Flower

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Thanks for read this ^^

semoga nggak mengecewakan ya, kalau ada kesalahan, tolooong di ripyuw~ :D biar aku dpt tmbahan ilmu~ :D

thanks again. yay~ keep reading. awalnya mau buat one-shot, tapi apa daya, ternyata jadinya aku buat bersambung ^^;


CHAPTER 1

Sunflower


Aku kira saat melihatnya aku suka padanya

Aku kira saat aku berbicara dengannya aku cinta padanya

Tetapi saat kuteliti jauh lebih dalam didasar hati ini

Ternyata aku salah


Cuaca hari ini tidak begitu cerah, juga tidak begitu gelap. Hinata memandangi bentuk awan-awan yang mengitari langit diatas kepalanya dengan seksama seraya berjalan perlahan. Hinata suka awan, saat melihatnya, hatinya merasa tentram. Kini ia tahu mengapa Shikamaru suka memandangi awan. Saat merasa cukup melihat awan yang indah itu, ia lalu kembali melihat kearah depan dimana ia berada. Langkah demi langkah Hinata jalani. Awalnya Hinata berniat untuk latihan dengan Kiba dan Shino, tentu juga dengan Akamaru. Tetapi, sayangnya mereka memiliki misi bersama dengan Anko-sensei. Bila kalian bertanya mengapa ia tidak ikut, alasannya karena Hinata memiliki misi ditempat lain besok. Sebenarnya sangat sedih tidak bisa ikut bersama para sahabatnya itu. Tapi, prioritas sebagai Shinobi harus ia utamakan.

"Hinata-chan, kau habis dari mana?" Tanya Sakura Haruno, seorang gadis lincah didepan Hinata ini, salah satu dari sekian gadis cantik di Konoha.

"Aku habis pergi ke taman Konoha, tadi. Kau sendiri?" Tanya Hinata datar.

"Aku baru dari Kantor Hokage. Kau mau pulang, kan?" Lanjut Sakura dengan senyumnya.

"Iya," Jawab Hinata membalas senyum Sakura manis.

"Kalau begitu, kita bareng ya! Kebetulan rumah kita satu arah." Ujar Sakura.

Sambil mengobrol, mereka berdua berjalan menuju arah rumah masing-masing bersamaan.

"Kudengar, kau besok pergi Misi tanpa Kiba dan Shino,ya?" Tanya Sakura diseling pembicaraan mereka.

"Iya, kau tahu?" Tanya balik Hinata.

"Iya, aku dengar dari Shikamaru. Dia misi bersamamu kan?" Ujar Sakura, sedang Hinata hanya mengangguk.

Setelah Hinata sampai dirumahnya, mereka lalu berpisah.

Hinata lalu memasuki kamarnya, setelah disambut hangat oleh Hanabi. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Ia meletakan tangan kanannya diatas dahinya sambil menghela nafas.

"Besok misi kemana,ya?" Hinata lalu tersenyum. Ia tidak menyadari bahwa misi kali ini, adalah misi yang akan merubah hidupnya selanjutnya.


"SUNA!" Seru Ino kencang, hingga membuat telinga Tsunade bergeming.

"Pelankan suaramu!" Seru Tsunade tak kalah kencang.

"Tapi, kenapa ke Suna? Disana kan daerahnya panas sekali!" Ujar Ino. Ia memang paling ogah diajak misi ke Suna, karena mendengar langsung dari Sakura mengenai keadaan Suna yang membuat tubuhnya dehidrasi.

"Jangan banyak komentar! Kalian harus melaksanakan misi ini! Keadaan Suna sedang gawat, sekarang gantian kita, para Shinobi Konoha membalas pertolongan mereka." Jelas Tsunade. Ino hanya bisa menggerutu.

"Baiklah, kalau begitu, misi apa yang anda berikan, Hokage-sama?" Tanya Shikamaru malas.

"Kalian pergi ke Suna hanya sampai seminggu saja, Ino, kau bantu para korban disana, Shikamaru, kau bantu para Shinobi membuat rencana penyerangan disana, Hinata, kau bantu untuk memantau keadaan desa. Laksanakan!" Seru Tsunade yang langsung membuat para Shinobi itu berlari keluar menjalankan misi mereka.

"Hm? Tsunde-baachan, kau liat Shikamaru?" Tanya Naruto saat memasuki ruang Hokage.

"Dia baru saja pergi misi. Ada apa?" Tanya Tsunade. Naruto hanya menggeleng.

"Tidak, aku hanya mau memberikan dia kunai ini." Ujar Naruto sambil memperlihatkan sebuah kunai panjang berwarna hitam.

"Sekitar seminggu lagi dia pulang." Jelas Tsunade. Naruto hanya mengangguk paham.


Sesampainya di Suna, yang memakan waktu beberapa hari, Tim Shikamaru langsung disambut oleh beberapa Shinobi Suna untuk langsung menghadap sang Kazekage, Gaara.

"Permisi, Kazekage-sama." Ujar Shikamaru saat memasuki ruang Kazekage. Dilihatnya ada Gaara yang berdiri ditemani Temari disebelahnya.

"Terimakasih sudah datang," Ujar Kazekage seraya membungkuk.

"Tidak masalah. Lalu, bisa kau ceritakan kronologis kejadiannya?" Pinta Shikamaru. Temari lalu angkat bicara.

"Ada sekelompok missing-nin yang mulai berdatangan ke Desa ini, mereka menyebarkan virus dari makanan yang dijual oleh para pedagang, hingga para warga terkena penyakit. Lalu akhir-akhir ini mereka selalu melakukan penyerangan dimalam hari saat semua orang tidur." Jelas Temari, Shikamaru yang langsung paham lalu mengangguk mengerti.

"Kalau begitu, disini ada Yamanaka Ino yang akan membantu menangani para penderita penyakit itu, lalu ada Hyuuga Hinata yang akan memantau keadaan Desa, dan aku, Nara Shikamaru akan membantu kalian membuat rencana untuk penyerangan Shinobi itu." Jelas Shikamaru.

"Kalau begitu, kalian bisa istirahat hari ini," Ujar Gaara.

Setelah mereka saling membagi informasi mengenai missing-nin, para Shinobi Konoha dipersilahkan untuk beristarah di penginapan yang telah disediakan.

Setelah mereka beristirahat, malam pun tiba. Beda dari malam yang biasanya, Shinobi Suna keluar untuk memantau keadaan.

"Hinata, aku mau keluar beli minuman, kau mau ikut?" Tanya Ino yang satu kamar dengan Hinata.

"Ah, boleh." Jawab Hinata setuju, lalu mengikuti Ino dari belakang.

Saat mereka keluar dari penginapan, dilihatnya begitu banyak Shinobi Suna yang bersembunyi. Ino dan Hinata lalu hanya berpura-pura tidak tahu, dan langsung menuju kesalah satu kedai didekat penginapan mereka.

"Nah, Bagaimana kalau kita sekalian makan? Kau tunggu disini ya, aku akan memanggil Shikamaru." Ino lalu mengedipkan sebelah matanya, dan bergegas menuju penginapan.

Hinata lalu hanya berdiri didepan kedai tersebut menunggu Ino. Tanpa ia sadari, seseorang telah berdiri disebelahnya.

"Kau..." Hinata yang mendengar suara itu langsung siaga dan menjauh.

"Ah? Ga.. Kazekage-sama?" Hinata lalu terkesiap melihat seseorang yang berdiri didepannya kini.

"Maaf mengagetkan. Aku hanya ingin bertanya, sedang apa kau sendirian malam-malam begini?" Tanya Gaara dengan wajah datar.

"Aku yang harus minta maaf, Kazekage-sama. Aku sedang menunggu Ino disini." Jelas Hinata seraya tersenyum.

"Um, Hati-hatilah." Ujar Gaara, yang langsung berjalan lagi melewati Hinata.

"Tunggu." Ucap Hinata pelan. Gaara yang mendengarnya lalu berbalik.

"Apa?"

"Kazekage-sama sendiri, sedang apa?" Hinata lalu cepat-cepat menutup mulutnya, yang sudah berkata lancang itu. Memang bukan hak Hinata untuk bertanya-tanya apa yang Kazekage lakukan. Gaara yang melihat tingkah Hinata, hanya diam.

"Aku memantau keadaan Desa dengan berkeliling. Mana mungkin aku hanya mengurung diri di ruanganku, sementara wargaku dalam keadaan bahaya," Ucap Gaara menjelaskan. Hinata yang mendengarnya, hanya bisa terkesima dengan penjelasan Gaara.

"Hinata! Maaf lama!" Seru Ino yang menarik Shikamaru dibelakangnya.

"Baik, aku pergi dulu." Gaara lalu berbalik, dan melanjutkan jalannya yang sempat terhenti itu.

"Eh? Hinata, kau bicara apa dengan Gaara?" Tanya Ino setelah Gaara benar-benar menghilang dari pandangan mereka.

"Tidak, hanya basa-basi. Ayo, Ino. Kalau tidak cepat makan, keburu malam." Jelas Hinata. Ino hanya mengangguk-angguk dan langsung memasuki kedai tersebut diikuti Shikamaru.

Setelah mereka bertiga puas dengan makanan kedai itu, mereka lalu keluar dan menuju kembali penginapan. Tapi tidak untuk Hinata.

"Kenapa, Hinata?" Tanya Ino heran.

"Karena tugasku memantau desa, akan lebih baik kalau aku ikut menjaga Desa." Ucap Hinata.

"Tapi, Gaara bilang agar kita melaksanakan misi besok, Hinata." Ujar Shikamaru.

"Hmm.." Hinata lalu menundukkan wajahnya. Shikamaru yang melihatnya, langsung mengerti dan mengikuti keinginan Hinata.

"Baiklah, hati-hatilah. Aku duluan,ya." Shikamaru lalu berjalan menuju penginapan diikuti Ino.


Suna akhirnya semakin larut, hingga suasana Desa Sunagakure terasa sangat sepi. Hinata yang berada diatas rumah warga terus mengamati dengan byakugan-nya.

"Tidak ada cakra yang aneh. Kata Kazekage, setiap malam bukan?" Gumam Hinata pada dirinya sendiri.

Setelah merasa cukup, ia lalu menon-aktifkan byakugannya, dan duduk mengamati Desa.

"Ah, ternyata sepi sekali kalau tidak ada Kiba-kun dan Shino-kun." Ucapnya pelan. Mengingat itu, ia kembali teringat Konoha, dan langsung teringat Naruto. Cinta pertama-nya yang akhirnya tandas karena Naruto sekarang menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri, Sakura.

"Uh, harusnya aku tidak mengingat itu lagi." Hinata lalu menyembunyikan wajahnya dengan kaki-nya yang ia lipat.

"Lagi-lagi kau." Ujar seorang laki-laki. Hinata yang sedang menangis langsung cepat-cepat menghapus air matanya.

"Ah, Kazekage-sama! Maafkan aku!" Seru Hinata yang langsung berdiri menghadap Gaara.

"Sedang apa? Bukankah kau harusnya sedang berada dipenginapan?" Tanya Gaara.

Hinata lalu hanya diam mendengar ucapan ketus sang Kazekage. Tiba-tiba, merasakan chakra yang tidak biasa, ia langsung mengaktifkan byakugannya.

"Kazekage-sama, awas!" Hinata yang tiba-tiba mengaktifkan byakugannya, langsung tahu bahwa ada kunai yang menyerang Gaara dari belakang. Hinata tanpa berfikir lagi, langsung mendorong Gaara hingga terjatuh. Dan tanpa ia ketahui, bahwa tindakannya itu malah melukai dirinya sendiri.

"Kau!" Gaara yang melihat itu, langsung bangun kembali dan melihat keadaan Hinata.

"Apa kau tidak apa-apa, Kazekage-sama?" Tanya Hinata tanpa memperdulikan dirinya sendiri yang tertusuk 3 buah kunai ditubuhnya.

"Aku tidak apa! Bodoh! Tanpa kau mendorongku juga, pasirku akan langsung melindungiku!" Gaara lalu menarik kembali kunai yang tertancap ditubuh Hinata perlahan.

"Kazekage-sama, kumohon, jangan beritahu yang lainnya." Pinta Hinata disaat Gaara membantunya.

"Maksudmu?" Ucap Gaara.

"Aku sudah terlalu merepotkan, kalau mereka sampai tahu aku terluka, akan lebih merepotkan lagi." Hinata lalu menundukkan kepalanya. Gaara diam sesaat, dan langsung menganggukkan kepalanya pelan.

"Baiklah." Ucap Gaara mau tak mau.

"Terimakasih, Kazekage-sama!" Ujar Hinata seraya membungkukkan pundaknya.

"Panggil aku Gaara saja, aku benci dengan panggilan itu kalau kau yang mengucapkannya." Celoteh Gaara yang memunggungi Hinata. Hinata hanya mengangguk paham.

"Baiklah, Gaara-kun." Ucap Hinata sopan.

Merasa habis dengan topik pembicaraan, Gaara langsung menghadap Hinata lagi, dan menarik lengannya, dengan niat membantunya berdiri.

"Cepat, sebelum ada yang melihat kau terluka, sebaiknya kau segera pergi dari sini. Ambil saputanganku ini untuk menutupi lukamu." Jelas Gaara seraya menyerahkan saputangan berwarna putih pada Hinata.

"Baik, terimakasih atas bantuanmu, Ka.. Gaara-kun." Jawab Hinata yang masih memegang erat bagian pinggangnya yang tadi tertancap kunai.

"Cepat obati lukamu, kunai tadi adalah serangan dari musuh, aku akan langsung menuju kearah pelempa kunai itu. Berhati-hatilah." Gaara lalu menepuk pundak Hinata pelan, dan langsung berlari menuju arah datangnya kunai. Hinata lalu tanpa basa-basi langsung segera berlari kearah penginapan.


KONOHA

"Naruto! Kau sedang apa disini?" Tanya Sakura.

"Oo! Sakura-chan! Aku sedang memandangi bintang, indah sekali malam ini!" Seru Naruto yang sedang berbaring di rerumputan hijau bukit Konoha.

"Aneh-aneh saja." Sakura lalu berjalan kearahnya, dan duduk di samping Naruto berbaring.

"Hinata dan lainnya sedang misi ketempat Gaara,ya?" Tanya Naruto memulai topik pembicaraan diantara keduanya.

"Iya, kudengar seminggu lagi kembali. Ada apa?" Tanya Sakura balik.

"Tidak," Ujar Naruto seraya menggelengkan kepalanya. "Aku khawatir." Lanjut Naruto.

"Pada siapa? Suna, atau Hinata?" Tanya Sakura yang memandang lekat mata Naruto yang langsung kaget dengan ucapan Sakura.

"Eh! Itu... Entahlah," Naruto lalu bangun dari posisinya semula, dan duduk disamping Sakura.

"Aku tahu kau sudah mengetahui perasaan Hinata, aku juga merasa bahwa posisisku ini salah, kadang aku merasa jahat pada Hinata." Jelas Sakura. Naruto yang mendengarnya hanya tersenyum lesu.

"Tenang saja, Sakura-chan. Semuanya akan baik-baik saja dan kondisinya pasti akan sama seperti dulu." Ucap Naruto, menatap wajah Sakura yang tenang tapi ada keraguan didalamnya.

''Semoga saja." Gumam Sakura, lalu menyender di bahu lelaki disampingnya itu.


SUNAGAKURE

Semenjak keadaan Suna diserang, para warga mulai jarang yang terlihat berada di area luar, kecuali untuk kepentingan saja. Hanya terlihat Shinobi-shinobi Suna yang berjaga-jaga disetiap sudut. Hari ini pula, adalah hari pertama tim dari Konoha mulai bertugas.

"Shikamaru, kau tidak lihat Hinata? Aku sudah mengetuk pintu kamarnya, tapi tidak ada jawaban." Jelas Ino saat sarapan pagi, bersama beberapa Shinobi serta Kazekage dan pengawalnya, Kankurou dan Temari.

"Entahlah, sejak tadi malam aku tidak melihatnya." jawab Shikamaru.

"Aduh, apa dia masih tidur,ya? Aku masuk kekamarnya saja dulu." Ujar Ino yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan mulai menaiki lantai dua di penginapan. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar suara Kazekage yang juga duduk untuk menyantap makanan bersama para Shinobi.

"Kurasa, ada baik-nya apabila kau tidak mengusik waktu tidurnya." Ujar Gaara datar. Hampir seluruh yang berada disana menoleh saat Gaara mengatakan hal itu.

"Eh, tapi.. Tidak sopan, apabila dia tidur disaat kita berkumpul." Jelas Ino, bingung dengan tindakan Kage Suna ini.

"Biarkanlah dia kali ini," Ujar Gaara, lalu mulai kembali menyantap makanan yang berada didepannya.

Ino lalu memandang Shikamaru yang memberikan kode agar Ino menurut saja dengan perintah Kazekage itu. Ino lalu mematuhinya, dan duduk disebelah Shikamaru. Beberapa menit setelah percakapan itu, Hinata lalu keluar dari kamarnya dan menuruni tangga.

"Ah, maafkan saya semuanya. Maaf, telat untuk datang pagi ini." Ujar Hinata yang langsung membungkuk saat melihat bahwa Kazekage ikut makan bersama mereka.

"Hinata! Ayo cepat kemari!" Bisik Ino memanggil Hinata untuk duduk disebelahnya. Hinata lalu menuju kearah Ino dan duduk disampingnya.

"I..Ino-san, apa telah terjadi sesuatu?" Tanya Hinata penasaran.

"Ya, begitulah, Gaara tidak membiarkanku membangunkanmu, padahal biasanya dia tidak memperdulikan orang lain. Makanya, para penasihat serta Shinobi disini agak bingung dan kaget dengan ucapannya." Jelas Ino dengan berbisik.

Hinata yang mendengarnya hanya mengangguk perlahan, ia lalu memandangi Gaara yang duduk di tengah-tengah Kankurou, dan Temari. Ia merasa bahwa Gaara tidak membiarkan Ino membangunkannya, agar Ino tidak tahu kalau tubuh Hinata sekarang sedang penuh dengan balutan perban. Hinata lalu memalingkan pandangannya dari sang Kazekage dan mulai menyantap makanannya.


Selesai perjamuan makan bersama, para penasehat dan Kazekage mulai menyusun rencana untuk melawan musuh, dibantu oleh kejeniusan Shikamaru. Setelah memakan waktu yang cukup lama, akhirnya selesai sudah strategi yang mereka buat.

Shikamaru akan berada di Gedung Kazekage bersama Gaara, Kankurou, Temari, serta 2 orang Shinobi, untuk memberi pengarahan. Ino akan berada di untuk menolong para korban apabila serangan telah dijatuhkan. Sedangkan Hinata akan membantu seluruh Shinobi untuk mengkonfirmasikan arah datangnya musuh dengan Byakkugannya.

Hinata cukup percaya diri untuk membantu seluruh Shinobi tersebut, maka dari itu, ia selalu berdoa agar lukanya cepat sembuh dan dapat menolong semuanya dengan maksimal.

Selesai menyusun rencana, seluruh Shinobi mulai memasuki posisi masing-masing. Hinata langsung beranjak ke pintu gerbang Sunagakure, Shikamaru bersama Kazekage, dan Ino bersama para tim medis.

"Baiklah, namaku adalah Hinata Hyuuga dari desa Konoha. Mulai sekarang, aku akan bekerja sama dengan kalian. Mohon bantuannya!" Ucap Hinata dengan para Shinobi Suna yang disambut hangat.

Sudah sangat lama Hinata berjaga, tidak muncul satupun serangan maupun gerak-gerik dari musuh. Hinata mulai kesepian karena tidak ada satupun Shinobi yang bisa ia ajak bicara, hingga akhirnya ia melihat sosok yang ia kenal, Gaara.

"Ga..Gaara-kun!" Seru Hinata seraya berlari kecil kearahnya.

"Ng? Kau, Hyuuga kan?" Tanya Gaara memastikan.

"Iya! Ah, yang tadi, terimakasih,ya! Kau menghalangi Ino-san untuk masuk kekamarku! Aku sangat tertolong, karena tadi aku sedang membalut lukaku dengan perban!" Jelas Hinata malu.

"Aku tidak menolongmu, aku hanya merasa kalau kau butuh istirahat lebih." Ujar Gaara datar. Hinata lalu tersipu malu karena ia pikir Gaara menolongnya. Tiba-tiba suasana diantara mereka berdua mulai sunyi, sampai akhirnya Gaara angkat bicara.

"Sakit?" Tanya Gaara datar.

"Eh?" Hinata lalu mengangkat wajahnya yang tadi menunduk.

"Lukamu." Ucap Gaara menjelaskan.

"Lu..Lumayan, tapi sudah agak baikkan dibandingkan tadi malam." Jelas Hinata sambil tersenyum seraya memainkan kedua jarinya.

"Oh, syukurlah. Baiklah, aku akan kembali ketempatku." Gaara lalu membalikkan badannya, dan mulai berjalan kearah gedung Kazekage.

"Tunggu!" Seru Hinata tampak malu. Gaara yang mendengarnya lalu membalikkan kembali badannya menuju Hinata.

"Apa?"

"Ini, saputangan yang kemarin kau pinjamkan!" Seru Hinata sambil meronggoh-ronggoh kantung jaketnya.

"Tidak perlu, buang saja." Gaara lalu kembali berjalan menuju gedung Kazekage.

"Tidak boleh! Kau tidak boleh membuang.. Barang yang kau punya. Apalagi masih dapat dipakai! Ma..Maka dari itu, tolong terima, kurasa su..suatu saat kau membutuhkannya." Jelas Hinata. Gaara diam sesaat, dan menghela nafas. Ia lalu berjalan menuju Hinata dan menerima saputangan yang berada ditangan Hinata.

"Ini, bukan saputanganku." Ucap Gaara menyadari bahwa saputangan miliknya berwarna putih, bukan berwarna lavender seperti yang ia pegang saat itu.

"Ah, maaf! Saat kucuci saputanganmu, ternyata terkena luntur dengan bajuku! Maafkan aku! Karena itu, tolong terima milikku! Ah, aku baru saja mencucinya." Ujar Hinata gugup. Sang Kazekage hanya diam melihat reaksi Hinata yang berlebihan gugup serta sedikit 'heboh' itu.

"Tak apa, ini... Kuambil. Terimakasih." Gaara lalu menundukkan wajahnya sedikit dan mengangkatnya lagi untuk memberi ucapan terimakasih pada Hinata. Gaara lalu berjalan lagi menuju gedung Kazekage.

Hinata saat itu hanya melihat sosok Gaara dari belakang yang mulai menjauh, lalu hilang dari pandangannya. Tiba-tiba matanya mulai panas, dan keluar air mata yang sudah lama tidak keluar semenjak kejadian bahwa ia tahu Naruto dan Sakura menjalin hubungan.

"Hinata! Kau kenapa?" Tanya Temari saat melihat Hinata yang berdiri sendiri dengan matanya yang menatap lurus itu menjatuhkan butiran air perlahan-lahan. Mata yang dilihat Temari hanyalah kekosongan disana.

"Hinata?" Panggil Temari sekali lagi. Hinata tetap diam tak bergumam. Temari lalu menyentuh wajah Hinata perlahan, membuat Hinata terbangun dari lamunannya.

"Te..Temari-san?" Ujar Hinata kaget.

"Hinata? Kenapa kau menangis?" Tanya Temari penasaran.

"Itu.. Tadi, setelah berbicara denganku, Gaara lalu kembali. Melihat sosoknya dari belakang, mengingatkanku pada Naruto. Saat terakhir aku bicara juga, Naruto membelakangiku. Lalu, dia tak pernah kembali lagi. Saat kembali, ia sudah bersama orang lain. Melihat sosok Gaara tadi, aku hanya merasa takut ditinggalkan, aku..." Hinata lalu mulai tersenggak tenggorokkannya, ia tidak bisa berbicara apa-apa lagi, mengingat kejadian yang ia alami bersama Naruto.

"Hinata, aku mengerti perasaanmu. Lebih baik, kau istirahat dulu hari ini,ya?" Ucap Temari khawatir. Hinata hanya mengangguk pelan. Mereka berdua lalu berjalan bersama menuju kearah penginapan.


"Gaara? Sedang apa kau disini?" Tanya Temari melihat Gaara yang sedang berada didalam penginapan sedang berbicara dengan salah satu karyawan disitu.

"Aku sedang mengambil dokumenku yang tertinggal tadi pagi, kau sendiri?" Tanya Gaara pada kakak tertuanya itu.

"Aku mau mengantar dan menemaninya dulu." Ujar Temari seraya memegang bahu Hinata disebelahnya.

Gaara sedikit terkejut melihat kembali gadis ini, tapi ada yang berubah dari yang ia lihat beberapa menit lalu. Mata gadis ini sembab dibanding yang tadi.

"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Gaara sedikit penasaran. Temari hanya menggelengkan kepalanya. Gaara langsung mengerti, bahwa urusan ini adalah urusan pribadi.

"O,ya Gaara, mau menemani dia sebentar? Aku mau membelikannya minuman." Pinta Temari. Gaara mengangguk ringan. Melihat jawaban adiknya, Temari bergegas menuju luar dan meninggalkan Hinata yang masih membisu.

"Kau, duduklah." Ucap Gaara. Hinata hanay diam, matanya menatap kosong, dengan seribu lamunan. Gaara lalu ikut diam, dia tidak berbakat menghadapi wanita, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Lalu, setelah sekian menit, Hinata angkat bicara.

"Naruto-kun.." Ucap Hinata lirih. Gaara yang mendengarnya sedikit paham, bahwa masalah yang terjadi pada gadis ini adalah sahabatnya, Naruto.

"Ada apa? Mau kauceritakan? Aku akan mendengarkan." Ucap Gaara datar.

"Tidak, aku memang lemah kalau ingat dengannya." Jelas Hinata.

"Kenapa? Apa yang membuatmu ingat padanya?" Tanya Gaara tampak mulai bingung.

"Dirimu." Ucap Hinata, membuat Gaara sontak tambah bingung.

"Tadi.." Lanjut Hinata. "Saat kau pergi, saat melihat sosokmu dari belakang, aku teringat kejadian yang dulu, aku tidak suka melihat sosok orang dari belakang lalu mulai menjauh. Semua yang melakukan hal itu, pasti akan meninggalkanku. Ayah, Neji-niisan, Naruto-kun.." Hinata lalu mulai menitikkan air matanya kembali. Gaara lalu menarik tangan Hinata.

"Kau bilang seperti itu, tapi buktinya, aku ada disini,kan? Kau, bisa merasakan keadaanku, bisa menyentuhku, mendengar suaraku, melihat sosokku, aku tidak meninggalkanmu. Jadi, tenanglah." Ucap Gaara tenang, ia mulai tersenyum tipis.

Hinata yang mendengarnya lalu tersenyum, dan mengangguk. "Ng! Maafakan aku." Hinata lalu menghapus air matanya.

Gaara yang melihat Hinata mulai tenang kembali, melepaskan tangannya perlahan. Ia terus melihat wajah Hinata yang berada didepannya. Gaara tahu gadis yang didepannya ini terlihat lemah, tapi Gaara yakin didalam diri gadis ini, sebenarnya sangat kuat. Dalam hati, Gaara berjanji untuk terus melindungi gadis ini, agar air matanya tidak lagi keluar hanya karena ia merasa akan ditinggalkan. Perasaan yang belum pernah Gaara rasakan muncul. Ia mulai menyukai gadis didepannya. Gadis cantik berambut panjang menjuntai halus, dengan mata lavender pucat menghiasi bola matanya.

"Hinata, Aku..Tidak akan meninggalkanmu." Ucap Gaara tegas.

"Eh?"

Hinata yang mendengarnya langsung mengangkat wajahnya. Dalam hatinya ia berfikir, 'apa ini saat dimana aku dapat melupakannya?'.


Dasar hatiku mulai beradu

Berbicara dengannya membuatku gugup

Aku akan terus lihat dan teliti hatiku

Aku harap dia memang tepat bagiku


CHAPTER 1:

FINISH

CHAPTER 2:

ROSE


Minna~~ sankyu

Ah, lagi-lagi Aya buatnya GaaHina TAT haha

Nanti akan kubuat yang lain deh ;D request saja :D

kalau ada yang kurang tolong beri saran dan masukkan ya :D

ありがとう