Chapter 1: That New Student
.
Gomen kalau saya apdetnya sangat lama! Biasa, penyakit males author menyerang!~ *plak!*
Yak, di chap ini tak ada hubungnnya dengan yang kemarin. Sa, enjoy reading~
Disclaimer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso-sensei! Saya cuma pinjem chara-chara-nya yang super keren!
Warning: AU, typo(s), OOC, supernatural ga keliatan di sini
Red Moon
by: Kuroschiffer P.
…
London, Spring, 11 years later, 7 am
Cahaya mentari pagi menelisik masuk melalui celah tirai bermotif kotak-kotak biru-hitam. Hal itu memaksa seorang remaja yang sedang berbaring di kasur membuka kelopak matanya perlahan. Ia melirik jam weker yang dari tadi terus berdering di atas meja di samping tempat tidurnya dengan malas. Ia pun bangun dan meregangkan otot-otot tubuhnya sejenak. Kemudian ia melirik kalender yang berdiri di samping jam weker.
"Hnghh! Ah, hari ini Senin ya? Cepat sekali libur musim dingin tahun ini."
Dengan malas ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi yang jaraknya hanya beberapa kaki dari tempat tidurnya. Rambutnya yang panjang sepinggangnya tergerai melambai-lambai dengan anggun. Sesampainya di dalam kamar mandi, ia berkaca sejenak.
Bisa ia lihat wajahnya yang berantakan. Rambut kelabu kebiruannya yang berkilau acak-acakan. Mata cerulean dark-nya terlihat kuyu dan berair bekas bangun tidur. Yah, tampangnya saat bangun tidur memang sangat kacau. Kemudian ia memutuskan untuk tidak peduli dan berjalan memasuki box shower.
…
Setelah selesai mandi, berpakaian seragam, dan sarapan, ia berjalan keluar dari apartemennya. Ia tinggal seorang diri di apartemen itu. Untuk ukuran seorang gadis remaja, ia memang dikatakan sangat berani untuk tinggal sendirian. Ya, ini bukan kemauannya untuk tinggal sendirian. Kita akan tau sebabnya pada saatnya nanti. -plak-
Dia berjalan keluar dari apartemennya yang terletak di lantai 18 sebuah gedung apartemen berlantai 40. Dia menekan tombol lift ke bawah dan menunggu alat transportasi yang berjalan secara vertikal itu sampai di lantai tempatnya berada.
Satu per satu orang-orang yang tinggal di lantai tersebut mulai bermunculan, ikut menunggu lift tiba. Tidak ada yang spesial di pagi yang cerah ini. Lift pun sampai di lantai ia berdiri. Semua yang ada di lantai tersebut berjalan masuk ke dalam lift tak terkecuali gadis itu.
Setelah sampai di lantai dasar ia berjalan keluar gedung menuju halte terdekat. Bisa kita lihat banyak orang yang akan berangkat kerja atau sekolah pagi ini. Pria ataupun wanita, orang dewasa maupun anak-anak sudah datang memenuhi kursi yang tersedia di halte. Gadis itu tak masalah dengan hal tersebut. Toh, bis yang akan dinaikinya sebentar lagi akan datang.
Tiba-tiba, seorang pemuda berdiri di samping gadis itu. Pemuda berambut hitam lurus bergaya harajuku itu ikut menunggu kedatangan bis seperti dirinya. Gadis itu meliriknya. Pemuda itu memakai seragam yang sama dengan seragam sekolahnya.
'Satu sekolah denganku ya?' pikir gadis itu.
Sadar dirinya diperhatikan, pemuda itu menoleh ke samping, ke tempat gadis itu berdiri. Pemuda itu pun tersenyum manis kepada gadis itu. Gadis itu acuh dan hanya memalingkan mukanya ke depan, ke arah bis yang selama ini ia tunggu kedatangannya.
Kedua pipi gadis tersebut sedikit memerah lantaran dirinya ketahuan memperhatikan pemuda di sampingnya. Gadis itu sempat melihat wajah pemuda itu. Yang sangat membuat gadis itu terpukau adalah kedua mata yang dimiliki pemuda itu. Mata red ruby yang indah menawan yang jarang sekali dimiliki orang. Gadis itu melangkahkan kakinya memasuki bis merah itu, beserta pemuda tadi dan orang-orang yang lain.
Gadis itu memilih bangku kosong paling depan dekat jendela di sisi kanan. Bangku itu selalu menjadi bangku favorit gadis itu tiap kali ia berangkat sekolah. Ia selalu senang memandangi jalan dan pemandangan sepanjang perjalanan menuju sekolah. Menurutnya hal itu menenangkan.
Lain dengan gadis itu, pemuda tadi duduk di bangku kosong paling depan di sisi kiri. Tepat di seberang samping bangku gadis tadi. Pemuda yang merasa dirinya tadi diacuhkan, menolehkan wajahnya yang tampan bak model atau aktor terkenal itu menuju gadis tadi.
'Sombong sekali, sih gadis itu!' pikir pemuda itu. Gadis yang sedang diperhatikan pemuda itu tiba-tiba tersenyum menghadap ke jendela—karena melihat sesuatu di luar sana—membuat pemuda itu tertegun sejenak dan ikut tersenyum. 'Ternyata kalau tersenyum manis, ya?' pikir pemuda itu lagi. 'Eh, sepertinya aku kenal wajah itu. Dimana, ya?'
Akhirnya bis sampai di tempat gadis dan pemuda itu tuju. Sekolah mereka, Lanchester High School. Gadis itu turun dari bis dan berjalan menuju gerbang sekolahnya. Sebelum ia mencapai gerbang, seseorang memeluknya erat dari belakang.
"Kyaaaaa! Cieeel! Aku kangen kamu! Sudah lama ya, kita tidak bertemu! Kau makin manis saja, Ciel! Aku makin gregetan! Kamu selama liburan musim dingin ke mana saja? Blablabla.."
"Elizabeth! Lephaskhan tahnganmu, akhu tak bisha bernafhas khalau sepherthi ihnih!" sahut gadis itu sambil meronta-ronta, yang ternyata bernama Ciel. Ya, Ciel Phantomhive.
"Ah, baiklah!~" kata gadis ceria itu, yang bernama Elizabeth Middleford.
Ciel yang ngos-ngosan, selepas dari pelukan 'maut' Elizabeth–author digampar Lizzie-, menatap gadis berambut kuning cerah yang dikuncir dua tersebut. Sebelumnya timbul niat Ciel untuk memarahinya, tetapi niat itu hilang lantaran melihat senyum innocent Elizabeth yang akrab disapa Lizzie itu.
Entah mengapa, tiap kali Ciel ingin memarahi Lizzie, muncul perasaan tak tega. Mungkin karena Lizzie merupakan sepupunya dan satu-satunya gadis yang mau menjadi temannya selama ini sejak kecil, menerima dan memaklumi sifat Ciel yang angkuh dan pemarah serta berharga diri tinggi. Karena hal itu juga, Ciel dijauhi dan sulit bersosialisasi dengan yang lain.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka ke sekolah dengan mengobrol bersama—meski sebagian besar hanya Elizabeth yang bicara dan Ciel hanya sesekali menyahuti dan kebanyakan ber-'hn' ria. Tanpa mereka sadari, sepasang mata red ruby mengamati mereka.
Mata itu kemudian berubah warna menjadi sewarna berry menyala, kemudian berubah kembali ke warna semula. Dan sebentuk seringai terbentuk di bibirnya. 'Ya, dia memang gadis yang sangat menarik.' pikir pemuda berambut hitam tadi.
…
Sesampainya Ciel dan Elizabeth di kelas, mereka langsung menuju meja mereka masing-masing. Ciel dan Elizabeth duduk depan-belakang. Meja mereka terletak di pojok belakang kelas di dekat jendela. Ya, jendela sepertinya memang tempat favorit bagi Ciel dimanapun ia berada.
Dari jendela kelas Ciel yang terletak di lantai 2, bisa terlihat taman, tempat parkir, dan lapangan Lanchester High School yang luas berbentuk persegi panjang yang dikelilingi pot-pot tanaman dan pohon-pohon kecil yang membuat lapangan sejuk dan teduh.
"Hoi, Ciel! Jangan melamun saja! Kita kan lagi ngomong!" kata seorang pemuda bermata blue sapphire yang tiba-tiba menepuk pundak Ciel dan menyadarkannya dari lamunannya.
"Ah, ada apa Alois, Elizabeth?" kata Ciel kikuk.
"Bukan Elizabeth, kan Ciel? Lagi-lagi kau memanggilku begitu." sahut Elizabeth sambil merengut.
"Haha, iya-iya, Lizzie! Puas?" kata Ciel. Elizabeth hanya tersenyum.
"Oi, Ciel, libur musim dingin kemarin kau kemana? Aku menelpon ke HP dan apartemenmu tapi tak diangkat?" tanya pemuda tadi yang ternyata bernama Alois Trancy yang duduk di meja di depan Ciel, di samping meja Elizabeth.
"Ooh, aku berlibur di rumah bibiku di kampung. Mungkin di sana tidak ada sinyal, hingga tak tersambung ke HP-ku." kata Ciel.
"Ah, pantas saja, padahal kami ingin mengajakmu jalan-jalan bareng!" kata Elizabeth.
"Soalnya aku sudah lama tidak mengunjungi bibiku. Dia kan keluargaku satu-satunya sekarang. Lagipula—"
KRRIIING
Ucapan Ciel terpotong suara bel yang berdering keras, tanda masuk waktu pelajaran pertama. Murid-murid yang tadinya asyik bercanda, ngobrol, duduk di meja, jalan-jalan, mengerjakan PR, langsung duduk di tempatnya masing-masing dengan tertib.
Mereka tau bahwa pelajaran pertama mereka adalah Sejarah yang diajar oleh wali kelas mereka sendiri yang sangat disiplin dan menjunjung tinggi peraturan—Mr. William T. Spears.
"Morning, class!" kata guru mereka yang baru memasuki kelas.
"Good morning, sir!" jawab murid-murid serentak.
"How's your holiday? Today, we've got a new student. Come!" kata guru berambut hitam kelimis tersebut.
Seorang pemuda berambut hitam pekat lurus, bermata red ruby sewarna darah, berkulit putih pucat, berperawakan tinggi berjalan tenang memasuki ruang kelas. Paras wajahnya yang memang setara dengan aktor ternama Hollywood itu membuat gadis-gadis di kelas terpesona akan dirinya. Gadis-gadis itu mulai cekikan, berbisik-bisik genit, bahkan berteriak langsung saking excited-nya.
"Kyaaaaaa!"
"Keren sekali!~"
"Huwa, mataku tak berkedip memandangmuu!~"
"Wow, you're so hot!"
"Waaii, pilih aku! Pilih aku!" -apaan lagi-
Dan banyak lagi sorakan-sorakan girang tak bermutu yang terlontar keluar dari mulut gadis-gadis di kelas itu. Namun ada satu gadis yang tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Hanya diam menatap pemuda yang berdiri di depan kelasnya. Terpaku dengan mata merah pemuda itu yang menurutnya, dia takkan bosan memandangnya.
'Dia..yang tadi pagi, kan? Ternyata murid baru.' pikir Ciel.
Dan lain halnya dengan para siswi genit itu, para siswa mulai menggerutu. Mereka merasa mulai tersaingi dengan pesona Sebastian.
Pemuda itu melihat ke seluruh penjuru kelas dengan senyum manis yang selalu ia pasang di wajahnya. Awalnya ia merasa sedikit risih dengan teriakan-teriakan ala fangirIs dari gadis-gadis di kelas, tetapi matanya menangkap sosok seorang gadis yang mengacuhkannya dan menyita perhatiannya tadi pagi.
'Ah, kelas ini sungguh menarik!' pikir pemuda itu sambil menyeringai.
"Sst! Jangan berisik, anak-anak! Beri waktu murid baru ini untuk memperkenalkan dirinya. Now, please introduce yourself!" kata Mr. Spears kepada murid baru itu.
"Ah, good morning, friends! My name is Sebastian Michaelis! I'm from France. Well, then, nice to meet you!" kata Sebastian yang sukses membuat semua gadis di kelas diam lantaran mendengar suaranya yang oh-damn-so-sexy itu.
Tak lama kemudian, mereka langsung ribut lagi. Minta alamat-lah, nomor telepon-lah, e-mail-lah, bahkan ukuran singlet-nya pun ditanya. -WTH!*swt*-
"Nah, Michaelis, kau bisa duduk di meja kosong di belakang itu." Kata Mr. Spears menunjuk bangku kosong di sebelah Ciel.
Karena sifat Ciel, tidak ada orang yang mau duduk di dekatnya kecuali Elizabeth dan Alois. Mereka berdua memang baik pada siapapun dan tidak memilih-milih teman. Mereka pun lebih senang berkumpul bertiga dengan Ciel daripada dengan yang lain.
"Dan sekarang, kita mulai pelajaran hari ini. Jangan ribut!" kata Mr. Spears memeringati gadis-gadis di kelasnya yang dari tadi masih saja ribut seperti bebek menyahuti Sebastian yang sedang berjalan menuju mejanya.
Sebastian duduk di mejanya. Ia menoleh ke kiri, ke tempat Ciel duduk. Ia menyeringai hinggap kedua bola mata merahnya yang indah menutup.
"Hai, kau yang tadi pagi, kan? Kenalkan, aku Sebastian. Kau?" kata Sebastian kepada Ciel sambil agak berbisik agar tidak ketauan mengobrol.
"Hn." jawab Ciel singkat tak menoleh dan tetap memperhatikan ke depan kelas. Ia acuh menanggapi sapaan murid baru tersebut.
"Sepertinya kau jarang membersihkan telingamu, eh? Sampai-sampai tidak bisa mendengar ucapan orang." celetuk Sebastian yang merasa diacuhkan untuk kedua kalinya.
Telinga Ciel berkedut, empat siku-siku terbentuk di sudut keningnya. "APA? Enak saja sembarangan mengatai orang yang baru kau temui! Aku dengar semua yang kau katakan bodoh!" jawab Ciel kasar sambil menengok ke arah Sebastian yang sedang tersenyum—baca: menyeringai.
'Huh, ternyata dia tidak sebaik kelihatannya!' rutuk Ciel dalam hati.
"Ternyata kau bisa bicara juga, toh. Lagipula kau belum jawab pertanyaanku sebelumnya." kata Sebastian tenang. Ia senang sekaligus heran melihat respon Ciel yang berbeda dengan gadis-gadis lain yang biasa ia ajak bicara. Biasanya mereka malah bersikap sok manis dan cerewet di depan Sebastian sambil kege-eran dan cekikikan tidak jelas.
"Huh, bukan urusanmu!" jawab Ciel ketus sambil memalingkan kembali wajahnya ke depan.
"Oh, jadi namamu 'Bukan Urusanmu', eh? Baiklah, salam kenal, 'Bukan'!" balas Sebatian tenang.
"KAU! Sialan! Apa maumu, HAH?" bentak Ciel kepada Sebasian.
Elizabeth, yang duduk di depan Ciel kaget dan spontan menengok ke belakang. Kemudian sebuah penghapus papan tulis meluncur ke arah Ciel dan hampir mengenainya. Ciel menengokkan wajahnya ke depan dengan kaget. Ternyata yang melemparinya penghapus papan tulis adalah Mr. Spears.
"Jangan ribut saat jam pelajaran, Phantomhive! Sekali lagi kau mengganggu, silakan keluar dari kelasku!" kata Mr. Spears masih membri toleransi. Ia sendiri heran dengan tingkah Ciel yang biasanya selalu tenang dan diam, tiba-tiba berteriak seperti tadi.
Anak-anak di kelas yang menoleh ke arah Ciel dan menunjukkan keheranan yang sama dengan guru mereka. Sedangkan Ciel yang seumur hidupnya baru kali ini ditegur oleh guru dan menjadi pusat perhatian di kelasnya, hanya menundukkan kepala sambil menahan semburat merah yang bermunculan di kedua pipi putihnya.
"Maaf, Mr. Spears." jawab Ciel pelan. Dalam hati, ia menyumpahi kebodohannya yang tiba-tiba berteriak hanya gara-gara menanggapi ucapan Sebastian. Ciel juga menyumpahi Sebastian karena gara-gara dirinyalah Ciel jadi kena marah.
Sedangkan Sebastian, berkebalikan dengan Ciel, ia malah tersenyum geli menahan tawa melihat tingkah Ciel yang dimarahi.
"Hei, jangan merengut dan menyumpahiku dalam hati. Itu salahmu sendiri tidak bisa mengontrol emosi." celetuk Sebastian tenang melihat Ciel yang sedang melempar death glare-nya kepadanya.
Ciel kaget karena Sebastian tau apa yang dipikirkannya dan spontan berkata, dengan pelan-pelan tentu saja, "Hah, bagaimana kau bisa tau? Ah, sial!" Ciel menepuk keningnya, menyesali perkataannya sendiri.
"Kau baru saja mengatakannya, haha." tawa Sebastian pelan.
"Cih!"
"Oi, kau marah? Kalau marah kau tambah manis lho!~" goda Sebastian sambil sedikit terkikik.
"Argh, sesukamu, lah!" kata Ciel pasrah. Baru kali ini ada orang yang bisa membuatnya sefrustasi ini.
"Haha, kau orang yang lucu, ya 'Bukan'!" tawa Sebastian pelan sambil terus menggoda Ciel.
"Namaku Ciel Phantomhive! Bukan 'Bukan'! Ingat itu, Michaelis!" maki Ciel sepelan mungkin agar tidak kena tegur lagi. Di keningnya muncul kedutan empat buah siku-siku.
"Phantomhive, ya?" ujar Sebastian pelan seakan nama itu tak asing baginya. "Oh iya, Ciel, jangan panggil aku Michaelis, panggil saja Sebastian." kata Sebastian sambil kembali tersenyum.
"Huh, terserah aku mau memanggilmu apa!" kata Ciel kikuk karena Sebastian memanggilnya dengan nama depannya, bukan nama keluarga. Pengecualian untuk Elizabeth dan Alois yang memang teman dekatnya.
"Kalau begitu aku memanggilmu 'Bukan' saja, ya?" jawab Sebastian enteng.
"APA? Enak saja! Jangan seenaknya mengubah nama orang lain ya!" kata Ciel geram. Kedut marah di kening Ciel bertambah.
"Lho, kau saja bebas mau memanggil orang lain apa, masa hanya aku yang tidak boleh?" kata Sebastian tetap dengan sikapnya yang tenang.
"Oke, aku turuti maumu SE-BAS-TI-AN. Kau juga harus memanggilku dengan namaku. Huh, kalau meladenimu tidak akan ada habisnya!" kata Ciel makin geram, berusaha meredam emosinya yang sudah ada di ujung kepala.
"Ha-ah, gadis jaman sekarang semuanya gampang naik darah, ya?" kata Sebastian innocent sambil tetap melihat ke depan. Tingkat kesabaran Ciel habis. Dia menggebrak mejanya dan berteriak, "Kau? DASAR MENYEBALKAN!"
Seluruh kelas yang tadinya tenang menghadap ke depan, serentak menengok ke arah Ciel. Mr. Spears yang tadinya sedang menerangkan pelajaran, berhenti berbicara dan melotot ke arah Ciel.
"Phantomhive! Keluar dari kelasku sekarang!" bentak Mr. Spears yang memang sudah kesal karena ada yang menyelanya bicara.
Ciel yang baru saja sadar akan apa yang baru saja ia lakukan, hanya tertunduk lemah dan berjalan gontai keluar kelas. Sebelum keluar, ia sempat meminta maaf pada Mr. Spears atas kelancangannya tadi.
Karena terlanjur kesal, Mr. Spears tidak memberinya toleransi lagi hingga Ciel tetap dihukum keluar kelas. Sesampainya di luar kelas, Ciel menyandarkan tubuhnya ke tembok kelasnya.
'Sial! Sial! Apa yang tadi kau lakukan, Ciel? Bikin malu saja, sih!' rutuk Ciel dalam hati. Ia heran. Mimpi apa dia semalam hingga harus bertemu dan dipermainkan oleh makhluk macam Sebastian yang dengan sangat tidak berdosanya memancing emosi Ciel keluar.
Ia juga mengutuki sifat pemarahnya yang sangat parah yang mulai muncul sejak kematian kedua orang tuanya. Kalau saja ia bisa sedikit saja mengontrol emosinya, ia tak harus menerima pandangan heran menusuk dari seluruh siswa di kelas. Tak harus menodai rekor menjadi siswa yang baik yang tak pernah kena hukum. Ya, Ciel, penyesalan selalu datang terlambat.
Sedangkan Sebastian, hanya terkikik pelan karena berhasil mengerjai Ciel. Tapi, ia juga sedikit merasa bersalah dengan Ciel karena bagaimanapun, Ciel kena hukum gara-gara terpancing perkataannya.
'Ah, tapi siapa suruh dia gampang emosi?' pikir Sebastian.
Kemudian ia terdiam, berusaha berpikir atau mengingat-ingat sesuatu yang berhubungan dengan nama 'Phantomhive' yang menurutnya tidak asing. Karena tak kunjung mengingat apapun, ia memutuskan untuk mendengarkan penjelasan panjang nan membosankan yang keluar dari mulut Mr. Spears.
…
"Ciel, tadi kau kenapa? Aku kaget sekali mendengarmu tadi. Sampai dikeluarkan oleh Mr. Spears lagi." tanya Elizabeth sambil memegang sepotong choco-banana bread di tangannya.
"Iya, aku juga terkejut. Apa yang kau bicarakan dengan si anak baru tadi, hayo~?" timpal Alois iseng sambil memainkan sedotan orange juice-nya.
"Mikir apa sih kau, Alois? Tanya sajalah sendiri sama si anak baru yang super menyebalkan itu. Aku malas membahasnya." jawab Ciel sambil memutar matanya dan memakan sandwich telur-nya.
"Memangnya dia semenyebalkan itu, Ciel? Kelihatannya dia baik dan disukai semua orang." kata Elizabeth.
"Semua orang atau hanya gadis-gadis?" kata Ciel.
"Mmm, iya sih." jawab Elizabeth.
"Ha-ah, aku sih tak tertarik dengan lelaki. Dan aku setuju dengan Ciel, dia memang menyebalkan. Dia merebut semua perhatian gadis-gadis yang harusnya ditujukan untukku!" timpal Alois sambil mengangguk dan tersenyum kecut.
"Ya ampun, Alois, jadi itu maksudmu? Haha, sampai kapanpun juga kau tak akan seperti Sebastian selama otakmu itu masih kotor seperti ini! Ahaha.." kata Elizabeth. Ciel ikut tertawa mendengar celotehan-celotehan aneh yang keluar dari mulut mereka.
Ketika mereka bertiga sedang asyik dengan percakapan mereka, terdengar suara teriakan gadis-gadis kegirangan. Padahal Sebastian cuma lewat di depan mereka dan tak melakukan apa-apa, tapi tingkah mereka sudah seperti orang mendapat hadiah mobil sport keren bernilai jutaan poundsterling. Mendengar teriakan mereka, ketiga anak manusia itu menengok.
"Huh, kukira ada apa." kata Ciel.
"Iya, heboh sekali, sih. Aku pikir ada siswa yang pingsan atau semacamnya." sambung Alois.
"Ha-ah Alois, bagaimana sih kau? Masa ada orang pingsan mereka teriak-teriak kesenangan?" kata Elizabeth sambil menggelengkan kepalanya.
Alois hanya cengengesan. Sedangkan Ciel hanya mendengus sebal melihat Sebastian sambil memalingkan wajahnya ke arah meja kantin yang sedang mereka tempati. Seumur hidup, baru pertama kali ia temui orang semenjengkelkan Sebastian.
Alois dan Elizabeth yang dari tadi sedang asyik berdua, tiba-tiba menggigil. Ternyata yang menyebabkan hal itu adalah aura hitam mencekam yang berasal dari Ciel.
"Eh, Ciel, kenapa kau?" tanya Elizabeth cemas sambil menepuk pundak Ciel.
"Ah, tidak ada apa-apa." jawab Ciel sambil menyunggingkan senyum kecutnya yang terkesan agak—sangat—memaksa.
"Kalau wajahmu aneh begitu jelas ada apa-apa. Apa gara-gara si murid baru menyebalkan itu barusan lewat di depan meja kita?" tebak Alois tepat sasaran.
"Argh, tak usah bahas dia, okay? Mood-ku bisa tambah rusak kalau dia terus-terusan muncul!" tukas Ciel.
"Haha, kau benar-benar membencinya, ya Ciel?" tanya Elizabeth sambil menghabiskan rotinya yang tinggal secuil.
"Tapi hati-hati, Ciel! Kau nanti malah jadi suka lagi sama murid baru perebut-perhatian-wanita itu. Kata orang, benci bisa jadi suka, lho!~" ledek Alois iseng lagi.
"Hih, apa maksudmu Alois? Aku tidak akan suka sama makhluk macam murid baru itu!" kata Ciel kesal.
Alois hanya tertawa. "Hati-hati lho dengan ucapanmu Ciel! Kalau kau nanti jadian sama dia aku bakal minta pajak pertanggungjawaban atas perkataanmu barusan, lho!" kata Alois jahil.
"Argh! Sudah kubilang tadi, aku TIDAK BAKAL SUKA apalagi JADIAN dengan makhluk itu! Ayolah, Alois! Berhenti mengacaukan mood-ku!" tukas Ciel yang benar-benar geram dengan memberikan penekanan pada ucapannya.
"Iya, sudahlah Alois. Lihat itu, sepupuku sudah benar-benar marah sekarang, sampai-sampai telinganya memerah begitu." kata Elizabeth yang niatnya membela Ciel, tetapi efek dari perkataannya barusan malah membuat Ciel makin naik pitam.
Ciel yang sudah cukup kesal gara-gara ucapan—yang menurutnya—tak bermutu Alois, kini makin kesal gara-gara perkataan polos Elizabeth barusan. Tetapi, dia tetap tidak bisa marah pada Elizabeth karena bagaimanapun juga ucapan Elizabeth ada benarnya dan dia memang tidak bisa memarahi sepupu sekaligus teman baiknya sejak kecil itu.
Alhasil, Ciel hanya menarik napas panjang, berusaha meredakan amarahnya barusan. Mereka bertiga kemudian meneruskan kegiatan makan siang mereka sambil mengobrol dan sesekali tertawa.
Tanpa mereka sadari, sepasang orb merah cantik tengah memandangi mereka dari kejauhan. Pemilik kedua orb itu juga mendengar apa yang mereka katakan. Seulas seringai terbentuk di bibirnya yang menawan. Ia kemudian kembali berjalan ke kelasnya sambil diiringi teriakan-teriakan fangirls yang terus bermuculan di tiap tempat yang ia lewati hingga menuju kelas.
…
"KRIIIIIIING" Bel tanda berakhirnya pelajaran hari ini akhirnya berbunyi.
"Yak, cukup sekian pelajaran hari ini. Jangan lupa kerjakan tugas Biologi halaman 83-98! Dikumpulkan lusa! Good afternoon, class!" ujar guru berambut cokelat yang selalu terlihat ceria itu seraya meninggalkan kelas.
Anak-anak yang daritadi memang sudah sangat menunggu-menunggu hal itu langsung membereskan barang-barang mereka serta merubah raut muka mereka yang tadinya suntuk menjadi ceria. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Ciel yang yang sedang membereskan barang-barangnya dengan wajah yang sama kusutnya seperti pagi tadi.
Ya, mood-nya hari ini benar-benar sedang jelek. Ia berjalan keluar kelas dengan ditemani kedua temannya, Alois dan Elizabeth seperti biasa. Setelah sampai di gerbang sekolah, mereka berpisah karena selain arah rumah mereka berbeda, Alois dan Elizabeth selalu dijemput. Ciel yang ditinggal sendiri memang terbiasa pulang sendiri dengan naik bis seperti halnya ia berangkat sekolah.
Ia pun berjalan ke halte yang biasa ia datangi sepulang sekolah untuk menunggu bis yang akan mengantarnya pulang datang. Baru saja Ciel sampai di halte bis itu, raut mukanya langsung berubah.
Tampangnya yang sekarang menjauhi kata manis yang biasa orang tujukan kepadanya. Aura hitam juga menggantung setia di belakang tubuh Ciel. Penyebabnya…tentu saja karena ia melihat orang yang paling tidak ingin dilihatnya sedang berdiri di halte bis itu.
Kemudian gadis itu merubah kembali raut wajahnya seperti biasa. Menganggap pemuda bermata merah yang sedang berdiri tak jauh darinya itu tidak ada. –Kasihan sekali dirimu Sebby, ga dianggep#plak! Oke, Back to the story-
Tetapi usaha gadis itu sia-sia karena pemuda itu sendiri sekarang malah berjalan ke arahnya. Pemuda itu sekarang berdiri di samping Ciel dan tersenyum atau menyeringai ke arahnya.
"Kau pulang sendiri, Ciel?" kata pemuda itu memulai percakapan.
"Bukan urusanmu." jawab Ciel kalem. Kali ini ia tidak ingin terpancing emosi seperti tadi. Cukup sekali ia mempermalukan dirinya di depan umum.
"Dingin sekali kau ini. Aku 'kan bertanya baik-baik. Tinggal jawab saja apa susahnya, sih?" kata Sebastian protes.
"Kau kan bisa lihat sendiri, kalau akau berdiri sendirian ya berarti aku pulang sendiri." jawab Ciel masih kalem.
"Ya, aku memang bisa lihat kau sendirian, makanya aku ke sini untuk menemanimu." kata Sebastian sambil tersenyum manis yang bisa membuat siapa saja yang melihat terpana atau bahkan pingsan. Kecuali Ciel tentu saja.
"Ih, aku tidak perlu ditemani oleh orang sepertimu! Aku bukan anak di bawah umur yang ke mana-mana harus diawasi. Lagipula aku sudah biasa pulang sendiri." kata Ciel masih tetap mempertahankan kekalemannya meski terselip nada kesal sedikit pada ucapannya tadi.
"Ah, kau ini kan masih kecil. Lihat saja tubuhmu yang pendek itu. Apalagi wajahmu yang masih bisa dikategorikan seusia anak SD. Orang bisa saja menyerangmu atau malah menculikmu." kata Sebastian ringan yang sukses membuat asap mengepul di ujung kepala Ciel.
Ciel sudah amat sangat berusaha menahan amarahnya. Ia mengepalkan tangannya dan memberikan death glare paling mematikan yang kira-kira artinya 'Sekali lagi kau bicara macam-macam, awas kau!'
Sedangkan orang yang diberikan tatatapan itu, seakan tidak tidak terpengaruh, malah membalas tatapan itu dan tersenyum geli.
"Kau memang manusia paling menyebalkan yang pernah ada di seluruh jagad raya ini!" ujar Ciel penuh penekanan dikarenakan ia sendiri sedang mati-matian untuk tidak berteriak di depan umum lagi.
Harga dirinya yang setinggi langit itu, yang tadi pagi sudah ia jatuhkan lantaran termakan omongan makhluk berambut hitam yang sedang berdiri di sampingnya ini. Ia tidak mau harga dirinya jatuh lagi, apalagi di depan orang yang lebih banyak ketimbang jumlah siswa di kelas.
"Dan kau gadis yang paling gampang naik darah di seluruh semesta ini barangkali." jawab Sebastian membalas pernyataan Ciel barusan.
"Kau!" Ciel hanya mendengus kesal dan melangkahkan kakinya ke dalam bis yang baru saja tiba. Ciel benar-benar diuji kesabarannya oleh makhluk bernama Sebastian Michaelis ini. Dalam hati ia tak habis pikir mengapa orang itu senang sekali membuatnya naik pitam.
Sebastian yang memang menunggu bis yang sama dengan Ciel, ikut melangkah masuk ke dalam bis. Kali ini ia tidak duduk berseberangan dengan Ciel seperti tadi pagi melainkan langsung di samping Ciel.
Wow, hebat sekali ya, baru tadi pagi jarak mereka terpisah beberapa bangku sekarang hanya terpisah beberapa senti. Melihat Sebastian yang seenaknya duduk di sampingnya, Ciel berjengit kesal.
"Oi, siapa yang suruh kau duduk di sini? Masih banyak bangku yang lain!" kata Ciel seraya bangkit dari bangkunya, hendak pindah, tetapi terlambat, bis sudah berjalan dan hal itu menyulitkan Ciel untuk berjalan. Alhasil, ia duduk kembali di bangkunya.
"Hoo, jangan begitu. Bahaya kalau kau berdiri saat bis sedang berjalan. Lagipula kenapa sih? Suka-sukaku mau duduk dimana." kata Sebastian sambil menengok ke arah Ciel.
"Huh, aku bosan melihat tampang mesum meyebalkanmu!" kata Ciel.
"Oh ya? Tapi sayangnya aku tidak bosan melihat tampang imutmu." jawab Sebastian riang sambil tersenyum.
"Cih, dasar mesum!" kata Ciel sambil memalingkan mukanya ke arah jendela agar mukanya yang memerah tidak dapat dilihat oleh Sebastian.
Sebastian yang melihat tingkah Ciel tak dapat menahan senyum nya dan kemudian hanya tertawa geli perlahan.
"Apa yang kau tertawakan, bodoh?" kata Ciel sambil melotot ke Sebastian.
"Tentu saja kau! Kau ini memang benar-benar aneh." kata Sebastian sambil terus tertawa.
"Kau! Argh! Bicara denganmu bisa membuatku kena serangan jantung mendadak." tukas Ciel yang sedang amat berusaha menahan emosinya untuk tidak menyembur keluar.
Ia memutuskan untuk melihat keluar jendela seperti yang biasa dilakukannya dan mengabaikan celotehan menyebalkan yang keluar dari mulut Sebastian.
Akhirnya bis sampai di halte dekat apartemennya. Ciel bersyukur karena akhirnya dia dapat terbebas dari Sebastian. Ia pun berdiri dan melangkahkan kakinya keluar bis. Belum jauh ia berjalan dari halte tempat ia turun, ia mendengar langkah kaki berjalan mendekatinya.
"Hei, Ciel, tunggu dong! Kau terburu-buru sekali." ucap suara yang tidak asing itu sambil menepuk pundak Ciel.
"Kau! Kenapa mengikutiku, HAH?" bentak Ciel frustasi. Empat buah siku-siku tersemat di keningnya. Angan-angannya akan terbebas dari Sebastian hilang sudah.
"Aku tak mengikutimu, kok. Dan aku memang ingin pulang." jawab Sebastian tenang.
"Memang rumahmu di sini apa?" tanya Ciel kesal.
"Yap, aku baru pindah ke apartemen gedung itu." kata Sebastian riang sambil menunjuk sebuah gedung apartemen berlantai 40 yang sudah sangat tidak asing bagi Ciel.
"APA!"
…
..
.
To Be Continued
.
A.N.: Akhirnya chap 1 selese~ Chap ini memang sangat berbeda dgn prolog. Kan namanya prolog pasti beda lah. Tadinya saya sempat bingung mau membuat Ciel ber-gender cowok atau cewek. Tapi saya putuskan untuk membuatnya jadi fem karena saya masih belum berani bikin slash ahaha~ #plak! Tapi bagi yang lebih suka Sho-Ai, anggap saja Cielnya cowok karena sifatnya memang fleksibel.~
Thank You for Yer Reviews (_ _)
Shafara Nurwahyu Riskita, Sora Shieru, Kesha, Vi Ether Muneca, Moussy Phantomhive
Kesha: Salam kenal juga~ Ini udah apdet walau telat -_- Makasih reviewnya!~ RnR lagi bole~
.
Sa, click the review icon below and gimme suggestions, comments, or praises maybe? *plak! ngarep*
The Laziest Author,
.
.
Kuroschiffer P.
