Flower
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Thanks for read this ^^
Terimakasih kepada semua yang sudah memberi masukkan :D
Balasan Review:
juliana chan : Sankyuu ossh~ akan kulanjutkan!
lonelyclover : Sankyuu.. ah benar, cukup banyak typo ~~ TAT gomen, akan kuperbaiki disini :)
Arukaschiffer : Yo~ :D iya,ya? tapi kurasa K+ sudah cukup XD
uchihyuu nagisa : Ah, maaf ya namanya juga chapter awal /ngeles/ :D
Chikuma new : sankyu ah, iya, bnr2 banyak typo, gomen^^ aku akn tambah feel nya disini ya =)
Cerullean Reed : Sankyu :D wah, iya juga. aku belum ada ide lagi buat yang itu.. di tampung dulu ya^^
shiorinsan : sankyu ah, itu tidak puitis ;w; sekali lagi terimakasih
OraRi HinaRa : Sankyu :D yup, bnr kok, kemarin aku juga baru pelajarin lagi /plak/ sankyuu :D
CHAPTER 2
Rose
Salah apabila kubilang dia milikku
Salah apabila kubilang dia harus bersamaku
Salah apabila aku ingin dia memelukku
Tapi yang kutahu
Kata-kata manis yang diucapkannya untukku selalu benar
Konohagakure
Semenjak kejadian kemarin, Hinata tambah gugup dan malu-malu saat bertemu Kazekage muda bernama Gaara itu. Hinata hanya tersenyum tipis saat berpapasan dengan Gaara, terkadang Hinata lebih memilih untuk bersembunyi saat ia melihat Gaara berjalan sendiri.
"Ah! Hinata! Sedang apa disini? Bukankah malam ini waktunya kau berjaga?" Tanya Ino saat melihat Hinata yang sedang bersembunyi dibalik sebuah tiang tinggi.
"Ino, ma..maaf, aku.." Hinata lalu mulai memainkan jarinya. Mulai bingung dengan apa yang harus ia jelaskan. Tidak mungkin ia katakan kalau ia bersembunyi karena ada Gaara diujung jalan yang akan ia lewati.
"Ah, baiklah. Kau lebih baik segera ke pintu gerbang utamanya. Kau tahu? sedang ada masalah, kudengar ada salah satu penyusup yang menyamar menjadi Shinobi di Suna ini, sekarang Gaara dan lainnya sedang menyelidikinya." Jelas Ino sedikit berbisik.
"Jadi, ribut-ribut yang tadi pagi itu, adalah hal ini?" Tanya Hinata seraya menoleh kearah keramaian di perbatasan gerbang desa Suna itu.
"Begitulah. Baiklah, aku harus membantu-bantu ke , kau berhati-hatilah!" Setelah berpamitan, Ino langsung meninggalkan Hinata yang masih berdiri di tempat itu.
Hinata menoleh sekali lagi kearah kearamaian, ingin rasanya ia ke sana untuk membantu permasalahan, tetapi ia masih digeluti oleh malu akan Gaara.
"Tidak boleh! Aku tidak boleh lemah seperti ini!" Ujar Hinata dalam hati. Ia lalu memberanikan dirinya menuju arah keramaian, dimana sang Kazekage sedang berdiri disana. Sesampainya, dilihatnya, pertarungan mulut yang saling menuduh bahwa mereka menyusup.
"Hinata?" Panggil Gaara melihat sosok gadis berambut panjang itu.
"Ga..Gaara-kun." Hinata lalu buru-buru menundukkan wajahnya, menutupi mukanya yang mulai merona merah.
"Sedang apa kau kemari? Disini sedang ribut." Ucap Gaara yang lalu berdiri disebelah Hinata.
"Eh? Kenapa?" Tanya Hinata.
"Ada penyusup yang memasuki kawasan kami, dan ia menyamar menjadi Shinobi di sini, mereka semua saling menuduh seperti orang bodoh." Gaara lalu menghela nafasnya melihat perilaku Shinobi desa-nya.
"Tidak kau hentikan?" Tanya Hinata lagi.
"Eh? Baiklah." Gaara lalu mengangguk pelan, lalu berjalan menuju arah perkelahian para Shinobi itu.
"Hentikan!" Lanjut Gaara setengah berteriak. "Apa kalian tega menyerang saudara kalian sendiri! Aku akan mencari siapa penyusup itu. Kalian cukup tenang." Jelas Gaara, yang membuat para Shinobi itu diam.
"Tunggu Kazekage-sama! Gadis itu! Bukankah dia dari Konoha! Mungkin saja dia yang merupakan penyusup untuk menghancukan desa ini!" Teriak salah satu Shinobi yang berdiri di sana.
"Eh?" Hinata sontak kaget mendengar perkataan Shinobi itu. Bagaimana mungkin, Hinata yang sedari tadi diam, langsung dituduh secara tiba-tiba oleh para Shinobi yang tak ia kenal.
"Nyalimu hebat juga." Ucap Gaara. "Sekali lagi ada yang mengatakan hal itu, detik berikutnya, nyawa kalianlah yang akan kuhabisi." Lanjut Gaara tenang, membuat para Shinobi hening dalam sekejap.
Gaara lalu diam sebentar dan langsung berjalan meninggalkan para kerumunan itu, diikuti Hinata.
"Gaara-kun! Tidak baik apabila kau langsung mengeksekusi orang seperti itu! Kupikir, ada baiknya apabila masalah ini, baik desa maupun para Shinobi, dipikirkan dengan kepala dingin." Jelas Hinata memberi masukkan. Gaara yang berada didepannya hanya diam berdiri tanpa menoleh sedikitpun.
"Aku mengerti." Ucap Gaara tenang, lalu langsung berjalan lagi meninggalkan Hinata.
"Maafkan aku sudah lancang, Gaara-kun," Ujar Hinata. Gaara yang mendengarnya hanya diam.
"Tidak apa."
Setelah berkata begitu, Gaara lalu langsung beranjak dari tempatnya berdiri, dan benar-benar meninggalkan Hinata sendiri.
Konohagakure
"Tsunade-baachan, kau lihat Sai?" Tanya Naruto saat berpapasan dengan Tsunade selaku Godaime di Konoha.
"Sepertinya dia sedang membantu Sakura di , kenapa?" Tanya Tsunade penasaran. Naruto hanya menggeleng.
"Tidak, terimakasih, Tsunade-baachan." Ujar Naruto yang langsung berlari menuju ke .
Sesampainya disana, Naruto hanya melihat Sai yang sedang duduk santai diluar Rumah Sakit.
"Yo, Sai! Kau lihat Sakura?" Sapa Naruto seraya melambaikan tangannya.
"Naruto! Eh, kurasa tadi dia masuk kedalam," Tunjuk Sai kearah .
"Oh, Sankyu Sai!" Seru Naruto yang langsung bergegas masuk kedalam gedung putih tersebut.
"Ah! Sakura-chan!" Panggil Naruto saat melihat gadis berambut pink itu berdiri tidak jauh dari depan pintu masuk.
"Naruto? Kenapa?" Tanya Sakura melihat Naruto yang terlihat lelah itu.
"Ah, aku ingin mendiskusikan suatu hal padamu." Ujar Naruto.
"Tentang apa?" Tanya Sakura penasaran.
"Aku ingin bertanya, boleh aku menyusul ke Suna?"
"Eh?"
Sunagakure
"Gaara! Ayo kita mulai persiapan, malam ini pasti akan ada penyerangan lagi." Seru Temari yang berdiri disamping adik bungsu-nya itu.
"Ng, semua harus sudah bersiap berada diposisinya!" Ujar Gaara memberi aba-aba, membuat seluruh Shinobi langsung bergerak gesit menuju posisi masing-masing.
"Baiklah, kita tinggal menunggu gerakan dari musuh." Ucap Shikamaru santai.
Hinata yang sudah berada di depan gerbang Suna langsung mengaktifkan byakugan-nya menunggu serangan musuh.
"Hinata, jangan terlalu dipaksakan." Ujar salah satu gadis disana bernama Matsuri. Hinata mengangguk paham.
Sudah hampir 5 sampai 6 jam mereka mengawasi desa, tak muncul juga serangan dari musuh, hingga akhirnya terdengar suara ledakan didalam desa.
"Sudah dimulai." Ujar Shikamaru.
Seluruh Shinobi langsung menuju kearah ledakan tersebut, dilihatnya ratusan Shinobi berdiri disana, memang sebenarnya hanya puluhan, tetapi mereka membuat bunshin hingga lebih banyak. Shinobi Suna langsung mengambil aba-aba untuk menyerang. Pertarungan pun terjadi di Desa Suna.
"Ayo, Hinata!" Ajak Matsuri.
"Baik!" Hinata lalu segera mengikuti Matsuri dan langsung berlari dengan cepat kearah pertarungan antar Shinobi itu.
"Apa! Banyak sekali." Ujar Matsuri melihat jumlah lawan yang lebih banyak dari Shinobi yang bertarung ditempat itu.
"Tidak apa, Matsuri. Ayo!" Hinata langsung turun kearah para Shinobi dan ikut membantu Shinobi Suna melawan para Shinobi dari desa lain itu.
"Tidak bisa, terlalu banyak." Bisik Hinata.
"Berjuanglah, Hinata!" Seru Matsuri yang berada tidak jauh dari Hinata.
Hinata mengerahkan seluruh jutsu-jutsunya demi melawan ratusan Shinobi itu, tinggal beberapa ratus lagi bunshin serta Shinobi yang masih hidup. Tetapi, Hinata mulai merasakan sakit akan kunai yang tertancap di tubuhnya dua hari lalu. Dilihatnya tubuhnya penuh dengan darah karena perbannya mulai terbuka.
"Hinata! Kau tidak apa?" Tanya Matsuri saat melihat darah segar mengalir dari dalam baju Hinata.
"Tidak apa! Sedikit lagi, kita bisa menghabisi para Shinobi ini." Ujar Hinata tanpa peduli dengan lukanya yang terbuka itu.
Shinobi yang bagaikan tidak ada habisnya itu mulai menyerang Hinata membabi buta. Meski Hinata tidak sanggup melawan para Shinobi yang didepannya, ia tetap berusaha melawa mereka hingga akhirnya pertolongan datang.
"Temari!" Seru Matsuri melihat gadis yang membawa kipas besar ditangannya.
"Kalian semua baik-baik saja?" Tanya Shikamaru yang berdiri di samping Temari.
"Ng! Tapi, Hinata.." Matsuri lalu menunjuk kearah Hinata, meminta Temari dan Shikamaru menolongnya yang sedang dikepung.
"Baiklah, Matsuri! Tetap lawan para Shinobi itu! Aku akan menolong Hinata!" Seru Temari sigap.
"Tidak usah, biar aku." Ucap Gaara yang baru muncul.
"Gaara, kau harusnya tetap berada di gedung Kazekage!" Seru Temari.
"Sudahlah." Gaara langsung berjalan menuju arah Hinata tanpa memperdulikan kata-kata Temari yang menghentikannya.
Hinata yang masih melawan kepungan Shinobi itu, mulai lemah karena luka ditubuhnya sudah benar-benar terbuka dengan darah yang mengalir segar.
"Hinata!" Gaara yang melihatnya langsung menuju kearahnya seraya melawan para Shinobi yang menghalangi jalannya.
"Gaara-kun." Hinata yang sudah jatuh tersungkur langsung berdiri kembali melihat sosok Gaara.
"Berdirilah," Gaara membantu Hinata berdiri dan langsung menghabisi para Shinobi yang mengepung Hinata dalam sekejap.
Melihat itu, Hinata langsung terkesiap dengan kekuatan Gaara, terlalu menakutkan, terlalu berbahaya.
"Gaara-kun, kau...Baik-baik saja?" Tanya Hinata khawatir.
"Daripada itu, lebih baik kau memikirkan dirimu sendiri." Jawab Gaara melihat luka Hinata yang terus mengalir oleh darah segar.
"Baik, terimakasih." Ucap Hinata.
Setelah beberapa hari, akhirnya Suna mulai tentram kembali, tidak ada gangguan lagi, para Shinobi itu ternyata adalah Shinobi yang tidak memiliki desa, hingga berniat menyerang desa-desa besar untuk mereka tempati. Atas kebaikan Gaara, ia memberikan satu bagian Suna untuk mereka tempati dengan memberikan kepercayaan satu sama lain.
Hinata yang masih berada di masih dalam keadaan tidur. Sejak kejadian penyerangan itu, Hinata kehilangan banyak darah, sehingga ia pingsan dan belum sadar dari 2 hari lalu. Keadaan Hinata pula yang membuat Ino serta Shikamaru belum dapat kembali ke Konoha.
"Bagaimana, Shikamaru? Apa Hinata kita bawa saja ke Konoha?" Tanya Ino.
"Tidak mungkin, kau mau membawa dia kesana lewat apa? Tidak mungkin aku membopong-nya, kan?" Shikamaru lalu memberikan secarik kertas pada Ino.
"Untuk apa?" Tanya Ino bingung.
"Beritahu pada Godaime kalau kita masih berada disini hingga kondisi Hinata pulih." Jelas Shikamaru. Ino hany mengangguk dan langsung mengambil bolpen yang berada di atas meja dan langsung menulis sesuai perkataan Shikamaru.
Beberapa saat kemudian, Gaara berserta Temari datang memasuki ruangan Hinata.
"Bagaimana?" Tanya Gaara saat melihat keadaan Hinata.
"Kurasa ia baik-baik saja, Dokter juga berkata begitu." Ucap Shikamaru menjelaskan. Gaara hanya diam, sedikit kecewa dengan jawaban Shikamaru.
"Kenapa Gaara? Tak biasa-nya kau mengkhawtirkan seorang wanita." Goda Temari kepada adiknya itu.
"Dia berbeda." Ucap Gaara datar. Membuat Temari, Ino, dan tentu Shikamaru sedikit kaget dengan ucapan Gaara.
Tanpa disadari, tiba-tiba Hinata terbangun dari tidurnya yang panjang dan membuka matanya perlahan.
"Ino?" Ucap Hinata saat meihat Ino berdiri di samping kasurnya.
"Ah! Hinata! Akhirnya kau bangun juga! Kami sangat khawatir!" Seru Ino yang langsung memeluk gadis yang sedang tertidur lemah diatas kasur tersebut.
"Hinata," Bisik Gaara saat melihat Hinata terbangun.
"Semuanya, maaf aku menyusahkan." Ucap Hinata lirih.
"Tidak, Hinata." Ucap Ino.
"Ah, Gaara-kun. Lukamu, tidak apa?" Tanya Hinata.
"Tidak." Jawab Gaara datar. Gaara sama sekali tak peduli dengan dirinya, ia hanya memikirkan Hinata saat ini. Andai saja Hinata miliknya, mungkin dengan cepat Gaara akan langsung mengutarakan tindakan yang sangat ia ingin lakukan saat ini.
"Baiklah, kami akan segera memberitahu yang lain." Ujar Ino mengerti saat melihat Gaara yang berdiri diam seraya memandangi Hinata.
Saat semua pergi meninggalkan Gaara dan Hinata berdua, Hinata mulai bangun dari tidurnya dan memposisikan dalam keadaan duduk.
"Gaara-kun, maaf merepotkan," Ucap Hinata mengulang kata-katanya tadi.
"Tidak masalah." Gaara lalu duduk disebuah kursi yang berada di samping kasur Hinata.
"Lukamu, tidak apa?" Tanya Hinata.
"Ah, hanya bagian sini saja." Gaara lalu menunjukkan tangan kirinya yang dibalut perban.
"Ah, sudah hampir terlepas. Mungkin karena kau menggenggamnya erat-erat." Ucap Hinata.
"Hinata, boleh kukatakan sesuatu padamu?" Tanya Gaara seraya menatap mata lavender Hinata.
"A..Apa?" Tanya Hinata balik.
"Boleh aku menjagamu?" Ujar Gaara membuat Hinata sedikit bertanya-tanya.
"Ma..Maksudmu?" Tanya Hinata lagi, masih tidak mengerti dengan yang Gaara katakan.
"Aku.. Menyukai, bukan... Aku mencintai dirimu." Ujar Gaara serius.
Hinata yang mendengarnya langsung tersipu malu, tak bisa dipungkiri wajahnya mulai memerah seperti biasa. Hinata hanya diam dan memalingkan wajahnya. Ia bingung harus menjawab apa. Pertemuan mereka baru saja beberapa hari lalu. Ia merasa, apa tidak terlalu cepat?
"Aku akan menunggu, sampai kapanpun," Ucap Gaara tenang dengan tersenyum tipis.
Hinata lalu mengangguk perlahan.
"Terimakasih." Hinata lalu membalas senyuman Gaara. " Kumohon, beri aku sedikit waktu."
Gaara yang mendengarnya tersenyum kembali dan tertawa kecil.
"Aku akan bersabar,"
Keadaan Hinata mulai membaik, waktu untuk Ino, Shikamaru, dan Hinata pun sudah tiba untuk pulang.
"Besok kami akan pulang, kami benar-benar berterimakasih kepada Suna." Ujar Ino yang berdiri bersampingan dengan Shikamaru serta Hinata.
"Tidak, kami yang sangat berterimakasih kepada kalian." Balas Temari. Ia lalu mendelik kearah Shikamaru dan memasang wajah kesal. Sepertinya, ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Ino yang melihatnya hanya tertawa kecil melihat tingkah keduanya.
"Gaara, kau datang juga pada perjamuan terakhir mereka?" Tanya temari pada Gaara yang sedang duduk disampingnya.
"Entahlah, aku rasa tugasku bertambah dengan banyaknya surat dari para penduduk baru itu." Jawab Gaara seraya mempertunjukkan beberapa tumpukan kertas putih diatas meja-nya.
"Yah, sudahlah. Baiklah! Kalian jangan sampai tidak hadir ya!" Seru Kankurou yang sedari tadi hanya diam.
Setelah berbicang-bincang mengenai kedepannya, akhirnya Ino mulai keluar dari gedung diikuti Hinata, meninggalkan Shikamaru yang masih tetap membahas mengenai masalah strategi untuk Sunagakure apabila terjadi penyerangan kembali.
Ino dan Hinata lalu duduk di sebuah bangku kosong yang tidak jauh berada di depan Gedung Kazekage.
"O,ya Hinata, bagaimana keadaanmu?" Tanya Ino membuka pembicaraan.
"Sudah lebih baik. Terimakasih, Ino." Jawab Hinata semangat.
"Kau tahu? Saat kau pingsan dan tak sadar dalam 2 hari itu, Gaara sangat khawatir! Jarang sekali bisa melihat dia begitu!" Jelas Ino seraya tertawa kecil. Hinata yang mendengarnya hanya bisa salah tingkah, mengingat akan kejadian kemarin bersama Gaara.
"I..Itu hal yang biasa." Ujar Hinata sedikit malu.
"Biasa? Apa maksudmu? Seorang Gaara yang khawatir pada seorang perempuan itu biasa? Itu luar biasa Hinata-chan!" Seru Ino bersemangat.
Saat mereka berdua masih seru membicarakan Gaara, datanglah orang yang tidak terduga berdiri didepan mereka. Seorang lelaki dengan tubuh tegap yang tinggi, wajahnya yang bersih meski tidak terlalu putih, dengan jaket hitam serta rambut kuning yang membuat orang-orang lansgung paham siapa dia. Ya, siapa lagi kalau bukan 'Naruto'.
"Yo!" Sapa laki-laki itu yang berdiri bersama seorang lelaki berambut hitam dengan kulit putih, serta gadis berambut pink bernama Sakura.
"Naruto! Sedang apa kau?" Tanya Ino kaget melihat apa yang dilihatnya. "Kurasa ini mimpi, Hinata, tolong cubit aku." Pinta Ino pada Hinata. Dengan perasaan tidak enak, Hinata mencubit pipi Ino, yang dilanjutkan dengan teriakan histeris Ino.
"Ino! Untuk apa kau teriak skencang itu!" Seru gadis berambut pink itu.
"Sa..Sakura! Untuk apa kau kesini!" Tanya Ino balik.
"Untuk apa katamu? Aku kesini untuk menyusul kalian yang tak kunjung pulang ke Konoha! Sudah 1 Minggu lebih tahu!" Jawab Sakura tak kalah keras.
"Ah, Ma..Maaf, masalah itu... Semua karena diriku." Ucap Hinata menengahi Ino dan Sakura.
"Eh? Memang kau kenapa, Hinata?" Tanya Naruto penasaran.
"Itu, Sa..Saat perang aku terluka hingga harus dirawat beberapa hari." Jawab Hinata menjelaskan.
Mendengar ada ribut-ribut diluar, Shikamaru serta yang lainnya langsung keluar dari Gedung Kazekage.
"Naruto? Sedang apa kau?" Tanya Shikamaru melihat kawanan-nya itu sedikit tak percaya.
"Shikamaru! Kami mau memeriksa keadaan sini, sekalian mengantar surat ini pada Gaara! Yo! Gaara!" Seru Naruto, melihat sahabatnya itu ikut keluar dari ruangannya.
"Naruto? Lama tak jumpa." Sapa Gaara ramah.
"Maafkan aku, semuanya. Karena aku, jadi merepotkan kalian semua." Ucap Hinata canggung melihat teman-temannya yang jauh-jauh datang kemari.
"Tidak apa-apa, Hinata!" Seru Naruto dengan senyumnya yang lebar.
"Ah, Te...Terimakasih Naruto-kun." Hinata lalu tersenyum senang mendengar suara Naruto yang berada didepannya saat ini.
Hinata tidak tahu, bahwa ada laki-laki lainnya yang ikut memperhatikannya malah kecewa dengan reaksi kedua temannya saat itu.
"Naruto, besok kami akan kembali, apa kalian juga?" Tanya Ino.
"Sebenarnya, Tsunade-baachan membolehkan kita kembali lusa, tapi kalau kalian mau kembali besok, kami ikut!" Jawab Naruto.
"Tidak usah, kembalilah lusa. Kalian pasti lelah, selain itu, Hinata juga baru pulih, aku rasa dia akan sangat lelah apabila besok pulang." Jelas Gaara, ia sesekali melirik kearah Hinata yang terus mencuri-curi pandangannya pada Naruto.
"Baiklah, kita pulang lusa saja." Ujar Shikamaru.
"Hah? Kau akan terus disini hingga lusa?" Tanya Temari dengan muka tidak percaya.
"Yah begitulah walaupun merepotkanmu, rambut riap-riap." Jawab Shikamaru santai, membuat Temari naik darah dan memukul lengannya kencang.
"Tapi aku senang! Karena ada Sai-kun disini!" Seru Ino yang langsung merapat ke Sai yang dari tadi diam.
"Ah, Ino." Sai yang melihat gadis disampingnya hanya tersenyum. Ia hanya bisa diam karena yang ia tahu di buku, apabila ia tidak menerima perlakuan wanita, ia bisa dipukul oleh wanita tersebut. Dan Sai merasa bahwa buku itu ada benarnya melihat perlakuan Temari dengan Shikamaru tadi.
"Baiklah, bagaimana kalau kita makan dulu?" Tanya Naruto bersemangat.
"Kau ini!" Sakura yang mendengarnya hanya tertawa kecil.
Naruto dan Sakura lalu bercakap-cakap seperti biasanya, keakrab-annya tidak berbeda, akan tetapi suasana diantara mereka berdua lebih hangat dibanding dulu. Hinata yang melihatnya hanya diam dan menundukkan kepalanya, sakit hatinya melihat langsung kemesraan laki-laki yang ia cintai dulu.
"Temani aku," Gaara yang menyadari hal itu langsung berjalan ke arah Hinata dan menepuk kepala Hinata pelan.
"Gaara-kun." Ucap Hinata lirih.
"Ayo," Gaara lalu memandang Hinata seraya tersenyum tipis dan mulai berjalan menuntun Hinata ke sebuah kedai yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Gaara-kun, ini.." Hinata yang memasuki kedai itu sedikit bingung, didalamnya bukan tempat makan seperti kedai-kedai lainnya, yang ada hanya bunga-bunga yang dipajang dengan indah disana.
"Kedai bunga. Aneh kan? Di Suna tidak tumbuh begitu banyak bunga, disini adalah bunga-bunga yang diambil dari desa-desa lain." Kata Gaara menjelaskan Hinata.
"Ah, mawar!" Seru Hinata melihat sebuah buket mawar yang dipasang di pojokkan ruangan tersebut.
"Kau mau?" Tanya Gaara.
"Eh, tidak." Jawab Hinata merasa tidak enak.
"Ambilah." gaara lalu mengambil buket mawar tersebut.
"Ah, Gaara-kun, kalau boleh aku hanya ingin setangkai." Pinta Hinata.
"Kenapa?" Tanya Gaara bingung. Tidak biasanya ada orang yang meminta satu dibanding lebih banyak.
"Aku, lebih merasa indah kalau mawar itu berdiri sendiri, meski sendiri serta berduri, tetapi mawar tetap memberikan aroma serta penampilan yang indah. Salah satu bunga yang paling kusukai." Hinata menjelaskan. Gaara yang mendengarnya mulai tersenyum tipis.
"Baguslah." Gaara lalu dengan perlahan menaruh buket mawar tersebut dan mengambilnya satu tangkai yang paling indah, dania minta pada penjaganya untuk diberi plastik agar Hinata tidak terkena duri mawar tersebut saat memegangnya.
"Terimakasih." Ucap Hinata saat menerimanya dari Gaara.
"Tak apa, Hinata." Gaara lalu menutup wajahnya dengan pundak tangan-nya.
"Kenapa, Gaara-kun?" Tanya Hinata, bingung mengapa Gaara menutup wajahnya.
"Ah, tidak." Jawab Gaara. Sejujurnya, Gaara menutupi wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang merona merah melihat senyuman Hinata disana.
"Gaara-kun, perban-mu terlepas." Ujar Hinata saat keluar dari kedai tersebut.
"Biarkan saja." Gaara lalu mulai berjalan lagi.
"Tidak boleh, lukamu tidak akan sembuh-sembuh, a..apabila kau terus mencengkram tanganmu dengan kuat." Hinata lalu meminta Gaara memegang bunga mawar tersebut dan mengambil perban di kantung-nya.
"Tidak perlu." Ucap Gaara. Hinata tetap melanjutkan aktivitasnya membalut luka Gaara dengan perban.
"Apa perlu, aku taruh suatu barang yang sangat berharga dan mudah rusak ditanganmu?" Tanya Hinata bercanda, Gaara hanya diam.
"Taruh saja Hinata." Ucap Gaara datar. Hinata yang mendengar-nya hanya tersipu malu.
"Manusia tidak gampang rusak," Ucap Hinata sambil tersenyum tipis. Setelah selesai membalut perban pada telapak tangan Gaara, Gaara mengembalikkan bunganya pada Hinata.
"Hinata, boleh aku menggenggam tanganmu?" Tanya Gaara polos. Hinata hanya bisa kaget, mukanya langsung merah seperti apel. Hinata bingung, Gaara sangat menunjukkan kecintaan-nya pada Hinata, meski sifat Gaara dingin, tapi Hinata tahu bahwa Gaara adalah tipe yang melindungi, karena itu Hinata senang bersamanya.
"Jangan terlalu erat." Hinata lalu menjulurkan tangan kanannya dan menggenggam tangan Gaara yang terluka. Gaara menggenggam tangan Hinata erat, betapa senang ia bisa menyentuh gadis didepannya, Gaara merasa untuk pertama kalinya ia bisa senang dengan wanita, seperti ini. Mereka tetap berdiri diam hingga akhirnya Gaara mulai melontarkan genggamannya.
"Terimakasih." ucap Gaara seraya tersenyum. Bukan senyuman tipis seperti biasa, tetapi senyuman tulus dengan suara tawa kecil yang menghiasinya.
"Sama-sanma, Gaara-kun" Jawab Hinata malu. Ini pertama kalinya, Hinata memegang tangan seorang lelaki bukan karena sedang bertarung dan bukan dengan Ayah serta sepupunya, Neji. Tetapi dengan laki-laki yang bahkan baru seminggu dekat dengannya.
Setelah melepaskan tangan masing-masing, Gaara mulai berjalan lagi disamping Hinata. Berbeda dengan sebelumnya, Gaara terus tersenyum tipis disebelah Hinata.
Aku akan selalu menjadi milikmu
Aku akan selalu bersama dirimu
Memeluk dan Menentramkan dirimu
Tapi aku ingin tahu satu hal
Bisakah kau membalas semua itu dengan kata-kata manismu
CHAPTER 2
FINISH
NEXT:
CHAPTER 3
SAKURA
Thanks for read all ^^
please rnr :D sankyu
