Disclaimer: Oda mesum yang, 'Hore', sudah kembali bertugas menggambar Nami dan Robin! Yeah, itu aja.

ONE PIECE

Desert Rainstorm

Chapter 5

Pairing: Luffy x Vivi

A/N: Fast Update! Walau ada tugas SP, aku berusaha mempercepat cerita ini agar bisa melanjutkan The Disease. Oke, skali lagi mohon RR n CC-nya. Karena kalau kalian tetap menjadi silent reader, aku gak tahu gimana progress cerita ini; apakah memuaskan atau malah sebaliknya.

F, yeah, please, Go on!


Langit angkasa serta bintang-bintang sebagai permata abadinya memperhatikan dua pelaku utama drama mereka sebagai tamu undangan yang terhormat. Mereka terdiam seribu bahasa, tak dapat berkata apa-apa; sama seperti situasi di antara sang Raja bajak laut dan calon Ratu padang pasir.

Di belakang mereka yang membeku dalam rangkulan, berdiri dinding tinggi yang menjadi pembatas antara istana kerajaan dengan kota Alubarna. Kota yang saat ini sedang ramai akan hiruk pikuk malam hari tersebut tidak mengetahui adanya perasaan yang saling beradu di balik pembatas ini. Apabila didengar dengan lebih dalam lagi, akan terlintas di telinga setiap orang di istana bagaimana tawa dan gurauan meriah di jalan-jalan serta bar menyelimuti suasana ramai ibukota. Apalagi dengan keadaan Luffy dan Vivi yang tiba-tiba terdiam seketika oleh sengatan di hati mereka saat ini.

"…Vivi?"

"…ini tidak benar, Luffy-san. Ini tidak benar." Vivi melepaskan kedua tangannya dari tengkuk Luffy, dan menarik dirinya dari pagutan serta genggaman lembut pria bercodet itu. Vivi menyentuhkan kedua kakinya ke tapakan tanah berumput, merundukkan kepala, serta berusaha menutupi wajahnya dari tatapan Luffy. "…apa yang kulakukan…?"

Kedua bahu Luffy serasa runtuh. Apa yang sudah dilakukannya; Luffy juga tidak tahu. Dia tidak sadar apa yang sudah dilakukannya sampai sedetik yang lalu, sampai sekelebat yang lalu. Yang jelas dia menikmati momennya bersama Vivi, yakinnya, seraya menjilat sedikit bibirnya dengan pelan. Dia menatap figur yang berdiri di depannya dengan pandangan kosong yang namun tertuju begitu fokus hanya kepada Vivi. Pikiran Luffy menjadi blank lantaran dia berusaha mengkoleksi ulang apa yang terjadi diantara dirinya dengan Vivi; mungkinkah dia membuat Vivi marah atau kesal, batinnya pasrah, dan yang merupakan hal terakhir yang Luffy harapkan dari sang puteri. "…kau marah padaku?"

Kali ini bahu Vivi yang sedikit merasakan kejutan dari hatinya. Apakah aku marah pada Luffy-san? Siapa yang bertanggung jawab atas perasaan dan emosiku yang meluap-luap saat ini? Aku, aku tidak tahu. Vivi cuma bisa menggelengkan kepalanya selagi masih merunduk ke tanah. "…aku bingung. Aku tidak tahu, Luffy-san,"

Kedua alis mata Luffy sedikit mengkerut sekarang, dan dengan mengiba, kedua mata onyx-nya terus memakukan pandangan pada sosok tampak samping Vivi. Luffy kini sedikit merundukkan kepalanya, dan bergumam pelan dari balik napasnya. "Maafkan aku." Luffy kembali menghela napasnya dan menggeleng pelan. "Ini semua kesalahanku. Aku hanya tidak tahu apa yang harus kulakukan, dan apa yang telah aku lakukan."

Vivi mengarahkan matanya ke sosok kecewa Luffy. "…Luffy-san…?"

"Ini semua kesalahanku yang begitu buta akan situasi yang sebenarnya." Luffy mengangkat kedua lengannya hingga se-level perutnya. Matanya nampak begitu bersalah ketika bertemu pandang dengan kedua deep marine milik Vivi. Sang puteri ketika melihat itu 'pun ikut merasakan perasaan berdosa mengapung menuju permukaan air perasaannya sebagai seorang wanita. "Ini kesalahanku, karena walau aku sudah mengetahui kau telah memiliki suami…aku tetap… Aku tetap…"

Dia belum pernah melihat Luffy yang seperti ini sebelumnya. Tidak pernah sekalipun dalam hidup bebas dan mudah yang dimilik oleh pemuda tersebut. Luffy saat ini di mata Vivi nampak seperti orang lain. Orang yang sama sekali tidak ia kenali. Vivi bisa saja mengatakan bahwa orang di depannya ini bukanlah mantan kaptennya, tapi dia mengerti. Dia hanya mengerti. Vivi mengangkat kedua bahunya. Ia bahkan tidak tahu apa yang dimengerti oleh dirinya sendiri saat ini…

Pria di depannya juga tidak ubah bedanya; dia nampak tidak mengerti. Dia juga kelihatan begitu bersalah, dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

"Luffy-san…bukan maksudku seperti ini." ujar Vivi, mendekatkan dirinya. Begitu berada pada jarak yang cukup dekat, Vivi mengelus punggung si pemuda. "Aku hanya tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku tidak bisa mengontrol diriku tadi,"

"Bagaimana kau bisa berkata demikian bahwa sebenarnya akulah memaksamu, Vivi." Luffy mengangkat kepalanya dan meyelak balik.

Vivi berdiri dengan sempurna dan tersenyum pahit ke arah Luffy. "…bukankah aku ini istri yang tidak punya otak. Apalagi aku ini merupakan calon Ratu." gadis itu lalu mengarahkan jari-jemarinya ke arah kening dan mengusapkannya di sana. "Sungguh tidak bisa dipercaya. Ini bukti bahwa aku tidak bisa mengemban peran tersebut."

Luffy mengangkat kepalanya, dan melihat Vivi yang menutupi wajahnya dengan kedua telapaknya.

"Aku mengecewakan." Vivi terisak akan tangisnya. Terdengar hirupan napasnya yang bercampur dengan ingus, dan Luffy dapat melihat tetes demi tetes air mata Vivi berguguran dari cela tangannya. "…sangat mengecewakan."

"Aku begitu senang bertemu kembali denganmu, Vivi." ujar Luffy. "…itulah pikiran pertama yang terlintas di benakku ketika log Nami menunjukkan Arabasta sebagai pemberhentian kami selanjutnya. Betapa aku merindukanmu selama 5 tahun terakhir ini. Aku tidak pernah bisa lupa akan sosokmu, Vivi. Aku tidak pernah bisa…"

Vivi melepas kedua tangannya, dan menatap Luffy dengan pandangan kabur karena air mata. "Luffy-san…"

Luffy membalas tatapan Vivi dengan wajah berat. Namun dia berusaha sekeras mungkin untuk menunjukkan wajah yang bersahabat pada gadis di depannya. "Aku sangat senang ketika melihatmu sehat-sehat saja. Aku…aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku katakan sekarang,"

"Luffy-san…aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi-"

Kata-kata Vivi terhenti melihat Luffy yang berdiri dan mulai berjalan ke arahnya. Mata Luffy tertutup oleh poni acaknya yang tumbuh cukup panjang. "Aku tidak pernah merasakan ini. Ketika bibirmu yang lembut menyentuh milikku, Vivi… Aku pikir…aku pikir aku telah menemukan seseorang yang berharga bagiku." ujar Luffy, datar.

"…aku? T-tapi, aku…"

Luffy menggeleng. "Tapi…sekali lagi aku terlambat, bukan? Aku terlambat. Dan…gagal." Vivi melangkah mundur selagi si pria semakin mendekat ke arahnya. "Kau telah dimiliki orang lain. Aku tidak tahu...kenapa aku seperti ini, Vivi,"

"Luffy-san, Kohza orang yang baik,"

"Aku tahu, Vivi! Aku tahu itu!" hardik sang kapten. "Aku tahu itu sampai ingin menangis…"

Vivi berusaha membentengi dirinya dengan kedua lengan di depan dada. Dia kehilangan kata-kata mendengar lengkingan suara Luffy. Wajah pemuda itu nampak begitu murka, tapi juga begitu linglung. Vivi hanya bisa menggelengkan kepalanya berkali-kali, berusaha menenangkan Luffy yang tiba-tiba meledak.

"Kau tidak perlu merasakannya juga. Biarkan semuanya menjadi kesalahanku, Vivi. Aku sudah terbiasa disalahkan, dan aku sudah bisa menyesuaikan diriku dengan hal itu. Tapi, Vivi…" Pria itu akhirnya mengangkat wajahnya. "Aku mau kau mengatakannya… Apa kau bahagia bersama Kohza? Apakah kau-"

"Ya. Luffy-san, ya. Aku bahagia." jawab Vivi, memotong kata-kata Luffy dengan mantap. Kedua tangannya masih di depan dada berbalut piyamanya. "Aku bahagia bersamanya; aku mencintainya. Aku begitu mencintainya,"

Vivi pikir dia sudah pernah mengeluarkan ekspresi terkejut yang luar biasa saat mengetahu bom waktu menghabisi Pell. Dan atau saat mendengar kakak Luffy meninggal. Tapi, kali ini ia memompa jantung seolah hendak meledak saat menatap ekspresi Luffy yang kosong. Ekspresi shock yang hanya dapat dirasakan oleh Vivi dari balik tatapan kosong, dan dari wajah yang hampir tak berekspresi Luffy.

"…aku paham, Vivi… Tapi bolehkah aku mengatakan kalau aku mencintaimu, Vivi? Bolehkah aku berkata kalau kau adalah orang yang paling aku butuhkan saat ini?"

"…Luffy-san, aku tidak mengerti. Kau jadi seperti orang lain." Vivi menggeleng. "Ada apa ini sebenarnya?"

"Aku mencintaimu, Vivi. Aku mencintaimu!" nampak begitu putus asa, Luffy semakin memajukan dirinya. Dia meraih dua bahu Vivi, dan mengencangkan cengkeramannya di sana. "Aku mencintaimu! Apa kau…tidak bisa mengubah pikiranmu, Vivi?"

Selayang tangan Vivi membekas di pipi Luffy. Ah, sudah berapa lama pria karet itu tidak merasakan rasa sakit di tubuhnya. Luffy pernah mendengar dari para 'pria lautan', mereka berkata: Haki itu satu hal yang sangat rumit; bahkan seorang gadis kecil yang marah 'pun dapat mengelepaskannya dan menghajar sepuluh orang dewasa sekaligus.

Kedua tangan kuat Luffy sampai terlepas dari tubuh sang puteri, dan kini menggantung lemah di sisi badannya seolah tak ada harapan lagi.

"Aku tidak percaya kau berkata seperti itu, Luffy-san? Aku begitu mengagumimu, aku begitu percaya padamu, dan aku begitu menyayangimu. Kenapa kau seolah tidak percaya pada Kohza—apakah kau tidak memikirkan kebahagiaanku, Luffy-san?"

"Tapi…tapi… Aku juga menyayangimu, Vivi. Aku juga mencintaimu! Hanya kau seorang-"

"Sudah cukup, Luffy-san. Maafkan aku karena melakukan hal yang tidak seharusnya tadi. Itu semua kesalahanku. Selamat tidur." Vivi memalingkan wajahnya dari Luffy, dan beranjak pergi menjauh. Ia hanya ingin ditinggalkan untuk menyendiri dulu. Dia ingin ketenangan untuk hatinya yang meletup-letup seperti lava yang siap membanjir keluar.

Matanya berkabut dan terasa berat. Apakah sesaat yang lalu ia kembali merasakan keputus asaan? Luffy dengan jujur berpikir: Ya. Satu lagi kegagalan menghiasi hidupnya. Dia tidak tahu apa yang telah ia lakukan atau yang harus dilakukannya sekarang. Yang dia pahami hanyalah bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadap Vivi; terhadap seseorang yang selalu teringat dan terngiang dalam benaknya.

Luffy tidak tahu apa itu yang namanya ketidak adilan; yang dia tahu adalah kemalangan. Dia juga tidak pernah menyalahkan dewa atau tuhan atau sesuatu yang 'lebih tinggi' di atas sana. Yang Luffy tahu dengan jelas adalah sang malaikat tidak membuang sedikitpun waktu dengan menolehkan wajah pada dirinya. "Apakah tamparan ini…jawaban kita, Vivi?" tanya Luffy, menghentikan Vivi dari jalannya. Suaranya begitu dingin, mengiba, penuh haru, dan kepasrahan—yang namun juga dilapisi kemarahan dan emosi jiwa. Dia berharap Vivi berbalik dan memberikannya senyuman ramah, dan berkata 'semuanya baik-baik saja, Luffy-san'. Tapi, ya, memangnya dia siapa? Dia cuma mantan rekan, mantan kaptennya; bukan siapa-siapa. Sudah pasti Vivi lebih mengutamakan suaminya ketimbang siapapun juga. 'Apa yang kulakukan?' tanya Luffy, menggeleng dalam batinnya.

'Aku tidak suka temanku meninggalkanku!'

Luffy menjulurkan tangannya, ditinggalkan sang puteri yang menghilang ke balik dinding. Matanya semakin tidak bisa fokus, ia 'pun terjatuh ke atas pundaknya di tanah.

Beberapa menit yang lalu, Luffy menatap langit malam Arabasta dengan pandangan takjub—luar biasa memukau apabila ia berusaha mengingatnya lagi.

Kini ia hanya bisa melukiskan nama Vivi di bibirnya berulang-ulang, dan mencari sesuatu dari langit yang tak 'kan pernah ditemui jawabannya. Dia merasa lemas sekali, sulit untuk bergerak. Energinya serasa disedot oleh awan hitam yang secara lambat laun namun pasti membawa amukan badai ke arah Alubarna.

-o0o-

"…hujan?"

"Ya. Meleset 8 jam dari perkiraanku."

Si pria pirang mengangkat kedua bahunya, tersenyum menenangkan si navigator. "Bukan masalah besar, 'kan? Kalau hujan, pasti akan berlalu juga nantinya."

Nami memangkukan kedua tangan dan bokongnya di atas bingkai jendela kamar berisikan sembilan kasur itu. Kepalanya merunduk untuk sesaat sebelum membalas kata-kata pria yang baru saja terjaga tersebut. "Ini bukan hujan. Badai akan datang…"

"Serius? Di negeri padang pasir ini? Bahkan aku belum pernah dengar adanya badai hujan di negeri—di pulau ini sebelumnya, Nami-san."

"Menarik, bukan? Sekaranglah waktunya, Sanji-kun." Nami kembali menolehkan tatapannya keluar jendela, tertuju ke langit yang mulai menggelap dan menghalangi aktifitas miliaran bintang menyinari pasir yang membeku. "…dan ini akan sangat besar."

Terdengar kutukan pelan dari rekan pertama Luffy. Suaranya begutu berat dan agak sulit untuk diterka. "Zzz…zzzz…kalau mau mesra-mesraan…zzz…lakukan saja di luar. Zzzz…dasar, mengganggu orang tidur saja,"

"Marimo keparat, banyak sekali masalahmu. Lihat sekarang; siapa yang paling keras berusaha melarang kita menginap, dan sekarang siapa yang tertidur paling pulas di sini?"

Nami hanya tersenyum tipis melihat dua rekannya saling beradu kata selagi menyadari cekikik pelan Robin dari balik selimut dan lelapnya. Setelah melihat Sanji yang kembali ke alam tidurnya dan juga 'beruang Zoro' yang kembali tenang, Nami kembali menatap langit sambil menghela napasnya. 'Luffy…kau kemana, 'sih?'

-o0o-

"Yang Mulia! Paduka Cobra!"

Pell membuka kedua mata dari tidur ayamnya. Ia menyadari seorang prajurit kerajaan berlari dengan selembar kertas di tangannya. "Hei," imbaunya. "Kau bisa membangunkan orang-orang se-istana. Ada apa terburu-buru?"

"T-tuan Pell…i-ini…"

"Kau prajurit yang betugas ronda malam ini bukan? Apa itu?" tanya salah satu kekuatan terbaik Arabasta tersebut. "Berikan padaku,"

Pell menelaah isi dari kertas tersebut dengan cermat dan teliti. Kedua matanya membesar, dari pertengahan hingga akhir. "Tetap tenang…" ujarnya, berbisik. "Darimana kau dapatkan ini, katakan,"

"M-maaf, tuan Pell. Tadi saya melihat nona Vivi berjalan keluar gerbang utama, dan beliau bilang ia hendak membeli obat untuk Paduka Cobra, jadi…"

"Dan kau percaya…? Lalu untuk apa satuan unit dokter ada di dalam istana?" desis Pell, murka. "…ini gawat. Siapa yang tahu nona Vivi akan disandera di saat seperti sekarang ini, batin Pell, cukup kelabakan.

"Beritahu secara persis dimana kau mendapatkan ini, dan setelah itu kau langsung himbau Chaka secara diam-diam. Dia bisa membantuku dengan penciumannya."

"Baik, tuan Pell."

Pell menerima informasi seperlunya dari sang penjaga, dan segera bergegas menuju kota sementara sang prajurit tadi pergi membangunkan Chaka di bilik sang ksatria Jackal tersebut.

Setiba di gerbang utama, Pell hendak mengepakkan sayapnya namun suara Luffy menghentikannya.

"Luffy-kun,"

"Bagaimana bisa…?"

"…kau mendengarnya?"

Kepala Luffy tertunduk lemah. Ia menggeleng. "…biar kubantu, Pell. Kau harus setuju bagaimanapun juga!"

"…maaf merepotkanmu lagi, Luffy-kun."

Desert Rainstorm Continued to the next chapter 6 soon

-o0o-

And…Cut! Ini adalah awalan dari sesi Action-nya. Ga nyangka Luffy dibiarkan begitu saja oleh Vivi? Atau, dasar Vivi wh*re, dah nyium gratis, sekarang Luffy-sama dicampakkan begitu aja!

Eits, semuanya ada plot. So, rest easy, 'kay?

Chapter lalu aku cuma dapet alert 2 kali. Come on, bagaimana ceritanya? Tell me something. Aku harus tahu perkembangan cerita ini. Just tell it, Luffy begini, tapi dia terlalu begitu. Atau Vivi 'kok gini, harusnya 'kan gitu! Ato, 'ini'nya kurang, banyakin 'itu'nya 'donk!

Anyway, mungkin masih bisa tembus sepuluh chapter, karena ini adalah perjalanan panjang Luffy dan Vivi, 'loh. Hahaha! I love writes this fic!

xxx

Next on!

"Rahim, ngomong-ngomong cincin yang kau kasih kepada Luffy-san itu…"

"Kenapa, kau penasaran, Jenna?"

"…sedikit,"

"Yaah, aku tidak tahu secara detail, 'sih tapi…dari artifak-artifak kuno yang kutemui di padang pasir, cincin itu digambarkan memiliki kekuatan yang misterius,"

"…kau serius…?"

Pojok Review-in Reviews

Ch 4:

omgitsuru: Thx udah jadi pembaca setia, om-san. Ngomong2 soal 'Om', jadi inget salah satu karakter di Air Gear. Hahaha. Well, mengenai Vivi nikah sama Kohza itu aku NO COMMENT dulu. (gaya Oda)

sanZoku-Maru: Hey, pembaca baru! Salam kenal. Ah, gak juga 'lah. Masih banyak 'kok fic2 laris manis yg lain 'tuh. Cuma, iya, kalo nyari LuVi agak susah di sini. Stick with this one, gimana? Sssip? Kalo ada yang kurang, ato gini gitu-nya ksi tau aja, 'kay?

~That's for today's class, and Ciao ciao, All!

~Crow, out!