Flower And The Moon

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Thanks for read this ^^

Terimakasih kepada semua yang sudah memberi masukkan :D

Maaf ya kalau telat apdet ;A;

Balas review dulu semuaa


Kou Todoryu 'Kyuuketsuki' : thanks for read :) ah osh semoga akhirnya tidak mengecewakan :)

lonelyclover : thx fr read ^^ wah, harus baca buku yg gimana gtu baru bsa buat kata-katanya XD lol ah, hontou? gomen, akan lebih kuteliti

uchihyuu nagisa : Uchiyu sankyuu :3 umm, well soalnya bakal ada karakter yang sad ending sih Q_Q haha

Arukaschiffer : haha XD semoga ketemu ya :D aih, jgn senpai, berasa jagoan dipanggil senpai ;w;orz

Akira Sumamoto : aku apdet sekaraang! XD lol

Uchiha : Sankyuuu neee 3 maaf telat apdet ^^

OraRi HinaRa : sankyuu maaf telat :D akan lebih teliti di sini :) ah, makasih sudah mau tersenyum membaca fic ini

Chikuma new : iya, pov ^^ iya :D sankyuuu :D arigatouuu ^^

mayraa :mayraaaa! *hug* lama tak bersua kita 3 gomeneee ah iya, absnya kalau jatuh cinta, aku rasa gaara pasti ber-ekspresi XD oh, yang let me be with you? :D belum ada ide buat lanjutin sih ;w; nanti pasti bakal dilanjutkan kalau ini udh selesai :D Shikatema? kebetulan daku juga lagi buat OneShot-nya ShikaTema nih :D cuma belum selesai ^^ osh~sankyuuuu :D

Su'ud Uryuu: sankyu :)

Uzumaki Panda : yo uzumaki! salam kenal :) sankyuu :D sou? yokatta ne ^^ oosh~ gomen telat apdet :)


CHAPTER 7

CHAMOMILE


Aku tersenyum sebelum tidur dimalam hari

Karena aku tahu aku akan memimpikanmu

Tapi aku tersenyum saat terbangun pagi hari

Karena aku tahu kau bukan hanya sebuah mimpi


Konohagakure

Semenjak kejadian kemarin, Hinata tidak pernah berani keluar rumah kecuali untuk hal penting saja. Misi pun tidak pernah ia dapatkan semenjak Naruto menjadi Hokage. Hal itu membuat Hinata lebih sering berada di dalam rumah untuk beristirahat. Terkadang, saat mengingat bagaimana kejadian saat Naruto memeluknya, sukses membuat tubuh Hinata gemetar beberapa saat. Merasa butuh tempat untuk bicara, ia kembali menulis surat untuk Gaara.

Diambilnya kertas di atas meja coklat dengan ukiran di kayu tersebut. Lalu, ia coretkan dengan tulisannya yang rapih itu.


Gaara,

Aku mengalami kejadian buruk beberapa saat lalu. Kejadian yang sangat tidak aku inginkan. Bahkan, kalau bisa, aku tidak pernah ingin mengalaminya. Kau tahu? Untuk pertama kalinya aku dipeluk oleh laki-laki dengan kasar. Ia memelukku dengan paksa. Andai saja ada dirimu, mungkin aku akan langsung berlari dan mencarimu. Aku benar-benar merasa gemetar saat orang itu melakukan hal itu.

Saat itu, aku berfikir, andai saja ada kau di sini, atau aku yang di sana, atau mungkin lebih baik kita bersama di manapun. Benar kalau kau kira aku lemah. Sebelum ada dirimu, aku lebih lemah dari yang sekarang. Tapi, saat kau tersenyum didepanku, kau membuatku merasa aku bisa lebih kuat. Bukankah itu hebat?

Tapi, tahu kau tak kunjung datang. Aku berfikir apa satu atau dua tahun lagi kau belum datang juga? Setiap tahunnya akan membuat hubungan kita semakin berat. Semakin aku memikirkannya, semakin aku tahu keputusan yang paling tepat yang harus kuambil.

Aku tahu, bila keputusan yang kuambil adalah memutuskan hubungan kita, semakin aku sadar bahwa aku tidak akan bisa melupakanmu. Bagiku, melupakan seseorang yang kita cintai sama seperti mengingat orang yang belum pernah kita temui. Itulah satu hal yang membuatku akan terus mempertahankan cintaku.

Maka dari itu, keputusan yang kuambil adalah aku akan menunggumu sampai kapanpun. Aku tidak akan memikirkan lagi berapa lamanya aku menunggu. Bagiku,semua yang harus kita pilih adalah apa yang harus kita lakukan dengan waktu yang diberikan pada kita dari Tuhan, bukankah begitu?

Kuharap kau membalas suratku,

Hinata


Hinata lalu mengulaskan senyum tipis dan melipat surat itu. Ia tersenyum lega setelah menulis surat itu. Merasa baikkan, setelah ia memberikan surat tersebut pada elang miliknya, Hinata langsung menghampiri Hanabi yang sedang berlatih.

"Hanabi," Sapa Hinata yang berdiri di sebelah Hanabi seraya tersenyum.

"Apa?" Tanya Hanabi ketus.

"Ayo, kita latihan bersama," Ucap Hinata.

Hanabi lalu menghentikkan gerakannya. "Onee-chan, maaf."

"Eh?"

Hanabi lalu memalingkan wajahnya. "Kubilang, Maaf! Jangan membuatku mengulang kata yang sama!" Keluh Hanabi dengan pipinya yang sudah merona merah.

"Kumaafkan, Hanabi. Aku juga minta maaf," Hinata lalu menepuk kepala Hanabi pelan.

"Kalau gitu, ayo kita latihan!" Ujar Hanabi bersemangat. Hinata lalu mengangguk senang.

Ia berfikir, ternyata benar kata Gaara. Apabila Hanabi sayang pada Hinata, pasti Hanabi akan mengerti. Mengingat hal itu, Hinata langsung tersenyum manis.

"Hihi, Onee-chan sedang memikirkan siapa? Wajahmu merah begitu." Goda Hanabi.

"Hanabi! Ini karena udaranya panas kok, kan sedang musim panas!" Kelak Hinata malu-malu. Hanabi hanya tertawa kecil.


Sunagakure

"Surat lagi," Ucap Temari. Gaara yang sedang bekerja langsung menghentikkan kegiatannya dan langsung mengambil surat itu.

"Wah, senang sekali tampaknya," Goda Temari yang sudah bisa mengira siapa yang mengirim surat itu.

"Uhm," Gaara hanya mengangguk pelan, lalu kembali duduk.

"Kau benar mau menikahi gadis itu? Akan sangat sulit loh, lagipula, apa warga di sini mau menerimanya?" Tanya Temari serius. Gaara lalu menatap Temari.

"Hn, aku serius."

"Kalau kau sudah berkata begitu, aku rasa aku tidak bisa menghentikannya, aku di pihakmu. Tapi, bicaralah baik-baik pada tetua itu. Warga di sini juga tak semuanya yang menerima Konoha dengan lapang dada. Kau tahu hal itu, kan? Hinata bisa dikucilkan." Ucap Temari mengingatkan Gaara akan kejadian dimana saat-saat Konoha dan Suna bukanlah Desa yang saling membantu seperti sekarang.

"Aku akan melindunginya. Apapun caranya, aku akan melindungi Hinata." Ujar Gaara tegas. Mendengar hal itu, Temari hanya tersenyum seraya menautkan kedua alisnya.

"Iya,iya. Aku keluar dulu."

Gaara mengangguk. Saat Temari keluar, ia langsung membuka suratnya. Melihat kalimat-kalimat di awal surat itu, cukup membuat Gaara tampak kesal. Ia sedikit menggenggam surat itu hingga kertasnya hampir robek. Tetapi, melihat kalimat terakhirnya, Gaara sedikit tenang. Dengan cepat ia langsung mengambil kertas dan membalasnya buru-buru. Wajahnya tampak tidak senang dengan surat Hinata kali ini. Ia menulis sembari tangan kirinya yang ia kepalkan dengan erat di atas mejanya.

"Kurang ajar." Bisik Gaara.


Konohagakure

"Onee-chan! Surat untukmu!" Seru Hanabi pada pagi hari yang terik. Hinata yang masih berada di atas kasurnya langsung bangun saat Hanabi memasuki kamarnya.

"Hana..Bi?" Ucap Hinata tampak lesu dari bangun tidurnya itu.

"Surat, dari Suna." Ujar Hanabi dengan mengedipkan sebelah matanya tampak jahil.

"Ah, Hanabi!" Hinata lalu merebut surat itu dan langsung menutupi wajahnya yang memerah.

"Haha, padahal kemarin lesu sekali! Ok, kubuatkan teh dulu ya," Hanabi lalu keluar dari kamar Hinata.

Dengan senang, Hinata langsung membuka surat dari Suna tersebut yang langsung ia tahu bahwa surat itu berasal dari Gaara.


Hinata,

Kau sukses membuatku kaget dengan suratmu. Aku kira aku akan menerima kabar baik darimu. Tapi, jangan terlalu kaupikirkan, dipeluk seperti itu tetap tidak mengurangi nilai-mu,kok. Aku rasa kau tidak perlu memikirkannya. Aku juga tidak terlalu memikirkan hal itu, yang penting kau baik-baik saja.

.

.

.

.

Sebenarnya aku mau mengatakan begitu. Tapi ternyata, aku tidak bisa belagak tidak peduli seperti itu. Membaca suratmu itu, membuat kepalaku langsung panas, aku langsung berfikir, bedebah mana yang memelukmu. Dengan suratmu itu, aku jadi tidak sabar, seandainya aku bisa langsung berlari ke arahmu, akan aku lakukan. Aku ingin langsung menuju ke tempatmu dan memelukmu. Memelukmu untuk menghilangkan tanda bekas pelukan lelaki brengsek itu. se-erat-eratnya akan aku langsung peluk dirimu, dengan itu saja akan membuatku tenang. Mungkin.

Minggu depan aku bisa ke Konoha untuk melamarmu dengan resmi, aku akan bicara dengan para tetua hari ini, berdoalah. Aku akan terus berusaha untuk hubungan kita.

Gaara.


Hinata lalu memandang surat itu sedikit tidak percaya. Wajahnya langsung bersemu merah dan ia memeluk surat itu erat di depan dadanya. Ia tersenyum senang dengan tawa kecil yang mengikutinya. Merasa rasa percaya dirinya mulai keluar, ia langsung bergegas untuk bangun dan bersiap-siap menuju Gedung Hokage.


"Naruto," Sapa seorang gadis yang berdiri di depan pintu ruangan Hokage.

"Sakura? Ada apa?" Tanya laki-laki yang barusan duduk di sebuah kursi hitam. Naruto langsung berdiri dan berjalan perlahan menuju ke arah Sakura.

"Kau punya waktu, kan?" Tanya Sakura kembali. Naruto mengangguk.

"Ung, ada apa?"

Sakura lalu menundukkan wajahnya, "Begini, umm.. Aku tahu kalau kau menyukai Hinata sekarang, tapi, semakin lama, aku sadar, saat tidak ada dirimu di sampingku, pundakku terasa lebih hampa." Jelas Sakura.

"Sakura.." Naruto lalu memegang kedua pundak Sakura.

"Naruto, apa tidak ada lagi kesempatan untukku?" Tanya Sakura dengan suaranya yang sudah tercekat tampak mulai ingin menangis.

"Sakura, aku masih.." Belum selesai Naruto melanjutkan kalimatnya, datanglah Hinata yang membuka pintu dengan perlahan. Melihat bahwa ia datang di saat yang salah, Hinata buru-buru memalingkan wajahnya.

"Permisi, maaf mengganggu." Dengan cepat ia langsung menutup pintunya dan pergi dari tempat ia berdiri.

"Hinata!" Naruto langsung berlari mengejar Hinata dan meninggalkan Sakura sendiri.

Sakura yang masih berdiri di tempatnya, hanya menghela nafas-nya perlahan. "Benar-benar tidak ada kesempatan, ya." Ucapnya lirih.


"Hinata! Tunggu!" Seru Naruto seraya mengejar Hinata yang masih terus berlari.

"Hinata!" Dengan cepat, Naruto langsung menarik tangan kiri Hinata erat. "Ada apa?" Tanya Naruto yang terlihat mengatur pernafasannya karena terlalu lama berlari tadi.

"Maaf, aku.." Hinata lalu buru-buru berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Naruto, yang tetap ditahan oleh lelaki dihadapannya itu.

"Aku minta maaf! Aku yang salah memelukmu saat itu. Maafkan aku! Maaf bila aku pernah menyakitimu, maaf bila aku pernah membuatmu menangis, Maaf.." Seru Naruto seraya menundukkan wajahnya dalam.

Naruto lalu kembali mengangkat wajahnya, "Hinata, aku menyukaimu. Benar-benar sangat menyukai dirimu," Ucap Naruto serius.

Hinata hanya menatap Naruto seraya menautkan kedua alisnya. Ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Kalimat yang dikatakan Naruto tadi, andai saja ia mengatakannya disaat Hinata masih mencintai lelaki itu, disaat Gaara belum hadir diantara mereka berdua. Pasti, hati Hinata akan melambung seperti disaat ia mencintai Naruto. Dia dan Naruto bisa saling menyukai, Gaara yang datang belakangan, tapi kenapa hati Hinata tidak terketuk sedikitpun mendengar kalimat Naruto? Itulah yang Hinata pikirkan saat ini.

"Naruto-kun, terimakasih. Memang, aku terus menangis saat tahu kau menjalin hubungan dengan Sakura. Memang aku menangis melihatmu berjalan dengan Sakura, tapi! Tapi, hatiku lebih sakit saat tahu bahwa kau menyukaiku sekarang." Ujar Hinata. Naruto hanya memandang Hinata tampak tidak percaya. Hatinya terasa sangat sakit mendengar hal itu.

"Tapi, terimakasih karena.. Kau pernah membuatku tertawa dan merasakan betapa menyenangkannya mencintai seseorang. Terimakasih, Naruto-kun." Hinata lalu melepaskan genggamanan tangan Naruto perlahan dan tersenyum.

Daripada diteriaki, daripada dipukuli, daripada dipersalahkan, senyuman Hinata saat itu telah menyadarkan betapa diri Naruto sangat bodoh saat itu.

"Maafkan aku, Hinata." Naruto lalu membalikkan tubuhnya dan langsung berjalan lesu meninggalkan Hinata sendiri yang masih menahan isak tangis-nya.


Sunagakure

"Lalu? Hal apa yang ingin kau diskusikan pada kami?" Tanya tetua Suna yang sudah berada di ruang pertemuan itu.

"Maaf aku memanggil tiba-tiba. Tapi, ada hal yang ingin aku bicarakan." Gaara lalu duduk di sebuah kursi yang berada di tengah-tengah meja berukuran persegi panjang itu.

"Cepatlah, kami juga memiliki tugas." Ujar tetua lainnya.

"Kalau begitu, kau bisa keluar." Tukas Gaara tajam. Tetua tadi langsung diam dan menggerutu pelan.

"Karena umurku yang sudah cukup, serta hal lainnya yang sudah dianggap cukup, aku ingin memberitahu kalau aku akan melamar salah satu Kunoichi dari Konoha." Jelas Gaara datar. Mendengar hal itu, ruangan tersebut langsung ramai.

"Kazekage-sama! Konoha? Kau mau menikahi aliansi Negara lain!" Seru Tetua berambut hitam dengan keras.

"Iya, keluarga Hyuuga." Tambah Gaara membuat seluruh tetua serta shinobi yang ikut disana lebih ramai.

"Kurasa, keluarga terpandang seperti mereka tidak akan bersedia."

"Aku sudah meminta persetujuan dari Hiashi sendiri. Hal itu tidak bermasalah." Gaara lalu tetap bersikeras.

"Aku tidak terima warga Konoha ada yang hidup dan berpindah kemari. Mereka semua telah membunuh Kazekage kita! Ayahmu, Gaara!" Ujar Tetua yang sedari tadi hanya duduk.

"Kau tidak perlu membahas hal mengenai Ayahku." Gaara lalu berdiri membuat semua diam.

"Kazekage-sama, benarkah kau mau mengangkat Hyuuga itu sebagai istrimu? Aku tidak begitu masalah, tetapi warga di desa ini tidak semua berpihak dan menyukai warga Konoha. Ada pula Shinobi Suna yang dibunuh Konoha saat misi." Ucap Matsuri yang mengikuti rapat tersebut untuk berjaga-jaga.

"Aku tidak mempermasalahkan hal itu." Jawab Gaara.

"Baiklah, kami para tetua tidak akan menghentikkanmu untuk melamar gadis Hyuuga itu. Tapi, apabila gadis itu menyerah tinggal di tempat yang mungkin akan mengucilkannya, karena ia warga Konoha, kami rasa kami tidak punya tanggung jawab untuk hal itu." Jelas salah satu tetua yang duduk disana.

Gaara lalu menunduk. "Terimakasih."


Konohagakure

Sudah mulai pagi hari, mata Hinata masih tetap terjaga. Ia mengedipkan matanya perlahan berkali-kali. Melihat ke arah jam dinding yang berada tidak jauh dari pintu kamarnya.

"Jam 5 pagi," Desis Hinata. Ia masih belum bisa tidur memikirkan kejadian Minggu kemarin dengan Naruto. Sudah seminggu ini, ia sering melamun, sering memikirkan hal yang tidak penting. Bahkan, ia tidak sanggup membalas surat dari Gaara sebelumnya.

"Hinata, kau sudah bangun?" Tanya Neji yang berada di balik pintu kamar Hinata. Hinata lalu berdiri dari duduknya dan membuka pintu kamarnya.

"Neji-Niisan, ada apa?" Tanya Hinata melihat sepupu-nya itu sudah berdiri di pagi buta seperti ini.

"Aku ingin berlatih bersama, bagaimana?" Ujar Neji dengan mengulaskan senyuman tipis. Hinata tampak berfikir, lalu mengangguk lemah.

"Baik, aku siap-siap dulu."

Seraya menunggu Hinata, Neji lalu beranjak menuju Doujo dimana Ia dan Hinata biasa latihan di sana. Ia melakukan pemanasan terlebih dahulu, hingga akhirnya Hinata datang.

"Neji-Niisan, aku sudah siap." Hinata lalu kembali menutup pintu doujo, dan berdiri berhadapan dengan Neji yang sudah melakukan kuda-kuda.

"Aku tidak akan terlalu kasar, kau serang saja aku dengan bebas." Jelas Neji. Hinata mengangguk paham.

Perlahan, mereka berdua akhirnya mulai saling menyerang. Berbeda seperti saat melawan musuh-nya, Neji terlihat santai melawan Hinata. Berbeda dengan Hinata yang mulai terlihat lelah, menyadari jyukken-nya tidak kena tubuh Neji seperti yang Ia inginkan. Akhirnya, Hinata berhenti untuk mengatur pernafasannya.

"Jangan pergi." Ujar Neji. Hinata yang mendengarnya langsung menatap Neji bingung.

"Eh?"

"Kau, akan menikah dengan Kazekage itu, kan? Aku tidak akan menyerakanmu padanya, bila kau selemah ini." Neji lalu melipatkan tangannya didepan dadanya yang bidang. Hinata lalu menatap Neji dengan pertanyaan yang mulai memenuhi kepalanya.

"Apa hubungannya?" Tanya Hinata.

"Kau terlalu lemah, Hinata. Bagaimana bila di Suna tiba-tiba kau diserang saat Gaara sedang keluar Desa? Apa kau bisa melawan musuh-musuh itu dengan kekuatanmu seperti ini?" Tanya Neji dengan nada khawatir didalamnya.

"Tapi, Gaara..."

"Aku tidak akan membiarkanmu melangkah dari rumah ini ke Suna sampai kau bisa mengalahkanku, Hinata." Neji lalu tersenyum tipis, dan meninggalkan Hinata di ruangan Doujo itu sendiri.

'Mengalahkan Neji?' Ucap Hinata dalam hati. 'Mengalahkan seorang Jounin yang kekuatannya diatas diriku? Apa bisa?' Lanjut Hinata mengingat kejadian Ujian Chunnin dulu.

Masih berfikir, ia memilih untuk kembali ke kamar-nya meski terhenti oleh seruan Hanabi.

"Onee-chaan!" Seru Hanabi seraya berlari kecil di koridor rumahnya. "Ini, tadi ada surat untukmu, dari elang milikmu." Ucap Hanabi yang langsung menyerahkan sebuah surat di tangannya.

"Terimakasih ya, Hanabi." Ucap Hinata sambil mengels kepala adikknya yang kembali ke taman untuk berlatih.

Hinata lalu memasuki kamarnya untuk membaca surat yang ia pastikan dari Gaara. Berbeda dengan surat sebelumnya, kali ini, amplop surat itu lebih besar. Merasa penasaran, ia buru-buru membukanya. Kali ini, suratnya cukup mengejutkan Hinata. Bagaimana tidak? saat dibuka, terlihat setangkai bunga Arbutus berwarna putih. Hinata lalu mengambil bunga tersebut berserta surat didalamnya, ia baca perlahan seraya tersenyum.


Untuk Hinata,

Bagaimana kabarmu? Kuharap kau baik-baik saja. Aku khawatir karena kau tidak membalas suratku.

Aku sudah bicara dengan para tetinggi dan penasehat Sunagakure. Aku berhasil. Bagaimana dengan dirimu? Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah berangkat menuju Konoha untuk menemui Ayahmu dengan para wakilku.

Kau tahu? Hal ini, membuatku tidak bisa fokus kerja seharian. Kapanpun, dimanapun, yang membuatku tersenyum hanyalah kamu. Mungkin kamu berfikir aku aneh, karena seringnya bicara dan tersenyum dihadapanmu, tapi tidak dihadapan orang lain. Tapi, bagaimanapun, aku yang beginipun, adalah aku yang sama. Jadi, kuharap kau tidak menganggapku berbeda.

Aku harap, saat sampai di Konoha, aku bisa melihat dirimu tersenyum seperti yang biasanya. Mengenai bunga itu, sebenarnya aku suda mencari-cari di Suna, tapi ternyata sangat sulit mencarinya di Desa dengan gurun pasir tersebut. Jadi, aku meminta Temari yang sedang mengunjngi Shikamaru untuk mengirimiku sebuah bunga, dan dari pengetahuan yang aku dapat, kurasa bunga itu cocok untuk dirimu dari diriku.

Gaara


Hinata lalu melipat surat itu kembali dengan seulas senyum yang tampak manis bagi siapapun yang melihatnya. Penasaran dengan bahasa bunga yang Ia pegang saat itu, langsung membuatnya mengambil buku yang berisi bahasa-bahasa bunga yang diberi Ino untuk-nya.

"Arbutus...Arbutus..." Ucap Hinata seraya mencari kata tersebut. Saat menemukannya, pipinya langsung merona merah dan ia tersenyum seraya kembali menatap bunga tersebut yang memiliki arti sangat penting bagi Hinata.

.

.

.

'Kamulah yang aku cintai'

.

.

.


Gedung Hokage

"Eh? Gaara akan kemari?" Tanya Naruto mengulang perkataan Shikamaru.

"Iya, mungkin 1-2 hari lagi dia sampai." Jelas Shikamaru yang berdiri dihadapan Naruto.

"Sial," Desis Naruto tak terdengar.

"Baiklah aku keluar dulu, ya. Merepotkan." Ujar Shikamaru yang membuka pintu ruangan tersebut sebelum akhirnya dihentikan oleh suara Naruto.

"Tunggu Shikamaru! Aku minta tolong padamu!" Seru Naruto pelan.

"Apa lagi?"

"Tolong panggilkan Team 8 dari Rookie kita, karena aku, Hokage ingin memberikan mereka Misi. Cepatlah!" Seru Naruto lagi dengan suara lebih tinggi.

"Baik, baik." Shikamar lalu menutup pintu setelah keluar dari ruangan Hokage tersebut.

"Hm, Hinata, maafkan aku, aku masih belum bisa menerima ini. Aku sudah sabar." Ucap Naruto lirih. "Kali ini, apa yang akan kau lakukan, Gaara?"


Meski aku tersenyum dihadapanmu

Tidak berarti aku tersenyum didalam diriku

Kau bilang tak ingin menyakitiku

Jadi karena itu kau menutup matamu saat aku menangis?


CHAPTER 7

CHAMOMILE

FINISH


NEXT

CHAPTER 8

CARNATION


Terimakasih banyaaak semuaa 333

review lagi yaa 3 masih btuh bimbingan dan ngerasa Chara-chara'a jadi OOC disini =_=

Next akan kuperbaiki (owo)/

oya di akhir cerita kok Naruto jadi keliatan jahat gitu ya =A=;;

sepertinya berlanjut sampai 10 chapter, soalnya ud ditentuin juga nama-nama bunga buat kedepannya XDD

osh~~ arigatou gozaimasu! (o^0^o)/~~

-Aya Kawashiiba-