Flower And The Moon
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Thanks for read this ^^
Terimakasih kepada semua yang sudah memberi masukkan :D
Karena ini chapter terakhir aku ngga balesin review satu2 ya
tapi makasih banyak buat yang udah review selama ini.
Fic ini tidak akan bisa jalan tanpa review kalian. Terimakasih ^o^
Enjoy!
CHAPTER 9
Meadowsweet
Aku melihat kembali pada seluruh yang aku ambil apa adanya
Dan aku hanya berharap bahwa aku dihargai
Dan aku tahu bahwa jika aku dapat kembali
Aku akan berusaha untuk menyimpannya.
Konohagakure
"Gaara-kun! Kenapa kau tidak kembali kerumah?" Tanya Hinata pelan pada Gaara yang sedang duduk di atas bangku taman yang tidak jauh dari rumahnya.
Yang ditanya hanya diam dan memalingkan wajahnya.
"Sebenarnya, untuk apa kita berencana menikah?" Tanya Hinata seraya menahan isak tangisnya. Mendengar hal itu, Gaara tetap terdiam membisu. Tidak ada niat untuk memandang wajah Hinata sedikitpun yang akan membuat dia lemah saat melihat tangis gadis itu.
"Jangan diam saja! Katakan, Gaara." Seru Hinata dengan suaranya yang bergetar sambil menarik-narik pakaian Gaara erat. Isak tangisnya membuat Gaara semakin bersalah dan menepis tangan Hinata di pakaiannya.
"Aku merasa, saat bersama dirimu.." Gaara lalu menatap wajah Hinata perlahan. "Aku sangat membenci diriku sendiri untuk saat ini."
Tangis Hinata langsung keluar mendengar kalimat Gaara. Hinata langsung menarik pakaian Gaara yang beranjak pergi dengan erat.
"Harus bagaimana? Aku harus bagaimana untuk membuatmu percaya padaku?" Ucap Hinata lirih.
Gaara menoleh kearah Hinata yang hanya berdiri lemah seraya menundukkan wajahnya dalam untuk menutupi air matanya yang sudah membasahi wajahnya. Wajah Gaara tampak ingin menahan kesedihannya. Andai rasa cemburu-nya tidak sebesar ini, mungkin Gaara akan langsung memaafkan Hinata seperti biasa dan bisa mengurus pernikahan mereka. Tapi kesabaran Gaara mungkin sudah di akhir batas. Ia sudah terlalu kesal melihat langsung perlindungan Hinata pada Naruto.
"Kumohon, maafkan aku." Lanjut Hinata tetap tidak membiarkan Gaara pergi.
Untuk menahan perasaan-nya, Gaara langsung menepis dengan kasar tangan Hinata dan berlalu pergi. Tidak memperdulikan Hinata yang terjatuh karena tepisan tangannya yang terlalu kuat bagi Hinata.
"Maaf." Bisik Hinata yang tersungkur di atas tanah.
"Jadi? Kau meninggalkan Hinata yang terjatuh?" Ujar Temari pada adik kedua-nya itu.
"Hn, begitulah." Jawab Gaara tegas pada Temari yang juga ikut minum teh disebuah kedai di Konoha.
"Jangan-jangan kau serius cemburu pada Hinata dan Naruto?" Tanya Temari sinis. Gaara lalu diam dan angkat bicara.
"Aku menyukai Hinata."
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Seru Temari sedikit kesal.
"Kamu harusnya mengerti, bukan? Setiap kali, selalu aku yang mengejar dan mengejarnya. Kadang-kadang aku juga merasa lelah. Aku merasa tidak boleh berfikir begitu, tapi saat sadar, perasaanku selalu lebih besar daripada dia. Waktu sadar, hanya aku sendiri yang merasakan perasaan itu. Kalau begitu, sebenarnya apa yang kujalani bersama Hinata?" Gaara lalu menundukkan wajahnya.
"Kau kejam,"
"Eh?" Gaara lalu langsung menatap wajah Temari bingung.
"Itu namanya egois. Apa kau pikir Hinata tidak memikirkannya? Bukankah demi dirimu dia rela bertanding Neji yang 3 kali lipat lebih kuat darinya?" Tanya Temari.
"Maksudmu?" Tanya Gaara memastikan.
"Bukankah akhir-akhir ini Hinata sering bertanding dengan Neji dirumahnya? Saat kutanya pada Neji, dia bilang padaku kalau Hinata mau keluar dari rumah Hyuuga, Ia harus bisa mengalahkan Neji barang cuma sekali." Ucap Temari menjelaskan.
"Jadi itu," Ujar Gaara berbisik mengingat kejadian dimana Ia melihat Hinata dan Neji bertarung bersama di Doujo pagi hari.
"Kalau begitu, sekarang kau mau bagaimana? Membatalkan pernikahanmu dan menjilat ucapan dan janji-janji mu pada Hiashi?"
Gaara langsung menggeleng cepat.
"Aku tidak akan memakan ucapanku sendiri,"
"Tapi kau sudah membuat kecewa Hinata." Debat Temari menyadarkan perilaku egois adik-nya itu.
"Kalau begitu aku harus bagaimana! Membiarkan Naruto tetap mencintai Hinata, lalu aku tetap menikahi gadis itu yang bahkan aku belum dengar langsung darinya mengenai perasaannya pada Naruto? Itu namanya sukarela." Gaara lalu langsung meminum teh yang berada didepannya untuk menenangkan pikirannya.
"Kalau begitu tanya Hinata mengenai perasaannya!"
"Dia pasti akan menjawab 'aku sudah melupakannya'! Aku tahu sifat Hinata!" Seru Gaara pelan.
Temari lalu menghela nafas-nya panjang. "Kau temui Hinata dan minta penjelasan darinya,"
Gaara hanya diam. Ia lalu tampak berfikir dan beranjak dari duduknya.
"Baiklah,"
Hinata yang sedang membalut kedua kakinya dengan perban karena terjatuh tadi, terlihat lesu. Matanya terlihat kosong dan sembab.
"Hinata."
"Gaara-kun," Hinata yang melihat Gaara berjalan menghampirinya langsung berlari kearahnya.
"Maafkan aku," Seru Hinata. Gaara hanya diam mendengar ucapan Hinata. Jujur yang Ia khawatirkan justru luka di kedua kaki gadis itu.
Merasa tak ada respon dari Gaara, Hinata langsung kecewa.
"Aku tidak tahu, kalau ternyata saat kau bersamaku, malah terasa berat bagimu." Hinata lalu kembali duduk di sebuah kursi yang terbuat dari batu besar itu.
"Bukan begitu," Jelas Gaara.
"Mengenai Naruto, aku benar-benar sudah tidak menyukai dirinya lagi." Ucap Hinata seraya memandang lekat kedua mata Gaara yang tampak tidak menyukai topik pembicaraan ini.
"Tidak ada bukti mengenai hal itu." Balas Gaara.
"Kalau begitu, kau mau aku berbuat apa agar kau percaya padaku?" Tanya Hinata serius mencoba menahan air matanya.
"Aku tidak tahu."
Mendengar jawaban Gaara, emosi Hinata langsung naik dan dengan cepat memukul pundak Gaara kencang.
"Kau curang!" Seru Hinata terisak.
Bagian yang dipukul Hinata tidak begitu sakit bagi Gaara. Tapi, untuk dirinya tangisan Hinata saat itu membuat-nya berfikir kalau ia telah menjadi lelaki rendahan karena membuat gadis itu menangis tanpa menghentikkannya sedikitpun.
"Kalau begitu kau mau seperti apa!" Lanjut Hinata mendekati Gaara dan terus menarik baju Gaara yang hanya tetap diam.
Bukan seperti ini yang Gaara inginkan. Harusnya Ia sudah cukup merasa puas mendengar bahwa gadis ini tidak menyukai Naruto. Harusnya Ia memaafkan gadis ini. Gaara lalu tertunduk dalam.
Hinata lalu melihat wajah Gaara yang tertunduk di depannya dan mulai menangis seraya tetap menggenggam erat baju Gaara menyadari bahwa laki-laki itu ikut meneteskan air matanya.
"Sebenarnya untuk apa kita memulai kalau akhirnya kita akan berakhir?" Ucap Hinata lirih didepan Gaara yang masih tertunduk untuk menutupi wajahnya yang sudah mulai basah.
"Naruto," Panggil seorang gadis berparas cantik memanggil seseorang yang sedari tadi hanya melamun di atas meja kerjanya.
"Sakura?" Naruto langsung berdiri melihat Sakura dan berjalan menuju gadis itu.
"Sudah lama, ya?" Ucap Sakura canggung mengingat hampir 1-2 bulan mereka tak bertemu karena Sakura sekarang lebih sering berada di .
"Um, bagaimana keadaanmu?" Tanya Naruto basa-basi.
"Sehat. Lalu, bagaimana keadaan Hinata?" Tanya Sakura seraya tersenyum Naruto hanya tersenyum pahit.
"Dia akan menikah dengan Gaara setelah mendapat persetujuan dariku."
"Maksudmu? Kau belum menandatangani aliansi dari Gaara?" Tanya Sakura bingung. Naruto hanya mengangguk lemah.
"Kenapa? Kau tidak rela?" Tanya Sakura lagi.
"Bukan, tapi aku tidak mau menyerahkan Hinata." Jawabnya cepat.
"Itu sama saja. Kau harusnya merelakan Hinata bila kamu benar-benar mencintai dirinya."
"Dan aku akan tetap mempertahankan Hinata karena aku benar-benar mencintai Hinata." Tukas Naruto cepat.
"Meski dia tidak mencintaimu dan tidak bahagia dengan dirimu?" Sakura lalu tersenyum tipis. "Itu akan lebih menyakitkan dirimu, Naruto."
Naruto lalu berfikir bahwa ucapan Sakura memang benar. Hinata sudah tidak mencintai dia dan dapat dipastikan bila Hinata menerimanya lagi, itu adalah sesuatu yang 'terpaksa'.
"Ya, aku tahu aku berada di posisi yang salah. Dan aku tahu aku harus melakukan sesuatu dan menyelesaikannya. Semalaman aku juga sudah memikirkan hal ini." Tukas Naruto lirih.
"Kalau begitu, kau sudah tahu kau harus bagaimana?" Tanya Sakura lagi.
Naruto lalu tersenyum. "Ya, aku menyerah."
Kediaman Hyuuga terlihat tidak sesepi biasanya saat itu. Kedua shinobi yang sedang bertarung di sebuah Doujo milik Hyuuga membuat kediaman itu menjadi sedikit ramai oleh suara-suara yang dihasilkan.
"Kau semakin kuat." Ujar Neji saat sedang istirahat bersama Hinata yang melawannya.
"Aku bukanlah selalu menjadi aku yang kemarin, nii-san." Hinata lalu kembali berdiri dan memasang kuda-kuda. "Ayo kita mulai lagi."
"Yang benar saja? Kau baru duduk sebentar." Neji lalu menaruh botol minumannya dan menghampiri gadis itu.
Dilihatnya tubuh Hinata yang suda lebam-lebam dan terluka karena melawannya sejak pagi hingga Sore ini.
"Aku harus secepatnya melawanmu untuk bisa bersama Gaara-kun."
"Hn, kalau begitu kita lihat apa kau bisa membuktikan ucapanmu." Neji lalu ikut memasang kuda-kudanya dan dengan cepat melawan Hinata.
Hanabi yang berdiri di balik pintu Doujo tak tahan melihat kondisi Kakak-nya yang sudah cukup banyak terluka itu, akhirnya memilih untuk kembali kekamarnya. Tanpa Ia sadari saat Ia membalikkan tubuhnya dan menabrak sesuatu yang berada didepannya yang ternyata seorang laki-laki berparas tampan yang ikut melihat kejadian yang berada di dalam Doujo itu.
"Ah, Kazekage-sama, maafkan aku." Ucap Hanabi merasa takut berbicara langsung dengan Kage asal Suna ini.
Gaara hanya memaklumi dan terus melihat pertarungan Hinata dan Neji. Sejujurnya Gaara tidak suka melihat adegan itu, melihat tubuh Hinata yang sudah memerah dan lebam karena terkena Jyuken ringan dari Neji. Gaara tidak buta, dia ingat persis bagaimana kekuatan Neji saat di Ujian Chunin saat itu. Dan sangat tidak mungkin kekuatan laki-laki yang telah menjadi Jounin itu tidak berkembang.
"Kau tidak mau masuk untuk melihatnya, Kazekage-sama?" Tanya Hanabi menawarkan.
"Ah, tidak. Aku hanya ingin melihat sisi kuat darinya yang tidak aku tahu." Jelas Gaara seraya tersenyum tipis.
Mendengar dengan jawaban sang Kazekage, Hanabi langsung tersenyum senang.
"Untunglah kau yang membawa kakak-ku." Hanabi lalu menatap Gaara. "Aku bersyukur."
"Eh?" Gaara lalu menoleh pada gadis kecil itu.
"Kakak selalu tersenyum dan bisa langsung gembira saat melihat surat-surat yang dikirim darimu untuknya, aku yakin Kakak sangat bahagia." Hanabi lalu kembali menatap Hinata yang masih berjuang mati-matian melawan Neji.
"Terimakasih, Hanabi." Gaara lalu menepuk Hanabi yang sudah Gaara anggap seperti adik-nya itu.
Setelah Hanabi permisi pada Gaara untuk kembali kekamarnya. Gaara langsung kembali melihat pertarung didepannya itu.
"Lemah!" Seru Neji disela-sela pertarungan mereka.
Hinata hanya terlihat tidak senang dibilang 'lemah' terus-menerus oleh sepupu laki-lakinya itu.
"Lemah! Kau melawan apa Hinata? Kucing?" Seru Neji lebih menaikkan emosi gadis bermata indigo pucat itu. Sebenarnya maksud Neji adalah untuk menaikkan kekuatan Hinata agar Hinata akan merasa ingin lebih kuat dan Hinata melaksanakannya, Ia langsung menyerang Neji dengan cepat.
"Huh, sepertinya sudah mulai memanas, Hinata." Neji lalu kembali mempercepat gerakannya dan menghantam tubuh Hinata dengan jyuken-nya hingga gadis itu langsung terjatuh.
Gaara yang melihat-nya sedikit kesal. Ingin rasanya Ia menggerakan pasirnya untuk menghantam Neji yang sudah membuat Hinata babak belur seperti itu.
Hinata lalu mengatur pernafasannya, tubuhnya mulai basah karena keringat yang mengalir deras ditubuhnya. Lewat byakugan-nya, Ia tahu ada orang lain yang sedang melihat kearahnya, dan tentu saja aliran Chakra itu bukanlah Hanabi.
"Gaara-kun.."
Gaara yang melihat bahwa Hinata menyadari keberadaanya langsung tertunduk dan mengangkat wajahnya kembali. Gaara lalu mengucapkan sesuatu tanpa suara. Meski tidak dapat mendengar, Hinata tidak buta. Ia bisa tahu dengan jelas apa yang laki-laki itu ucapkan.
"Berjuanglah."
Hinata lalu mengangguk dan kembali berdiri. Ia langsung mengaktifkan byakugan-nya kembali dengan sisa chakra yang mulai menipis.
"Aku tahu sekarang." Bisik Hinata seraya tersenyum tipis.
Melihat Hinata kembali berdiri, Neji langsung bersiap menyerang lagi. Tanpa Neji ketahui, Hinata sudah mengetahui kemana arah gerakannya dan langsung menghantam dada Neji.
"Bagaimana bisa.." Ujar Neji tampak tidak percaya.
"Dari awal kita bertarung, aku sudah membaca gerakanmu, Nii-san. Kau selalu melawanku dengan menjadikan kiri sebagai langkah awalmu. Setiap aku memukul ke arah kanan, kau pasti akan dengan sengaja membiarkan aku mengenaimu, hingga kau bisa dengan cepat langsung menjatuhkanku dengan tangan kirimu. Kau sering melakukan hal itu di saat awal dan akhir saja. Iya, kan?" Jelas Hinata.
Neji hanya tersenyum tipis. "Kau tahu juga akhirnya." Neji lalu kembali berdiri.
"Dengan begini, aku bisa tenang membiarkanmu pergi. Karena kau bisa menganalisis lawanmu dengan cepat dan kekuatanmu pun sudah lebih baik." Neji lalu menepuk pundak Hinata.
Merasa sudah di akhir batas, Hinata langsung terjatuh karena chakranya pun sudah menipis. Dengan sigap Neji langsung menangkap Hinata dan membopong gadis itu dan langsung membawanya menuju keluar Doujo.
"Ah, Gaara." Neji lalu menunduk untuk memberi salam pada Kage yang terlihat cemas melihat Hinata didepannya sudah jatuh pingsan di tangan Neji.
"Dia tidak akan kenapa-kenapa. Kau harusnya senang karena demi dirimu dia sudah berjuang habis-habisan seperti ini." Neji lalu melihat wajah Hinata yang berada dilengannya.
"Hn," Gaara lalu mengangguk pelan.
"Baiklah, aku akan membawa dia ke kamar-nya. Apa kau mau ikut untuk menunggui dia hingga terbangun?" Tanya Neji menawarkan Gaara yang langsung menerimanya.
Setelah Neji membawa Hinata dan menaruhnya ke atas kasurnya perlahan, Neji langsung mempersilahkan Gaara untuk masuk dan keluar untuk beristirahat.
Gaara hanya diam menatap tubuh Hinata yang terlihat lemah dari luar tetapi kuat didalamnya itu. Ia menyentuh kening Hinata yang terluka dengan menyibakkan poni depan gadis itu.
"Maaf," Bisik Gaara.
Gaara lalu duduk di sebuah kursi tepat di sebelah ranjang dimana Hinata sedang tertidur disana. Ia lalu tertarik melihat setumpuk surat yang Ia tahu itu adalah surat yang berasal darinya. Diambilnya dan dilihatnya satu-persatu.
"Sebanyak inikah perjuanganku dengan Hinata?" Pikirnya.
Gaara lalu melihat sebuah buku yang tergeletak di meja yang berada di sebelah kursinya. Dengan perlahan Ia membuka buku kecil itu.
11-Mei-xxxx, Selasa, Cerah
Kubuat buku ini sebagai tanda dimana aku akan memulai hari yang baru tanpa bayang-bayang 'laki-laki' itu lagi. Aku ingin memulai jejak baru! Aku tidak boleh menorehkan sebuah kalimat sedih seperti buku harian sebelumnya!
2x-Mei-xxxx, Sabtu, Cerah
Besok aku akan dikirim Misi ke Sunagakure, tempat yang belum aku kunjungi sebelumnya. Sebenarnya, aku penasaran sekali dengan Desa itu. Aku selalu bertanya-tanya apa ada bunga disana?
Tadi Sakura pulang bersamaku, kukira Ia akan membicarakan mengenai 'dia', tapi tidak ada sedikit pun hal-hal yang menyangkut laki-laki itu. Aku tahu dia ingin menjaga perasaanku. Tapi aku merasa sedikit sedih akan hal itu.
xx-Juni-xxxx, Jumat, Mendung
Pulang dari Sunagakure, aku membawa hal yang baru. Aku melihat banyak hal yang sangat aku senangi disana. Dan aku diajak oleh lelaki baik hati ke sebuah tempat dimana banyak bunga didalamnya.
Aku menyukainya
Tuhan, kumohon, kalau benar dirinya yang akan menjagaku kelak, biarkan aku disampingnya barang hanya sedetik saja.
xx-Juni-xxxx, Senin, Cerah
Ino bilang padaku bahwa Ia mengundang Gaara. Bukan main senangnya saat mendengarnya. Tahu hal seperti itu, aku tiba-tiba langsung berfikir 'Aku harus pakai baju apa?'. Bukan hal istimewa, tapi aku ingin terlihat cantik untuknya.
Semoga aku bisa bertemu dengannya secepatnya dan semoga ia bisa menepati janjinya.
xx-Agustus-xxxx, Rabu, Cerah
Gaara tadi datang! Aku sangat senang melihat wajahnya yang tersenyum. Aku sedikit terkejut karena pulang dari pernikahan Ino, Ia langsung menemui Ayah dan melamarku.
Aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Beruntungnya Gaara akan disini hingga lusa.
xx-Agustus-xxxx, Kamis, Cerah
Gaara dan aku datang ke acara Festival Musim Panas Konoha. Ini kali pertamanya aku membuat janji dengan laki-laki kesebuah acara festival berdua saja. Aku berusaha tampil secantik mungkin, meski gagal. Gaara terlihat sangat tampan saat itu. Membuatku jadi sedikit malu berjalan bersampingan dengannya.
Gaara menganggetkanku lagi dengan memberitahu bahwa aku dan dia akan menikah. Besok acara penerimaan Hokage etujuh, tapi aku sedih karena Gaara harus pulang.
xx-Agustus-xxxx, Jumat, Berawan
Gaara harus pulang hari ini. Aku sejujurnya tidak mau. Tapi, bagaimanapun aku menyukainya dan tidak ingin menetapkan egoismeku. Aku harap dia baik-baik saja selama perjalanan.
Aku menunggu saat dia akan datang kemari untuk melamar dengan resmi dihadapan Ayah.
xx-Agustus-xxxx, Rabu, Cerah, Berawan
Gaara belum kembali ke Konoha. Aku jadi khawatir. Karena itu aku menulis surat untuknya. Semoga Ia membalas suratku. Aku benar-benar merindukan suaranya.
Baru sampai situlah Hinata menulis. Gaara lalu melihat sebuah tulisan di embar terakhir. tertulis di tanggalnya bahwa ia menulisnya kemarin. Dibaca-nya perlahan.
xx-xx-xxxx, Selasa, Hujan.
Aku bertengkar dengan Gaara. Aku sangat sedih akan hal ini. Ingin rasanya aku menangis hingga air mataku habis. Semalaman panjang aku berfikir bagaimana caranya agar Ia memaafkan aku. Aku tidak ingin kami berpisah.
Tuhan, kumohon bantu aku.
Aku mencintainya
Sungguh-sungguh mencintai nya lebih dari siapapun.
Gaara lalu membaca buku itu dengan senyuman tipis. Betapa senangnya Gaara mengetahui ada yang mencintai dirinya hingga begininya. Gaara lalu menyadari bahwa dibuku itu, Hinata tidak menulis yang buruk-buruk dan hanya ada nama Gaara di sana. Tidak ada satupun nama Naruto di kertas itu.
Gaara lalu menutup bukunya dan menaruhnya kembali perlahan. Ia langsung menghampiri Hinata yang masih terbaring dan menyentuh pipi gadis itu lembut.
"Ga...Gaara-kun?" Hinata lalu mulai membuka matanya perlahan Gaara langsung membantu gadis itu terbangun.
"Aku akan mengobati luka-mu dulu," Gaara lalu mengambil sebuah obat antiseptik yang berada di sebuah kota obat yang diberi Neji sebelum Ia keluar.
"Maaf, Gaara-kun."
"Untuk apa?" Tanya Gaara sambil tetap mengobati luka di kaki gadis itu.
"Aku mengecewakan dirimu." Hinata lalu tertunduk lemas mengingat kejadian kemarin.
"Kurasa, urutan kita memang salah. Tapi.." Gaara lalu menghentikkan kegiatannya dan mengangkat wajah Hinata dengan tangan kirinya. "Sulit melepaskanmu."
Hinata lalu tersenyum tipis dan mulai menahan air matanya yang masih berlinang di dalam mata indigo pucat itu.
"Ada saatnya kita saling menyakiti, dan saling tidak percaya, karena kita memang hanyalah sebuah pasangan yang 'biasa', aku berfikir begitu. Tapi kurasa itu adalah ujian bagi kita. Aku tidak pandai mengatakannya, tapi... Sampai kapanpun, hanya dirimu." Ucap Hinata sedikit tersipu.
Gaara lalu mengelus kepala Hinata. "Hn, terimakasih."
Gaara dan Hinata lalu memasuki ruang Hokage bersamaan. Dengan erat Hinata menggenggam tangan Gaara, menahan emosi lelaki itu.
"Selamat siang, Naruto." Ucap Hinata saat memasuki ruangan itu.
Naruto yang melihatnya tersenyum. "Selamat siang."
"Kami kemari untuk meminta tanda tanganmu di dalam perjanjian aliansi ini." Ujar Hinata seraya menyerahkan selembar kertas putih pada Naruto.
"Iya," Naruto lalu mengambil surat itu dan membacanya. Dengan perlahan Ia menandatangani surat itu.
"Kenapa?" Tanya Gaara bingung melihat sikap tenang sahabatnya itu.
"Aku menyerah." Jelas Naruto. Gaara masih terihat tidak senang.
"Terimakasih, Naruto." Ujar Hinata. Gaara yang mendengarnya langsung menatap Hinata.
"Aku dulu menyukaimu, tapi.. Ternyata aku tidak bisa bersamamu. Aku yang bahkan tidak pernah terfikir menjadi pendamping Gaara sekarang, malah ada disampingnya sekarang. Tidak ada yang tahu mengenai takdir. Tapi, aku sangat senang pernah menyukaimu. Terimakasih, Naruto." Hinata lalu membungkukan tubuhnya.
"Ya, terimakasih, Hinata. Aku kalah, Gaara." Naruto lalu tersenyum lebar dan menepuk pundak Gaara.
"Jangan bilang begitu." Gaara lalu hanya menatap Naruto datar. Masih sedikit kesal dengan kejadian dulu.
"Kudoakan kebahagiaan kalian." Ujar Naruto.
Sebulan kemudian, Hinata sudah menjadi warga Sunagakure. Ia menikah dengan Gaara di Sunagakure hari Sabtu. Mereka melewatinya dengan perasaan senang. Sudah begitu banyak perjalanan yang dia lewati. Mereka bukanlah pasangan istimewa. Mereka pernah juga bertengkar, menangis, bimbang, dan juga pernah tertawa dan senang bersama. Mereka hanyalah pasangan biasa yang mengikat janji untuk selamanya.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melupakan perjalanan kita bersama, Gaara-kun."
Penyesalan, kegelisahan, Kebahagiaan
Takdir yang tak kita tahu akan datang
Dan sekarang aku menjalani takdir ini dengan bahagia
Bagaimana denganmu?
Chapter 9
Meadosweet
END
Ahirnya selesai juga yipppieee~
maaf ya kalau Fic ini berputar2 dan juga endingnya jelek banget :(
Di review yaaa :D sankyuuuuuuuuu ^^
Aya nggak akan bisa selesain fic ini tanpa review2 kalian semua. Terimakasih banyak selama ini:D
