Prologue : The Beginning

Ini fict multi-chap pertama saya, minna-san!~

Dan, yap saya bikin Kuroshitsuji lagi dengan main pair SebasxFem!Ciel.. *karena saya belum berani bikin yaoi-,-*

Yak, daripada bacotan saya makin panjang, kita langsung saja ke cerita..

Disclaimer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso sensei, saya cuma pinjem chara-charanya yang amatlah keren!~

Warning: AU, supernatural, typo(s) & OOC maybe?, di sini Sebastian umurnya 5 tahun-jangan tanya kenapa karena untuk keberlangsungan cerita-


Red Moon

by: Kuroschiffer P.

...

Merah. Bulan purnama yang bersinar terang memantulkan sinar merah gelap di mata merah menyala-ku. Aku pun mencoba berdiri perlahan. Luka dan sayatan yang terbentuk di sekujur tubuhku menyisakan rasa sakit dan perih yang mendalam. Rambutku yang tadinya hanya berwarna hitam kelam, kini dihiasi warna merah pekat darah yang hampir mengering.

Seluruh kulitku yang putih pucat, kini dihiasi cipratan-cipratan merah cairan berbau anyir itu. Aku berdiri, menatap nanar sekelilingku, menatap lautan merah pekat berbau anyir yang menusuk, yang terhampar luas di dataran yang sekarang aku pijak. Di sekelilingku terdapat mayat-mayat saudara sebangsaku bergelimpangan bercampur dengan mayat-mayat para penyerang kami.

Jubah-jubah merah marun kebanggaan mereka, kini tak ubahnya sama dengan warna yang sekarang menghiasi seluruh tubuh mereka. Lambang-lambang saint putih yang selalu mereka bawa dan banggakan, kini patah, hancur berantakan hingga tak bersisa dan tertutupi warna merah—darah mereka sendiri.

Aku kembali melihat sekelilingku. Mencoba menghilangkan shock berat yang baru saja menimpaku. Memori peristiwa keji yang seharusnya tak boleh ditonton oleh anak berumur 5 tahun sepertiku, terus berulang di kepalaku seperti kaset rusak yang menampilkan adegan-adegan mengerikan yang seakan mengejekku. Peristiwa yang tadinya kukira hanyalah mimpi buruk yang akan hilang setelah kita terbangun. Kenyataannya, saat aku membuka mata, keadaan sekitarku tidaklah berubah. Aku memejamkan mataku kembali.


Aku berteriak marah kepada mereka, para penyerang yang mengaku sebagai oraganisasi suci yang menjunjung tinggi perdamaian, yang seharusnya menjaga perdamaian, yang sekarang malah menghancurkan perdamaian itu sendiri dengan menyerang bangsaku. Sumpah-sumpah konyol tentang perdamaian terus mereka serukan sambil maju menyerang bangsa kami.

Mendengar teriakanku, salah satu dari mereka menyerangku dan memberiku pukulan telak di perut serta tusukan dan sayatan di sekujur tubuhku. Aku jatuh seketika. Penyerangku yang menganggap aku sudah mati, pergi meninggalkanku dan menyerang saudaraku yang lainnya. Aku masih dapat melihat sayup-sayup saudara-saudaraku yang mulai tumbang satu per satu. Bahkan saat ibuku sekarat, memohon ampun pada penyerangnya yang kemudian dengan soknya dia acuhkan. Penyerang itu bahkan memberi hadiah tusukan di kepala ibuku yang langsung membuatnya jatuh terkulai tak bergerak.

Aku marah sekali. Ingin sekali aku mencabik orang itu. Orang yang telah menghabisi ibuku. Tidak hanya orang itu, mereka semua yang menyerang kami. Mereka semua yang memusnahkan bangsa kami, para penghisap darah.

Tetapi, tubuhku berkata lain. Aku bahkan tak bisa menggerakkan satu otot pun. Kemudian kelopak mataku terasa berat. Makin lama makin berat hingga mataku benar-benar tertutup. Hanya kegelapan yang dapat aku lihat dan suara-suara dentingan senjata, lengkingan, suara-suara yang marah saling memaki, dan teriakan kesakitan dari orang-orang yang sekarat yang membuat telingaku sakit seperti teriris. Kemudian aku semakin masuk ke alam tak sadarku dan kemudian pingsan.


Aku membuka mata. Kembali melihat sekeliling yang masih tak berubah. Aku berjalan melewati lautan merah ini, berusaha keluar dari dataran mimpi buruk ini. Menyusuri jalanan yang sekarang sudah tertutup mayat. Aku melihat mayat-mayat penyerangku dan menyeringai puas karena mereka semua juga ikut pergi ke alam sana bersama saudara-saudaraku. Aku tak tau apa yang terjadi setelah aku pingsan dan siapa yang menghabisi para penyerang bangsaku itu. Aku tak peduli, yang jelas dendam bangsaku kepada mereka dapat langsung terbalas dengan adanya peristiwa ini.

Aku berjalan semakin memasuki hutan yang memang sangat gelap. Angin malam berhembus kencang menggerakkan dahan-dahan pohon serta menerbangkan daun-daun yang sudah gugur. Semakin lama aku berjalan ke dalam hutan, tak tau arah mana yang kutuju. Hingga kemudian tubuhku tak sanggup lagi berjalan dikarenakan sakit yang kembali menjalar di seluruh tubuh. Aku kemudian berhenti di sebuah pohon besar yang sepertinya sudah amat tua umurnya. Aku jatuh terduduk tak sadarkan diri lagi di depan pohon itu.

Saat aku membuka mata, aku sudah ada di atas tempat tidur single di sebuah kamar kecil dalam rumah sederhana yang sepertinya terletak di pedesaan. Aku menatap seluruh pemandangan asing ini sambil berusaha bangun dari tempat tidur. Seseorang kemudian mengetuk pintu kamar dan kemudian membukanya.

"Ah, kau sudah bangun rupanya! Jangan bangun dulu! Lukamu belum pulih sepenuhnya, Nak!"

Aku hanya diam menatap seorang wanita berambut pirang bermata cerulean blue yang sangat indah itu. Wanita itu berjalan mendekatiku sambil membawa nampan berisi makanan berupa bubur gandum hangat beserta secangkir teh yang masih mengepul.

"Ini, makanlah! Kau pasti lapar. Suamiku menemukanmu dua hari yang lalu di dalam hutan saat ia sedang berjalan-jalan. Waktu itu kondisimu sangat menyedihkan." kata wanita itu seakan tau kebingungan yang ada di pikiranku.

Aku hanya diam menatapnya, kemudian memakan makanan yang dibawa wanita itu dengan lahap. Wanita itu hanya duduk di pinggiran tempat tidur dan memperhatikanku sambil tersenyum.

"Sepertinya kau sangat lapar, ya? Kalau mau tambah bilang saja! Oh iya, aku belum tau namamu." kata wanita itu.

"Sebastian, Sebastian Michaelis." jawabku singkat sambil menundukkan kepalaku. Malu.

"Sebastian, ya? Nama yang bagus! Namaku Rachel Phantomhive." kata Rachel sambil tersenyum hingga bola matanya menutup.

Aku hanya mengangguk dan menyelesaikan kegiatan makanku. Melihat aku sudah selesai, Rachel menaruh nampan berisi mangkuk dan cangkir kosong itu di atas meja di samping tempat tidur.

"Kau tau, Sebastian? Malam itu aku kaget sekali suamiku tiba-tiba membawa pulang seorang anak kecil penuh luka. Suamiku menyuruhku mengobatimu. Aku panik sekali karena baru pertama kali aku lihat anak sekecil kau terluka seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Sebastian?" tanya Rachel dengan wajah prihatin dan penasaran.

Aku menundukkan kepalaku. Diam, lama tak menjawab. Tak mau mengingat peristiwa di malam itu. Malam pembantaian saudara-saudaraku.

"…Aku tak mau membahasnya, Mrs. Phantomhive." jawabku.

"Baiklah kalau begitu, aku tak akan memaksamu. Lalu, di mana rumahmu, Sebastian? Aku yakin orang tuamu pasti amat khawatir sekarang. Aku dan suamiku akan mengantarmu nanti." kata Rachel.

"…Aku..tidak punya tempat tinggal dan orang tuaku..." jawabku terputus sambil tertunduk, berusaha menahan air mata yang sudah menggantung di sudut mataku mengingat orang tuaku yang terbunuh oleh mereka, para penyerang itu. Mengingat tempat tinggalku yang juga hancur, rata dengan tanah akibat ulah mereka juga.

Rachel terdiam menatapku kemudian mendekapku erat. "Maafkan aku telah bertanya! Baiklah, kalau begitu kau tinggallah dengan kami. Aku juga punya anak perempuan yang usianya kira-kira sama denganmu. Besok akan kuajak kau ke tempatnya. Dia sedang berlibur di rumah bibinya sekarang. Ya, Sebastian?" katanya seraya melepaskan dekapannya dan menatapku sambil tersenyum.

Aku terkejut mendengarnya. Terkejut merasakan kebaikan manusia biasa kepadaku yang biasanya dikucilkan. Ah, kemudian aku tersadar. Itu karena wanita ini belum tau warna asliku. Belum tau makhluk apa aku ini. Ia berpikir aku dan dirinya sama—manusia. Padahal jika ia tau, masih maukah dia merawatku? Mendekapku seperti tadi, memperlakukanku dengan baik?

Aku memutuskan untuk tidak memberi taunya dan tetap berpura-pura menjadi manusia. Aku tersenyum kepadanya dan mengangguk. Kuabaikan rasa hausku akan darah yang sudah mulai terasa. Aku memang belum meminum darah manusia dari 4 bulan lalu. Aku berpikir, bila rasa haus ini kuabaikan, aku akan dapat menjadi manusia normal pada umumnya. Namun, aku memang tidak bisa melawan takdirku.

Maka, keesokan harinya, hal itu terjadi..

To Be Continued


A.N: Yak, maaf kalau pendek, karena saya sengaja bikin prologue pendek. Dan kalau banyak kekurangan dan kesalahan di fict di atas, saya mohon kritik & sarannya minna-san karena berhubung saya newbie :3 Dan kalau fict ini amatlah aneh dan gaje serta miskin review saya akan hapus mungkin.

Sa, once more, mind to review?

Someone who trapped in Shadow,

Kuroschiffer P.