Flower
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Thanks for read this ^^
Terimakasih kepada semua yang sudah memberi masukkan :D
Ekha : Sankyu itu Thank you, tapi orang jpn lebih sering ngmong sankyu :) Baca terus ya :) Thx for read :D
uchihyuu nagisa : Akan lebih kuperbaiki. Thank you for read :D
harunaru chan muach : kita lihat nanti ya XD Sankyuu for read ^^
CHAPTER 3
Sakura
Saat kuhentakan kakiku aku mulai sadar
Setiap detik nyawaku berkurang
Kadang aku berfikir
Apa mungkin aku tidak akan bisa
Melihat senyummu lagi?
SUNAGAKURE
Malam ini harusnya adalah malam perjamuan bagi para tamu Suna dari Konoha sekaligus perpisahan. Ino, Shikamaru, dan Hinata. Tetapi dengan bertambahnya anggota yaitu Sakura, Naruto, dan Sai yang memutuskan pulang lusa, akhirnya perjamuannya dilakukan esok malam.
"Maafkan kami, ya." Ujar Temari merasa tidak enak.
"Tenang saja, lagipula kurasa malam ini akan lebih baik kalau kami beristirahat. Terimakasih, Temari." Jelas Sakura seraya tersenyum senang.
"Terimakasih, Sakura." Temari lalu memberikan Sakura secarik kertas. "Ini dari Gaara, dia menitipkannya padaku untukmu, aku mau ke luar dulu, ya!" Temari langsung keluar dari penginapan setelah memberikan kertas tersebut.
Setelah Temari keluar dari penginapan, Sakura langsung membaca surat terebut dengan teliti.
"Temui aku?" Ucap Sakura membaca isi surat itu perlahan. "Apa maksudnya?" Sakura lalu memasukan surat itu ke saku-nya dan berjalan ke luar. Ia mencari sosok Gaara yang meminta Sakura menemuinya. Sakura langsung memasuki tempat yang ia tahu pasti disanalah Gaara berada, gedung Kazekage.
"Ah, Gaara. Ini aku Sakura." Ujar Sakura saat berada di depan pintu ruangan Gaara.
"Masuklah." Jawab Gaara dari dalam.
"Ada keperluan apa?" Tanya Sakura saat berdiri diruangan Gaara. Terlihat raut wajah Gaara yang tidak mengerti.
"Kukira kau yang memiliki keperluan." Balas Gaara yang sedang duduk dengan tangan yang menahan dagunya.
"Ini, kau berikan padaku?" Tanya Sakura seraya menyerahkan kertas yang diberikan Temari untuk-nya. Gaara mengambil kertas itu, dan membacanya. Ia lalu langsung memasukan kertas itu di sakunya.
"Maaf, sepertinya Temari menyerahkan kepada orang yang salah," Ulas Gaara. Sakura hanya memakluminya.
"Kalau begitu, aku permisi dulu." Sakura lalu membungkukkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu." Tahan Gaara, membuat Sakura menghentikan langkahnya.
"Apa?" Tanya Sakura.
"Ng.." Gaara hanya diam, tampak memikirkan sesuatu, hingga akhirnya ia mulai bicara kembali. "Tidak jadi, maaf." Lanjut Gaara.
"Baiklah, aku keluar ya, Gaara." Sakura lalu pamit untuk kedua kalinya dan benar-benar keluar dari ruangan itu.
Gaara yang masih duduk sendiri diruangan itu menghela nafas panjang dan berdiri dari tempatnya, keluar dari ruangan tersebut.
Semenjak keadaan Suna menjadi aman kembali, para penduduk mulai berani untuk keluar pada malam hari, sehingga keadaan Suna di malam hari tak sesepi malam sebelumnya. Melihat keadaan itu, para Shinobi Konoha mulai berjala-jalan mengelilingi Suna sebelum mereka pulang.
"Ternyata Suna itu dingin sekali saat malam hari!" Gerutu Naruto saat berjalan bersama teman-temannya, Shikamaru, Sai, Ino, Sakura, dan Hinata.
"Daritadi kau menggerutu terus! Aku bosan mendengarnya Naruto!" Seru Ino yang mulai kesal karena Naruto yang menggeruti sepanjang perjalanan mereka.
"Kau masih lebih baik Naruto! Aku memakai lengan buntung, lebih dingin tahu!" Papar Sakura. Naruto langsung melirik Sakura, dan buru-buru melepas jaket yang ia kenakan yang ia pakai dengan kaus hitam dibaliknya.
"Ini, gunakanlah Sakura-chan!" Ujar Naruto dengan senyum lebar. Sakura awalnya sedikit malu-malu, tapi akhirnya ia menerima jaket hitam-oranye milik Naruto dan langsung memakainya.
"Kenapa Ino dan Sai bisa tahan, ya?" Ucap Sakura saat melirik keduanya yang memakai baju atasan yang terbuka dibagian perut keduanya. Mendengar hal itu keduanya saling bertatapan dan menjawab bersamaan.
"Karena sudah biasa?"
Semua yang mendengarnya hanya tertawa melihat pasangan berbaju terbuka itu kompak atas jawaban mereka.
"O,ya Hinata, kau sendiri apa jaket itu cukup tebal untung menghangatkanmu?" Tanya Ino mengalihkan pembicaraan.
"Ah, lumayan." jawab Hinata seraya tersenyum simpul.
"Permisi," Sapa seorang lelaki yang wajahnya sudah sangat familiar bagi para Shinobi Konoha itu.
"Oh! Gaara! Tumben sekali kau ada diluar malam-malam begini!" Seru Naruto yang padahal baru tadi ia datang ke Suna.
"Ung, kau sendiri?" Tanya Gaara datar melihat kumpulan Shinobi itu bersama.
"Kami sedang jalan-jalan untuk melihat Suna sekarang! Sekalian mau mencari makan malam!" Jelas Naruto.
"Kurasa aku tahu, tempat makan yang biasa didatangi Shinobi luar." Ucap Gaara. Mendengarnya Naruto langsung antusias.
"Benarkah? Tolong antarkan kami, Gaara! Mau kan?" Pinta Naruto dengan wajah memelas pada sahabatnya itu.
"Tidak masalah." Gaara mengangguk dan menuntun mereka semua kesalah satu tempat makan yang berada di tengah Suna. Suasan di tempat itu cukup ramai, tidak hanya para penduduk Suna yang makan disana, tetapi para Shinobi yang sedang berkunjung pun sedang menyantap makanan yang terlihat lezat disana.
"Waah! Ada ramen!" Seru Naruto saat melihat daftar menu ditangannya.
Mereka semua duduk disebuah bantalan dengan satu meja besar, tempat makan dengan model ala tatami.
"Kau apa, Sakura-chan?" Tanya Naruto bersemangat, ia mulai melihat-lihat daftar menu itu bersama Sakura disebelahnya.
Hinata yang duduk tepat didepan Naruto, melihat pemandangan itu dengan bisu, hingga Gaara yang duduk disebelahnya mengetuk meja didekat tangannya.
"Pilihlah," Ucap Gaara memperlihatkan daftar menu ditangannya kehadapan Hinata. Hinata hanya mengangguk pelan.
Setelah semua memesan, mereka saling mengobrol satu sama lain selagi menunggu pesanan mereka.
"Kurasa, Gaara dan Hinata dekat sekali ya." Goda Ino jahil.
"A-Ah, I..Ino!" Hinata yang mendengarnya langsung salah tingkah dengan mukanya yang mulai memerah.
"Wah, mukamu mulai memerah!" Ujar Sakura tak kalah jahil.
"Sa..Sakura-chan! A..Aku.." Hinata mulai gugup dan berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik punggung tangannya yang ia taruh didepan wajahnya.
"Tidak usah malu begitu," Naruto tersenyum jahil.
"Naruto-kun juga! Bukan.. Be..Begitu!" Hinata mulai 'heboh' dengan sikap salah tingkahnya.
"Aduh Hinata, kalau salah tingkah begitu malah manis, loh." Ujar Ino lagi.
"Ti..Tidaak." Hinata mulai memanyunkan bibirnya sepeti anak kecil. Membuatnya tampak lebih manis.
Semua yang melihat tingkah Hinata langsung tertawa, sedang Hinata yang mendengarnya hanya menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Kh.." Semua langsung terdiam mendengar suara Gaara yang tertawa kecil melihat tingkah Hinata. Terlihat jelas Gaara menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan punggung tangan kanannya.
"Wah, Gaara tertawa!" Seru Naruto tak percaya.
"Ah, ini hal yang tidak bisa dilewatkan!" Sambung Ino.
Hinata yang melihatnya, mulai ikut tertawa.
"Fufu, benar juga." Ucap Hinata pelan. Gaara yang mendengarnya dengan jelas langsung sedikit salah tingkah dan langsung berdiri dari duduknya.
"Aku cari angin sebentar." Ucap Gaara yang berlalu meninggalkan mereka.
"Eh? Apa dia marah?" Tanya Ino.
"Merepotkan." Ulas Shikamaru yang sedari tadi hanya menonton bersama Sai.
"Diam kau! Tapi, itu hal yang sangat jarang, kan?" Ino lalu mulai menghentikan dirinya yang terus berfikir mengenai tingkah Gaara tadi, saat makanan mereka datang.
"Wah, makanan sudah datang. Gaara masih diluar, ya?" Ujar Sakura seraya melihat-lihat kearah luar.
"Bi..Biar kupanggilkan." Hinata lalu berdiri dari duduknya dan berjalan kearah luar. Dilihatnya Gaara yang sedang berdiri menyender ke sebuah tembok di tempat makan itu.
"Hinata?" Gaara yang melihat Hinata langsung berjalan kearahnya.
"Pesanannya sudah ada, ayo masuk." Ucap Hinata malu-malu, mengingat kejadian yang tadi.
"Ah, kau duluan saja," Jawab Gaara dengan tersenyum tipis. Seperti biasa, Gaara selalu menjawab perkataan Hinata disertai senyuman. Hinata lalu diam sejenak dan menggeleng pelan.
"A..Aku akan menemanimu disini." Hinata lalu menundukkan wajahnya, menutupi wajahnya yang memerah.
"Ung," Gaara lalu menepuk kepala Hinata lembut. "Pakailah ini," Ucap Gaara seraya melepaskan jubah Kage-nya.
"Tidak usah!" Ujar Hinata cepat.
"Cuaca malam ini lebih dingin dari biasanya, jagalah kesehatanmu." Gaara memakaikan jubah-nya perlahan ditubuh Hinata.
"Te...Terimakasih." Ucap Hinata. Gaara yang mendengarnya hanya mengangguk.
"Bagaimana?" Tanya Gaara.
"Eh?"
"Naruto, kau menyukainya?" Tanya Gaara memperjelas.
"Un, Dulu." Jawab Hinata. Gaara yang mendengarnya sedikit 'panas' tapi reda kembali mengingat Naruto adalah kekasih Sakura seperti yang ia dengar dari Temari.
"Bisa aku merebutmu?" Tanya Gaara lagi.
"A...Ma..Maksudmu?" Tanya Hinata balik.
"Tidak perlu pura-pura tidak tahu Hinata. Aku sudah bilang aku menyukaimu, aku akan berusaha mendaptkanmu, aku akan bersabar." Ungkit Gaara tenang. Hinata hanya tertunduk mendengarnya.
"En..Entahlah." Hinata lalu mulai memainkan jarinya.
"Lapar?" Tanya Gaara mengubah topik pembicaraan mereka.
"Ah, ung," Jawab Hinata seraya mengangguk.
"Baiklah, ayo kita masuk." Ujar Gaara sesaat setelah ia mengelus rambut Hinata pelan.
Setelah keduanya datang, para Shinobi itu langsung ramai dengan Hinata yang memakai jubah Gaara. Setelah memberikan penjelas, akhirnya mereka semua mulai diam kembali. Lalu setelah semua menyantap makanan mereka, semuanya keluar dan mulai berjalan kembali.
"Ah, Hinata, bisa aku bicara denganmu sebentar?" Tanya Naruto. Hinata yang mendengarnya hanya terdiam, ia melirik ke arah Sakura yang berada didepannya, Sakura hanya menunduk diam.
"A..Aku.."
"Kumohon." Ujar Naruto serius yang dibalas dengan anggukan Hinata. "Yosh! Ayo! Sebentar semuanya!" Seru Naruto yang menarik tangan Hinata. Mereka berlari kearah sebaliknay dari teman-temannya berjalan. Sebelum jauh, Hinata melirik kebelakang, ia melihat wajah Sakura yang cemas, lalu ia melirik Gaara, yang menatapnya tajam.
"Gaara-kun.."
Saat merasa bahwa tidak ada siapa-siapa ditaman Suna itu, Naruto akhirnya berhenti berlari dan berdiri menghadap Hinata.
"Ah, Naruto-kun? Ada hal yang ingin kau bicarakan?" Tanya Hinata.
"Begini, Hinata. Hmm... Aku sangat berterimakasih atas pengakuanmu saat itu." Ucap Naruto mengingat pernyataan cinta Hinata padanya dulu.
"Soal itu, tidak.." Hinata mulai gugup mendengarnya. Ia tahu bahwa saat ini pasti Naruto akan meminta maaf dan menolaknya.
"Hinata! Bisa kau tunggu aku lagi? Aku merasa, saat tidak ada dirimu..." Naruto mulai menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal itu.
"Eh?"
"Begitulah Hinata, kalau bisa, aku ingin diberikan kesempatan kedua." Ujar Naruto. Hinata yang mendengarnya tidak senang, malah ia sedih dengan jawaban itu. Kalau begitu, mengapa ia memilih Sakura? Pertanyaan itu berputar-putar dalam benak Hinata.
"Lalu Hinata," Lanjut Naruto. "Apa aku masih bisa?" Tanya Naruto.
"Maaf, Na..Naruto-kun. Aku tidak tahu ini perasaan sepihak atau bukan, tapi.. Meski begitu, ada seseorang yang selalu mengganggu pikiranku saat ini." Jawab Hinata. Naruto yang mendengarnya cukup kaget. Ia lalu tersenyum.
"Begitu,ya? Maafkan perkataanku ya, Hinata. Aku memang plin-plan. Aku kemari sebenarnya bukan ingin menyusul kalian. Tapi pikiranku terus berputar mengenai pernyataanmu yang belum kujawab. Aku kira ini 'cinta' ternyata saat kau beri aku jawaban begitu, ternyata bukan, tapi kurasa ini rasa 'tanggung jawab', maafkan aku Hinata, aku benar-benar minta maaf!" Seru Naruto yang membungkuk sedalam-dalamnya.
"Tidak perlu, Naruto-kun, maafkan aku." Ujar Hinata.
"Baiklah, ah ayo kita kembali." Ajak Naruto. Hinata menggeleng.
"Aku ingin disini dulu, tak apa kan?" Tanya Hinata. Naruto mengerti bahwa gadis ini butuh sendiri dulu. Ia mengangguk paham.
"Baiklah! Hati-hati Hinata!" Naruto lalu berlari dan meninggalkan Hinata sendiri.
"Bodoh," Bisik Hinata. Air matanya mulai keluar perlahan, ia hanya menangis dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Ini," Terlihat saputangan lavender yang Hinata kenal berada didepan wajahnya.
"Gaara-kun?" Hinata lalu segera menghapus air matanya.
"Aku khawatir, makanya aku kemari. Benar saja, ada anak kecil yang menangis." Ucap Gaara.
"Aku bu..Bukan anak kecil!" Hinata lalu menarik saputangan dari tangan Gaara dan mengahpus air matanya.
"Kau mau berkhianat sih, dasar bodoh." Ucap Gaara seraya tersenyum tipis.
"Eh?"
"Lihat wajah menangismu itu, membuat orang ingin menggodamu. Jangan menangis." Gaara lalu mengelus rambut Hinata lembut.
"Te...Terimakasih." Hinata lalu menutupi wajahnya yang mulai memerah dengan saputangan itu.
"Um, aku akan lebih lembut." Ujar Gaara. Hinata hanya tersipu malu dengan segala ucapan yang dituturkan oleh lelaki didepannya ini.
"Ah, maaf kau jadi harus mengejarku." Hinata lalu membungkukan tubuhnya.
"Ah, tidak juga, sebenarnya aku mengejarmu untuk jubah itu." Tunjuk Gaara pada jubah Kage yang dikenakan Hinata.
"Eh? Maaf!" Seru Hinata malu.
"Bercanda." Gaara lalu menarik lengan Hinata lembut dan berjalan beriringan dengan Hinata. "Yah, kurasa ini cukup sebagai imbalan jubah itu." Ucapnya. Hinata hanya bisa mengikuti kemauan Gaara dan ikut berjalan dengannya.
"Ga..Gaara-kun sakit?" Tanya Hinata pada Temari yang memberitahukan informasi itu padanya tadi pagi.
"Iya, kurasa karena semalaman ia keluar hanya dengan baju tipis. Kenapa?" Ujar Temari. Ia mulai tersenyum melihat kekhawatiran di raut wajah Hinata.
"Tidak, terimakasih." Hinata lalu menggeleng pelan.
"Aku tidak bisa meninggalkan akademi. Jadi dia sedang tidur sendirian, bagaimana kalau kau membantuku merawatnya?" Tanya Temari.
Awalnya Hinata tidak mau, tetapi mengingat bahwa Gaara sakit karena ia meminjamkan jubahnya pada Hinata, ia merasa bertanggung jawab. Lagipula, hari ini adalah malam terakhir Hinata di Suna.
"Baiklah, aku akan merawatnya." jawab Hinata disambut senyum Temari.
"Baiklah, kutitipkan adik kecilku padamu,ya!"
Saat memasuki rumah Gaara, yang disambut Kankurou, Hinata langsung diarahkan untuk memasuki kamar Gaara yang berada di lantai 2 oleh Kankurou.
"Gaara-kun?" Panggil Hinata setelah mengetuk pintu kamarnya.
"Masuk." Jawab Gaara saat mendengar suara Hinata.
"Ah, kau... Baru bangun?" Tanya Hinata.
"Sudah dari tadi." Jawabnya lirih. Suaranya sedikit parau karena demam.
"Maafkan aku , Gaara-kun, karena aku, kau jadi sakit." Hinata lalu menunduk sedalam-dalamnya.
"Bukan karenamu, setelah pulang aku mengerjakan tugas hingga larut ditengah malam dingin, mungkin karena itu. Bukan salahmu." Bela Gaara.
"Kau makan sesuatu?" Tanya Hinata. Gaara menggeleng.
"Tidak perlu, Kankurou baru membuatkanku makanan tadi pagi."
"Kalau begitu tidurlah, kau perlu banyak istirahat." Ucap Hinata.
"Duduklah, Hinata." Pinta Gaara. Hinata lalu duduk disebuah bangku yang berada disebelah kasur Gaara. "Besok kau pulang?"
"Begitulah." Jawab Hinata.
"Oh," Tampak kekecewaan di wajah Gaara saat mendengarnya. Lambat laun, Gaara mulai tertidur secara perlahan.
"Hei, jangan tidur meringkuk begitu," Ucap Hinata melihat Gaara yang tidur dengan tangannya yang mencengkram kasur itu dengan kuat.
"Gaara-kun, santailah saat kau tidur." Hinata lalu memegang tangan Gaara, membuat tangan itu perlahan melepaskan cengkraman kuatnya, dan tertidur dengan santai.
"Hinata, Jangan pergi." Bisik Gaara. Hinata hanya diam mendengarnya, ia lalu berdiri dan perlahan memeluk Gaara dengan merangkulkan tangannya di leher Gaara.
"Maafkan aku, Gaara-kun."
Setelah cintaku tandas
Aku tak tahu cara menghilangkan kepedihan itu
Tetapi aku memiliki tempat bersandar yang menolongku
Saat mengulurkan tangan
Ada yang menungguku
CHAPTER 3
FINISH
NEXT:
CHAPTER 3
LAVENDER
Thanks for read all ^^
please rnr :D sankyu
