Disclaimer: Whaddaya think? Me? Owns Kuroshitsuji? Humph—I found it funny. Kuroshitsuji and CSI belongs to their makers.

Rating: T soon to be M

Warning: Lot of typos, weird storyline, a lil bit blood.

A/N: Hi~ *waves*

An update, give me an applause for a fast update.

Replies for Reviews:

Shafara Nurwahyu Riskita: Bingung? Baca chapter berikutnya ;D /ditampol

Kuroschiffer Phantomcr: Thanks XD. Find it out on the next chapter(s) ;)

Silenced Silence

Evidence #2: Crossing Lines.

[Police Dept, CSI Unit. 07.49 AM]

Bohong namanya kalau Sebastian Michaelis tak membenci pekerjaannya. Apa pekerjaannya, kalau kau tanya? Menurutmu, apa yang dilakukan oleh seseorang di tempat yang dipenuhi oleh darah, barang bukti dan mayat-mayat? An investigator, benar. Sebastian yang kini tengah berjalan dari kantor bagian balistik menuju mejanya sendiri tak henti-hentinya memijat keningnya yang berdenyut karena pusing yang melanda.

Bagaimana tidak? Setelah kekacauan yang kemarin ia temukan di kasus Phantomhive, dirinya juga belum menemukan penyebab kejanggalan-kejanggalan di kasus tersebut.

Seperti..bagaimana bisa ada darah terpercik di dinding, dan kenapa hanya Ciel Phantomhive yang selamat?

Sebastian menyeruput kopi yang ia genggam, sambil duduk di balik mejanya. Setelah menaruh cup kopinya di atas meja, barulah Sebastian membuka folder yang berisikan kasus Phantomhive yang ia ambil dari dalam lacinya. Tsk—bingung. Bingung ingin memulai mengungkap kasus ini darimana. Menit berlalu hanya dalam diam, sampai akhirnya Sebastian menarik salah satu foto dari dalam folder kuning tersebut.

Foto kedua mayat dari pasangan Phantomhive.

Rachel Phantomhive, 35 tahun. Mati karena tembakan langsung ke kepala yang mematikan kerja otaknya seketika. Dilihat dari lubang tembakan di kepala Rachel, senjata diduga merupakan jenis 9mm. Dan setelah di uji coba oleh balistik, hasilnya sesuai. Sementara Vincent Phantomhive dibunuh dengan cara yang sama namun lebih menyakitkan. Karena, Vincent ditembak ke arah jantung dan pelurunya masih bersarang di jantung sang pengusaha. Persis seperti perkiraan Bard. Kalau begitu, dari mana datangnya percikan darah tersebut?

Mengingat, seharusnya darah dari kepala Rachel akan terciprat ke lengan sang pembunuh karena ditemukan memar di leher Rachel, persis seperti memar yang ditimbulkan akan sergapan kuat. Dan Vincent, walaupun darahnya memang terciprat ke dinding, berada jauh dari dinding lain yang sedang dibicarakan oleh Sebastian. Namun, satu hal yang pasti, pembunuhnya laki-laki. Dan seakan ingin menginterupsi hipotesa yang tengah dibagun oleh Sebastian, telepon genggam Michaelis muda itu berdering.

"Michaelis di sini, ada apa?"

Selanjutnya yang terjadi, hanyalah Sebastian yang langsung menyambar jaket yang tersampir di bangkunya, dan kopi yang sudah setengah dingin hanya untuk berlari keluar di detik berikutnya.

[Room 313, Harley Hospital. 08.15 AM]

Ciel's PoV

Pekikan itu terus terdengar, menggema di lorong-lorong lantai 3 rumah sakit Harley. Dan dibalik sebuah pintu bernomor 313-lah suara itu berasal. Seorang pemuda dengan rambut biru keabu-abuan tak henti-hentinya memekik walaupun suster suster tengah sibuk menenangkannya dan dokter dengan suntikan di tangan, bersiap untuk menyuntikkan morfin ke dalam tubuh sang oknum pembuat kebisingan di kamar tersebut.

Sementara, Ciel, sang pasien yang tengah memekik tak henti-hentinya menggoyang-goyangkan badannya ke depan dan belakang sambil terus memeluk erat kedua lututnya. Histeris.

Darah, dimana-mana. Bahkan di kedua tangannya yang tersembunyi di balik baju rumah sakit yang terlalu besar untuk tubuh kecilnya.

Saat sebuah kilau kecil terlihat di ekor matanya, Ciel segera memekik lagi, kali ini sambil meronta. Tidak—tidak, TIDAK! Dirinya tidak mau lagi mengingat dan merasakan hal tersebut. Sudah cukup siksaan melihat orang tuanya dibunuh di depan matanya sendiri. "PERGI—PERGII!" teriak Ciel hingga kini suaranya tak ada ubahnya dengan lengkingan serak.

Pergi! Siapapun, tolong buat pria itu pergi!

Semuanya kembali berputar pada malam saat kedua orang tua Ciel dibunuh. Permohonan sang Ayah, isak tangis sang Ibu, bisikan dingin si Pembunuh, semuanya terdengar jelas di telinga Ciel seakan itu baru saja terjadi. Ciel menutup kedua telinganya dengan tangannya, iris biru lautnya melebar, menampakkan ketakutan yang amat sangat namun pekikan tak lagi keluar dari mulutnya.

Bisu—diam. Napas pendek-pendek mulai menjadi pengisi ruangan yang didominasi warna putih tersebut. Sampai akhirnya Ciel merasakan sesuatu menancap di lengan tangan kanannya, dan Ciel lagi-lagi meronta. Namun terlambat. Dengan pekikan terakhir, dirinya jatuh ke kegelapan.

Entah untuk yang ke berapa kalinya.

[Room 419, Harley Hospital. 09.38 AM]

Sebastian's PoV

Vas bunga yang pecah belah di lantai, air yang sedikit menggenang dan juga bunga layu yang sudah terinjak menjadi pemandangan yang menyambut Sebastian saat memasuki kamar 419, tempat dimana Ciel Phantomhive seharusnya dirawat. Kini, satu satunya pemegang nama Phantomhive itu telah dipindahkan ke kamar lain karena keadaan ruangan ini. Puh—dan sayangnya, Ciel sendiri yang membuatnya dipindah ruangkan.

Tak lebih dari setengah jam lalu Sebastian mendapat kabar bahwa Ciel Phantomhive telah sadar, dan telepon lain dari Maylene yang pergi bersama Tanaka menginformasikan bahwa mereka berdua akan menginterogasi Phantomhive tersebut.

Yea. Tentu saja yang menyambut mereka adalah keadaan di depan Sebastian kini. Plus, Phantomhive setengah gila yang memekik seakan ini hari terakhirnya di dunia. Humm—bisa saja sih 4 kata terakhir yang Sebastian ucapkan itu menjadi kenyataan. Baru saja Sebastian memakai sarung tangan karetnya saat sebuah sosok masuk dan menyapanya dengan nada terlalu riang. "Hai Seb! Wah pagi-pagi begini sudah sibuk ya. Ya ampun! Apa yang terjadi di sini!"

Finnian.

"Well—morning too, Finnian. Dan jangan bertingkah seakan kau tak pernah melihat yang lebih parah dari ini."

Dan respon yang didapat oleh Sebastian hanya cengiran tak jelas dari Finnian.

Sebastian sedikit memaki dalam gerutuannya. Bukannya Sebastian kesal atau tak suka sih dengan Finnian—namun..tak bisakah dirinya mendapat partner yang tidak terlalu berisik? Sambil memoles pecahan vas di lantai dengan brush yang sudah terlebih dahulu ditaburi dengan bubuk khusus berwarna kehitaman, Sebastian berkata pada Finnian, "Finn—lakukan pemindaian sidik jari pada gagang pintu."

Sebastian sengaja menyerahkan hal tersebut pada Finnian, selain karena ia telah melakukan hal lain, mencari sidik jari pada gagang pintu memang mudah, namun menemukan mana yang cocok dan terkait pada kasus? Bisa dibilang, semudah mencari jarum dalam jerami.

Ha. Bisa rasakan sarkas di dalamnya?

Sebastian sempat mendengarkan rengekan yang keluar dari Finnian, namun ia biarkan saja. Lagipula dirinya tengah mengambil sidik jari yang tertinggal di salah satu pecahan vas yang ada di lantai. Setelah selesai, Sebastian mengambil pecahan tersebut—well, lucky. Ada sedikit percikan darah di ujung benda tajam tersebut. Dengan sedikit proses pemeriksaan di komputer, akan bisa langsung diketahui milik siapa darah ini. Dan lagi, keberuntungan ada di sisi Sebastian.

"Sebastian—here! Aku menemukan sesuatu!"

Jangan lupakan nada girang yang dipakai Finnian.

Sebastian berbalik tanpa kata, namun iris cokelat kemerahannya sedikit melebar dan berkilat dengan rasa puas dan senang. Itu, di tangan Finnian yang diselimuti sarung tangan karet terdapat sehelai rambut berwarna kemerahan. Sebastian mengangguk kecil dan membiarkan Finnian memasukkan barang bukti ke dalam plastik kecil khusus untuk selanjutnya dibawa dan diproses di lab, nanti.

Kini, Sebastian harus fokus mencari bukti lain. Namun sepertinya itu harus dilakukan nanti. Karena sekali lagi, telepon Sebastian berdering. Memasang wajah stoicnya, Sebastian mengangkat telepon tersebut, dan melihat nama yang tertera di layar teleponnya.

Tanaka.

"Michaelis disini, ada apa? ..ya. Ya, ya. Aku mengerti."

Sigh. Kekacauan lain. Tanaka bilang, Phantomhive itu sudah bangun dan Sebastian harus menghampirinya dan bertindak sebagai investigator. Hanya karena Sebastian-lah satu-satunya invstigator yang tidak terlalu tua, padahal kalau dipikir-pikir, umur Sebastian dan si Phantomhive yang satu itu berbeda 7 tahun. My, my.

Sebastian hanya mendesah panjang, dan dengan satu gerakan, Sebastian keluar dari kamar tersebut untuk pergi menuju kamar lain.

[Room 313, Harley Hospital, 10.00 AM]

Kedua sosok tersebut hanya mematung di depan pintu kayu kecokelatan di hadapan mereka, seakan ragu untuk mengusik ketenangan yang meliputi ruangan ini. Sosok yang lebih tinggi, yang ternyata adalah Tanaka, menengok ke belakang saat dirasanya ada orang lain yang datang. Dan benar saja, siluet tersebut mendekat dan menampakkan pemuda dengan jas hitam yang senada dengan surai yang berada di puncak kepala pemuda itu.

Sebuah senyum tipis muncul di wajah Tanaka, mengindikasikan bahwa lelaki di awal 50-annya itu senang akan kehadiran sosok tersebut. Sebastian melangkah, mendekati Tanaka, dan Maylene dan mengangguk kecil saat sampai di dekat mereka.

"Disini?" ujar Sebastian sambil mengedikkan kepalanya ke arah pintu kamar 313.

Dan tanpa menunggu jawaban, Sebastian memutar gagang pintu tersebut yang otomatis membuka papan kayu di depannya.

Sebastian melangkah masuk, berusaha supaya langkahnya tak mengusik sang Phantomhive yang tengah terduduk menghadap jendela. Bagaimanapun juga, kan gawat kalau Phantomhive itu gila lagi. Setelah cukup dekat, barulah Sebastian membuka suaranya, "Ciel Phantomhive." Sebastian berkata dengan suara bassnya yang rendah. Dari iris cokelat kemerahannya, Sebastian bisa melihat tubuh pemuda di depannya menegang.

Reaksi standar bagi para korban dengan trauma yang cukup mendalam.

"Aku Sebastian Michaelis dari departemen kepolisian, berbaliklah. Aku tak akan menyakitimu."

Butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya tubuh di depan Sebastian bergerak. Sebastian menengok ke arah belakang dan mengedik ke arah luar, mengisyaratkan Tanaka dan Maylene untuk pergi keluar. Dirinya dan Phantomhive yang satu ini tak butuh distraksi yang lain. Sebastian menoleh lagi, mengembalikan fokusnya ke arah Ciel yang sudah berbalik ke arah Sebastian sepenuhnya.

Merah bertemu biru. Api dan air saling bersatu.

Sebastian tak bisa mengalihkan perhatiannya dari pemuda dengan rambut biru keabuan bertitel Ciel ini. Bukan—bukan karena warna rambutnya yang unik, atau garis melintang yang menghiasi pipi sebelah kanan sang pemuda. Namun orb biru yang menusuk, sekaligus rasa takut yang memancar keluar, memberitahu Sebastian akan apa saja yang telah dialami oleh makhluk Tuhan yang satu ini.

Funny. For Sebastian, there's no God.

"Ciel, sekali lagi kutegaskan, aku tak akan menyakitimu. Jadi tak perlu takut, oke? Rileks saja."

Walaupun Sebastian agak sedikit pesimis tentang hal di atas.

Dilihatnya kepala Ciel sedikit bergerak ke arah bawah dan atas. Sebuah anggukkan, sebuah jawaban. Mengukir senyum puas di wajahnya, Sebastian mulai membuka notes kecil yang selalu ia bawa di sakunya. "Nah sekarang, bisakah kau ceritakan apa yang terjadi malam lalu?"

Ciel's PoV

..sepi.

Sejak dari kecil dulu, aku tidak terlalu menyukai kesepian. Setidaknya, selalu ada Ayah atau Ibu menemaniku. Sekarang? Setelah bangun dari efek obat yang tadi disuntikkan ke dalam tubuhku, aku langsung menyadari kehampaan yang ditinggalkan Ayah dan Ibu karena kepergian mereka semalam. Dengan tanganku yang bebas, aku menghapus air mata yang entah sejak kapan terjun bebas mengaliri pipiku.

Aku, Ciel Phantomhive, menangis seperti anak bayi.

Aku mendudukkan tubuhku, dan berbalik menghadap jendela. Entah. Aku hanya tak ingin satu orang pun melihat momen kelemahanku. Beberapa menit, aku habiskan hanya dengan menatap kosong ke luar jendela, sampai kudengar bisik-bisik di luar kamarku dan suara pintu yang terbuka. Well—untung saja aku sudah menghapus air mataku terlebih dahulu tadi.

Tubuhku menegang saat kudengar bass yang beresonansi memanggil namaku, aku tak kenal itu siapa. Mungkin seorang polisi? Wajar kan kalau mereka mendatangiku, mencari informasi tentang..kejadian itu. Dan benar saja, suara itu kembali terdengar seakan menjawab pertanyaan yang baru saja muncul di kepalaku.

Mr. Michaelis. He sounds nice. Tapi lebih baik aku tak terlalu mempercayainya. After all, di dunia ini tak ada yang namanya kepercayaan bertahan dalam waktu yang lama. Semuanya lambat laun akan musnah. Aku tak mau orang yang aku sayangi pergi lagi meninggalkanku. Jadi lebih baik aku menutup diri, membangun dinding raksasa di sekitar diriku sendiri.

Butuh waktu beberapa lama sampai akhirnya aku memutuskan mengikuti kata-kata Mr. Michaelis, berbalik. Dan tepat ketika aku menoleh ke arahnya, wajahnya juga menatapku. Jujur saja—aku..kagum? Bisa dibilang begitu, kalau bukan terpesona. Matanya yang paling menarik perhatianku. Begitu intens, namun di saat bersamaan begitu jauh. Bisa kulihat rasa bangga dan percaya diri menyelimuti seluruh iris ruby-nya, persis seperti orb safirku, yang dulu.

Aku merasakan panas menjalar ke seluruh tubuhku, dan..yeah. Tak usah mengaca pun aku tahu wajahku semerah tomat. Jadi, aku segera menundukkan wajahku dan mengangguk pelan saat Mr. Michaelis menanyakan pertanyaan lain, habis—bingung. Namun kebingungan itu tak berlangsung lama saat Mr. Michaelis kembali berkata kepadaku.

Ke—kenapa harus pertanyaan itu lagi?

Dari semua pertanyaan yang bisa dipikirkan oleh manusia, kenapa pertanyaan itu? Tubuhku bergetardan bisa lebih parah sampai ke tahap kejang jika aku tidak mengendalikan kerja tubuhku. Aku menarik nafas panjang, dalam, sebelum membuka suara pelan, "A—a. Semalamm..ugh. A—ku.." Kuangkat tangan kananku ke wajah, hingga menutupi muka sebelah kananku. Dari sudut mata sebelah kiriku, aku bisa melihat Mr. Michaelis mendekat.

"Stop—a—aku..baik-baik saja. Sema—lam, eungh—Ayah, Ibu dan a—aku sedang makan malam sam—pai tiba-tiba ada tamu dan hal se—selanjutnya yang aku ingat hanya—hanya...darah..dimana-mana."

Bisa kautebak, dua patah kata terakhir Ciel ucapkan dengan perlahan.

mencatat sesuatu di notes dalam genggamannya. Ekspresi wajahnya keras, tak dapat dibaca. Jadi, aku memutuskan untuk diam dan menenangkan diriku karena lagi-lagi air mataku mengucur deras tanpa bisa dicegah. Selang beberapa detik setelah aku mengelap bekas-bekas air mataku, Mr. Michaelis angkat bicara, "Ah—maaf. Sepertinya aku membangkitkan kenangan yang tidak bagus, eh? Bisakah kau memberikan ciri-ciri dari..pembunuh orang tuamu?"

Kata terakhir, meruntuhkan pertahanan terakhirku.

"Hukk—a. Merah-yang kuingat tentang pe—pembunuh orangg—orangtuaku ha—hanya itu. Selebihnyaa—aku tak mau bi—bicara."

Cukup sudah aku menggali lebih dalam ke memori buruk tentang kejadian kemarin.

Sebastian's PoV

Hanya itu..?

Ingin rasanya Sebastian mengguncang tubuh ringkih di dihadapannya hanya agar sang bocah mau mengeluarkan beberapa patah kata lagi. Tapi—rasa-rasanya itu hal yang kurang bijak untuk dilakukan saat ini, mengingat keadaan sang Phantomhive yang tampaknya masih terguncang. Jadi, alih-alih menekan dan terus bertanya, Sebastian mendekati Ciel dan menaruh tangannya di pucuk kebiruan milik Ciel, lalu mengusapnya sambil berkata,

"Terima kasih. Aku tahu ini berat untukmu, tapi aku tahu kau bisa melaluinya. Jangan takut—mulai sekarang, aku akan melindungimu."

Sebastian terkejut atas omongannya sendiri, matanya melebar seraya mulutnya yang yang sedikit menegang. Michaelis muda ini tahu, tak baik berjanji pada orang yang baru kau kenal dan tak ada hubungannya denganmu. Tapi..setelah melihat kedua manik biru dan mendengar kalimat putus-putus dengan nada ketakutan dari Ciel Phantomhive, Sebastian merasakan tarikan yang kuat unbtuk melindungi tuan muda di depannya.

"Jika kau butuh aku, panggil saja namaku, dan aku akan langsung datang."

Nonsense.

Sebastian menghentikan usapannya pada kepala Ciel, dan mundur sedikit ke belakang. Berusaha memunculkan senyum kecil, Sebastian berujar lagi, "Ah—maaf, aku melantur ya? Sudahlah. Jangan pikirkan ucapanku, aku istirahat saja."

Sebastian baru saja ingin melangkah keluar, saat tiba-tiba didengarnya sebuah bisikan pelan keluar dari pemuda di belakangnya.

"Tidak. Tak—apa."

Hening.

Keduanya tak tahu ingin bicara apa, padahal banyak sekali yang ingin mereka utarakan. Tadinya Sebastian sempat berpikir untuk langsung menuju pintu, meneruskan pekerjaannya untuk menuntaskan kasus Phantomhive ini, namun Ciel lagi-lagi mengagetkan pemuda berusia 22 tahun ini dengan berkata, "

Ja—jangan pergi—."

Eh? Kata-kata itu sukses membuat Sebastian berbalik dan mengangkat sebelah alisnya yang otomatis menaikkan seluruh darah Ciel mengalir menuju pipinya yang kini memerah. Ciel menunduk, tetapi melanjutkan kata-katanya yang menggantung di udara,

"Te—temani aku. Hanya sampai aku tertidur. Ku—kumohon.."

Dilihatnya Ciel masih menunduk, saat Sebastian menjauhi pintu kayu di depannya dan berbalik melangkah mendekati Ciel. Sebuah tawa renyah meluncur dari bibir Sebastian, mengusap kepala sang Phantomhive sekali lagi, Sebastian berujar, "Baiklah, my lord."

Dan kini semburat merah itu mewarnai pipi pucat milik Sebastian juga.

[Unknown, 01.25 PM]

Lilin-lilin yang tinggal setengah, menyala menerangi ruangan gelap tersebut secara samar. Sosok berjubah hitam yang duduk di sebuah kursi tinggi memandang ke bawahnya, ke arah sosok berjubah lain yang tengah membungkuk. Seringai timpang muncul di wajah sang superior saat sosok itu bertanya,

"Sudah?"

"Sudah kukerjakan. Satu kepala, satu dada."

Tawa kejam meluncur dari sosok tersebut, mengindikasikan kepuasannya atas pekerjaan yang telah diselesaikan. Akibat gerakannya yang sedikit berlebihan tersebut, tudung jubahnya terbuka, menampakkan wujud asli oknum tersebut.

Sosok dengan wajah pucat dan surai merah.

To be continued.

Haa~~ tumben saya bisa update cepet. Soalnya RW lagi ga hectic hectic amat sih :D

Jangan lupa Review-nya yaaaa.