Disclaimer: Hahaha, Oda ternyata bisa sakit juga, ya? Makanya jangan buat Nami n Robin terlalu sekseh. (Psst psst, buatin yang lebih hot dunk #mesum)
ONE PIECE
Desert Rainstorm
Chapter 4
Pairing: Luffy x Vivi
A/N: Oke, sori lama apdetnya ya. Permintaan maaf dan alasan ada di bawah fic. Enjoy your read, and don't forget to RR & CC.
F, yeah!
Ramalan Nami untuk pertama kalinya meleset begitu jauh. Instingnya yang begitu diandalkan saat di Dunia Baru seolah seperti diuji dan parahnya lagi ia merasa seperti dipermainkan oleh lautan awal Grandline ini. Tapi, sudahlah, batin Nami seraya mengangkat kedua bahunya. Bukan masalah besar, 'kok.
Setelah memalingkan wajahnya ke jendela aula makan, Nami meneruskan obrolannya dengan paduka Cobra dan juga Vivi.
Di sisi lain meja, Robin nampak berbincang-bincang dengan Igaram juga Pell yang duduk di sebelah kepala tentara kerajaan tersebut. Wajah Igaram dan Pell begitu dibuat terkejut-kejut oleh pernyataan Robin. Walau Igaram tahu dirinya sebenarnya diselamatkan oleh Robin, tapi penyerangan terhadap Pell itu begitu parah melukai diri pria tersebut. Tapi sang ksatria kerajaan tersebut mengangguk mengerti akan alasan Robin sebenarnya melakukan hal tersebut.
Zoro juga nampak bercakap-cakap dengan Chaka mengenai keadaan negeri ini sekarang. Sementara Sanji dan Brook membicarakan soal hidangan dan menu bersama Terracota.
Di sudut lain Usopp, Chopper, dan Franky membicarakan mengenai berbagai macam barang-barang; mengenai perlengkapan tempur, perkakas-perkakas tradisional Arabasta yang kebetulan Kohza sangat lihai di bidang-bidang tersebut.
Apabila ditilik sedikit arah kepala ke satu bangku di sudut meja, kita bisa melihat sang Raja bajak laut duduk seorang diri. Matanya tertuju pada sepiring hidangan di muka mejanya. Apabila seseorang pernah bertemu dengan Luffy, pikiran pertama yang muncul dari dalam palung benak mereka adalah 'hey, ini Luffy si pemakan besar'.
Sepertinya itu sudah 'sedikit' tidak berlaku lagi sekarang.
Setidaknya untuk hari ini.
Semuanya begitu diikat oleh obrolan meriah mereka masing-masing, kecuali dua orang. Luffy dan Vivi. Walau kedua telinga dan pikirannya tertuju pada topik pembicaraan antara Nami dan ayahandanya, kedua matanya terpaku hanya pada sosok gondrong Luffy yang terus memain-mainkan sendok dan garpu di tangannya. Vivi terus memperhatikan Luffy yang seperti itu. Ia lalu menilikkan kepalanya, merasa heran. Vivi memangkukan satu lengannya di meja, dan berpikir menatap langit-langit aula makan malam kerajaan. Apa Luffy-san pernah seperti ini dulu? pikirnya bertanya-tanya. 'Sudah dari tadi siang aku merasakan ada sesuatu yang lain dari Luffy-san. Tapi aku tidak tahu apa. Matanya sedikit menajam, dan rambutnya jadi sedikit mirip seperti Ace-san, kakaknya. Lalu tubuhnya lebih tinggi, dan suaranya menjadi sedikit lebih tegas.' Vivi menyentuhkan jari telunjuk rampingnya ke arah keningnya. Ia lalu kembali menatap mantan kapten-nya tersebut.
Napas Vivi tersedak. Kedua mata onyx Luffy terfokus pada kedua Deepsea Marine milik vivi. Dua orang tersebut memalingkan mata mereka begitu tertangkap basah satu sama lainnya.
Vivi kembali berpura-pura tenggelam dalam topik pembicaraan Nami, dan sekali lagi mencuri pandangannya ke arah Luffy yang masih membuang tatapannya. '…sekarang jelas. Ada yang aneh dengan Luffy-san.'
Vivi menyenderkan dirinya di kursi mewah miliknya dan melirikkan wajahnya ke kiri dan ke kanan. Semua sedang sibuk dengan bincang-bincang mereka. Vivi menghirup cukup oksigen dengan perlahan, dan menghembuskan napasnya keluar.
Ia kemudian berdiri dan melintasi semuanya menuju kursi di sebelah Luffy. "Luffy-san," ujar Vivi, memiringkan pandangannya untuk melihat pria bermantel merah tersebut.
"Oh, hei Vivi,"
"Bagaimana masakannya? Kau suka?"
Luffy mengangkat kedua alis matanya. Dia kemudian mengarahkan pandangan ke hidangannya yang masih belum berkurang sedikitpun. "Atau kau ingin mencoba hidangan yang lainnya?" lanjut tanya Vivi, duduk di sebelah Luffy.
Luffy membuang tatapannya dari Vivi, dan tersenyum kecut. "Maaf, aku…" pikir. Pikir jawaban yang tepat, batin Luffy, meneteskan sedikit keringat dari sisi pipinya. "Aku sehabis makan puluhan daging di pasar Nanohana, jadi,"
Vivi mengerutkan kedua alisnya. "Oh…maaf Luffy-san. Kami tidak tahu itu. Kalau memang begitu, seharusnya kami menjamumu ketika kau mendatangiku siang tadi."
Luffy memberanikan dirinya menatap wajah Vivi. "Tidak perlu begitu. Aku juga…tidak bisa selalu menjadi Luffy yang dulu. Bukan begitu?" agak sedikit canggung, pikir Luffy. Dia sedikit kelabakan ketika menatap wajah gemilang dan berkilauan milik Vivi. Dari sana Luffy seperti melihat suatu entitas yang lebih tinggi dari manusia biasa.
Ketika kecil dulu Luffy, Ace dan Sabo kerap kali membicarakan satu topik bertemakan 'Malaikat'. Mereka bertiga setuju kalau sosok malaikat itu pasti tampan. Tapi muncul pertanyaan dari Sabo, 'bagaimana kalau malaikat itu ada yang wanita?'. Ace langsung melipat kedua tangannya di dada, dan memejamkan mata seraya mendongakkan dagunya, 'Sabo bodoh. Sudah tentu ia cantik sekali.'
Luffy kecil hanya bisa mengangguk-angguk. 'Apa yang kalian bicarakan, 'sih?'
Dahulu, Luffy memang tidak mengerti dengan sosok brillian yang memancarkan sinar memukau ke hadapan para lelaki. Dan disini, akhirnya dia duduk menatap keindahan itu untuk kali keduanya.
Sendok dan garpu di tangan Luffy terjatuh ke atas piring hidangan miliknya. Luffy lalu memicingkan kedua matanya, mengalihkan pandangannya sekali lagi. "Maaf, Vivi. Aku harus…" dia menunjukkan jempolnya ke arah taman; Vivi melihat arah tunjukan itu, dan Luffy menarik diri dari semuanya.
Vivi terdiam, ditinggalkan oleh mantan kaptennya. Ia kembali menghembuskan napasnya sekali lagi. Matanya tertuju kepada kedua tangan yang saling memagut di atas gaun bagian pahanya, memandang dua kepalannya dengan tatapan kosong. 'Ada sesuatu yang meleset di sini. Apakah aku tahu apa itu? Apakah aku menyadari masalahnya? Hanya satu yang kutahu dengan jelas… Luffy-san menjauhiku.'
-o0o-
"Menginaplah di sini untuk beberapa hari. Kami semua dengan senang hati akan melayani kalian semua." tawar sang paduka Cobra dengan hangat.
Mereka semua berkumpul di ruangan santai yang ukurannya begitu megah, belum lagi dengan segala kemewahannya. Patung-patung, dan guci-guci kuno menghiasi ruangan ini. Lampu gantung yang antik, dan dapat dikenali sebagai satu karya agung tradisional Arabasta menggantung dengan tenang bak air tak beriak di danau yang hening.
Zoro mendengar tawaran itu dari sofa tamu, dan tersenyum ramah. "Itu tawaran yang sangat menarik, raja. Tapi, kami tidak bisa menentukan apapun tanpa seijin kapten kami-"
"Zoro, kau selalu membosankan seperti biasanya." potong Nami, jutek. "Tentu saja, paduka. Kami akan dengan sangat senang hati menetap di sini."
"Tambah satu suara." lanjut Sanji, tersenyum jahil ke arah Zoro. "2 – 1."
Usopp mengangkat tangannya. "3 – 1."
Zoro semakin gerah dengan kekeras kepalaan nakamanya. Dia lalu menatap sisa rekan-rekannya yang lain. Wajah memelas Chopper dan Brook, juga wajah tak mau tahu Franky serta Robin.
Walau kesal, akhirnya Zoro mengangkat kedua tangannya. "Ok. Kalian menang." ujarnya, menyerah. "Tapi, tidak sampai Luffy mengatakan sesuatu."
"Itu sama saja namanya, bodoh." ujar Sanji dan Nami bersamaan.
Zoro mengangkat kedua bahunya. "Mana kutahu. Tapi, yang jelas kalian dapat tambahan satu poin dariku."
Mereka melanjutkan pembicaraan ringan mereka, tidak sampai sang Raja menanyakan keberadaan kapten bajak laut mereka.
"Ngomong-ngomong, kemana Luffy-kun?" tanya paduka Cobra.
"Oh, ya. Aku juga tidak melihatnya sedari tadi." susul Kohza, dari sebelah istrinya. "Kau tahu, Vivi?"
Seluruh mata kini terfokus pada puteri mahkota si calon Ratu kerajaan. Dan membutuhkan beberapa detik bagi Vivi untuk tersadar dari lamuanannya. Begitu diguncang oleh Kohza, ia membalas. "Eh, apa? Ada apa?"
"Vivi, kau lihat Luffy?" tanya Zoro.
Kedua mata Vivi menerawang sekelilingnya. "…aku tidak tahu. Tapi, tadi Luffy-san bilang ia akan ke sana." Vivi menunjuk pekarangan kerajaan, dan mengangkat kedua bahunya. "Tapi, aku tidak tahu kemananya…"
"Oh, Vivi-chan," ujar Sanji, merasakan raut sedih Vivi. "Tidak perlu kecewa seperti itu. Luffy akan baik-baik saja, 'kok."
-o0o-
Luffy masih berjalan tak tentu arah di pekarangan kerajaan. Kedua tangannya beristirahat di belakang kepala santainya. Sudah lama sekali, pikir si pria, melihat langit malam Arabasta seperti ini. Walau dia tidak membicarakannya, Luffy mengidolakan langit malam kerajaan ini. Apabila langitnya cerah, Luffy mendeskripsikan bintang-bintang tersebut 'berserakan tak beraturan'. Bukan berarti Luffy sengaja menggunakan makna ironi di dalam kalimatnya—lagipula dia tidak tahu apa itu ironi, tapi kalau Luffy mau jujur (dan lebih pandai dalam berkata-kata) dia akan lebih bijak menyebut langit ini 'begitu indah dan cantik'.
Apa yang bisa Luffy lakukan? Sejauh matanya menatap, dan kepalanya mendongak ke langit, miliaran benda angkasa itu menyambut pandangannya dengan hangat. Bintang yang satu berwarna putih, dan yang lainnya berwarna merah, biru, hijau, jingga, dan lain-lain.
Tapi, dasar Luffy, dia tidak pernah mau ambil pusing bagaimana bisa begitu. Dia hanya menikmatinya saja. Perasaan tenang dan menghanyutkan ini.
Luffy berjalan ke bangku tumpukan batang pohon yang nampak sudah tergeletak cukup lama di tempatnya. Dia menaikkan bokongnya ke atas susunan pohon itu, dan kembali menatap langit.
"Kau suka?"
Di kejauhan dekat bangunan utama istana kerajaan, Luffy melihat satu sosok dengan pakaian serba putih.
"Begitulah," jawab Luffy, santai dan kembali menikmati langit di atasnya.
"Langit malam yang cerah dan cantik ini—di mana bulan bersinar tidak terang juga tidak redup; tuan puteri Vivi sangat menyukainya," lanjut pria bersorban putih itu. "Tidak heran kalau langit kami memiliki pengagum yang lainnya."
Luffy terkekeh kecil.
"Tidak ke dalam, Luffy-kun? Tidak kedinginan?" Luffy menggeleng pelan, dan Pell melanjutkan kata-katanya seraya duduk di sebelah pria yang lebih muda darinya itu. "Tidak ingin bertemu dengan…nona Vivi lagi?"
Kali ini Luffy menolehkan kepalanya pada Pell. "Eh?"
Pell membalas tatapan Luffy. Mereka terdiam untuk beberapa detik, sebelum Pell meledak dalam tawa. "Aku hanya bercanda!"
"…aku tidak tahu kau bisa bercanda?"
"Ya, sudah. Itu hanya sebuah saran yang bersahabat dariku." ujar Pell, berdiri dengan sempurna. Dia mulai berjalan namun berhenti tidak cukup jauh dari posisi Luffy duduk. "Luffy-kun,"
"Mm?"
"Apa kau tahu kalau nona Vivi selalu membicarakan dirimu dulu?"
Mulut Luffy sedikit terbuka, dan menaikkan satu alis matanya. "Begitu ceria, riang, dan begitu percaya terhadap dirimu. Seolah dunia ini isinya hanya Luffy, Luffy dan Luffy—yaah, itu sangat mengerikan menurutku." Pell lalu sedikit merundukkan kepalanya. "Itu semua sebelum ia…menikah."
"…aku tidak mengerti…" ujar Luffy.
Pell mengangkat kedua bahunya, dan menghela napas. "Kalau mau jujur…aku juga tidak mengerti, Luffy-kun."
Pria itu kembali berbalik, dan menatap Luffy. "Batang-batang pohon yang kau duduki itu adalah tempat favorit nona Vivi di istana. Dia selalu datang ke sini untuk bersantai, berkhayal, mengukir memori-memori yang telah lewat dan menikmati bintang-bintang seperti kau saat ini." Pell mendongakkan kepalanya ke langit malam yang terang akan bintang. "Dia juga sering menceritakan tentang dirimu padaku di sini."
Pell memberikan satu senyuman datar terakhir, dan pergi berlalu meninggalkan Luffy dengan ratusan tanda tanya terlukis di wajahnya.
Luffy merunduk, menatap batangan-batangan pohon dan tanah berumput pekarangan istana. "…kalau memang begitu, Vivi, lalu kenapa…?" pemuda bercodet itu mengarahkan genggaman kedua tangannya ke rambut dan menutupi wajahnya dibalik rambut shaggy ebony-nya.
-o0o-
"Selamat tidur, Karue," Vivi mengusap kepala bebek kepercayaannya di sisi kasurnya. Vivi sudah menukar gaun-nya dengan piyama manisnya yang berwarna biru langit dengan corak-corak putih menyerupai awan. Setelah dibalas satu koek-an oleh Karue, Vivi berjalan memuar menuju kasurnya. Saat ini Kohza sedang dalam perjalanan menuju Yuba, kota mata air. Ia berniat menjemput Toto, ayahnya untuk bertemu dengan kru topi jerami. Vivi juga berharap kalau ayah mertuanya bisa menemui mereka sekali lagi. Besok pagi, paman pasti sampai, sebaiknya aku tidur sekarang.
Ketika Vivi berniat memanjatkan dirinya ke atas kasur, ia teringat akan Luffy yang belum kunjung kembali dari 'aku harus…'-nya tadi. 'Aku harus' apakah itu, Luffy-san? Apa memang benar kau menghindari diriku? Tapi kenapa, kenapa harus seperti ini pertemuan kita setelah sekian lama?
Vivi menghampiri tepian jendela kamarny, dan ia kembali mendapatkan ketenangannya dalam satu-dua kali hembusan napas. Ia menikmati langit malam dengan penuh khusyuk, memandangi setiap sudut langit yang dapat tertangkap kedua matanya yang bersinar akan cahaya bintang. "…oh, bintang. Katakan padaku, dimanakah Luffy-san saat ini…"
Sepertinya permohonan gadis itu langsung dikabulkan dengan segera.
Ketika ia membalikkan tubuhnya ke kasur, di tepian matanya ia menyadari ada sesosok orang di bawah sana. Ia tersenyum ketika melihat satu sosok di bangku pohon favoritnya di taman. Senyuman itu berubah menjadi cengiran kegirangan anak kecil yang mendapat hadiah dari ayahnya.
Vivi dengan segera mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda kesukaannya, memompa napasnya menuju lantai terbawah dan memutar larinya menuju taman belakang.
Begitu melihat siluet merah itu, Vivi mengendap-endap mendekati si pria dari belakang. Sifat alami masa kecilnya yang cukup dibilang jahil kembali ke permukaan. Luffy tidak merasakan apa-apa, karena ia begitu terpaku pada pikirannya.
Vivi mengarahkan kedua telapaknya ke kedua mata Luffy dan menutupnya dengan tiba-tiba. Vivi langsung mengeluarkan suaranya, tapi dengan nada yang dibuat-buat agar seperti suara pria. "COBA TEBAK SIAPA INI?"
"Eh?"
"SIAPA, COBA…?"
"…'kok malah main tebak-tebakkan?" tanya Luffy, yang mengangkat alis matanya kalau saja tidak terhalang tangan lembut Vivi.
Luffy dengan sigap menggenggam lengan penyerangnya dan menarik tubuh mungil si gadis ke depan dirinya terduduk. Namun di tengah tarikkan itu Luffy merasakan lengan rapuh ini pasti bukan milik seseorang yang kuat; belum lagi tubuh ringan juga…yang mulus ini.
Luffy menghentikan tarikannya dan menggenggam kedua pergelangan Vivi dengan satu cengkeramannya. Tubuh Vivi terpangkukan di kedua paha Luffy, dan mata mereka berdua kembali beradu satu sama lainnya.
Apa yang kedua mata Deepsea Marine Vivi berikan adalah sosok gagah yang dihiasi miliaran bintang di atasnya. Satu sosok kontras oleh bayangan dan cahaya jagat semesta memberikan kesan tegas sekaligus lembut serta begitu melindungi pada wajah stoic sementara Luffy. Di sisi lain, mata Onyx pekat milik si pemuda menyajikannya ukiran agung seorang malaikat bersinar yang seakan terjatuh dari surga; namun secara tak sengaja tertangkap oleh satu genggaman Luffy. Luffy menggenggam pergelangan lembut itu seolah tak berniat melepaskannya sedikitpun.
Sayap, apakah malaikat ini memiliki sayap? tanya Luffy, di luar batas kewarasan dan akal sehatnya. Dia menggeleng pelan, dan mendapati wajah merona Vivi menatapnya penuh akan kekaguman yang tak terukirkan kata-kata.
"…Luffy-san…"
"…Vivi?"
Mereka berdua begitu blank, serasa tak tahu apa yang harus diucapkan saat ini. Mereka mulai menjalarkan mata mereka masing-masing. Luffy menjamahi setiap sudut wajah Vivi, dan begitu pula sebaliknya di sisi Vivi. Ia memulai penjelajahannya dimulai dari rambut acak Luffy, codet mata kirinya, hidung mancungnya, dan juga bibir yang maskulin itu. Luffy juga begitu. Dia menikmati setiap sudut dan sisi wajah Vivi yang bersinar di malam hari. Rambutnya yang berkilau bagaikan langit siang hari, kedua matanya yang begitu dalam seolah menyeret Luffy ke dalam palung samudera ketenangan. Hidung dan pipi yang lembut nan hampir tanpa cela, dan terakhir bibir lembut nan mungil yang terjalin lip gloss yang begitu menarik Luffy untuk terus memakukan matanya di sana.
Oh, sebuah keindahan, pikir mereka berdua.
"…bagaimana kabarmu, Vivi?" bisik Luffy.
Kedua pipi si gadis semakin menghangat dari yang sebelumnya. Ia tertawa kecil. "Bukankah kita sudah membicarakan itu, Luffy-san?"
"Aku hanya ingin tahu lagi,"
"Aku luar biasa baik." jawab Vivi, berbisik dan tersenyum tipis. "Kau bagaimana?"
Luffy juga tersenyum simpul. "Kau bisa lihat sendiri; aku baik, dan…" pria itu melepas cengkeraman tangannya dan mengarhkan satu genggamannya ke pinggul Vivi. "Memelukmu."
Bedempung-dempung. Vivi takut suara jantungnya terdengar sampai ke telinga Luffy. Karena ia sendiri merasa kalau suara jantungnya yang menggema ini serasa akan meluluh lantahkan kedua telinganya.
Perlahan, Vivi juga menjalarkan kedua tangannya ke belakang tengkuk Luffy. Apa yang menyulapnya sehingga menjadi seperti ini? Mereka seakan-akan dibimbing oleh kekuatan maha dahsyat yang tak kasat mata. Masalahnya, apakah itu?
"Apa kabarmu, Vivi?"
"Kita sudah membicarakan itu tadi, Luffy-san,"
"…aku hanya senang bisa bertemu denganmu lagi, Vivi. Sangat senang." Luffy memagut pinggang serta pinggul Vivi semakin erat seiring berjalannya waktu. Kedua Onyx kentalnya terus memperhatikan bibir seksi yang berkilau di bawah bintang milik Vivi dengan segala perasaannya.
Kedua lengan Vivi juga meraih leher si pria semakin agresif, namun dengan kelembutan tiada dua bagi Luffy. "Kau…kau tidak tahu betapa bahagianya aku bisa bertemu denganmu lagi, Luffy-san. Pahlawan kami. Pahlawanku." bisik balik Vivi, masih menatap bibir maskulin Luffy.
Luffy sudah memasukkan semua jenis makanan ke dalam mulutnya. Rekan-rekannya pernah bertaruh 30 juta berry kalau ada satu makanan yang belum pernah dicicipi oleh Luffy. Ternyata kalau mau jujur, masing-masing dari mereka harus mengeluarkan kocek sejumlah uang taruhannya. Dan apabila digabung jumlah totalnya sekitar 30 juta x 8 sama dengan 240 juta.
Ya. Luffy mengulum bibir Vivi dengan begitu lezat, seolah seperti menikmati hidangan terbaru yang belum pernah dicicipinya selama 22 tahun dirinya hidup.
Tangan Vivi menjalar ke rambut shaggy Luffy dan kemudian mengarahkan yang satunya ke sisi wajah si pria. Luffy, di lain pihak juga semakin mengencangkan pagutannya sehingga kini tubuh mereka sudah berdempetan satu sama lain. Luffy tidak memikirkan 'hal yang lain-lain' dulu. Di benaknya saat ini hanya ada Vivi, Vivi, dan Vivi. Kepalanya penuh dengan gambaran sosok Vivi yang begitu ia sukai, kagumi, dan…sayangi.
Tekanan demi tekanan terus berlangsung, namun salah satu dari mereka belum ada yang menunjukkan sinyal atau tanda-tanda lainnya untuk menarik mundur hasrat mereka satu sama lain. Sekarang tangan Luffy sudah berada di kedua sisi wajah Vivi, memegangnya begitu lembut dan penuh akan perasaan. Luffy menyentuhkan keningnya dengan Vivi, dan bibir mereka akhirnya berpisah untuk sepersekian detik. Sisa-sisa saliva masih menempel dan menggantung di antara bibir mereka, mengayun turun dan akhirnya terputus. Mata keduanya terbuka dan menatap satu sama lain.
"…Vivi…bibirmu lembut sekali," ujar Luffy, suara serak dan uap membubul lembut dari mulutnya. "Aku bisa saja seharian mengulumnya."
Vivi tertawa kecil. Kedua telapaknya, sama seperti Luffy, juga berada di kedua sisi wajah si pria. "Jangan bilang kau belajar dari Sanji-san kata-kata itu, Luffy-"
Sekali lagi Luffy mendekam bibir Vivi, mengunci si gadis dari semua kata-katanya. Mata mereka menutup untuk sebentar, dan Luffy kembali melepas bibirnya. "Aku bersikeras mencari tahu kata-kata yang pas, Vivi."
Kali ini Vivi tersenyum manis, menatap bibir dan wajah merona yang nampak mabuk milik Luffy. Ia juga tidak sadar kalau wajahnya tidak berbeda jauh dari si Raja bajak laut, semerah tomat pada kedua pipi. "Aku tidak tahu, Luffy-san. Tapi, kau sekarang 'lebih' dalam berbagai hal; kuat, perhatian, setia kawan, berkarisma, dan yang terpenting… humoris." Vivi tertawa kecil. "Tidak mengherankan lagi kalau banyak yang jatuh hati padamu, Luffy-san."
Luffy kembali menyentuhkan keningnya dengan Vivi secara lembut. "Kau lain, Vivi. Kau…aku tidak tahu. Kau begitu berbeda dari yang lainnya." ujar Luffy, berbisik dan mengirimkan hawa hangat ke wajah Vivi.
Si pria menyentuhkan ibu jarinya pada bibir lembut Vivi, dan memijatnya dengan segala kelembutan. "Aku…" mulai Vivi, ragu-ragu. Ia juga tidak tersenyum. "…aku bingung,"
Sekali lagi Luffy meraba sisi wajah Vivi dengan kedua tangannya, dan kedua mata mereka kembali bertemu kini.
Nampak begitu menyerah; tatapan Vivi. Luffy kembali mendekatkan bibirnya, namun si gadis menahan pria itu pada bahu bidangnya. "…a-apa yang kulakukan?"
"…Vivi…?"
Vivi menggeleng, dan menutupi wajahnya. "Ini tidak benar, Luffy-san,"
Desert Rainstorm Continued to the next chapter 5 soon
-o0o-
Yep! Harus diakhiri menggantung di sana! Dan, ya! Saya adalah orang yang kejam, Bwahahahahhahaahhaa! #Bletakk
Sori mahori aku telat apdet lagi. Liburanku sekarang penuh dengan SP. Ow yeah, tidak ada hal lain yang lebih menyenangkan sekarang selain INI saat liburan!
Jangan bercanda donk, 'ah! (gaya bon-chan)
Liburan tuh harusnya dihiasi dengan bermain seharian, tidur seharian, dan…nonton seharian. Fu*k, yeah!
Bukan dengan belajar!
So, gimana menurut kalian Luffy dan Vivi-nya? Apakah pace cerita saya terlalu cepat? Coz baru chapter 4 'sih…
Semua masukan aku terima seperti biasa (terutama untuk karakterisasi Luffy dan Vivi), dan tidak usah malu. Katakan saja semuanya. Setiap review pasti akan saya balas. Tapi ga janji lewat PM, aku sibuk banget belakangan ini. Jadi mungkin di cerita berikutnya, 'key?
Btw, aku lagi menggarap fic di fandom FFVII, FFVIII, dan Naruto. Kalo kalian punya waktu, dan kebetulan suka dengan beberapa seri di atas silahkan mampir, ya. Dan maaf, kalau proyek yang satu ini sedikit tertinggal, tapi aku gak akan meninggalkan semua karya-karyaku yang belum terselesaikan. So rest assures, 'kay? (review dan PM kalian juga jadi motivator-ku yang sangat berharga. Suer, 'deh :)
xxx
Next on!
Apakah tamparan ini adalah…jawaban kita, Vivi?
Pojok Review-in Reviews
Ch 3:
Jecht's Broken Heart: Luffy itu bukan pemendam, tapi dia lebih cenderung menyimpan masalahnya sendiri. Iya gak? Mengenai sendu, gw rasa seorang Lufy pasti pernah kayak gini. Pas Ace mati? (itu mah beda kasusnya #bletakk). DAN, penyelesaiannya? Nih gw kasih bocoran super: Gw blom tau endingnya gimana #DOOONG#
via-sasunaru: Yaah, maaf via, tapi sepertinya cinta Luffy gak sepihak 'kan setelah baca chapter ini? Ato nggak? #plakk (ga konsisten nih author)
Portgas D ZorBin: Gapapa kok, dah mau review aja aku dah seneng banget lowh :D Menurutku pribadi, Luffy itu bukannya gak tertarik sama wanita. Tapi mungkin puber-nya telat. Dan setelah umur 22 tahun, dia jadi ngerti dengan wanita yang harusnya ia lakukan pas umur 14 tahun ato 15. Jadi kita itung2 lagi, dia bocah smp dengan cara pikir pria berumur 22 tahun o_O
Aku juga kasihan ngeliat Luffy kesiksa gitu, tapi akhirnya dibikin enjoy juga walau dikit 'kan di chapter ini? hehe
Oh, ZoRo shipper toh? Boleh2, kalo fans ZoNa ga keberatan (aku ga termasuk 'loh) #plakk
Hits itu berapa kali fic kamu di-klik oleh orang yang sama. Gtchu deh.
ReadR: Gyaaa, D-Dadan emang nyeremin! Ga pantes jadi ibu angkat! Yang pas itu… emmm, Califa? (mimisan)
Hand yow: Ohohoho, kamu bisa andelin saya untuk ngebuat some REAL action! Ditunggu, ya. Aku janjikan sesuatu yang cukup menegangkan, 'kay? so, stay tune dengan fic ini.
omgitsuru: I LOVE THIS TOOO! Woot! Another LuVi adorers! Hello,
Thank you, yawh. Kalo dipuji begitu…aku jadi malu (gaya Sanji pas di Puffing Tom)
Yep selama ada LuVi adorers lainnya, semangat LuVi-ku gak akan pernah luntur.
~See ya in the next chapter
~signed, Crow, Out.
