Disclaimer: Tidaaaak! Tidak ada chapter terbaru dari Oda minggu ini…
ONE PIECE
Desert Rainstorm
Chapter 6
Pairing: Luffy x Vivi
A/N: Sori ngendor apdetnya. Tapi beneran niatku emang mau publish fic kamis ato jumat kmaren. Tapi mohon maklum. Aku kuliah, dan dosennya juga ga nanggung2 ngasi tugas. Okeh, thanks udah mampir, and please go on. Hope you do enjoy it. By the way, oh, Luna Lovegood, how do I love you! #kena gampar se-RT!
Luffy masih berburu dengan napasnya yang menggebu-gebu di tengah kesunyian kota Alubarna yang lengang. Angin badai bertiup semakin lama semakin kencang. Hembusan itu menimbulkan pergolakkan serta benturan angin yang beradu tak mau kalah dengan atap-atap rumah penduduk yang terbuat dari tumbukan-tumbukan tanah yang dikeraskan. Gebrakan yang dilakukan angin ini mampu saja menerbangkan anak dibawah umur, apabila diliat dari tekanannya ke tubuh ramping Luffy yang dengan susah payah berlari menerjangnya saat ini. Luffy menghalangi wajahnya dengan sebelah lengan dan terus menerjang ledakan angin dengan tubuhnya.
"Vivi!" teriaknya.
Sudah sedari tadi Luffy mengelilingi seluruh pelosok kota—yang walau memang belum keseluruhannya dijelajahi, namun Luffy tidak juga kunjung melihat atau merasakan adanya tanda-tanda kehadiran si mantan rekannya tersebut. Keringat bercucuran dari kedua sisi wajah Luffy, hingga menetes ke jalanan jota yang terbuat dari tanah.
Menyadari absennya keberadaan Vivi dari tempat si pemuda saat ini, dia langsung bergegas menuju lokasi lainnya tanpa membuang-buang sedikitpun waktu yang berharga. Mungkin saja kondisi Vivi dalam keadaan gawat saat ini; karena itu Luffy berusaha membuyarkan pikiran tersebut, dan meneruskan larinya yang seolah tiada henti.
-o0o-
Di sudutan kota Alubarna, tepatnya di tempat pembuangan kota, terdengar bunyi ricuh dari dalam satu gubuk yang masih terang akan cahaya lampu. Dari dalamnya berbagai macam musik padang pasir terdengar, dan menyebarkan keramaian ke lingkungan sekitarnya. Siapa yang peduli, lagipula. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sekitar rumah tersebut, melainkan hanya tumpukan dan gunungan sampah yang seakan tiada habisnya. Nampak ditinggalkan di tengah keramaian yang penuh kepalsuan—suatu ironi yang bisa diambil maknanya; para begundal-begundal jalanan yang berpesta pora, terkucilkan dari masyarakat umum.
Di satu aula yang mirip dengan bentuk utuh dari bar gaya western, sosok tak berdaya Vivi tergantung dengan lemah di podium paling ujung. Wajahnya nampak berdiri diantara kesadaran dan alam bawah sadar dengan begitu jelas; begitu lemah, dan begitu tak berdaya. Pakaian piyama Vivi masih terpasang dengan apik di tempatnya, yang namun kini telah kelihatan sedikit lusuh. Samar-samar, ia mendengar tawa besar para pria-pria di seluruh penjuru bar.
"Kau benar-benar bisa diharapkan, Daram!" sorak pria bertubuh raksasa, berjenggot lebat dan berlapiskan sorban yang mengitari seluruh sisi kepalanya. "Dengan ini kita bisa mendapatkan kembali yang kita harapkan! Bwahahahha!"
Telinga Vivi sedikit berdenging mendengar tawa yang membahana ke seisi ruangan tersebut. Vivi memicingkan sebelah matanya sampai melihat anggota lain dari begundal ini menjawab seruan pria berjanggut lebat tersebut. "Tentu saja, bos Assef! Walau aku secara tidak sengaja bertemu dengan tuan puteri, tapi, yaah, ini keberuntungan kita!"
Vivi semakin tersadar. Ia berusaha menggerakkan kedua tangan dan kakinya, namun dengan cepat pula ia menyadari kalau kedua belah bagian tubuhnya tersebut terkunci secara sempurna dengan tali tambang.
"Hei!" seru Vivi, merasakan suaranya yang sedikit tak kuat untuk berteriak. Seperti ada yang tersendat di tenggorokannya, ia berusaha mengeluarkan suara yang sedikit lebih melengking lagi. "Hei, kalian! Apa-apaan ini?"
"Oo, anda sudah bangun, tuan puteri?" seru pria berjanggut itu. Assef, nama pria besar ini, pikir Vivi.
"Aku tidak kenal kalian, kumohon lepaskan aku!" balas Vivi, sekuat tenaga.
"Oh tidak bisa tuan puteri! Kau adalah sandera yang bisa merubah hidup kami! Bwahahahah, bukan begitu anak-anak!"
Semakin ricuh sorakan yang ditimbulkan para anak buah Assef, Vivi hanya merasakan kedua kupingnya bisa saja meledak kapanpun juga sekarang.
"Aku tidak tahu apa masalah kalian. Dan, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk kalian,"
"Oh, kau bisa tuan puteri. Kau bisa. Hehehe." ujar Daram, si anak buah, terkekeh jelek dengan tubuhnya yang bungkuk itu.
Vivi mengerutkan kedua alis mata, apa maksudnya, bisik hatinya. Assef kemudian memerintahkan Daram untuk mengambil lebih banyak tong bir dari gudang di belakang gubuk, karena mereka akan berpesta pora semakin gila.
Dalam suatu kesempatan Vivi mencuri dengar kalau mereka sudah lama menargetkan penculikan terhadap sang puteri mahkota. Sang bos, Assef, hanya tidak habis pikir bahwa si puteri sendiri yang akan menghampiri mereka pada akhirnya.
-o0o-
Zzzrk.
"Luffy-kun, disini Pell. Ganti!"
"Oh, si burung," ujar Luffy, sehabis mengubek-ubek kantong celananya dan mendapati satu kuroi-Denden Mushi—siput selpon portable yang dipinjamkan Pell sebelum keberangkatan mereka menyelamatkan puteri Vivi. "Aku belum melihat Vivi dimanapun juga. Kau bagaimana?" tanya Luffy, berhenti sejenak di tepian rumah salah satu penduduk. Dia memangkukan satu tangannya pada gentong berisikan persediaan air di muka rumah, dan melap sedikit peluh dari kening dengan tangannya yang satu lagi.
"Chaka samar-samar sudah mendapati bau puteri Vivi di kejauhan. Tapi dia belum dapat memastikan di mana posisi beliau lebih tepatnya."
"Beri tahu aku di sebelah mana Pell. Serahkan pencariannya padaku!"
"Kau boleh memeriksa bagian luar lebih teliti lagi. Hidung Chaka memang andal, tapi penciumannya sedikit terganggu karena bau yang ditimbulkan area pembuangan di sana." ujar Pell. "Kau bisa?"
"Kalian tidak perlu memintanya!" Luffy meletakkan telepon siput kecil itu di atas gentong, dan menggemertakkan kepalannya satu sama lain. "Aku akan menyelamatkan Vivi!" soraknya.
"Selalu bersiaga dengan Denden Mushi-mu, Luffy-kun. Hubungi kami secepat mungkin ketika kau mendapatkan sesuatu!" ujar Pell, mengakhiri komando dan mematikan sambungan.
"OSU!"
Luffy berlari dengan kecepatan penuh keluar kota, dan mengarah ke padang pasir dingin malam hari sebelah luar dari kota Alubarna. Semangat, oh, tentu saja. Tidak ada yang bisa mengalahkan Luffy dalam hal tersebut.
Tapi…dia meninggalkan siput selponnya di atas gentong tadi…
-o0o-
"Minum! Bwahahahaha!" seru Assef menyemangati si gadis. Anak buahnya yang lain juga mengelilingi tubuh sang calon ratu sembari bersorak-sorai melihat sosok tak berdaya Vivi. "Kau harus banyak minum kalau ingin tumbuh menjadi ratu yang hebat, tuan puteri!"
Daram menyogokkan segelas besar bir ke mulut mungil Vivi dengan cukup keji. Dengan kedua tangannya, dia menenggakkan bir dengan kadar alkohol sedang tersebut yang walau mendapatkan perlawanan dari Vivi. Tapi sekuat apapun perlawanan sang puteri menutup mulutnya, itu tak cukup kuat untuk melawan dorongan pria pengikut Assef itu. Vivi mengeluarkan engapan-engapan kecil selagi larutan alkohol tersebut sedikit demi sedikit tertelan, melintasi terowongan kerongkongannya dan menuju ke lambung.
"Bwahahhaha! Kau semakin pintar tuan puteri Vivi!" lanjut seru Assef. "Seseorang yang sudah dewasa itu harus belajar minum minuman keras, agar…agar… Dia semakin dewasa!"
"Hahahaha, bos kesusahan mencari kata-kata, teman-teman!" lanjut Daram, yang sedari tadi tidak juga kunjung melepaskan gelas besar birnya dari mulut Vivi. Rekan-rekan gelandangan lainnya ikut tertawa terbahak-bahak melihat si bos yang kewalahan. Namun melihat Vivi yang sudah terbatuk-batuk sedari tadi, Assef yang menyadari itu menahan bahu bawahannya tersebut, dan menegurnya. "Whoa, whoa! Daram, tahan napsumu. Puteri Vivi bukan orang sepertiku. Perlakukan beliau dengan sedikit lembut, kau tahu?"
"Ups, maaf bos. Aku terlalu semangat." mendapat tepukan pelan dari si bos, Daram terkekeh pelan.
Vivi mengambil napas kebebasan dari gelas raksasa ke-tiganya untuk malam ini. Wajahnya sedikit memerah layaknya tomat dan kedua matanya sedikit layu, sedikit menutup dan semakin lemas. Sekali lagi Vivi terbatuk dan mengeluarkan sedikit cairan bir dari mulut dan kedua lubang hidungnya. Dengan segera dia kembali mencari udara segar agar bisa sedikit merilekskan tubuhnya. "Kenapa…" kata pertamanya setelah mendapati sedikit kebebasannya. Itu saja sudah cukup menyusahkan Vivi. "Kenapa kalian melakukan ini padaku…? Aku…tidak tahu masalah kalian… T-tolong…lepaskan aku."
Assef terdiam menatap wajah tak berdaya sang puteri. Dia mengangkat satu tangan besarnya dan memerintahkan anak buahnya melanjutkan pesta. Pria besar itu mendekatkan tubuhnya pada Vivi, yang menyebabkan si gadis meringis muak dengan bau bir dari seluruh tubuh si bos. Ini bukan seperti Vivi tidak mencium sekujur wajahnya sendiri yang telah basah oleh bir, tapi entah mengapa, mencium bau bir dari orang besar, gemuk dan berkeringat seperti ini hanya terasa memuakkan sekali. Ia sedikit memundurkan wajahnya dengan semakin dekat wajah Assef ke wajah Vivi. "Belum bisa. Maaf, tapi masih belum, tuan puteri."
Vivi menggemertakkan giginya, dan membalas kata-kata si pria. "Kalau kau tidak katakan masalahnya, aku tidak tahu apa yang kau inginkan, paman!" hardik Vivi. "Katakan saja. Aku tahu kalian bukan orang jahat. Siapa kalian sebenarnya?"
Assef membalikkan wajahnya ke anak buahnya yang tertegun oleh teriakkan barusan. Wajah mereka melongo dan saling tatap satu dan yang lainnya. Hingga Daram membuka, para anggota yang jumlahnya bisa sampai dua puluh orangan itu meledak dalam tawa—lagi-lagi. "Hei, bos! Sepertinya puteri Vivi mau nambah bir lagi, 'nih!"
"Bwahahaha, ambilkan dia bir sebanyak yang dia mau dari gudang, Daram!"
"Baik, bos!"
Si bos membalikkan wajah ke sang puteri. Dia berbisik. "Dari mana asal persepsimu yang mengatakan bahwa kami bukanlah orang jahat?"
Vivi mengangkat mukanya sehingga dapat membalas tatapan lurus pria brewokan itu dengan pandangan penuh akan keberanian. "Kalian tidak menunjukkan sikap yang mengancamku. Seolah…penyekapan ini hanya untuk main-main. Apa ini…?" Vivi mengambil sedikit napas panjang, dan lalu melanjutkan kata-katanya. "Jangan bilang…kalau kalian menyandera seseorang hanya untuk mengajaknya minum bir," sang puteri nampak ingin melanjutkan kata-katanya tapi membatalkannya. Dia lebih memilih menunggu jawaban pria di depannya ini menajwab.
"Hei tuan puteri, kau tahu, kekebalan alkoholmu sepertinya cukup bagus juga. Bukan begitu?" Vivi terhening dengan skeptik membalas kata-kata Assef. Tatapannya seolah siap melawan si pria, dan menantangnya di atas ring dalam duel adu tinju. Dan Assef yakin di dalam dirinya, gadis ini bisa saja memberikan tubuh besarnya uppercut One-hit KO ke dagu brewoknya apabila ia mau. "Woah, tidak perlu melotot seperti itu. Baiklah, baiklah. Aku mengaku."
Kedua mata Vivi terbuka semakin lebar. "Itu…benar?"
"Ya. Semuanya benar."
"…apa masalah kalian?" tanya Vivi, yang tubuhnya masih terikat dengan kedua tangan ke atas, dan tali tambang masih melilitnya dengan lumayan erat. "Kenapa sampai…ukh," Vivi meringis kesakitan pada kedau pergelangan tangannya. "Kenapa sampai melakukan ini…?"
"Kau seharusnya mengucapkan kata-kata itu pada ayahmu, paduka Cobra,"
"Ayahanda?" tanya Vivi, tidak habis pikir. Ia mengangkat kedua alis mata dan memberikan ekspresi ketidak percayaan, sebelum kembali fokus kepada Assef. "Aku belum pernah dengar adanya warga yang menderita akibat keputusan beliau,"
"Itu karena salah satu dari mereka tidak ada yang mengatakannya pada kalian! Dan karena kalian juga tidak menanyakannya kepada kami!" Assef sedikit mengeraskan kata-katanya. Dia berbalik menatap anak buahnya yang terus berpesta sedari tadi. "Lihat mereka. Mereka adalah para gelandangan yang diasingkan oleh para penduduk kota."
"M-mereka…?"
"Aku, Daram, dan mereka semua. Kami ter-marjinal-kan oleh kalian semua hanya karena kami tidak memiliki tempat tinggal." Assef membalikkan wajahnya kepada Vivi. "Apa kau paham, tuan puteri Vivi. Kami tidak ingin diperlakukan seperti itu. Bukankah kita sama—sesama manusia yang memiliki hak. Apakah itu begitu salah apabila kami hidup sebagai gelandangan, mengais-ngais makanan basi, kotor, dan yang sudah menyerupai sampah. Apakah itu begitu berdosa hingga sampai para penduduk kota harus mengucilkan kami?"
Vivi tertegun dan terdiam di tempatnya. Dia menggeleng pelan.
"Rautmu mengatakan 'apa yang sudah 'ayahanda'ku lakukan', bukan begitu? Baik. Akan kuceritakan kepadamu, apa yang sudah beliau lakukan," Assef memakukan matanya pada Vivi, dan membagikan tatapan dalam dan sedihnya kepada si puteri mahkota. "Beliau menggusur kami. Menghancurkan tempat tinggal kami satu-satunya di dalam kota, dari rumah tempat kami tinggal dan berlindung. Yaah, kau boleh bilang tempat itu memang tidak layak untuk ditinggali, tapi itu sudah cukup membuat kami senang dan menikmati kehidupan kami."
"Tidak mungkin. Ayahanda tidak akan pernah melakukan tindakan itu dengan begitu saja. Pasti ada alasannya…"
"Ya, ada! Sudah pasti ada! Itu disebabkan oleh seluruh rakyat yang disayangi oleh beliau! Beliau terlalu menyayangi para penduduk yang hanya nampak dari setiap sudut matanya; beliau tidak melihat kami yang berada jauh dari tatapan matanya, kami yang terus tertinggal di pojok remang-remang dari bayangan kota."
"Itu…aku…"
"Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, tuan puteri. Kami hanya menginginkan hak kami. Karena itu kami harus menyanderamu." ujar Assef, menenggak satu gelas penuh berisi bir di genggaman kuat tangan kanannya.
"Kau tidak akan mendapatkan apa-apa bila melakukan hal ini. Kau hanya akan mendapatkan…hanya mendapatkan hukuman!"
"Ada satu hal yang kau salah terka, tuan puteri." jawab si pria, memotong kata-kata si gadis. "Kau pikir kami tidak berpikir sampai ke situ? Kami sudah muak bahkan untuk memikirkannya. Kami tidak peduli apa yang paduka akan lontarkan, tapi kami sudah siap. Kami sudah siap bertempur demi mendapatkan hak kami untuk tinggal di kota tempat kelahiran kami, bukan di tempat pembuangan kumuh seperti ini!"
"Oh, tidak…jangan melucut peperangan lebih banyak lagi. Kumohon…" ujar vivi, lemah.
"Anak-anak! Kita akan ke pusat Alubarna besok! Persiapkan diri kalian!" seru si bos, mengangkat tangan kuat yang berbulu miliknya.
"Bos, birnya datang!" ujar Daram yang datang beserta dua tong bir lainnya di kedua lengannya.
"Ohohoho, kerja bagus Daram!" Assef menggayung gelas besar miliknya dan mengisinya dengan cairan berwarna kekuningan dari dalam gentong. "Biar aku yang bersulang untuk sang puteri!"
"Whoooooo!" seluruh anak buah Assef seperti terbakar semangat melihat bosnya yang berjalan ke arah Vivi dengan segelas bir di tangan.
Assef mengangkat gelas berisi bir tersebut ke udara, dan kembali bersorak. "Kehormatan ini untuk tuan puteri Vivi yang telah bersedia menyerahkan dirinya kepada kita demi mendapatkan kembali apa yang dulu kita miliki! Bersulang untuk Yang Mulia Vivi!"
'Apa yang harus kulakukan…? Walaupun misalkan tak terjadi peperangan, mereka semua berniat melakukan tindakan anarkis dan memahami dengan baik tindakan bodoh mereka beserta seluruh konsekuensinya…' Vivi merundukkan kepalanya, semakin lemah dan semakin kehilangan kesadaran dirinya. 'Oh, Kohza…apa yang harus kulakukan…?'
BRRRUUUUAAAKKKK!
Keheningan mendera seisi gubuk bar itu. Suasana yang beberapa getaran lalu masih begitu ricuh dan ramai, kini situasi di tempat kejadian perkara tersebut tidak ubah bedanya dari lembah kematian yang begitu hening dan sepi. Seluruh pasang mata terus saja berbolak-balik dari seorang pria yang terhempas dari luar, dan juga ke arah pintu yang sepenuhnya hancur oleh ledakan barusan.
"…kau. Apa yang terjadi padamu?" tanya Assef, terkejut setengah mati melihat bawahannya terhempas seperti permen yang dilemparkan ke udara.
"B-bos…pria itu…tidak salah lagi…"
"Pria? Pria siapa!" seru Assef semakin kencang.
"S-sang Raja bajak laut…Luffy si topi jerami…" pria itu pingsan tepat setelah mengucapkan nama tersebut.
"…L-Luffy-san…?" bisik Vivi dari balik napasnya. Kedua matanya hampir berlinang mendengar satu nama di tengah keheningan ini. Nama yang begitu bersahabat di telinganya.
Siluet Luffy muncul dari balik puing-puing dan debu yang berhamburan tepat di tempat yang tadinya adalah merupakan pintu bar. Dia kembali menggemertakkan tangannya satu sama lain, dan melangkahkan kakinya memasuki aula. "Vivi tidak akan kemana-mana sebelum pamitan dengan ayahnya."
"Luffy-san!" seru Vivi akhirnya, dari tengah-tengah podium paling ujung dari aula.
"Vivi, kau tidak apa-apa?"
"Gawat…!" bisik Assef dari balik meja yang ditidurkan. "Siapa yang tidak tahu dengan Luffy si Raja bajak laut dan kekuatannya? Luka bakar pada dada, luka sayat di bawah mata kiri, dan topi jerami itu! Kenapa dia bisa tiba-tiba muncul di sini? Bajak laut seharusnya di laut, bukan di pasir!"
Assef menggerakkan pandangannya, dan menemukan Daram tak begitu jauh dari dirinya yang tengah bersembunyi. Assef menghimbau bawahannya tersebut, dan dengan segera Daram menarik diri ke balik bar, ke arah dapur.
Luffy melangkahkan satu tapak berikutnya di dalam bar. Tiba-tiba satu per satu anak buah Assef berjatuhan silih berganti. Masing-masing dari mereka nampak shock dengan kedua pupil mata yang hilang entah kemana. Mulut mereka semua juga mengeluarkan busa dan buih, yang kalau diingat lagi kelakuan mereka sebelum ini yang menenggak bir secara terus menerus, mereka kelihatan overdosis oleh minuman keras mereka.
Assef menutup kedua mata, dan kedua telinganya. Berusaha menjauhkan sosok mengerikan Luffy dari benaknya. Alhasil, kini hanya tinggal dia sendiri saja dari kelompok begundalnya. Assef mengangkat kepalanya, dari balik meja, dan bola matanya hampir melompat keluar ketika melihat lautan anak buahnya di seluruh sudut bar. Tidak dihajar, hanya pingsan oleh tekanan.
"A-apa maumu, topi jerami! Kami tidak punya urusan denganmu!" sorak Assef, gemetar dan melelerkan ingusnya. Dia tahu dengan baik—oh, siapa yang tidak mengetahui sepak terjang sang Raja bajak laut ini, Assef tidak punya kesempatan sama sekali melawan pria di depannya saat ini.
"Aku punya urusan dengan Vivi."
Luffy semakin mendekati meja tempat Assef bersembunyi, dan si bos semakin putus asa sambil membayangkan kepalan yang ekras itu mendarat di pipi tambunnya nanti. "Hii! Daram! Apa yang kau lakukan, cepat!" teriaknya lantang.
Sosok pria yang dipanggil memasuki ruangan, dan dengan tergesa-gesa berlari ke arah Luffy.
"Ha, kau mau kuhajar juga?" tanya Luffy, tidak memperhatikan tangan pria yang membawa sesuatu tersebut.
Luffy mengangkat satu kepalannya, berniat menghempaskan Daram jauh-jauh dari ruangan ini. Tapi dengan cepat, Daram memborgol satu pergelangan Luffy dan memastikan bahwa itu sudah terpasang dengan baik pada tempat yang diniatkan.
Luffy melirik pergelangannya, dan untuk beberapa detik dia mencerna perkembangan terbaru ini. Barulah setelahnya matanya terbelakak melihat borgol kairoseki terpasang dengan erat di satu tangannya. "Waa, boho-"
SLAMM!
Daram menghantaml kepala Luffy dengan kursi bar, membuat Luffy tercampak ke dek kayu dan berhamburan bersama dengan patahan-patahan kursi tersebut.
"Ah, kalian-"
Satu tendangan lagi ke arah kepala membungkam mulut Luffy, dan ia terbaring lemah menatap lantai kayu. "-kalian curang…uhuk," Luffy memuntahkan sedikit banyak darah dari sela-sela bibirnya yang terluka akibat hempasan kaki Daram.
"Hahahaha, sepertinya kau tidak berdaya sekarang, Luffy si topi jerami?" gelak Assef, tertawa dan keluar dari persembunyiannya.
"Oh! Luffy-san!" kedua mata Vivi membesar, dan untuk kesekian kalinya pada malam ini dia kembali meneteskan air mata. "Hentikan! Hentikan sekarang juga! Kumohon! Jangan lukai Luffy-san lebih dari ini!"
Luffy kembali terbatuk. Dia memangkukan satu siku dan menopang pundaknya untuk mengangkat dirinya sedikit. "Ah, borgol ini lagi…hah hahh"
"Kau masih sadar juga ya, ha!" Daram sekali lagi melancarkan tendangannya ke arah perut Luffy, namun tidak diduga-duga sedikitpun Luffy menangkap kaki pria tersebut dengan genggamannya.
Perlahan Luffy berdiri dengan susah payah, dan walau cukup sulit dia meninju sisi muka Daram (dengan sangat keras), mengirimkannya keluar bar dengan kecepatan suara dan hilang kesadaran saat itu juga.
Dia tersenyum lebar, dan menatap pria besar brewokan di depannya. "Jangan pernah meremehkan aku, pak tua,"
Assef terjatuh ke atas kedua lututnya, membuihkan busa dari dalam mulut dan tenggorokan sebelum terjatuh lemah tak sadarkan diri. Luffy mengambil kunci yang Daram jatuhkan ketika dia terpental, dan si pemuda bajak laut menggunakannya untuk membuka borgol di pergelangannya.
Luffy menghembuskan napas lega selagi menatap balik pandangan Vivi. "Kau tampak kurang sehat, Vivi,"
"Oh, Luffy-san,"
"Sini, kubantu."
-o0o-
"Kenapa begitu?" tanya Luffy seraya melayangkan matanya kepada Vivi yang duduk lemas di sebelah si pemuda di atas podium. Vivi mengelus-elus pergelangannya dan merasakan tubuhnya semakin lemah seiring berjalannya waktu. Kepala Vivi terasa tak bertenaga lagi, dan lalu terjatuh ke pundak kanan Luffy. "…jangan memaksakan diri." ujar Luffy, yang menyadarinya.
Vivi tersenyum tipis. "Tidak ada alasan khusus. Tapi…mereka semua di sini adalah korban."
"Terserahmu saja. Sekarang biar ku-telpon Pell. Kalau tidak salah…teleponnya di sini. Eh-"
"…ada apa?"
"Sepertinya siput itu melompat dari kantong celanaku."
Desert Rainstorm Continued to the next chapter 7 soon
-o0o-
Hihaaa, apdet lagi. Yesh kali ini aku semakin banyak dapat alert! Woot buat kita semua! Yay.
Tenang aja, belum ada tanda2 kalau fic ini mau selesai 'kok. Tapi aku bener2 berapi2 untuk menyelesaikan fic ini. Karena mungkin tujuanku berikutnya HarPot fandom. Kenapa? Karena kau lagi freak Harry Potter! Mwahahahha, Lunaaaa #Plakk!
xxx
Next on!
"Agar kalian tidak menganggur, ayahanda, aku ingin mereka diangkat sebagai tentara kerajaan dan mendapat kehidupan layak di sini." jelas Vivi.
-o0o-
"Eh, kau mengajak kami ke onsen? Vivi-chan?" tanya Nami.
"Huwooo, Vivi-chwan, Nami-swan dan Robin-chwan di pemandian air panas! Itu adalah surga!" heboh si koki.
"Kau pulang saja ke kapal sana! Berisik banget!" desis si wakil kapten.
"Hei, Luffy mana?" ujar Usopp, tiba-tiba.
Pojok Review-in Reviews
Ch 5:
omgitsuru: Wai, Uru ya? :D oke deh Uru-chwan. Inget Uru jadi inget Uryuu dari Bleach ato Kururu dari Keroro Gunso. Halah, ngaco. Iya, mungkin Vivi cuma kalap. Semoga kamu tetep nungguin apdet-nya ya.
Hand Yow: Yo, bro. Kmana aje? Hey thanks, n Gapapa, 'sih. Tapi semoga masih kecantol sama ceritanya, ya :D
Lolu Aithera: Halo salam kenal. Semoga enjoy sama ceritanya, ya. Klo ada saran ato masukan, ga usah, ragu sampaikan sadja. ;)
That's all for now, class dismissed, and ciao ciao All ;D
~Crow
