Terimakasih banyak buat You-chan Van Enviro, kazumi sii ankatsu, undine-yaha, Enji86, Mitama134666, Uchiha Sakura97, Fore-chan lovely Anime, Nasaka X Mizumachi, Iin cka you-nii, dan Icha yukina Clyne, udah di bales lewat PM, terus buat yang gak log in,
ZaHrA InDiGo LoVeRs: yay~ Hirumamo punya anak kembar, hehehehe…. Iya makasih banyak! Sora emang lebih dominan ke Hiruma, sifat ibunya yang nurun ke Sora? Over protectif sama Izumi, makasih ya…. Udah update!
Marimo: Arigatou gozaimasu…. Ini, chap 2 sudah datang!
Sweetiramisu: Pernah denger nama itu? Mungkin cuma kesamaan, karena khusus buat nama mereka berdua aq cari dari arti nama itu dulu,hehe… mata air dan angkasa. Katanya sih, ngewakilin karakter hirumamo, terima kasih banyak, udah update….
Hibari Hime:Terima kasiiihh…..hehehe… Sora suka makan cream puff kok, Izumi juga, udah update!
Fans berat Hiruma: Perceraiannya Hirumamo… Bisa dilihat nanti,ahahaha…. Thank you…!
.
.
.
Disclaimer: Riichiro Inagaki & Yusuke Murata
Story: Mayou Fietry & Icha Yukina Clyne
Writen: Mayou Fietry
Sequel Devil Babysitter
"Kalau di masa depan nanti aku punya keluarga. Aku tidak mau anak-anakku merasakan hal yang sama sepertiku. Aku mau mereka tumbuh dalam keluarga yang sempurna….."
WAKARERU?
genre: family, drama, dengan sedikit humor
warning: OC, OOC, jelek, ancur, gagal, typo(maybe), sisanya bisa kalian nilai sendiri
Chapter 2
Mamori memasuki rumahnya diikuti kedua malaikat kebanggaannya yang kini sudah ketularan menjadi akuma seperti ayah mereka. Wanita itu melepas sepatunya kemudian melangkah ke ruang keluarga, ia menunggu putranya.
Sora yang baru saja sampai di ruangan itu langsung menghela nafas berat, malas. Ia sudah sangat tahu arti dari tatapan mata sang ibu, dia pasti ngomel, ujar hati kecilnya.
"Sora-kun," Mamori memanggilnya. Sora menatap ibunya dengan pandangan malas, "ini sudah yang ketiga kali sejak musim panas kemarin, kau berkelahi lagi, dan sekarang dengan Yutaro-kun? Kau berteman dengannya kan?" pandangan mata biru sapphire itu tampak menusuk.
"Itu karena si cebol-"
"Jangan memanggilnya dengan sebutan cebol!" potong Mamori cepat, "kata-kata itu tidak sopan. Jangan pernah memanggil siapapun dengan kata-kata kotor seperti ayahmu!"
"Hm, itu karena dia mengganggu Izumi," jawab Sora pasti.
Mamori melirik Izumi yang berdiri tak jauh darinya. Gadis kecil itu menggeleng pelan, ia sebenarnya kasihan pada Sora kalau harus dimarahi Mamori, tapi dia juga tidak bisa berbohong.
"Izumi-chan menggeleng, sepertinya tidak tahu apa-apa," mata biru itu kembali berputar menatap Sora.
"Begitu? Kalau begitu kenapa tadi kau tidak mau makan? Dan kau bilang sendiri kan, Yutaro bilang kalau-"
"Tapi bukan begitu Sora-kun. Maafkan aku, kau memang mau melindungiku, terimakasih," kata Izumi memotong ucapan Sora, ia tidak mau kalau Sora sampai bilang ke orang tuanya soal perceraian itu.
"Memangnya Yutaro-kun bilang apa padamu?" tanya Mamori.
"Bukan apa-apa," jawab Izumi pelan, "arigatou Sora-kun," lanjutnya.
Hati Mamori tiba-tiba bergetar, Sora berkelahi untuk melindungi Izumi? Caranya memang salah, tapi tanggung jawab Sora sebagai kakak yang melindungi adiknya membuat Mamori melupakan kemarahannya.
"Maafkan ibu Sora-kun, terimakasih sudah menjaga adikmu dengan baik. Tapi lain kali kau tidak boleh langsung menghajarnya. Kalau ada yang mengganggu adikmu lagi, katakan padanya, bukan mengajaknya berkelahi," Mamori menunjukan senyum malaikatnya pada Sora. Ia berjongkok agar bisa melihat lebih jelas wajah tampan anaknya.
"Cepat ganti seragammu," kata Mamori setelah memberikan belaian kecil pada pipi Sora yang membuat pria kecil itu membeku sesaat, ibunya memang benar-benar wanita terbaik.
Sora tersenyum kemudian mengandeng tangan Izumi menuju kamarnya. Ia menghempaskan tas sekolahnya ke tempat tidur dan duduk disana.
"Kukira ibu akan marah padamu," kata Izumi sembari duduk di samping Sora.
"dia memang marah padaku, kan,"
"Tapi kan tidak lama,"
"Mana mungkin ibu bisa marah lama-lama padaku. Memangnya kau senang ya kalau ibu marah padaku?" mata biru milik Sora menatap adiknya.
"Bukan begitu….," sanggah Izumi, Sora malah menatapnya lebih lekat, " uuh.. Terserah kau saja, tapi dengarkan yang dikatakan ibu, kau tidak boleh berkelahi lagi!"
"cerewet! Kau kembali saja ke kamarmu sana!"
"Uuh… Sora-kun," Izumi menggelembungkan pipinya kesal.
"Kekeke… Kau jelek sekali seperti itu, adik sialan!" Sora terkekeh seperti Youichi.
"Lama-lama kau jadi makin mirip ayah!"
"Karena aku memang anaknya, dasar bodoh!" kata Sora sebelum Izumi benar-benar meninggalkan kamarnya.
~wakareru?~
"Aku pulang istri sialan," bisik Youichi tepat di telinga Mamori. Wanita itu hampir saja menjerit merasakan sepasang tangan besar merangkuhnya dari belakang.
"Kau mengagetkanku, Youichi!" protes Mamori karena tindakan suaminya. Youichi hanya menyeriangai menanggapinya. Ia malah mengeratkan pelukannya.
"Masak apa kau?" tanya Youichi memperhatikan aktivitas isrtinya, ia menyandarkan dagunya di bahu Mamori.
"Sukiyaki, kesukaan anak-anak, tumben sekali kau sudah pulang?" tanya Mamori kemudian.
"Memangnya kenapa? Aku bisa pulang kapanpun aku mau," jawab Youichi yang masih belum beranjak dari posisinya.
"Youichi, hentikan. Bagaimana kalau anak-anak lihat?" Mamori mencoba menjauhkan tubuh Youichi yang masih memeluknya. Ia mematikan api kompor dan berbalik menatap Youichi.
"Tidak akan," dan tanpa aba-aba yang pasti Youichi langsung mencium bibir mungil istri tercintanya.
~wakareru~
"Hm.. Sora-kun, aroma sukiyaki, ibu masak sukiyaki kesukaan kita!" kata Izumi saat indera penciumannya merasakan aroma lezat dari dapur.
"Wah iya, aku jadi lapar," sahut Sora sambil memagangi perutnya, "ayo kita lihat ibu," ajaknya sambil menyeret tangan Izumi menuju dapur.
Tapi tiba-tiba langkah kaki Sora terhenti saat matanya menangkap pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka lebar, dan dengan sangat cepat ia menutup mata Izumi dengan tangannya sebelum gadis itu melihat pemandangan di depannya.
"Akh, So-" sebelum Izumi berontak Sora juga membekap mulut adiknya itu. Dia sendiri tak berkedip melihat apa yang sedang dilakukan orang tuanya.
Izumi yang mulai kehilangan pasokan oksigen karena ulah Sora, secara reflek menginjak kaki Sora dengan keras.
"Ouch… Itai…!" Sora berteriak keras dan langsung melepaskan tangannya dari Izumi, "apa yang kau lakukan?" protesnya. Ia menatap Izumi dengan pandangan galak.
"Harusnya aku yang tanya, apa yang kau lakukan?" Izumi balik memprotes.
Youichi dan Mamori menghentikan aktivitas mereka tepat saat mendengar teriakan Sora. Wajah Mamori sudah sangat merah padam, sedangkan Youichi berdecak kesal karena kesenangannya terganggu.
"Bocah-bocah sialan pengganggu, sedang apa kalian disini?" tanya Youichi galak. Sora dan Izumi reflek menghentikan pertengkaran mereka dan menghadap orang tuanya.
"Ayah, tadi itu ada apa? Kenapa Sora menutup mataku?" tanya Izumi polos.
"Bukan apa-apa," jawab Mamori cepat, ia mengatur nafas dengan harapan bisa menyembunyikan rona di wajahnya. Youichi menyeringai sedangkan Sora tersenyum garing.
"Sudahlah, ayo keluar adik sialan!" Sora kemudian merangkul bahu Izumi setangah menyeret gadis itu keluar.
"Lho, sora-kun, ada apa sih sebenarnya?" tanya Izumi yang masih penasaran.
"Tidak ada apa-apa, berhentilah bertanya!" jawab Sora agak kesal, sebenarnya ia menahan tawa sejak melihat ekspresi ibunya tadi
Setelah dua anaknya pergi. Mamori langsung menatap youichi dengan pandangan galak, "sudah kubilang jangan kan! Kau ini benar-benar!" gerutunya kesal.
"Tapi kau menyukainya kan, istri sialan?" Youichi malah menggodanya, seringai dua taring andalannya mulai terlihat.
"Cukup Youichi," ucap Mamori dengan nada final, "kau tahu, tadi Sora-kun berkelahi dengan Yutaro-kun," ia memilih mengalihkan pembicaraan.
"Oh, dengan anaknya si cebol?" tanya Youichi tak acuh seperti perkelahian Sora bukan masalah besar.
"Apanya yang 'oh'? kau tahu aku tadi dipanggil sensei-nya, dan Sora-kun juga sekarang mulai mengikutimu menggunakan kata-kata kotor. Seharusnya kau mencontohkan hal baik padanya. Kau tahu kalau Sora-kun sangat menurut padamu, seharusnya kau melarang Sora-kun menggunakan kata-kata itu!" tiba-tiba saja Mamori meledak, membuat Youichi sempat terkejut dengan perubahan tingkat emosi istrinya.
"Cerewet! Ya, ya, aku akan bilang pada bocah sialan itu agar bisa menjadi seperti kau!" jawab Youichi malas seraya berlalu dari tempatnya. Malas mendengar omelan Mamori.
"Kau kan sudah berjanji untuk menjadi ayah yang baik, kalau begitu lakukan tugasmu,"
Youichi menoleh, ia menatap Mamori yang tengah tersenyum tipis. Tapi kemudian tanpa bicara apapun ia berlalu.
~wakareru?~
Mamori masih bisa mendengar suara Izumi yang bertanya pada Sora soal kejadian di dapur tadi saat makan malam. Sepertinya Sora tidak mau bicara apapun, dan membuat Izumi merengut kesal. Wajah Mamori kembali memperlihatkan semburat merah saat mengingat kejadian tadi.
"Ah, ayah, beritahu aku yang tadi itu ada apa? kumohon…," Izumi mengatupkan kedua telapak tangan di depan dadanya, matanya menatap Youichi yang baru saja kembali dari kamarnya.
"Kau ini penasaran sekali," Youichi menyeringai.
"Seperti kau, selalu ingin tahu!" celetuk Mamori sambil duduk di samping suaminya.
Youichi terkekeh pelan, "yang tadi itu urusan orang dewasa," jawab Youichi santai yang langsung mendapatkan death glare dari istrinya.
"Eh?" Izumi memutar bola matanya, ia menerawang ke atas, "urusan orang dewasa seperti apa?" gadis cilik itu masih kembali bertanya.
"Izumi, habis ini kau temani aku kerjakan PR ya," Sora mengalihkan pembicaraan sebelum Youichi menjawab pertanyaan anaknya.
Setan itu menyeringai kecil menanggapi aksi Sora. Ternyata anak laki-lakinya itu tidak mau adiknya mengetahui apa yang dilihatnya tadi, baguslah, Youichi bergumam dalam hati.
"Tantu saja sora-kun, jadi, urusan seperti apa ayah?" ternyata perhatian Izumi belum teralihkan dari topik semula.
"Kekekeke…." Youichi malah tertawa tidak jelas mendengarnya.
"Izumi-chan, anak baik tidak bicara saat makan," kali ini giliran Mamori yang berusaha mengalihkan perhatian Izumi.
Gadis cilik itu menatap ibunya, "ah, iya, gomenasai," ucapnya kemudian mulai diam, tidak berbicara apapun. Setidaknya tidak sebelum acara makannya selesai.
Setelah selesai makan malam Sora langsung menarik Izumi ke kamarnya, mereka mengerjakan PR bersama, meskipun Izumi tidak sepenuhnya konsentrasi pada pekerjaannya. Sesekali anak itu terdiam, memutar-mutar pensilnya sambil berfikir. Bukan, bukan memikirkan tugas dari gurunya. Ia masih memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu.
"Kenapa kau, adik sialan? Ada soal yang tidak kau mengerti?" tanya Sora membangunkan adiknya dari lamunan.
"Ah?" Izumi terkesiap dan langsung menatap kembarannya dengan pandangan bingung. Sora mengangkat alisnya tinggi-tinggi saat melihat reaksi adiknya.
"Kenapa?" tanya Sora.
"Katakan padaku tadi urusan orang dewasa seperti apa?" tanya Izumi dengan nada menuntut.
Sora sweatdrop mendengar pertanyaan Izumi. Tapi kemudian ia terkekeh, awalnya hanya pelan, dan kemudian tawanya mulai meledak. Ia menghempaskan dirinya di tempat tidur, tertawa sambil memegangi perutnya.
Izumi mengernyit karena baginya sama sekali tidak ada yang lucu. Gadis itu bahkan sempat berfikir mungkin Sora yang tidak beres karena tiba-tiba tertawa seperti itu.
Hiruma kecil itu terus tertawa, ia ingat semua kejadian yang dilihatnya tadi, beda seperti rutinitas ayah-ibunya tiap pagi kalau ayah mereka akan berangkat kerja, yang tadi itu lebih. Seharusnya anak seusianya tidak melihatnya, kemudian ia mengingat raut wajah penasaran Izumi yang tampak sangat konyol menurutnya, dan ia juga ingat wajah merah milik ibunya saat sadar Sora melihat moment romantis itu.
"Kekekekeke…"
"Sora-kun!" panggil Izumi saat pria itu masih sibuk tertawa, "apa tadi sesuatu yang lucu?" tanyanya dengan tingkat penasaran yang makin meningkat.
Sora duduk di depan adiknya dan berdehem pelan, menahan diri untuk tidak tertawa lagi, "bukan apa-apa, adik sialan," katanya.
"Bohong, pasti sesuatu yang seru. Kau curang, kau menutup mataku dan tidak mau menceritakan apa yang kau juga ayah dan ibu lihat," protes Izumi kesal.
"Bukan yang ayah dan ibu lihat, adik sialan. Tapi yang mereka lakukan," Sora keceplosan. Ia segera membekap mulutnya.
"Apa… Apa itu? Mereka tidak berceraikan?" tanya Izumi makin penasaran.
"Tentu saja tidak, bodoh. Buang kata itu jauh-jauh dari otak sialanmu! Mereka tidak akan bercerai, pokoknya yang tadi sesuatu yang tidak akan membuat mereka bercerai," jawab Sora kesal karena kebodohan mendadak adik jeniusnya itu. Sebenarnya dia tahu sih, kelemahan Izumi memang pada hal-hal mengenai urusan orang dewasa. Karena dia memang belum cukup umur untuk mengetahuinya.
"Benarkah?" mata adiknya memperlihatkan bintang-bintang kecil berkilauan, membuat Sora merasa sebal, "apa itu Sora-kun, katakan padaku, katakan padaku!" Izumi mengguncang bahu Sora, meminta penjelasan.
"Cih, dasar merepotkan," gerutu Sora kesal, "yang biasanya mereka lakukan sebelum ayah berangkat ke kantor," akhirnya Sora menjawab.
Izumi diam sebentar kemudian berbaring di tempat tidur kakaknya, ia menerawang mengingat apa saja yang biasanya dilakukan orang tuanya, "oh, itu ya," ia akhirnya berkata setelah ingat sebuah kata yang pernah ia dengar dari ayahnya secara tidak sengaja, "morning kisu from hell," gumamnya.
"Darimana kau dapat kata itu?" tanya Sora tanpa menutupi kekagetannya. Ia menatap Izumi lekat-lekat.
"Ayah," jawab Izumi polos. Sora menepuk dahinya. Kemudian kembali fokus pada PR-PR sekolahnya. Ia menggeleng pelan.
~wakareru?~
Sepucuk surat jatuh dari loker Sora saat pria itu membukanya. Ia bermaksud mengambil sepatunya karena jam pelajaran akan dimulai lima belas menit lagi. Tapi apa yang ia dapatkan, surat? Sora memperhatikan amplop berwarna pink dengan tulisan yang tidak bisa dibacanya itu.
"Sora-kun dapat surat cinta….," celetuk Izumi melirik saudaranya.
Kakaknya menatap gadis itu dengan pandangan galak, "tahu apa kau soal seperti itu? Jangan ngaco, adik sialan!" ia sedikit memaki.
"Aku tahu dari Yutaro-kun, dia juga katanya mau menulis surat cinta, diajari tante Suzu," jawab Izumi polos.
"si cebol dan ibunya yang tidak jelas itu? Sebaiknya kau menjauh darinya, dia membawa pengaruh buruk," tukas Sora sembari melempar kertas kecil itu melangkah menuju kelasnya.
Dengan sigap, Izumi menangkapnya, "kau tidak boleh begitu, sora-kun. Yutaro-kun itu teman kita," kata Izumi seraya mengimbangi langkah Sora.
"Izumi-chan….," panggil seorang cowok ber-in-line skate yang meluncur kearahnya.
"Mau apa kau cebol sialan?" tanya Sora galak pada Yutaro yang sudah berada di depannya.
"Tidak apa-apa, eh Izumi-chan, ayah dan ibumu jadi bercerai tidak?" tanyanya polos, benar-benar seperti ibunya.
"Eh, kata Sora-kun mereka-"
"Berhenti memberikan pengaruh buruk pada adik sialanku, cebol sialan! Atau aku akan menghajarmu seperti kemarin?" dengan cepat Sora memotong ucapan Izumi. Ia menatap yutaro dingin.
"Tidak kok, Yutaro-kun, kemarin saja ayah dan ibu tidak bertengkar, mereka tidak akan bercerai. Benar kan, sora-kun?" Izumi melirik Sora kemudian tersenyum pada yutaro.
"Tentu saja, ayo ke kelas, adik sialan," tanpa basa-basi Sora merangkul bahu adiknya dan menyeret gadis itu ke kelas.
"Sampai ketemu di kelas, Yutaro-kun!" Izumi sempat melambaikan tangannya pada Yutaro sebelum ia menghilang dari pandangan Yutaro.
Sepertinya, untuk hari ini Izumi berhasil melupakan kekhawatirannya yang kemarin, kata-kata Sora yang bilang kalau orang tua mereka tidak akan bercerai membuat Izumi berhasil kembali kekepribadiannya yang sebenarnya. Sora tersenyum sendiri melihat adiknya yang kembali ceria.
~wakareru?~
"Tadaima…," seru Izumi saat ia dan Sora melangkah memasuki rumah. Keduanya melepas sepatu dan segera berlari menuju kamar mereka. Tidak memperdulikan kenapa ibunya tidak ada untuk menyambutnya.
"Dasar wanita tua cerewet!"
Sora dan Izumi reflek menghentikan langkah, itukan suara ayah mereka. Tumben sekali dia sudah datang jam segini.
"Berhenti memanggilku dengan nama itu!"
Kali ini jelas suara ibu mereka. Ada apa? Pertanyaan itu mencul diotak jenius mereka.
"Aku tidak akan mau membelikanmu benda manis menjijikan itu!"
Benda manis menjijikan? Sora dan Izumi saling pandang, cream puff? Mendadak kue itu muncul di kepala mereka.
"Kau ini… Memang apa repotnya membelikan cream puff untukku?"
"Kau itu selalu merepotkan. Seharusnya kau minta dari tadi, jadi aku bisa mampir ke toko sialan langgananmu dan membelikanmu kue sialan itu. Kau tidak tahu aku capek? Malah menyuruhku membelikanmu kue sialan itu!"
Izumi melirik Sora saat mendengar kata-kata orang tuanya, bahkan orang tua mereka sampai bertengkar hanya gara-gara kue?
Konyol, pikir Sora, "biarkan saja mereka, ayo ke kamar," ajaknya pada Izumi.
"Kau bilang mereka tidak akan bercerai….," ucap Izumi lemah.
"Memang, kubilang mereka tidak akan bercerai, bukan berarti mereka tidak bertengkar," jawab sora sekenanya, ia menarik tangan Izumi dan menuntunnya ke kamar.
"Kalau mereka terus bertengkar, mereka akan bercerai," kata Izumi.
"Kau pikir aku peduli?" Sora melepaskan tangannya dari tangan sang adik setelah mereka tiba di depan kamar mereka yang bersebelahan.
"Harus peduli Sora-kun, kalau mereka bercerai kita bagaimana?"
Sora berdecak dan mengacak rambutnya, "kau cepat sana ganti baju, jangan pikirkan orang tua sialan itu," katanya sebelum masuk ke kamarnya sendiri.
Sementara itu Youichi dan Mamori,
Tampak Mamori menggelembungkan pipinya menahan kesal, kebiasaannya sejak sekolah tiap kali ia kesal dengan sikap Youichi. Kalau dulu, Youichi akan mentertawakannya habis-habisan. Tapi tidak hari ini. Pria itu kesal melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba jadi manja dan emosian.
"Aku kan baru ingin cream puff sekarang," kata Mamori sebal.
"Fine, kau menang istri sialan cerewet!" kata Youichi akhirnya, "tapi aku tetap tidak mau membelikannya, kau saja yang beli cream sialan itu, aku akan mengantarmu," lanjutnya.
Mamori memandang Youichi kemudian tersenyum kecil, "ya… Arigatou Youichi, kau memang baik!" ungkap Mamori sembari menarik tangan suaminya. Bergegas menuju toko Kariya. Youichi hanya kembali berdecak kesal.
"Ayah, ibu," panggil Sora agak bingung saat ia melihat orang tuanya kembali akur.
"Kalian sudah pulang?" tanya Mamori sambil memandangi anak-anaknya yang baru saja muncul dari arah kamar mereka.
"Sudah sejak tadi," jawab Sora, "kalian mau kemana?" tanyanya.
"Ke Kariya, kalian mau ibu belikan apa?"
"Cream puff!" jawab Sora dan Izumi bersamaan, mereka berdua kemudian saling pandang dan tersenyum.
"Kalian bertiga menjijikan. Senang sekali dengan benda manis menjijikan itu!" gerutu Youichi tajam.
Tiga orang itu saling pandang kemudian menatap Youichi, "cuma orang yang belum pernah makan cream puff yang bilang cream puff menjijikan," kata mereka kompak.
"Cih," Youichi mendesis pelan mendapat serangan dari tiga orang yang paling ia cintai itu, "terserah kalian saja, kau jaga adik sialanmu selama kami pergi. Kalau ada orang yang masuk rumah ini tanpa izin, kau boleh pakai senjataku," kata Youichi pada Sora.
"Youichi! Sudah kubilang jangan berikan pengaruh buruk pada anak-anak!" marah Mamori.
"Itu bukan pengaruh buruk ibu, itu cara untuk menyelamatkan diri dari orang-orang jahat," Izumi menjawab dengan sangat jujur.
"Nah, kau pintar. Bocah sialan," puji Youichi sambil menyeringai kecil.
Mamori menghela nafas pelan, "ayo, Youichi. Kalian berdua hati-hati ya, kalau ada yang datang dan kalian tidak mengenalnya jangan bukakan pintu," pesan Mamori.
"Siap!" jawab Sora dan Izumi kompak.
"Belikan cream puff yang banyak ya…," kata Izumi.
"Tentu saja, sayang," jawab Mamori.
"Kalian mau memerasku ya?" Youichi sedikit membentak.
Setelah itu yang terdengar hanya suara Youichi dan Mamori yang masih bertengkar kecil. Izumi menghempaskan dirinya di sofa, "bagaimana mereka baikan?" gumam Izumi pelan tapi cukup untuk didengar Sora.
"Sepertinya ayah mengalah," Sora mengangkat bahunya. Ia duduk di samping Izumi dan menyalakan tv, mencari acara yang bagus.
"Sora-kun kira-kira sajak kapan ayah dan ibu sering bertengkar ya?" tanya Izumi sambil menatap Sora dengan penuh harap. Mungkin saja Sora tahu sesuatu.
"Tanya saja pada mereka, aku tidak ingat kapan pertama kali melihat mereka bertengkar," jawab Sora tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tv.
"Ah, iya! Aku tanya saja sama ayah!" Izumi menjentikan jarinya, seolah sebuah bola lampu menyala di atas kepalanya, mendadak ia jadi berani untuk menanyakan hal itu pada ayahnya nanti.
~wakareru?~
Suasana sore itu jadi terasa meriah, saat Mamori, Izumi dan Sora mulai berlomba menghabiskan cream puff paling banyak. Semantara Youichi berlagak sibuk dengan laptopnya, sesekali mata hijaunya melirik tiga orang itu, kelihatannya mereka senang sekali. Ia tersenyum diam-diam sembari membuat balon dari permen karet bebas gula di mulutnya.
"Adik sialan, lihat, apa itu?" kata Sora sambil menunjuk keluar jendela. Izumi yang baru akan memakan cream puff kelimanya mengikuti arah yang ditunjuk Sora.
"Apa?" tanyanya setelah tidak menemukan objek menarik apapun yang bisa ia lihat.
Tepat saat Izumi teralihkan perhatiannya, Sora merebut cream puff di tangan Izumi dan langsung memakannya.
"Mou… Sora-kun, kau curang!" gerutu Izumi saat ia mengetahui cream puff di tangannya sudah pindah ke mulut kembarannya. Sora tertawa menang sambil mengusap mulutnya yang belepotan cream.
Entah sudah berapa banyak cream puff yang masuk ke perut mereka. Membuat Sora dan Izumi merasa sangat kenyang dan tidak berminat lagi pada makan malam. Mamori sendiri masih asik dengan cream puff miliknya.
Biarpun dua anaknya sama-sama menyukai cream puff, tapi tidak ada yang menyaingi selera Mamori untuk makanan yang satu ini.
"Cih. Kalian bertiga itu menjijikan sekali," kata Youichi yang menghampiri ketiganya. Entah kenapa pria itu merasakan sesuatu yang hangat menjalari hatinya saat ia berada diantara Mamori dan anak-anaknya.
Saat ia seumuran Sora dan Izumi, ia tidak pernah merasakan hal seperti mereka. Bercanda bersama seluruh anggota keluarga, sampai sekarangpun itu masih menjadi mimpi yang ia lihat setiap malam. Ia merasa merindukan masa kecil yang menyenangkan. Masa kecil yang tidak pernah bisa ia rengkuh dulu.
Mamori menangkap kesedihan dibalik pandangan mata Youichi, ia tersenyum pahit, "kubuatkan kopi ya, Youichi," katanya membangunkan suaminya dari lamunan.
Youichi meliriknya, ia tahu Mamori menyadari apa yang sedang ia pikirkan, "hm," ia menjawab pelan.
"Ayah, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Izumi. Sora melirik adiknya, ingin tahu apa yang akan ditanyakan Izumi.
"Kau memang sedang bertanya kan, bocah sialan?"
"Uhm, kapan pertama kali ayah dan ibu bertengkar?" tanya Izumi innocent. Sora nyengir mendengarnya, berani juga adiknya itu.
Youichi menatap Izumi sebentar, kemudian pandangannya mulai menerawang ke masa mudanya dulu. Sudah lama sekali, pertama kali ia dan Mamori bertengkar sepertinya saat mereka pertama kali bertemu. Di koridor SMU Deimon saat mereka duduk di kelas satu.
Mamori menegur Youichi yang melanggar hampir semua peraturan sekolah. Baju dikeluarkan, tidak palkai dasi, blazer berantakan, pakai anting, rambut diwarnai, dan bawa-bawa senjata. Waktu itu, Youichi bahkan belum mengenal Mamori. tapi gadis itu sudah ngomel-ngomel padanya, dan langsung ia balas dengan raungan tajam. Tapi bukannya takut, Mamori malah makin berani.
"Kekekeke….." Youichi terkekeh pelan mengingat kejadian itu. Padahal waktu itu rasanya ia benci sekali pada Mamori, tapi ternyata sekarang ia malah takluk dihadapan Mamori, "entahlah, aku lupa. Tapi kalau tidak salah, sejak pertama kali kami bertemu," jawabnya.
Sora dan Izumi sweatdrop berjamaah mendengar jawaban ayah mereka. Pantas saja orang tua mereka mudah sekali bertengkar, sejak pertama bertemu mereka sudah bertengkar rupanya.
"Ngapain kau tanya hal sialan itu, bocah sialan?" tanya Youichi sambil melirik Izumi.
"Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja," jawab Izumi tepat saat ibunya kembali dari dapur membawa secangkir kopi.
Seperti malam-malam sebelumnya, malam inipun terasa hangat. Karena besok hari minggu, Youichi dan Mamori membiarkan anak-anak mereka untuk bermain sampai malam, tentu saja setelah mereka berdua menghabiskan waktu dengan buku-buku pelajaran satu setengah jam sebelumnya. Tampaknya mereka berdua kelelahan. Sora dan Izumi tergeletak dengan mata terpejam di atas karpet beludru coklat yang menutupi lantai rumah mereka.
"Eh, Youichi, anak-anak tertidur," ucap Mamori pelan pada Youichi yang sedang bermain dengan laptopnya.
"Kalau begitu bangunkan mereka dan suruh mereka pindah ke kamar," jawab Youichi cuek.
"Apa tidak lebih baik kau gendong mereka ke kamar? Kasihan kalau harus dibangunkan, mereka kelihatannya lelah," usul Mamori sambil memandangi wajah-wajah malaikatnya.
"Mereka bukan kelelahan, tapi kekenyangan makan kue sialan. Dasar merepotkan," gerutu Youichi sambil beranjak dari tempatnya. Ia berjongkok dan menggendong tubuh Izumi dengan sangat lembut.
"Kubereskan kamarnya," kata Mamori yang dengan cepat berlari ke kamar Izumi dan merapihkan tempat tidurnya.
Youichi membaringkan tubuh mungil buah hatinya itu perlahan agar tidak membuatnya bangun. Mamori memberikan kecupan di kening Izumi dan menyelimutinya, sebelum akhirnya berenjak ke kamar Sora.
Putranya itu kini ada dalam dekapan tangan besar Youichi yang menggendongnya, wajah sora tampak menggemaskan saat tertidur, berbeda sekali dengan saat ia berbuat onar. Sama seperti yang dilakukannya pada Izumi, Mamori juga meninggalkan satu kecupan di kening Sora.
Ia dan Youichi kemudian kembali ke ruang keluarga setelah memastikan anak-anaknya terlelap. Keduanya duduk bersebelahan sambil mencari acara menarik di tv.
"Apa yang kau pikirkan tadi?" Mamori membuka pembicaraan.
Youichi meliriknya sebentar, "memangnya aku memikirkan apa?" ia bertanya balik.
"Entahlah, makanya aku tanya padamu, kau sempat terlihat sedih tadi," Mamori menyandarkan kepalanya di bahu Youichi, "ingat tentang masa lalumu?" tebaknya.
"Hm," Youichi menjawab pelan, "lupakan saja, tidak ada gunanya, aku cuma tidak ingin anak-anak sialan itu mengalami hal yang sama sepertiku,"
"Ya, aku ingat kau pernah bilang soal itu. Aku tidak akan pernah lupa, dan kita akan sudah berjanji akan mewujudkannya kan," Mamori mengusap lengan besar milik suaminya, "aku bersyukur kau ada bersamaku disini, aku senang sekali," ucapnya.
"Aku juga," jawab Youichi pelan dan mencium puncak kepala Mamori dengan sangat lembut.
Tanpa disadari mereka dua pasang mata tengah memperhatikan keduanya, mereka berpandangan, yang satu tersenyum kecil, sedang yang lainnya menyeringai lebar.
T. B. C
yah... Akhirnya chap 2 selesai! Perjuangan menulis dari jam 3 pagi sampai jam 7 malam akhirnya terbayar,hehehe... Oke minna, selalu, seperti biasanya jangan lupa...
R
E
V
I
E
W
PLEASE...
