dia pun segera berjalan pergi dan tidak lama kemudian menghilang dalam kegelapan lorong rumahnya.

Feliciano memandang Ivan dengan tatapan sedih sejenak sebelum menghela napas dan berbalik ke arah Arthur. Dia segera mengulurkan tangan pada Arthur untuk membantunya berdiri. "Ayo…kak Arthur. Kita sudah aman. Tidak akan ada lagi yang mati hari ini, ve~. Untuk sementara, semuanya sudah selesai…"

Arthur hanya terdiam sebelum menyambut tangan Feliciano dan berdiri. Dia segera bersandar di bahu Feliciano saat mereka berdua berjalan terseok-seok ke tempat Gilbert dan Antonio yang masih menunggu mereka.


Antonio dan Gilbert duduk bersandar di tembok beton rumah Ivan. Setelah berusaha menghancurkan tabir pelindung yang dibuat Arthur (yang toh hasilnya gagal), mereka akhirnya memutuskan untuk menunggu hingga Arthur kembali, meski…tentu tidak dengan perasaan cerah ceria.

Seandainya keadaannya tidak seburuk ini, seandainya mereka tidak tahu kalau Ivan adalah seorang vampire hunter, seandainya mereka tidak tahu kalau Alfred nyaris tewas di tangan Ivan, seandainya mereka tidak tahu kalau Ivan begitu sadis, seandainya Feliciano tidak ada di tangan Ivan, mungkin mereka bisa berkata dengan santai dan meyakinkan diri mereka kalau semua ini akan berakhir bahagia. Mereka bisa percaya kalau mereka bisa kembali ke rumah mereka, bertemu kekasih mereka, dan hidup bahagia selamanya…

Tapi mereka sadar, hidup mereka bukan cerita dongeng. Tidak ada yang sempurna di hidup mereka, kalaupun ada, kesempurnaan itu tidak akan berlangsung selamanya. Akan ada badai yang menerpa yang akan menhancurkan atap kesempurnaan tempat mereka bernaung itu.

Antonio menghela napas lelah dan menyandarkan kepalanya di bahu Gilbert yang duduk di sebelahnya. Gilbert hanya melirik Antonio sekilas tanpa mengatakan apa-apa.

"Hei, Gil…" gumam Antonio sambil memejamkan matanya sejenak sebelum kembali membukanya, memperlihatkan bola mata hijau emerald yang dibayang-bayangi dengan kelelahan dan kegalauan.

"Hmm…" gumam Gilbert pelan pada sahabatnya yang duduk di sampingnya itu.

"Apa ini nyata? Semua kejadian dengan Ivan ini…apa ini nyata?" gumam Antonio pelan. "Atau ini kenyataan dan kebahagiaanku bersama Lovino dan Feli itu yang mimpi?"

Gilbert segera memandang sahabatnya itu dengan pandangan terkejut. Selama ini Antonio dikenal sebagai anak ceria dan optimis. Pemuda Spanyol itu selalu berpandangan positif pada kejadian buruk yang terjadi padanya atau orang lain. Melihatnya menyerah dan memandang negatif dunia sampai seperti itu…sungguh sangat menyakitkan, karena itu berarti…selama ini dia memaksakan diri tersenyum dan tertawa hingga akhirnya dia sudah tidak bisa bertahan lagi.

"Rasanya sejak semua ini terjadi, duniaku jungkir balik. Aku menjadi vampire dan kehilangan Lovi, menemukannya lagi dan bisa kembali bersamanya, lalu mengetahui kalau Feli adalah vampire, sama seperti kita, hidup di kegelapan seperti kita. Begitu aku bisa menerimanya, Ivan datang mengincar Alfred, lalu…kejadian Alfred diculik, dan sekarang Feli ikut diculik…Rasanya Ivan bukan hanya menyiksa Arthur, Gil! Dia juga menyiksaku!" seru Antonio keras. "Aku menyayangi Feli, Gil…seandainya terjadi sesuatu padanya…"

Gilbert mengalungkan lengannya di bahu Antonio dan menariknya mendekat. Tangannya segera menuju rambut cokelat ikal Antonio dan mengusapnya pelan. "Kita semua menyayangi Feli, Antonio. Aku yang awesome ini juga begitu…Tapi, kini tidak ada yang bisa kita lakukan…selain percaya…dan menunggu…meski itu hal gak awesome…hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang…" gumam Gilbert pelan.

"Tapi…dia…akan selamat, kan?" gumam Antonio pelan. "Dia tidak akan sekarat seperti Alfred, kan? Feli akan baik-baik saja, kan?"

"Aku yakin Feli akan baik-baik saja, dengan sangat awesome, Antonio" kata Gilbert sambil tersenyum. "Lagipula dia vampire yang awesome, bukan manusia biasa seperti Alfred. Dia lebih kuat…dia pasti tidak akan apa-apa." Dia kembali mengusap rambut Antonio pelan. "Percaya padanya dan Arthur, dan pasti Feli akan kembali pada kita sambil tersenyum awesome seperti biasanya…"

Antonio hanya terdiam sejenak sebelum sebuah senyum tersungging di bibirnya. "Ya…" katanya sambil tersenyum. "Kau benar."

Tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki berjalan mendekati mereka. Mereka segera menggenggam senjata mereka dengan waspada sebelum hidung mereka mencium aroma tubuh yang mendekati mereka.

Bau tubuh Arthur dan Feliciano…meski ada bau darah yang mengikuti, tapi bau tubuh yang mendatangi mereka jelas bau Feliciano dan Arthur.

Tidak lama kemudian, mereka melihat Arthur dan Feliciano berjalan terseok-seok ke arah mereka berdua. Kaki mereka berlumur darah, mewarnai celana jeans mereka dengan warna merah pekat. Begitu melihat Antonio dan Gilbert, Feliciano segera melambai pada kedua 'kakak'nya itu.

"Kak Gilbert! Kak Antonio, ve~" katanya dengan riang, tidak lupa dengan senyum manisnya tentunya, meski wajah dan bibirnya yang pucat mengatakan lain soal kondisinya.

"FELI!" seru keduanya dengan nada cemas sambil bangkit berdiri dan menyambut 'adik' mereka itu. Begitu Arthur melenyapkan tabir penghalang yang membatasi Gilbert dan Antonio, keduanya langsung berlari mendatangi keduanya.

"Kau tidak apa-apa, Feli? Kakimu…" tanya Antonio dengan cemas sambil memandangi keadaan 'adik'nya itu. Dia hanya memandang ngeri pada warna merah yang mengotori kaki adiknya itu.

"Ya" kata Feliciano sambil tetap tersenyum manis. "Hanya luka kecil. Setelah efek rantai vampire yang dipasang kak Ivan padaku lenyap, aku bisa menggunakan kekuatanku untuk menyembuhkan luka ini." Dia segera menyandarkan kepalanya di bahu Antonio. "Hanya perlu istirahat sebentar, ve~"

Arthur mengusap rambutnya dan berjalan ke samping Feliciano dengan lambat. "Ayo pergi, kita sudah tidak ada urusan lagi di sini. Alfred sudah dibawa Mathias ke rumah sakit, Feli juga sudah kita selamatkan."

"Bagaimana dengan Ivan yang gak awesome itu?" tanya Gilbert.

Arthur dan Feliciano saling berpandangan sejenak sebelum Arthur menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Dia pergi…melepaskan kami berdua. Tapi dia bilang kalau bertemu lagi…dia akan membunuh kita." Dia menghela napas. "Tapi setidaknya hari ini kita aman. Jadi lebih baik kita istirahat…untuk menyebuhkan luka ini."

Gilbert dan Antonio menatap curiga ke arah kedua pemuda di hadapan mereka itu sebelum memutuskan untuk mengabaikan saja. Apa pun alasan Ivan melepaskan Arthur, kali ini keduanya terluka cukup parah. Bertarung pun…situasi ini tidak menguntungkan mereka. Kali ini mereka hanya bisa mundur, dan menanti serangan selanjutnya, kalau memang ada.

Antonio hanya menghela napas dan menyampirkan lengan Feliciano di bahunya dan membantu pemuda Italia itu berjalan. "Kalau begitu, ayo pergi. Sebelum Ivan mengubah pikirannya dan kembali memburu kita," katanya pelan. Dia segera melangkahkan kakinya sambil memapah Feliciano, diikuti oleh Gilbert yang melakukan hal yang sama dengan Arthur.

Mereka bertiga pun berjalan keluar menuju udara dingin malam yang menusuk, meninggalkan rumah besar mewah yang terlihat sendu dan sepi. Rumah besar penuh kenangan buruk…juga rumah yang menjadi saksi bisu…atas tumpahnya darah merah yang berceceran di dalamnya…


Arthur memandangi ranjang di hadapannya. Pandangannya terlihat begitu sedih dan kosong. Ranjang putih rumah sakit…dengan orang yang sangat disayanginya terbaring di atasnya.

Alfred…

Ya, setelah mereka berhasil keluar dari rumah Ivan dengan selamat, mereka segera menuju rumah sakit, untuk melihat keadaan Alfred dan mengobati luka mereka. Mereka berempat langsung disambut Mathias yang langsung panik melihat keadaan Feliciano dan Arthur yang hancur-hancuran. Setelah selesai, Arthur memutuskan untuk melihat keadaan Alfred sementara Mathias dan yang lainnya pergi mencari hotel untuk beristirahat dan berjanji akan datang lagi keesokan harinya.

Arthur menghela napas dan memejamkan matanya sejenak, sebelum kembali membukanya dan memandang pemuda Amerika di hadapannya itu. Begitu manis…bagaikan malaikat yang sedang tertidur lelap, lelah setelah perjalanan panjang mengarungi langit. Mungkin Arthur pun akan sekedar menganggap pemuda Amerika itu tertidur lelap, jikasaja tidak ada perban-perban di tubuhnya dan selang-selang yang terhubung ke berbagai peralatan kedokteran rumit di sekitarnya.

Ya…dia tetap malaikat yang sedang tertidur lelap, hanya saja alih-alih tertidur menuju dunia mimpi, pemuda di hadapannya itu berjalan ke dunia sana…dan mungkin…tidak akan membuka matanya lagi.

Arthur pun perlahan-lahan mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Alfred yang terkulai lemas di samping tubuhnya. Tangan itu begitu dingin dan pucat, seakan tak ada darah di sana. Tangan itu begitu pucat, seperti tangannya sendiri. Bahkan untuk sesaat, Arthur tak bisa membedakan, mana tangannya dan mana tangan Alfred. Sedikitpun, tak ada warna yang membedakan dan memisahkan tangan mereka, begitu serupa…begitu mati…

Arthur menyandarkan kepalanya di samping lengan Alfred sambil tetap menggenggam tangan pemuda Amerika itu dengan erat. Sekali-kali tangannya bergerak untuk mengusap telapak tangan pemuda Amerika itu, seolah ingin memastikan…kalau tangan yang berada di genggamannya itu nyata.

"Maaf…" gumam Arthur pelan pada Alfred yang masih saja tidak sadarkan diri. "Maafkan aku…"

Dia pun membawa tangan Alfred ke bibirnya dan mengecup tangan itu lembut. Ciuman itu begitu lembut, penuh rasa sayang…. Siapa pun yang melihat adegan itu tidak akan menyangkal…banyaknya rasa sayang dan cinta yang terkandung di dalam ciuman itu.

"Maafkan aku…gara-gara aku…" Arthur mengeluarkan suara seperti orang tercekik. "Gara-gara aku…kau terluka begini. Dipikir lagi, semua itu karena aku, Matthew, Feli, kau…semuanya terluka karena aku. Aku yang menumpahkan darah kalian. Selama ini, aku tak pernah mempedulikannya, tapi…" Tanpa bisa ditahan, air mata menetes dari bola mata hijau emerald itu ke seprai putih rumah sakit. "Tapi saat melihatmu seperti ini…"

"…Aku jadi berpikir kalau aku ini memang monster…" gumam Arthur pelan. "Tidak hanya membunuh orang tak berdosa untuk bertahan hidup demi setetes darah…tapi aku juga menyebabkan orang-orang yang kusayangi terluka…Aku ini tidak berguna…bahkan untuk sekedar melindungi orang yang berharga untukku…"

Arthur terus menangis sambil menundukkan kepalanya. Dia begitu larut dalam kesedihannya, hingga dia tidak menyadari tangan Alfred yang sedikit bergerak di genggamannya dan mata biru sapphire yang perlahan-lahan terbuka untuk memandangnya. Dia baru menyadari kalau Alfred bangun saat ada tangan yang terulur dengan lemah untuk menghapus air matanya yang masih mengalir itu.

Arthur segera mendongakkan kepalanya begitu dia merasakan ada tangan yang menghapus air matanya. Segera setelah dia mengangkat kepalanya, dia bertemu pandang dengan wajah Alfred yang memandang cemas padanya. Hijau emerald berpandangan dengan biru sapphire…yang sangat disukainya.

"A…Al…fred…" gumam Arthur pelan, seolah takut, kalau ini hanya mimpi dan begitu dia membuka mata, Alfred kembali tertidur dan tidak sadarkan diri di hadapannya.

Alfred terdiam sejenak sebelum sebuah senyum manis tersungging di bibirnya. "Hei…Arthur…" katanya pelan.

Arthur terpaku sejenak mendengar suara itu. Suara itu…suara itu…benar-benar Alfred! Oh, betapa dia merindukan suara itu! Dia merindukannya…telinganya sungguh bahagia mendengar suara lembut yang hangat itu. Tanpa bisa dicegah, Arthur segera membenamkan wajahnya di dada Alfred dan menangis terisak pelan. Alfred tertegun sejenak sebelum meletakkannya di kepala Arthur dengan pelan dan menepuk-nepuk kepala itu dengan lembut.

"Iggy, jangan nangis, dong…Iggy kan bukan anak-anak lagi…" kata Alfred berusaha sebisa mungkin menenangkan Arthur.

"Kupikir…" Arthur mencengkeram selimut yang menutupi tubuh Alfred dengan erat. "Kupikir…aku tidak bisa menyelamatkanmu. Kupikir kau tewas…dan meninggalkanku….sendirian…" kata Arthur pelan. "Aku takut…kau meninggalkanku…dan tidak kembali lagi…"

Ucapan Arthur membuat Alfred terdiam. Dia tidak pernah menyangka kalau Arthur begitu takut kehilangannya. Selama ini Arthur adalah sosok yang begitu dingin dan angkuh. Meski dia menyatakan, baik dari perkataan dan tindakan, kalau dia mencintai Alfred, tak sekalipun Alfred tahu…sedalam apa arti dirinya bagi pemuda Inggris itu. Bagaikan mencoba mengukur kedalaman sungai yang dia tak kenal, dia hanya samar-samar merasakan perasaan cinta Arthur, tak tahu seberapa besar pemuda itu mencintainya.. Bahkan dia sempat ragu…apa benar Arthur mencintainya, bukan sekedar menyukainya atau menyayanginya. Dia tak bisa melihat apakah dia istimewa bagi Arthur, melebihi Feliciano atau Mathias, yang menempati hati Arthur lebih dulu darinya. Dia bagaikan terombang-ambing di laut gelap bernama 'hati Arthur' tanpa ada penanda apa pun untuk membimbingnya ke tepian, tempat cinta Arthur menantinya…

Karena itu mengetahui kalau Arthur mencintainya sedalam itu…memberikan perasaan hangat bagi Alfred. Dia sangat bahagia…mengetahui kalau Arthur mencintainya…sungguh-sungguh mencintainya…

Karena tidak ada hal yang lebih membahagiakan di dunia ini selain mengetahui kalau orang yang sangat kau cintai membalas perasaanmu…dengan tingkatan yang sama. Mengetahui kalau orang yang kau cintai juga mencintaimu…hingga tahap takut kehilanganmu…bukankah itu tanda kalau kau adalah segalanya untuknya? Sesuatu yang tidak akan dia lepaskan apa pun yang terjadi? Dia tidak akan meninggalkanmu…tidak juga berpaling darimu. Tanpa kata-kata, terpatri janji di sana, janji bahwa kalian akan bersama selamanya.

Adakah perasaan yang lebih membahagiakan dari itu?

Alfred langsung tersenyum dan meraih tangan Arthur dengan lembut, kemudian dia meletakkan jari tangannya yang lain di dagu Arthur, membuat pemuda Inggris itu memandangnya. Mata hijau emerald memandang sedih pada biru emerald yang terlihat hangat dan lembut.

"Arthur…" gumam Alfred pelan. "Aku…minta maaf…"

Arthur memandang kekasihnya itu dengan tatapan bingung. "Minta maaf? Kenapa kau harus minta maaf?" gumam Arthur. "Kalau ada yang harus minta maaf, itu aku! Aku yang menyeretmu dalam bahaya, aku yang melukaimu, aku yang membuatmu nyaris tewas, aku yang—". Ucapan itu pun terputus, terbungkam oleh cumbuan bibir merah sensual hangat yang kontras dengan bibir tipis dingin yang dicumbunya.

Arthur hanya bisa terdiam saat merasakan bibir pemuda Amerika itu bersatu dengan bibirnya. Ciuman itu begitu hangat, begitu lembut, benar-benar seperti…Alfred. Dia perlahan-lahan memejamkan matanya, lebur dalam ciuman itu. Dia ingin tenggelam dalam ciuman itu, membiarkan tubuh dan bibirnya mengingat dan menginginkan ciuman itu…selamanya…. Kalau dia boleh meminta sesuatu pada Tuhan, dia akan meminta agar Tuhan membiarkan dirinya tenggelam dalam cinta yang terkandung di ciuman itu…karena itulah harapannya yang terdalam…

Setelah beberapa menit, Alfred melepaskan ciuman itu dan memandang Arthur dengan pandangan lembut. Matanya begitu jernih dan hangat, tidak ada dendam ataupun kemarahan di sana, sejauh Arthur bisa memandang, hanya ada kehangatan…dan cinta…

"Arthur," gumam Alfred pelan. "Aku…tidak akan menyalahkanmu. Kau tidak salah, semuanya…itu karena kecerobohanku sendiri. Aku yang menyerahkan diriku pada Ivan. Aku yang menyerangmu duluan, aku yang melukaimu. Akulah yang memulai semuanya lebih dulu. Kau hanya berusaha menolongku, menyelamatkanku…" Dia menangkup wajah Arthur di tangannya dan tersenyum. "Karena itu tidak ada yang salah dengan perbuatanmu."

Arthur hanya terdiam mendengar perkataan Alfred sebelum akhirnya dia tidak bisa bertahan lagi dan tangisnya meledak. Dia segera melemparkan diri ke arah Alfred dan membenamkan dirinya ke dada kekasihnya itu. Tubuhnya terguncang pelan karena isak tangis. Alfred hanya tersenyum, sambil mengusap-usap punggung kekasihnya itu.

"Aku…tidak akan meninggalkanmu sendirian, Iggy. Meski berkali-kali terluka dan nyaris mati, aku tidak akan meninggalkan, Iggy. Sepanjang aku hidup…aku akan selalu ada di sisi Iggy, mencintaimu…selamanya…" bisik Alfred di telinga kekasihnya itu. "Percaya padaku, Iggy…"

Arthur hanya menganggukkan kepalanya sambil tetap terisak pelan. Kedua pasangan kekasih itu pun terbenam dalam kelembutan dan kehangatan cinta mereka, ditemani satu sama lain, dalam perasaan aman dan nyaman.

Tanpa sekalipun menyadari sepasang bola mata berwarna hazel yang mengamati mereka berdua di balik pintu kamar rumah sakit sambil tersenyum…


Feliciano menggelengkan kepala sambil tersenyum saat dia menutup pintu kamar Alfred yang dibukanya sedikit itu dengan pelan, agar tidak mengganggu dua orang di dalam.

Tadinya dia ke rumah sakit untuk menggantikan Arthur menjaga Alfred sekaligus menyuruh Arthur beristirahat sejenak. Tapi melihat kehangatan tadi…Feliciano berpikir lebih baik membiarkan mereka berdua sebentar, bagaimanapun mereka berdua sudah terlalu banyak menderita…biarlah kali ini mereka mengecap kebahagiaan yang tersedia untuk mereka.

Dia pun mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan dini hari kota Moscow itu, begitu indah, dengan berbagai lampu-lampu gedung berserakan di bawahnya (letak kamar Alfred memang ada di lantai atas) yang berpadu dengan langit malam, bagaikan permata berbagai warna yang terserak di kain beludru hitam pekat, yang menjanjikan keindahan dan kecantikan…Begitu damai…dan tenang.

Tapi dia tahu kalau kedamaian ini hanya ketenangan sebelum badai.

Feliciano menghela napas sambil berjalan ke arah jendela besar di ujung ruang tunggu dan menempelkan tangannya di sana. Dingin kaca menyapa tangannya…juga hatinya. Dingin…bagaikan hati manusia yang membeku.

Ivan masih berkeliaran di luar sana. Tidak ada jaminan, Ivan akan menghentikan usahanya membunuh Arthur. Mungkin Ivan tidak bisa membunuhnya (sesuatu yang sebenarnya patut dia banggakan, mengingat dia dan Ivan hanya bertemu beberapa menit saja), tapi bukan berarti dia tidak bisa membunuh semua vampire lain. Mathias, Antonio, Gilbert, Arthur, mereka semua akan jadi target Ivan seandainya pemuda itu menginginkannya. Kemampuan Ivan setara dengan Mathias dan Arthur, hanya dalam sekejap, dia bisa saja membunuh keempatnya…dan kemungkinan besar kali ini…tidak akan ada lagi yang namanya belas kasih.

Feliciano memejamkan matanya sejenak sebelum kembali membukanya, dan tatapannya langsung berubah menjadi tatapan tajam penuh tekad. Seolah telah menemukan tujuan hidup…alasan untuk pergi bertarung…dan mempertaruhkan nyawanya.

Tidak, tidak akan dia biarkan Ivan membunuh lagi. Meski hanya sekejap, Feliciano bisa melihatnya, melihat sakit hati dan kesedihan di balik mata violet dingin itu. Dingin es itu tidak bisa menyamarkan rasa sakit hati di balik mata violet itu. Mata hazelnya melihat dengan jelas semua sakit itu…membuat Feli tidak bisa melihat Ivan sebagai seorang hunter pembunuh keji yang hobi menumpahkan darah dan menyiksa orang lain.

Di matanya Ivan seperti anak kecil…yang ketakutan menghadapi dunianya setelah kehilangan orang tuanya…dan berusaha sebisanya bergantung pada tangan orang lain yang terulur padanya. Hanya saja, tidak ada tangan yang terulur padanya dengan tulus, semua tangan itu melepaskan anak kecil itu di tengah jalan dan kembali meninggalkannya di tengah salju yang dingin, membuat anak kecil itu akhirnya diam di tempat, tidak melakukan apa pun…selain berdiri diam menunggu orang tuanya menjemputnya dan membawanya pergi bersama-sama atau hingga dia mati beku di tengah salju.

Dia tidak bisa menyalahkan siapa pun, karena semuanya punya alasan sendiri untuk melakukan sesuatu. Arthur dan Ivan memiliki alasan untuk membela perbuatan mereka. Alasan itu membuat mereka menorehkan kesedihan, tapi…semua itu demi kebenaran yang mereka anggap benar. Tapi, sudah cukup, bagi Feliciano, semua ini sudah cukup.

Semua ini…kesedihan ini…harus dihentikan. Dia harus bisa membuat Ivan melupakan kesedihan dan dendamnya, kembali menggerakkan waktunya yang beku, dan membuatnya mau meneruskan hidup. Pertarungan ini harus dihentikan…sebelum semakin banyak orang yang menangis dan terluka…

Feliciano pun mengedarkan pandang sejenak ke arah kamar Alfred sebelum berjalan keluar dari rumah sakit dan menuju suatu tempat. Tempat dia harus menyelesaikan semuanya, membiarkan lembaran kesedihan berdarah ini menuju akhir dan tertutup untuk selamanya.

Suatu tempat yang dia yakini…menjadi tempat Ivan berada kini. Tempat dia bisa bertemu Ivan…untuk menyelesaikan semuanya…


Author note:

YES! Setelah berbulan-bulan, akhirnya chapter selanjutnya selesai! dan hasilnya...hancur seperti biasanya! -digebuk-

Dan akhirnya…UJIAN SELESAAAIII! Setelah dua minggu berkurung diri di kamar kos, belajar bertumpuk-tumpuk kertas presentasi, nulis sana nulis sini, baca buku ini itu, ngerjain makalah ini itu, akhirnya selesaiiii~. Akhirnya libur~bahagia sekali. Bisa kembali nulis lagi….-OOTkambuh-

Oke, kalau kalian semua ngerasa kalau hubungan Feliciano ama Ivan itu terlalu…dekat, sampai bisa dikategorikan hint RussiaxxN. Italy, sumpah, aku minta maaf~ -sembahsujud-. Sumpah, gak ada niat bikin pairing crack, kok. Hanya saja, aku rasa di antara kelima vampire itu, yang sedikitnya punya hati buat menempuh jalan damai sama Ivan, ya…Cuma Feli. Karena itu wajar, kalau satu-satunya yang bisa berbicara dengan damai sama Ivan tanpa ada darah sedikitpun ya…Cuma Feli.

Menurutku dari sisi Feli, dia itu sendiri orangnya perhatian, baik hati, dan care sama orang lain. Menurutku, wajar kan kalau dia setidaknya tidak seenaknya menghakimi orang sesuai dengan yang terlihat dan melihat lebih kepada alasan kenapa dia melakukannya? Karena itu menurutku wajar kalau setidaknya Feli memperhatikan Ivan, karena di mata dia, ya…Ivan itu sendiri gak salah. Sekejam apa pun perbuatan Ivan, ada alasan yang dia anggap benar, meski di mata orang lain salah. Karena itu…menurutku setidaknya Feli gak bakal berlaku keras pada Ivan.

Dan dari sisi Ivan sendiri…menurutku juga wajar kalau kamu setidaknya peduli dan berterima kasih sama seseorang kalau kamu selama ini dianggap orang jahat, tiba-tiba ada orang yang menganggap kamu baik, kan? Jadi kurasa…setidaknya Ivan merasa berterima kasih dengan perhatian dan kepercayaan Feliciano padanya, dan itu membuatnya sedikit toleran sama Feliciano. Tapi sekali lagi, itu hanya pandangan dan pendapatku, ya…jadi sekali lagi maaf kalo ada yang ngerasa karakter mereka berdua sudah kebangetan banget…OOCnya –digiles-

Jadi maaf ya…kalau kesannya interaksi mereka itu sedikit…berlebihan dekatnya. Sekali lagi saya katakan, saya gak bermaksud bikin pairing crack! Hubungan mereka berdua cuma sebatas sesama orang yang saling mengerti dan perhatian, gak lebih (setidaknya menurut saya sih…gak ada unsur romance sedikitpun dalam hubungan mereka…-digebuk-).

Dan masalah karakter, saya udah angkat tangan untuk masalah keOOCannya. Saya kira, kalau saya masukkan karakter asli mereka, sungguh tidak mendukung alur fic saya ini, jadi ya…menyesuaikan dengan situasi dan kondisi…keOOCan mau tidak mau harus terjadi! –dikemplang-. bahasanya, saya menyesuaikan karakter tokoh dengan plot cerita, bukan plot cerita dengan karakter.

Baiklah, mohon maaf untuk keOOC an dan kehancuran-kehancuran lain yang menyertai pembuatan chapter ini. dan kalau ada yang ngerasa keberatan dan mau protes, sangat dipersilakan di kolom review…maklum, saya juga ngerasa kok, tiap chapter, kayaknya saya semakin hancur-hancuran…mungkin galau ujian masih berpengaruh… –bisik-bisik-

Baiklah, seperti biasanya, para readers dimohon reviewnya, ya. Maaf karena saya masih belum bisa balas review kalian kemarin-kemarin, ya…-digebuk-

Oke, sekian para readers sekalian…