ONE PIECE

DESERT RAINSTORM

Chapter 2

Pairing: Luffy x Vivi, Kohza x Vivi

Disclaimer: Oda-kun #plakk (digampar gara2 sok seumur)

A/N: Emm, apa ya... Oh, Luffy biarpun lebih dewasa, hehe, dia tetep konyol 'kok. Oh, enjoy juga interaksi Zoro, Nami, Sanji, dan Robin di sini. No pairing intended 'kok.

enjoy


Mata Luffy menerawang langit biru terik di atasnya. Kedua tangannya di belakang kepala, dan yang paling mengejutkan adalah dia berjalan santai seperti ini di tengah gersangnya padang pasir. Dua pedagang yang menuju Alubarna menawarkan satu ekor unta secara cuma-cuma untuk ditunggangi, namun melirikpun tidak; Luffy terus saja melangkahkan kakinya dengan hening. Penasaran dengan kondisi Luffy, dua pedagang itu mengatakan padanya kalau unta itu benar-benar ikhlas dipinjamkan mereka. Dan mereka hanya meminta untuk meletakkannya saja di kandangnya di Nanohana. Tapi Luffy membalikkan wajahnya dan berkata 'Tidak apa. Panas seperti ini bukan masalah besar buatku.' Dia kembali berjalan, dan meninggalkan kedua orang tersebut dengan raut yang meng-iba; takut-takut si bocah memakan stroberi padang pasir dan mengalami halusinasi.

"Luffy-san… ini suamiku." himbau Vivi dari ingatan Luffy. Suaranya terdengar begitu ceria, dan raut itu… bahagia sekali.

Luffy kini merundukkan kepalanya, dan bergumam kecil. "Suami itu… bukannya yang akan menemani perempuan seumur hidup mereka?" si bajak laut menggelengkan kepalanya; lalu memegangi bajunya pada bagian dada.

Sekali lagi dia mengangkat kepala hanya untuk disambut oleh ganasnya sinar matahari Arabasta yang membuat matanya sedikit berair…

-o0o-

Zoro berjalan memasuki bar yang ramai dari arah pintu masuk; dan lihat, dia kini sudah mengenakan pakaian padang pasirnya seperti dulu. Si koki pasti akan menertawakannya lagi; dengan penampilannya yang bak rampok padang pasir seperti ini. Oh, tapi lihatlah si mesum itu, pikir Zoro, jijik, pakaiannya benar-benar seperti warga kota baik-baik. "Dasar sial, dia memang sengaja memilihkan baju kami semua…" umpatnya pelan.

Zoro menelan gumpalan di tenggorokannya ketika melihat Robin yang duduk dengan tenang di salah satu kursi dari meja yang telah dipesankan Sanji. Si wanita kegelapan itu mengenakan pakaian penari Arabasta yang si keparat itu pilihkan! Yang benar saja, pikir si pendekar kritis! Dia mau membunuh semua orang di bar ini apa?

"Zoro," buka si wanita.

"…Robin, mana yang lain?" tanya Zoro, tidak menatap wanita itu sedikitpun.

Robin memberikan senyuman mischief favoritnya. "Fufufu, kalau kau mencari lelaki, mereka sedang bermain games di ruangan sebelah. Kalau Nami dan Sanji…" Robin mengalihkan wajahnya ke bagian reservation. "Nami sedang merayu pemilik hotel, dan Sanji… fufufu, menari seperti biasa di sebelahnya."

Zoro mengutuk keras tingkah Sanji di sebelah Nami itu. "…Dasar tidak tahu malu…" umpatnya emosi setengah mati, namun mengeluarkan rona merah embarrassment melihat hal itu. "…Akan kubunuh pria tak tahu malu itu,"

"Kau mau kemana?" lanjut tanya Robin.

"Memesan bir, bukan urusanmu!"

"Fufufu, kau punya berry?"

Zoro hanya terpaku di tempatnya, seolah berpikir dan menggeram. Dia lalu duduk di meja bartender, sambil mengumpat lagi. "Master… air putih."

xxx

Akhirnya Luffy sampai di Nanohana, dan melihat seluruh aktifitas yang begitu ramai di mukanya. Unta-unta berlalu lalang, dan beberapa bebek kendara (seperti Karu)'pun ikut melintasi Luffy.

Sesekali Luffy melihat-lihat seisi kedai yang berhamburan di jalanan utama, dan tidak sekali juga dia mencicipi daging bakar khas Nanohana. Hmm, dibakar terbalik, ujar Luffy, menjilati bibirnya. Bajak laut itu mengeluarkan 10 berry dari kantungnya, dan mencicipi satu potong daging tersebut. "Mwaa, enaknya!" serunya, dengan air liur berserakan kemana-mana. "Paman, aku minta 10 potong, ya!"

xxx

"Terracota, aku pakai gaun yang mana, ya?" tanya Vivi kepada istri Igaram itu.

"Hohoho, sudah lama sekali aku tidak melihat nona begitu bersemangat seperti ini." sontak balik wanita tersebut, sambil ikut memilihkan gaun-gaun cantik dari dalam almari untuk sang Ratu. "Pasti menyenangkan, ya nona Vivi?"

Sang Ratu membalikkan tubuhnya, dan memberikan Terracota senyuman yang luar biasa gemilang. Vivi lalu memegang kedua tangan wanita itu. "Oh, Terracota, aku benar-benar tidak sabar bertemu dengan mereka semua." sontaknya, melonjak-lonjak kecil.

"Asal jangan tersangkut lagi saja di gaunmu, Vivi." sambut Kohza dari arah pintu dress room kerajaan.

Kali ini Vivi membalikkan wajahnya dengan raut merah memberang kepada suaminya. "Kohza, itu 'kan dulu! Dan kau benar-benar tidak sopan memasuki kamar selagi aku berganti pakaian?" Vivi menolakkan kedua tangan ke pinggangnya, dan mencebil ke suaminya.

Kohza melihat tubuh Vivi yang berlekuk dengan lingerie berwarna merah muda pucat terpasang dengan sangat apik pada tempatnya. Kohza hanya tergelak kecil, dan meminta maaf. "Aku hanya cemas kau akan merepotkan Terracota lagi, sayang." sahutnya, mendekatkan diri kepada Vivi.

"Oh, sama sekali tidak, tuan Kohza," sahut Terracota.

Hingga cukup dekat, Kohza merangkul tubuh Vivi dari belakang dan mencium sisi leher sebelah kanan si gadis. "Lihat dirimu," ujarnya, seraya mengarahkan Vivi ke cermin di depanya. "Siapa yang sangka gadis tomboy itu tumbuh secantik ini… di dalam pelukanku, yang paling penting."

Vivi merona. Ia mengalihkan muka dari tatapan sang suami, namun ia nampak begitu ingin membela dirinya sendiri. Naluri sedari kecil, rupanya. "Dan, coba lihat siapa yang berbicara demikian; ketua kelompok berandalan cilik?" ejeknya.

Kohza, Vivi, dan Teracota 'pun tertawa bersama.

Drap, drap, drap. Ah, langkah kaki ini, batin Vivi. Pasti Igaram. "Kohza!" sorak kepala pengawal itu.

Igaram memasuki kamar dengan langkah berderap bak ksatria gagah, dan menggetok kening Kohza dengan sisi tangan kanannya. Igaram nampak puas mendengar pekikan kecil si calon Raja Arabasta tersebut. "Itu sakit, Igaram…"

"Kau tidak pernah berubah, Kohza! Coba kau lihat sedang apa nona Vivi sekarang!" serunya, melirik ke Vivi. Dia ternganga. "Aa…" ujarnya, cukup panjang dan… melongo melihat tubuh berlekuk Vivi. "Aa…"

Drap, drap, drap. Oh, satu lagi derap kaki yang terburu-buru ini… pasti milik ayah, batin Vivi lagi.

"Kohza! Igaram!" serunya dari pintu, dan langsung berjalan masuk dengan terburu-buru bagaikan gerombolan singa yang mengejar mangsa.

Begitu dekat dengan mereka berdua, sang Raja juga melancarkan serangan kedua sisi tangan ke kening dua pria tersebut. Mendengar rintihan Kohza dan Igaram, raja Cobra melanjutkan kata-katanya dengan puas. "Coba kalian lihat, sedang apa Vivi sekarang!" ia mengalihkan pandangan pada Vivi, dan sedihnya… ternganga juga. "Aa… ehhm,"

Terracota hanya bisa menepuk wajah, dan menyeretkan telapaknya di sana. "Oh, Tuhan." ujarnya. "Nona Vivi, kupikir seluruh gaun sangat cocok denganmu. 'Nah, persilahkan aku menyeret pria-pria memalukan ini dari kamarmu, ya. Silahkan gunakan waktumu sepuasmu, nona." usai Terracota, menarik kuping ketiga pria itu, dan menyeret mereka semua dari kamar.

Di luar kamar, Chaka dan Pell rupanya mendengar ribut-ribut dan tidak sengaja menemukan tiga pria itu diseret Terracota keluar kamar. "Er, Pell, aku pikir negeri kita ini tidak akan apa-apa dipimpin oleh nona Vivi seorang…"

Pell menggaruk pipinya dengan satu jari, mendengar pernyataan Chaka barusan. "…Setuju."

xxx

Luffy menghabiskan sembilan potong daging itu dengan kilat sambil menikmati window shopping di sekitar pusat perbelanjaan kota Nanohana. Ada baju-baju khas negeri ini, ada juga yang menjual berbagai macam aksesoris seperti gelang, kalung, anting, dan cincin dengan desain yang unik-unik. Luffy berjongkok di depan kedai perhiasan itu, dan melihat-lihat benda-benda berkilau itu dengan seksama.

"Hei, 'dik, kau suka? Ayo silahkan pilih!" seru si pedagang berjanggut lebat itu. "Cocok untuk teman, keluarga, dan pacar."

"Oo…" ujar Luffy, pendek. "Ini permata semua ya, paman?" lanjut tanyanya.

"Kau akan terkejut kalau permata-permata seperti safir, jamrud, dan rubi sangat mudah ditemukan di reruntuhan-reruntuhan di seluruh penjuru padang pasir negeri ini. Jujur saja, sebagai seorang pedagang yang dibutuhkan adalah sedikit usaha keras, dan metode rahasia penjualan. Hahahaha." ujar pedagang tersebut panjang lebar, begitu bangga akan koleksi-koleksinya.

"Oo…" sambut Luffy, pendek lagi. Ketika si pedagang menoleh ke calon pembeli lain, Luffy mengendus-enduskan cincin rubi di tangannya. Setelah itu, Luffy menjilat, dan menggigit permata pada cincin itu…

"Oi!" pedagang tersebut memberang dan memukul kepala Luffy dengan megaphone tradisional yang terbuat dari karton di tangannya. "Kenapa kau gigit-gigit, bocah!" omelnya, dengan raut angry comic.

Luffy, masih menjulurkan lidahnya, berkata "Ternyata asli, paman,"

Pedagang itu menyilangkan tangannya di depan dada, dan menghembuskan napasnya dengan congkak dan emosi. "Tentu saja. Pedagang Arabasta adalah pedagang paling jujur di seluruh penjuru bumi!"

Luffy tersenyum lebar. "Kau menarik, paman."

"Ops, maaf, aku sudah punya istri."

"Ya, dan kau sekaligus bodoh." potong Luffy, masih menyengir.

Pelipis bawah mata kanan pedagang itu bergerak-gerak, menahan emosinya. Namun dia berusaha berjiwa besar, dan menghela napasnya lagi. "Hei, bocah, kau bukan penduduk asli Arabasta, 'kan?"

"Iya. Aku cuma datang untuk menemui Vivi." jawab Luffy, spontan. Dia meletakkan gelang rubi itu, dan lantas mengambil satu cincin lain yang cukup menyita perhatiannya.

"Oh, Vivi, ya…?" lanjut si pedagang, meraba-raba janggutnya. "T-t-tunggu! V-Vivi… Yang Mulia ratu!"

"iya." ujar balik Luffy, masih memain-mainkan perhiasan itu di tangannya dan kemudian menerawangnya ke langit. "Yang Ratu itu… 'Wah, yang satu ini lucu juga. Warnanya bisa berubah-ubah!"

Ingus si pedagang meleber turun. "S-santai sekali kau, bocah… ehhm, kalo aku boleh tahu, kau ini siapanya Ratu?"

Kelihatan begitu penasaran dengan batu tujuh warna itu, si bocah sampai memutar-mutar badannya selagi berjongkok untuk menerawangkan cincin itu ke langit yang terik. Baru setelah mendapatkan posisi yang pas, ia menjawab, "Aku 'nakama'nya; Luffy… Monkey D. Luffy."

Jantung si pedagang seperti terceplak langsung di dadanya. Bola matanya juga seperti melompat keluar saat mendengar pernyataan itu. "M-m-m-memang aku sedikit curiga tadi… Codet di bawah mata kiri, dan bekas luka bakar di dada berbentuk tanda 'X', dan yang terpenting… 'topi jerami' itu." ujarnya, penuh kagum. "Ini hari yang luar biasa."

"Iya, ini hari yang luar biasa… terik." ujar Luffy, belum selesai memainkan barang unik di jari-jemarinya itu.

"Rahim?" ujar sapa seorang wanita dari dalam rumah. Rambutnya coklat sepunggung, dan mengenakan pakaian tradisional Arabasta untuk wanita pada umumnya. "Siapa itu?"

"Tuan Luffy -ini istriku, Jenna."

Luffy melihatnya sesaat, dan kembali menerawang cincin itu. "Halo, Jenna. Apa kabar?"

Si istri tiba-tiba berbisik kepada sang suami, dan si suami juga merespon dengan berbicara sedikit tentang siapakah Luffy itu sebenarnya. Akhirnya, si suami mengangguk, dan menghimbau Luffy.

"Tuan Luffy, istriku begitu tertarik untuk meramalmu dengan kartu tarot keahliannya. Tentu saja itu apabila kau tidak keberatan, pastinya."

"Kartu tarot?" terlukis ratusan tanda tanya di wajah Luffy saat ini. Dan hanya pada saat inilah yang benar-benar merebut perhatiannya dari cincin berwarna pelangi dan seluruh perhiasan-perhiasan unik itu.

xxx

"Tak kusangka kau bisa meleset dalam 'meramal', penyihir cuaca." ejek Zoro dengan cengiran congkaknya, dan lalu menenggak brandy di tangannya.

"Aku tidak bilang keliru total! Aku sudah terlalu terbiasa dengan temperatur suhu dan udara Dunia Baru; yang lebih mudah diterka seperti Grandline… malah jadi meleset." bela diri Nami, kembali memperhatikan cuaca di luar.

Sanji menghampiri Zoro, dan menyinggung paha si pendekar dengan dengkulnya berkali-kali; mengajak berkelahi. "Hoi, marimo, mumpung di luar cerah, ayo selesaikan secara jantan."

"Ergh… kau lagi—kau lagi, alis plintir! Aku tidak ingat berbicara denganmu barusan," sergah Zoro, sedikit menjauhkan diri.

"Kau menghina Nami-san, dan itu berarti kau meledekku juga!" jawabnya bengis, dengan wajah yang bengis juga. "Nee, Nami-san?"

Seketika Sanji berbalik menghadap ke Nami dengan wajah mesumnya, namun yang didapatinya adalah Nami yang menghadap ke arah berlawanan dan sedang sibuk membicarakan cuaca dengan Robin.

Si pendekar terkekeh pelan. Zoro kembali membalikkan badannya ke bartender dan memesan satu botol brandy lagi. "Kali ini kau kuampuni, marimo." ujar Sanji, memantikkan korek ke rokoknya. "Oh, ya. Tadi aku melihat marinir wanita berambut hitam itu… ia berkeliling kota sambil bergumam 'Roronoa, Roronoa…'."

Zoro menahan napasnya. Tidak mungkin, sumpah batinnya; Zoro semakin panik. "…Dan kau percaya bualanku?" potong Sanji. "Ckckck... dasar bocah." kali ini Sanji yang terkekeh kecil, meninggalkan Zoro dengan segala umpat dan wajah malunya di belakang.

xxx

"Oh, pemuda yang begitu tegar…"

Luffy mengangkat satu alis matanya, bertanya-tanya. "Kau melalui begitu banyak ini, ya…" wanita itu mengangkat satu kartu dengan gambar tengkorak bertuliskan 'XIII' di atasnya. "'Death'."

Luffy membuka mulutnya. "Sudah lama sekali. Hebat, kau bisa menebaknya, ya?"

"Aku selalu mengikuti kisahmu," sergah Rahim dari sudutan ruangan kedai kecilnya. Si istri lantas memplototinya, dan memberikan pesan melalui matanya seperti berkata 'kau lebih baik diam, atau lanjutkan saja dagangmu!'.

"Tuan Luffy," lanjut wanita separuh baya itu. "Kau ingin mengetahui masalahmu saat ini; aku sudah menyadarinya sedari tadi pertama kali bertemu pandang denganmu,"

"Boleh. Kalau bibi tidak keberatan."

"Silahkan diperhatikan; kalau kartu 'Death' yang melambangkan 'perjalanan lampau'mu ini kuletakkan ke dek paling bawah, satu kartu teratas berikutnya akan memberitahukan 'kisahmu' yang berikutnya." ujar wanita tersebut, tersenyum dan bersiap mengangkat kartu berikutnya. "'Lovers'."

"Hoo…" lanjut gubris Rahim. Dia memain-mainkan janggutnya dengan penuh rasa penasaran terhadap bocah di depannya. "Sang Raja bajak laut memiliki masalah cinta!" serunya, sedikit terbawa suasana.

"Aa… mm, lalu?" tanya Luffy, menggaruk kepalanya. Tidak mengerti, pastinya. Luffy tetaplah Luffy, bagaimanapun juga.

"Kau sedang jatuh hati dengan seseorang." wanita tersebut memberikan sebuah senyuman dewasa pada Luffy. "Siapa?"

"Eh?"

"Kepada siapa kau jatuh hati, tuan Luffy si topi jerami?" tanya Karim, mewakilkan istrinya. "Nami si kucing maling? Nico Robin si anak kegelapan?"

Luffy menyentuhkan satu jari ke keningnya, dan berpikir menghadap langit-langit. "A—ku tidak yakin kalau itu Nami dan Robin, tapi,"

"Kami hanya berharap dapat membantu sang Raja bajak laut semampu kami-" lanjut sang istri. "-Hanya itu tujuan kami. Kami tidak akan memanfaatkanmu sedikitpun, tuan Luffy. Tentu saja kalau kau sedang tidak buru-buru menuju satu tempat,"

"Aku tidak tahu… tapi, Vivi," ujar Luffy, ragu-ragu. "Aku merasa ada yang aneh di dadaku saat melihat Vivi lagi…"

Si istri menutup mulutnya dengan satu tangannya; nampak sangat terkejut. Tangan lainnya masih memegang satu deck tarot dengan rapih. "K-kau sudah tahu bukan, tuan Luffy? Yang mulia Ratu sudah resmi menikah…"

Luffy menurunkan kepalanya dan menatap pasangan tersebut satu persatu. Dia lalu merunduk, menatap lantai dan tumpukan tarot itu. "…Iya. Aku sudah dengar dari Vivi tadi."

"Sayang," si suami menghampiri Jenna. Dia berlutut di dekat si istri dan mengusap punggungnya. "Topi jerami Luffy," lanjut Rahim, menatap Luffy dan menghirup napas panjang. "Sudah saatnya kami jujur, kupikir."

"…Iya, kupikir ada yang aneh dengan kalian. Kalian siapa sebenarnya?" tanya Luffy, akhirnya. Wajahnya diangkat dan ia mulai menatapi wajah mereka dengan lebih teliti lagi.

"Luffy si topi jerami, kami adalah mantan bajak laut 'kapur padang pasir'. Kami asli Arabasta, dan hati kami tergerak semenjak melihat aksimu sepanjang perjalanan kalian." jelas Rahim. "Aku dan istriku cukup sukses menjadi bajak laut; kami juga memiliki puluhan anak buah yang setia. Tapi kami berhenti. Kami berhenti begitu saja, ketika kau telah menjadi Raja bajak laut."

"Jadi kau, Rahim, mengincar 'itu' juga?"

Si pria menggeleng. "Tidak. Kebebasan." Pria itu memejamkan matanya sejenak dan kemudian melanjutkan kata-katanya kembali. "Kami menginginkan hidup yang bebas; bebas bermimpi… seperti dirimu, tuan Luffy."

"Sepertiku?"

"Kau adalah manifestasi dari kata hidup yang 'bebas'! Melakukan apa yang kau ingin lakukan, dan percaya pada mimpi, dan seluruh impian yang dapat diberikan ibu alam ini!" Rahim mendadak dipenuhi akan semangat yang berapi-api. "tuan Luffy, kau adalah panutan kami." usainya, mengeratkan tangan di depan dada.

"Kenapa kalian berhenti? Kalian sudah temukan 'kebebasan' itu?" tanya Luffy, bingung.

Rahim mengangguk. Dia menunjuk dada Luffy. "Kau, tuan. Kaulah kebebasan kami—seluruh makhluk di penjuru samudera!"

Mata Luffy membesar menatap Rahim. Apa maksudnya?

"Kami mengidolakanmu, tuan Luffy." ujar Rahim, pelan.

"Biarkan kami membantumu sedikit saja." lanjut Jenna, dengan kedua mata yang berair. "Kau tidak bisa menanggung semua beban seorang diri, tuan Luffy. Itu… pasti begitu menyakitkan."

Luffy memejamkan kedua matanya, dan tersenyum seraya kembali menatap mereka berdua. "Kalian berdua orang yang terlalu baik. Aku percaya pada kalian."

"Mari kita lanjutkan, tuan Luffy." ujar Jenna. "Dua kartu teratas ini adalah apa yang harus kau lakukan sekarang; mohon diperhatikan."

"Ok, akan kucoba."

Jenna menariknya, dan memperlihatkan kedua lembar kartu itu pada Luffy. "'Tower' dan 'Hangedman', tuan Luffy."

"Baik, apa maksudnya itu, Jenna?" tanya Luffy, tapi rasa penasarannya itu di potong oleh gambar unik yang diberikan satu kartu. "Haha, yang satu itu digantung terbalik, ya!"

"Dalam sebuah permainan games petualangan, di ujung menara di langit sana pasti tersimpan harta karun yang tak tertandingi nilainya. Nona Vivi, tuan Luffy, ada di atas menara ini. Namun, takdir 'Tower' bukanlah sebuah takdir yang mudah. Kau harus mengambil begitu banyak pilihan yang mungkin akan begitu menyakitkan. Bahkan 'Tower'pun bukanlah bangunan yang kokoh. Pada zaman kuno, menara dibangun dengan landasan bahwa 'bangunan' ini ada untuk menerima serangan dari luar… dan tentu saja 'menara' bisa hancur; dari pengaruh luar, maupun dalam. Dengan kata lain, meski kau sudah berjuang, tuan, kau masih bisa gagal. Sedangkan 'Hangedman', tuan Luffy… ini mudah,"

"Mudah? Seperti apa?"

"Lupakan semuanya. Dan jalani hidupmu seperti semula—seakan tidak pernah terjadi apa-apa antara kau dengan nona Vivi; kau tidak pernah menyukai dan jatuh hati kepada nona Vivi. Dan hubungan kalian hanya sebatas teman saja; dulu, sekarang, dan untuk masa depan. Kau hidup dengan menutup matamu, demi kebaikan bersama." Jenna menutup kedua matanya. "…Mudah, tapi menyakitkan, tuan,"

Luffy terduduk, dengan bola mata yang fokus kepada wanita itu dan kartu-kartunya. Dia nampak shock. Dua pilihan yang harus dipilihnya memilii resiko yang setimpal. Luffy berpikir ia sudah berkali-kali gagal di masa lalu. Yang paling menyakitkan adalah ketika dia gagal menyelamatkan kakaknya; atau tidak, dia gagal mempertahankan kakaknya agar tetap hidup.

Kegagalan itu menyakitkan, bisik Luffy dalam hatinya.

Luffy menggelengkan kepalanya pelan, dan memantapkan keputusannya. Dia hanya tidak terbiasa berpikir terlalu dalam. Kepalanya sakit, pikirannya dan pemahamannya serasa buyar dan memburam. Luffy mengambil satu kartu dari tangan Jenna. "Aku ingin melihat 'akhir' melalui perjuangan." Dia membulatkan tekadnya untuk memanjat 'menara' itu walau berapapun tingginya, dan berusaha meraih harta karun yang ditujukan untuknya seorang.

Desert Rainstorm Continued to the next chapter 3 soon

-o0o-

NOW, that Luffy that WE knew and adores! Not the fuckin emo one :b

Next chapter, apa yang akan Luffy lakukan berikutnya di istana kerajaan, ketika melihat kemesraan Vivi dan suaminya?

xxx

Yang mau saya tulis di sini adalah... err, thanks yang udah baca. Biarpun kalian langsung cabut XD

Eniwei, kritik aja klo emang mau kritik mah, ga usah dipendem-nanti yang di bawah yang keluar. Dibanding pujian, aku lebih suka kritik dan masukan yang membangun. Kenapa, karena aku ga bakalan tau kesalahanku di mana kalo cuma dipuji. Jadi, ga usah segan ato malu. Kita belajar 'kok...

Mau itu leluconya basi, garing, ato bahkan mungkin kurang,

ato ada yang OoC, Luffy-nya? berlebihan mungkin?

xxx

Btw, mood-ku sekarang lagi pengen naek sepeda ontel 'nih (Bodo amat! hahaha.)

Thanks for reading, Shimacrow H. F. Bunansa, signed out!