Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Herbivor follower © Shinkerbell

ALTERNATE UNIVERSE, OOC, JAYUS MAY BE

PAIR :

SASUSAKU lah, gak mungkin SESUKAKU

Cerita ini hanya untuk kepentingan hiburan dan humor semata, apabila ada bahasa tidak baku, EYD hancur, serta kemiripan tokoh, tempat, tanggal lahir, jenis kelamin, muka dan sejenisnya gak usah heran. XDXD

~Herbivor Follower~

"Sasuke ini Hakama-mu, cepat pakai!" Perintah Mikoto.

"Tidak mau, walau dibayar pake sekarung cabe yang lagi mahal di pasaran pun, aku tidak mau memakainya!"

Sasuke ngibrit menghindari Mikoto ke pojok kamar. Aduh, Sasuke itu sebenarnya bego atau tolol sih? masa lari ke pojokan? gak berkutik lah.

"Apa sih ribut-ribut?" Itachi masuk ke atas panggung (?)

"Ini loh chi, masa adikmu tidak mau pakai Hakama yang ibu belikan khusus dari Iwa"

Itachi melihat dengan seksama benda yang ibunya maksud dengan 'hakama'. Itachi sweatdrop, ia melangkah mendekati Mikoto dan membisikan sesuatu.

"Ibuku sayang, pantes aja otouto ku tidak mau. Itu bukan Hakama, tapi kimono untuk orang MATI!. Itachi memberi penekanan pada kata mati di telinga ibunya.

Mikoto ngangguk-ngangguk paham, dia cuma bisa nyengir sama Itachi dan Sasuke. Oh yeah, ternyata seorang Uchiha Mikoto berhasil ditipu oleh penjual pakaian di Iwagakure yang mana dia memiliki ciri-ciri berkacamata bulat dan berambut putih diikat satu. Dari perawakannya Fugaku mengira kalau si penjual adalah hombreng. Penjual itu bilang kalau itu adalah Hakama modern abad ini, dan khusus dijual untuk tuan dan nyonya Uchiha yang ganteng dan beautiful. Hanya gara-gara itu Mikoto langsung tersentuh dan membayar di muka (beneran di muka) si penjual tanpa acara mikir-mikir apalagi tengok kanan kiri.

"Ahaha, kalau begitu terserah Sasu saja. Pakai baju apapun, anakku tetap ganteng kok.."

Mikoto pun undur diri. Itachi dan Sasuke menatap kepergian ibu mereka tercinta dengan muka masam.

Itachi terdiam di dekat pintu, Sasuke masih dipojokkan. Beberapa detik telah berjalan, namun rasanya ada yang aneh dalam bagian ini. Yaitu ..

"ngapain masih disini?" bentak Sasuke.

"aku kan mau membantumu otouto"

"tidak usah, aku bisa kok sendiri!"

Itachi nurut-nurut aja. Hatinya terlalu rapuh untuk tidak menolak perintah dari adik kesayangannya itu. Ia keluar dari kamar Sasuke meski dengan berat hati.

"Wah sudah jam setengah enam, belum siap-siap nih"

Buru-buru sasuke mengganti bajunya dengan Hakama biru dongker favoritnya yang telah tergeletak di atas kasur. Baru saja Sasuke melepas kaos bergambar Avenged Sevenfold yang dikenakannya

BRAAK

Pintu kamar terbuka, Sasuke kaget bukan kepalang. Itachi nyelonong masuk ngejar-ngejar anjing kampung peliharaannya yang didapat dari tong sampah depan rumah seorang janda sexy beranak dua.

"Hei, kalau mau masuk ketok dulu dong!"

"Sorry sas, si Ponta gak bisa diem nih dari tadi"

Itachi sujud-sujud sama Sasuke mohon ampun. Sungguh kasihan sekali nasib Itachi, ia cocok sekali berperan di sinetron Kakak yang Terhina.

"Oh ya, ngomong-ngomong kau yakin mau pergi bareng Hinata?"

"Mau gimana lagi, inikan disuruh sama kaasan. Mana boleh nolak"

"Dia kan pacarnya Naruto, nanti si pirang itu marah loh…"

"Iya sih, yang jelas sebenarnya aku tidak mau. Aku tau kok yang akan kulakukan"

"Ok deh, hati-hati ya. Hei, lama-lama tubuhmu tambah atletis saja ya. Aku jadi ngiri deh…"

"Makannya, tidur dong. Jangan fitness mulu"

"?"

~Herbivor Follower~

Di mobil Sasuke

"Sasuke-kun"

"Hnn"

"Kenapa kau.."

"Hnn"

"Tidak pakai hakama?"

Sasuke sebenarnya malas untuk menjawab pertanyaan yang satu ini, bukannya dia tidak mau pakai hakama dan malah memilih mengenakan stelan jas hitam sederhana dengan kaos putih dipadu celana resmi. Hal itu dikarenakan hakama biru dongker kesayangannya secara tidak sengaja telah terinjak-injak oleh kaki kotor anjing anikinya yang super duper nyebelin. Walau Itachi menawarkan hakama motif polkadot pink miliknya, lebih baik dia make boxer doang deh daripada harga dirinya sebagai aktor ngetop tergadai oleh hakama butut itu.

"ketinggalan di Paris pas syuting Samurai Z minggu lalu" jawab Sasuke ngibul.

"Oh begitu, ano Sasuke-kun.."

"Apalagi?"

"Kau tahu alasan mengapa kita pergi bersama?"

"Iyalah"

"Benarkah? Berarti aku tak perlu menjelaskannya lagi"

"Ya, kita pergi bersama karena mobilmu masuk bengkel gara-gara tousanku dengan lucunya nyenggol mobilmu kemarin di perempatan gang RT Kakuzu pas pulang dari Iwagakure"

Padahal cuma lecet doang DX

"Bukan, bukan karena itu!"

"Oya aku tahu, pasti karena kau dan si Dobe sedang marahan, jadi kau curhat pada kaasanku dan dia menyuruhku yang mengantarmu ke kuil Nakano"

Hinata sweatdrop. Gadis bermata lavender ini merasa bahwa Sasuke pantas menyandang predikat, ganteng-ganteng kok stupid.

"Bukan, Sasuke, bukan begitu! Kita pergi bersama karena kita telah dijodohkan secara sepihak oleh ayahku dan ibumu!"

CKIITT, DUKK!

Suara rem diinjak dalam-dalam terdengar nyaring dan amat sangat mendadak, menyebabkan salah seorang penumpang berusia delapan belas tahun kepalanya terantuk dashboard mobil.

"Uh, sialan tuh ayam. Malam-malam masih berkeliaran di jalan, untung gak ketabrak"

Sasuke merutuki ayam bodoh yang telah mengganggu aktifitas mengemudinya.

"Tadi kau bilang apa Hinata?"

Aa Uke menengok ke sisi kiri dan mendapati gadis disampingnya telah tak sadarkan diri dengan benjol sebesar telur ayam di dahi kanannya. Sasuke panik.

"Hei Hinata kau kenapa?"

Sasuuke menepuk keras pipi Hinata agar sadar, dia pikir cara tersebut cukup ampuh untuk membangunkan orang pingsan. Setidaknya cara tersebut berfungsi kala kaasannya membangunkan tousan yang acapkali malas bangun subuh.

"Wah gimana nih, si Hinata pake acara pingsan segala lagi"

Ia memutar otak jeniusnya memikirkan solusi terbaik, sebuah lampu hemat energi pun muncul di atas kepalanya. Ia lalu berinisiatif membawa Hinata ke rumah si Naruto yang sudah cukup dekat dari lokasi kecelakaan nista ini.

~Herbivor Follower~

Mobil sang Uchiha Sesuke diparkir rapi di depan rumah nomor tiga belas bertuliskan :

Namikaze Naruto

Sedia : King cobra, Buaya putih, Ayam cemani dan lain-lain.

Telpon: 09876543210.

Gila, baru berapa hari pindah aja si Narto udah jualan macem-macem. Tidak cukupkah uang dari keuntungan PT Minakushito yang diwariskan padanya? Patut dipertanyakan apakah Itachi benar-benar mengirimkan 25% laba perusahaan ke rekening Naruto atau justru mengalir ke rekening mafia pajak? Ckckck

Tok tok tok tok toktok

"Dobe, buka pintunya!"

Sunyi, tidak ada respon atau sahutan dari dalam. Sasuke mengerutkan keningnya, murka. Apakah dia harus selalu berkata begini:

"Nar, main yuk!" teriak Sasuke sekencang-kencangnya

Dalam hitungan detik terbukalah pintu rumah tuan Namikaze yang telah rapi dengan tampilan mentereng mengenakan Hakama jingga dengan garis sederhana. Gak kalah keren lah dari Sasuke. Kebiasaan Naruto ini boleh dibilang konyol, apabila Sasuke tidak berkata 'main yuk', demi Jashin-sama tuh pintu gak bakalan kebuka deh ampe kapanpun.

"apa sas, tumben kau nyamper? biasanya kan si Sai yang nyamper kesini?"

"ogah gue nyamper lu, gue kesini tuh cuma mau nganterin sesuatu"

"ciee, akhirnya hatimu terbuka juga sas. Setelah sekian tahun kau pinjem kolorku, akhirnya kau mengembalikannya"

"ngomong apa sih lu, gue bukan nganterin kolor. Tapi itu.."

Sasuke dengan entengnya nunjuk Hinata yang ia rebahkan di kursi teras.

"Wah parah kau sas, kau apakan ayangku ampe kayak orang mati?"

Naruto buru mengangkat Hinata dan memindahkannya ke kamarnya yang suci, diselimuti oleh aroma penuh melati dan taburan bunga mawar merah di seprainya.

Sasuke Pov's

"Ni anak lama-lam gila atau apa? Masa ranjang ditaburin kembang kayak penganten baru. Seprainya warna pink pula. Jangan-jangan si dobe ketularan syndrom pinkiest si Itachi?"

Ia memutuskan untuk tidak bertanya macam-macam atas apa yang telah ia lihat demi menghindari pembicaraan tidak penting dengan si dobe.

"Sas, aku tanya. Kok si Hinata bisa pingsan gini sih?"

"Ceritanya panjang, pokoknya sekarang gue titip Hinata sama lo selaku pacarnya"

"Boleh sih, tapi sebenarnya sekarang aku ada janji sama seseorang"

"Selingkuhan ya?"

"Enak aja, gini-gini aku penganut aliran anti poligami tau"

"Ya udah, tinggal telepon aja terus bilang gak jadi gitu perginya"

"Aku gak tau nomor Hp-nya, gimana kalau kau saja yang bilang dan gantiin aku temani dia ke matsuri di kuil Nakano?"

"Hih, loe pikir gue apa? Ban serep?"

"Ayolah sas, minimal kau bilang ke dia kalau aku gak jadi datang"

Pria berzodiak leo ini pun mengiyakan setelah diiming-imingi janji akan dikenalkan dengan Masashi kishimoto, sang penulis sinetron Naruto shippuden pujaannya. Maka Saskey langsung tancap gas menuju lokasi pertemuan di bawah pohon maple di gerbang desa Konoha. Pasti Sasuke tidak tahu mengenai kabar burung, di dekat pohon tersebut ada sebuah areal pemakaman yang mana salah satu makamnya dikabarkan gemar menangis. Jujur, Sasuke itu tipe orang yang takut dengan hal-hal berbau mistis. Kalian boleh menakut-nakutinya dengan apa saja asalkan jangan hantu dan semacamnya. Oleh karena itu ia selalu menolak mentah-mentah tawaran main film horor apapun meskipun lawan mainnya adalah artis paling bohai sedunia macam Pamela anderson, ia bersumpah tidak akan pernah berakting di film horor.

Setibanya di lokasi, belum ada siapa-siapa disana. Sayup-sayup sinar rembulan, angin semilir yang menggelitik bulu kuduk, dan suara lolongan beruk menemani penantian Sasuke. Ia menyandarkan diri di pohon maple tersebut sambil menutup mata mengingat kata-kata Hinata beberapa jam yang lalu.

"Bukan, Sasuke, bukan begitu! Kita pergi bersama karena kita telah dijodohkan secara sepihak oleh ayahku dan ibumu!"

Ya, sebenarnya Sasuke mendengar jelas apa yang Hinata katakan. Hanya saja ia tidak mau tahu. Selama ini ia hanya menganggap nona hyuuga sebagai teman, tidak lebih dan tidak kurang.

Sementara itu, seorang gadis tengah berjalan dengan anggun mengenakan yukata simpel berwarna putih bercorak hijau daun momiji. Rambut pink-nya dicepol dengan ditusuk sumpit hias pemberian tetangga sebelah, yaitu Mpok Kurenai dan Abang Asuma yang ngakunya sih pengantin baru, tapi anaknya sudah satu, berumur satu setengah tahun.

Hati Sakura cenat cenut bila ingat bahwa ia akan pergi bersama tuan blonde yang baik hati. Di pohon maple tempat mereka janji bertemu, Sakura tak melihat sosok rambut duren di sudut manapun. Yang ia lihat hanyalah sebuah mobil jaguar silver yang terparkir tak begitu jauh dari sana dan bayangan seseorang berambut spike dibalik pohon. Sakura was-was, mobil jaguar silver dan rambut spike? jangan-jangan dia..

"Heh, sedang apa kau disini ayam?" tanya Sakura sinis

Mengagetkan Sasuke dari belakang sambil menggebuk kepala aktor yang katanya masuk nominasi piala oscar sebagai aktor pemeran pembantu terbaik di film avatar the legend of Eeng dengan kipas musim panas (uchiwa) yang ia bawa.

"Aduh,. Apa sih!" Sasuke mengusap-usap kepalanya yang agak perih. Ketika Sasuke memalingkan muka ke belakang, dilihatnya sesosok gadis manis cengeng bermarga Haruno memasang wajah sebal tapi imut. Dia tampak jauh berbeda dari yang biasa Sasuke lihat di sekolah.

"Minggir kamu, disini tuh tempat perjanjianku dengan tuan blonde tau!"

Sasuke berpikir sejenak. Berarti orang yang janjian dengan si dobe adalah si ceroboh Haruno Sakura yang menyebalkan.

"Dengar ya, aku ada disini tuh menggantikan si dobe. Harusnya kau bersyukur seorang Sasuke Uchiha sang bintang Cinta Fikri yang terkenal ini sudi datang menemanimu!"

Terpukul, itulah kata yang pertama kali muncul di benak Sakura. Ia sungguh tak menyangka malam ini akan pergi dengan cowok jutek sok cool-i sejenis Uchiha.

"Apa? Daripada aku pergi denganmu, lebih baik aku ditemani anjingku!"

"Mana boleh, pokoknya kau harus pergi denganku bodoh!"

Sasuke menarik paksa lengan Sakura.

"Uh, tapi aku tidak mau Sauscake!"

Sakura merajuk minta dilepaskan, tapi apa boleh buat dia kalah tenaga.

Kemudian dari ujung jalan muncul bapak-bapak setengah baya yang diketahui bernama Yuuhi Asuma yang mendorong-dorong kereta bayi. Ia nampak kewalahan dan lelah sekali. Sebagai tetangga yang baik, Sakura pun bertanya

"Loh ada apa?"

"Paman boleh titip Haruka sama kamu ga? soalnya bibi Kurenai mau ngelahirin. Paman lagi buru-buru harus nganterin dia ke bidan Orochi"

Gak pake nunggu persetujuan Sakura, Asuma lari begitu saja meninggalkan sang orok di depan Sakura dan Sasuke.

"Paman tunggu, aku..!"

Asuma sudah tak terlihat lagi. Dasar bapak-bapak janggut tebal, dia pikir dia itu siapa? Seenaknya saja meninggalkan anak tidak berdosa itu kepada pemudi yang sedang bad mood. Jangan salahkan si pemudi bila tak sampai umur dua tahun, si anak sudah berada di alam baka.

Sungguh, bukannya Sakura tipe tetangga yang tak tahu balas budi. Tapi masalahnya, Haruka itu nakal sekali. Ia gampang sekali menangis dan tidak bisa diam. Sakura sudah kapok mengasuh putri pasangan yang akan segera dikaruniai anak kedua itu.

"Heh, itu anakmu?" tanya Sasuke polos

"Emangnya kenapa, kau kecewa kalau aku sudah punya anak?"

"Wew, serius?"

TBC

Thanks to:

Miss uchihatake, 4ntk4-ch4n, Thia Shirayuki, PinkErz nHuruL, Himitsu Mezu, nyun, Tsuki kimiwara, nnylupy.

Lady spain: makasih, ni dah disajikan di chapter ini. Maaf masih kurang romance,,.hehe

Uchiharunosasusaku: ya begitulah, sekarang dah lumayan panjang kan imoto?

Sasuhina jel^k : Saya juga tidak suka sasuhina kok. Tenang aja kawan. haha

Mei Lin Sasusaku: dek mei lin, baca chapter lima aja dulu. Pasti ngerti kok. Cuplikan ending? Sasusaku hidup bahagia selama-lamanya.. *plaak

Boleh minta reviewnya?

2011年 04月 17日

Shinkerbell company