Flower And The Moon

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Thanks for read this ^^

Terimakasih kepada semua yang sudah memberi masukkan :D


Ekha : Sankyu udh mau baca :D Liat terus ya buat kelanjutannya !

Haze kazuki : sankyuu osh! Aku akan lebih baik dan berusaha lagi! :) sankyu masukannya :)

Chikuma new : Hi chiku! :D hehe.. belum tentu loh #plak itu dibuat angst karena niatnya sih mau ada sedihnya gitu /jedeer/ oke~ baca terus ya!

OraRi HinaRa : sankyu for review! Ah benar! #abis liat2/ aih, Gaara emang manis /~ sippo

harunaru chan muach : sankyuu ini pasti aku apdet sampai complete kok ;) selagi liburan~ :Dv


CHAPTER 4

Lavender


Perasaanku mengatakan

Suatu hari wangimu ini akan hilang dari hadapanku

Karena itu, meskipun kau harus berbohong

Katakan kau tidak akan meninggalkanku

Hilangkan rasa khawatirku ini padamu


SUNAGAKURE

Akhirnya, pagi ini adalah pagi yang sangat ditunggu oleh para Shinobi Konoha untuk kembali ke Desa-nya dari Suna. Kumpulan Shinobi Suna mengantar kepergian mereka hingga pintu gerbang Suna bersamaan dengan Kazekage.

"Yosh! Kami pergi dulu, Gaara!" Seru Naruto bersemangat. Cuaca yang cerah pagi itu, membuat Naruto lebih bersemangat dari sebelumnya dibandingkan malam kemarin yang gelap dan sunyi.

"Baiklah." Gaara lalu membungkuk dan mengulurkan tangannya. "Terimakasih atas bantuan kalian." Lanjut Gaara dengan nada-nya yang datar. Naruto langsung menyambar tangan Gaara seraya tersenyum lebar.

"Gaara, hubungi saja kami apabila ada masalah disini!" Jelas Shikamaru yang berdiri disamping Ino dan Hinata.

"Baik." Gaara lalu menyerahkan sebuah gulungan kertas dan menyerahkannya pada Shikamaru.

"Untuk Godaime? Baiklah." Setelah menerimanya, Shikamaru langsung memasukan gulungan tersebut ke dalam kantung kunainya.

"Terimakasih sudah membantu, kami sangat tertolong, Shikamaru, Ino, dan Hinata." Ucap Temari.

"Mana terimakasih pada kami!" Gerutu Naruto mendengar namanya tidak disebut oleh Temari.

"Setahuku, kau tidak membantu apa-apa, Naruto!" Temari lalu memandang Naruto ketus. Naruto yang melihatnya hanya tertawa kecil.

Gaara lalu menuju ke arah Naruto dan membisikkan sesuatu pada sahabat-nya itu.

"Baiklah, percayakan padaku!" Jawab Naruto setelah mendengar bisikan Gaara. "Ayo kita pergi!" Seru Naruto.

"Ah, sebentar!" Seru Hinata pelan. Ia tampak malu-malu dan berjalan mendekati Gaara.

"Apa, Hinata?" Tanya Gaara datar.

"Ini, obat-obatan yang kubuat apabila kau sakit lagi. Kurasa.. I..Ini.. Akan berguna." Hinata lalu menyerahkan sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu kepada Gaara yang langsung menerimanya dan memasukkan kotak itu kedalam saku bajunya.

"Ah, terimakasih." Jawab Gaara seraya tersenyum tipis. Ia lalu melihat ke arah Hinata yang berdiri di hadapannya. Gaara hanya berfikir, apa ia masih dapat melihat gadis ini lagi kedepannya. Jujur saja, saat Gaara melihat Hinata berbalik menuju ke arah teman-temannya, Gaara sangat ingin langsung menarik Hinata dan menyuruhnya jangan kembali. Tapi, Ke-egoisan Gaara masih dapat ia kontrol dengan baik.

"Gaara-kun, terimakasih. Selamat tinggal." Hinata lalu tersenyum simpul sebelum seluruh teman-temannya berjalan untuk kembali pulang ke Konoha. Hinata hanya memandang wajah Gaara sebentar dan berjalan ke arah teman-temannya yang sudah lebih dulu berjalan ke luar gerbang Suna.

"Hinata!" Gaara lalu berjalan lebih cepat menuju ke arah Hinata. Gaara langsung menarik tangan Hinata, sekan mengatakan 'jangan pergi' padanya.

"Ini.. Bukanlah sesuatu yang bisa kuselesaikan dengan mudah seperti ini. Ternyata, perasaanku memang tidak dapat berubah. Mulai sekarang, aku juga akan memikirkan apa yang bisa kulakukan untukmu, karena itu.. Kumohon, jangan katakan 'selamat tinggal' seolah-olah kita tidak akan bertemu lagi." Ujar Gaara serius. Gaara tetap memandang Hinata lekat.

"Tapi, kita berbeda desa..Sangat sulit untuk bertemu." Hinata lalu memainkan jarinya seperti biasa dengan wajahnya yang mulai merah.

"Disini.."

"Eh?"

"Tetaplah disini." Gaara lalu menundukkan kepalanya dalam seraya memegang kedua pundak Hinata erat.

"Ga...Gaara-kun," Ucap Hinata lirih melihat tindakan Kazekage muda satu ini.

"Maaf, kumohon.. Aku tidak akan lebih egois daripada ini!" Seru Gaara pelan. Pundak Gaara terlihat gemetar. Hinata yang melihatnya lalu menepuk kepala Gaara pelan.

"Gaara-kun, datanglah ke Konoha. Dengan begitu, aku bisa membicarakannya baik-baik dengan Otou-san." Ujar Hinata.

Gaara langsung mengangkat wajahnya. Ia memandang mata Hinata dengan serius. Gaara lalu melemahkan cengkraman tangannya di kedua pundak Hinata dan melangkahkan kakinya mundur.

"Ung, secepatnya aku akan kesana." Gaara lalu merogoh-rogoh saku pakaiannya, dan mengambil sesuatu didalamnya. Terlihat sebuah saputangan berwarna lavender milik Hinata.

"Ini, aku akan mengambil kembali saputangan ini. Aku berjanji." Ujar Gaara seraya menyerahkan sehelai saputangan itu kepada Hinata yang mengangguk cepat.

"Baiklah, aku akan sangat menunggu janjimu, Gaara-kun." Hinata lalu memasukkan saputangan tersebut kedalam kantung kunainya. Mereka berdua lalu mulai diam. Keduanya merasa belum mau berpisah secepat ini. Tapi, mereka merasa inilah awal ujian yang harus mereka hadapi.

"Baik-baiklah, Hinata." Ucap Gaara sambil mengelus kepala Hinata pelan, hal yang sering ia lakukan pada gadis itu.

"Kau juga. Aku menunggumu." Hinata lalu membungkuk dihadapan Kazekage itu, dan berbalik menuju arah teman-temannya.

Gaara yang melihatnya mulai mengembangkan senyum tipis kala melihat gadis itu berpaling lagi untuk memberikan senyuman-nya, senyuman yang membuat Gaara jatuh cinta pada gadis itu.

"Aku akan merindukanmu,"


KONOHAGAKURE

Sudah lebih dari 1 Minggu Gaara tak kunjung menepati janjinya pada Hinata. Hinata paham benar dengan keadaan di Suna. Gaara adalah Kazekage, pemimpin Desa itu. Apa jadinya bila Gaara meninggalkan desa hanya untuk seorang gadis? Tidak semua orang akan memaafkan hal tersebut.

"Onee-chan, kau sedari tadi melamun terus." Ujar Hanabi yang duduk disebelah Hinata.

Mereka berdua duduk ditengah taman milik keluarga Hyuuga yang terbilang cukup besar. Tempat ini sering menjadi curahan hati Hinata saat ia merasa galau dan gundah. Sama halnya dengan Hanabi.

"Maaf, Hanabi." Hinata lalu terbangun dari lamunannya dan tertawa kecil. Hinata mengambil sebuah jeruk yang berada disampingnya. Jeruk yang sudah dikupas oleh Hanabi untuk Kakak perempuannya itu.

"Onee-chan, kudengar penerimaan Hokage baru itu akan diadakan Minggu depan, ya?" Tanya Hanabi mengulang perkataan teman-temannya di Akademi.

"Oh, ya, begitulah. Semua penduduk akan berkumpul didepan Gedung Hokage. Seperti saat Godaime dulu." Ingat Hinata senang. Saat itu, ia merasa sangat bahagia, karena saat pengangkatan Godaime selaku Hokage kelima, Naruto juga ikut pulang dengan Hokage itu.

"Naruto,kan?" Tanya Hanabi lagi mengkoreksi. Hinata yang mendengarnya mengangguk setelah ia memakan jeruk yang ia pegang tadi.

"Iya, Naruto-kun sudah menjadi Shinobi yang hebat." Hinata lalu tersenyum simpul mengingat laki-laki yang pernah dicintainya itu.

"Hmm, ingat Naruto, jadi ingat Kage Muda di Suna. Menurut Onee-chan, siapa yang paling keren? Naruto atau Kage di Suna itu?" Tanya Hanabi lagi.

Kali ini, Hinata tidak bisa memberikan jawaban. Matanya sedikit membulat mendengar ucapan Hanabi. Hinata harusnya dengan mudah menjawabnya apabila ia tidak mengenal Gaara. Tapi kali ini, terasa sulit memilih satu diantara keduanya.

"Onee-chan?"

"A...Aku... Entahlah! Keduanya hebat!" Seru Hinata tergagap. "Baiklah, aku harus siap-siap latihan siang ini bersama Kiba-kun dan Shino-kun!" Hinata lalu langsung berdiri dan menuju ke pintu luar dengan tergesa-gesa.

"Ada apa dengannya?"


"Hinata! Kau telat!" Seru Kiba yang terlihat sedang bersender di tubuh Akamaru.

"Maaf!" Seru Hinata yang masih berlari dengan cepat menuju kawanannya itu.

"Hinata? Kau dari mana saja? Tumben sekali kau telat." Tanya Kurenai melihat murid gadis pertamanya itu baru datang.

"Maaf, Kurenai-Sensei! Tadi aku meninggalkan perlengkapan kunai milikku!" Jelas Hinata. Ia lalu mengkontrol nafasnya yang tersenggal-senggal itu.

"Ini, Hinata." Tawar Shino seraya memberikan Hinata sebotol air minum. Hinata lalu meminumnya dengan cepat.

"Terimakasih, Shino-kun."

Setelah Hinata beristirahat sebentar, semuanya langsung berdiri dan memulai latihan mereka. Kiba berlatih dengan Akamaru, Shino berlatih dengan Kurenai dan Hinata berlatih menyempurnakan lebih baik jyuuken-nya dengan menghantamnya disebuah pohon besar.

"Baiklah! Kalian semua memang sudah bertambah kuat sekarang!" Ujar Kurenai yang tampak lelah setelah melawan Shino.

"Te..Terimakasih." Hinata dan yang lainnya langsung membungkuk, memberi hormat pada guru yang mengajari mereka saat Genin itu.

"Ok, aku harus pulang sekarang. Kurasa Shikamaru sudah kelelahan menjaga anakku!" Canda Kurenai mengingat Shikamaru yang menjaga anak nya dan Asuma.

"Baik! Terimakasih guru Kurenai!" Ujar mereka bertiga serempak.

Setelah Kurenai menjauh, para 3 Shinobi itu lalu duduk untuk beristirahat.

"Hoaam, aku lelah sekali hari ini." Keluh Kiba. Akamaru mengonggong mendengar pemiliknya itu mengeluh.

"Akamaru juga?" Tanya Hinata yang menjongkok di depan Akamaru. Ia mengelus kepala Akamaru lembut.

"O,ya kudengar Minggu depan si Naruto akan jadi Hokage, ya? Sulit dipercaya. Padahal, kukira kalau Hokage selanjutnya itu Guru Kakashi atau Shikamaru, tetapi malah dia yang meneruskan Desa kita ini." Ujar Kiba yang sedang menyender di sebuah pohon besar tepat disebelah Akamaru.

"Iya, aku juga tidak percaya saat mendengarnya." Ucap Shino menyetujui.

"Ku..Kurasa ia cocok." Hinata lalu berdiri dan membereskan kunainya. Kiba yang mendengar pernyataan Hinata hanya tertawa kecil.

"Haha, untukmu sih Naruto cocok jadi apapun, kan!" Seru Kiba. Kiba memang tidak terlalu mengikuti berita di Konoha, hingga ia belum tahu kalau Naruto dan Sakura sudah menjadi sepasang kekasih. Kalau ia tahu, mungkin saja ia malah tidak ingin membicarakan Naruto didepan Hinata saat ini.

"Kiba-kun, aku kan serius." Celoteh Hinata. Kiba hanya tertawa tanpa merasa bersalah.

Setelah mereka bertiga cukup dengan waktu istirahat mereka, akhirnya mereka sepakat untuk kembali ke rumah masing-masing.

Hinata tampak kesepian saat berjalan sendiri di tengah kerumunan penduduk Konoha yang menyiapkan penyambutan Kage baru di Konoha yang diadakan Minggu depan, atau lebih tepatnya 5 hari lagi. Ia hanya tersenyum-senyum sendiri melihat beberapa pajangan dengan wajah Naruto didalamnya.

"Hinata!" Seru gadis berparas cantik yang sedang berlari menuju arah Hinata.

"Ino?" Panggil Hinata kaget melihat sahabatnya satu itu langsung memeluknya.

"Ini! Lihat cepat!" Ujar Ino seraya menyerahkan sebuah amplop dengan warna emas kecoklatan yang terukir rapih di pinggir amplop cantik itu. Hinata perlahan-lahan membukanya. Dibaca-nya perlahan namun teliti. Dari awal kalimat, ia sudah tahu apa maksud dari surat itu, sebuah Undangan, yang tentu saja mengundang seluruh orang yang mendapatkan surat ini. Surat dengan tulisan Perayaan Pernikahan Sai dan Ino Yamanaka. Pesta pernikahan yang akan diadakan 3 hari lagi, yaitu hari Sabtu. Hinata langsung tersenyum senang saat membacanya.

"Selamat, Ino!" Seru Hinata bersemangat. Ia langsung memeluk erat gadis yang sedang berbahagia dihadapannya ini.

"Terimakasih, Hinata! Kau harus datang,ya! Dan, kau harus tahu!" Kata Ino belum habis. Hinata hanya tetap menunggu kelanjutan dari kalimat Ino yang masih antusias.

"Aku mengundang lelaki dari Desa Tetangga kita, Suna! Aku mengundang Kazekage!" Sahut Ino cepat melihat wajah Hinata yang penuh tanya.

Saat mendengar kata Kazekage, jantung Hinata berdegup cepat. Ia tidak yakin apa alasannya, tapi mendengar kata itu saja, Hinata bisa merona merah.

"Su..Sungguh?" Tanya Hinata memastikan.

"Ya! Semoga mereka bisa datang." Ujar Ino senang.

"Iya!" Seru Hinata bersemangat. Bagaimana tidak? Laki-laki yang ia harapkan kedatangannya akan datang mengunjungi Desa-nya. Dalam hati, Hinata terus berdoa agar Gaara dapat datang ke Konoha segera mungkin.

"Gaara-kun, cepatlah datang." Ucap Hinata lirih dalam hatinya.


SUNA

"Undangan?" Tanya Gaara mengulang perkataan Temari.

"Iya, Undangan dari Konoha mengenai Pernikahan Sai dan Ino. Dua Shinobi yang waktu itu membantu kita." Jawab Temari menjelaskan.

Gaara yang mendengarnya mengangguk paham. Temari lalu memandang lekat adik bungsunya yang satu itu.

"Heee... Sepertinya kau terlihat senang. Ada apa?" Tanya Temari penasaran.

"Bukan apa-apa." Tukas Gaara cepat. Terlihat wajahnya sedikit salah tingkah mendengar ucapan Kakak perempuannya itu.

"Hinata." Ucap Temari dengan nada jahil. Gaara yang mendengar nama itu, langsung memandang Temari tak percaya. Ia lalu langsung menutupi wajahnya dengan punggung tangannya. Wajah Gaara merona merah langsung disadari oleh Temari.

"Hoho, akhirnya kau terpikat juga dengan wanita! Aku senang mengetahuinya!" Ujar Temari seraya mengelus rambut adiknya itu.

"Jangan permainkan aku!" Seru Gaara sedikit kesal dan malu.

"Jujurlah pada perasaanmu, Gaara! Kalau kau malu mengakuinya, bagaimana bisa kau pertahankan dia?" Ujar Temari mengingatkan.

Gaara hanya mengangguk. Ia lalu menatap wajah Kakaknya yang masih tersenyum senang.

"Aku mengerti,"

"Jangan hanya dengan kata-kata Gaara. Lewat tindakan! Jangan sampai para tetua itu akan memperlakukan Hinata sama dengan yang lain. Ingat, Hinata adalah pewaris Hyuuga. Kau akan sangat susah mendapatkannya, ini bukan main-main Gaara." Ujar Temari serius.

"Tidak ada sangkut pautnya dengan latar belakang, Nee-san."

"Berjuanglah, Gaara. Tapi, tidak mudah bagimu melawan para tetua yang nantinya akan sangat menyebalkan."

"Yang bicara, biarkan saja bicara. Aku akan melindunginya."


Pernikahan Ino dan Sai yang digelar hari ini cukup meriah. Banyak berdatangan Shinobi serta warga Konoha maupun luar Desa yang diundang. Sementara Ino dan Sai yang sibuk menyapa para tamu. Hinata tampak mencari-cari sesosok yang ia nantikan dari awal.

"Hinata!" Seru gadis yang dikuncir empat itu di hadapannya.

"Temari?" Ujar Hinata senang. Ia merasa bahwa kehadiran Temari disini berarti ada pula Gaara yang ikut datang.

"Halo Hinata! Aku sedang mencari-cari Sakura, tapi tidak bertemu. Kau lihat?" Tanya Temari.

"Ah, kalau Sakura dia sedang berada di ruang ganti setelah membantu Ino berdandan." Jawab Hinata. Hinata lalu mengedarkan pandangannya, mencari-cari Gaara yang kunjung belu ia lihat.

"Ah, Hinata! Kau cari Gaara, ya?" Tanya Temari. Hinata mengangguk malu.

"Dia baru saja sampai, jadi kurasa dia sedang mencari angin dulu diluar." Ujar Temari. Hinata yang mendengarnya langsung mengarahkan pandangannya keluar.

"Te..Terimakasih, Temari-san," Hinata lalu membungkuk dan lansgung berjalan lebih cepat untuk keluar dari tempat pernikahan Ino.

Hinata terus mencari sosok lelaki berambut merah itu, tapi tak kunjung ia temukan, yang ia temui malah laki-laki berambut pirang dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

"Hinata!" Seru Naruto. Hinata yang melihatnya, langsung tersenyum tipis.

"Kau sedang Naruto-kun?" Tanya Hinata melihat Naruto yang terlihat linglung itu. Naruto hanya tertawa kecil.

"Sakura, kau lihat dimana dia?" Tanya Naruto. Hinata lalu menjawab sama halnya dengan yang ia jawab pada Temari tadi.

"Baiklah, terimakasih, Hinata! O,ya tadi aku melihat Gaara, tapi dia menghilang lagi. Tadi dia sempat mencarimu!" Ujar Naruto sebelum akhirnya ia memasuki tempat pernikahan Ino dan Sai.

"Gaara-kun mencariku? Aku juga mencarinya." Keluh Hinata pada dirinya sendiri.

Hinata tetap berjalan menyusuri jalan di Konoha. Ia berjalan perlahan, mencari-cari sosok Gaara. Hinata berjalan seraya memainkan jarinya. Ia merasa bosan berjalan sendiri ditengah kerumunan padat penduduk Konoha yang saat ini sedang menyusuri jalan untuk datang ke Pernikahan Ino. Merasa lelah, Hinata berniat untuk mencari angin di taman Konoha yang tidak begitu jauh dari tempat Pernikahan Ino dan Sai. Dilihatnya, taman itu kosong tanpa ada seorang anak kecilpun yang bermain disana. Merasa akan tenang, Hinata lalu duduk disebuah ayunan yang terbuat dari kayu, dengan rantai besi panjang yang menahannya. Ia mulai menggerakan ayunan tersebut perlahan. Dalam keheningan, Hinata bermain pelan. Ia takut, apabila ia mengayunkannya terlalu kencang, ia bisa jatuh dari ayunan itu.

Hinata lalu mengadah ke atas. Menatap langit cerah, hingga akhirnya langit itu tertutupi oleh sesosok pria yang paling ia ingin temui saat ini.

"Gaara-kun!" Seru Hinata, ia lalu mengehntikan ayunan-nya dan langsung berdiri.

"Lama tidak jumpa Hinata. Melihatmu bermain begini, sedikit terlihat menyeramkan." Canda Gaara.

"Kau lama sekali." Ujar Hinaat dengan wajahnya yang sedikit kesal, tapi langsung berganti dengan senyuman.

"Maafkan aku. Aku mencari-mu ke arah sebaliknya, kalau saja Naruto tidak memberitahuku, mungkin aku akan tersesat disini." Ujar Gaara dengan tawa kecil menghiasi kalimatnya.

Lalu mereka berdua diam sebentar. Hingga Gaara menarik lengan Hinata dan berjalan beriringan.

"Kita.. Mau kemana?" Tanya Hinata bingung.

"Rumahmu."

.

.

.

.

Kediaman Hyuuga kali ini tidak sepi, tidak pula ramai. Kedatangan Gaara membuat Hiashi cukup bergeming. Pertama kalinya Hinata membawa teman lelaki kerumah selain Kiba dan Ino yang memang satu tim dengannya. Hiashi lalu mempersilahkan Gaara duduk dan menyuruh Hanabi untuk membuatkan Kazekage satu ini secangkir teh.

"Kazekage-sama, hal apa yang membuat anda datang kemari?" Tanya Hiashi. Ia terlihat bingung melihat gelagat anaknya yang tampak malu-malu disamping Gaara.

"Hiashi-san, saya Sabaku Gaara dari Suna, selaku Kazekage disana. Saya kemari datang untuk berkunjung, sekaligus meminta ijin anda untuk melamar anak anda, Hinata." Ucap Gaara tegas. Bukan hanya Hiashi yang dibuat kaget, begitu pula Hinata dan Hanabi yang mendengarnya.

"Maksudmu?" Tanya Hiashi pura-pura tidak mengerti.

"Saya bertemu dengan anak anda saat ia misi di Suna. Sejak saat itu, saya mencintainya. Kalau bisa, saya sangat ingin melamarnya dan menjadikan Hinata menjadi Istri saya." Ulang Gaara menjelaskan lebih detail. Gaara lalu menundukkan wajahnya sedalam mungkin dengan keadaan bersimpuh. "Saya mohon!"

Hiashi melirik kearah Hinata yang tertunduk dengan wajahnya yang sudah memerah, satu hal yang ia dapatkan, Hinata juga mencintai laki-laki di hadapannya. Hiashi lalu melirik lagi kearah Hanabi yang langsung memasang wajah 'tidak mau ikut campur'. Ia menghela nafas panjang. Dilihatnya Gaara yang masih tertunduk di seberangnya.

"Gaara, kau Kazekage, bukan? Aku tidak yakin seorang Kazekage dapat meluangkan waktunya dengan baik kepada Istrinya." Ujar Hiashi serius.

"Aku bersumpah, Hiashi-sama. Aku tidak akan pernah mengecewakan anda." Ujar Gaara yang langsung mengangkat wajahnya.

Hiashi menganggap Gaara berani. Baru kali ini ada anak muda yang seberani Gaara untuk langsung menemuinya dan melamar anak gadis sulungnya itu.

"Aku masih harus berfikir dua kali, Hinata adalah pewaris klan Hyuuga." Jelas Hiashi. Gaara langsung bergeming. Inilah hal yang ia tahu akan datang. Hinata adalah pewaris Hyuuga, dan tak semestinya Hinata pergi dari Konoha.

"Otou-san, bukankah.. Masih ada aku?" Sambung Hanabi yang sedang berdiri di sudut ruangan.

"Hanabi.." Ucap Hinata lirih. "Otou-san, kumohon. Aku sangat ingin bersama Gaara!" Ujar Hinata. Ia lalu menundukkan wajahnya juga. Gaara yang melihatnya langsung menepuk pundak Hinata.

"Kau tidak perlu seperti ini, angkat wajahmu Hinata." Ucap Gaara lembut. Hinata yang melihatnya langsung mengangguk paham.

Hiashi sekali lagi menghela nafasnya lebih panjang. Ia lalu menutup matanya dan membukanya perlahan.

"Baiklah, aku merestui kalian. Akan tetapi, Gaara! Ingat ini baik-baik, sekali aku dengar kau membuatnya kecewa, dan menyakitinya, aku tidak akan memaafkanmu!"Ujar Hiashi.

"Anda bisa mengambil kepalaku saat waktu itu tiba." Jawab Gaara tak kalah serius. Hiashi lalu tersenyum tipis melihat kesungguhan hati dari laki-laki didepannya ini. Ia lalu menepuk pundak Gaara.

"Kupercayakan padamu." Hiashi lalu berdiri dan berjalan menuju ruangan pribadinya. Meninggalkan Gaara dan Hinata serta Hanabi yang masih berdiri disana.

"Hanabi, aku sangat berterimakasih padamu." Ujar Gaara seraya tersenyum.

"Baiklah." Jawab Hanabi. Ia tampak kaget, melihat reaksi Kazekage yang ia dengar dari temannya adalah orang yang berdarah dingin. Tahu kalau sudah tidak ada yang diperlukan lagi, Hanabi langsung berjalan memasuki kamarnya.

"Gaara-kun, terimakasih." Ucap Hinata. "Kau memenuhi janjimu." Hinata lalu merogoh saku jaketnya, diambilnya sebuah saputangan lavender miiknya.

"Ambilah, kau akan membutuhkannya nanti." Lanjut Hinata.

Gaara lalu mengambilnya dan memasukan kedalam bajunya. Ia lalu terdiam sesaat bersama Hinata. Gaara lalu langsung meraih gadis itu dan memeluknya erat.

"Kau, benar-benar mau menikah denganku?" Tanya Gaara yang masih memeluk Hinata erat.

"Iya, Gaara-kun." Jawab Hinata pasti.

"Terimakasih, Hinata,"

Mereka berdua lalu saling bertatapan dan tersenyum bersama. Gaara tidak bisa melukiskannya dalam kata-kata apa yang ia rasakan sekarang. Gadis yang ia sukai dihadapannya ini telah jadi miliknya. Hinata sendiri tidak pernah terfikirkan bahwa Gaara yang akan menemaninya nanti. Mereka berdua lalu berjanji satu sama lain akan selalu bersama.


"Kudengar Hinata dan Gaara sudah menjalin hubungan," Ucap Sakura.

"Eh!"

"Kenapa? Kau Khawatir?" Tanya gadis berambut pink itu seraya tersenyum sinis.

"Bukan begitu,"

"Jujur saja," Gadis itu lalu memainkan rambutnya.

"Ung, kurasa... Aku ternyata, menyukainya,"

"Yap! Memang begitu kan dari dulu? Kau memilihku hanya untuk menjadi pelarian. Karena merasa tak enak untuk menerimanya karena kau masih suka padaku kan saat itu? Tetapi, disaat kau menyukainya, kau malah sedang bersamaku." Jelas Gadis itu.

"Maafkan aku."

"Tidak perlu, begitu! Aku sudah paham kok,"

"Sa..Sakura.. Aku.."

"Kita akhiri saja, Naruto."

Kedua Shinobi itu lalu bertatapan bersama. Yang satu hanya pergi meninggalkan perasaannya. Dan yang satu lagi justru sedikit lega karena ia bisa mencuri lagi orang yang ia sukai.


Padahal seandainya aku pun menjauh

Dengan kecepatan yang sama dan pada waktu yang sama

Dengan menjauhnya perasaan dia

Tentu tak 'kan terasa sakit seperti ini


CHAPTER 4

FINISH

NEXT:

CHAPTER 5

DAISY


Thanks for read all ^^

please rnr :D sankyu~~

niatnya sih mau buat smp 6 chapter liat nanti ya :D