Chapter 2: That Absent Student

.

Hontou ni Gomenasai! Sekarang malah apdetnya ngaret banget-bangetan! -_-"

Awalnya saya mau apdet chapter lalu dan sekarang tidak lebih dari seminggu berhubung lagi libur, eh saya malah keasyikan liburan serta males-malesan sampai lupa ngetik chap ini.. *ditimpukin*

Dan untuk chapter2 berikutnya mungkin akan sangat ngaret karena saya belom kelar ngetik chapter 3 dan saya mau pergi liburan sejenak!~*malah curhat* *diamuk massa*

Daripada nambah panjang dan gak jelas, silahkan baca saja!~

.

Disclaimer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso-sensei! Saya cuma pinjem chara-chara-nya yang super keren!

Warning: AU, typo(s), OOC, SebasxFem!Ciel, alurnya kelambatan gak sih? *plak* And at least DLDR!

.


.

"Memang rumahmu di sini apa?" tanya Ciel kesal.

"Yap, aku baru pindah ke apartemen gedung itu." kata Sebastian riang sambil menunjuk sebuah gedung apartemen berlantai 40 yang sudah sangat tidak asing bagi Ciel.

"APA!"

Red Moon

by: Kuroschiffer P.

"Ya!" ujar Sebastian sambil tersenyum jahil sembari berjalan keluar dari lift bersama Ciel.

"Salam kenal ya, tetangga!" tambah Sebastian sambil memasuki pintu apartemennya yang terletak tepat di samping apartemen Ciel.

Ciel hanya menunduk pasrah seperti orang kalah judi. Dia kemudian berjalan gontai ke dalam apartemennya sambil terus menunduk dan aura hitam pekat setia menggantung di belakangnya.

"Oh, Tuhan! Apa salahku hingga kau membuat hidup damaiku seperti ini?" ucap Ciel menghela napas sambil merebahkan tubuh mungilnya ke atas tempat tidurnya yang berseprei biru laut―berusaha menghilangkan kepenatannya.

CESSSHH

Terdengar bunyi sesuatu yang sedang di goreng dan bau sedap menggelitik indra pendiuman Ciel. Gadis yang tengah berbaring itu merasakan perutnya mulai bergejolak dan berbunyi. Ia bengun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah dapur yang letaknya bersebelahan dengan ruang tamu mini.

"Kau sudah datang toh, Maylene." kata Ciel membuat wanita berambut merah keunguan yang sedang menghadap wajan menolehkan kepala.

"Ah, Lady Ciel sudah pulang, toh. Maaf saya tidak menyabutmu tadi. Saya sedang di toilet hingga tidak mendengar kedatanganmu." kata Maylene gugup sambil sedikit menunduk.

"Tak apa, aku 'kan sudah bukan anak kecil yang harus di sambut tiap hari!" kata Ciel meyakinkan.

"Hmm. Tunggu sebentar, ya Lady Ciel! Chicken Mozarella-mu belum akan saya antar ke tempat biasa." ujar Maylene sambil kembali fokus ke kegiatan menggorengnya.

"Hn. Terima kasih, ya Maylene!" jawab Ciel sambil berbalik, kembali ke kamarnya yang letaknya bersebrangan dengan ruang tamu mini.

Ya, apartemen tempat Ciel tinggal bisa dikategorikan besar karena terdiri dari berbagai ruang yang biasa ada di rumah-rumah. Bedanya, hanya ada satu kamar tidur di apartemen luas memang untuk ditinggali oleh satu orang.

Maylene adalah maid yang dipekerjakan keluarga Phantomhive sejak orang tua Ciel masih ada. Dia maid yang sangat setia dan sudah merawat Ciel sejak Ciel berumur 3 tahun. Sekarang Maylene hanya bekerja part time semenjak Ciel berusia 12 tahun. Maylene datang setiap hari jam 1 pm sebelum Ciel pulang dari sekolahnya yang selesai pukul 3 pm.

Yang dia lakukan di apartemen Ciel adalah membantu Ciel mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, merapikan apartemen, dan berbagai pekerjaan maid lainnya.

"Hm.. lebih baik aku mandi dulu." kata Ciel sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 4 pm. Ia pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi di kamarnya.

...

"Aku pulang dulu ya, Lady Ciel!" kata Maylene dengan tas tersampir di lengan kanannya—sedang bersiap-siap untuk pulang.

"Ah, ya! Hati-hati di jalan Maylene!" jawab Ciel sambil menengokkan kepala yang tadinya sedang berkutat pada tugas Biologi-nya. Ia sedang mengerjakan tugasnya di ruang tamu mini itu―tempatnya biasa belajar.

"Ya, kamu juga, Lady Ciel!" ucap Maylene sambil berjalan keluar apartemen.

DRAK

Suara pintu tertutup terdengar oleh Ciel. Ia pun melanjutkan mengerjakan tugasnya.

"Ha-ah, sendiri lagi." ujar Ciel di sela-sela tugasnya.

Tanpa Ciel sadari, sepasang orb hijau terang menyala sedang mengawasinya dari celah tirai jendela balkon seringai terbentuk di tersamarkan oleh kegelapan malam.

Handphone yang sedang dipegang orang itu bergetar. Sosok itu pun mengangkat handphone flip itu hingga sejajar dengan telinganya dan menjawab panggilan itu.

"Ya?" jawab sosok itu.

"Bagaimana? Sudah kau pastikan?"tanya suara berat dari telepon itu.

"Ya, tak salah lagi. Mata biru cerulean-nya, dia memang anak Vincent dan Rachel." ucap sosok itu sambil terus mengawasi Ciel.

"Bagus. Kalau begitu kita hanya tinggal menunggu. Kembalilah kau sekarang!" kata suara berat itu.

"Hn." jawab sosok itu singkat sebelum memutus telepon dan kembali menatap Ciel yang sekarang kelihatannya sedang bersiap untuk pergi tidur.

"Finally, we found you, Young Lady!" gumam sosok itu sambil menyeringai lagi. Kemudian ia melompat ke bawah dari lantai 18 gedung itu dan menghilang.

...

"Kau bertetangga dengannya, Ciel?" seru Alois dan Elizabeth sekali rasa terkejut mereka di wajah mereka.

"Ya, ya! Jangan tanyai aku macam-macam, oke? Aku juga sangat menyesal sekarang tinggal di apartemen itu." jawab Ciel sambil menelungkupkan kepalanya di mejanya.

"My, my! Selamat, ya Ciel!" kata Alois dengan nada riang yang menurut Ciel adalah nada mengejek.

"Apa maksudmu, hah?" tanya Ciel sambil agak mendongak dan menatap Alois tajam.

"Ya, dengan begitu kalian akan cepat dekat lalu jadian dan nanti aku bakal dapat pajak pertanggungjawaban darimu sekaligus dapat memergoki kalian kalau sedang berduaan!~" jawab Alois enteng dengan wajah sangat riang sambil senyum-senyum mesum.

BLETAK!

Dua buah buku sejarah tebal nan berat berhasil menghantam kepala pirang sang Trancy muda.

"Adaw! Apa-apan sih, kalian?" ringis Alois sambil memegangi kepalanya yang sekarang dihiasi triple ice cream hasil perbuatan Ciel dan Elizabeth.

"Kau yang apa-apaan?" jawab Elizabeth dan Ciel berbarengan.

"Bisa-bisanya kau mikir seperti itu Alois! Jangan membuat sepupuku ini makin kesal dengan ocehanmu, dong! Harusnya kita menghiburnya, tau!" tambah Elizabeth sambil berkacak pinggang dan memelototi Alois tajam.

"Sekali lagi kau mengoceh macam-macam, awas saja!" timpal Ciel dengan nada kesal di setiap kata-katanya.

"Ih, iya iya! Kalian tidak bisa diajak bercanda, ah!" jawab Alois sambil merengut.

"Bercandamu saja yang tidak lucu!" sergah Ciel sambil menatap ke arah jendela―kegiatan favoritnya.

KRIIIIIIING

Bel tanda masuk pelajaran pertama -murid yang tadinya berlalu lalang kesana kemari di dalam kelas mulai kembali ke mejanya masing-masing. Satu per satu meja yang tadinya kosong mulai kembali diduduki pemiliknya. Kecuali satu meja yang terletak di samping kanan meja Ciel.

"Hey Ciel, kau apakan si murid baru itu sampai-sampai dia tidak masuk?" tanya Alois menyadari pemilik meja di belakangnya tak ada.

"Cih, biar saja! Selamanya dia tidak masuk pun aku rela." jawab Ciel sambil menopangkan kepalanya dengan tangan kirinya.

"Sst.. sebentar lagi Mr. Randall masuk! Kau tak mau kena marah lagi 'kan Ciel?" kata Elizabeth setengah berbisik sambil menengokkan kepalanya ke belakang.

"Iya iya." jawab Ciel sambil sedikit menunduk. Mr Randall itu tidak beda jauh sifatnya dengan Mr. Spears. Mereka sama-sama prefeksionis dan disiplin hingga banyak murid yang mengecap mereka galak.

Benar saja, guru yang agak tua itu sudah berdiri di depan kelas, bersiap untuk memulai pelajarannya. Raut mukanya selalu terlihat sedang marah dan menyeramkan hingga menguatkan kesan galak dalam dirinya.

"Good morning, class." ucap guru itu sebelum memulai pelajarannya.

"Good morning, sir!" jawab murid-murid di kelas itu serentak.

"Today, one of your friends is absent. Mr. Spears said he's sick. Now, let's begin our lesson!" kata Mr. Randall memberi tau kabar tentang Sebastian dan memulai penjelasan Fisika nya.

'Bukannya kemarin dia sehat-sehat saja? Buktinya dia sempat tertawa-tawa mengerjaiku dengan wajah mesum menyebalkannya.' pikir Ciel heran sambil menaikkan kedua alisnya.

'Masa bodoh lah!' lanjut Ciel sambil kembali memperhatikan ocehan panjang lebar Mr. Randall yang sukses membuat beberapa siswa yang duduk di pojokan menguap dan perlahan-lahan memposisikan kepala mereka di atas meja―untuk tidur tentu saja.

"Haa-ah! Akhirnya aku terbebas dari 4 jam pelajaran membosankan nan melelahkan ini!" ucap Alois sambil meregangkan otot-otot tubuhnya sambil menguap lebar.

Bagaimana tidak? Dua jam pelajaran fisika sudah cukup melelahkan pikiran. Kemudian malah dilanjutkan dengan penjelasan rumit matematika yang diterangkan oleh guru macam Mr. Lau.

Memang dia keturunan Cina yang kebanyakan pandai berhitung, tetapi rasanya penjelasan darinya malah membuat matematika jauh lebih rumit dari kelihatannya.

"Iya, siapa sih yang mengatur jadwal pelajaran semester ini? Payah sekali!" ucap Elizabeth menguatkan kata-kata Alois barusan.

Ciel hanya diam menanggapi perkataan kedua temannya. Dia bukannya sedang kesal atau semacamnya, tetapi dia juga sedang capek dan sangat amat suntuk gara-gara dua mata pelajaran di awal pagi mereka.

"Ya sudahlah. Kita ke kantin saja! Sekalian ganti suasana biar lebih cerah. Bisa mati bosan aku kalau tiap hari terus-terusan begini!" keluh Alois sambil beranjak dari mejanya dan berjalan menuju kantin.

"Hm, baiklah, ayo Ciel!" ajak Elizabeth ikut berdiri dari mejanya dan berjalan mengikuti Alois.

"Hn." jawab Ciel singkat, padat, dan jelas sambil melangkahkan kakinya dengan malas ke kantin bersama teman-temannya.

"Ya, aku sedang menuju ke sana sekarang!" kata pemuda berambut ebony itu sambil tetap fokus menatap jalanan.

"Kau sudah mengurus yang lain-lain, 'kan?" jawab suara asing yang berasal dari telepon genggam yang sedang dipegang pemuda itu.

"Ya, sudah beres. Kau tinggal terima jadi seperti biasa." jawab pemilik orb crimson berkilat dengan nada mengejek.

"Ahaha..di sana ada orang-orang kita, jadi kurasa tak akan sulit bagimu." kata suara asing itu di seberang telepon.

"Ya..ya. Apa ada lagi? Aku sedang menyetir sekarang. Kau tak mau terjadi hal merepotkan, 'kan?" ucap pemuda itu yang dari ciri-cirinya dapat kita ketahui kalau itu adalah Sebastian.

"Hm.. Baiklah! Dasar tak sabaran! Ya sudah kalau begitu, hati-hatilah!" kata suara asing di seberang sambil memutus telepon.

"Huh, cerewet! Padahal yang sering ceroboh itu dia." ucap Sebastian dengan nada sedikit kesal sambil melempar handphone-nya ke jok mobil yang kosong di samping kanannya.

Orb ruby-nya kembali ia arahkan ke jalan. Ia kemudian menginjak pedal gasnya lebih dalam dan membuat sedan hitamnya melaju lebih cepat dari yang sebelumnya.

Seharusnya ia sedang berbaring di apartemennya saat ini. Tetapi karena alasan yang belum kita ketahui, dia sekarang sedang memacu mobilnya ke suatu tempat yang hanya ia dan orang-orang tertentu yang tau.

"Ha-ah, hidup seperti ini memang merepotkan!~" gumam Sebastian di sela-sela kegiatannya mengemudi.

Sesampainya ia di daerah yang mulai sepi dan sunyi serta lumayan jauh dari London, ia memelankan laju mobilnya. Rupanya yang ia tuju adalah tempat pembuangan mobil-mobil bekas yang akan dihancurkan yang terletak di pinggiran kota yang biasa ditempuh selama 3 jam dari pusat kota London. Mobil sedannya sekarang mulai memasuki area yang hanya dipenuhi sampah-sampah bangkai mobil.

Di tengah-tengah area itu terdapat bangunan berukuran sedang berbentuk persegi berdiri kokoh. Kentara sekali usia bangunan itu yang sudah tua dari catnya yang kusam dan dinding sampingnya dirambati ranting-ranting liar yang sudah mengering.

Seperti sudah di set, pintu bangunan itu tiba-tiba menjeblak terbuka dan mempersilahkan mobil hitam Sebastian masuk. Pintu itu kembali menutup perlahan hingga mobil dan sosok yang mengemudikannya tak terihat lagi.

"Di rumahmu saja ya, Ciel?" usul Elizabeth sambil membereskan perlengkapannya―bersiap untuk pulang.

"Ya, sudah lama aku tidak ke apartemenmu, Ciel!" timpal Alois yang sekarang sedang berdiri menunggu kedua kawannya selesai merapikan peralatan mereka.

"Hm, ya sudah. Aku sih di mana saja boleh." jawab Ciel santai ikut berdiri di samping Alois.

"Kalau begitu kita ke mini market dulu, beli camilan yang banyak. Aku akan suruh supirku mengantar kita." ujar Elizabeth riang sambil berjalan keluar kelas dan diikuti Ciel dan Alois.

Setengah jam kemudian, mereka telah sampai di apartemen Ciel. Itu termasuk cepat karena mereka juga sudah mampir ke mini market dan membeli banyak sekali camilan dan snack. Sebenarnya niat mereka mau makan atau mengerjakan tugas?

"Banyak juga ya, bawaan kita." kata Alois mengawali pembicaraan di dalam lift yang sedang menuju lantai 18 yang hanya berisikan mereka bertiga.

"Memangnya siapa yang mengambil ini semua, eh?" tanya Elizabeth sambil melirik Alois.

"Aku 'kan hanya mengambil yang aku sukai. Ini juga sudah kuminimalkan." sahut Alois dengan raut muka innocent.

"Segini kau bilang sudah diminimalkan? Perutmu itu sebanyak apa, eh Alois?" kata Ciel sambil mengangkat sekantong besar belanjaan yang hanya berisi camilan.

"Ah kau ini Ciel! Seperti tidak tau Alois saja!" kata Elizabeth sambil menepuk pundak Ciel dan terus melirik sinis ke arah Alois.

"Ya, , kita sampai kawan, ayo!" ajak Alois riang mengalihkan pembicaraan.

"Huh, dasar." gumam Ciel sambil melangkahkan kakinya keluar lift.

Sesampainya di apartemen Ciel, ketiga remaja itu langsung duduk di sofa yang ada di ruang tamu mini itu. Di ruang mini itu terdapat sebuah sofa panjang yang tak terlalu besar berwarna merah marun bergaris hitam.

Di depan sofa, berdiri meja kecil persegi panjang yang terbuat dari kayu Belanda yang di cat hitam dan di pernis hingga mengkilap. Sebuah perapian kecil terletak di hadapan meja tersebut. Perapian yang dibingkai besi kecil bermotif rumit itu hanya dipakai saat musim dingin.

"Lady Ciel sudah datang, toh. Ah, ada Ms. Middleford dan Mr. Trancy juga." seru Maylene yang sepertinya baru saja selesai mencuci.

"Maaf, aku belum menyiapkan apapun." kata Maylene sedikit gugup sambil menundukkan kepalanya.

"Haha, tak apa-apa kok, Ms. Maylene! Kita sudah beli makanan. Nih!" jawab Elizabeth sambil tersenyum dan menunjuk 3 kantong plastik penuh camilan dan snack yang tadi mereka beli.

"Ya, dan jangan canggung begitu Maylene, seperti baru kenal kita saja!" sahut Alois sambil menyunggingkan senyumnya.

"Ya sudah, kau lanjutkan saja kerjaanmu yang tadi. 'Kan sudah kubilang, aku tak perlu disambut." ucap Ciel.

"Ahaha, iya. Kalau begitu selamat bersenang-senang." ucap Maylene sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal dan tersenyum kemudian berbalik ke tempat cuci.

"Baiklah, ayo kita mulai mengerjakan tugasnya!" ujar Elizabeth mengawali pembicaraan.

"Ha-ah!~ Kita 'kan baru saja sampai! Aku bahkan belum sempat meregangkan ototku." komentar Alois dengan nada sangat malas dan diiringi uapan.

"Ya ampun, Alois! Kita ke sini untuk mengerjakan tugas, ya! Bukannya untuk santai-santai!" protes Elizabeth sambil menempeleng pelan kepala pirang Alois.

"Ih, aku tau! Aku 'kan masih capek, masa sudah disuruh ngerjain? Kalau kita dapat C atau bahkan F aku tidak bakal nanggung, lho!" ucap Alois berdalih.

"Ya sudah, kalau begitu aku saja yang kerjakan." kata Ciel sambil mengeluarkan buku-buku yang akan digunakan untuk membuat kliping.

"Eh, masa Ciel sendiri? Aku juga ikut bantu, ya! Biarkan saja deh si Alois bodoh itu." sindir Elizabeth sambil melirik ke arah Trancy muda.

"Iya deh, kalian melapor lagi kalau aku tidak ikut kerja!" kata Alois sambil beranjak dari sofa dan ikut membantu Ciel mencari bahan di buku.

4.32 pm, Ciel's Living Room

"Yak! Akhirnya selesai juga!" ujar Alois riang sambil meregangkan tangannya.

"Nanti aku saja yang menge-print. Biar sekalian dengan tugas-tugasku yang lain." kata Elizabeth sambil menghadap Ciel.

"Kau yakin? Ada 145 halaman, lho! Kita bagi tiga saja." jawab Ciel.

"Tak apa. Aku saja, biar langsung bisa dibukukan." ucap Elizabeth sambil menaruh flash disk berisi tugas mereka di saku roknya.

"Hei, makanannya masih tersisa lumayan, nih!" kata Alois sambil menunjuk satu kantong plastik berisi snack yang lumayan banyak.

"Buat Ciel saja." usul Elizabeth sambil memasukkan buku-buku dan peralatan miliknya ke dalam tas.

"Ah, tidak perlu. Aku jarang makan snack! Pasti nanti makanan itu ujung-ujungnya sudah expired kemudian berakhir di tong sampah." ucap Ciel sambil menunjuk tong sampah mini di ruang tamunya.

"Aku tidak bisa membawanya pulang! Ibuku pasti mengomel karena aku juga masih punya stok snack yang banyak di rumah." ujar Alois innocent yang berhasil mendapat lirikan sinis dari Ciel dan Lizzie.

"Ha-ah, ya ampun! Kau sudah punya cemilan banyak di rumah tapi masih membeli sebanyak ini!" kata Ciel sambil menggelengkan kepala, "Ya sudah, kau saja yang bawa pulang, Liz!" sambung Ciel sambil menatap ke arah Middleford termuda.

"Yah, Ciel, 'kan kau tau sendiri aku sedang diet. Makanya tadi aku cuma makan setengah punya Alois." ujar Elizabeth menutup tasnya dan sudah bersiap pulang.

"Terus bagaimana? Sangat sayang kalau dibuang." kata Ciel sambil menatap Alois dengan tatapan menyalahkan.

"Jangan melihatku begitu, dong!" protes Alois. "Hem… Bagaimana, ya?" jeda Alois. "Ah, lebih baik kita kasih Michaelis saja! Dia 'kan sedang sakit. Hitung-hitung sekalian menjenguk!" usul Alois sambil menjentikkan jarinya.

"Wah, boleh juga! Kebetulan apartemennya di sebelah Ciel, 'kan? Tumben sekali idemu bagus, eh Alois!" ujar Elizabeth sambil tersenyum.

"APA? Aku tak 'kan mau menjenguknya! Jangankan menjenguk, mendengar kalian membahasnya saja sudah bikin kesal!" protes Ciel tegas sambil menggelengkan kepala.

"Ayolah Ciel! Jangan sedingin itu. Mungkin saja dengan kau menjenguknya dia akan sadar dan berhenti mengganggumu lagi." ucap Elizabeth sambil memegang pundak Ciel dan menatapnya memohon.

"Iya, Ciel! Apalagi dengan begitu hubungan kalian akan makin bagus dan kalian bisa cepat jad― Adaw!"

Buku tebal melayang ke kepala Alois sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Kilatan kesal terpatri jelas di kedua orb biru Ciel.

"Kalau kau bicara macam-macam lagi, kepalamu akan tertimpa pot tanamanku, Alois!" geram Ciel layaknya singa kelaparan.

"Iya, iya! Aku hanya bermaksud membenarkan perkataan Lizzie, kok! Aku juga sebenarnya malas menjenguk murid baru perebut perhatian itu!" gerutu Alois sambil meringis dan memegang kepala pirangnya.

"Kata-katamu sama sekali tak membantu, Alois!" ujar Elizabeth. "Sudah Ciel, jangan dengarkan Alois."

"Iya, maaf! Ya sudah, ayo cepat kita jenguk dia! Daripada makanan-makanan ini dibuang?" kata Alois sambil mengangkat kantong berisikan snack itu.

"Ya, ayo Ciel! Tidak ada ruginya juga kok! Lagipula 'kan ada aku, nanti aku akan membantumu kalau kau terus-terusan diganggu." ujar Elizabeth sambil tersenyum hangat dan menyambar tangan Ciel.

"…Tapi awas ya kalau kau berani berkata yang aneh-aneh, Alois!" ancam Ciel sambil mengarahkan telunjuknya langsung ke muka Alois.

"Iya, iya! Aku juga tak mau tiba-tiba hilang ingatan atau bahkan kepalaku bocor hanya gara-gara meledekmu, Ciel." kata Alois sambil menyingkirkan telunjuk Ciel di hadapannya dan memegang belakang kepalanya.

"Bagus kalau kau sadar! Ya sudah, ayo cepat selesaikan urusan kita!" ucap Ciel dengan nada perintahnya yang biasa.

Mereka bertiga melangkah ke luar pintu apartemen Ciel. "Ruangannya nomor berapa, Ciel?" tanya Elizabeth sambil menengok ke arah Ciel.

"Tepat di samping pintu ini." jawab Ciel malas sambil menunjuk pintu ruangan di samping pintu yang baru saja mereka lewati.

"Benar-benar tepat di sampingmu, Ciel? Ya, ampun! Dunia sempit sekali, ya?" ujar Alois sambil tersenyum memikirkan sesuatu―Ciel dan Elizabeth tak memperhatikannya.

TINGTONG

Alois menekan bel ruangan itu. Setelah merasa agak lama tak ada yang berubah, ia menekan kembali.

TINGTONG

"Apa mungkin dia sedang tidur, ya? Sampai-sampai tak mendengar bel." tanya Alois heran.

"Hm, mungkin juga, sih. Tapi masa iya jam segini sudah tidur?" tanya Elizabeth balik.

"Coba saja tekan lagi." usul Ciel masih dengan nada enggannya.

TINGTONG

TINGTONG

Sudah kelima kalinya Alois menekan bel, tetapi tak kunjung ada perubahan.

"Mungkin benar dia tidur." kata Alois kepada dua sahabatnya yang sedang berdiri di sampingnya.

"Hem, iya. Ya sudahlah kalau begini." ujar Elizabeth menambahkan perkataan Alois.

"Percuma kita berdiri lama-lama di sini. Ya sudah, sekarang aku antar kalian ke lantai dasar." ucap Ciel sambil bersiap melangkah.

Belum sempat mereka beranjak dari tempat mereka berdiri sekarang, pintu di depan mereka menjeblak terbuka. Sosok pemuda berambut hitam berkulit pucat berdiri berbalutkan piyama panjang bergaris. Dari sikapnya, dia tampak terburu-buru.

"Maaf membuat kalian menunggu lama! Aku baru saja keluar dari toilet." ucap pemuda beriris merah pekat itu.

"Tak apa-apa. Kami datang menjengukmu, Michaelis." ujar Elizabeth sambil tersenyum lembut.

"Ya, untung kau cepat membuka pintu karena kami baru saja ingin beranjak pulang." ucap Alois sambil mengarahkan jempolnya ke lift melalui pundaknya.

"Terima kasih ya sudah mau repot-repot menjengukku. Ayo, silahkan masuk!" kata Sebastian sambil mundur ke belakang dan mempersilakan ketiga orang itu masuk.

"Kau tidak ingin masuk, Ciel?" tanya Sebastian kepada Ciel yang masih berdiri di depan pintu dan sedari tadi diam.

"Sebenarnya aku hanya mengantar mereka karena mereka bersikeras mau menjengukmu." ucap Ciel sambil melirik malas ke arah Sebastian."Aku pulang saja."

Belum sempat Ciel melangkah, tangan Sebastian telah menyambar tangan Ciel dengan cepat. Rona merah tipis muncul di kedua pipi pucat Ciel. "H-hei, apa-apaan ini?" tanya Ciel gugup. Ciel sendiri heran kenapa ia bisa jadi segugup ini.

"Jangan langsung pulang begitu saja, dong! Setidaknya tanyai dulu apa aku sudah sehat kalau memang niat menjenguk." ucap Sebastian sambil tetap memegang tangan Ciel.

"Ap―"

"Hei, Ciel, Sebastian! Sedang apa kalian? Lama sekali, sih?" tanya Elizabeth yang tiba-tiba muncul dan menyela perkataan Ciel.

"Ya ampun, Ciel! Ternyata kau dan Sebastian sudah….. " ujar Elizabeth kaget sambil menaruh kedua tangannya di depan mulut karena melihat Ciel dan Sebastian sedang bertautan tangan. "Maafkan aku telah mengganggu kalian!" ucap Elizabeth lagi sambil menunduk dan tersenyum malu.

"I-ini t-tidak seperti yang kau pikirkan Lizzie! Kau salah paham!" teriak Ciel panik sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Sebastian. Wajah Ciel makin merah disertai sedikit keringat mengalir di keningnya.

Sebastian hanya diam dan memperhatikan sosok Ciel yang sedang gugup yang menurutnya sangatlah manis. Elizabeth hanya tertawa dan berkata,"Haha, tak apa kok, Ciel! Tak perlu sampai seperti itu."

"Tapi aku benar-benar tidak―argh! Ini semua gara-garamu Sebastian!" geram Ciel sambil mengarahkan telunjuknya ke depan hidung Sebastian.

"Aku hanya menyuruhmu masuk, kok! Kau saja yang terlalu keras kepala." jawab Sebatian santai.

"Hei, kalian! Ngapain pada di depan pintu begitu? Kalau mau ngobrol di dalam saja!" kata Alois yang baru saja muncul di tempat kejadian percekcokan kecil yang tak penting itu.

"Benar, kalian juga kalau mau melanjutkan di dalam saja! Aku dan Alois tidak akan mengganggu, kok!" ucap Elizabeth dengan nada riang dan sangat tidak bersalah.

"Memangnya Ciel dan Michaelis sedang apa tadi, Liz?" tanya Alois penasaran.

"Tidak! Kami tidak sedang melakukan apapun! Sekarang ayo masuk!" perintah Ciel kepada ketiga orang itu.

Entah sadar atau tidak, Ciel masuk sambil menggaet tangan Sebastian yang ototmatis langsung membuat Elizabeth dan Alois tersenyum dan melirik satu sama lain.

Sedangkan Sebastian, dia hanya diam dan pasrah menerima dirinya diseret masuk oleh Ciel sambil tersenyum puas.

"Hahaha, Ciel! Ternyata dibalik semua omelanmu diam-diam sudah"

BLETAKK

"ADAW!" ringis suara pemuda tadi disertai suara berdebum agak keras.

"ALOISS! JANGAN NGOMONG MACAM-MACAM KAU, YA!" teriak suara perempuan yang terdengar cukup keras dari speaker kecil.

"Oi, oi! Nanti aku susah membereskannya!" Kali ini tersengar suara pemuda lainnya yang kelihatannya sedang menggerutu karena ruangannya terkena imbas hasil perbuatan perempuan yang tadi berteriak.

"Untung si Michaelis tepat waktu, ya?" ujar sebuah suara dari belakang pria yang sedang mendengarkan pembicaraan keempat remaja tersebut.

"Ya! Kalau begini kita sudah tak usah khawatir lagi. Bisa dipastikan darah enchantoid akan ada di tangan kita." jawab pria yang tadi disapa.

"Kapan kita bisa memanennya?" tanya suara orang yang tadi menanyai pria itu sambil menyalakan api pada obor yang terpancang di dinding ruangan itu dengan tangan kosong.

"Tenang, masih lama kok! Musim dingin Desember tahun ini!" jawab pria yang sedang mendengar.

"Ha-ah! Kalau begitu kenapa kita sudah bersiap-siap dari sekarang? Masih sekitar 9 bulan lagi 'kan?" ujar pria penanya itu.

"Jangan begitu, Knox! Kau tau 'kan organisasi itu masih melindunginya. Hanya saja mereka belum sadar kita telah menemukannya." kata pria itu kepada rekannya tadi yang bernama Ronald Knox.

"Ya, ya. Baiklah, selama masih belum genting jangan libatkan aku, ya! Selamat bekerja!" ucap Ronald sambil beranjak pergi meninggalkan rekannya yang sedang mendengarkan pembicaraan di rumah Sebastian.

"Huh, sesukamu lah!" gerutu pria itu sambil kembali fokus mendengarkan.

.

.

To Be Continued

.


A.N: Heheh, sudah mulai supernatural dan misteri 'kan? Iya 'kan? *ditabok berjamaah* Sebenarnya saya masih sangat bingung bikin adegan romance buat SebasCiel di fict ini karena dua-duanya sama-sama 'batu' *plak* Silahkan beri saya masukan dan sarannya karena saya sangat payah jika menyangkut yang berbau romance..

Readers: Lo mah semua genre juga payah!~

Kurofer: ...*pundung di pojokkan*

Thank You for Yer Reviews (_ _)

Kesha, SoraShieru, Vi Ether Muneca, Moussy Phantomhive, Aiko Enma, Kamiya Yuki

.

Kesha: makasih banyak!~ serasa melayang saya~ saya pikir sangat ngebosenin-_-" iya, saya bilang kemarin lama karena sangat menjauhi tenggat waktu yang saya tetapkan sendiri *plak* haha, tak apa-apa kok, yang penting udah review!~ jangan bosen buat RnR fict abal ini ya?~

Aiko Enma: iya, iya.. ini saya udah apdet!~ makasih banyak buat ripiu-nya, ya! RnR lagi sangat diterima!~ :D

.

Saya memang benar-benar sangat lack of experience in romance things! Sa, would ya mind to help me by clicking 'Review' icon below, onegai?~

Still The Laziest Author,

.

.

Kurofer P.