Flower And The Moon
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Thanks for read this ^^
Terimakasih kepada semua yang sudah memberi masukkan :D /girang sendiri baca review/ /
Balas review dulu semuaa wd
maaf ya telat apdet :3
akasuna no hataruno teng tong : iyaiyaa~~ XDD lololol sankyuuu udh mau baca :D sippo, kan kuapdet lebih cepat :)
uchihyuu nagisa : iyaa :D Akasia itu bunganya mekar keluar gtu, seperti tulip, tp lebih lebar ^^
NHGH lovers : sankyuuu makasih sudah baca ya :D
harunaru chan muach : iya, aku juga suka :grin: XD sankyuu udh mau baca :D
arukaschiffer : Sankyuu ^^ wah, kmu dateng juga? cosu? sapa2 ya :D aku jadi Rin kagamine versi Suki kirai :) cari aja yang bawa2 panda haha:D
OraRi HinaRa : ugyaa~ 3 sankyuuuu sudah membaca fic ini ^^ will update as fast as i can! 3
Chikuma new : oh, ada waktunya kok ^^ hoho. ngmong-ngmong kalimat2 di tiap awal dan akhir itu POV dari karakter :) tinggal mengira2 ya XD belum kok, Naruto kan nggak denger pas di festival itu :) Arti dari akasia ada di chapter ini ^^ sankyu udh mau baca :D
Bahasa - bahasa bunga di Chapter sebelumnya :
Maaf ya, kalau cuma ada beberapa chapter yang dikasih tau arti bahasa nya XD ini dia dari chapter 1:
Chapter 1 : Sunflower = Aku selalu memandangmu di mana pun kau berada
Chapter 2 : Rose (karena tiap warna berbeda,aku artikan dengan mawar berwarna marun, sesuai dengan warna Gaara)= Kamu cantik sekali
Chapter 3 :Sakura = (dalam metaforanya) ciri-ciri kehidupan yang tidak kekal
Chapter 4 : Lavender = Hubungan yang lekat dan mendalam
Chapter 5 : Daisy = Cinta yang setia
Oki doki~ silahkan menikmati Fic yang satu ini =)
CHAPTER 6
AKASIA
Aku mungkin tidak bisa melihat dirimu sesering yang kuinginkan
Aku mungkin tidak bisa menahanmu dalam pelukanku sepanjang malam
Tetapi dalam hatiku aku benar-benar tahu
Kau orang yang paling kucintai dan jujur dalam hati aku tak ingin kau pergi
Konohagakure
Sudah memakan waktu hampir setengah jam gadis itu terus melamun seraya melihat ke arah luar jendela yang langsung terpampang sebuah taman besar dengan tanaman serta pepohonan rindang disana. Gadis itu hanya memandang langit luas diatas kepalanya. Ia menopang wajahnya dengan tangan kiri yang ia taruh di pinggir jendela kayu tersebut. Melihat gadis itu melamun terlalu lama, akhirnya seorang gadis kecil dengan rambut coklat itu tidak tahan untuk menegurnya.
"Nee-chan!" Seru gadis kecil seraya menaruh tangannya di pundak gadis yang ia panggil 'Nee-chan' itu.
"Ha-Hanabi! Kau membuatku kaget saja!" Merasa bahwa ia terlalu lama melamun, akhirnya gadis berambut panjang itu langsung berjalan dan duduk diatas bantalan yang berada di ruang tatami tersebut.
"Ada apa?" Tanya Hanabi.
"Tidak ada apa-apa, kenapa?" Tanya balik Hinata. Hanabi hanya menggeleng dan menatap kakak-nya lagi.
"Kau terlalu banyak melamun akhir-akhir ini, tidak latihan seperti biasanya," Keluh Hanabi terlihat kecewa.
Hinata lalu tersenyum tipis. "Maaf ya, Hanabi. Aku memang sedang tidak ada misi. Kiba-kun dan Shino-kun sedang menjalani misi dengan anggota lain, karena aku baru ada misi beberapa minggu lalu." Jelas Hinata. Hanabi tetap tidak puas dengan jawaban Kakak-nya, ia lalu berdiri dari duduknya.
"Kau semakin lemah, Nee-chan. Karena tidak ada misi serta teman Nee-chan, jadi tidak ada alasan untung latihan!" Seru Hanabi seraya menuju ke arah pintu untuk keluar dari ruangan tersebut. Hinata hanya memandang Hanabi dengan tampang menciut.
"Maaf,"
"Sudahlah, Nee-chan. Memang sudah takdir bahwa kekuatan kita tidak sebanding," Hanabi lalu menyeringai. "Aku memang jauh lebih kuat dari Nee-chan." Ucap Hanabi sebelum ia menutup pintu.
Hinata yang mendengarnya langsung merasa bahwa perkataan Hanabi sedikit kejam. Memang benar saat dulu, Hinata selelu kalah dari adiknya, tapi hingga kini, baru pertama kali Hanabi dengan langsung berkata demikian. Merasa hatinya sakit, ia langsung mengambil secarik kertas. Ia ambil sebuah pena dan dituliskannya kata demi kata. Hinata mulai menyalakan senyumnya saat membuat surat itu.
"Semoga, kau mau mendengarkan keluhanku," Bisik Hinata. Ia lalu memasukkan surat tersebut kedalam amplop. Hinata lalu keluar dan berjalan menuju taman. Dilihatnya, burung elang miliknya sedang berdiri di atas sebuah tiang pendek.
"Nah, tolong kau sampaikan pada Suna, ya." Ucap Hinata seraya memberikan surat itu kepada elang coklat yang langsung menyambar surat miliknya.
Setelah elang itu pergi, Hinata lalu menatap kamar Hanabi. Wajahnya langsung sedih kembali, mengingat kejadian tadi. Merasa butuh penyegaran, ia langsung berjalan kearah luar kediamannya.
Sudah 1 jam Hinata berjalan mengelilingi Konoha, tidak terlihat teman-temannya berada disana. Hinata sebenarnya bertujuan untuk mencari teman agar ia memiliki teman untuk bicara, karena merasa sepi, tetapi melihat keadaannya, ia berniat untuk pulang kembali hingga akhirnya salah satu Shinobi yang ia kenal baik datang menuju kearahnya.
"Hinata!" Seru lelaki itu. Laki - laki dengan jubah Hokage yang berdiri di hadapan Hinata ini, langsung menghampirinya.
"Naruto-kun, kenapa?" Tanya Hinata.
Naruto lalu tersenyum lebar. "Kebetulan, aku sedang istirahat. Bagaimana kalau kita makan di Ichiraku? Kau belum makan, kan?" Tanya Naruto dengan mimik gembira di wajahnya.
Hinata lalu mengangguk. "Boleh, Naruto-kun."
Mendengar jawaban Hinata, Naruto langsung tersenyum dan langsung menarik Hinata menuju Ichiraku yang berada tidak jauh dari gerbang Konoha. Sesampainya, Naruto langsung memesan Ramen untuknya dan Hinata.
"Kau sedang apa tadi, Hinata?" Tanya Naruto selagi menunggu pesanannya.
"Eh? Itu, aku sedang mencari teman-teman, aku ingin berbicara dengan mereka." Jawab Hinata.
"Denganku saja! Aku temanmu, bukan?" Ujar Naruto seraya memamerkan deretan giginya. Hinata lalu mengangguk.
"Iya, ini... Tentang Gaara-kun." Ucap Hinata pelan. Mendengar akhir kalimat dari Hinata, hati Naruto langsung menciut. Dada-nya terasa sakit saat melihat wajah Hinata yang tampak malu-malu mengucapkan nama itu.
"Oh." Naruto lalu membalikan tubuhnya yang semula sedang menghadap Hinata menuju kearah depannya.
"Aku benar-benar sedang bingung, baiknya, aku tinggal di Suna atau disini." Mendengar pernyataan itu, Naruto langsung menatap Hinata bingung.
"Kenapa?"
"O-O,ya Naruto-kun belum tahu? Aku berniat menikah Gaara." Jelas Hinata malu-malu.
Naruto yang mendengarnya langsung dari Hinata, membulatkan matanya. Naruto sontak kaget dengan hal itu, memang yang ia dengar Hinata sudah menjalin hubungan dengan Gaara, tapi tidak sampai untuk menuju tahap itu.
"Ka...Kau, yang benar saja." Bisik Naruto pelan.
"Eh?"
"Hinata, kau yakin mau menikah dengan Gaara?" Ucap Naruto seraya menghadap Hinata.
"Memangnya, kenapa?" Tanya Hinata mulai penasaran.
"Kau baru beberapa hari bersama dengannya, kau mau dengannya karena apa? Apa karena perasaan melarikan diri atau memang tidak ada pilihan lain?" Ujar Naruto serius dengan setengah berteriak.
Mendengar ucapan Naruto, Hinata langsung memasang wajah tidak percaya. Hatinya sedih mendengar kata 'tidak ada pilihan lain' dari Naruto. Hinata memang merasa ia tidak cantik, tapi ia tidak ingin dibilang 'tidak laku' secara tidak langsung seperti itu oleh Naruto.
"Kau, jahat. Kau jahat, Naruto-kun. Bukan melarikan diri ataupun tidak ada pilihan lain seperti yang kau katakan. Aku rasa, apabila benar aku seperti itu, aku lebih baik tidak menjalani hubungan dengan siapapun yang hanya menyakiti diri orang lain. Tapi, kalau boleh jujur, rasa cintaku lebih besar padamu dibandingan Gaara-kun, dulu." Jelas Hinata yang mulai meneteskan air matanya pelan.
Naruto mulai merasa bersalah dengan ucapannya, hatinya sedikit senang mengatahui bahwa Hinata lebih mencintainya daripada Gaara dulu. Naruto lalu menyentuh pundak Hinata yang langsung ditepis Hinata cepat.
"Jangan sentuh aku, Naruto." Ucap Hinata lirih. Ia lalu langsung berlari dan menuju rumahnya cepat meninggalkan Naruto.
"Kenapa?" Naruto lalu menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan tangannya, siap untuk memukul apapun yang ia benci sekarang dengan kekuatan tinggi.
Naruto POV
Setiap malam aku berdoa. Berharap agar aku memilikimu disisiku. Tiap malam aku menghitung bintang dilangit, berharap dengan seluruh kemampuanku, dan saat aku menutup mataku, kuharap kau ada disampingku dengan senyuman-mu yang biasa kau tunjukkan padaku itu.
SunaGakure
"Gaara," Ujar Temari yang baru memasuki kamar adiknya itu.
Gaara menghadap kakak perempuannya itu. Ia tutup buku yang ia baca sebelum kakak-nya masuk dan langsung berdiri. "Apa?"
"Ini," Temari lalu menyerahkan sebuah surat putih dengan lambang Konoha diatasnya. "Untukmu."
"Hmn," Tanpa banyak bicara Gaara langsung mengambilnya dari tangan Temari pelan. "Terimakasih,"
Temari lalu mengangguk, "Baiklah, aku mau tidur dulu. Kau lekaslah tidur, jangan selalu terlalu malam." Pinta Temari sebelum akhirnya ia keluar dari kamar Gaara.
Merasa bahwa kakaknya sudah memasuki kamar, Gaara lalu duduk diatas kasurnya, dan mulai membuka surat itu perlahan. Betapa senangnya Gaara melihat nama yang tertera di awal surat. Siapa lagi kalau bukan Hinata. Gaara lalu menaikkan kakinya keatas kasur dan menyender di tembok yang merapat dengan kasur coklatnya. Ia mulai membaca surat itu perlahan.
Untuk Gaara,
Kau tahu? setiap waktu tanpamu, aku merasa waktu hilang begitu saja. Hari ini pun aku merasa sepi. Hanabi memarahiku karena aku semakin lemah, memang aku tidak berlatih seminggu ini karena aku lelah dengan semua kegiatan sebelumnya. Kau tahu kan betapa sibuknya Konoha dengan persiapan pengangkatan Hokage baru itu? Hanabi bilang aku dibawahnya, dan tidak bisa melampaui-nya. Aku sangat sedih mendengar hal itu.
Gaara-kun, kuharap kau bisa secepatnya kemari. Aku tahu akan sulit bagi kita berdua dengan jarak yang jauh ini, tapi saat aku memandang langit aku menyadari bahwa kita terikat, dan tidak berjauhan. Menurutku, jarak jauh ini hanyalah sebuah test kecil untuk kita, dan bila kita bisa melewatinya, mungkin kita bisa bersama selamanya. Ujian seperti ini bukan disaat bersama saja, tetapi datang disaat kita tidak bersama, dan membuat kita menyadari bahwa meskipun jarak memisahkan, cinta tetap ada.
Kurasa, beberapa jam denganmu seperti menghabiskan waktu beribu jam tanpamu. Setiap kulihat kebelakang, tidak ada dirimu. Aku benar-benar kehilangan, kurasa, dengan tidak adanya dirimu disini, menunjukkan ternyata memang benar bahwa aku membutuhkan Gaara-kun.
Kutunggu balasanmu,
Hinata Hyuuga
Setelah membacanya, Gaara lalu tersenyum tipis dan mengecup surat itu. Ia lalu mengambil secarik kertas dan mulai menuliskan balasan untuk Hinata dengan senyum yang melingkar diawajahnya.
Gaara menulisnya perlahan dengan tenang, kalimat-kalimat Hinata masih tertanam didalam pikirannya, membuat senyumnya tidak terhenti saat mengingat wajah Hinata. Seraya menulis surat, Gaara lalu menatap keluar jendela.
"Apa kau melihatnya juga, Hinata?"
KonohaGakure
Sudah dari pagi ini Hinata mendengar suara berisik dari luar kamarnya, merasa penasaran, ia langsung keluar dari kamarnya untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Hanabi?" Seru Hinata pelan melihat adiknya yang sedang berlatih dengan Neji, sepupunya.
Hanabi tidak menjawab, ia terlihat mengacuhkan Hinata dan tetap melanjutkan latihannya. Menyadari hal itu, Hinata hanya tertunduk lemas dan keluar melewati halaman itu. Hinata lalu berjalan menuju ruang tengah, dilihatnya sebuah surat-surat bertumpuk diatas meja. 'pasti Hanabi' pikir Hinata.
Hinata lalu mencari-cari surat untuknya, ada 2 surat, surat berwarna putih dan coklat. Surat coklat berisi lebih besar dibanding yang putih, taku bahwa ada barang penting didalamnya, Hinata langsung membuka surat coklat itu. Dilihatnya setangkai bunga Akasia yang berada didalam surat itu, diambilnya perlahan.
"Cantiknya," Bisik Hinata dengan senyum menghiasi wajahnya yang masih terlihat suntuk. Hinata lalu mengambil secarik kertas didalam surat coklat itu, lalu ia baca perlahan.
Untuk Hinata,
Aku percaya dalam hatiku dan jiwaku bahwa kita sebenarnya dapat bersama. Aku memikirkan dirimu setiap hari dan setiap malam. Saat aku bersamamu, kau membuatku bersemangat. Kau adalah hal terpenting bagiku, dan aku berharap selalu pada bintang, kau mau kembali menyukaiku. Tolong maafkan aku dengan semua hal yang menyakitimu karena diriku. Tolong, aku berharap kau memaafkan aku dan kembali padaku seperti seharusnya. Aku menyukaimu, dan akan selalu begitu sampai aku mati. Aku harap, saat tiba waktunya, aku akan tetap mendapatkan dirimu disisiku, dan kau akan jadi wanita terakhir yang kulihat sebelum aku mati. Aku bisa menggenggam tanganmu dan mengatakan betapa cintanya aku padamu.
Dari,
Naruto Uzumaki
Membaca surat itu, Hinata langsung menutupnya buru-buru. Betapa takutnya Hinata membaca surat dari Naruto yang sudah menolaknya dengan berpacaran pada sahabatnya, Sakura. Ia lalu mengamati bunga akasia yang berada dipangkuannya, bahasa bunga itu adalah; Cinta yang tersembunyi. Menyadari hal itu, tanpa membuka surat yang satu lagi, Hinata langsung mengambil bunga serta suratnya dan kembali kekamar. Dimasukannya kedalam laci dan menguncinya rapat-rapat. Nafas Hinata tampak tersenggal-senggal, jantungnya berdebar tidak kauran, bukan berdebar seperti biasanya, tapi ia berdebar karena takut. Hinata jadi takut pada Naruto semenjak kejadian kemarin. Merasa butuh penyegaran, Hinata langsung mandi dan bersiap-siap keluar mencari Ino, salah satu sahabatnya.
Setelah keluar, dicarinya Ino didepan toko bunga, tapi yang dilihatnya bukanlah Ino, melainkan lelaki yang palng tidak ingin ia temui saat itu, Naruto.
"Hinata!" Seru Naruto melihat sosok gadis itu berdiri gemetaran melihat sosok dirinya. Tanpa peduli hal itu, ia langsung berlari menuju Hinata yang masih terpaku.
"Jangan! Jangan kemari!" Seru Hinata. Naruto hanya berpura-pura tidak mendengar dan langsung memeluk Hinata erat. Menyadari hal itu Hinata langsung berusaha melepaskannya, dengan cara kasar sekalipun.
"Tenang dulu, Hinata!" Seru Naruto yang tetap menahan gadis itu dalam pelukannya.
"Jangan sentuh, Naruto!" Ujar Hinata seperti tercekik.
"Maafkan aku, bagaimana caranya agar kau memaafkan aku?" Seru Naruti setengah berteriak, membuat warga yang berada disana memandang mereka berdua.
"Pergi, Naruto!" Hinata lalu mendorong Naruto kencang dan langsung berlari menuju rumahnya.
Naruto yang melihat sosok Hinata mulai menjauh langsung memukul tembok didepannya dengan keras, membuat keretakan dibagian yang ia hantam itu. "Sialan!"
Nafas Hinata masih tersenggal-senggal saat memasuki kamarnya, keringatnya berucucuran dengan tubuhnya yang masih gemetar. Ia lalu menenangkan dirinya perlahan. Dilihatnya diatas mejanya masih ada surat putih yang belum ia baca. Dengan tangan kirinya, ia ambil surat itu dan ia baca teliti. Baru awal kalimat, Hinata langsung tersenyum senang dan mulai tenang kembali.
Hinata,
Terimakasih atas suratmu. Mengenai Hanabi, bagaimana kalau kau bicarakan baik-baik dengannya? Kalau memang lelah, katakan hal itu padanya, bila dia sayang padamu, aku yakin dia akan mengerti. Aku mendukung dirimu. Tapi kalau kau memang sedang tidak ada misi, dan dalam kondisi baik, berlatihlah. Hal itu cukup baik. Bukan hanya untuk yang lain, tapi untuk dirimu juga.
Aku mengerti saat aku pergi, jarak langsung memisahkan kita. Tapi, Hinata, Seberapa jauh kita berpisah, tidak akan bisa mengubah perasaanku ini. Jangan ukur seberapa jauhnya kita berpisah Hinata, ukur perasaanku padamu. Tahu bahwa aku bisa mencintaimu meski jarak memisahkan, membuat rasa cintaku lebih besar setiap harinya. Jadi bagiku tidak ada jarak bagi kita, untuk berbagi perasaan kita bersama, dariku untuk dirimu, dan dari dirimu, untukku. Karena bagiku, mencintai dirimu berarti banyak untukku, seberapa jauhnya dirimu. Memang aku mengharapkan kau disini, tapi kau tidak disini, tapi disana. Dan kau tahu? Orang-orang disana tidak tahu seberapa berungtungnya hal itu.
Bagaimanapun, benar katamu, menyadari bahwa kita berada di langit yang sama membuatku nyaman dan tenan tahu bahwa kau melihat langit itu juga. Aku akan kesana secepat mungkin, Hinata. Hubungi aku segera bila terjadi masalah, Hinata.
Gaara
Hinata lalu menutup surat itu perlahan dan memeluknya erat seakan memeluk Gaara yang tidak ada dihadapannya. Ia lalu tersenyum dan berbisik, "Aku mencintaimu,"
CHAPTER 6
FINISH
CHAPTER 7
Chamomile
Thanks for review dan read-nya yaaa 33 sangat senang mengetahui banyak yan suka ;3; kalau ada yang kurang mohon sarannya ya ;3; terimakasih banyak semua yang sudah baca fic ku ini
Arigatou
