Flower And The Moon
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Thanks for read this ^^
Terimakasih kepada semua yang sudah memberi masukkan :D
Maaf ya kalau telat apdet ;A; Karena ada UKK, jadi nggak bisa nulis fic dulu, udh gitu, gara-gara penampilan baru FFN, saya nggak tahu mau publish tuh gmna! O_O smp bbrp hari akhirnya di kasih tahu lewat manage story ;A; maafkan saayaaaa /bow
Balas review dulu semuaa
uchihyuu nagisa : Iya, aku juga merasa gtu, ah abisnya kalo nggak sedikit OOC Gaara-nya g bkl ngmong2 -_- lolol.. doakan ya semoga Narutonya nggak berulah Q_Q;; lol
Uchiha No TsuQ74TraLaLa : iyaa! Naruto jadi begitu ;3; okeee maaf kalau update-nya terlalu lama TAT
Ai HinataLawliet :Yup, bnr! pdahal udh di nyatain cintanya, tp Naruto biasa2 aja -_- aku jg brharap gtu osh! maaf telat update
Arukaschiffer : LOL kalau jaman modern juga pasti sms-an XD ah iya, lupa Sasuke disini 8D ah, iya, soalnya tba2 gbs dtg
OraRi HinaRa :Osh, kuapdet secepatnya!
miss lavender chan : aa maaf telat! T^T oh kalau roman-nya tunggu disaat yg tepat ya /
Chikuma : lol Aku juga kangeeen dirimuuu 3 Iya T^T aku jg buatnya krna di animanga jg dia g respon Hina sih -,- Ah, arigato okeeee /hugs
Uzumaki Panda: Halo Uzumaki ^^ sama-sama :D /hug/ tidaaak! Akan langsung ku UPDATE! /ded/
Su'ud Uryuu: Aku setujuuuuu! bener tuh si Naruto juga smpt blushing pas di 'tembak' sakura -_- padahal udh dpt pernyataan Hina XD lol
Mayra: gya~ ntar ya klo ini udh selesai /plak
lady mishil : Iya! Naruto pantas menjadi antagonis sekarang /dzingh
Oya, disini Carnation itu punya berbagai arti, jadi aku ambil Carnation berwarna kuning~
Enjoy!
CHAPTER 8
CARNATION : YELLOW
Hari itu datang ketika ia meninggalkan sisiku
Malam itu dingin dan suram
Aku masih ingat hari itu begitu jelas
Aku memegang dia dengan sekuat tenaga
Konohagakure
Terlihat 3 orang Shinobi yang berdiri di hadapan seorang Hokage baru yang sudah menunggu kedatangan mereka ber-tiga sedari tadi. Dengan perlahan, Hokage bernama Naruto Uzumaki itu berdiri dari duduknya dan membuka mulutnya.
"Baiklah, aku memanggil kalian untuk misi, ke Iwagakure." Jelas Naruto dengan senyum tipis di wajahnya yang sedikit terlihat masam itu.
Tidak seperti lainnya, Hinata cukup kaget mendengar pernyataan Naruto. Bagaimana mungkin Ia menjalankan misi disaat Gaara, yang akan melamarnya harus Ia tinggalkan, padahal lelaki itu sendiri sedang menuju ke Konoha untuk menemuinya. Ia hanya tertegun melihat Naruto yang hanya menunduk.
"Lalu? Kami harus melakukan apa? Jelaskan yang benar, Naruto!" Gerutu Kiba yang melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Naruto lalu menyerahkan gulungan kertas dan melemparnya ke arah Shino. "Serahkan surat penting itu pada Tsuchikage, kau harus hati-hati, karena surat itu adalah salah satu surat perjanjian antar Desa kita dengan Iwa." Jelas Naruto yang kembali duduk.
"Baik, baik. Kalau begitu, kami pergi dulu." Ujar Kiba yang sudah bersemangat. Shino lalu keluar dari pintu ruangan Hokage itu diikuti Kiba.
"Ada apa, Hinata?" Tanya Naruto yang melihat gadis itu masih berdiri di hadapannya.
"Bisa kalau ada orang yang menggantikkan aku?" Tanya Hinata sedikit gugup.
"Maaf Hiata, tapi misi ini untuk Tim-8," Jelas Naruto tanpa menatap mata Hinata sedikitpun.
"Kalau begitu, aku permisi." Hinata lalu dengan cepat keluar dan berlari mengejar teman-temannya.
Naruto yang masih duduk di atas kursi Kage-nya itu hanya menunduk pasrah. "Sial,"
"Hei, Gaara! Jangan terlalu terburu-buru begitu! Kita sudah semalaman tidak tidur!" Seru Temari yang melihat adiknya terus berlari melwati pohon ke pohon lainnya.
"Maaf,"
"Dasar, Gaara memang sangat bersemangat kali ini, ya?" Goda Kankurou melihat adiknya yang tetap berlari cepat di depannya.
"Aku hanya tidak mau berlama-lama di perjalanan." Ujar Gaara mengelak.
"Ooh," Temari lalu tersenyum lebar melihat adiknya.
"Pasti dia senang ya," Jelas Matsuri yang ikut bersama mereka.
"Ah, kalian berisik sekali! Sudah, cepatlah!" Seru Baki-sensei yang sedari tadi mendengar ocehan para Shinobi Suna itu.
Gaara hanya tersenyum tipis, membayangkan bagaimana reaksi Hinata saat bertemu dengannya.
"Tunggulah, Hinata."
"Kira-kira, dari Konoha ke Iwa itu memakan waktu berapa lama ya?"
"Yah, kira-kira 3-4 hari, kita bisa bermalam di Kusa, desa sebelum Iwa, jadi kita tidak perlu terlalu cepat-cepat ke sana." Ucap Shino.
Kalau dilihat dari peta, Iwa berada di bagian Utara Konoha, sedang Suna berada di bagian Barat, mengingat hal itu, Hinata hanya mengehela nafasnya, menyadari bahwa Ia tidak akan bisa berpapasan dengan Gaara.
"Ada apa, Hinata?" Tanya Kiba melihat sahabatnya itu hanya diam.
"Ti..Tidak, maafkan aku," Hinata lalu terus berjalan tanpa memperdulikan Kiba yang terlihat khawatir.
"Kau akan menikah dengan Gaara, kan? Kalau begitu, kau akan pergi dari Desa?" Tanya Kiba sembari berjalan beriringan dengan kedua Sahabatnya itu.
"Ah, masalah itu..." Hinata lalu menundukkan wajahnya, menutupi wajahnya yang sudah merona merah.
"Baik-baiklah disana, ya?" Ucap Kiba dengan senyum khas-nya yang langsung dibalas Hinata dengan senyuman yang jarang dilihat Kiba akhir-akhir ini.
"Terimakasih."
Konohagakure
"Naruto, ada tamu." Ucap Shikamaru saat memasuki ruang Hokage, diikuti beberapa Shinobi yang sudah tak asing lagi baginya.
"Ga...Gaara." Naruto sedikit takut melihat Shinobi Suna dihadapannya kini. Buru-buru Naruto berdiri dari duduknya dan memberi salam pada Kage asal Suna didepannya itu.
"Sudah lama, Naruto. Apa kabarmu?" Tanya Gaara terlihat senang, melihat sahabat-nya sudah duduk di atas bangku seorang Kage.
"Baik. Kau, ada urusan apa datang kemari?" Tanya Naruto pura-pura tidak tahu.
"Ah, aku datang kemari untuk mengurus segala perizinan dan surat-surat mengenai aliansi. Aku ingin melamar Hyuuga Hinata." Jelas Gaara.
Tenggorokkan Naruto terasa tercekat mendengar nama Hinata disebut langsung oleh Gaara di hadapannya. Naruto lalu menundukkan wajahnya wajahnya sedikit.
"Maaf, Gaara. Tapi, Hinata sedang ada Misi saat ini." Ujar Naruto tanpa melihat mata Gaara.
Gaara yang mendengarnya sedikit kecewa. "Begitukah? Aku mengerti. Kalau begitu, aku pamit untuk menemui Hyuuga Hiashi. Nanti aku akan menemui-mu lagi untuk persetujuan perpindahan aliansi. Permisi." Ucap Gaara.
Setelah itu, Gaara bersama yang lainnya, langsung keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Naruto dan Shikamaru.
"Hei Naruto! Kau sudah tahu akan maksud Gaara datang kemari, tapi kau malah menyuruh Hinata untuk pergi misi? Bukankah itu kejam?" Tanya Shikamaru melihat tindakan Naruto yang menurutnya tidak logis itu.
"Bukan seperti itu, aku hanya.. Tidak mau membiarkannya." Jawab Naruto lirih.
"Haah, mendokusai."
"Permisi, Hiashi-sama. Ada tamu untukmu," Ujar Neji menghadap Hiashi, yang merupakan pamannya.
"Siapa?" Tanya Hiashi.
"Kazekage, bersama para pengikutnya."
Mendengar penjelasan Neji, tanpa basa-basi, Hiashi langsung mempersilahkan masuk Kazekage yang sudah datang jauh-jauh menemuinya itu.
"Kau menepati janjimu, Kazekage-sama." Ucap Hiashi seraya tersenyum tipis.
Mereka lalu duduk disebuah ruangan yang cukup luas. Hiashi dan Gaara duduk bersebrangan. Sementara pengikut Gaara duduk dibelakangnya.
"Selamat siang, maaf aku datang tiba-tiba." Ucap Gaara yang langsung membungkuk dalam keadaan bersimpuh.
"Angkat kepalamu. Bagaimanapun, kau adalah pemimpin Suna. Kau harus tetap menjaga harga dirimu."
"Aku bisa menghapus harga diriku demi Hinata." Jawab Gaara tegas seraya mengangkat kembali wajahnya, menatap Hiashi tanpa ketakutan sedikitpun.
"Lalu, ada hal apa hingga kau harus datang kemari disaat Hinata tidak ada?" Tanya Hiashi memastikan.
"Mengenai itu, awalnya aku berniat membicarakan hal ini bersama Hinata. Tapi entah apa yang Hokage pikirkan hingga ia menugaskan Hinata." Ucap Gaara tanpa tidak senang.
"Disini, aku bersama para tetua serta pengikutku, ingin agar anda memberikan persetujuan atas pernikahanku dengan Hinata.
"Aku menginzinkanmu menikahinya. Apa perlu beratus kali aku mengatakannya hingga aku berubah pikiran?" Ucap Hiashi sedikit kesal.
"Maaf, Hiashi-sama. Saya sangat menghormati jawaban anda. Tapi, ada satu hal lagi yang ingin saya diskusikan. Boleh saya membawa Hinata ke Suna?" Tanya Gaara penuh harapan.
Hiashi terlarut dalam diam. Mendengar kenyataan, bahwa inilah saat-nya. Saat dimana Putri sulungnya harus pergi dari rumah ini. Saat dimana Ia akan lepas dari tanggung jawabnya akan putri sulungnya itu. Selang beberapa menit, Hiashi lalu mengangguk.
"Aku percayakan padamu, Gaara."
Mendengar jawaban baik dari Hiashi, Gaara langsung tersenyum tipis dan langsung membungkukkan badannya.
"Terimakasih, Hiashi-sama. Aku akan memegang janji-ku sebaik-baiknya." Gaara lalu mengangkat kepalanya, memutarnya sedikit untuk melihat bagaimana reaksi tetua yang juga terlihat senang.
"Untunglah, Gaara." Ucap Temari berbisik.
"Siaaaal! Naruto Sialan! Kenapa jauh sekali!" Seru Kiba tampak mulai bosan dengan perjalanan mereka yang tak kunjung sampai.
"Baru memakan waktu sehari, kan?" Tanya Hinata.
"Ng, tapi kurasa ada baiknya kita istirahat dulu, bagaimana?" Ide Kiba. Hinata sedikit menolak hal itu dengan bahasa tubuhnya, menginginkan agar mereka lebih cepat sampai dan bisa langsung pulang Konoha. Tetapi, ke-egoisannya ia pendam demi kesehatan para sahabat-nya yang sudah terlihat sangat lelah itu.
"O,ya Shino. Kau tidak lupa membawa makanan Akamaru yang kutitipkan padamu kan?" Tanya Kiba yang langsung merogoh-rogoh tas milik Shino yang berada disebelah ia duduk.
"Kurasa tidak." Jawab Shino santai.
"Bohong kau! Serangga-seranggamu menghabisi seluruh makanan Akamaru, bodoh!" Seru Kiba tampak tak percaya melihat sebungkus dagis sudah habis ditangannya.
"Kaing," Akamaru yang mendengarnya langsung duduk tersungkur.
"Ah, tak apa, Akamaru-kun, aku membawa daging lebih. Awalnya untuk Kiba dan Shino, tapi kurasa sekarang Akamaru lebih lapar, ya kan?" Ucap Hinata seraya mengelus kepala Akamaru yang langsung terlihat senang.
"Ah, Hinata kau tidak makan dulu?" Tanya Kiba disaat Ia dan Shino sedang makan siang bersama.
"Tidak, aku sedang tidak lapar." Ucap Hinata tampak tenang. Meski ucapannya merupakan kebohongan, tapi Ia lebih mementingkan Akamaru untuk makan dibanding dirinya yang sebenarnya sudah lapar dari tadi.
"Jangan begitu, Hinata! Kau pikir selama berbelas-belasan tahun ini kami tidak menyadari sifat-mu yang tidak enakkan itu? Ini!" Kiba lalu melemparkan Hinata sebungkus roti besar. "Aku tidak mau dipersalahkan oleh Kazekage itu kalau calon Istrinya tiba-tiba sakit karena tidak makan!" Jelas Kiba membuat Hinata sedikit tersipu.
"Terimakasih, Kiba-kun."
Konohagakure
"Naruto, ada Gaara ingin menemuimu." Seru Shikamaru melihat yang dipanggil sedang tidur diatas meja kerja-nya.
"Ah? Suruh masuk saja."
Setelah dipersilahkan, Gaara langsung masuk, sedang Shikamaru yang tidak mau ikut campur langsung melesat pergi dari ruangan itu."
"Aku sudah mendapat persetujuan dari Hiashi serta keluarga Hyuuga. Jadi, aku kemari untuk meminta tanda tangan darimu selaku Hokage saat ini." Gaara lalu menyerahkan selembar kertas ke arah Naruto yang hanya diam tanpa berniat mengambil surat perjanjian itu.
"Gaara. Untuk saat ini, aku tidak ingin melihat wajahmu." Ujar Naruto berbisik. Mendengar hal itu, Gaara hanya diam tanpa menggeser pandangannya dari mata Naruto.
"Apa maksudmu?" Ucap Gaara tampak bingung dengan sahabatnya saat itu.
"Aku tidak akan menyerahkan Hinata padamu!" Seru Naruto berani. Mendengar hal itu, Gaara langsung naik pitam dan menarik kerah baju Naruto kencang.
"Aku tidak tahu kenapa kau begini, tapi jika kudengar alasannya karena kau mencintai dirinya, aku tidak akan segan-segan memukulmu." Ucap Gaara ketus.
Naruto hanya menyeringai dan berkata, "Ya, aku mencintai Hinata."
Tanpa basa-basi, dengan sekuat tenaga Gaara menghantam wajah Naruto dengan kepalan tangannya hingga membuat Naruto jatuh tersungkur. Belum sempat Naruto bangun dari jatuhnya, Gaara langsung berjalan ke arah Naruto dan memukulnya lagi.
"Katakan itu hanya bohong! Katakan, Naruto!" Seru Gaara tampak geram mendengar ucapan Naruto.
"Hmph! Aku tidak peduli, aku mencintainya lebih dari kau mencintai-nya!" Tak mau kalah, Naruto langsung memukul Gaara yang langsung kena telak di wajah sang Kazekage. "Kenapa? Tumben sekali pasirmu tidak melindungi dirimu yang berharga."
"Aku ingin melindungi Hinata dengan kekuatanku sendiri!" Gaara lalu kembali memukul Naruto. Tampak Ia lebih kesal mengingat surat Hinata yang mengatakan bahwa ada lelaki yang memeluk-nya. Kali ini Gaara yakin siapa orang itu, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri, Naruto.
"Hei! Ada apa ini! Hentikan kalian berdua!" Seru Shikamaru yang kembali lagi mengantar-kan dokumen bersama Temari disampingnya.
"Gaara! Apa yang kau lakukan!" Dengan sigap Temari langsung menarik lengan adik-nya yang hendak memukul Naruto.
"Lepaskan aku, Temari!" Seru Gaara seraya menepis tangan kakak-nya.
"Heh, Hinata memang tidak pantas bersanding denganmmu. Aku yang lebih pantas." Berkat kalimat Naruto itulah, Gaara langsung memukul Naruto hingga yang dipukul langsung mengeluarkan cukup banyak darah dari mulutnya.
"Sekali lagi aku mendengar nama Hinata dari mulutmu, akan aku hancurkan tanganmu." Gaara lalu langsung segera keluar dari ruangan tersebut.
"Hei, Naruto, apa yang terjadi? Kau tidak apa?" Tanya Shikamaru khawatir.
"Yah, terimakasih." Ucap Naruto sambil menghapus tetesan darah yang masih mengalir keluar dari mulutnya.
"Apa yang kalian bicarakan hingga seperti ini?" Tanya Temari ingin memperjelas.
"Tidak ada, hanya tentang diriku, dia, dan Hinata."
Mendengar nama Hinata, Temari dan Shikamaru langsung paham dengan situasinya.
"Hoi Naruto, kau ada di posisi yang salah. Sudah jelas Hinata akan menjadi Istri Gaara, kenapa kau ingin mengusik-nya?" Ujar Shikamaru tidak mengerti.
"Aku mencintai Hinata. Aku ingin dia memilihku. Jadi tidak ada salahnya aku memberitahu Gaara akan perasaanku pada Hinata." Ucap Naruto tak berdosa.
"Meski persahabatan kalian harus putus?" Ucap Temari tampak sedih. "Kau tahu? Kau adalah orang pertama yang dianggap teman oleh Gaara. Menurutmu, bagaimana perasaannya mengetahui bahwa teman pertamanya mencintai wanita yang pertama kali Ia cintai?" Lanjut Temari.
Mendengar hal itu, Naruto langsung menundukkan wajah-nya.
"Aku...Tidak tahu," Bisik Naruto. "Aku tidak ingin untuk tahu."
Atas izin Hiashi, Gaara bersama pengikutnya akan menetap di rumah Hyuuga hingga Hinata kembali dari misinya. Mengisi waktu luang, malam hari, Gaara diminta menemani Hiashi untuk minum bersama.
"Maaf merepotkan," Ujar Gaara.
"Tak apa, kau tidak perlu sungkan padaku."
"Apa, anda mengenal Naruto?" Tanya Gaara memulai topik pembicaraan membuat Hiashi langsung bingung dengan ucapan Gaara.
"Tentu, siapa yang tidak kenal pembuat onar serta Kyuubi di Konoha ini?" Jawab Hiashi santai.
Gaara lalu menundukkan wajahnya. "Dibanding dirinya, apa saya lebih buruk?" Tanya Gaara lagi.
"Kurasa, semua orang memiliki pengukuran masing-masing. Tapi dimataku sampai saat ini, kau lebih baik dibanding dirinya. Ada apa? Apa kau cemas karena Naruto cinta pertama Hinata?" Tanya balik Hiashi.
Gaara hanya menggeleng. "Bukan. Terimakasih, Hiashi-sama."
Akhirnya Setelah lebih dari 1 Minggu, Hinata kembali di Konoha, dan langsung disambut oleh Gaara dikediamannya.
"Ga...Gaara-kun!" Hinata lalu langsung berlari dan langsung memeluk lengan Gaara.
"Selamat datang." Ucap Gaara. Mendengar hal itu, Hinata hanya malu-malu. "Aku pulang," Balas Hinata seraya tersipu malu.
"Gaara-kun, ada apa? Wajahmu terluka." Ucap Hinata. Gaara langusng memalingkan wajahnya tanpa sempat Hinata menyentuh luka di wajah Gaara.
"Bukan apa-apa."
"Begitukah? Ayo masuk." Ajak Hinata terlihat gembira melihat Gaara saat Ia pulang.
"Setelah ini, kau tidak kemana-mana lagi kan?" Tanya Gaara.
"Ah, aku harus memberi laporan kepada Hokage setelah menaruh barangku." Jelas Hinata. Mendengar jawaban itu, Gaara langsung meminta untuk ikut. "Aku ikut,"
"Tapi.."
"Aku ikut, Hinata." Ucap Gaara tegas.
"Aku hanya sebentar, Gaara-kun." Jawab Hinata tak kalah tegas. Merasa ingin mengalah, Gaara mengangguk.
"Hati-hati."
tok tok
"Masuk," Ucap Hokage yang sedang duduk diatas bangkunya. Hokage itu langsung membulatkan matanya melihat siapa yang datang.
"Maaf, Hokage-sama aku terlambat. Ini dokumen dari Iwa." Ujar Hinata yang membawa sebuah gulungan surat.
"Terimakasih, Hinata." Naruto lalu tersenyum dan mengambil surat tersebut.
"Baiklah, aku permisi."
"Tunggu, Hinata!" Melihat Hinata ingin beranjak keluar, Naruto langsung bangun dari duduknya dan menarik lengan Hinata, memojokkan gadis itu ke sudut ruangan.
"Na...Naruto-kun? Kau sedang bercanda apa?" Tanya Hinata merasa takut mengetahui bahwa jarak di antara mereka berdua terlalu dekat.
"Aku mencintai dirimu Hinata, apa tidak ada kesempatan lagi?" Tanya Naruto penuh harapan.
"Maafkan aku," Hinata hanya menggeleng lemah. Tanpa Ia sadari wajah Naruto mulai mendekati wajahnya.
"Tunggu, Naruto-kun!" Seru Hinata seraya mendorong tubuh Naruto. Melihat wajah Naruto, Ia langsung berlari ke luar ruangan tersebut.
"Jangan berwajah seperti itu, Hinata." Ucap Naruto menutupi wajahnya yang tampak ingin menangis.
"Hinata? Ada apa?" Tanya Gaara yang sedang duduk di beranda rumah Hyuuga, penasaran melihat Hinata yang berlari kencang menuju arahnya.
"Itu..."
"Hei Gaara-kun! Tenanglah sedikit!" Seru Hinata seraya mengejar langkah kaki Gaara yang cepat menuju Gedung Hokage.
"Apa kamu pikir aku bisa tenang?" Tanya Gaara ketus seraya tetap berjalan secepat mungkin.
"Tapi!"
"Kamu sampai menangis seperti itu." Ujar Gaara. Hinata hanya bisa menautkan alis-nya melihat Gaara yang sudah terlihat naik pitam mendengar kejadian yang Hinata alami tadi.
Sesampainya disana, Gaara langsung masuk ke ruangan Naruto. Dilihatnya laki-laki itu berdiri di sebelah jendela.
"Apa yang telah kau lakukan padanya?" Tanya Gaara tajam.
Dengan santai Naruto menjawab, "Mencoba..Menciumnya,"
"Bedebah!" Gaara langsung menarik Naruto dan memukul-nya tanpa henti.
"Gaara-kun, hentikan!" Seru Hinata tidak ingin melihat Gaara menggunakan tangannya untuk melukai orang lain di hadapannya.
Tanpa pedulikan suara Hinata, Gaara tetap memukul Naruto tanpa pandang bulu, hingga akhirnya Hinata menarik tangan Gaara dan menggenggamnya erat.
"Hentikan, Gaara-kun." Ucap Hinata lirih seraya menangis.
Gaara yang melihat-nya hanya memandang Hinata tak percaya. Lalu Ia menundukkan wajahnya.
"Sudahlah, Hinata." Gaara langsung menarik tangannya lagi.
"Ga.."
"Aku tidak akan memukulnya lagi, jadi kamu pulanglah."
"Tapi.."
"Apa kau tidak percaya padaku?" Ucap Gaara menaikan nada suaranya lebih tinggi.
Hinata tampak kaget dengan tingkah Gaara dan menurut. "Baiklah."
Hinata lalu pergi dari ruangan tersebut dan kembali menuju rumahnya. Setelah Hinata pergi, Gaara langsung menarik kerah Naruto. "Padahal kau hanya bisa membuatnya menangis!"
Setelah itu, Gaara langsung keluar meninggalkan Naruto yang hanya diam.
Malam Hari, Gaara baru kembali ke kediaman Hyuuga yang sudah ditunggu oleh Hinata.
"Gaara-kun! Kenapa kau lama sekali?" Tanya Hinata melihat Gaara yang baru memasuki gerbang rumahnya.
"Yah,"
"Gaara-kun, apa masalah pernikahan kita sudah beres?" Tanya Hinata.
Gaara hanya menatap wajah Hinata sekilas dan langsung memasuki kamar yang telah disiapkan untuknya tanpa menjawab pertanyaan Hinata.
"Gaara-kun."
Semalaman Hinata tidak bisa tertidur dan terus menangis melihat tingkah laku Gaara tadi. Hingga akhirnya ia ketiduran setelah puas menangis hingga menjelang pagi.
"Hinata, bangunlah." Ujar Neji yang berada di depan pintu-nya.
"Neji-niisan?" Ucap Hinata melihat sepupunya sudah bertengger didepan pintu kamarnya.
"Ayo, apa kau sudah bisa mengalahkanku?" Tanya Neji mengingatkan janji mereka berdua.
"Ah, iya. Aku akan segera siap-siap." Jawab Hinata melihat arah jarum jam menunjukkan pukul 04.35 pagi.
Setelah seluruh persiapan selesai, Hinata dan Neji bertanding bersama di Dojo milik keluarga Hyuuga.
"Kenapa Hinata? Katamu kau mau menikah dengan Gaara, tunjukkan kekuatanmu." Sindir Neji.
"Aku mengerti. Sekali lagi!" Seru Hinata.
Mendengar ada suara berisik, Gaara terbangun dari tidurnya dan menuju ke arah suara tersebut. Sontak Ia langsung kaget melihat siapa yang berada di dalam Dojo itu.
"Hinata," Ucapnya berbisik.
"Cepatlah Hinata! Kekuatanmu besar! Kau terlalu lambat!" Seru Neji seraya bertarung bersama sepupunya itu. Hinata sudah terlihat sangat lelah, hingga akhirnya Hinata terjatuh oleh pukulan Jyuuken dari Neji yang bisa dibilang cukup kuat.
"Se..Sekali lagi. Bagaimanapun, aku harus mengalahkan dirimu agar aku bisa bersama Gaara-kun!" Seru Hinata seraya memaksakan tubuhnya untuk berdiri.
Sejujurnya Gaara tidak tega melihat Hinata dipukuli secara sadis didepan matanya sendiri. Tetapi ingat kejadian kemarin, membuatnya jadi kembali mundur untuk menghentikkanya.
"Sampa sini dulu, Hinata. Bila dilanjutkan, tubuhmu akan hancur." Jelas Neji.
"Sekali lagi! Aku harus bisa mengalahkanmu, harus!" Seru Hinata yang sedang mengatur pernafasannya yang tersenggal-senggal itu.
"Sudahlah, besok juga masih bisa. Aku keluar dulu." Ujarnya seraya keluar. Neji tampak kaget melihat Gaara berdiri didepan pintu, dengan sigap Ia langsung membungkuk dan kembali berjalan.
"Gaara-kun?" Ujar Hinata menyadari keberadaan Gaara.
"Aku permisi."
"Gaara-kun! Kenapa kau jadi marah?" Seru Hinata tampak ingin menangis.
"Karena...Kau melindungi dia." Jelas Gaara ketus.
"Bukan begitu! Aku hanya tidak ingin melihat Gaara-kun memukul orang dihadapanku!" Seru Hinata.
"Kalau begitu, kau ingin aku bagaimana!" Seru Gaara tak kalah kencang. "Dirimu sendiri yang menjelaskan padaku." Lanjut Gaara.
"Aku.." Hinata lalu menatap Gaara yang menundukkan wajahnya dalam.
"Maaf, aku tahu kita sudah bicara tentang banyak hal. Meski kita sudah menjalani waktu yang banyak bersama, meski dirimu sudah memberi tahu banyak hal, meski hubungan kita ada kemajuan, tapi..." Gaara lalu mengangkat wajahnya. "Pada akhirnya, aku masih belum bisa percaya pada Hinata." Ucap Gaara seraya tersenyum tipis. Ia lalu keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Hinata yang sudah mulai meneteskan air matanya perlahan.
"Aku harus bagaimana?"
Aku tahu 'maaf' hanya sekedar kata
Aku tahu sekarang kita hanya saling manyakiti
Aku ingin menggenggam dirimu erat agar kau tahu
Betapa aku tidak bisa untuk melepaskan dirimu saat ini
CHAPTER 8
Carnation : Yellow
FINISH
CHAPTER 9
Meadowsweet
Minna~~~ arigatou semua buat review dan makasih buat semua yang sudah read ;A; ah akhirnya sampai juga di climax XDDD lololol semoga tidak membuat kecewa ya chapter ini, namanya juga angst XDDDD lol
Sebenernya ini fic karena aneh juga sama naruto yang di komiknya belum respon pernyataan si Hinata -_-
Jadi, semoga semuanya mohon memaklumi ya kalau ada yang kurang 3
ah, iya disini Naruto kok jd tambah jahat lagi ya XD
Jangan lupa review buat kasih masukan di Fic ini ^o^
