Disclaimer: I do not own Kuroshitsuji. Enough said.

Warnings: Fail attempt at mystery and description on the case. A lot of typos and mistakes. I'm human, duh.

Rating: T. Belom kuat iman nulis lemon.

[Harley Hospital, 01.43 pm]

Engh?

Sedari tadi hanya kegelapan yang mengerumungi Phantomhive muda yang masih terbaring di tempat tidur dengan seprai putih monoton. Dadanya yang dilapisi oleh baju tidur berwarna biru langit naik turun seirama dengan tarikan nafasnya yang lembut. Sementara iris safirnya tertutup di balik kelopak matanya yang berfungsi sebagai selimut, seakan tak rela mengekspos warna yang begitu indah.

Singkatnya, Ciel tampak seperti malaikat yang jatuh ke bumi. Terlalu murni untuk dikotori oleh tangan dunia.

Sebastian yang duduk di kursi di sebelah tempat tidur Ciel, sekali lagi menengok ke arah pergelangan tangan kanannya. Jam 2 kurang. Ia telat datang ke pertemuan yang diselenggarakan jam 12 tadi, kalau mau datang sekarang..sama saja bohong. Lagipula Sebastian cukup senang berada di sini. Tenang dan damai. Belum lagi melihat wajah Phantomhive di sebelahnya. Rasa-rasanya Sebastian bisa menonton Ciel selamanya.

Walaupun Sebastian tahu itu tak akan mungkin. Mereka baru kenal satu sama lain akhir akhir ini, dan kemungkinan besar hubungan mereka akan berakhir ketika kasus Phantomhive terpecahkan.

Satu hal lagi, forever is a lie. And Sebastian Michaelis detests a lie.

Manik cokelat kemerahan milik Sebastian bergulir kini hingga sampai ke tangan kanan Ciel yang berhiaskan selang infus. Di jemari lentik milik Ciel juga terdapat sebuah cincin dengan batu safir diatasnya. Sejak..kapan? Sebastian meraih folder yang berada di tasnya lalu dibukanya file itu satu persatu. Irisnya melebar—setelah melihat dengan seksama, cincin itu ternyata milik Vincent Phantomhive, ayah dari Ciel. Pantas saja rasa-rasanya Sebastian pernah melihatnya.

Saat Sebastian pergi ke ruang otopsi, Sebastian yakin bahwa cincin itu sudah diberikan ke divisi lain untuk ditindak lanjuti. Sebastian melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, cincin itu sedang di proses. Tapi—kenapa sekarang cincin ini malah melingkar manis di ibu jari Ciel? Ingatannya melayang ke kejadian tadi pagi saat Tanaka meneleponnya.

Ruang 313 dan helai merah.

Tentu saja tak membutuhkan orang bodoh untuk menyambungkan kedua hal yang berlainan itu. Pasti sang Pembunuh-Penyusup yang tadi pagi mendatangi Ciel yang memberikan Ciel cincin ini—tapi, seperti yang tadi Sebastian bilang, cincin itu merupakan barang bukti dan telah tersegel dengan aman dalam berkas Phantomhive di markas kepolisian.

Cuma satu jawaban yang masuk akal bagi Sebastian. Oknum yang bertanggung jawab dibalik semua ini adalah orang dalam kepolisian.

Sebastian bangkit dari tempat duduknya, dan sambil menggenggam folder di tangannya, Sebastian melenggang keluar, dengan raut wajah kusam dan tegang.

[Police Dept. 02.13 PM]

Tanaka kembali menghela napas panjang sambil duduk di kursi ruang kantornya. Manik kelabunya yang semakin pudar dimakan usia kembali menemukan jalannya menuju folder folder yang bertumpuk rapi di mejanya. Kasus lagi, kasus pembunuhan lebih tepatnya. Seorang pria yang diawasi oleh pihak kepolisian sebagai pengedar narkoba ditemukan terbunuh dengan keadaan yang mengenaskan. Dilihat dari luka-luka korban dan bersihnya pembunuhan tersebut, bisa dipastikan ini adalah ulah mafia besar, bukan geng geng jalanan kecil.

Kau tahu kan betapa susahnya menangkap basah sebuah jaringan mafia?

Belum sempat melakukan apa-apa, tiba-tiba pintu kantornya terdobrak sehingga membuka lebar, menampakkan Sebastian Michaelis yang terengah-engah. Sekali lagi Tanaka dibuat kaget, saat Michaelis muda itu langsung duduk di kursi di depannya tanpa dipersilahkan. Namun alih-alih mencecar dan melancarkan pertanyaan ke Sebastian, Tanaka hanya diam saja sampai Sebastian dapat mengatur napasnya kembali.

Hening beberapa saat sampai akhirnya manik merah Sebastian mengintip dari balik juntaian poni menuju orb abu-abu milik Tanaka dan Sebastian mulai berbicara,

"Tanaka, sir, kau tahu kan bahwa pelaku kasus ini—"

Sebastian menaruh folder yang ia pegang di atas meja. Menatap Tanaka kembali sebelum melanjutkan kata-katanya,

"a—adalah orang dalam?" lanjut Sebastian tak yakin.

Dan alis Tanaka terangkat.

"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"

Kali ini giliran Sebastian yang memandang tidak percaya.

"Kau tak tahu—ayolah, Sir! Kalau kau sempat mengunjungi Ciel pagi ini kau pasti melihat cincin yang melingkar di ibu jarinya sama dengan cincin yang ada di mayat Vincent, yang sudah diserahkan dan disimpan sebagai bukti."

"Lalu—oh, ya. Kenapa cincin itu bisa ada di tangan Ciel?"

Sebastian hanya diam, pandangannya ia alihkan ke jendala di belakang Tanaka yang masih bingung sendiri. Tiba-tiba, memorinya kembali lagi pada surai merah yang ia temukan tadi pagi. Dan tanpa kata lagi, Sebastian bangkit dan pergi menuju lab forensik.

[Forensic Lab]

Sebuah sosok dengan rambut panjang berkilau itu hanya diam sambil memandangi tubuh tanpa sehelai benang pun dihadapannya yang telah terbuka dan menampakkan organ bagian dalam manusia yang berwarna merah muda. Tidak—tak ada darah segar satupun, yang ada hanya percik darah yang sudah mengering. Sosok ini terus saja mengamati sambil sesekali mengorek salah satu organ tersebut dengan pisau di tangannya sampai tiba-tiba pintu di belakangnya berderit, membuat oknum ini membalik dan menatap penganggu yang datang ke sarangnya.

"Michaelis. Haa~~ Apa yang membuatmu datang kesini, hihi?"

"Undertaker."

Sebastian hanya mengangguk kecil sambil memfokuskan maniknya ke tubuh di atas meja operasi tersebut. "Phantomhive?" tanyanya sambil berjalan masuk mendekati tubuh kaku yang dulunya milik Vincent Phantomhive. "Untuk apa dikeluarkan lagi? Bukankah kau sudah selesai memeriksanya?"

Respon yang Sebastian terima hanya kikikan kecil dari Undertaker.

"Omong-omong, ketika kau membedah tubuh ini, semua aksesori yang Vincent Phantomhive pakai dan kenakan sudah kau berikan semua pada bagian pendataan kan?"

Kali ini, Undertaker bukannya mengikik malah menengok ke arah Sebastian dengan matanya yang tertutup poni dengan warna perak khas Undertaker. Sebuah kikikan terlepas dari bibirnya sebelum Undertaker menjawab dengan kalimat penuh,

"Oh, why tentu saja, hihi. Kau bisa tanya ke Maylene atau bahkan Sir Tanaka sekalian. Hihi, now Sebastian if its okay with you, i'll excuse myself." ujar Undertaker sambil berlalu.

Sebastian kembali berjalan menyusuri lorong di departemen kepolisian yang bermarkas di jantung New York ini. Tadinya, pemuda dengan rambut hitam pekat ini ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak dalam kantornya yang dingin, namun apa daya. Belum sampai Sebastian ke kantornya, tiba-tiba jalannya telah dihadang oleh sesosok makhluk yang sering membuat dahinya berdenyut karena pusing.

"Sebby—""

Grell.

"—kau darimana saja! Aku merindukanmu~~!"

Sutcliffe

Ingin rasanya Sebastian pergi ke neraka lalu kembali ke dunia hanya untuk menghindari pemuda dengan surai merah panjang ini. Lihat saja penampilannya yang serba merah—mulai dari warna rambut sampai aksesori yang ia pakai membutakan mata sejenak. Belum lagi kelakuannya yang seenaknya memanggil Sebastian dengan beragam nama yang ia ciptakan sendiri. Dalam definisi Sebastian, Grell sama dengan menyusahkan.

"Apa?" ujar Sebastian datar.

Namun Grell tak menyerah,

"Uuuh Sebby—dinginnya! Ah, aku tahu! Kau pasti ingin menjadi pangeran es untukku kan? Kyaaaaaa! Romantisnya! Kau tahu Sebby aku—"

"Tidak, aku tidak ingin tahu."

"Benar kau tidak ingin tahu? Kalau begitu hasil dari rambut yang kau temukan di tkp ke dua ku kembalikan saja ke lab."

Kalau yang itu baru mendapat perhatian penuh Sebastian.

Dalam waktu yang instan, Sebastian sudah berada di samping Grell dan mengambil berkas berwarna kuning dari tangan Grell. Iris cokelat pekatnya membulat sesaat sebelum memicing ke arah Grell yang masih senyam senyum saja di sebelah Sebastian.

"Grell—apa maksud dari invalid ini?"

Rahang dan wajah Sebastian menegang. Grell sih tetap tidak takut, baginya Sebastian sedang melakukan apapun dan mengenakan ekspresi apapun tetap terlihat paling tampan di wajahnya. Nyengir lebar sekali lagi sambil mengibas ke belakang surai merahnya, Grell berkata,

"Oh—Sebby-chan! Kau tidak mengerti ya? Ckck tak kusangka Sebby-chan. Invalid itu tandanya tidak ada orang yang memilik rambut ini, dan aku juga sudah cek kok kalau rambut ini di cat atau tidak, dan ternyata ini rambut asli lho. Huff—padahal aku suka dengan warnanya. Merah seperti warna rambutku. Kau juga suka kan Sebby—"

Dan kembali hari Sebastian di penuhi dengan ocehan makhluk Tuhan yang ahli dalam membuat hari Sebastian semakin buruk.

[Harley Hospital, Ciel's room]

"Bisa kau ceritakan—kami mohon, ciri-ciri...orang yang menyusup ke rumahmu pada malam itu?"

Ciel hanya kembali menghela napas berat sambil terus menunduk. Helai keabuan miliknya yang identik dengan milik sang Ayah terjatuh hingga menutupi orb safir yang kini bercahaya karena air mata yang tertahan. Dengan satu tarikan nafas dalam, Ciel berbicara pelan dengan suaranya yang sedikit serak,

"Sudah ku—kubilang kan ke—kepada Mr. Michaelis wa—waktu itu."

Selebihnya, mereka tak mendapatkan apapun.

"Kalau begitu, bagaimana dengan orang yang mengujungimu pada pagi pertama kau dimasukkan ke sini. Apakah—"

"Aku lelah, bisakah kalian keluar?"

Kedua sosok yang sedari tadi menginterogasi satu-satunya Phantomhive yang tersisa hanya mengangguk sambil membereskan barang mereka yang berupa notes, alat tulis dan perekam suara. Dengan anggukkan kecil, kedua sosok tegap itu keluar, seiring dengan hembusan napas Ciel yang sekali lagi terdengar.

Ciel tak pernah tahu prosedur kepolisian seperti ini bisa sangat melelahkan.

Memposisikan tubuhnya menjadi tidur kembali, Ciel mulai tenggelam dalam masa lalu saat dirinya masih bocah yang masih tak peduli apa itu dosa, apa itu kaya dan uang. Yang ia tahu hanya Dad, Mum dan Sebastian. Anjingnya yang telah lama mati.

Funny—kali ini Sebastian lain muncul dalam hidupnya. Reinkarnasikah?

Ciel tak pernah percaya akan kehadiran seseorang di atas sana semenjak kejadian beberapa hari yang lalu. Dimana dia saat Ciel memohon supaya kedua nyawa orangtuanya diselamatkan? Dimana dia saat Ciel sendiri sudah tak takin akan keeksistensiannya? Sudahlah, tak penting. Phantomhive muda ini memejamkan matanya kembali, membuat kelopak mata menyelimuti maniknya yang sebiru lautan, menenggelamkannya dalam kegelapan.

[Police Dept.]

Terburu-buru, lagi.

Sebastian hanya mendecih kesal sambil sesekali mengumpat kata-kata kesar di sela tarikan napasnya. Kenapa tak ada yang bilang padanya bahwa perundingan kasus Phantomhive akan sgera di mulai? Michaelis yang satu ini setengah berlari sampai tikungan, dan baru berhenti ketika sebuah ruang kaca yang telah diisi beberapa orang masuk ke dalam pandangannya.

Fuh, untung saja belum dimulai.

Menganggukkan kepala sambil memberi salam untuk sekedar formalitas, Sebastian mengambil tempatnya di antara Finnian dan Grell, dan sekali lagi mengangguk ke arah Tanaka yang berada di ujung, tepat di depan layar monitor sebesar papan tulis yang biasa mereka gunakan. Bukti-bukti mulai dikeluarkan satu-persatu.

Kini mereka sudah siap.

Selang beberapa menit hanya ada gumaman yang berisikan asumsi, pernyataan dan tebakan saja. Sebastian yang tengah larut dalam pikirannya tiba-tiba menengok karena rusuknya didikut oleh seseorang, Finnian. Sebelah alis Sebastian terangkat, "Sebastian! Kau masih ingat tidak dengan percikan darah ini?" tunjuk Finnian pada sebuah foto yang berisikan dinding dipenuhi cipratan darah.

Oh tentu saja.

"—aku tahu kenapa bisa terciprat! Tadi malam aku datang lagi ke rumah Phantomhive dan aku menemukan banyak sekali lalat, mereka beterbangan di atas darah tersebut, hinggap sebentar lalu menempel ke dinding."

Masuk akal, tapi Sebastian menemukan satu kejanggalan.

"Kalau begitu, itu darah siapa? Bukankah darah akan mengental dalam selang waktu 30 menit? Tapi saat kita datang ke sana, darah itu masih cair.."

Sontak semua kepala di ruangan itu menoleh ke arah Sebastian. Seorang gadis dengan rambut kemerahan dan kacamata tebal, Maylene, membuka suara, "Ah—ya, benar juga. Sudahkah kau periksa darah tersebut, Grell?" ujar Maylene sambil menengok ke arah sosok dengan rambut merah lain di ruangan tersebut.

"Baru saja selesai—" Grell membuka berkas di tangannya, "—uhm, Angelina Durless."

Alis Sebastian terangkat, dan mimik bingung terpancar dari wajah semua peserta dalam ruangan tersebut.

"Dan siapa Durless itu?" ucap Tanaka.

Grell membuka halaman pertama dari file di tangannya, "Angelina Durless atau yang lebih dikenal dengan Madam Red. Adik dari Rachel Phantomhive, bibi dari Ciel Phantomhive. Tidak ada konfirmasi dari pihak keluarga ataupun staff rumahnya bahwa ia hilang. Juga tidak ada catatan kriminal apapun, dalam kata lain, ia bersih." Grell menyelesaikan ucapannya, sambil menutup berkas tersebut.

Beberapa saat, ruangan tersebut bersih dari suara sedikitpun. Sampai akhirnya, Sebastian memutuskan untuk berpaling menuju pintu keluar.

"Well, i guess it's time to pay a visit to Angelina Durless's place."