ONE PIECE
DESERT RAINSTORM
Chapter 3
Pairing: Luffy x Vivi
Disclaimer: Copyright belong to Oda
A/N: Ok, without any further blabberings, let's... oh, ada yang lupa. Fic ini sudah sampai pada 150 Hits dan 80 Visitors! Woot! Keep 'em coming!
enjoy
"Kau boleh membawa cincin tujuh warna ini, tuan Luffy. Anggap ini jimat, atau oleh-oleh dari pertemuan kita; terserahmu." ujar Rahim, menyerahkan cincin yang sangat menarik perhatian Luffy tadi. "Perlu kau ketahui, tuan, seluruh dunia memiliki pandangan berbeda kepada bajak laut karena sepak terjangmu yang begitu bernilai artinya di masa lalu."
"Terima kasih… Rahim, dan Jenna juga." balas Luffy, menyadari tangannya dipaksa Rahim untuk terbuka. Pria itu menyelusupkan cincin yang sudah dirangkai dengan rangkaian tali rantai tembaga yang bersinar dalam kepalan Luffy. Sang Raja bajak laut mengangkat pandangannya. "Tapi ini bukan berarti kalian berkewajiban membantuku, bukan?"
"Tuan Luffy," Jenna memotong. "Kami berdua, dan seluruh kru kami di atas kapal 'kapur padang pasir' mengagumimu. Merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk membantumu, dan melihatmu meraih impianmu."
Rahim menyelak. "Ohoho, kami tidak akan pernah bertanya sedikitpun mengenai 'One Piece'—harta legendaris kalian, para Raja," ujarnya, memainkan kedua jarinya di udara. "Tapi impianmu yang lain ada di sini, bukan, tuan Luffy?" usai Rahim, mengedipkan matanya.
"Impianku…? maksud kalian…" Luffy ragu-ragu. Dia mengalihkan wajahnya, dan merunduk—menggenggam kalung-cincin itu dengan erat. "…Tapi, aku tidak bisa… Vivi, 'kan sudah…"
"Tuan Luffy," Jenna menempatkan satu tangannya di dada. Rautnya nampak sedikit risau, namun begitu yakin akan deteriminasinya terhadap sang Raja bajak laut. "Kami sama sekali tidak berusaha menghasutmu untuk merebut nona Vivi dari Tuan Kohza—kami sangat menghormati mereka berdua, lagipula. Tapi… kami hanya mengharapkan yang terbaik 'selalu' untukmu."
"Kau adalah sang 'Raja'!" unggah Rahim, melebarkan kedua tangannya. Dia tersenyum bangga akan pertemuannya dengan seseorang yang menggerakkan hatinya dahulu, pasca kehidupannya sebagai bajak laut di lautan. "Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan sebaiknya saat ini."
Luffy menggeleng pelan, menimbulkan ekspresi dan raut yang sedikit melemah dari wajah pasangan suami istri tersebut. "Aku tidak tahu…" ujar Luffy, pelan. "Aku tidak pernah memikirkan satu hal seperti ini dan serumit ini sebelumnya… kepalaku sakit. Tapi aku akan mencoba sebisaku," si kapten mengangkat kepalanya, dan memberikan senyuman lebarnya nan ramah. "Aku sudah bilang kalau aku akan memanjat 'menara' itu, bukan?"
Luffy berlari menuju pintu rumah. Dan tepat sebelum keluar dari kediaman Rahim yang seadanya itu, Luffy membalikkan tubuhnya. "Rahim!" serunya. "Akan kujaga baik-baik cincin ini. Dan... semoga bayi itu lahir dengan selamat, Jenna. Selamat tinggal!"
Luffy melambaikan tangannya dengan cengiran super lebar yang memperlihatkan seluruh gigi-giginya yang putih. Dia langsung berlari dengan cepat ke arah kerumunan kota, sampai akhirnya menghilang dengan cepat di keramaian pasar Nanohana.
Rahim menghampiri istrinya yang sedikit tertegun, dan menyentuhkan tangannya di perut sang istri. Meskipun Rahim tahu istrinya hamil, tapi hal spesial ini baru diketahui mereka berdua saja. Tentu saja begitu, Jenna baru mengandung selama satu bulan, dan itu belum membuat banyak perbedaan yang mencolok pada tubuhnya. "Kepekaan dan instingnya memang nomor satu… 'sang Raja' kita itu." gelak Rahim pelan di sisi Jenna.
"Memiliki sifat yang begitu hangat dan menyamankan, kurasa… Rahim, dia pasti memiliki ikatan yang kuat dengan sang puteri…!" tiba-tiba Jenna meringis nyeri. Ia kemudian menyentuh perutnya dengan lembut. "…Apa umur satu bulan itu, sudah bisa menendang, Rahim?"
tiba-tiba Rahim meledak dalam tawa. "Sang Raja memang selalu membawa 'keajaiban' kemanapun dirinya berada! Bukan begitu, Jenna?" mendengar tawa kecil sepenuh hati sang istri, pasangan itu 'pun melaksanakan aktifitas mereka sehari-hari kembali.
xxx
"Yo, cowok!"
Luffy mengangkat kepalanya ke atas satu bangunan, dan melihat rekan robotnya melambaikan tangan. "Oh, Franky!"
Luffy menjulurkan kedua tangannya dan meraih sisi pegangan teras atas bangunan itu. "Mana yang lain?" tanyanya, ketika sudah mendarat.
"Yang lain di bawah… dasar manusia karet, masuk dari lantai dua." ujar si robot, kembali menenggak cola kesukaannya dan tersenyum tidak habis pikir. Melihat Luffy yang mulai berjalan masuk ruangan di dalam, dia menghimbau si kapten. "…Bagaimana si tuan puteri, kapten?"
Tubuh Luffy seperti tersengat kejutan listrik kecil. Lucunya, dia tidak pernah merasakan kejutan 'listrik' sedikitpun sebelumnya. "Oh… Vivi baik—sehat sekali malahan!" jawab Luffy dengan intonasi riang, sambil mengangkat kedua bahunya. Walau dia tidak membalikkan badannya, Luffy tidak lupa juga memberikan tawanya yang ramah.
"Yo…" sapa Luffy, menuruni tangga lantai dua. Yang merespon paling cepat dari sapaan Luffy itu adalah Nami.
Wanita itu berlari dengan cepat ke arah Luffy, dan dengan keuletan tangan yang bagaikan kilat, kalung-cincin pemberian Rahim dan Jenna itu sudah berada di tangan si kucing maling. "Waa! Cincin yang cantik sekali!"
"Chopper," bisik si hidung panjang kepada rekan dokternya.
Rusa remaja itu menodohkan kepalanya ke atas dan bertemu pandang dengan Usopp. "Ada apa, Usopp?"
"Perkataan Nami berikutnya pasti adalah 'Boleh buatku, 'kan Luffy? Dengan garansi kecantikanku'. Semacam itulah."
Chopper menutupi mulutnya dengan kedua tangan berkuku mungilnya, seraya tertawa geli di balik itu.
"Boleh buatku, 'kan Luffy? Dengan garansi kecantikanku." rayu Nami seketika.
Di belakang, Usopp dan Chopper menepuk tangan satu sama lainnya, sambil menahan tawa geli mereka.
"Ah, Nami jangan!" seru Luffy, berusaha mengambilnya dari tangan Nami. "Itu… err, jimatku!" seru Luffy, kejar-kejaran dengan Nami. Tidak membutuhkan waktu lama bagi si manusia karet untuk mendapatkan perhiasan 'unik' miliknya kembali. Dengan segera, si kapten kembali mengalungkannya di leher. Cincin itu kembali menggantung dengan terjalin rantai tembaga mulus yang bersinar.
"Hee…" Nami memajukan wajahnya, penuh dengan ekspresi mencurigai Luffy. Ia mengusapkan tangannya pada dagu mulusnya. "Barang berharga, ya…? Kau bertemu dengan gadis cantik di jalan tadi, ya? Ayo ngaku!"
Luffy menggeleng pelan. Dia berjalan ke tengah teman-temannya, dan menenggak segelas air yang berada di meja Zoro dan Sanji. Setelah isi dari gelas itu dihabisi Luffy, ia kembali mengarahkan perhatian mereka pada rekan-rekannya. "Vivi dan ayahnya mengharapkan kehadiran kita sore ini di kediamannya. Bagaimana?"
"Bagaimana bagaimana?" tanya Usopp, Chopper, dan Brook bersamaan, heran. Khusus si tengkorak hidup, nampak sedikit bersikeras dan suaranya juga sedikit meninggi daripada dua yang lain.
"Aku bertanya, kita terima undangan itu, 'kah?" tanya balik si kapten, berusaha memperjelas. Melihat ada sedikit yang aneh pada Luffy, Sanji hanya mengangkat alis matanya.
"Luffy, kupikir tidak ada salahnya kita menerima undangan itu. Kenapa memangnya?" seakan tak ada habisnya, si wakil kapten kini bertanya balik pada kaptennya. Zoro memakukan pandangannya pada Luffy, setelah menggeletakkan satu botol brandy kosongdi depannya.
"Kecuali kau punya keputusan lain, Luffy," ujar Sanji, memainkan gelas berisi cocktail dan batu es di mejanya. Wajahnya tertutup rambut pirangnya, dan tidak menatap Luffy sedikitpun. "Hm?"
Luffy berjalan ke arah pintu keluar hotel bar itu, sambil berkata "Oke. Kalau begitu, kita sebaiknya cepat. Kalau tidak salah, Karue sudah menunggu kita di perempatan jalan di luar." tanpa basa-basi sedikitpun, keganjilan ini menciptakan buah bibir diantara para nakama.
"Ada sesuatu yang terjadi." ujar Zoro, singkat. "Apapun itu," lanjut Sanji, tak memberikan jeda sedikitpun. "Ini ada hubungannya… dengan Vivi."
"Apa maksudmu, Sanji-kun? Vivi?" tanya Nami, sedikit cemas. Zoro masih menyilangkan tangannya, nampak berpikir. Dia kemudian berdiri, dan meraih botol brandy-nya.
"…Apapun itu, kita harus melihat kondisi Luffy dulu." ujar Robin akhirnya, mengundang anggukan setuju rekan-rekan yang lain.
Mereka berjalan keluar hotel dengan Nami yang bergumam 'untuk apa aku goda pemilik hotel tadi!', sebelum satu himbauan mengalihkan perhatian Zoro dan yang lainnya. "Maaf, tuan-tuan dan nona-nona. Tapi… tuan bersorban coklat itu belum membayar empat botol brandy-nya…"
Sanji berdecak. "Terkutuklah kau, marimo." ujarnya serius dan kesal, namun terdengar sedikit tawa kecil di akhirannya.
Nami juga tertawa dari sebelah Sanji; mereka berdua keluar bersama yang lainnya.
"Wa, oi! K-kalian berdua, tunggu!" seru Zoro, kelabakan. "Aku tidak punya uang… Grr, tapi Robin bilang dia yang akan membayarkannya tadi," bisik dan kutuknya, luar biasa pelan.
xxx
Karue rupanya sudah menunggu-nunggu mereka. Tapi, tunggu. Ada yang lain dengan penampilannya kali ini. Dia mengenakan dasi! Usopp membanyol kalau dia sudah diangkat oleh Vivi dan keluarganya sebagai 'pengantar khusus dan resmi'. Yang tertawa tentu saja cuma Chopper. Melihat ekspresi Luffy yang tak bergeming sedikitpun; itu mendiamkan Usopp seketika. "Hanya pencair suasana, 'kok," elak si pinokio, yang disusul gelengan kepala dan helaan napas Zoro, Nami, dan Sanji.
"Warrk!" teriak Karue. Tubuhnya semakin besar dibanding beberapa tahun yang lalu. Dia menghampiri Luffy, dan si kapten mengelus-elus kepalanya. "Yo, Karue. Kau sehat?"
Dia mengangguk, dan sekali lagi bebek kesayangan Vivi itu berkoek. Karue nampak mencoba membimbing mereka semua keluar kota Nanohana. Chopper mengartikan perkataan Karue dengan segera. "Luffy, Karue bilang yang lain sudah menunggu di luar kota. Ayo kuantar, katanya."
Luffy tersenyum, mendengar itu. "Bagus sekali, Chopper. Ayo, Karue."
Rekan-rekan yang lain mengikuti Luffy dan Karue dari belakang. Usopp berbisik ke Robin, yang kebetulan berjalan di sebelahnya. "Robin… aku yakin, ada yang aneh dengan Luffy. Mood-nya seperti… berubah. Dia jadi dingin."
Mendengar itu, Robin tertawa kecil. "Sayangnya aku tidak bisa membantumu, Usopp. Dan, ya, aku juga merasakannya." ujar Robin, tidak melepaskan sedikitpun pandangannya dari si kapten. "Aku terus memperhatikan air mukanya sedari tadi, kau tahu…"
"Maksudmu?"
"Ya… dia nampak tidak tenang." ujar Robin, memangkukan kedua lengannya.
"Tidak tenang!" bisik Usopp, luar biasa tidak percaya akan pernyataan tersebut. "Dia jadi dingin… Luffy tiba-tiba berubah dingin, Robin."
Robin terdiam untuk beberapa saat, dan Usopp kembali berjalan dengan lurus. Sesaat kemudian Robin menghela napasnya. "…Luffy tengah berpikir. Dia… berpikir keras."
Nakama yang lain mendengarnya. Zoro hanya memejamkan matanya, sedangkan Nami memberikan Luffy tatapan iba dari belakang. Sanji berdecak dan memantikkan korek pada rokok berikutnya. "Ck… demi Tuhan." umpatnya, namun dengan suara setengah berbisik. "Dia terlalu kebiasaan menyimpan masalahnya sendiri."
Franky menggaruk kepalanya di tengah keheranan dengan tangan robot raksasanya. "Hm, aku setuju." angguknya. "Walau kelihatan ceria di luar, dia selalu tenggelam dalam benaknya sendiri terkadang. Anak itu…"
"…Aku pikir aku punya lagu untuk merubah suasana hati Luffy-san." buka Brook, walau ragu-ragu.
Mendengar itu, Usopp menghela napas dan menepuk punggung sang musisi. "Haah, Brook… maaf, tapi kupikir kini waktu yang kurang tepat untuk bernyanyi, sobat." memberikan anggukan setuju, Brook menjawab 'aku rasa juga begitu, Usopp-san'.
"Aku hanya takut… Luffy sakit," ujar Chopper, sedikit bergetar kata-katanya.
"Oh, Chopper," hibur Nami. "Aku yakin, dia tidak akan apa-apa. Oke?" mendengar itu, Chopper juga mengangguk dan merasa sedikit tenang.
"Whoaaaa, buaya yang besar!" seru Luffy tiba-tiba dari depan mereka. Matanya berkilau penuh akan kekaguman yang tak terkira. "Seperti mobil balap!" setelah berteriak, diapun berlari dan menghilang ke balik tembok dari pandangan yang lainnya.
"…Ada yang bilang kalau kita terlalu serius memikirkan hal ini?" tanya Zoro tidak habis pikir, menggaruk keningnya dengan satu jari. Mendengar pertanyaan rekan pertama Luffy tersebut, rekan-rekan lainnya hanya bisa tertawa kecil dari balik napas mereka.
"Kwarrk!" seru Karue, memperkenalkan anggota pasukan Karue-nya. "Kwarrk, kwarrk, kwaaaarrrk!"
"Karue bilang sisa dua anggota Luffy yang lain bersediakah kalau naik Formula Crocodile saj-woaaaaa! Kereeen!" sorak Chopper tiba-tiba, ketika akhirnya melihat secara utuh bentuk buaya raksasa itu. Buaya itu memiliki beberapa fitur tambahan seperti jendela tempat nantinya penumpang duduk dan mengendarai di atas kepala, dan juga ekornya yang dipasangi wind-brake—benar-benar seperti kendaraan F1 yang sebenarnya.
Kini si dokter dan si kapten berdiri bersebelahan dan menatap buaya raksasa itu penuh ketakjuban dengan mata yang bersinar bagaikan mentari.
"Hoi, hoi. Maukah kalian menghentikan itu," ujar Zoro, menepuk kepala dua rekannya tersebut. "'Nah Karue, tolong antarkan kami, ya."
"Waarrk!" Karue dan anggota lainnya memberikan hormat tanda bersedia. Anggota topi jerami-pun menaiki bebek mereka masing-masing. Luffy yang belum selesai dengan kekaguman kekanakannya diangkat satu tangan Zoro untuk menunggangi Karue. Zoro sendiri menaiki Kentauros—bebek yang kerap kali ditungganginya dulu. Masih seperti dulu, Kentauros masih menggigit satu cerutu bermerk dari Northblue, dan sesekali menghisapnya. Sanji menunggangi Cowboy, si bebek yang mengenakan topi koboi dan nampak sering mengeluarkan kerlipan dari kaca mata modisnya. "Yo, apa kabarmu, koboi?" tanya Sanji, tersenyum ramah.
Nami menunggangi Bourboun Jr, si bebek yang mengenakan topi klasik. Usopp menunggangi Stomp, bebek yang mengenakan topi di kepalanya. Chopper menunggangi Hikoichi, bebek yang mengenakan topi khas nelayan, dan Brook menunggangi Ivan X, si bebek yang paling besar. Franky dan Robin harus sedikit mengalah karena Brook benar-benar ingin menaiki salah satu bebek super cepat itu; mereka mengendari Formula Crocodile itu untuk melintasi padang pasir.
"Aah~~aku cemburu dengan Franky dan Robin," keluh kesah Luffy, memanyunkan bibirnya dari atas Karue. "Pasti keren sekali kalo naik itu…"
"Hoi, hentikan gumamanmu, Luffy. Kita berangkat." Zoro memacu Kentauros, setelah kembali menepuk kepala Luffy.
xxx
Hari sudah memberikan senjakala-nya di hadapan para topi jerami. Tapi sedikit lagi mereka sampai di Alubarna. Bebek-bebek super ini sangat bisa diandalkan. Mereka berlari dengan begitu cepat. Entah itu perasaan mereka saja atau bukan, tapi Karue dan teman-temannya memang berlari lebih cepat dari beberapa tahun lalu. Sementara itu buaya yang dinaiki Robin dan Franky juga beralri dengan kencang. Walau dengan tubuh sebesar itu, kecepatannya juga hampir sebanding dengan para bebek.
Luffy beserta Karue masih berlari di depan yang lain. Sejauh ini, Karue 'lah yang terbaik. Keseimbangan, kegesitan, dan ketangkasan membuatnya sedikit lebih baik dari bebek yang lain. Luffy memangkukan kepalanya di atas topi rajutan Karue, dan merilekskan tubuhnya di sana. Walau merasakan guncangan karena kaki Karue yang terus menabrakkan pasir untuk berlari, namun itu bukan masalah besar untuk Luffy si 'manusia karet'.
Semakin dekat mereka dengan istana kerajaan, semakin sering juga Luffy menghela napasnya.
Akhirnya, para bebek dan buaya sampai di pekarangan istana. Seluruh topi jerami turun dari 'kendaraan' mereka masing-masing, dan langsung disambut oleh dua pengawal kerajaan, Chaka dan Pell.
"Selamat datang, para anggota bajak laut topi jerami." seru mereka berdua.
"Ah, kau… pria burung yang itu, 'kan?" tanya Luffy, setelah turun dari Karue dan sedikit memerhatikan wajah Pell. "Aku ingat Vivi bilang kalau kau terkena ledakan… ng, ledakan apa waktu itu?" tanya balik si kapten.
Mendengar itu, Pell hanya memberikan tawa ramahnya. "Syukurlah aku masih diberi kesempatan hidup sekali lagi, tuan Luffy." ujarnya, membungkukkan tubuhnya. "Bisa bekerja sama denganmu membela negeri, suatu kebangaan tersendiri bagiku."
"Aa… tidak usah dipikirkan…" ujar Luffy, sedikit risih dengan situasi formil. Namun perhatiannya tidak bisa tenang sedari tadi. Dia terus celingak-celinguk ke balik Pell dan Chaka, jauh ke dalam istana sana. Apa yang membuatnya begitu risih seperti ini.
"Oh, maafkan kami, tuan Luffy." Chaka menyadari itu. "Mari, silahkan masuk, tamu-tamu terhormat kami sekalian."
Seluruh anggota berjalan serempak dan memasuki aula istana. Mereka mendapat sambutan dari seluruh pelayan, baik yang perempuan maupun pria. Tentu saja Sanji mulai keliyengan sendiri melihat begitu banyak wanita cantik di seluruh penjuru istana. "Ah, aku tidak sabar melihat betapa cantiknya tuan puteri negeri yang sangat berbahagia ini." ujarnya dengan mata berbentuk hati-yang-hanya-dirinya-yang-mampu-membuat-itu.
"Sudah mau mulai beraksi, ya, Sanji-kun?" ketus Nami, jutek dengan nada bermain-main.
"Mungkin kau akan bahagia kalau kami tinggalkan di sini, koki." susul Zoro.
"Oh, maaf saja tukang tidur. Siapa yang akan menyiapkan makanan penuh gizi untuk Nami-san dan Robin-chan nantinya, ha? Kau? Tolong, jangan membuatku tertawa sampai mengompol." respon balik Sanji… yang merupakan sinyal berkibarnya bendera peperangan.
Mereka sudah hampir adu mulut dengan ricuh, hingga satu suara lembut yang mampu mengalihkan perhatian Zoro dan membuat Sanji ternganga ketika melihat sosok yang menghimbau mereka semua.
"Vivi-chan!" seru Nami, merespon panggilan Vivi. Dengan serta merta, Nami berlari menuju gadis yang lebih muda itu dan memeluknya dengan erat di aula utama yang begitu luas diameter langit-langitnya ini.
Rambut biru yang begitu nampak lembut tertiup-tiup angin senja yang menerpa dengan kesejukan tiada duanya. Para lelaki terpaku di tempatnya, tidak terkecuali Zoro yang begitu tersadar (dengan cepat) langsung melancarkan kerongkongannya sebagai alibi.
Pakaian kemahkotaan Vivi begitu cantik dan nampak anggun. Rambutnya dibanding dibiarkan tergerai seperti saat perpisahan mereka beberapa tahun yang lalu, kini Vivi menguncir kuda-kan rambutnya seperti saat-saat petualangannya dulu bersama bajak laut topi jerami. Ratu timur tengah yang cantik dan anggun dengan rupa ayu dan bibir yang lembut nan sensual, hanya itu yang terpikir oleh para pria di kru ini.
Dibanding Sanji yang hampir meleleh menjadi bubur; yang cukup mengejutkan—dan walau luput dari perhatian rekan-rekannya, Luffy anehnya terdiam seribu bahasa menatap Vivi untuk kali keduanya hari ini. Seolah keceriaan dan keramaian sifatnya dicuri seseorang atau sesuatu dan dibawa ke suatu tempat untuk disembunyikan.
"Hoi, Luffy!" seru Sanji dari kejauhan. "Kau melamun? Ayo kemari!"
"…Iya," jawab Luffy datar, mengikuti arah Sanji menghimbaunya.
Monkey D. Luffy, pria dengan keberanian tanpa batas. Untuk satu atau dua alasan yang begitu spesifik dan saling berketerkaitan membuat nyalinya ciut seketika. Secara pribadi, dia takut akan ini. Dia tidak pernah berada di situasi seperti ini selama 22 tahun dirinya hidup. Tidak sekalipun semenjak kakeknya mambuangnya ke dalam hutan, jurang, dan bahkan menerbangkannya ke langit. Dia tidak gentar menghadapi seluruh 'siksaan-siksaan' itu. Tentu saja 'menangis' tidak dihitung.
Perut Luffy terasa meliliti figur langsingnya, dan seluruh isinya seolah dikocok oleh lambung, dimana ususnya serasa menari salsa dengan ramainya. Dia merasakan sedikit mual; ketika menyadari perasaan ini. Matanya sedikit berair oleh rasa muak.
Kenapa, batin Luffy, ketika ada satu orang yang sangat menarik perhatianku… rupanya wanita itu sudah dimiliki pria lain.
Dia bukanlah Sanji yang biasa bermain mata dengan semua gadis di seluruh penjuru dan belahan dunia. Dia juga bukan Zoro yang bisa tenang dan yakin akan keteguhan jalan Bushido-nya. Dia juga bukan Usopp yang memiliki seorang wanita yang sangat menunggunya di kampungnya.
Dia hanya seorang Luffy… pria polos yang tidak pernah mengenal rasa 'ketertarikan' terhadap lawan jenisnya sebelum ini. Siapa itu wanita? Atau lebih tepatnya… Apa itu wanita?
Dia melihat segalanya dengan sudut pandang yang 'seimbang'. Ia memanjakan pandangan dari sudut dan seluruh sisi matanya bahwa semua yang ada di dunia ini berada dalam satu equilibrium yang seimbang dan tidak berbeda sama sekali. Itulah yang membuatnya begitu dekat dengan seluruh orang di dunia; dari orang yang mengaguminya, tertarik, dan bahkan sampai para wanita yang dibuat jatuh cinta tanpa disadarinya sedikitpun.
Luffy berjalan di dalam pusaran pikiran tak berujung benaknya. Di ujung meja makan, dia melihat sosok Vivi dan Kohza yang duduk bersebelahan, dan beberapa pandang mata yang menatapnya. Vivi dan Kohza dengan tatapan penuh akan harapan akan kehadiran mereka semua; tatapan tak beremosi nan tenang Zoro pada Luffy; sampai sisi pandang Sanji yang sedikit mengerutkan keningnya ketika menatap Luffy.
Luffy hanya mencuatkan senyuman lebar tak terkalahkannya, dan memberikan kilau serta daya tarik wajah innocent-nya pada mereka semua yang ada di aula makan ini. "Hai, Vivi."
Desert Rainstorm Continued to the next chapter 4 soon
-o0o-
Luffy tetap polos, tapi maukah kalian mengampuninya? Karena bagaimanapun juga dia hanyalah seorang remaja/pria yang memiliki harapan tinggi akan impian dan petualangannya. Mengingat dia mengalami masa kanak-kanak yang cukup keras, seperti pelatihan dengan Garp, dia mungkin agak sulit berkenalan dengan gadis seumurannya.
Di sini aku cuma berniat membuat Luffy nampak seperti sebagaimana Luffy adanya jika berurusan dengan wanita dan sadar akan keberadaan 'mereka' yang berbeda dengan pria.
Aku ga bakalan nulis di sinikenapa aku begitu meng-adore-kan pairing LuVi ini, karena itu gak bakalan ada habisnya-belum lagi para fans pairing lain. Tapi aku cuma menulis apa yang ingin aku tulis. Dengan gayaku, yang terpenting. PM selalu terbuka, dan akan kubalas begitu sempat apabila ada kritik (yea, kritik), saran dan masukan.
Kalau kalian menghargai itu, bagus, Karena aku juga menghargai kebebasan rabid-pairing lain.
xxx
Next on!
Luffy tiba-tiba merasa 'panas' dengan 'semua' di depannya. Dia memisahkan diri, dan mendapati Vivi menemuinya empat mata-wajah ke wajah, dan hati ke hati (hopefully).
Emm, mengenai klimaksnya... mungkin masih dua atau tiga chapter lagi, ya. Ga usah buru-buru, karena takkan lari gunung dikejar #plakk! (makin ngaco)
Pojok Review-in Reviews
Ch1:
Aquilla: Aku lebih suka nyebutnya bukan triangle. Karena Luffy dateng telat, keburu diembat ma Kohza 'deh T^T And yup, Luffy-nya jadi agak dewasa 'sih, dikit tapi. haha
KoroCorona: Eh, kalo Vivi dah nikah ma Kohza? Menurutku ya... emm, masih rahasia perusahaan denk, hehe
Jecht's Broken Heart: wakwakwka, kalo pake daging nanti malah langsung ditelen sama tangan Sanji sekalian 'dah
Shiramizu: Salam kenal juga Shira. Kalo masi penasaran sama sosok Luffy di sini, gambarnya dah aku post kok di forum. Ato liat aj di DA-ku :) Makasi fave-nya
Ch2:
KoroCorona: Yup dia puber, dan fic-nya makin interesting kok makin ke depan... semoga :D
Jecht's Broken Heart: 'Buka' di sana maksudnya buka pembicaraan. Ini namanya penghematan kata dalam istilah sastra, agar tidak terjadi pemborosan kata. Thank u, ZoNaSan interactions emang menarik, nonetheless kok. Yup, motif kedua orang itu menurutku udah ketauan dengan jelas ya. Mereka cuma mau membantu Luffy. Walau mereka gak kenal dengan baik, tapi seluruh orang di dunia tau pengorbanan2 apa aja yg udah dilakukan Luffy di masa lalu. Yep, he is idiotic as ever as always.
Jarut (Anonym): Dude, aku pikir dah banyak LuNa di FOPI. Silahkan berkunjung ke fic2 mereka, ya :)
Thanks for reading, Shimacrow H. F. Bunansa, signed out!
