Gomenasai Minna, yang inipun akhirnya gak bisa update cepet, kerjaan emang gak ada kata toleransi! Oke cukup curcolnya, pokoknya saia mau ngucapin terima kasih banyak buat Kazumi sii ankatsu, undine-yaha, Iin cka you-nii, Caca Sakura Diamond, Enji86, Uchiha Sakura97, Ichaa Hatake Youichi, Mitama134666,Icha yukina Clyne, udah di bales lewat PM, terus buat yang gak log in,
Luminous: Mamo hamil? Mm….hehehe… liat nanti deh! Ah, aq jadi terinspirasi waktu kamu bilang kakak sama keponakan Hiru, akhirnya pertanyaan kamu terjawab disini, tapi kayaknya gak terlalu rame,hehe…. Makasih ya!
DarkAngelYouichi:Hehehe… iya reviewnya gak ada di chap 1, terima kasih banyak….iya, sequelnya Devil Babysitter, sip! Udah update,
ZaHrA InDiGo LoVeRs: hwehehehe…. Iya, SoraIzu suka cream puff, tadinya emang mau dibikin twoshot, tapi ternyata Icha lagi kebanjiran ide, akhirnya lanjut deh…. Hahai semoga aja ceritanya gak melenceng jauh dari tema, buat SenaSuzu-nya nanti deh kubuatin Wakareru side story yang khusus nyeritain kehidupan mereka sekeluarga, kalo waktunya sempet,hehe… wqwq… Sora terkenal itu turunan Mamo bukan dari Hiruma!*dibakar* sudah update….
DEVIL'D: wqwqwq…. Mereka emang keluarga yang seru! Izumi polos karena Sora berusaha sebisa mungkin supaya adiknya gak terkontaminasi, wqwq… makasih banyak ya,
Gak usah lama-lama lagi, mari kita mulai...
Disclaimer: Riichiro Inagaki & Yusuke Murata
Story: Mayou Fietry & Icha Yukina Clyne
Writen: Mayou Fietry
Sequel Devil Babysitter
"Kalau di masa depan nanti aku punya keluarga. Aku tidak mau anak-anakku merasakan hal yang sama sepertiku. Aku mau mereka tumbuh dalam keluarga yang sempurna….."
WAKARERU?
genre: family, drama, dengan sedikit humor
warning: OC, OOC, jelek, ancur, gagal, typo, sisanya bisa kalian nilai sendiri
Chapter 3
"Sepertinya ayah dan ibu baik-baik saja," bisik Izumi pada kembarannya yang tengah menyeringai menyaksikan kemesraan orang tuanya.
"Memang baik-baik saja, kau itu yang terlalu mengkhawatirkan mereka, kubilang juga tidak usah berfikir macam-macam kan?" Sora melirik Izumi yang duduk di sampingnya, "sekarang cepat kembali ke kamarmu dan tidur, adik sialan. Aku sudah ngantuk, kau malah menyuruhku untuk melakukan hal sialan yang tidak berguna seperti ini," bocah kecil itu menguap lebar.
Izumi tersenyum kemudian dengan sangat pelan ia beranjak dari posisinya. Tanpa suara, gadis kecil itu melangkah ke kamarnya.
~wakareru?~
Youichi menatap Mamori yang masih menyandarkan kepala di bahunya. Malaikat cantik itu tampak sangat menikmati saat-saat seperti ini, matanya fokus pada layar kaca yang menayangkan pertandingan amefuto. Sesekali ia menguap.
"Kau ngantuk heh, istri sialan?" tanya Youichi pelan.
"Hm?" Mamori melirik suaminya yang tengah menatapnya.
"Tidurlah," kata Youichi seolah tahu arti pandangan sang istri.
"Kau juga mau tidur sekarang?" Mamori bertanya, ia bangun dari tempat duduk dan membereskan cangkir kopi bekas suaminya.
"Kalau kau ngantuk, tidur saja duluan. Tidak usah menemaniku, aku akan menyusul sebentar lagi," jawab Youichi datar.
Mamori membawa cangkir kopi dalam genggamannya ke dapur kemudian segera kembali, "jangan begadang, besok kau masih ada latihan amefuto. Tidak lucu kalau kapten mengantuk saat latihan," ucap Mamori sambil mengecup pipi Youichi.
"Hm," Youichi menanggapi. Ia kemudian membiarkan istrinya pergi ke kamar.
Tak lama setelah Mamori beranjak ke kamar. Youichi mendengar suara petir dan hujan. Sepertinya akan terjadi badai. Yah, memang sudah musimnya, begitu pikiran sang setan. Akhirnya ia memutuskan untuk mematikan televisi dan beranjak ke kamarnya.
Youichi membuka pintu kamarnya dan mendapati Mamori tengah membaca sebuah buku. Pria itu memandangi malaikat miliknya dengan lekat. Meskipun sudah bertahun-tahun, tapi Youichi tahu, perasaannya pada Mamori tidak pernah berkurang, semakin bertambah malah. Youichi menyeringai kecil sebelum akhirnya merebut buku yang dibaca Mamori dengan sangat cepat.
"Mou… Youichi, aku sedang membacanya tahu!" protes wanita itu. Youichi hanya menyeringai dan melempar buku itu ke meja kecil dekat tempat tidur. Ia menghampiri istrinya.
"Aku kan menyuruhmu untuk tidur, bukannya untuk membaca buku sialan itu!" Youichi masih menyeringai, "daripada baca buku sialan yang tidak berguna itu, lebih baik kau temani aku!" dengan cepat Youichi merebahkan dirinya dengan menjadikan paha Mamori sebagai bantal.
"Youichi, apa-apaan kau ini?" Mamori kembali protes tapi tak digubris sama sekali oleh suaminya itu. Youichi malah memejamkan matanya. Melihat itu Mamori jadi tersenyum kecil, "semakin lama bersamamu, aku jadi semakin tahu kalau kau memang butuh kasih sayang," Mamori berujar pelan, lebih pada dirinya sendiri. Ia mengusap rambut Youichi dengan lembut.
Tok tok tok
"Ibu…. Ibu, bukakan pintunya!"
Mamori terkesiap mendengar suara seorang gadis cilik dari luar kamar. Suaranya terdengar gemetar. Dengan cepat wanita itu mendorong tubuh Youichi dan segera berlari menuju pintu.
"Ouch, istri sialan. Apa yang kau lakukan?" protes Youichi yang kesenangannya terganggu.
"Izumi-chan diluar You, sepertinya dia ketakutan," jawab Mamori. Youichi cemberut mendengar jawaban sang istri. Ia memegangi kepalanya yang sempat terbentur tempat tidur, sebenarnya tidak menyakitkan. Hanya saja Youichi terlalu berlebihan.
Mamori segera membuka pintu kamarnya, tidak memperdulikan reaksi Youichi. Izumi segera memeluk ibunya saat pintu kamar terbuka. Di belakangnya tampak Sora memasang wajah cemberut sambil memeluk selimut.
"Ibu, aku dan Sora-kun boleh tidur bersamamu dan ayah kan? Aku takut ibu, petirnya banyak," kata Izumi dengan suara bergetar.
"Tentu saja, sayang. Masuklah," Mamori membiarkan dua buah hatinya itu masuk ke kamarnya. Izumi menurut, gadis itu masih menempel ibunya. Sedangkan Sora langsung melompat ke tampat tidur.
"Ngapain kau disini, bocah sialan?" tanya Youichi tegas. Mata hijaunya menatap lekat Sora yang sudah tiduran di sampingnya.
"Mengganggu kesenanganmu," jawab Sora pelan sambil menyeringai lebar. Ia memejamkan matanya.
"Kau memang pengganggu yang menyebalkan!" Youichi menggerutu.
"You, hentikan. Kau ini seperti anak kecil saja!" tegur Mamori, " nah, Izumi-chan. Kau sekarang tidurlah, tidak usah takut. Semuanya akan baik-baik saja, itu cuma badai," Mamori kemudian tersenyum pada putrinya dan membimbing gadis kecil itu naik ke tempat tidur.
"Cih, kalian ini. Ada-ada saja," Youichi masih sempat menggerutu. Ia bergeser sedikit agar tempat tidur ini bisa muat untuk anak-anaknya.
Mamori tersenyum menatap dua anaknya yang sudah mulai memajamkan mata. Kemudian ia menatap suaminya yang masih memasang tampang kesal, "You, kau itu kenapa? Tidak apa-apa kan mereka tidur disini, toh, tidak setiap hari," ucapnya.
"Mereka pengganggu," Youichi hanya menggerutu pelan sambil membuang muka. Mamori tersenyum melihat tingkah Youichi. Pria itu memiringkan tubuhnya membelakangi anak-anaknya lalu memejamkan mata. Padahal ia sedang ingin berdua saja dengan Mamori, tapi ternyata malah anak-anak mengganggunya.
Mamori turun dari tempat tidurnya saat melihat tingkah suaminya. Ia menghela nafas pelan kemudian menghampiri Youichi. Ia berjongkok di depan pria itu. Memperhatikan wajahnya yang tengah terpejam.
"Kau tidak mungkin marah hanya gara-gara ini kan?" ia bertanya. Ia tahu Youichi belum tertidur, "aku tahu kau tidak marah, kau sayang pada mereka kan, kau pasti sebenarnya senang bisa bersama mereka," lanjutnya sambil menyingkirkan rambut depan Youichi yang menjuntai menutupi mata pria itu.
Youichi membuka matanya dan menatap Mamori yang tengah tersenyum padanya, Pria itu kemudian menoleh untuk menatap dua buah hatinya, "keh, bocah-bocah sialan ini memang sangat merepotkan!" ia menggerutu sambil menyeringai kecil.
"Tidurlah, kau tidak mau kan besok terlambat? Oyasumi, Youichi," ucap Mamori sambil melangkah ke samping Izumi.
"Hm," Youichi bergumam tidak jelas kemudian menutup kelopak matanya.
Mamori hanya tersenyum kemudian merebahkan dirinya di tempat tidur. Ia melirik dua buah hatinya yang tertidur, wanita itu kembali tersenyum kali ini lebih didominasi perasaan terharu, "aku menyayangi kalian," ucapnya kemudian mulai memejamkan mata.
Mendengar ucapan istrinya, Youichi kembali membuka matanya. Ia menatap tiga malaikatnya, dan entah kenapa perasaan itu kembali muncul, "kalian benar-benar tidak boleh mengalami hal sepertiku, bocah-bocah sialan," ia bergumam pelan sebelum akhirnya mulai tidur.
~wakareru?~
Mamori sudah sibuk di dapur saat matahari mulai menampakan cahayanya. Ia membiarkan anak-anaknya tidur lebih lama. Wanita itu melirik jam dinding yang bertengger di ruang makan yang hanya bergerak lima meter dari tempatnya berdiri. Sudah saatnya. Dua jam lagi acara latihan pagi Timnas amefuto Jepang yang dipimpin Youichi akan segera dimulai, dan ia tahu dalam kamus suaminya, tidak ada istilah terlambat untuk alasan apapun.
Wanita cantik itu berfikir sejenak, kalau membangunkan Youichi, anak-anak juga pasti akan bangun. Ia mengangkat bahu kemudian melangkah menuju kamar utama.
"Ayo bangun semuanya, sudah siang!" kata Mamori sambil membuka tirai putih yang menutupi jendela kamarnya. Ia memandangi tiga orang yang masih bergelut dengan mimpi mereka masing-masing, agak lama ia memperhatikan Sora dan Youichi. Kalau sedang tidur seperti ini, mereka terlihat menggemaskan, berbeda sekali saat mereka terbangun dan mengcau. Mamori tersenyum sendiri melihatnya.
"Hey, mau sampai kapan kalian tidur? Sora-kun, Izumi-chan, Youichi, ayo bangun!" Mamori menarik selimut besar yang menutupi tubuh tiga orang yang paling ia cintai itu.
Izumi yang pertama memberikan reaksi. Gadis kecil itu menggeliat pelan kemudian mengerjapkan matanya berkali-kali, "ohayou, ibu," sapanya sambil menguap.
"Ohayou sayang, ayo bangun," jawab Mamori seraya tersenyum kecil.
Izumi mengangguk, ia kembali menggeliat pelan sambil melirik pria kecil yang tidur di sampingnya, "Sora-kun," ia bergumam. Tapi sedetik kemudian raut wajahnya langsung berubah kaget, "kya~ Sora-kun! Kenapa kau tidur disini?" Izumi berteriak.
Sora melompat dari tempat tidur saat mendengar teriakan adiknya, sedangkan Mamori sempat menutup telinganya karena kaget. Beruntung sang setan Youichi tidak memberikan respon apapun.
"Ibu, kenapa dia tidur denganku?" tanya Izumi. Nada bicaranya lebih terdengar menuntut.
"Keh, bocah cerewet! Apanya yang kenapa aku bisa tidur denganmu? Semalam kau yang menyeretku untuk menemanimu, kau bilang kau tidak berani tidur sendirian! Dasar baka!" gerutu Sora.
"Sora-kun, jaga bicaramu!" tegur Mamori tegas.
"Benar Sora-kun, jaga bicaramu. Tidak sopan!" Izumi mengikuti.
"Kalian ini berisik sekali, cewek-cewek sialan?" terdengar suara Youichi menggerutu, membuat Sora yang sudah siap membalas perkataan ibu dan adiknya langsung diam sekatika.
Tiga orang itu melirik Youichi yang tengah menatap mereka.
"Apa lihat-lihat!" tanya Youichi tajam.
"Kalian ini benar-benar," Sora bergumam pelan kemudian beranjak keluar dari kamarnya.
"Makin lama Sora-kun jadi makin mirip denganmu!" kata Mamori sambil mendelik kearah Youichi.
"Kalau dia malah tidak mirip denganku harus dipertanyakan dia itu anak siapa. Dasar baka!" balas Youichi tajam.
Melihat kedua orang tuanya, Izumi langsung terdiam. Ia menunduk dan melangkah keluar kamar. Mamori memperhatikan langkah Izumi, ia menggeleng pelan kemudian menatap Youichi yang malah kembali memejamkan matanya. Pria itu kembali menarik selimutnya.
"Bangun kapten! Teman-temanmu sudah menunggu untuk dilatih," Mamori tersenyum sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Youichi. Ia jadi merindukan masa-masa saat menjadi manajer di Devil Bats dan Wizard. Sayangnya, Youichi melarang Mamori untuk menjadi manajer klub amefuto miliknya di liga pro ataupun Timnas Jepang setelah mereka menikah. Alasannya sederhana, Youichi ingin Mamori hanya menjadi manajernya, bukan manajer klub yang mengurusi semua anggota.
Youichi menggeliat pelan sebelum akhirnya duduk, ia merangkul bahu Mamori dan mengecup leher wanita itu. Membuat Mamori merinding seketika.
"Akan kubuatkan kopi," kata Mamori cepat sebelum Youichi mulai bertingkah yang aneh-aneh, "cepat mandi, Youichi. Kau bau!" lanjutnya kemudian segera kabur sebelum Youichi membalasnya.
"Cih, dasar istri sialan!" Youichi menggerutu pelan.
Tak lama setelah itu, Youichi sudah turun dari kamar. Pria itu duduk di ruang makan dengan kaki diangkat ke atas meja seperti biasa, VAIO tercinta sudah bertengger di pangkuannya dan secangkir kopi hangat yang super pahit juga sudah menemaninya. Tapi youichi bertingkah seperti ini hanya saat kedua anaknya tak melihat, biar bagaimanapun Youichi tidak mau Sora ataupun Izumi bertingkah seperti ini di depan umum.
"Youichi, turunkan kakimu! Jangan sampai anak-anak melihat tingkahmu!" protes Mamori tegas sambil meletakan cangkir berisi coklat hangat miliknya. Sang suami hanya meliriknya sebentar kemudian meneruskan kegiatannya, pacaran dengan VAIO.
"Memangnya dimana bocah-bocah sialan itu sekarang?" tanya Youichi tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop.
"Sepertinya mereka sedang di kamar Sora, aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai anak-anak melihatmu seperti ini," jawab Mamori. Ia memberikan tekanan pada akhir kalimatnya. Tapi kemudian wanita itu terlihat sedikit meringis saat merasakan perutnya bergejolak, terasa perih. Ia kembali meneguk coklat hangatnya.
"Kau ini khawatir sekali. Hey, inikan minggu, bagaimana kalau-" Youichi tidak meneruskan kata-katanya saat menangkap sosok Mamori berjalan dengan cepat meninggalkannya menuju kamar mandi. Pria itu berdecak saat mendengar suara Mamori yang tengah memuntahkan isi perutnya.
Youichi menutup laptopnya dan beranjak dari tempatnya, ia berjalan menuju kamar mandi yang pintunya tetap dibiarkan terbuka oleh Mamori. Wanita itu masih sibuk mengeluarkan semua yang sudah masuk dalam perutnya pagi ini. Wajahnya tampak pucat dan keringat dingin mulai bermunculan.
"Kau seharusnya periksakan kesehatanmu, istri sialan," kata Youichi sambil menghampiri istrinya, "kau pasti keracunan kue menjijikan itu," ia melanjutkan.
"Mou… Youichi, mana mungkin! Cream puff dari Kariya itu sudah terjamin higienis, aku tidak mungkin keracunan!" jawab Mamori emosi karena makanan favorite-nya dihina oleh pria itu.
"Kalau bukan keracunan, itu berarti kau kebanyakan makan cream sialan itu!" balas Youichi, pria itu melengos, "tadinya aku mau kau mengajak bocah-bocah itu melihat latihanku, tapi kau seperti ini lebih baik kau tetap di rumah saja, dan biarkan bocah-bocah itu bermain," ungkap Youichi. Meskipun tidak jelas. Tapi tampak raut kecewa di wajah Youichi.
Mamori menghela nafas pelan sebelum akhirnya menjawab, "gomenasai, Youichi. Aku mungkin masuk angin, aku akan ke klinik nanti. Kalau kondisiku sudah lebih baik, aku akan mengajak anak-anak melihat latihanmu, aku janji!" ia tersenyum.
"Ibu… Hari ini masak apa? aku sudah lapar!"
Mamori dan Youichi menoleh saat mendengar suara Sora yang setengah berteriak. Tampak pria kecil itu berjalan di belakang Izumi. Keduanya segera menuju ruang makan dan segera bersiap untuk sarapan. Pasangan Hiruma itu memperhatikan mereka kemudian menyusul anak-anaknya, dan mulai sarapan pagi bersama.
"Bocah sialan, aku ingin bicara denganmu," kata Youichi pada Sora saat mereka selesai makan. Pria kecil itu menatap ayahnya dengan pandangan bingung. Sora menatap Youichi yang beranjak dari tempat duduknya. Ia berdiri dan mengikuti ayahnya.
"Ada apa?" tanya Sora saat mereka akhirnya tiba di kamar youichi dan Mamori.
"Ibu sialanmu sepertinya sedang sakit, jaga dia dan adik sialanmu," kata Youichi pelan sambil meraih sport bag yang sudah disiapkan Mamori sebelumnya.
Sora diam sebentar tapi akhirnya mengangguk. Youichi menyeringai kecil kemudian berlalu dari hadapan anaknya.
~Wakareru?~
Mamori kembali sibuk di dapur dengan dibantu Izumi membersihkan bekas sarapan mereka setelah Youichi berangkat latihan. Sedangkan Sora lebih memilih menikmati kartun yang tayang di tv.
Tok tok tok
"Ibu, ada yang mengetuk pintu," kata Sora saat terdengar suara ketukan pintu.
"Kalau begitu tolong bukakan, Sora-kun," jawab Mamori tanpa menghentikan kegiatannya mencuci piring.
"Izumi-chan, bisa kau bukakan pintunya?" tampak Sora menoleh kearah Izumi yang tengah membantu Mamori.
"Baiklah, Sora-kun," Izumi segera mencuci tangannya lalu beranjak keluar untuk melihat siapa yang datang.
"sora-kun, kau ini benar-benar sudah seperti ayahmu!" kata Mamori tegas.
Sora melirik ibunya sebentar kemudian turun dari sofa dan menyusul Izumi. Terlihat Izumi tengah membuka pintu. Sora memperhatikannya.
"Izumi-chan, ohayou!" terdengar sapaan seorang wanita dari luar. Sora melangkah lebih dekat agar bisa melihat siapa yang datang.
"Ayumi-obasan!" seru gadis cilik itu senang.
"Hay Izumi-chan," seorang pria berumur sekitar 12 tahun menyapanya. Pria itu tersenyum lembut pada Izumi.
"Ken! Apa kabar? Ayo masuk," Izumi mempersilahkan.
"Aku kangen padamu," Ken merentangkan tangannya untuk memeluk Izumi, sedangkan sang ibu, Ayumi sudah melangkah masuk menemui Mamori.
"Cih, dasar sepupu sialan," Sora menggerutu. Tepat saat Ken akan memeluk adiknya, Sora beranjak dari posisinya dan menggestur tubuhnya agar Izumi berada di belakangnya, hingga Ken akhirnya malah memeluknya, bukan Izumi.
Sedetik kemudian keduanya langsung melepaskan diri, "kenapa kau memelukku? Dasar sepupu sialan!" kata keduanya bersamaan.
"Ken, Sora-kun! Jaga bicara kalian!" tegur Izumi cepat.
"Cih," Sora mendesis pelan, "mau apa kau datang kesini, sepupu sialan?" tanyanya tajam.
"Bukan urusanmu," jawab Ken sambil melangkah masuk. Entah sejak kapan ia dan Sora jadi sering bertengkar. Entahlah, tiap saat mereka bertemu Sora dan Ken selalu saja bertengkar. Tidak jelas keduanya punya masalah apa.
Izumi menggeleng prihatin melihat tingkah dua pria itu.
"Kalian ini kenapa, anak-anak?" tanya Mamori yang menghampiri mereka bersama Ayumi. Ia memperhatikan tiga anak kecil itu.
"Tidak ada apa-apa Mamo-obasan," jawab Ken pasti.
"Namanya juga anak-anak," kata Ayumi sembari mengangkat bahu, "bagaimana kabarmu, Mamo-chan? Apa You-kun masih bersikap seperti biasanya padamu?" ia mengalihkan pembicaraan sambil beranjak ke ruang keluarga.
"Yah, Youichi masih seperti biasanya," jawab Mamori sambil tersenyum, "ngomong-ngomong nee-chan, tumben sekali mampir kemari?" tanya Mamori.
"Haha… Iya, kami sebenarnya hanya jalan-jalan kebetulan lewat dekat sini, jadi mampir saja," jawab Ayumi.
"Mereka pasti mau mengacau," Sora mendesis pelan yang langsung mendapat cubitan keras dari Izumi. Gadis itu melotot seram pada Sora.
"Kau jelek sekali seperti itu, adik sialan!" ungkap Sora menahan senyum.
"Tidak Izumi-chan, kau selalu cantik," sambar Ken.
"Tidak ada yang mengajakmu bicara sepupu sialan!" kali ini giliran Sora yang melotot tajam pada Ken.
"Hentikan!" kata Izumi menengahi, "kalian ini selalu saja bertengkar," lanjutnya.
"Terserah kami, adik sialan!" jawab Sora cuek.
"Sora-kun, Izumi-chan, ibu bisa minta tolong?"
Tiga anak kecil itu menoleh mendengar perkataan Mamori. Mereka menatap Mamori yang tengah memperhatikan ketiganya.
"Minta tolong apa, ibu?" tanya Izumi.
"Tolong belikan makanan di Son-Son, persediaan cemilan kita sepertinya habis, dan ibu harus menemani Ayumi oba-san" jawab Mamori.
"Ayo, adik sialan," kata Sora.
Izumi dan Mamori saling pandang kemudian menatap Sora. Tumben sekali anak itu mau menurut. Biasanya kalau Mamori menyuruhnya, Sora pasti punya segudang alasan untuk menolak.
"Baiklah," jawab Izumi sambil tersenyum kecil, "ayo, Sora-kun," gadis cilik itu segera menggandeng tangan Sora.
"Boleh aku ikut?" tanya Ken.
"Tidak-"
"Tentu saja! Ayo, nah ibu, mana uangnya?" Izumi memotong kata-kata Sora dengan sepat kemudian menatap ibunya.
Mamori tersenyum kecil kemudian memberikan daftar belanjaan serta uangnya pada Izumi.
"Pulangnya kami akan mampir ke Kariya, boleh kan?" tanya Izumi.
Mamori mengengguk. Ia memandangi langkah tiga anak kecil itu yang mulai keluar rumah.
"Ken kangen sekali pada Izumi dan Sora," Ayumi mendekati Mamori yang masih menyaksikan langkah anak-anak itu yang semakin menjauh.
"Sepertinya begitu," jawab Mamori. Mereka berdua kemudian mulai berbincang-bincang di ruang tamu. Bersama Ayumi, Mamori bisa menceritakan semua yang ia rasakan dengan Youichi, biar bagaimanapun yang Mamori tahu hanya Ayumi keluarga yang dimiliki suaminya. Sampai sekarangpun ia masih tidak tahu dimana keluarga Hiruma yang lainnya. Ayumi juga sepertinya tidak mau mnceritakan tentang masalah keluarganya. Maka Mamori akhirnya berfikir, mungkin memang mereka tidak mau membicarakannya, pasti ada sesuatu yang tidak beres yang membuat Ayumi dan Youichi malas mengungkit-ungkit masalah itu.
"Koleksi foto Izumi dan Sora banyak sekali ya," Ayumi bergumam pelan saat melihat foto-foto yang berjejer rapi di lemari besar antik di ruang tamu.
"Itu koleksi Youichi, aku juga baru tahu ternyata dia senang memotret setiap tingkah laku Sora dan Izumi. Yang disini hanya sebagian, akan kutunjukan koleksi Youichi yang lainnya," kata Mamori. Wanita itu tersenyum kecil. Ia beranjak dari tempatnya dan mengambil tiga album foto.
"Aku baru tahu kalau Youichi senang mengkoleksi foto," kata Mamori saat ia kembali menghampiri kakak iparnya.
"Apalagi kau, aku juga baru tahu sekarang kalau You-kun punya kebiasaan seperti itu," Ayumi menerima uluran album foto itu dari Mamori. Ia membukanya dan memperhatikan setiap gambar disana. Foto-foto mulai Soran dan Izumi ada dalam kandungan, ketika masih di rumah sakit, dan semua moment yang menunjukan pertumbuhan keduanya. Sepertinya Youichi tidak pernah melewatkan satupun moment saat putra-putrinya tumbuh.
"Saat Sora dan Izumi masih kecil, Youichi sering sekali mengabadikan semua hal yang anak-anak lakukan, dia jadi sering membawa kamera kemanapun dia pergi. Saat itu, aku jadi mengerti, Youichi sangat menyayangi anak-anak. Dia ingin memberikan banyak kenangan manis untuk Sora dan Izumi," Mamori tersenyum memandangi foto-foto hasil karya Youichi. Pandangan matanya tampak menerawang menuju masa-masa saat Sora dan Izumi masih balita.
Ayumi sendiri terdiam mendengar penuturan Mamori. Ia sangat mengerti sifat adiknya, dia juga sangat tahu yang dirasakan adiknya. Entah kenapa Ayumi merasakan air matanya jatuh begitu saja.
"Nee-chan, ada apa?" tanya Mamori bingung saat melihat kakak iparnya.
Ayumi reflek menoleh sambil mengusap air matanya, "tidak apa-apa Mamo-chan, aku hanya terharu," jawabnya pelan, "aku harap Youichi bisa menjadi ayah yang baik untuk Sora-kun dan Izumi-chan," ungkapnya dengan suara rendah.
"Hm, dia yang terbaik nee-chan, aku yakin," Mamori tersenyum sambil mengusap bahu Ayumi. Ia tahu, Ayumi mengingat masa kecilnya dulu dengan Youichi. Tapi Mamori lebih memilih untuk diam, ia tidak perlu menanyakan hal-hal yang ada kaitannya dengan masa lalu Ayumi ataupun Youichi.
~Wakareru?~
"Sudah, yang ini juga sudah, habis ini kita beli cream puff!" seru Izumi setelah selesai mengecek daftar belanjaan dari Mamori. Ia menuju kassa diikuti Sora dan Ken.
"Yeah, cream puff! Pekerjaan sialan ini tidak sia-sia!" sambung Sora antusias.
"Ya," Izumi bersenandung senang sambil membayar belanjaannya.
"Cream puff? Memangnya enak ya?" tanya Ken sambil menerima kantong belanjaan yang diulurkan kasir.
Sora dan Izumi saling pandang, "tentu saja enak dasar sepupu sialan. Kau menghabiskan masa yang sia-sia kalau belum pernah merasakan cream puff!" jawab Sora. Ia menggandeng tangan Izumi keluar dari Son-Son. Ken mengikuti mereka dari belakang. Pria itu tak berkomentar apapun.
Mereka bertiga dengan riang melangkah ke Kariya. Sesampainya disana, Sora dan Izumi sibuk memesan cream puff sesuai selera mereka sampai membuat penjaga toko kewalahan menghadapi mereka. Saat pesanan mereka selesai, Sora dan Izumi langsung mengambil cream puff itu masing-masing satu, dan langsung memakannya dengan semangat.
Ken hanya diam menatap Sora dan Izumi, "izumi-chan, ada cream di bibirmu," kata Ken sambil mengusapkan jarinya di bibir Izumi.
"Ah, arigatou Ken," jawab Izumi.
Melihat itu, entah kenapa Sora merasa tidak senang, dan dengan iseng dia melempar cream puff di tangannya tepat kearah Ken. Untung saja Ken punya gerak reflek yang bagus hingga cream puff malang itu tidak berhasil mengenainya.
"Apa-apaan kau?" protesnya.
"Jangan sembarangan menyentuh adik sialanku!" jawab Sora tegas.
"Sora-kun, jangan memainkan makanan. Kalau kau tidak mau memakannya, lebih baik berikan padaku saja!" kata Izumi dengan wajah belepotan cream.
"Kekekeke…. Wajahmu itu jelek sekali, adik sialan!" Sora malah terkekeh melihat Izumi. Gadis cilik itu menggelembungkan pipinya kemudian melahap potongan terakhir cream puff-nya sebelum ia mengusapkan punggung tangan ke mulutnya.
"Hentikan, Sora-kun!" kata Izumi. Ia melangkah duluan menjauh dari Sora dan Ken.
"Kau itu benar-benar mirip oji-san," ujar Ken pelan.
"Karena dia memang ayahku, baka!" jawab Sora sekenanya.
"Akh!"
Sora dan Ken segera menoleh mendengar teriakan gadis kecil yang sangat tidak asing itu. Mata keduanya mendadak memperlihatkan kilat amarah saat menangkap sosok Izumi terjatuh dan tiga orang anak berbadan gempal mengepungnya.
"Tch," Sora berdecak pelan, "apa yang kalian lakukan pada adikku, bocah-bocah sialan?" tanyanya galak sambil mendekati Izumi.
"Apa yang kami lakukan? Anak kecil ini menabrakku!" jawab pria yang paling depan.
"Ho…," Sora menanggapi, "dasar anak-anak bodoh. Padahal kalian membuatnya terjatuh begitu, cepat minta maaf!"
"Kau pikir kau siapa, berani menyuruh kami?"
"Kau cukup melakukannya saja, bocah. Atau kami akan memberi kalian pelajaran," Ken membalas. Ia melangkah maju sampai di samping Sora.
"Kau pikir karena kau lebih besar dariku, aku jadi takut?" bocah kecil yang menambrak Izumi tiu menanggapi.
Sora dan Ken saling pandang, kemudian keduanya mengangguk kompak, seperti tahu apa yang mereka pikirkan. Detik berikutnya Sora dan Ken sudah siap memberikan pukulan pada bocah nakal itu.
"Tidak!" Izumi menjerit. Membuat Sora dan Ken langsung menghentikan aksi mereka.
"Ada apa?" tanya keduanya kompak.
"Kalian tidak boleh berkelahi, kata ibu itu tidak baik," jawab Izumi. Gadis itu meringis memegani lututnya yang berdarah.
"Izumi-chan kau terluka," kata Ken sambil duduk di depan Izumi.
"Kalian membuat adikku terluka. Tidak akan kumaafkan!" kata Sora penuh kemarahan. Ia merogoh saku celana panjangnya dan mengeluarkan sebuah buku berwarna hitam.
"Apa yang akan kau lakukan dengan buku itu?" anak yang mengganggu Izumi bertanya.
Sora tak menanggapi. Ia sibuk membolak-balik halaman dan kemudian berhenti, "dengarkan aku. Kau, Eiji Misaki, kau pernah memecahkan vas bunga kesayangan ibumu tapi kau malah bilang kalau yang melakukannya adalah anjingmu sampai anjingmu itu dipukuli ibumu, kalau ibumu sampai tahu, apa yang akan dia laukan ya?" Sora menyeringai jahil Dalam hati ia berterima kasih pada ayahnya yang dengan sangat baik hati memperbolehkan Sora memiliki buku ancaman. Meskipun Youichi memperingatkan Sora kalau buku itu tidak boleh ia gunakan sembarangan.
"Ka, kau, bagaimana kau tahu?" tanya pria cilik bertubuh gemuk yang bernama Eiji itu.
"Kekeke…. Tentu saja aku tahu bocah sialan! Aku bahkan tahu rahasia kalian juga," Sora melirik dua pria yang umurnya tak beda jauh darinya yang berdiri di belakang Eiji, "sekarang kau cepat minta maaf pada adikku!" perintah Sora.
Eiji berjongkok di hadapan Izumi dengan tampang gemetar, "aku minta maaf," ucapnya dengan suara gemetar.
"Iya, tidak apa-apa, aku baik-baik saja kok," ungkap Izumi tersenyum.
Setelah itu Sora membiarkan tiga bocah itu pulang, "kau bisa jalan, adik sialan?" tanyanya.
"Iya, aku tidak apa-apa," jawab Izumi pelan.
"Kau kugendong saja, ayo!" Sora membimbing Izumi untuk naik di punggungnya. Izumi menurut, dia senang juga digendong Sora seperti ini, "sepupu sialan, kau bawa belanjaannya," kata Sora pada Ken.
Sepupunya itu tidak berkomentar, ia segera membawa belanjaan mereka. Ken memandangi Sora dan Izumi. Ia tersenyum kecil.
"Sora-kun, jangan bilang-bilang pada ibu ya, soal kejadian tadi," ucap Izumi.
"Baiklah, kau juga jangan beritahu ibu kalau aku punya buku itu," jawab Sora.
"Benar Sora-kun, kau harusnya tidak mengancam orang seperti ayah, kata ibu itu tindakan buruk," Izumi mulai menceramahi.
"Kau mulai menyebalkan, adik sialan!" gerutu Sora. Izumi hanya tersenyum kecil.
~Wakareru?~
Begitu sampai rumah Sora, Izumi dan Ken mulai kembali bermain bersama. Membiarkan Mamori dan Ayumi sibuk dengan kegiatan mereka membuka-buka koleksi foto milik Youichi. Meskipun sesekali sora dan Ken bertengkar tapi akhirnya mereka akur juga.
"Nee-chan, kalau ada waktu sering-seringlah datang kemari," kata Mamori sambil melahap cream puff yang dibelikan anak-anaknya.
"Tentu saja, Mamo-chan. Aku akan sering main kemari," jawab Ayumi, ia menoleh kearah Mamori sebentar kemudian kembali mengamati album foto milik adiknya. Padahal ia sudah melihatnya sejak tadi, tapi rasanya masih belum bosan sama sekali.
"Aku pulang istri sialan,"
Mamori hampir melompat dari tempatnya saat merasakan seseorang berbisik tepat di telinganya dan mengecup pipinya. Ia menoleh dan mendapati Youichi sudah ada di belakangnya.
"Kau ini senang sekali mengagetkanku!" protes Mamori. Youichi hanya menyeringai kecil kemudian menatap kakaknya yang sedang asik dengan koleksinya.
"Apa yang sedang kau lakukan disini, kakak sialan?" tanya Youichi tajam.
Ayumi menoleh dan menatap mata adiknya. Ia terdiam, selama bersamanya Ayumi tidak pernah melihat pancaran bahagia dari mata Youichi, ia tersenyum kecil, "mengunjungi keluarga adik tercintaku," jawab Ayumi.
"Cih, dan apa yang kau lakukan dengan album-album sialan itu?" Youichi kembali bertanya. Ia menunjuk tumpukan album di meja dengan lirikan matanya, "kau harusnya tidak memberitahukan itu pada kakak sialan!" ia kemudian menatap Mamori.
"Memangnya kenapa? Aku kan kakakmu, aku tidak boleh tahu apa kesukaanmu sekarang?" tanya Ayumi.
"Aku sudah besar, kakak sialan, dan aku sudah punya kehidupanku sendiri, kau tidak berhak ikut campur," kata Youichi tegas.
"Youichi, jangan begitu pada-"
"Diam kau, istri sialan!" potong Youichi tegas. Ia beranjak meninggalkan wanita-wanita itu.
"Youichi tidak pernah berubah, aku harus pulang, Mamo-chan. Baik-baiklah dengan Youichi," ungkap Ayumi.
"Kami sudah terbiasa, nee-chan. Tidak usah cemas," jawab Mamori tersenyum.
Ayumi balas tersenyum, "Ken, ayo pulang sayang," panggilnya.
Tak lama kemudian Ken menghampirinya diikuti Sora dan Izumi.
"Ayo pulang," ajak Ayumi. Ken mengangguk. Keduanya kemudian berpamitan pada Mamori, Sora dan Izumi, "sampaikan salamku pada You-kun ya, bilang padanya jangan terlalu cepat marah," kata Ayumi.
Mamori mengangguk.
"Datang lagi ya, oba-san," kata Izumi.
"Jangan datang lagi," sambung Sora. Izumi langsung menyikut rusuk kakaknya. ayumi hanya tersenyum melihat tingkah dua anak itu.
Mereka bertiga kemudian kembali masuk ke rumah setelah Ayumi dan Ken keluar. Mereka menatap Youichi yang tengah membuka salah satu albumnya.
"Kakak sialan itu sudah pulang?" tanya Youichi.
"Ya," Mamori menjawab singkat.
Melihat orang tuanya seperti itu membuat Sora merasakan firasat tidak baik, ia segera merangkul Izumi dan mengajaknya menjauh dari orang tuanya.
"Kau itu kenapa sih You, kau marah?" tanya Mamori melihat ekspresi kesal Youichi. Sebenarnya hari ini ia sangat lelah. Meskipun sebenarnya hanya menemani kakak iparnya.
"Kau itu sembarangan sekali memperlihatkan foto-foto sialan ini pada kakak sialan!" kata Youichi tajam.
"Tidak apa kan, itu cuma foto,"
"Cih, kau tidak tahu apa yang akan dia katakan kalau tahu aku mengumpulkan foto bocah-bocah sialan itu!"
Mamori menghela nafas berat. Entah kenapa selalu saja ada yang membuatnya dan Youichi harus bertengkar, padahal ini kan cuma masalah foto, "apa hal itu harus dibesar-besarkan?" tanya Mamori dengan suara pelan. Ia merasa lelah, ia tidak ingin bertengkar dengan Youichi sekarang, dan entah kenapa Mamori merasakan pandangannya memudar, semakin lama ia semakin tidak bisa melihat dengan jelas.
"Kau seharusnya-" youichi menghentikan kata-katanya saat melihat tubuh istrinya hampir rubuh. Dengan kecepatannya, Youichi segera menyambar tubuh Mamori agar tidak membentur lantai, "istri sialan, kenapa kau?" suara Youichi meninggi saat menyadari Mamori kehilangan kesadaran.
Sora dan izumi berlari dengan cepat saat mendengar suara ayah mereka. Keduanya terbelalak melihat Youichi yang tengah menopang tubuh Mamori dengan kedua tangannya.
"Ibu!" Sora berteriak.
"Ayah, ibu kenapa?" Izumi bertanya dengan panik.
T. B. C
Haah….*tepar* akhirnya chap yang gaje banget ini selesai…. Mohon maaf kalo chap ini belum bisa bagus,hehe… seperti biasa minna, untuk mengembalikan semangat kami, mohon reviewnya… kami tunggu! kami tunggu!
