Minna….. makasih banyak buat yang udah baca and rippiu chapter kemaren, dan gomenasai karena updatenya belum bisa cepat. Waktu bener-bener gak kasih saia kesempatan buat cepet-cepet selesain fic ini. Buat undine-yaha, diangel, AeonFlux15, Enji86, Uchiha Sakura97, Levina-rukaruka, Mitama134666, dan Icha yukina Clyne, udah di bales lewat PM, terus buat yang gak log in,

Hibari Hime: iya, ripyunya gak masuk. Koneksi internetnya bermasalah mungkin, Mamo hamil ato enggak, bisa dilihat di chap ini. Yupz, Sora emang punya penyakit over protectif berat kayak ibunya, hehe… makasih banyak, udah update!

DarkAngelYouichi: Mau jadi anaknya Hiruma? HIEEE….. nanti kamu dipanggil anak sialan lho…*di bazooka* Mamo? Jawabannya ada di bawah sini…. Makasih ya….

Sweet miracle 'michu 17: Hmm….? Maybe…hehe

Cukup 'uchan: Haha…. Iya tuh Youichi-kun. Karena dulu dia udah janji kalo gak mau anak-anaknya punya nasib sama kayak dia, huehehehehe… mereka emang kompak! Arigatou gozaimasu….

DEVIL 'D: HIIEEE… kenapa keluarga Hiruma jadi penyakitan semua?*lebay*hahahaha… mari kita liat sama-sama penyakit yang diderita Mamori, iya, sama-sama. Karena request itu menurut saia menambah imajinasi, jadi saia seneng banget kalo dapet request,^^

Dika-kun: hm…. Mamo-chan? Bisa dilihat nanti dia kenapa, oke udah update, tapi gak bisa cepet. Gomen sangat….

Zee rasetsu: hahahaha… iya,iya…. Siap! Nih udah update, makasih banyak.

Chiuzue Shirayuki: makasih banyak….. Yosh, lanjutannya dateng!

Luminous: Hiruma sih selalu punya alasan buat marah-marah gaje. Tapi yang pasti Hiruma gak mau kelihatan lemah. Gomen ya gak bisa cepet updatenya….. Tapi, udah update!

ZaHrA InDiGo LoVeRs: Mamo kenapa bisa dilihat di bawah, terus, Hiruma kan emang selalu marah, apalagi dia bukan tipe orang yang senang dikasihani orang lain, dan gak mau orang lain sampai tahu kelemahannya. Okelah, udah update!

Sweetiramisu: Sora-kun emang baik tapi kalo sifat akumanya keluar?khukhukhu….. Mamo? Liat di bawah ya… udah update!

Oke, fic ini saia persembahin buat adik saia yang lagi kecanduan mainan Luna,haha... arigatou gozaimasu buat ide brilliant-nya. Tanpa kamu Sora gak akan ada!

Yosh, mari kita mulai...

Disclaimer: Riichiro Inagaki & Yusuke Murata

Story: Mayou Fietry & Icha Yukina Clyne

Writen: Mayou Fietry

Sequel Devil Babysitter

"Kalau di masa depan nanti aku punya keluarga. Aku tidak mau anak-anakku merasakan hal yang sama sepertiku. Aku mau mereka tumbuh dalam keluarga yang sempurna….."

WAKARERU?

genre: family, drama, dengan sedikit humor

warning: OC, OOC, jelek, ancur, gagal, typo, sisanya bisa kalian nilai sendiri

Chapter 4


Sora dan Izumi menatap ayah mereka yang dengan sangat cekatan membopong tubuh Mamori keluar, membawanya ke mobil.

"Kalian berdua diam di rumah, dan kalau ada apa-apa langsung hubungi aku!" perintah Youichi.

"Apa yang ayah lakukan pada ibu?" tanya Izumi dengan suara gemetar. Air mata gadis cilik itu mulai meluncur dari pelupuknya.

"Aku tidak melakukan apapun padanya, anak jelek. Sekarang kalian berdua masuk!" Youichi kembali memerintah.

"Kalau terjadi sesuatu pada ibu, aku tidak akan memaafkan ayah!" kata Sora tegas.

Youichi menghela nafas pelan menatap putranya. Ia berdecak pelan kemudian masuk ke mobilnya. Dengan cepat setan itu memacu kendaraannya menjauh dari rumah.

"Sora-kun," Izumi menjatuhkan kepalanya di dada sang kakak. Gadis cilik itu terisak.

Dengan lembut, Sora mengusap punggung adiknya, berusaha menanangkan, "semuanya akan baik-baik saja, adik sialan," ucapnya pelan.

"Aku ingin ke rumah sakit. Aku ingin lihat keadaan ibu," rengek Izumi.

"Aku juga ingin tahu keadaan ibu, ah. Kita telpon nenek saja!" usul Sora kemudian. Ia membimbing adiknya yang masih gemetar dalam dekapannya, "kau tunggu sebentar adik sialan, dan jangan bertingkah cengeng seperti itu. Menyebalkan sekali. Bersihkan air mata saialanmu itu!" perintah Sora tegas.

Pria kecil itu melepaskan tangannya dari bahu sang adik. Ia menuju telpon rumahnya dan memijit beberapa digit angka yang sudah ia hafal.

TUUT….TUUUT…

Sora menghela nafas tak lega saat panggilannya belum juga dijawab.

"Moshi-moshi-"

"Nenek!" Sora memotong ucapan wanita di seberang telpon dengan sangat cepat.

"Sora-kun, ini kau, ada apa sayang?" terdengar suara Mami begitu lembut.

"Ibu, ibu sekarang ada di rumah sakit. Tadi dia pingsan setelah bertengkar dengan ayah,"

"APA?" Mami memekik kaget mendengar kata-kata cucunya, "baiklah, nenek akan segera kesana. Kau ada dimana, dan bagaimana keadaan Izumi?"

"Izumi tidak berhenti menangis, kami masih ada di rumah," jawab Sora.

"Baiklah, tunggu nenek ya, Sora-kun. Dan katakan pada Izumi-chan semuanya akan baik-baik saja,"

"Baiklah," ucap Sora pelan sebelum menutup telponnya. Bocah itu kemudian menghadap adiknya, "kau tenang saja, nenek akan segera kemari dan semuanya akan baik-baik saja. Sekarang kau diamlah," ungkapnya.

Izumi mengangguk pelan. Ia dan Sora beranjak ke ruang depan. Sora duduk di sofa, berusaha tenang. Sedangkan Izumi malah mondar-mandir di depannya.

"Sora-kun, bagaimana kalau terjadi hal buruk pada ibu? Bagaimana kalau ibu marah besar pada ayah? Lalu mereka bercerai! Bagaimana-"

"Hentikan!" potong Sora tegas, "aku muak mendengar kau bicara soal cerai. Tidak akan terjadi apa-apa pada ibu dan juga ayah. Mereka tidak mungkin bercerai!" katanya masih dengan nada tegas.

"Dari mana kau tahu kalau ayah dan ibu tidak akan bercerai?" mata Izumi menatap Sora penuh keingintahuan.

Sora berdecak kesal karena fungsi otak adik jeniusnya ini sedang macet, "mudah sekali, anak jelek. Kau ingat waktu kau tanya pada ayah kapan pertama kali bertengkarr dengan ibu?" tanya Sora.

Izumi mengangguk, "sejak pertemuan pertama mereka," ia menjawab.

"Kau pikir sudah berapa lama sejak pertemuan pertama mereka?" Sora kembali bertanya.

Sang adik nampak berfikir keras, "yang pasti sangat lama karena mereka bertemu pertama kali di SMU," jawab Izumi.

"Kalau begitu kau sudah tahu kan jawabannya?"

"Tidak," Izumi menggeleng dengan polosnya, "memangnya apa?" ia kembali bertanya.

Tampak tiga sudut siku-siku di dahi Sora mendengar kalimat yang meluncur mulus dari mulut adiknya, "baka imouto! Sebenarnya kau ini anak siapa sih, kenapa hal mudah begitu saja kau tidak mengerti? Kemana otak jeniusmu, hah?" bentak Sora kesal.

"Mou…. Jangan membentakku, Sora-kun! Kau sendiri yang membatasi pengetahuanku soal urusan orang dewasa kan!" balas Izumi.

"Cih," Hiruma kecil itu mendesis pelan, "dengar ya, adik sialan. Kalau ayah dan ibu sudah bertengkar sejak pertama kali bertemu dan mereka masih bersama sampai sekarang, itu tandanya mereka baik-baik saja. Mereka tidak akan berpisah," Sora menerangkan.

"Darimana kau tahu mereka tidak akan berpisah?" tanya Izumi yang belum puas dengan jawaban Sora. Atau mungkin belum mengerti.

"Karena kalau mereka punya kemungkinan untuk berpisah. Mereka pasti sudah melakukannya sejak dulu," kata Sora yang sudah mulai sabar menghadapi Izumi.

"Tapi, bagaimana kalau-"

"Anak-anak!"

Perkataan Izumi terhenti saat mendengar suara seorang wanita memanggil mereka. Sora dan Izumi hafal sekali suara itu. Suara nenek mereka, Mami Anezaki.

Kedua bocah itu beranjak dari posisinya masing-masing kemudian menyongsong kedatangan nenek mereka. Sora membukakan pintu dan menatap wanita di depannya.

"Sora-kun, mana Izumi-chan? Kalian baik-baik saja kan?" tanya Mami saat melihat Sora. Cucunya itu mengangguk dan mempersilahkan Mami masuk.

"Nenek," ucap Izumi pelan saat bertemu pandang dengan Mami.

"Tidak apa-apa sayang, semuanya akan baik-baik saja," ucap Mami sambil mengelus rambut Izumi, "sekarang ceritakan pada nenek apa yang terjadi," pintanya.

"Begini, tadi-"

"Ayumi-obasan datang bersama Ken-"

"Membuka album milik ayah-"

"Aku, Sora-kun dan Ken bermain bersama waktu ayah pulang-"

"Ayah ngomel-ngomel pada ibu-"

"Ayah berteriak pada ibu seperti biasanya-"

"Ayah itu selalu saja-"

"Padahal ibu sedang tidak enak badan-"

"Ayah menyalahkan ibu-"

Mami bengong menatap dua cucunya yang berlomba-lomba menceritakan kejadian yang menimpa orang tua mereka. Wanita itu merasa pusing sendiri mendengar tiap kalimat yang dilontarkan Sora dan Izumi. Ia sama sekali tidak bisa mencerna kata-kata dua anak itu.

Akhirnya Mami mengambil inisiatif membekap mulut dua anak itu pelan. Menghentikan ocehan keduanya.

"Ceritakan pelan-pelan," ucapnya lembut. Si kembar mengangguk kompak.

"Ayumi-obasan datang dan melihat-lihat album foto milik ayah, tapi tiba-tiba saja ayah marah," kata Izumi.

"Padahal sebelumnya ayah bilang padaku kalau ibu sedang sakit. Tapi dia malah memarahi ibu, aku tidak tahu apa yang terjadi tapi saat bertengkar dengan ayah, ibu pingsan," Sora melanjutkan, "dan sekarang ayah sedang ke rumah sakit," lanjutnya.

"Baiklah, mereka ada di rumah sakit mana?" tanya Mami tenang.

"Nenek telpon ayah saja," usul Izumi.

Mami mengangguk, "kalian bersiap-siaplah, kita akan menemui mereka," Mami mengusap rambut dua anak itu penuh kelembutan kemudian menghubungi Youichi. Tak lama setelah itu Mami kembali menghampiri dua cucunya itu, "kita pergi sekarang," ucapnya yang langsung disambut anggukan dari Sora dan Izumi.

~wakareru?~

"Tuan Hiruma," seorang dokter memanggil Youichi dengan suara yang amat pelan. Tampak gemetar. Bukan karena terjadi hal buruk pada Mamori. Hanya saja ia terlalu takut berhadapan dengan komandan neraka itu.

"Apa dokter sialan? Bagaimana keadaan istri sialanku?" tanya Youichi tegas.

"Nyonya Hiruma baik-baik saja. Hanya, kelelahan. Sebaiknya beliau menjaga kesehatan dan juga pikirannya, beliau tidak boleh stress karna itu bisa merusak janinnya," kata sang dokter. Sekuat tenaga ia bersikap tenang dan menghalau keringat dingin membanjiri tubuhnya.

"Merusak janin?" Youichi menaikan alisnya.

"Ya, nyonya Hiruma tengah mengandung tiga minggu," jawab dokter itu.

Setan itu tercengang sebentar tapi kemudian menyeringai, "dasar istri sialan," ia bergumam pelan, "kenapa aku tidak menyadarinya," lanjutnya. Youichi menatap dokter di depannya, membuat sang dokter bergidik ngeri, "kapan aku bisa menemuinya?"

"Sebentar lagi, setelah nyonya Hiruma dipindahkan ke kamar rawat," jawab sang dokter.

Tak lama setelah itu Youichi menghampiri Mamori yang sudah dipindahkan ke kamar rawat. Wanita cantik itu belum sadarkan diri. Youichi masih dengan setia menunggui malaikat tercintanya. Dalam hatinya, terbesit rasa menyesal karena selalu saja memancing emosi Mamori. Ia selalu saja punya alasan untuk bertengkar dengan Mamori, tidak menyadari perasaan Mamori yang sudah pasti jenuh dengan sikap Youichi.

"Youichi-kun,"

Mata ermald itu melirik kearah istrinya saat mendengar panggilan itu. Ditatapnya malaikat cantik miliknya yang tengah mengerjapkan matanya pelan-pelan.

"Kau sudah sadar, istri sialan?" tanya Youichi.

Mamori terdiam karena pertanyaan suaminya tidak harus ia jawab, "apa yang terjadi? Ini ada dimana?" tanyanya sambil berusaha bangun.

"Di rumah sakit," jawab Youichi membantu Mamori untuk duduk. Ia sendiri duduk di tepi tempat tidur Mamori.

"Kenapa aku ada di sini?" Mamori kembali bertanya.

"Kau keracunan cream puff sialan," jawab Youichi datar.

"Mou….. Mana mungkin! Sudah kubilang kan, aku tidak mungkin keracunan cream puff!" Mamori setengah berteriak, "aku ingat, kau marah-marah padaku tadi, hanya gara-gara neechan melihat album foto milikmu!"

Dengan cepat Youichi menarik tubuh malaikatnya itu dalam pelukannya. Ia memeluknya erat, "berhentilah mengomel, istri sialan jelek, monster cream puff, mantan manajer baka," ucap Youichi pelan, "aku tidak mau calon bayi sialan di perut sialanmu jadi cerewet juga sepertimu. Karna kalau itu terjadi, aku yang akan repot nantinya," ungkap Youichi sambil meraba perut Mamori yang masih rata.

Ia ingin merasakan getaran kehidupan dari calon anak ketiganya, namun ia belum bisa merasakan apa-apa. Usia kandungan Mamori baru tiga minggu.

"Calon bayi?" Mamori mengulang kalimat yang dilontarkan Youichi, "maksudmu, aku?" wanita itu melepaskan pelukannya dan menatap mata suaminya dengan pandangan tidak percaya.

Youichi mengangguk, ia masih belum memindahkan tangannya dari perut Mamori, "bodoh sekali aku karena tidak menyadarinya," ungkap Youichi. Pria itu kemudian menyeringai melihat tingkah istrinya.

Mamori sempat meneteskan air mata sesaat sebelum ia kembali memeluk tubuh pria yang sangat ia cintai itu.

"Kita harus bilang pada bocah-bocah sialan itu kalau mereka akan jadi kakak," kata Youichi datar. Mamori mengangguk setuju. Ia masih memeluk suami tercintanya.

"Ibu…. Ayah….!"

Aktivitas mereka berdua terhenti saat mendengar panggilan itu, sedetik sebelum terdengar suara pintu dibuka. Youichi dan Mamori menoleh ke asal suara, keduanya menatap Sora dan Izumi yang tengah berlari menuju mereka. Lalu tampak juga Mami yang memasang wajah khawatir.

"Apa yang terjadi? Mamo-chan, kau baik-baik saja?" tanya Mami sambil mendekati putrinya.

Mamori mengangguk sambil tersenyum kecil. Ia memeluk dua buah hatinya, "kalian berdua ini kenapa?" tanya Mamori saat melihat Sora dan Izumi yang memeluknya, "ibu baik-baik saja kok," lanjutnya. Ia mengecup pucak kepala dua anak itu.

"Heh, bocah-bocah sialan. Jangan seperti itu pada ibu kalian. Biarkan dia istirahat," kata Youichi. Ia menarik tubuh kecil Izumi ke pangkuannya.

"Apa yang terjadi pada ibu?" tanya Izumi sambil mengusap air matanya.

"Ibumu keracunan cream puff sialan. Makanya kalian tidak boleh meniru tingkah ibu kalian yang memuakan itu!" kata Youichi.

"Mou…. Jangan membohongi anak-anak!" pekik Mamori tegas, "ibu bukan keracunan cream puff kok. Jangan dengarkan ayah kalian," lanjutnya.

"Lebih baik kalian berdua pergi ke apotek di depan sana, dan serahkan kertas ini pada petugasnya," Youichi menurunkan Izumi dari pangkuannya kemudian menyerahkan secarik kertas berisi tulisan tangan seorang dokter yang tidak ia mengerti.

"Baiklah, ayo," kata Sora sambil menerima kertas itu, ia kemudian menuntun Izumi untuk mengikutinya.

Mami menatap putrinya dan sang menantu saat dua cucunya keluar dari ruangan, "sebenarnya kau sakit apa, Mamo-chan?" tanyanya.

"Dia sama sekali tidak sakit," Youichi menjawab, "dia hamil. Itu artinya akan ada satu bocah sialan lagi yang memanggilmu dengan sebutan nenek," ia melanjutkan sembari mencium puncak kepala istrinya.

Mami tidak bisa menyembunyikan raut terkejutnya tapi kemudian ia tersenyum tipis, "selamat ya," ucapnya sambil memeluk Mamori.

"Terima kasih ibu, maaf membuatmu cemas," jawab Mamori.

Setan itu menatap keduanya kemudian berjalan menjauh, menuju kulkas kecil di sudut ruangan dan mengambil soft drink. Mata hijaunya melirik dua wanita itu, "ibu," ia bergumam pelan. Sangat pelan hingga tidak ada yang bisa mendengarnya selain dirinya sendiri. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mengucapkan kata itu.

"Youichi,"

Hijau ermald milik sang setan berputar menatap wanita yang memanggilnya. Tampak wanita blasteran Jepang-Amerika itu menatapnya dengan pandangan tidak mengerti.

"Sedang apa kau?" tanyanya.

"Seperti yang kau lihat, mertua sialan. Aku sedang minum," jawab Youichi cuek. Ia mengambil satu lagi kaleng soft drink kemudian melemparnya pelan kearah Mami.

"Dari dulu kau tidak pernah berubah, tapi Youichi yang seperti inilah yang aku suka!" wanita itu memeluk Youichi saat setan itu tiba di depannya, "kau rindu ibumu?" tanyanya.

Youichi tak menjawab. Tidak perlu. Karena ia tahu, Mami pasti tahu jawabannya. Wanita itu melepaskan pelukannya dan menatap mata menantunya.

"Berbahagialah dengan Mamo-chan. Apapun yang terjadi dengan masa lalumu aku tidak perduli, aku tahu kau bukan tipe orang yang senang menoleh ke belakang. Sekarang kau punya keluarga yang menyayangimu, kau punya masa depan yang panjang, kau punya anak-anak yang harus kau didik menjadi lebih baik. Aku tahu kalau kau tidak mau anak-anak mengalami hal sama sepertimu. Makanya, jangan pernah menoleh ke belakang," Mami tersenyum diakhir kalimatnya.

"Tch. Dasar nenek-nenek cerewet," umpat Youichi. Tapi kemudian pria itu menyeringai kecil. Ia melirik Mamori yang tersenyum padanya.

"Kalian jangan terlalu sering bertengkar. Apalagi di depan anak-anak, mereka kelihatan cemas dan itu tidak baik untuk perkembangan mereka," kata Mami sambil menatap Mamori dan Youichi.

Mami menghela nafas pelan, "baiklah, aku pulang dulu, ayah kalian sebentar lagi pulang dan aku harus menyampaikan kabar baik ini," Mami mengecup kening Mamori kemudian kembali memeluk Youichi.

"Jaga mereka baik-baik, Youichi," Mami berbisik di telinga menantunya.

"Hm," Youichi bergumam kecil menjawabnya.

"Baiklah, sampai nanti, aku akan mengunjungi kalian lagi besok," kata Mami sebelum ia keluar dari pintu.

Mamori tersenyum mamandangi suaminya, ia kemudian menarik tangan Youichi agar mendekat, "kemarilah, You," ucapnya.

"Apa sih, istri sialan?" tanya Youichi galak.

"Aishitteru," Mamori menjawab pelan sambil memberikan kecupan ringan di bibir sang setan.

Youichi menyeringai mendengar jawaban istrinya, "aku juga," balasnya.

"Ayah, ibu, kami sudah dapat obatnya,"

Youichi dan Mamori menoleh kearah pintu saat mendengar suara itu, mereka menatap Sora dan Izumi yang berjalan mendekat.

"Tapi Sora-kun tidak mau bayar," kata Izumi sambil menunjuk saudaranya.

Mendengar itu Mamori langsung memberikan death glare pada Youichi. Satu lagi sifat akuma yang menurun pada anaknya.

"Kau tidak boleh seperti itu Sora-kun. Kalau kau tidak membayar, ibu juga pasti tidak akan sembuh," kata Mamori tegas.

"Eh, benarkah itu ibu?" tanya Izumi polos. Ia kemudian melirik Sora tajam, "kau dengar itu Sora-kun? Untung saja tadi aku yang bawa uangnya!" ia melanjutkan seraya mendelik tajam kearah Sora.

"Iya, iya, aku dengar dasar adik sialan!" balas Sora ketus.

"Hentikan, bocah-bocah sialan!" Youichi melerai. Tumben sekali. Biasanya ia akan biarkan saja anak-anaknya bertengkar, "kemari," panggilnya.

Dua anaknya menurut, Sora duduk di tepi tempat tidur Mamori, sedangkan Izumi di pangkuan Youichi.

"Aku tahu, ada sesuatu yang mengganggu kalian belakangan ini," Youichi memulai. Ia memandangi anak-anaknya satu per satu. Sementara Sora dan Izumi saling pandang.

"Lebih tepatnya mengganggu adik sialan," jawab Sora. Ia menunjuk sang adik.

Kini Mamori, Youichi dan juga sora menatap Izumi lekat-lekat. Membuat gadis cilik itu sedikit gugup.

Izumi tampak menghela nafas pelan, "apakah ayah dan ibu akan bercerai?" akhirnya pertanyaan itu bisa meluncur dari bibirnya.

Mamori menaikan alisnya, bingung. Sedangkan Sora memasang tampang datar, dan sang setan menyeringai lebar mendengar pertanyaan putrinya.

"Kekekekeke…. Siapa bocah idiot yang bilang seperti itu padamu?" tanya Youichi.

"Yutaro-kun," jawab izumi polos.

"Sudah kubilang jangan dengarkan bocah itu!" sahut Sora tegas.

"Tapi ayah dan ibunya Yuka-chan bercerai karena mereka sering bertengkar, seperti kalian," pandangan Izumi melembut dan menatap orang tuanya bergantian, "Yuka-chan bilang, setelah ayah dan ibunya bercerai, dia tidak bisa bertemu ayahnya lagi. Aku kan tidak mau kalau itu sampai terjadi pada kita. Aku tidak mau berpisah dari ayah, atau ibu, atau juga Sora-kun," lanjutnya.

"Jangan cemas Izumi-chan. Kami baik-baik saja. Maaf ya, kalau kami sering bertengkar. Tapi, biarpun kami bertengkar, kami sama sekali tidak punya dendam-"

"Kami tidak mungkin bercerai, anak sialan!" Youichi memotong kata-kata Mamori yang dianggapnya terlalu bertele-tele.

Mata Izumi membulat senang. Begitu juga dengan Sora, meski tipis tapi ada raut bahagia di wajahnya.

"Benarkah?" tanya Izumi.

"Tentu saja, mana mungkin ibu sialan kalian itu mau berpisah denganku,kekekeke….," Youichi terkekeh.

"Begitu juga dengan ayah kalian. Dia tidak akan bisa hidup tanpa ibu," balas Mamori.

"Yang benar saja, istri sialan!" sahut Youichi.

Mamori hanya menjulurkan lidahnya, membuat Sora dan Izumi terkekeh pelan.

"Dan lagi anak-anak. Kami punya kabar buat kalian," Youichi mengalihkan pembicaraan. Dua buah hatinya itu menatap ayah mereka, "sebentar lagi kalian punya adik,"

"Benarkah?" Sora dan Izumi berteriak kompak.

"Tentu saja, makanya kalian jangan nakal lagi," lanjut Mamori.

Sora dan Izumi saling pandang. Mereka tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya,.

"YA-HA…..!" keduanya kembeli berseru kompak.

"Berisik, bocah-bocah sialan!" marah Youichi melihat tingkah putra-putrinya.

~Wakareru?~

Youichi menatap matahari yang hampir terbenam di ufuk barat. Sesekali ia melirik Mamori. Setan itu jadi teringat saat pertama kali ia dan Mamori menyatukan janji untuk selalu bersama. Youichi menggelembungkan permen karet dalam mulutnya, menyembunyikan sebuah senyuman yang amat tipis.

"Kenapa tersenyum seperti itu, You?" tanya Mamori yang ternyata menyadarinya.

Setan itu meletupkan gelembung permen karetnya dan menatap sang istri yang tengah tersenyum padanya dengan satu alis terangkat.

"Hey, saat kau bertengkar denganku, apa kau pernah merasa bosan dengan sikapku?" tanya Youichi sambil mendekat kearah Mamori.

"Kalau bosan, sudah kutinggalkan kau sejak dulu!" jawab Mamori. Ia meninju lengan Youichi pelan.

"Aku tidak pernah berfikir kalau kebiasaanku mengomelimu membawa pengaruh buruk buat bocah-bocah sialan itu," hijau ermald milik Youichi menatap Sora dan Izumi yang tertidur di sofa.

"Tidak apa-apa. Mulai sekarang mereka semua akan mengerti, lagipula, kalau kau malah tidak suka marah-marah padaku, aku pasti sudah berfikir kalau kejiwaanmu tidak beres," Mamori kembali tersenyum.

"Sekarang kau istirahatlah istri sialan, besok pagi kau sudah boleh pulang dari rumah sakit sialan ini," Youichi mengecup kening Mamori sebentar kemudian meninggalkan istrinya. Membiarkan Mamori beristirahat.

~Wakareru?~

"Ayah, ayah, bagaimana kalau sebelum pulang kita mampir ke supermarket dan beli perlengkapan untuk adik?" usul Izumi.

"Iya benar ayah, ayo kita beli baju, tempat tidur, popok, mainan, dan semua yang dibutuhkan adik nanti!" Sora melanjutkan.

Youichi dan Mamori saling pandang melihat tingkah dua anak mereka.

"Kalian harusnya tahu, ibu sialan kalian masih sakit, bocah-bocah sialan. Lagipula adik sialan kalian baru akan keluar sembilan bulan lagi," jawab Youichi.

"Biarkan saja, You. Kita kan juga sudah lama tidak pergi bersama, aku ingin ke taman bermain," ungkap Mamori.

"Ya, ya, setelah beli perlengkapan buat adik. Kita ke taman bermain!" Sora menanggapi antusias.

"Tidak." Jawab Youichi tegas, "kau sedang sakit, dan aku tidak mau kau terlalu kelelahan. Kita antarkan anak-anak ini membeli keperluan adik sialan mereka sebentar lalu pulang. Tidak ada taman bermain!" Youichi mendelik tajam kearah Mamori. Ia kemudian melangkah duluan keluar kamar rawat Mamori.

"Baiklah. Ayo, anak-anak," Mamori tersenyum kecil kemudian membimbing sora dan Izumi keluar.

Setelah keluarga kecilnya memasuki mobil, Youichi membawa mereka menjelajahi pusat perbelanjaan di Tokyo.

Anak kembarnya itu tampak semangat saat mereka memasuki toko yang menjual perlengkapan bayi. Keduanya tampak sibuk dengan kegiatannya, mereka menawarkan baju-baju yang mereka lihat pada orang tuanya, box bayi, selimut, kereta dorong, dan segala macam yang bisa mereka jangkau.

"Mereka berdua benar-benar merepotkan," gerutu Youichi melihat tingkah anak-anaknya, "dan norak," lanjutnya kemudian.

Mamori tertawa kecil menatap Youichi, "itu artinya mereka sudah siap jadi kakak kan?" wanita itu melirik suaminya, "berarti mereka akan banyak membantu nantinya," ia kembali tersenyum.

Youichi tak membalas. Ia kembali memperhatikan anak-anaknya yang masih sibuk memilih perlengkapan untuk calon adik mereka.

Setelah Sora dan Izumi puas berbelanja, keluarga kecil itu melesat pulang, meskipun saat mereka melewati Kariya, Mamori, Sora, dan Izumi memaksa Youichi menghentikan mobilnya sebentar dan mampir ke toko langganan mereka itu.

"Kalian bertiga memang tidak puas kalau belum membuatku repot," gerutu Youichi saat tiga orang itu kembali ke mobil dengan membawa tiga kotak cream puff. Sementara itu mereka hanya tertawa kecil mendengar omelan Youichi.

~Wakareru?~

Setelah sampai di rumah, pesta cream puff pun dimulai, seperti hari-hari sebelumnya, Mamori, Sora dan Izumi berlomba menghabiskan cream puff paling banyak. Sementara Youichi hanya menggeleng pelan melihat tingkah tiga orang itu.

"Dasar monster-monster menjijikan," umpatnya sambil duduk di samping Mamori. Pria itu mengalungkan tangannya di bahu sang istri.

"Kau mau?" tawar Mamori sambil memamerkan satu potong cream puff isi coklat tepat di depan wajah Youichi, "kalau tidak mau ya sudah," wanita itu melanjutkan tanpa perlu menunggu jawaban suaminya.

"Tch," Youichi menyepat pelan. Sementara Mamori tersenyum kecil.

"Ayah, ibu," panggil Izumi pelan. Mamori dan Youichi langsung menatapnya, begitu juga Sora. Pria kecil itu menoleh kearah sang adik sambil menyapukan punggung tangannya ke mulut, membersihkan cream yang belepotan di sana.

"Apa?" tanya Youichi datar.

"Maukah kalian berjanji satu hal?" Izumi balik bertanya, ia menatap kedua orang tuanya serius, "berjanjilah kalau kalian tidak akan bercerai dan tidak akan bertengkar lagi," ia melanjutkan sebelum keberaniannya lenyap.

"Berapa kali kukatakan kalau kau tidak perlu mencemaskan soal itu, adik sialan!" kata Sora tegas, "kau terlalu polos mau dibodohi bocah cebol itu!" lanjutnya.

"Sora-kun hentikan," tegur Mamori pelan, "ibu janji pada kalian kalau kami tidak akan bercerai, tapi ibu tidak bisa janji untuk tidak bertengkar lagi dengan ayah kalian," Mamori mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V, ia melirik Youichi diakhir kalimatnya.

"Ngapain aku harus melakukan hal bodoh begitu bocah sialan?" protes Youichi yang merasa permintaan anaknya itu konyol sekali.

Mendengar perkataan suaminya. Mamori segera mencubit lengan Youichi. Tidak begitu keras, tapi cukup membuat Youichi berjengit sakit.

"Apa yang kau-"

"Turuti saja. Memangnya suatu saat nanti kau punya rencana menceraikanku?" Mamori memotong kata-kata Youichi dengan cepat.

"Cih, merepotkan," gerutu Youichi, "baiklah anak-anak sialan. Aku berjanji. Kalian puas?"

Mamori tersenyum, begitu pula kedua anaknya.

"Sekarang kalian pergilah ke kamar kalian, aku punya urusan orang dewasa dengan ibu sialan kalian!" perintah Youichi sambil menyeringai, memamerkan deretan gigi runcing miliknya.

Sora balas menyeringai, "ayo, adik sialan!" ia bangkit dari tempat duduknya dan menyeret tangan Izumi. Menuju kamar mereka.

"Kau puas sekarang, heh?" tanyanya saat ia dan Izumi sampai di depan kamar.

Izumi mengangguk antusias.

"Sudah kubilang kan, kau tidak perlu cemas," kata Sora. Ia membuka pintu kamar adiknya dan masuk ke sana. Izumi mengikuti.

"Kau benar Sora-kun. Mereka akan baik-baik saja," uangkap Izumi.

Mereka berdua melangkah menuju jendela dan menatap matahari yang hampir tenggelam.

"Mereka bertengkar, bukan berarti saling membenci. Mereka bertengkar karena saling peduli, saling mengkhawatirkan. Yah, seperti itulah cara mereka menyampaikan perasaan," kata Sora yang tumben sekali bijak.

"Benar Sora-kun. Di masa depan nanti, aku juga ingin menjadi seperti ayah dan ibu, yang akan selalu bersama," Izumi menanggapi.

Sora mendelik kearah adiknya yang tiba-tiba berbicara soal masa depan, "heh, buang jauh-jauh pikiran itu dari otakmu. Kau tahu, untuk menjadi seperti mereka waktu yang dibutuhkan masih sangat panjang!"

"Iya, iya, aku mengerti kok. Kau ini, selalu saja melarangku untuk berfikir kesana," Izumi terkikik kecil.

"Karena belum waktunya kau memikirkan itu," jawab Sora.

"Kalau kau sendiri bagaimana? Surat cinta untukmu waktu itu masih ada padaku lho….," izumi mengerling nakal pada Sora, "aku sudah membacanya," ia melanjutkan.

Gadis cilik itu bisa melihat semburat merah yang sangat tipis di pipi Sora. Ia tertawa melihatnya.

"Ya~ Sora-kun punya pacar!" ia berseru seenaknya.

"Heh… Apa maksudmu pacar. Jangan berpikiran bodoh seperti itu adik sialan!" protes Sora.

"Begitukah?" dengan jahil Izumi mengambil surat milik Sora yang masih ia simpan di laci meja belajarnya dan memamerkannya di depan wajah Sora.

"Aku tahu kalau kau dan orang yang memberimu ini sudah sangat dekat, fufufufu…..," Izumi tertawa licik.

"Hentikan, adik bodoh!" Sora menyambar surat itu, tapi sayang Izumi menarik kertas itu lebih dulu hingga sang kakak tidak berhasil merebutnya.

"Coba saja kalau bisa!" Izumi menjulurkan lidah dan berlari mengitari kamarnya sedangkan Sora mengejarnya, mencoba merebut surat itu.

~wakareru?~

"You," bisik Mamori pelan.

"Hm," Youichi membalas seadanya sambil tetap memejamkan matanya.

Mamori menunduk menatap Youichi yang tiduran dengan menjadikan pahanya sebagai bantal. Tangannya mengelus rambut pirang Youichi.

"Terima kasih," Mamori kembali berbisik. Tapi kali ini sukses membuat Youichi membuka matanya.

"Kenapa berterima kasih, istri jelek?" tanya Youichi sambil bangkit dari posisinya.

"Karena kau sudah membahagiakan aku, juga anak-anak, kau benar-benar suami dan ayah terbaik. Aku mencintaimu, sangat," Mamori mencium pipi Youichi kemudian menjatuhkan diri dipelukan suaminya.

"Aku juga Mamori. Terima kasih sudah menemaniku,"

Mamori tertawa kecil mendengar perkataan Youichi barusan, "jangan berkata seperti itu lagi, seperti bukan kau saja!" ungkapnya.

"Cih, dasar istri sialan merepotkan!" gerutu Youichi yang sudah kembali normal.

Mamori tersenyum kecil dan mengeratkan pelukannya. Ia lupa, sudah berapa lama ia mengenal Youichi, ia lupa kapan pertama kali membentak Youichi, ia lupa kapan perasaan sayang itu tumbuh dalam hatinya. Tapi satu hal yang tidak pernah akan ia lupakan, perasaan ini tidak pernah memudar.

"Aishitteru," gumam Mamori pelan.

OWARI


Endingnya jelek? Enggak memuaskan? sebenarnya masih ada satu chap lagi untuk epilog. Karena kayaknya masih ada request yang belum terpenuhi. Tapi saia juga minta pendapat reader, kalo segini aja udah cukup, saia gak bikin epilognya. Tunggu juga yang SenaSuzu version ya...hehe

Oke minna, jangan lupa tinggalin review sebelum menekan tomol back, please...*puppy eye*